Gelanggang Olahraga Bung Karno

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search

Koordinat: 6°13′05″LS 106°48′17″BT / 6,2181205°LS 106,8046058°BT / -6.2181205; 106.8046058

Gelanggang Olahraga Bung Karno
Gelora Bung Karno, GBK
Logo GBK.png
Aerial SUGBK (cropped).jpg
Stadion Utama Gelora Bung Karno difoto bersama Stadion Akuatik dan Istora
Gelanggang Olahraga Bung Karno is located in Jakarta
Gelanggang Olahraga Bung Karno
Gelanggang Olahraga Bung Karno
Nama lama Gelanggang Olahraga Senayan
Lokasi Gelora, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Indonesia
Transportasi umum Roundeltjk1.png Gelora Bung Karno
Roundetjk9.png Senayan JCC
KRL Icon Green.svg Stasiun Palmerah
 M1  Stasiun Istora
Pemilik Sekretariat Negara Republik Indonesia[1]
Operator Pusat Pengelolaan Kompleks Gelora Bung Karno (PPKGBK)
Konstruksi
Mulai pembangunan 8 Februari 1960
Didirikan 8 Februari 1960
Dibuka 1961-1962
Direnovasi 2016-2017[2]
Ditutup 2016-2017
Biaya $12,500,000 (1958, seluruh kompleks)
Situs web
gbk.id

Gelanggang Olahraga (Gelora) Bung Karno adalah sebuah kompleks olahraga serbaguna di Senayan, Jakarta, Indonesia. Kompleks olahraga ini menjadi rumah bagi stadion utama, stadion sekunder, lapangan sepak bola, stadion air, stadion tenis (indoor dan outdoor), lapangan hoki, bisbol dan panahan, serta beberapa gimnasium dalam ruangan. Kompleks ini dibangun pada tahun 1960 untuk Pesta Olahraga Asia 1962[3][4] dan baru-baru ini menjalani rekonstruksi besar untuk Pesta Olahraga Asia 2018 dan Pesta Olahraga Difabel Asia 2018.

Kompleks olahraga ini dinamai untuk menghormati Soekarno, Presiden pertama Indonesia, yang juga merupakan tokoh yang mencetuskan gagasan pembangunan kompleks olahraga ini. Dalam rangka de-Soekarnoisasi, pada masa Orde Baru, nama kompleks olahraga ini diubah menjadi Gelora Senayan. Setelah bergulirnya gelombang reformasi pada 1998, nama kompleks olahraga ini dikembalikan kepada namanya semula melalui Surat Keputusan Presiden No. 7/2001[5]. Kompleks ini adalah kompleks olahraga tertua dan terbesar di Jakarta dan Indonesia, dan juga salah satu yang terbesar di Asia Tenggara. Stadion Utama Gelora Bung Karno adalah bangunan utama dalam kompleks olahraga ini. Singkatan Gelora dalam bahasa Indonesia juga berarti gejolak (seperti pada api atau ombak laut).[6]

Selain sebagai rumah bagi sejumlah fasilitas olahraga, kompleks olahraga ini juga merupakan tempat yang populer bagi masyarakat Jakarta untuk melakukan latihan fisik; joging, bersepeda, aerobik, dan senam khususnya saat akhir pekan.[7][8]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Setelah Federasi Asian Games menyatakan Jakarta menjadi tuan rumah Pesta Olahraga Asia 1962 pada tahun 1958,[9] persyaratan minimum yang belum dipenuhi oleh Jakarta adalah ketersediaan kompleks multi-olahraga. Menanggapi hal ini, Presiden Soekarno mengeluarkan Keputusan Presiden No. 113/1959 tanggal 11 Mei 1959 tentang pembentukan Dewan Asian Games Indonesia (DAGI) yang dipimpin oleh Menteri Urusan Pemuda dan Olahraga Maladi.[10] Soekarno, sebagai seorang arsitek dan sarjana teknik sipil, mengusulkan lokasi di dekat Jalan M. H. Thamrin dan Menteng, yaitu daerah Karet, Pejompongan, atau Dukuh Atas. Frederich Silaban, seorang arsitek terkenal yang mendampingi Soekarno untuk meninjau lokasi dengan helikopter, tidak setuju dengan pemilihan Dukuh Atas karena ia berpendapat pembangunan kompleks olahraga di pusat daerah pusat kota masa depan akan berpotensi menciptakan kemacetan lalu lintas besar-besaran. Soekarno setuju dan malah menugaskan daerah Senayan dengan luas sekitar 300 hektar.[11]

