Sosiolinguistik

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari

Sosiolinguistik adalah kajian interdisipliner yang mempelajari pengaruh budaya terhadap cara suatu bahasa digunakan. Dalam hal ini bahasa berhubungan erat dengan masyarakat suatu wilayah sebagai subyek atau pelaku berbahasa sebagai alat komunikasi dan interaksi antara kelompok yang satu dengan yang lain.

Sosiolinguistik menurut beberapa ahli[sunting | sunting sumber]

  • Salah satu teori sosiolinguistik yang bisa dipakai sebagai rujukan adalah teori dari Nababan, bahwa pengkajian bahasa dengan dimensi kemasyarakatan disebut Sosiolinguistik oleh Nababan, tahun 1984 dalam Sosiolinguistik Perkenalan Awal.[1]
  • Menurut Abdul Caher, Sosiolinguistik ialah subdisiplin linguistik yang mempelajari bahasa dalam hubungan pemakaiannya dalam masyarakat. Didalam bukunya Abdul Chaer juga menyatakan bahwa apa yang dibicarakan dalam sosiolinguistik ialah pemakai dan pemakaian bahasa, tempat pemakaian bahasa, tata tingkat bahasa, berbagai akibar dari adanya kontak dua bahasa atau lebih, dan ragam serta waktu pemakaian ragam bahasa itu. ( Abdul Chaer, tahun 1994 dalam Linguistik Umum.[2] )
  • Sosiolinguistik yang menurut sejumlah ahli (Wardaugh, 1985, Holmes 1995) adalah cabang ilmu bahasa yang berusaha menerangkan korelasi antara perwujudan struktur atau elemen bahasa dengan faktor-faktor sosiokulturalpertuturannya, tentu saja mengasumsikan pentingnya pengetahuan dasar-dasar linguistik degan berbagai cabangnya, seperti: fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik edalam mengidentifikasikan, dan menjelaskan fenomena-fenoma yang menjadi objek kajiannya, yakni bahasa dengan berbagai variasi sosial atau regionalnya. [3] )

Konsep fundamental dalam sosiolinguistik[sunting | sunting sumber]

Sementara studi sosiolinguistik sangatlah luas, ada beberapa konsep dasar di mana banyak pertanyaan sosiolinguistik bergantung:

Komunitas tutur[sunting | sunting sumber]

Komunitas tutur adalah sebuah konsep dalam sosiolinguistik yang menggambarkan kelompok tertentu yang terdiri dari orang-orang yang menggunakan bahasa dengan cara yang unik dan saling diterima di antara mereka.

Agar diterima menjadi bagian dari suatu komunitas tutur, seseorang harus memiliki kompetensi komunikatif. Artinya, penutur memiliki kemampuan untuk menggunakan bahasa dengan cara yang tepat dalam situasi tertentu. Adalah mungkin bahwa seorang penutur secara komunikatif kompeten dalam lebih dari satu bahasa.[4]

Komunitas tutur bisa jadi merupakan anggota suatu profesi dengan jargon khusus, kelompok-kelompok sosial seperti siswa SMA atau penggemar hip-hop, atau bahkan kelompok erat seperti keluarga dan karib. Anggota komunitas tutur akan sering mengembangkan slang (bahasa gaul) atau jargon untuk melayani tujuan kelompok dan prioritas khusus.

Komunitas praktek memungkinkan para sosiolinguis untuk menguji hubungan antara sosialisasi, kompetensi, dan identitas. Karena identitas adalah struktur yang sangat kompleks, mempelajari sosialisasi bahasa merupakan sarana untuk menguji tingkat interaksional-mikro aktivitas praktis (kegiatan sehari-hari). Pembelajaran bahasa sangat dipengaruhi oleh keluarga tetapi didukung oleh lingkungan setempat yang lebih besar, seperti sekolah, tim olahraga, atau agama. Komunitas tutur mungkin eksis dalam komunitas praktek yang lebih luas.[5]

Varietas prestise yang tinggi dan prestise yang rendah[sunting | sunting sumber]

Penting untuk analisis sosiolinguistik adalah konsep prestise; kebiasaan tutur tertentu bisa dinilai positif atau negatif, yang kemudian diterapkan pada penutur. Implikasi penting dari teori sosiolinguistik adalah bahwa penutur 'memilih' suatu varietas saat melakukan tindak tutur, baik secara sadar ataupun tidak sadar.

Jejaring sosial[sunting | sunting sumber]

Untuk memahami bahasa dalam masyarakat berarti kita juga harus memahami jejaring sosial di mana bahasa tersebut tertanam. Istilah "jaringan sosial" adalah cara lain untuk menggambarkan masyarakat tutur tertentu dalam hal hubungan antar anggota individu dalam masyarakat. Sebuah jaringan bisa longgar atau ketat, tergantung pada bagaimana anggota berinteraksi satu sama lain. Sebagai contoh, kantor atau pabrik dapat dianggap sebagai komunitas ketat karena semua anggota berinteraksi satu sama lain. Sebuah kursus besar dengan 100 lebih siswa akan menjadi komunitas longgar karena siswa hanya dapat berinteraksi dengan instruktur dan mungkin 1-2 siswa lainnya. Sebuah komunitas multipleks adalah salah satu di mana anggota memiliki beberapa hubungan dengan satu sama lain.[6] Sebagai contoh, di beberapa lingkungan, anggota dapat hidup di jalan yang sama, bekerja untuk majikan yang sama dan bahkan kawin-mawin.

Rujukan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Sosiolinguistik", Sosiolinguistik Perkenalan Awal (ed. 2), 1984 .
  2. ^ Chaer, Abdul (1994), "Sosiolinguistik", Linguistik Umum (ed. 1), Jakarta: Rineka Cipta, ISBN 979-518-587-X .
  3. ^ Wijaya, I Dewa Putu; Rohmadi, Muhammad (2006), Sosiolinguistik, Kajian Teori dan Analisis (ed. 1), Yogyakarta: Pustaka Pelajar, ISBN 979-2458-78-6 .
  4. ^ Deckert, Sharon K. dan Caroline H. Vikers. (2011). An Introduction to Sociolinguistics: Society and Identity. Hal. 59
  5. ^ Deckert, Sharon K. dan Caroline H. Vikers. (2011). An Introduction to Sociolinguistics: Society and Identity. Hal. 74-76
  6. ^ Wardhaugh, Ronald (2006). An Introduction to Sociolinguistics, New York: Wiley-Blackwell.

Bacaan terkait[sunting | sunting sumber]

  • Chaer, Abdul (1994). Linguistik Umum. Rineka Cipta. 979-518-587-X.