Wacana

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Wacana adalah kesatuan makna antarkomponen bahasa di dalam suatu struktur bahasa yang terkait dengan konteks. Kesatuan struktur di dalam wacana bersifat abstrak sehingga membedakannya dari teks, tulisan, bacaan, tuturan, atau inskripsi dalam pengertian yang sama. Sementara kesamaannya yaitu sama-sama memiliki wujud konkret yang terlihat, terbaca, atau terdengar.[1] Wacana tersusun dari unsur-unsur bahasa yang lengkap mulai dari fonem hingga karangan utuh.[2] Unsur-unsur bahasa yang membentuk suatu wacana bersifat kohesi.[3] Wacana terbentuk melalui konteks situasi kebudayaan dan kondisi sosial tertentu. Kenampakan kondisi ini sangat jelas pada jenis wacana lisan yang ujarannya menggunakan bahasa tertentu pada lingkungan tertentu.[4] Analisis terhadap wacana dapat menggunakan dua tingkatan yaitu analisis wacana yang hanya setingkat naskah, atau analisis wacana kritis yang analisanya meliputi naskah, konteks dan kesejarahan.[5] Wacana termasuk cabang keilmuan dari linguistik teoretis.[6] Dalam linguistik, wacana merupakan bagian dari pragmatik dengan ruang lingkup kajian yang lebih luas dibandingkan dengan klausa dan kalimat.[7] Selain pada kajian-kajian linguistik, istilah "wacana" juga banyak digunakan pada bidang pendidikan bahasa, filsafat dan sosiologi.[8] Modifikasi terhadap wacana dapat mengubah satu peristiwa yang sama menjadi beberapa versi cerita yang berbeda.[9] Wacana merupakan satuan bahasa yang terlengkap dan dapat diwujudkan ke dalam suatu bentuk.[10] Perwujudan nyata dari wacana ialah dalam bentuk karangan atau laporan dengan isi yang utuh.[11]

Definisi[sunting | sunting sumber]

Definisi wacana bersinonim dengan teks. Kesamaan keduanya ialah menggunakan acuan berupa bahasa yang lebih luas dibandingkan klausa atau kalimat. Sementara perbedaan keduanya ialah pada segi penggunaan. Wacana berbentuk lisan sehingga interaktif, sementara teks berbentuk tulisan dan tidak interaktif. Dalam definisi teks, wacana terwujud ke dalam bentuk teks karena merupakan rekaman verbal atas suatu komunikasi. Perbedaan lainnya ialah dari segi pembahasan yang mana teks dapat memiliki pembahasan dengan ukuran panjang atau pendek.[12] Sementara pada wacana, pembahasannya tidak terbatas.[13]

Unsur internal[sunting | sunting sumber]

Ruang[sunting | sunting sumber]

Unsur ruang terbentuk baik pada wacana yang pembahasannya tidak luas maupun yang luas. Pada wacana yang pembahasannya tidak luas, unsur ruang terdapat pada tiga hal. Pertama, pada pemakaian kosakata yang mewakili sifat atau keadaan yang dibahas. Kedua, pada kata-kata baku yang telah mempunyai makna tersendiri. Sedangkan yang ketika pada pemakaian analogi. Sementara itu, pada wacana yang pembahasannya luas, unsur ruang ditemukan pada tiga hal. Pertama, penunjukan arah dari suatu tempat tertentu. Kedua, pada perilaku tokoh yang tergambarkan melalui dialog. Ketiga, pada deskripsi yang langsung disampaikan oleh pengarang.[14]

Unsur eksternal[sunting | sunting sumber]

Konteks[sunting | sunting sumber]

Dalam perbincangan mengenai wacana terdapat unsur konteks. Jenis konteks di dalam wacana meliputi konteks situasi yang melibatkan kontek sosial. Selain itu, konteks sosial umumnya juga menyertakan konteks budaya. Ada pula pakar yang menyatakan bahwa konteks situasi terpisah dari konteks sosial dan konteks budaya. Salah satunya ialah Bronisław Malinowski. Ia adalah seorang antrpolog dengan spesialisasi di bidang etnografi yang melakukan inisiasi atas konteks situasi. Malinowski mengemukakan bahwa kegagalan dalam memahami suatu tuturan dapat terjadi ketika konteks situasi diabaikan. Ia menyimpulkan hal ini setelah mengadakan penerjemahan tuturan pada bahasa Kiriwinia di masyarakat Kepulauan Trobriand yang termasuk bagian dari wilayah Kepulauan Pasifik.[15]

