Etiket di Indonesia

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Ragam kode etik dan etiket di Indonesia mengatur tata krama dalam perilaku sosial dan karena itu dinilai sangat penting. Tata krama menunjukkan rasa hormat, dan menjadi kunci dalam suksesnya interaksi sosial.[1]


Tinjauan umum[sunting | sunting sumber]

Indonesia adalah negara tropis yang luas, sehingga budayanya beragam dan membentuk kurang-lebih 300 suku,[2] dan mempunyai lebih dari 700 bahasa.[3] Indonesia adalah rumah bagi pemeluk Muslim terbesar di dunia. Indonesia juga menjadi rumah bagi banyak populasi pemeluk Katolik dan Protestan, pemeluk Hindu yang bermukim di Bali, dan orang Tionghoa-Indonesia yang mayoritas pemeluk Buddha.[4] Di daerah terpencil, aninisme masih bertahan hingga saat ini.

Tiap suku di Indonesia mempunyai adat-istiadat berbeda dan berbicara bahasa daerah mereka masing-masing. Setiap mereka juga memeluk agama yang berbeda-beda dan mempunyai tata krama yang berbeda-beda pula. Karena itu tiap-tiap suku tersebut membentuk keberagaman Indonesia. Sebagai contoh, suku Jawa mempunyai serangkaian tata krama yang rumit dan sebisa mungkin menghindari untuk mengungkapkan perasaannya langsung di muka umum, sementara suku Batak mau pun suku Betawi, mereka lebih jujur dan blak-blakan. Terlepas dari itu, etiket yang berlaku pada suku Jawa menjadi standar—sebagian mau pun seluruhnya—bagi interaksi sosial yang berlaku di Indonesia secara umum.[5]

Nilai-nilai umum dan penerapannya[sunting | sunting sumber]

Senyum[sunting | sunting sumber]

Biasanya, orang Indonesia memulai interaksi dengan senyuman, dan dianjurkan untuk membalas senyumannya.[6] Ketika berinteraksi dengan orang lain, sebisa mungkin seorang tersebut menghindari hawa arogansi, ketidaksenangan, dan pengelakan. Itulah mengapa rakyat Indonesia dinobatkan sebagai rakyat yang paling banyak tersenyum di dunia.[7]

Kebersamaan[sunting | sunting sumber]

Orang Indonesia biasanya lebih mementingkan nilai kekeluargaan, seperti yang ditampilkan pada foto ini.

Orang Indonesia mengedepankan komunitasnya lebih dari dirinya sendiri. Beberapa suku menganjurkan agar setiap warganya berpartisipasi aktif dalam segala kegiatan yang diselenggarakan. Semangat kerja sama juga dikedepankan, seperti musyawarah dan gotong-royong.[8] Individualisme tidak dianjurkan di Indonesia karena dianggap simbol arogansi dan egoisme.

Hierarki dan menghormati yang tua[sunting | sunting sumber]

Menghormati yang lebih tua dan memperhatikan guru adalah perilaku yang diharapkan dari kebanyakan pemuda Asia, termasuk pada foto berikut yang berasal dari Indonesia. Para siswa mendengarkan penjelasan dari guru mereka saat kunjungan ke museum.

Hierarki memainkan peran yang apik dalam budaya Indonesia. Penting di Indonesia bahwa "tidak ada yang setara", semua orang mempunyai status sosial masing-masing, dan status bersifat situasional.[5] Tangga hierarkial ini dihormati dan dijaga. Tiap orang saling menghormati sesamanya menurut hierarki masing-masing. Kegagalan untuk menunjukkan rasa hormat pada orang lain sering disebut dengan "kurang ajar" untuk menggambarkan betapa kurangnya pendidikan kesopanan pada yang bersangkutan.[9]

Sikap salim juga ditunjukkan kepada yang lebih tua, dengan cara membungkukkan badan sembari mengambil sikap jabat tangan dan mencium tangan yang di-salim-kan.

