Linguistik terapan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Linguistik terapan adalah cabang linguistik yang membahas mengenai penerapan berbagai penemuan ilmiah di bidang linguistik.[1] Tujuan dari linguistik terapan adalah penyelesaian permasalahan yang berkaitan dengan bahasa di dalam masyarakat.[2] Pengenalan linguistik terapan diawali pada tahun 1940-an yang merupakan masa awal penerbitan tulisan-tulisan hasil terjemahan mesin.[3] Pengembangan linguistik terapan diawali oleh berbagai kegiatan pengajaran bahasa asing yang kemudian mengembangkan hubungan antara linguistik dan psikologi selama periode tahun 1940–1960. Sejak tahun 1960, linguistik terapan telah menjadi sarana dalam pengembangan berbagai model penelitian bahasa yang mampu menghasilkan pedagogi bahasa.[4] Linguistik terapan merupakan salah satu bagian dari makrolinguistik.[5] Penerapan linguistik terapan adalah pada bidang ilmu yang memiliki keterkaitan dengan ilmu bahasa.[6] Proses telaah ilmu bahasa dalam linguistik terapan dikaitkan dengan penggunaan bahasa sebagai korpus yang ditinjau dari segi morfologi, sintaksis dan semantik.[7] Ruang lingkup utamanya ialah psikolinguistik dan sosiolinguistik.[8] Selain itu, linguistik terapan juga mengkaji tentang penerjemahan, linguistik forensik, linguistik komputasi, grafologi, leksikografi, neurolinguistik, fonetik terapan, dan pendidikan bahasa.[9] Fokus utama oleh ahli linguistik terapan adalah kesamaan aspek bahasa dalam suatu waktu tertentu tanpa memandang aspek sejarah.[10] Manfaat pengkajian linguistik terapan umumnya pada penerjemahan, perkamusan dan pengobatan.[11]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Pandangan mengenai linguistik terapan mulai dikembangkan pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Para ilmuwan di Amerika Serikat dan Eropa Barat mulai memikirkan kemungkinan penerapan linguistik dalam berbagai jenis ilmu lainnya. Pada tahun 1946, di Universitas Michigan telah diakui istilah linguistik terapan dan digunakan secara resmi sebagai nama kursus mandiri dan jurusan yang terpisah. Istilah linguistik terapan mengalami perkembangan makna dengan perujukan penerjemahan otomatis ke dalamnya pada akhir periode 1950-an dan awal periode 1960-an. Dewan Eropa kemudian merencanakan pendirian sebuah asosiasi linguistik terapan sejak tahun 1962. Rencana ini diwujudkan pada tahun 1964 melalu pembentukan Association Internationale de Linguistique Appliquée (Asosiasi Internasional Linguistik Terapan). Kongres pertamanya diadakan di Nancy, Prancis.[12]

Sementara itu, pada tahun 1950-an, Charles Carpenter Fries bersama rekan-rekannya di Universitas Yale dan Universitas Cornell juga menyusun bahan ajar yang menerapkan analisis linguistik sebagai pendekatan dalam pengajaran bahasa Inggris. Tujuan analisis linguistik ini untuk mengajarkan bahasa Inggris dengan status sebagai bahasa asing. Bahan ajar ini dibuat dengan prinsip dasar dari linguistik terapan. Gabungan keduanya menghasilkan pendekatan ilmiah dalam pengajaran bahasa. Bahan ajar ini menjadi penting karena pada masa ini para sarjana linguistik memiliki kedudukan yang penting untuk menghasilkan para kader di bidang pengajaran bahasa.[13]

Prinsip[sunting | sunting sumber]