Pemancangan tiang pertama dilakukan secara simbolis oleh Soekarno pada tanggal 8 Februari 1960. Pembangunan Istora selesai pada Mei 1961. Stadion sekunder, Stadion Renang (Pusat Akuatik) dan Stadion Tenis selesai pada bulan Desember 1961. Stadion Utama selesai pada 21 Juli 1962, sebulan sebelum pertandingan.[12]

Fase pembangunan[sunting | sunting sumber]

Sebelum Asian Games 1962[sunting | sunting sumber]

Pembangunan Stadion Utama Gelora Bung Karno tahun 1961.
  • 8 Februari 1960 – Presiden Soekarno menancapkan tiang pancang Stadion Utama sebagai pencanangan pembangunan kompleks Asian Games IV disaksikan wakil perdana menteri Uni Soviet, Anastas Mikoyan.[13]
  • 21 Mei 1961 – Istana Olahraga berkapasitas 10.000 penonton selesai dibangun dan untuk pertama kalinya digunakan untuk penyelenggaraan kejuaraan dunia bulu tangkis beregu putra memperebutkan Piala Thomas.
  • Juni 1961 – Stadion Renang berkapasitas 8.000 penonton selesai dibangun. Bangunan ini terdiri dari kolam tanding 50 meter, kolam loncat indah, kolam pemandian dan kolam anak. Bangunan ini direnovasi pada tahun 1988.
  • 25 Desember 1961 – Stadion Tenis berkapasitas 5.200 penonton selesai dibangun.
  • Desember 1961 – Stadion Madya (sebelumnya disebut Small Training Football Field (STTF)) berkapasitas 20.000 penonton selesai dibangun. Berdiri di areal seluas 1.75 hektar dengan sumbu panjang 176.1 meter, sumbu pendek 124.2 meter dan dilengkapi dengan 2 tribun; tribun barat dengan kapasitas 8.000 penonton dan tribun timur dengan kapasitas 12.000 penonton. Bangunan ini direnovasi pada tahun 1987.[14]
  • 21 Juni 1962 – Hall Basket berkapasitas 3.500 penonton selesai dibangun.
  • 21 Juli 1962 – Stadion Utama berkapasitas 100.000 penonton selesai dibangun. Ciri khas bangunan ini adalah atap temu gelang berbentuk oval. Sumbu panjang bangunan (utara-selatan) sepanjang 354 meter; sumbu pendek (timur-barat) sepanjang 325 meter. Stadion ini dikelilingi oleh jalan lngkar luar sepanjang 920 meter. Bagian dalam terdapat lapangan sepak bola berukuran 105 x 70 meter, berikut lintasan berbentuk elips, dengan sumbu panjang 176,1 meter dan sumbu pendek 124,2 meter.
  • 24 Agustus 1962 – Gedung TVRI Pusat sebagai stasiun televisi pertama di Indonesia selesai dibangun diresmikan mulai dibuka.[15]

Sesudah Asian Games 1962[sunting | sunting sumber]

Stadion Utama Gelora Bung Karno tahun 2018.
  • 19 April 1965 – Awal pembangunan Kompleks DPR yang bertepatan dengan peringatan satu dasawarsa Konferensi Asia Afrika dan juga sebagai salah satu proyek The New Emerging Forces.
  • 1968 – Lapangan Golf seluas 20 hektar mulai dibangun.
  • 1970 – Gedung A dan Gedung B, masing - masing berkapasitas 10.000 penonton selesai dibangun. Kedua gedung ini direncanakan untuk menjadi gedung olahraga serbaguna. Gedung A digunakan untuk mengadakan kompetisi olahraga anggar sedangkan Gedung B digunakan untuk mengadakan kompetisi senam.
  • 1970 – Gedung C berkapasitas 800 penonton selesai dibangun. Gedung ini berjasa melahirkan para pe-bulu tangkis Indonesia kelas dunia seperti Rudy Hartono, Liem Swie King, Icuk Sugiarto dan Ivana Lie.

Era Yayasan Gelanggang Olahraga Senayan (YGOS)[sunting | sunting sumber]

Pada era Yayasan Gelanggang Olahraga Senayan ini, terjadi banyak penyimpangan sehingga kawasan Gelora Bung Karno yang semula luasnya 279,1 hektar ini telah menyusut hingga tinggal 136,84 hektar (49%) saja.