Ideologi[sunting | sunting sumber]

Wacana memerlukan ideologi karena fungsi keberadaannya dalam pembicaraan dan pemahaman akan dunia memerlukan cara tertentu. Sementara itu, proses berwacana memerlukan bahasa. Ideologi yang terdapat di dalam bahasa tidak dapat terpisahkan di dalam wacana. Karenanya, di dalam wacana juga terdapat hubungan antara bahasa dan ideologi.[16] Sementara itu, suatu wacana yang mengandung aspek tindakan, konteks, sejarah, kekuasaan dan ideologi disebut sebagai wacana kritis.[17]

Jenis[sunting | sunting sumber]

Wacana lisan[sunting | sunting sumber]

Wacana lisan terbentuk dalam proses komunikasi dengan tuturan yang menghasilkan kalimat yang tersusun. Pembentukan wacana lisan hanya dapat terjadi melalui komunikasi antara dua pihak. Masing-masing ialah pihak penutur dan mitra tuturnya.[18]

Wacana prosa[sunting | sunting sumber]

Wacana prosa merupakan salah satu jenis wacana yang ditinjau dari penggunaan pemaparan dan tujuannya. Jenis wacana prosa meliputi wacana narasi, wacana deskripsi, wacana eksposisi, wacana persuasi dan wacana argumentasi. Wacana narasi adalah wacana yang menjelaskan sesuatu hal melalui cerita. Wacana deskripsi adalah yang memberikan gambaran atau ilustrasi mengenai hal, orang atau tempat tertentu. Wacana eksposisi adalah wacana yang memberikan pemarapan terhadap suatu hal. Wacana persuasi adalah wacana yang membujuk atau melarang pembacanya untuk melakukan sesuatu hal. Sementara wacana argumentasi adalah wacana yang memberikan argumentasi yang berupa alasan terhadap suatu hal.[19]

Penyusunan[sunting | sunting sumber]

Penyusunan wacana menggunakan alat wacana yang meliputi aspek tata bahasa dan semantik. Konsep ideal dari suatu wacana ialah memiliki seperangkat proposisi yang menghasilkan kohesi yang saling berkaitan satu sama lain. Kohesi pada proposisi ini mempersyaratkan kebutuhan akan keteraturan atau kerapian susunan proposisi yang menimbulkan koherensi. Wacana yang kohesif jarang terwujud dalam kenyataan karena tidak semua penutur bahasa memahami aspek tata bahasa dan semantik.[20]

Pengkajian linguistik[sunting | sunting sumber]

Aliran linguistik struktural Inggris[sunting | sunting sumber]

Kajian utama di dalam aliran linguistik struktural Inggris adalah wacana. Dalam pandangan ini, kedudukan wacana sebagai satuan bahasa yang lebih luas dibandingkan kalimat. Tujuan pengembangan teori dalam aliran linguistik struktural Inggris adalah teori kontekstual. Dalam teori ini, ujaran mempunyai makna yang sama dengan konteks situasi. Aliran linguistik struktural Inggris dikenal pula dengan nama London School. Tokoh pemikir aliran ini antara lain John Rupert Firth, Robert Henry Robins, Michael Halliday dan Richard Anthony Hudson.[21]

Linguistik fungsional sistemik[sunting | sunting sumber]

Dalam kajian linguistik fungsional sistemik, wacana menempati kedudukan sebagai sebuah bahasa pada kondisi tertentu. Linguistik fungsional sistemik mengartikan bahasa sebagai bentuk semiotika sosial yang digunakan secara lisan maupun tulisan dalam konteks sosial dan konteks budaya. Dalam hal ini, bahasa disamakan dengan wacana yang sistemnya tersusun dari sejumlah unsur kebahasaan dengan hierarki yang bekerja secara simultan dari sistem yang lebih kecil hingga ke sistem yang lebih besar. Sistem terkecilnya ialah fonologi atau grafologi, sedangkan sistem terbesarnya adalah leksikogramatika, struktur teks dan semantik wacana.[22]

Sudut pandang filosofis[sunting | sunting sumber]

Pascamodernisme[sunting | sunting sumber]