Linguistik terapan merupakan bidang ilmu linguistik yang tujuannya adalah penerapan praktis dan pragmatik bagi kepentingan publik. Prinsip-prinsipnya kemudian ditetapkan berdasarkan tujuan ini. Prinsip yang paling awal dari linguistik terapan adalah adanya penerapan teori dari linguistik. Dalam hal ini, teori-teori linguistik menentukan perkembangan linguistik terapan, karena suatu teori dapat telah ada, tetapi penerapannya baru dilakukan jauh setelah kemunculannya. Selanjutnya, tingkat keterkaitan antara penerapan teori linguistik dan bidang terapan akan menentukan tingkat kebermanfaatannya. Semakin sesuai bidang terapan dengan teori yang akan diterapkan, maka manfaat yang diperoleh semakin besar. Penerapan linguistik terapan juga bersifat kontekstual. Konteks penerapan menentukan tingkat penerapan suatu teori. Ada kemungkinan suatu teori hanya diterapkan sebagian saja pada konteks penerapan tertentu. Selain itu, penerapan linguistik terapan mampu memberikan masukan terhadap pengembangan teori linguistik. Linguistik terapan juga harus dapat diterapkan pada semua bahasa dengan memamtuhi hukum universal bahasa. Prinsip yang terakhir adalah penerapan bersifat interdisiplin yang berarti dapat melibatkan disiplin ilmiah selain linguistik.[14]

Ruang lingkup[sunting | sunting sumber]

Psikolinguistik[sunting | sunting sumber]

Psikolinguistik merupakan ilmu multidisiplin yang menggabungkan antara psikologi dan linguistik. Nama lainnya adalah psikologi bahasa atau psikologi linguistik. Psikolinguistik membahas kondisi psikologi dari individu selama penuturan suatu bahasa. Kajian psikolinguistik berkaitan dengan performansi beberapa kompetensi bahasa yang ada pada psikologi dan linguistik. Kesamaan kompetensi dinilai dari objek materi formal yaitu bahasa. Psikolinguistik mengkaji perilaku berbahasa dari struktur bahasa yang digunakan.[15] Psikolinguistik telah berkembang dan memunculkan beberapa disiplin ilmiah lainnya, antara lain yaitu psikolinguistik teoretis, psikolinguistik perkembangan, psikolinguistik pendidikan, neuropsikolinguistik, psikolinguistik eksperimental dan psikolinguistik terapan.[16]

Sosiolinguistik[sunting | sunting sumber]

Sosiolinguistik merupakan ilmu bahsa yang mengkaji tentang hubungan antara bahasa dengan masyarakat.[17] Dalam sosiolinguistik, masyarakat yang dimaksud adalah masyarakat bahasa.[18] Fokus utama di dalam sosiolinguistik adalah bahasa yang berkaitan dengan kondisi sosial.[19] Ruang lingkup sosiolinguistik secara sempit mencakup kajian mengenai pemakaian bahasa sebagai alat untuk menyampaikan pikiran dan perasaan melalui kode tertentu selama interaksi sosial antarmanusia. Sementara dalam arti luas, sosilinguistik berkaitan dengan penutur, pendengar, topik kode dan amanat yang disampaikan di dalam suatu pembicaraan.[20]

Etnolinguistik[sunting | sunting sumber]

Etnolinguistik merupakan salah satu hasil gabungan antara ilmu pendidikan dan linguistik yang bertujuan untuk evaluasi bahasa. Dua ilmu yang penggabungan menghasilkan etnolinguistik adalah etnometodologi dan linguistik.[21] Etnolinguistik merupakan ilmu yang mempelajari penyebaran bahasa dari berbagai suku bangsa beserta dengan ciri dan tata bahasanya. Pembentukan ilmu etnolinguistik berkaitan dengan antropologi. Etnolinguistik menggunakan rujukan materi berupa daftar kata-kata, deskripsi menegnai ciri dan tata bahasa dari beragam bahasa dari suatu suku bangsa yang tersebar di berbagai tempat di Bumi. Penentuan pola dan tata bahasa diawali dengan pengumpulan berbagai jenis bahasa secara bersamaan menjadi sebuah kompendium. Bahasa-bahasa yang terkumpul ini kemudian dibandingkan satu dengan yang lainnya. Tujuannya untuk mengetahui bahasa yang paling awal dari kumpulan bahasa tersebut. Bahasa paling awal ini merupakan bahasa yang terus mengalami perkembangan di dalam masyarakat. Sumbangsih etnolinguistik khususnya pada penelitian budaya manusia dalam antropologi yang berkaitan dengan struktur sosial dan perilaku sosial manusia.[22]

Neurolinguistik[sunting | sunting sumber]

