Pragmatika

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari

Pragmatika adalah cabang ilmu linguistik yang mempelajari hubungan antara konteks dan makna. Konteks yaitu unsur di luar bahasa yang dikaji dalam pragmatik. Mempelajari ilmu ini bagaimana penyampaian makna tidak hanya bergantung pada pengetahuan linguistik (tata bahasa, leksikon, dll) dari pembicara dan pendengar, tetapi juga dari konteks penuturan, pengetahuan tentang status para pihak yang terlibat dalam pembicaraan, maksud tersirat dari pembicara.

Sumber kajian pragmatik[sunting | sunting sumber]

Sebagai disiplin ilmu, pragmatika (pragmatik) juga bersumber pada beberapa ilmu yang lainnya, antara lain:[1]

  • Filsafat kebahasaan: mempelajari bahasa dari sudut pandang suatu ungkapan atau ujaran yang dituturkan
  • Sosiolinguistik: mempelajari bahasa dari sudut pandang, tujuan dan situasi pemakaiannya di dalam masyarakat
  • Antropologi: mempelajari bahasa dari sudut pandang asal-usul suatu bahasa yang digunakan
  • Etnografi bahasa: mempelajari bahasa dari sudut pandang kebudayaan penutur bahasa
  • Linguistik: mempelajari bahasa dari sudut pandang struktur bahasa yang digunakan dalam berkomunikasi

Variasi bahasa[sunting | sunting sumber]

Dalam mempelajari ilmu pragmatika, berbagai bahasa mempunyai ragam bahasa/variasi bahasa yang selalu menyesuaikan dengan konteks dan keadaan. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi variasi suatu bahasa, antara lain:[1]

  • Faktor geografis: mempelajari di daerah mana bahasa itu dipakai;
  • Faktor kemasyarakatan: mempelajari siapa yang memakai bahasa dan bagaimana latar belakang masyarakat yang memakai bahasa;
  • Faktor situasi berbahasa: mempelajari situasi pengguna bahasa, tempat penggunaan bahasa, dan tema yang diperbincangkan;
  • Faktor waktu: mempejari kurun waktu suatu bahasa yang dipergunakan.

Ragam dialek adalah ragam bahasa yang berhubungan dengan di daerah mana suatu bahasa dituturkan. Perbedaan dialek terdapat pada seluruh aspek bahasa dan lafal, morfologi, sintaksis, kosakata dan peribahasa, dan juga dalam pragmatik.[1] Sebagai contoh, Bahasa Jawa yang berbeda dengan bahasa Indonesia dalam penuturannya walaupun sama-sama digunakan orang Indonesia.

Ragam sosiolek adalah ragam bahasa yang berkaitan dengan status sosial dan jabatan seseorang dalam golongan masyarakat.[1] Status seseorang dalam golongan masyarakat sangat mempengaruhi keberagaman dalam berkomunikasi. Sebagai contoh dalam bahasa Jawa terdapat Bahasa Bagongan, Bahasa krama, dan Bahasa ngoko yang akan dipergunakan sesorang dalam berkomikasi dengan melihat siapa lawan bicaranya.

Ragam fungsiolek adalah ragam bahasa yang berkaitan dengan situasi berbahasa, siapa pemakai bahasa, dan topik dari suatu bahasa.[1]

Ragam kronolek adalah ragam bahasa yang berhubungan dengan perubahan bahasa dalam suatu kurun waktu tertentu. Bahasa yang ada bersifat dinamis dan selalu berubah seiring berjalannya waktu, menurut fungsi dan kegunaannya.[1]

Macam tindak bahasa/pertuturan[sunting | sunting sumber]

Austin memisahkan 3 macam tindak bahasa yang terjadi, yaitu:[2]

  • Tindak lokusi yang mengaitkan suatu topik dengan suatu keterangan dalam ungkapan.
  • Tindak ilokusi yaitu pengucapan suatu pernyataan, pertanyaan, penawaran, janji, dsb.
  • Tindak perlokusi yaitu hasil atau efek yang dihasilkan oleh suatu ungkapan yang sesuai situasi dan susana.

Berdasarkan tujuannya, pertuturan dapat dikelompokkan seperti berikut:[3]

  1. Asertif, yang melibatkan penutur kepada kebenaran atau kecocokan proposisi, misalnya menyatakan, menyarankan, dan melaporkan;
  2. Direktif, yang tujuannya adalah tanggapan berupa tindakan dari mitra tutur, misalnya menyuruh, memerintahkan, meminta, memohon, dan mengingatkan;
  3. Komisif, yang melibatkan penutur dengan tindakan atau akibat selanjutnya, misalnya berjanji, bersumpah, dan mengancam;
  4. Ekspresif, yang memperlihatkan sikap penutur pada keadaan tertentu, misalnya berterima kasih, mengucapkan selamat, memuji, menyalahkan, memaafkan, dan meminta maaf;
  5. Deklaratif, yang menunjukkan perubahan setelah diujarkan, misalnya membaptiskan, menceraikan (secara lisan), menikahkan, dan menyatakan.

Alasan pemunculan[sunting | sunting sumber]

Alasan pemunculan pragmatik dalam kurikulum 1984 bervariasi:

  • Praktik, kemampuan/keterampilan bahasa siswa masih kurang; bahasanya berbelit-belit dan banyak didominasi oleh bahasa daerah;
  • Karena penggunaan bahasa Indonesia siswa belum baik, maka siswa masih perlu banyak belajar menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar; (3) pencapaian hasil pelajaran bahasa Indonesia belum memuaskan;
  • Pragmatik melengkapi pelajaran bahasa Indonesia secara utuh;
  • Pragmatik menunjang pencapaian tujuan pelajaran bahasa Indonesia dan selalu ada dalam pergaulan hidup sehari-hari;
  • Pragmatik tidak terlalu kentara dalam pokok-pokok bahasan lain dalam pelajaran bahasa Indonesia;
  • Alasan perkembangan bahasa.[4]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d e f Prof. Dr. P. W. J. Nababan (1987). Ilmu Pragmatik(Teori dan Penerapannya). Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. p. 3.  Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; nama "rujukan2" didefinisikan berulang dengan isi berbeda Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; nama "rujukan2" didefinisikan berulang dengan isi berbeda Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; nama "rujukan2" didefinisikan berulang dengan isi berbeda Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; nama "rujukan2" didefinisikan berulang dengan isi berbeda Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; nama "rujukan2" didefinisikan berulang dengan isi berbeda
  2. ^ J.L. Austin (1962). How to Do Things With Words. New York: Oxford University Press. 
  3. ^ 1948-, Gunawan, Fitri,; Untung,, Yuwono,; T.,, Lauder, Multamia R. M. Pesona bahasa : langkah awal memahami linguistik. Jakarta. ISBN 9789792216813. OCLC 156874430. 
  4. ^ PRAGMATIK DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA

Lihat Pula[sunting | sunting sumber]