Linguistik historis

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Linguistik historis atau disebut juga linguistik historis komparatif adalah cabang linguistik yang mengkaji perkembangan dan perbandingan antara bahasa-bahasa. Bidang ini kadang disebut linguistik diakronis (dari bahasa Latin: dia- 'melalui' dan chronos 'waktu') sebagai lawan dari linguistik sinkronis yang mengkaji bahasa pada suatu waktu tertentu. Kajian bidang ini antara lain meliputi kajian sejarah satu bahasa, bagaimana dan mengapa perubahan bahasa terjadi, perubahan dengan perbandingan terhadap bahasa lain yang serumpun (linguistik komparatif), perkembangan dialek bahasa (dialektologi), serta sejarah kata (etimologi).

Dalam pertumbuhannya, linguistik historis komparatif bukanlah hasil dari sekelompok sarjana yang terkoordionasi secara institusional melainkan hasil temuan-temuan sarjana dengan titik tolak dan orientasi studi yang tidak selalu sejalan dan bahkan saling bertentangan. Satu-satunya penyatu mereka adalah gairah atau jiwa bahasa (meminjam istilah Humbolt dan Grimm yaitu Sprachgeist atau Spiritlanguage 'jiwa bahasa') yang sama untuk menggali silsilah bahasa dan mengomparasikan bahasa-bahasa tersebut untuk menyusun dan memahami peta bahasa-bahasa dan upaya memahami satu bahasa untuk kebutuhan ril.[1]

Teori Timbulnya Bahasa[sunting | sunting sumber]

Berikut ini merupakan teori-teori penting mengenai timbulnya bahasa.[2]

Teori Tekanan Sosial (The Social Pressure Theory)[sunting | sunting sumber]

Dikemukakan pertama kali oleh Adam Smith dalam bukunya The Theory of Moral Sentiments yaitu bertolak dari anggapan bahwa bahasa manusia timbul karena manusia primitif dihadapkan pada kebutuhan untuk saling memahami sehingga bila mereka ingin menyatakan obyek tertentu mereka terdorong untuk mengucapkan bunyi-bunyi tertentu pula.

Teori Onomatopetik atau Ekoik[sunting | sunting sumber]

Mula-mula dikemukakan oleh J.G. Herder yang mengatakan bahwa obyek-obyek diberi nama sesuai dengan bunyi-bunyi yang dihasilkan oleh obyek-obyek itu, misalnya bunyi-bunyi binatang atau peristiwa-peristiwa alam. Manusia berusaha meniru bunyi anjing, bunyi ayam, atau desis angin, debur gelombang, dan sebagainya akan menyebut obyek-obyek atau perbuatannya dengan bunyi-bunyi itu.

Teori Interyeksi[sunting | sunting sumber]

Teori Nativistik atau Tipe Fonetik[sunting | sunting sumber]

Teori ‘Yo-He-Ho’[sunting | sunting sumber]

Teori Isyarat[sunting | sunting sumber]

Teori Permainan Vokal[sunting | sunting sumber]

Teori Isyarat Oral[sunting | sunting sumber]

Teori Kontrol Sosial[sunting | sunting sumber]

Teori Kontak[sunting | sunting sumber]

Teori Hockett-Ascher[sunting | sunting sumber]

Dasar Perbandingan Bahasa[sunting | sunting sumber]

Perbandingan bahasa setidaknya dimulai ketika umat manusia mulai berusaha untuk menjelaskan teori-teori timbulnya bahasa umat manusia. Teori yang bisa diterima yang mampu menjelaskan pertumbuhan bahasa secara menyeluruh sebagai suatu sistem komunikasi adalah teori Hockett-Ascher yang dalam garis besarnya terdapat kesepakatan mengenai evolusi bahasa manusia dari teriakan (cry) atau panggilan (call) melalui tahap pra bahasa yang berbeda dari bahasa sesungguhnya karena kekurangan ciri kekembaran pola. Bahasa sesungguhnya diperkirakan baru timbul sekitar 100.000 – 40.000 tahun lalu.

Untuk menjelaskan sejarah pertumbuhan itu maka dalam abad XIX telah dikembangkan bermacam-macam metode untuk menelusuri sejarah perkembangan bahasa itu. Namun metode-metode itu juga tidak bisa diharapkan untuk menjelaskan perkembangan sampai seratus ribu tahun yang lalu. Metode-metode tersebut kemudian disebut metode klasik.

Aspek Perbandingan[sunting | sunting sumber]

Tiap bahasa memiliki aspek universal bahasa sebagai berikut.

  1. Kesamaan dalam bentuk dan makna
  2. Tiap bahasa memiliki perangkat unit fungsional yang terkecil yaitu fonem dan morfem
  3. Tiap bahasa di dunia memiliki kelas-kelas kata tertentu, yaitu kata benda, kata kerja, kata sifat, dll.

Namun para peneliti kurang berminat atas ciri-ciri universal yang terdapat dalam semua bahasa. Mereka lebih tertarik dengan kesamaan-kesamaan yang terdapat pada bahasa-bahasa tertentu, atau hanya tertarik pada distribusi ciri-ciri tertentu pada sejumlah bahasa. Dengan kata lain, linguistik historis hanya mempergunakan kesamaan bentuk dan makna sebagai pantulan dari sejarah warisan yang sama.

Kesamaan Bentuk[sunting | sunting sumber]

Untuk mengadakan perbandingan yang sistematis, diperlukan metode perbandingan yaitu suatu alat yang menyusun perangkat ciri-ciri yang berkorespondensi dari unsur-unsur yang diperbandingkan dalam macam-macam bahasa.

Kemiripan bentuk-makna yang terdapat dalam bahasa-bahasa sebagai berikut.

  1. karena warisan langsung (inheritance) oleh dua bahasa atau lebih di suatu bahasa proto yang sama. Bentuk yang sama tersebut dinamakan bentuk kerabat (cognate)
  2. karena folklor kebetulan (by chance)
  3. karena pinjaman (borrowing). Suatu kemiripan bentuk-makna yang terjadi karena suatu bahasa akseptor menyerap unsur tertentu dari sebuah bahasa donor akibat kontak dalam sejarah.

Penetapan Kata Kerabat[sunting | sunting sumber]

Asumsi mengenai kata kerabat didasarkan pada hal-hal berikut.

  1. ada sejumlah besar kosakata dari suatu kelompok bahasa tertentu secara relatif memperlihatkan kesamaan yang besar bila dibandingkan dengan kelompok-kelompok lainnya.
  2. Perubahan fonetis dalam sejarah bahasa-bahasa tertentu memperlihatkan pula sifat yang teratur. Keteraturan ini oleh Grimm disebut Hukum Bunyi.
  3. Bila semakin dalam kira menelusuri sejarah bahasa-bahasa kerabat, semakin banyak terdapat kesamaan antara pokok-pokok yang dibandingkan.

Bibliografi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Pusposari, Dewi (2017). "Kajian Linguistik Historis Komparatif dalam Sejarah Perkembangan Bahasa Indonesia" (PDF). Jurnal Inovasi Pendidikan. Volume 1 (Nomor 1). 
  2. ^ Keraf, Gorys. (1991). Linguistik bandingan historis. Gramedia. OCLC 36126176.