Neurolinguistik merupakan salah satu cabang linguistik terapan yang kedudukannya sama dengan psikolinguistik dan sosiolinguistik. Landasan neurolinguistik adalah teori Noam Chomsky mengenai struktur dalam dan struktur permukaan. Neurolinguistik menggunakan teori kritis sebagai landasan filsafatnya. Sifat dari filosofi neurolinguistik adalah tafsiran dengan paham pascamodernisme.[23] Kajian dalam neurolinguistik berkaitan dengan hubungan antara bahasa dan otak. Neurolinguistik dibangun oleh konsep dan teknik-teknik psikolinguistik, neuoranatomi, kedokteran dan kecerdasan buatan.[24]

Linguistik komputasi[sunting | sunting sumber]

Linguistik komputasi dikenal juga dengan nama mekanolinguistik. Cakupan keilmuannya berkaitan dengan penggunaan linguistik dalam pemrograman komputer untuk penyelidikan bahasa dan penerjemahan. Salah satu penerapannya adalah pembuatan mesin penerjemah untuk konkordansi teks, penjumlahan frekuensi kata dalam kamus, dan pengajaran bahasa.[25] Mesin penerjemah merupakan suatu teknologi linguistik komputasi yang paling awal. Kemampuannya dalam menerjemahkan suatu bahasa ke bahasa yang lain dengan aspek semantik maupun sintaksis dari kalimat. Pada beberapa kasus penerjemahan, mesin penerjemah dapat memahami konteks sosial dan budaya dari kalimat yang diterjemahkan.[26]

Linguistik forensik[sunting | sunting sumber]

Linguistik forensik merupakan jenis linguistik terapan yang mengaitkan antara linguistik dan hukum.[27] Analisa ilmu forensik pada jenis linguistik ini berlaku untuk penggunaan bahasa lisan maupun tulisan. Pada bahasa lisan, analisa dilakukan terhadap suatu pidato, iklan, presentasi, maupun penuturan langsung. Sementara pada bahasa tulisan, analisa dilakukan terhadap konteks tulisan pada buku dan status atau percakapan pada media sosial.[28]

Linguistik edukasional[sunting | sunting sumber]

Linguistik edukasional berkaitan dengan pengelolaan dan pengembangan teori dan praktik pembelajaran bahasa dari segi ilmu bahasa. Landasan keilmuannya adalah teori-teori kebahasaan. [29] Teori-teori ini dihasilkan oleh mikrolinguistik maupun makrolinguistik. Dari mikrolinguistik, linguistik edukasional mengkaji tentang semantik, morfologi dan fonologi. Sementara dari makrolinguistik, linguistik edukasional mengkaji sejarah bahasa, psikolinguistik, sosiolinguistik, dan antropologi linguistik. Selain itu, linguistik edukasional juga mengkaji psikologi, sosiologi dan teori pendidikan yang termasuk dalam lingkup makrolinguistik.[30]

Leksikografi[sunting | sunting sumber]

Leksikografi mengkaji tentang teknik-teknik penyusunan kamus beserta dengan metode-metodenya.[31] Teknik penyusunan kamus dalam leksikografi menggunakan data berupa kata. Proses penyusunan dimulai dengan pengumpulan dan penyeleksian kata. Setelah diseleksi, kata tersebut diberi deskripsi dan diberikan kombinasi ke dalam satu atau lebih bahasa. Lingkup leksikografi mencakup perencanaan hingga penerbitan kamus. Dalam penyusunan kata, leksikografi tidak hanya mengurutkan kata sesuai urutuan alfabet. Leksikografi juga membahas cara untuk menentukan kata yang baku dan kata yang tidak baku dari segi penulisan dan pembentukan katanya.[32]

Stilistika[sunting | sunting sumber]

Stilistika dapat digabungkan ke dalam linguistik terapan maupun kajian sastra. Kondisi ini dikarenakan bentuk dan makna bahasa merupakan salah satu indikator dalam linguistik terapan. Stilistika digunakan untuk pembelajaran yang menggunakan gaya bahasa dengan konteks maupun bebas konteks.[33] Pendekatan yang digunakan dalam stilistika adalah gaya bahasa yang mampu menghasilkan efek tertentu melalui pemilihan kata di dalam penyusunan kalimat.[34] Sumbangsih stilistika sebagai bagian dari linguistik terapan adalah memahami ekspresi karya sastra melalui analisis sastra. Pemahaman yang diperoleh dapat berupa pemanfaatan atau potensi pengolahan bahasa yang merupakan bagian dari pengolahan gagasan.[35]