Penganut pascamodernisme menolak penggunaan konvensional dari bentuk-bentuk logika dan wacana. Mereka mengembangkan suatu rumusan alternatif bagi paradigma pemikiran khususnya di bidang sosial dan politik dalam kajian humaniora. Upaya awal yang dilakukan adalah membuat model produksi budaya yang berbeda-beda dan non-linier. Dalam pandangan pascamodernisme. hubungan metanaratif tunggal tidak lagi dapat memberikan pemahaman terhadap kenyataan. Pemahaman hanya dapat diperoleh melalui penyifatan hubungan metanaratif secara ganda dengan bermacam-macam makna yang definisinya dibentuk berulang-ulang. Tujuannya untuk menemukan model penyatuan tunggal yang terpadu.[23]

Sudut pandang linguistik[sunting | sunting sumber]

Wacana di dalam linguistik dapat dipandang dari dua sudut pandang yang berbeda. Adanya perbedaan pandangan ini merupakan akibat dari perbedaan asumsi terhadap hakikat umum dari linguistik. Pandangan yang pertama ialah pandangan formalis atau linguistik struktural. Pandangan ini mengemukakan bahwa wacana merupakan bahasa yang lebih luas dari kalimat. Kemudian, pandangan kedua ialah pandangan interaktif atau linguistik fungsional. Pandangan ini mengemukakan bahwa wacana merupakan tuturan. Perbedaan kedua pandangan ini diperoleh melalui asumsi yang berbeda dalam tujuan teori bahasa, metode pengkajian bahasa, serta hakikat data dan bukti empiris.[24]

Analisis[sunting | sunting sumber]

Analisis wacana merupakan ilmu yang mempelajari penggunaan unsur-unsur bahasa di dalam wacana pada kehidupan sehari-hari. Ruang lingkup kajiannya merupakan yang terluas di dalam linguistik. Proses pengkajiannya dapat dilakukan pada percakapan, koran, pendidikan bahasa, rapat politik, sidang pengadilan, iklan, film, buku maupun pementasan drama.[25] Analisis terhadap suatu wacana dapat dilakukan menggunakan teori retorika. Aspek dari wacana yang dianalisis oleh retorika meliputi estetika bahasa. Retorika dapat menganalisis wacana pada komunikasi verbal seperti pidato, maupun komunikasi nonverbal seperti teks.[26] Alat analisis yang digunakan untuk melakukannya adalah makna dan tindakan yang dapat diketahui menggunakan teori tindak tutur. Teori ini merupakan hasil pemikiran dari J.L. Austin dan John Searle.[27] Sementara itu, pada wacana yang memiliki suatu kepentingan di dalamnya, metode analisis yang digunakan adalah analisis wacana kritis.[28]

Penerapan praktis[sunting | sunting sumber]

Tradisi lisan[sunting | sunting sumber]

Dalam kajian antropologi, tradisi lisan merupakan wacana lisan yang terbentuk akibat adanya adat di dalam masyarakat. Wacana lisan di dalam tradisi lisan berisi berbagai jenis cerita maupun ungkapan dan ritual tradisional. Cerita di dalam wacana lisan pada tradisi lisan dianalisa pada kajian sastra lisan. Secara umum, fakta budaya yang terkandung di dalam setiap jenis tradisi lisan meliputi sistem geneaologi, komsologi, kosmogoni, sejarah. filsafat, etika, moral, sistem pengetahuan serta kaidah kebahasaan dan kesastraan.[29]

Tuturan lagu merupakan salah satu penerapan wacana berjenis wacana budaya. Para individu yang menjadi anggota di dalam masyarakat dapat menyampaikan ekspresi budaya melalui tuturan lagu dengan menggunakan bahasa sebagai sarana penuturannya. Dalam penuturan ini telah terjadi komunikasi melalui lagu sehingga telah dianggap sebagai wacana. Gagasan, pengalaman dan perasaan atas ekspresi budaya masyarakat terungkap melalui tuturan lagu. Isyarat yang diberikan ialah adanya nilai, aturan dan norma budaya yang dijunjung tinggi oleh masyarakat atas tuturan lagu.[30]

Wacana kelas[sunting | sunting sumber]