Dari jumlah yang 51% itu, 67,52 hektar (24,2% dari luas semula) digunakan untuk berbagai bangunan pemerintah seperti Gedung MPR/DPR, Kantor Departemen Kehutanan, Kantor Departemen Pendidikan Nasional, Gedung TVRI, Graha Pemuda, kantor Kelurahan Gelora, SMA Negeri 24 Jakarta, Puskesmas, gudang Depdiknas dan rumah makan.

Sisanya yang 26,7% atau 74,74 hektar disewakan atau dijual untuk berbagai bangunan seperti misalnya kepada Hotel Hilton, kompleks perdagangan Ratu Plaza, Hotel Mulia, Hotel Atlet Century Park (dahulu Wisma Atlet Senayan), Taman Ria Remaja Senayan, Wisma Fairbanks, Plaza Senayan dan berbagai bangunan komersial lain.[16]

Era Pusat Pengelolaan Kompleks Gelora Bung Karno (PPKGBK)[sunting | sunting sumber]

Pada masa PPKGBK ini, dilakukan pengembalian fungsi awal kawasan Gelora Bung Karno sebagai fasilitas olahraga sekaligus resapan air dan paru-paru kota atau ruang terbuka hijau (RTH) untuk publik. Pasalnya, dalam beberapa tahun terakhir pembangunan properti komersial di kawasan GBK Senayan sangat masif, sehingga menuai kritik tajam masyarakat dan pengamat perkotaan.[17][18] Direksi baru PPKGBK sejak Januari 2016 bertugas menyiapkan venue untuk Asian Games 2018, memperbaiki perjanjian-perjanjian kerja sama yang ada dengan mitra GBK, dan membuat Kompleks GBK Senayan menjadi sesuai dengan ketentuan dan peraturan.[19]

Fasilitas[sunting | sunting sumber]

Tampak luar Istora saat Pesta Olahraga Asia 2018.
Pemandangan Stadion Utama Gelora Bung Karno dari lantai 46 Wisma 46, 2005.
Stadion Akuatik Gelora Bung Karno. Renovasi tahun 2016–17 memperkenalkan atap baru berbentuk gelombang.
Foto Lapangan Sofbol Gelora Bung Karno diambil dari FX Sudirman.
Stadion Tenis Outdoor.
Stadion Madya, Tenis Indoor, dan Tenis Outdoor.

Arena olahraga[sunting | sunting sumber]

Arena Tujuan Kapasitas Tahun pembangunan Catatan
Stadion Utama Gelora Bung Karno Multi-guna, terutama sepak bola 77.193 1960 Stadion terbesar di Indonesia.
Istora Gelora Bung Karno Multi-guna, terutama bulu tangkis 7.166 1960
Stadion Akuatik Gelora Bung Karno Akuatik 7.800 1960
Tenis Indoor Multi-guna, kebanyakan konser 3.750 1993
Tenis Outdoor Tenis 3.800 1960
Stadion Madya Gelora Bung Karno Atletik 9.170 1960
Hall Basket Bola basket 2.400 1960
Stadion Bisbol Bisbol 1.320[20] 2016 Dibangun di lokasi yang sebelumnya merupakan bagian dari Tenis Outdoor
Lapangan Hoki Hoki lapangan 818 1973
Lapangan Sofbol Hasjrul Harahap Sofbol ≈500[21] 1996 Disebut pula Lapangan Softball Pintu Satu untuk membedakannya dengan Lapangan Sofbol Cemaratiga di dekatnya, yang kini telah dirobohkan.

Kapasitas bisa ditambah dengan kursi temporer sampai 2.000 kursi.

Lapangan Panahan Panahan 97[22] 2016
Lapangan Rugbi Rugbi - 2016 Dibangun di lokasi bekas Stadion Atletik PASI Jaya (selesai tahun 1973)
Lapangan Tembak Menembak - 1992 Lokasi baru. Hotel Mulia saat ini berdiri di lokasi pertama.
Arena Gelora Bung Karno Aula latihan multi-olahraga - 2016 Dibangun di lokasi bekas GOR Asia Afrika, Aula latihan bulu tangkis (selesai tahun 1986)
Aula Latihan Bola Voli Latihan bola voli - 1988
Lapangan Sepak Bola A, B, dan C Latihan sepak bola - -