Pendekatan[sunting | sunting sumber]

Analisis kesalahan berbahasa[sunting | sunting sumber]

Analisis kesalahan berbahasa merupakan salah satu pendekatan dalam linguistik terapan. Fungsi utamanya dalam pembalajaran adalah untuk mengetahui kebutuhan belajar dari peserta didika yang kesulitan memahami materi pembelajaran. Analisis kesalahan berbahasa berperan dalam menemukan kesalahan-kesalahan dalam pemahaman peserta didik terhadap suatu materi pembelajaran. Setelah kesalahan ditemukan, maka diadakan analisa strategi pengurangan terjadinya potensi kesalahan tersebut.[36]

Variasi bahasa[sunting | sunting sumber]

Variasi bahasa di dalam satu bahasa dapat ditentukan oleh faktor geografi, waktu dan kondisi sosial. Variasi bahasa yang ditentukan oleh letak geografi disebut dialektologi sinkronis, sedangkan yang dipengaruhi oleh waktu disebut dialektologi diakronis. Sementara variasi bahasa yang dipengaruhi oleh kondisi sosial disebut sosiolinguistik. Ketiga bidang ilmu ini merupakan bagian dari linguistik terapan. [37]

Analisis wacana kritis[sunting | sunting sumber]

Analisis wacana kritis digunakan dalam linguistik terapan untuk mengetahui makna dari suatu wacana ideologi. Individu atau kelompok umumnya memanfaatkan bahasa untuk meyakinkan masyarakat untuk meyakini suatu ideologi dengan cara yang nyata maupun terselubung. Wacana dijadikan sebagai alat untuk membentuk kontruksi sosial yang berdampak pada pembentukan realitas sosial.[38] Sifat dari analisis wacana kritis adalah mengandung deskripsi dan narasi.[39]

Pelaporan hasil penelitian[sunting | sunting sumber]

Linguistik terapan merupakan salah satu disiplin ilmiah di bidang ilmu sosial yang membahas mengenai humaniora. Salah satu pola pelaporan penelitian yang digunakan pada linguistik terapan yaitu pola IMRD. Pola IMRD digunakan pada penelitian kuantitatif atau penelitian yang menggunakan bukti empiris berupa sekumpulan data dan kecenderungannya.[40] IMRD sendiri merupakan singkatan dari Introduction (pendahuluan), Method (Metode), Results (hasil) dan Discussion (pembahasan). Pola IMRD merupakan salah satu jenis struktur penulisan artikel ilmiah.[41]

Penerapan praktis[sunting | sunting sumber]

Penerjemahan[sunting | sunting sumber]

Penerjemahan merupakan kegiatan pengalihan pesan secara lisan maupun tulisan. Proses penerjemahan tidak dapat hanya melibatkan lisan saja atau hanya melibatkan tulisan saja.[42] Pertimbangan utama dalam penerjemahan adalah pesan yang terkandung pada bahasa sumber.[43] Prinsip penerjemahan adalah mempertimbangkan ideologi yang terkandung di dalam dua bahasa dan dua masyarakat penutur bahasa yang berbeda. Dalam penerjemahan, ideologi dijadikan sebagai landasan mengenai apa yang benar dan salah untuk diartikan.[44] Permasalahan bahasa yang utama pada penerjemahan adalah menentukan padanan kata. Faktor utama yang menentukannya adalah penulis teks dan penerjemah.[45]

Pengajaran bahasa[sunting | sunting sumber]

Dalam linguistik terapan, pengajaran bahasa merupakan bidang yang paling berkembang dibandingkan bidang lainnya. Perkembangannya yang pesat dipengaruhi oleh daya jual yang tinggi di masyarakat.[46] Pengajaran bahasa meliputi pengajaran bahasa ibu dan pengajaran bahasa asing. Tujuan pengajaran bahasa adalah memberikan kemahiran dalam berbicara, mendengar, membaca dan menulis. Kemahiran berbicara dan mendengar digolongkan sebagai kemahiran produktif. Sementara kemahiran membaca dan menulis digolongkan sebagai kemahiran reseptif. Keberhasilan pengajaran bahasa ditentukan oleh urutan pengajaran kemahiran yang dimulai dari berbicara, lalu mendengar, membaca, hingga menulis.[47] Sementara itu, pemecahan praktis terhadap masalah dalam pengajaran bahasa menggunakan psikolinguistik, pragmatik dan sosiolinguistik.[48]