Wacana kelas digunakan di lingkungan sekolah untuk menggunakan kekuasaan terkait institusi sosial. Sekolah memiliki struktur ruang sosial tersendiri di dalam tatanan wacana dan tatanan sosialnya. Penandanya terdapat pada seperangkat situasi pembentuk wacana, pengakuan peranan sosial dan tujuan wacana oleh partisipan. Konteks kewacanaan kelas meliputi pembelajaran, ujian dan pengendalian sosial.[31]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Kushartanti, Yuwono, U., dan Lauder, L. RMT. (2007). Pesona Bahasa: Langkah Awal Memahami Linguistik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. hlm. 92. ISBN 978-979-221-681-3. 
  2. ^ Saputri, Windi (2021). Winoto, Darmawan Edi, ed. Tindak Tutur Wacana Rubrik (PDF). Purbalingga: Eureka Media Aksara. hlm. 25. ISBN 978-623-97391-2-6. 
  3. ^ Tim Dosen Bahasa Indonesia Universitas Islam Bandung (2017). Buku Ajar Bahasa Indonesia (PDF). Bandung: Lembaga Studi Islam dan Pengembangan Kepribadian (LSIPK) Universitas Islam Bandung. hlm. 68. ISBN 978-602-71823-7-0. 
  4. ^ Malini, Ni Luh Nyoman Seri (2016). Pastika, I Wayan, ed. Analisis Wacana (Wacana Dakwah di Kampung Muslim Bali (PDF). Denpasar: Cakra Press. hlm. 3. ISBN 978-602-9320-21-3. 
  5. ^ Hamad, Ibnu (2007). "Lebih Dekat dengan Analisis Wacana" (PDF). MediaTor. 8 (2): 328. 
  6. ^ Alwasilah, A, Chaedar. Pengantar Penelitian Linguistik Terapan (PDF). Jakarta: Pusat Bahasa. hlm. 67. ISBN 979-685-512-7. 
  7. ^ Rohana dan Syamsuddin (2015). Analisis Wacana (PDF). Makassar: CV. Samudra Alif Mim. hlm. 1. ISBN 978-602-73810-1-8. 
  8. ^ Jumadi (2017). Rafiek, M., ed. Wacana, Kekuasaan, dan Pendidikan Bahasa (PDF). Yogyakarta: Pustaka Pelajar. hlm. 2. ISBN 978-602-229-824-3. 
  9. ^ Goziyah (2019). "Analisis Wacana Kritis Film Rudy Habibie dalam Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Mahasiswa" (PDF). Diksa: Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. 5 (2): 78. 
  10. ^ Ayu, Dewi Mutiara Indah (2016). "Ketidakwajaran dalam Penerjemahan The 8th Habits from Effectiveness to Greatness ke dalam Bahasa Indonesia" (PDF). Prosiding Seminar Tahunan Linguistik Universitas Pendidikan Indonesia 2016. Penerbit Prodi Linguistik SPs UPI: 108. 
  11. ^ Iqbal, M., Azwardi, dan Taib, R. (2017). Linguistik Umum. Syiah Kuala University Press. hlm. 240. ISBN 978-602-5679-00-1. 
  12. ^ Fauzan, Umar (2016). Analisis Wacana Kritis: Menguak Ideologi dalam Wacana (PDF). Yogyakarta: Idea Press Yogyakarta. hlm. 2. 
  13. ^ Fradana, A. N., dan Suwarta, N. (2020). Rezania, Vanda, ed. Buku Ajar Bahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi. Sidoarjo: Umsida Press. hlm. 5. ISBN 978-623-6833-95-7. 
  14. ^ Al-Ma’ruf, A. I., dan Nugrahani, F. (2017). Saddhono, Kundharu, ed. Pengkajian Sastra: Teori dan Aplikasi (PDF). Surakarta: CV. Djiwa Amarta Press. hlm. 95. ISBN 978-602-60585-8-4. 
  15. ^ Rahardi, R. Kunjana (2020). Pragmatik: Konteks Ekstralinguistik dalam Perspektif Cyberpragmatics (PDF). Yogyakarta: Penerbit Amara Books. hlm. 142–143. ISBN 978-623-7042-46-4. 