Bangunan lain[sunting | sunting sumber]

Bangunan lain di dalam kompleks[sunting | sunting sumber]

  • Jakarta Convention Center (selesai tahun 1974)
  • Masjid Al Bina (selesai tahun 2001)
  • Hotel Sultan Jakarta (sebelumnya Hilton Hotel Jakarta, selesai tahun 1971)
  • Hotel Mulia (selesai tahun 1994)
  • Sirkuit mobil radio kontrol
  • Taman Krida Loka (selesai tahun 1987)
  • Hutan Kota (selesai tahun 2018, berdiri di bekas lahan golf)

Awalnya kompleks olahraga mencakup wilayah yang jauh lebih besar daripada sekarang. Selama tahun 1980-an hingga 1990-an, beberapa petak tanah dikembangkan menjadi fasilitas non-olahraga. Wilayah utara dikembangkan menjadi kantor pemerintah sementara daerah selatan dikembangkan menjadi hotel dan pusat perbelanjaan.

Kawasan utara[sunting | sunting sumber]

Kawasan selatan[sunting | sunting sumber]

Daerah selatan awalnya adalah kawasan wisma atlet untuk Pesta Olahraga Asia 1962. Wisma atlet tersebut dihancurkan pada tahun 1970-an. Beberapa bangunan sekarang berdiri di lokasi bekas wisma tersebut.

Kompetisi olahraga[sunting | sunting sumber]

Untuk pertama kalinya, kompleks Gelora Bung Karno menjadi tuan rumah Asian Games keempat pada tahun 1962. Stadion Utama menjadi tuan rumah Piala Asia AFC 2007. Kompetisi lain yang diadakan di lokasi ini seperti beberapa final Kejuaraan AFF dan Piala Indonesia. Istora Senayan telah beberapa kali menjadi tuan rumah kompetisi bulu tangkis Piala Sudirman, Piala Thomas and Piala Uber.[23] Kompleks olahraga ini juga menjadi tuan rumah kejuaraan olahraga multi-disiplin seperti Pekan Olahraga Nasional (PON) dan Pesta Olahraga Asia Tenggara (SEA Games). Kompleks ini menjadi tuan rumah PON sebanyak tujuh kali antara tahun 1973 hingga 1996. Kompleks ini menjadi tuan rumah SEA Games pada tahun 1979, 1987, 1997 dan 2011; yang terakhir menjadi tuan rumah bersama dengan kompleks Jakabaring Sport City di Palembang. Kompleks ini juga menjadi tuan rumah Pesta Olahraga Asia 2018[24] bersama dengan kompleks di Palembang, serta melayani sendiri selama perhelatan olahraga Para Games setelahnya.[25]