Metode yang umum digunakan adalah metode membaca yang disusun oleh Coleman dan rekan-rakannya pada tahun 1929. Pengajaran bahasa menggunakan metode ini mengkhususkan kegiatan membaca. Penerapannya secara umum di sekolah-sekolag dan perguruan tinggi pada negara-negara benua Amerika dan Eropa. Metode ini dianggap lebih realistis dibandingkan metode pengajaran bahasa yang lainnya dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Pada metode membaca terdapat pula latihan menulis dan berbicara tetapi dalam jangka waktu yang terbatas.[49]

Rujukan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Yendra (2018). Mengenal Ilmu Bahasa (Linguistik). Sleman: Deepublish. hlm. 54. ISBN 978-602-453-782-1. 
  2. ^ Siminto (2013). Irawati, Retno Purnama, ed. Pengantar Linguistik (PDF). Semarang: Penerbit Cipta Prima Nusantara Semarang. hlm. 29. 
  3. ^ Siregar, Roswani (2017). Strategi Penerjemahan Dokumen Kontrak (PDF). Medan: Pustaka Bangsa Press. hlm. 17. ISBN 978-602-1183-31-1. 
  4. ^ Purwo, Bambang Kaswanti, ed. (2000). Kajian Serba Linguistik untuk Anton Moeliono Pereksa Bahasa. Jakarta: PT BPK Gunung Mulia. hlm. 761. ISBN 979-687-004-5. 
  5. ^ Mulyani (2020). Praktik Penelitian Linguistik. Sleman: Deepublish. hlm. 8. ISBN 978-623-02-1364-9. 
  6. ^ Ekowati, Sri Harini (2021). Insani, Siti Jamalul, ed. Kajian Pendidikan Bahasa dan Sastra. Solok: Penerbit Insan Cendekia Mandiri. hlm. 3. ISBN 978-623-6090-22-0. 
  7. ^ Azwardi (2018). Bahry, Rajab, ed. Metode Penelitian: Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Banda Aceh: Syiah Kuala University Press. hlm. 93. ISBN 978-602-5679-44-5. 
  8. ^ Al-Khuliy, Muhammad Ali (2016). Hidayat, Dudung Rahmat, ed. Model Pembelajaran Bahasa Arab. Bandung: Royyan Press. hlm. 3. ISBN 978-602-8841-54-2. 
  9. ^ Abidin, Yunus (2019). Tarmizi, ed. Konsep Dasar Bahasa Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara. hlm. 8–9. ISBN 978-602-444-733-5. 
  10. ^ Putra, Pebri Prandika (2021). Teknik dan Ideologi Penerjemahan Bahasa Inggris: Teori dan Praktik. Bantul: Penerbit Samudra Biru. hlm. 23. ISBN 978-623-261-259-4. 
  11. ^ Simpen, I Wayan (2020). Azzahrah, Faatimah, ed. Morfologi: Kajian Proses Pembentukan Kata. Jakarta: Bumi Aksara. hlm. 2. ISBN 978-602-444-958-2. 
  12. ^ Busri, H., dkk. (2020). Linguistik Terapan: Konsep Pembelajaran dan Penelitian Linguistik Mutakhir. Batu: Literasi Nusantara. hlm. 4–5. ISBN 978-623-329-197-2. 
  13. ^ Akasahtia, Lukman Taufik (2021). Marhani, Irfan, ed. Strategi Pembelajaran Bahasa Arab: (Menggelitik PAKEM) Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan. Bengkalis: DOTPLUS Publisher. hlm. 115. ISBN 978-623-96347-7-3. 
  14. ^ Alwasilah, A. Chaedar (2005). Pengantar Metodologi Penelitian Linguistik Terapan (PDF). Jakarta: Pusat Bahasa. hlm. 7–8. ISBN 979-685-512-7. 
  15. ^ Suharti, S., dkk. (2021). Andayani, ed. Kajian Psikolinguistik. Pidie: Yayasan Penerbit Muhammad Zaini. hlm. 7. ISBN 978-623-97050-8-4. 