Sementara sungkem adalah gestur untuk memohon maaf, menunjukkan kesopanan, dan menghormati yang lebih tua, umum di tradisi Sunda dan Jawa. Sungkem dilakukan dengan yang tua meletakkan tangan di pahanya, sementara yang muda merendahkan badannya hingga setinggi paha yang tua sembari memegang tangan yang tua. Tradisi sungkem umum dilaksanakan pada Idul Fitri.[10]

Ketidak-blak-blakan[sunting | sunting sumber]

Kebanyakan orang Indonesia menempatkan hubungan sosial menjadi kepentingan utama, maka konfrontasi langsung sebisa mungkin dihindari. Sehingga, ketidak-blak-blakan menjadi norma umum. Orang Indonesia pintar menyajikan suasana tidak enak atau kabar tidak mengenakkan ke dalam kata-kata yang lebih halus dan tidak terlalu menyakitkan; di dalam Bahasa Indonesia ada 12 kata untuk menggantikan ungkapan "tidak".[11] Namun seiring dengan demokrasi dan kebebasan berpendapat, mengungkapkan perasaan secara langsung perlahan mulai diterima masyarakat Indonesia.[12]

Menyelamatkan muka[sunting | sunting sumber]

Menyelamatkan muka berarti seseorang harus memikirkan harga diri sesamanya dan menghindari mereka dari perlakuan yang membuat harga diri mereka merosot. Terkadang mengungkapkan perasaan secara langsung merupakan etika yang buruk dan juga membuat malu. Maka dari itu, biasanya ketika orang Indonesia akan membicarakan hal yang tidak mengenakkan bagi lawan bicaranya, maka mereka akan membicarakannya empat mata; hal tersebut, selain untuk menjaga muka si lawan bicara sekaligus kehormatan dan kewibawaannya di antara rekan-rekannya.[13]

Etika sehari-hari[sunting | sunting sumber]

Ketika menyapa[sunting | sunting sumber]

Sapaan dalam Bahasa Indonesia mencakup

  • selamat pagi
  • selamat siang
  • selamat sore
  • selamat malam

Mengucapkan terima kasih merupakan suatu anjuran ketika menerima bantuan.

Menggunakan tangan[sunting | sunting sumber]

Baik Muslim maupun Hindu menghindari penggunaan tangan kiri jika tidak dalam keadaan mendesak. Tangan kiri disebut 'tangan kotor'; tangan kiri digunakan untuk membersihkan diri di toilet. Sehingga dalam interaksi dalam sosial, diharuskan untuk menggunakan tangan kanan.

Menunjuk seseorang atau sesuatu dengan telunjuk dianggap kurang sopan (atau tidak sopan dalam situasi tertentu, tergantung situasi). Sehingga ketika menunjuk, orang Indonesia biasanya menunjuk dengan telapak tangan ataupun dengan jari jempol. Menunjuk dengan dagu dinilai cukup sopan jika dilakukan perlahan,[6] kecuali jika dilakukan secara cepat; itu menunjukkan ketidaksopanan karena terkesan mengejek.

Table manner[sunting | sunting sumber]

Di meja makan, yang lebih tua biasanya berhak untuk memulai acara makan,[14] disusul dengan orang-orang di sekitarnya yang mengambil makanan sendiri-sendiri. Orang Indonesia lebih sering makan dengan tangan (jika di pedesaan), namun di perkotaan, banyak yang menggunakan sendok. Pisau tidak diperlukan saat makan, karena makanan telah dipotong kecil terlebih dahulu sebelum dimasak.[14]

Jika makan dengan tangan, maka biasanya tersedia kobokan, semacam wadah kecil yang berisi air untuk tempat mencuci tangan.

Kebanyakan restoran mengharuskan tamunya untuk berbagi meja dengan tamu yang lain. Di sini senyum dan mengatakan permisi jika ingin mengambil sesuatu menjadi norma yang wajib.

Di restoran, biasanya seseorang yang mengajak temannya makan yang akan mentraktir semua biaya makan,[14] sementara "seperti orang Belanda", atau "tiap orang membayar makan mereka sendiri-sendiri di suatu restoran atau tempat makan", kurang dianjurkan sebab dianggap "orang yang pertama kali mengajak makan itu kekurangan dana"[6], walaupun sering dilakukan oleh remaja pada saat ini.

Selama bulan Ramadan, di mana segala sesuatu yang dimasukkan ke dalam mulut diharamkan dari terbit fajar hingga matahari terbenam, maka non-muslim tidak boleh mengajak rekannya yang muslim untuk makan dan/atau minum bersama.