Revitalisasi 2016[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 2016, Kawasan Gelora Bung Karno direvitalisasi untuk mendukung penyelenggaraan Asian Games XVIII dan Asian Para Games III pada tahun 2018.[26] Proyek revitalisasi ini diparakarsai oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat berdasarkan Inpres Nomor 2/2016, mencakup pembangunan dan rehabilitasi 14 tempat di Komplek Gelora Bung Karno melalui 16 paket pekerjaan yang dilelang. Proyek ini dimulai bulan Februari 2016 dan selesai pada Oktober 2017.[27]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Pengelolaan Kawasan GBK Tetap Di Bawah Setneg". Media Indonesia. 10 Maret 2016. Diakses tanggal 11 Maret 2016. 
  2. ^ Usman, Ahmad Fawwaz (8 Agustus 2017). "Menuju Asian Games 2018, Renovasi GBK Nyaris Rampung". Liputan6.com. Diakses tanggal 30 November 2017. 
  3. ^ Asian Games 4. Djakarta 1962. 24 Agustus – 4 September. Jakarta: Departemen Penerangan Republik Indonesia. 1962. 
  4. ^ Hanna, Willard A. (1962). "The Politics of Sport. Indonesia as the Host to the "Fourth Asian Games"". Southeast Asia Series (dalam bahasa Inggris). 10 (19): 193–203. 
  5. ^ Hasby, Eddy (18 Juli 2001). "Tidak Masuk Akal, Rencana Pemindahan Gelora Bung Karno". Kompas.com. Diarsipkan dari versi asli tanggal 7 September 2004. Diakses tanggal 12 September 2004. 
  6. ^ "Hasil Pencarian - Gelora". KKBI Daring. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Diakses tanggal 27 Agustus 2016. 
  7. ^ Velarosdela, Rindi Nuris (14 September 2018). Kurnia Sari Aziza, ed. "16 dan 23 September, Ring Road GBK Dibuka untuk Umum". Kompas.com. Diakses tanggal 15 September 2018. 
  8. ^ Kusumaputra, Adhi (5 September 2018). "Stadion Utama GBK Dibuka untuk Umum Seusai Asian Para Games". Kompas. Diakses tanggal 6 September 2018. 
  9. ^ "Jakarta gets 1962 Games: No KL bid". The Straits Times (dalam bahasa Inggris). 24 Mei 1958. Diakses tanggal 27 Agustus 2012. 
  10. ^ Adams, Iain (2003). Mangan, J.A.; Hong, F., ed. "Pancasila: Sport and the Building of Indonesia – Ambitions and Obstacles". Sport in Asian Society. Past and Present (dalam bahasa Inggris). London and Portland: F. Cass: 295–318. 
  11. ^ Isnaeni, Hendri F. (17 Maret 2015). "Sukarno dan GBK". historia.id. Diakses tanggal 21 Januari 2018. 
  12. ^ Pour, Julius (2004). Dari Gelora Bung Karno ke Gelora Bung Karno. Grasindo. 
  13. ^ Afriyadi, Achmad Dwi (13 Mei 2018). "Menteri PPN: Saat Tuan Rumah Asian Games 1962, RI Negara Miskin". DetikFinance. Diakses tanggal 13 Mei 2018. 
  14. ^ "Seperti Ini Pembangunan Infrastruktur Asian Games di Tahun 1962". Asian Games 2018. 12 Juli 2017. Diakses tanggal 15 Juli 2017. 
  15. ^ Mailanto, Arsan (16 Februari 2016). "Sejarah Pertama Kali Televisi Masuk ke Indonesia". Okezone.com. Diakses tanggal 22 Agustus 2016. 
  16. ^ Pitoko, Ridwan Aji (13 Maret 2017). "Terkait Komersialisasi Kawasan GBK Senayan, Pengelola Tidak Silau Uang". Kompas.com. Diakses tanggal 14 Maret 2017. 
  17. ^ Tasrief Tarmizi, ed. (5 Desember 2012). "Mantan atlet soroti komersialisasi kawasan GBK". Antara. Diakses tanggal 6 Desember 2012. 
  18. ^ Barratut Taqiyyah Rafie, ed. (4 Februari 2015). "Komersialisasi kawasan GBK Senayan dilarang". Kontan.co.id. Diakses tanggal 5 Februari 2015. 
  19. ^ Pitoko, Ridwan Aji (13 Maret 2017). "Perjanjian Kerja Sama Pengelolaan Kompleks GBK Senayan Dievaluasi". Kompas.com. Diakses tanggal 14 Maret 2017. 
  20. ^ "Lapangan Baseball". gbk.id. Diakses tanggal 5 November 2018. 
  21. ^ "Softball Sport Technical Handbook" (PDF). Indonesia Asian Games Organizing Committee. hlm. 23. Diakses tanggal 5 November 2018. 
  22. ^ "Lapangan Panahan". gbk.id. Diakses tanggal 5 November 2018. 
  23. ^ Abdiel, Bagas (18 Januari 2017). "Indonesia Pertahankan Piala Thomas 1961 di Istora Senayan". Okezone.com. Diakses tanggal 10 Desember 2017. 
  24. ^ Zacharias Wuragil, ed. (10 Juli 2018). "Selama Asian Games, Gelora Bung Karno Senayan Ditutup Untuk Umum". Tempo.co. Diakses tanggal 11 Juli 2018. 
  25. ^ Mustikasari, Delia (21 September 2018). Imadudin Adam, ed. "GBK dan Beberapa Venue Lainnya Bakal Jadi Saksi Asian Para Games 2018". Bolasport.com. Diakses tanggal 22 September 2018. 
  26. ^ "Kawasan Gelora Bung Karno Segera Direnovasi". Tempo.co. 18 Februari 2016. Diakses tanggal 31 Januari 2017. 
  27. ^ Ihsanuddin (3 Februari 2018). "Renovasi 14 "Venue" GBK Rampung, Jokowi Ingin Resmikan Satu per Satu". Kompas.com. Diakses tanggal 4 Februari 2018. 

Bibliografi[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]