  16. ^ Harras , K. A., dan Bachari, A. D. (2009). Dasar-Dasar Psikolinguistik (PDF). UPI Press. hlm. 5–6. ISBN 979-378-906-9. 
  17. ^ Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1995). Sosiolinguistik (PDF). Diterjemahkan oleh Rochayah dan Djamil, M. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. hlm. 1. ISBN 979-459-571-3. 
  18. ^ Wahyuni, Tutik (2021). Andriyanto, ed. Sosiolinguistik. Klaten: Penerbit Lakeisha. hlm. 18. ISBN 978-623-6948-44-6. 
  19. ^ Rahardi, R. Kunjana (2020). Pragmatik: Konteks Ekstralinguistik dalam Perspektif Cyberpragmatics (PDF). Yogyakarta: Penerbit Amara Books. hlm. 131–132. ISBN 978-623-7042-46-4. 
  20. ^ Fradana, A. N., dan Suwarta, N. (2020). Rezania, Vanda, ed. Buku Ajar Bahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi. Sidoarjo: Umsida Press. hlm. 7. ISBN 978-623-6833-95-7. 
  21. ^ Nasution, Sahkholid (2017). Kholison, Moh., ed. Pengantar Linguistik Bahasa Arab (PDF). Sidoarjo: CV. Lisan Arabi. hlm. 11–12. ISBN 978-602-70113-8-0. 
  22. ^ Nurmansyah, G., Rodliyah, N., dan Hapsari, R. A. (2019). Pengantar Antropologi: Sebuah Ikhtisar Mengenal Antropologi. Bandar Lampung: AURA. hlm. 9. ISBN 978-623-211-107-3. 
  23. ^ Hamidah (2017). Filsafat Pembelajaran Bahasa: Perspektif Strukturalisme dan Pragmatisme (PDF). Bantul: Naila Pustaka. hlm. 4. ISBN 978-602-1290-43-9. 
  24. ^ Indah, Rohmani Nur (2017). Gangguan Berbahasa: Kajian Pengantar (PDF). Malang: UIN-MALIKI Press. hlm. 81. ISBN 978-602-958-401-1. 
  25. ^ Iqbal, M., Azwardi, dan Taib R. (2017). Linguistik Umum. Banda Aceh: Syiah Kuala University Press. hlm. 33. ISBN 978-602-5679-00-1. 
  26. ^ Rokhman, F., dan Surahmat (2019). Azzahrah, Faatimah, ed. Linguistik Disruptif: Pendekatan Kekinian Memahami Perkembangan Bahasa. Jakarta: Bumi Aksara. hlm. 49. ISBN 978-602-444-737-3. 
  27. ^ Heriyadi, Wahyu (2015). Imelda, ed. Bahasa dan Hukum. Ciamis: Kéntja Press. hlm. 37. ISBN 978-602-72957-4-2. 
  28. ^ Kuntarto, Niknik M. (2021). Selisik Linguistik Forensik. Jakarta: PT Elex Media Komputindo. hlm. 14. ISBN 978-623-00-2825-0. 
  29. ^ Arwana, Nengah (2008). Wawasan Linguistik dan Pengajaran Bahasa (PDF). Denpasar: Pelawa Sari. hlm. 119. ISBN 978-979-17302-6-6. 
  30. ^ Luthfi, Khabibi Muhammad (2020). Sya'roni, I., dan Musyrifa, F. A., ed. Epistemologi Naḥwu (Pedagogis) Modern. Sleman: Zahir Publishing. hlm. 30. ISBN 978-623-7707-09-7. 
  31. ^ Markhamah dan Sabardila, A. (2014). Analisis Kesalahan dan Karakteristik Bentuk Pasif. Surakarta: Muhammadiyah University Press. hlm. 28. ISBN 978-602-70429-3-3. 
  32. ^ Setiawan, Teguh (2015). Leksikografi (PDF). Yogyakarta: Penerbit Ombak. hlm. 2. ISBN 978-602-258-329-5. 
  33. ^ Siswono (2014). Teori dan Praktik Diksi, Gaya Bahasa, dan Pencitraan. Sleman: Deepublish. hlm. 29. ISBN 978-602-280-398-0. 