Karena agama Islam mengharamkan babi dan alkohol,[14] maka restoran yang menyajikan baik daging babi maupun alkohol di Indonesia jarang dijumpai, kecuali di daerah tertentu. Biasanya minuman beralkohol hanya dijual di diskotek dan peredarannya harus disertai cukai.

Cara berpakaian[sunting | sunting sumber]

Secara umum, pakaian ala Barat diadopsi secara baik di Indonesia, dengan perbedaan di masing-masing daerah. Sebagai contoh, hukum syariah di Aceh mengatur cara berpakaian yang lebih konservatif, sementara di Bali menerapkan cara berpakaian lebih liberal karena banyaknya turis asing di sana. Celana pendek dan pakaian ketat hanya dikenakan saat olahraga dan tidak dianjurkan untuk pengunaan sehari-hari di depan umum.[15]

Pakaian formal bisnis[sunting | sunting sumber]

Kode pakaian untuk urusan formal bisnis sama seperti yang berlaku di internasional. Kebanyakan kantor di Indonesia dilengkapi dengan pendingin ruangan, maka panas bukan menjadi masalah saat mengenakan pakaian tersebut. Di Indonesia, cara berpakaian formal yang lebih konservatif dianjurkan—terutama bagi wanita. Rok harus melebihi paha dan punggung harus tertutup.

Acara formal[sunting | sunting sumber]

Menghadiri acara, undangan, dan acara formal lain, dianjurkan untuk mengenakan pakaian formal bisnis atau batik dengan lengan panjang.

Mengunjungi tempat keramat[sunting | sunting sumber]

Mengunjungi tempat ibadah membutuhkan perhatian tinggi terutama untuk cara berpakaian. Hal yang sama berlaku pada keraton dan istana-istana lain.

Semua bentuk alas kaki harus dilepas ketika memasuki masjid maupun pura. Di masjid, baik pria maupun wanita harus menutupi sebanyak mungkin anggota tubuhnya (menutup auratnya); wanita diharuskan mengenakan kerudung untuk menutupi kepalanya.[16] Jika ingin mengunjungi tempat keramat, pastikan bahwa tempat tersebut terbuka untuk umum.

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Cathie Draine & Barbara Hall (1986). Culture Shockǃ Indonesia, A Guide to Custom and Etiquette. Portland, Oregon: Graphic Arts Center Publishing Company, with arrangements with Times Editions Pte Ltd. ISBN 1558680578. 
  2. ^ Kuoni - Far East, A world of difference. Page 88. Published 1999 by Kuoni Travel & JPM Publications
  3. ^ Lewis, M. Paul (2009). "Ethnologue: Languages of the World, Sixteenth edition". SIL International. Diakses tanggal 2009-11-17. 
  4. ^ "Penduduk Menurut Wilayah dan Agama yang Dianut" [Population by Region and Religion]. Sensus Penduduk 2010. Jakarta, Indonesia: Badan Pusat Statistik. 15 May 2010. Diakses tanggal 20 November 2011. Muslim 207176162 (87.18%), Christian 16528513 (6.96), Catholic 6907873 (2.91), Hindu 4012116 (1.69), Buddhist 1703254 (0.72), Khong Hu Chu 117091 (0.05), Other 299617 (0.13), Not Stated 139582 (0.06), Not Asked 757118 (0.32), Total 237641326. 
  5. ^ a b Draine & Hall (1986), hlm. 75
  6. ^ a b c Draine & Hall (1986), hlm. 268
  7. ^ David (8 May 2009). "Smiling People, Smiley Faces". Indonesia Matters. Diakses tanggal 9 April 2012. 
  8. ^ Draine & Hall (1986), hlm. 16
  9. ^ Draine & Hall (1986), hlm. 76
  10. ^ Draine & Hall (1986), hlm. 80
  11. ^ Draine & Hall (1986), hlm. 45
  12. ^ Rendy Wirawan. "Reconstructing Democracy in Indonesia". Academia.edu. 
  13. ^ Lucy Debenham BA (27 July 2010). "Etiquette in Indonesia". Travel Etiquette. Diakses tanggal 2 April 2012. 
  14. ^ a b c d Mike, Lininger. "International Dining Etiquette — Indonesia". Etiquette Scholar. Diakses tanggal 28 May 2015. 
  15. ^ Draine & Hall (1986), hlm. 266
  16. ^ Gregory Rodgers. "Mosque Etiquette". About Travel. Diakses tanggal 27 May 2015.