  16. ^ Beratha, Ni Luh Sutjiati (2020). "Ideologi Penggunaan Bahasa Bali di Kelurahan Ubud" (PDF). Prosiding Seminar Nasional Bahasa Ibu XII dan Lokakarya Pelestarian Bahasa Ibu II. Udayana University Press: 45. ISBN 978-602-294-403-4. 
  17. ^ Ratnaningsih, Dewi (2019). Sumarno dan Widayati, S., ed. Analisis Wacana Kirtis: Sebuah Teori dan Implementasi (PDF). Lampung Utara: Universitas Muhammadiyah Kotabumi. hlm. 1–2. ISBN 978-602-60227-3-8. 
  18. ^ Wiharja, Irpa Anggriani (2019). "Suara Miring Konten YouTube Channel Deddy Corbuzier di Era Society (Analisis Wacana Kritis)". Prosiding Seminar Nasional Bulan Bahasa 2019: 223. ISBN 978-623-707438-0. 
  19. ^ Nesi, A., dan Sarwoyo, V. (2012). Kerans, Hendrik L., ed. Analisis Wacana: Logis Berwacana dan Santun Bertutur. Flores: Penerbit Nusa Indah. hlm. 21. 
  20. ^ Badru, S., Saptarini, T., dan Suladi (2003). Pemahaman dan Penguasaan Siswa Kelas VI SD DKI Jakarta terhadap Wacana Bahasa Indonesia (PDF). Jakarta: Pusat Bahasa. hlm. 3. ISBN 979-685-370-1. 
  21. ^ Arnawa, Negah (2008). Wawasan Linguistik dan Pengajaran Bahasa (PDF). Denpasar: Pelawa Sari. hlm. 114. ISBN 978-979-17302-6-6. 
  22. ^ Aziez, Furqanul (ed.). Struktur Bahasa Indonesia dalam Gaya Berpikir: Kajian Berdasarkan Ancangan Aspek Kebahasaan Karangan (PDF). Purwokerto: CV. IRDH. hlm. 37. ISBN 978-623-7718-12-3. 
  23. ^ Zubaedi (2013). Pengembangan Masyarakat: Wacana dan Praktik (PDF). Jakarta: Kencana. hlm. 15. ISBN 978-602-9413-79-3. 
  24. ^ Hudiyono, Yusak (2021). Mulawarman, W. G., dan Rokhmansyah, A., ed. Wacana Percakapan Instruksional: Kajian Struktur, Strategi, dan Fungsi. Yogyakarta: CV Istana Agency. hlm. 1. ISBN 978-623-7313-93-9. 
  25. ^ Damayanti, R., dan Suryandari, S. (2017). Psikolinguistik: Tinjauan Bahasa Alay dan Cyberbullying (PDF). Kresna Bina Insan Prima. hlm. 18. ISBN 978-602-6276-24-7. 
  26. ^ Gemiharto, Ilham (2016). Aryanti, Nina Yudha, ed. "Pemanfaatan Teknologi Komunikasi Sebagai media Informasi Pasar oleh Kelompok Petani: Studi Kasus Pemanfaatan SMS Gateway sebagai Sumber Informasi Pasar oleh Kelompok Petani Nilam di Kabupaten Sumedang" (PDF). Prosiding Seminar Nasional Komunikasi 2016. Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Lampung: 228. ISBN 978-602-60412-0-3. 
  27. ^ Hamidah (2017). Filsafat Pembelajaran Bahasa: Perspektif Strukturalisme dan Pragmatisme (PDF). Bantul: Naila Pustaka. hlm. 56. ISBN 978-602-1290-43-9. 
  28. ^ Dosen Jurusan Komunikasi Fisip Unib (2019). Rozi, Achmad, ed. Bunga Rampai Riset Komunikasi Edisi 2 (PDF). Serang: Desanta Muliavisitama. hlm. 4. ISBN 978-623-7019-71-8. 
  29. ^ Makmur, A., dan Biantoro, S., ed. (2014). Ketahanan Budaya: Pemikiran dan Wacana (PDF). Jakarta: Pusat Penelitian dan Pengembangan Kebudayaan dan Insignia. hlm. 46–47. ISBN 978-602-1489345. 
  30. ^ Suyitno, Imam (2015). Analisis Wacana Budaya: Refleksi Budaya Etnik Dalam Kosakata Wacana (PDF). UM Press. hlm. 5. ISBN 978-979-495-800-1. 
  31. ^ Jumadi (2010). Pamungkas, Daud, ed. Wacana: Kajian Kekuasaan Berdasarkan Ancangan Etnografi Komunikasi dan Pragmatik (PDF). Yogyakarta: Pustaka Prisma. hlm. 2–3. ISBN 979-17083-3-9.