  34. ^ Rohman, F., dan Wahyudin, A. (2016). Mahfudloh, Maida, ed. Stilistika Pendidikan: Mengupas Konsep Pendidikan Kitab Nusantara dengan Pisau Stilistika (PDF). Mojotengah: CV. Mangku Bumi Media. hlm. 120. ISBN 978-602-60656-3-6. 
  35. ^ Al-Ma'ruf, A. I., dan Nugrahani, F. (2017). Saddhono, Kundharu, ed. Pengkajian Sastra: Teori dan Aplikasi (PDF). Surakarta: CV. Djiwa Amarta Press. hlm. 11. ISBN 978-602-60585-8-4. 
  36. ^ R., Mantasiah dan Yusri (2020). Analisis Kesalahan Berbahasa: Sebuah Pendekatan dalam Pengajaran Bahasa. Sleman: Deepublish. hlm. 2. ISBN 978-623-02-1825-5. 
  37. ^ Arifin, M. B., dan Rijal, S. (2019). Rokhmansyah, Alfian, ed. Bahasa Daerah di Kalimantan Utara. Yogyakarta: CV Istana Agency. hlm. 25. ISBN 978-623-7313-24-3. 
  38. ^ Ekasani, K. A., dkk. (2020). Linguistik Terapan dalam Berbagai Perspektif (PDF). Denpasar: Penerbit YAGUWIPA. hlm. 41. ISBN 978-623-93519-2-2. 
  39. ^ Ratnaningsih, Dewi (2019). Sumarno dan Widayat, S., ed. Analisis Wacana Kirtis: Sebuah Teori dan Implementasi (PDF). Lampung Utara: Universitas Muhammadiyah Kotabumi. hlm. 19. ISBN 978-602-60227-3-8. 
  40. ^ Adnan, Z., dan Zifirdaus (2005). Merebut Hati Audiens Internasional: Strategi Ampuh Meraih Publikasi di Jurnal Ilmiah. Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama. hlm. 12. ISBN 979-22-1737-1. 
  41. ^ Hutabarat, L. E., dkk. (2018). Gamal, Ahmad, ed. Menguasai Penulisan Akademis: Serial Produk Pengetahuan Smart City (PDF). Depok: Rajawali Pers. hlm. XV. ISBN 978-602-425-602-9. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 2021-12-11. Diakses tanggal 2021-12-11. 
  42. ^ Ardi, Havid (2015). Zulfadli, ed. Pengantar Penerjemahan (Introduction to Translation). Padang: Penerbit Sukabina Press. hlm. 15. ISBN 978-602-1650-70-7. 
  43. ^ Said, Mashadi (2019). Arifin, Zaenal, ed. Penerjemahan: Teori dan Praktik (PDF). Tangerang: PT Pustaka Mandiri. hlm. 2. ISBN 978-602-359-041-4. 
  44. ^ Baihaqi, Akhmad (2017). Penerjemahan dan Kesepadanan dalam Penerjemahan (PDF). Pandeglang: STAISMAN Press. hlm. 92. ISBN 978-602-97983-2-6. 
  45. ^ Hartono, Rudi (2017). Pengantar Ilmu Menerjemah:Teori dan Praktek Penerjemahan (PDF). Semarang: Cipta Prima Nusantara. hlm. 1. ISBN 978-602-6589-43-9. 
  46. ^ Makinuddin, Mohammad (2021). Maftuh, ed. Strategi Pembentukan Lingkungan Bahasa Arab di Pesantren. Lamongan: Academia Publication. hlm. 74. ISBN 978-623-96392-2-8. 
  47. ^ Hidayatullah, Moch. Syarif (2017). Cakrawala Linguistik Arab. Gramedia Widiasarana Indonesia. hlm. 152. ISBN 978-602-452-369-5. 
  48. ^ Zaim, M. (2014). Metode Penelitian Bahasa: Pendekatan Struktural (PDF). Padang: Penerbit FBS UNP Press Padang. hlm. 36. ISBN 978-602-17017-5-1. 
  49. ^ Ahmadi dan Ilmiani, A. M. (2020). Hamidah, ed. Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab: Konvensial hingga Era Digital (PDF). Yogyakarta: Ruas Media. hlm. 44. ISBN 978-623-7735-13-7.