Lompat ke isi

Harga diri

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Harga diri adalah pandangan keseluruhan dari individu tentang dirinya sendiri.[1] Individu melakukan penilaian terhadap hal-hal yang berkaitan dengan dirinya.[2] Harga diri juga mencakup bagaimana individu memandang dirinya sebagai pribadi yang cakap, berharga, serta berhasil. Penghargaan diri juga kadang dinamakan martabat diri atau gambaran diri.[1] Misalnya, anak dengan penghargaan diri yang tinggi mungkin tidak hanya memandang dirinya sebagai seseorang, tetapi juga sebagai seseorang yang baik.[1]

Faktor Penyebab Rendah Diri

[sunting | sunting sumber]
Seseorang yang depresi. Depresi adalah salah satu sebab rendah diri.

Rasa rendah diri yang menetap dan berlebihan dapat diakibatkan oleh prestasi yang buruk, depresi, gangguan makan, dan tindak kejahatan.[3] Keseriusan masalah ini akan tergantung bukan hanya kepada sifat dari rasa rendah diri individu, tetapi juga pada kondisi lainnya.[3] Saat perasaan rendah diri diiringi dengan kesulitan pada masa transisi atau masalah keluarga, maka masalah seorang individu mungkin bisa bertambah berat.[3]

Manfaat Memiliki Harga Diri Tinggi

[sunting | sunting sumber]

Harga diri berkaitan dengan bagaimana seseorang berperilaku.[4] Apabila seseorang memiliki harga diri yang tinggi, maka memiliki kecenderungan untuk berperilaku positif. Sebaliknya, jika harga diri yang dimiliki rendah, maka seseorang akan cenderung berperilaku negatif. Selain itu, individu yang memiliki harga diri tinggi akan memandang dirinya secara positif dan menyadari kelebihan-kelebihan yang dimiliki dirinya.[5] Pada saat mengalami suatu kegagalan atau situasi yang tidak menyenangkan, individu yang memiliki harga diri tinggi cenderung lebih bisa mengatasi hal tersebut dan menyesuaikan diri dengan perubahan.[6]

Dampak Memiki Harga Diri Rendah

[sunting | sunting sumber]

Sedangkan individu yang memiliki harga diri rendah akan cenderung berfokus pada kelemahan-kelemahan yang dimiliki dan memandang dirinya secara negatif. Tidak hanya itu, individu yang memiliki harga diri yang rendah juga merasa dirinya kurang bermanfaat, tidak dicintai, serta kurang berharga.[7] Perasaan tidak berharga itu akan membuat individu tidak berani untuk berhubungan sosial dengan lingkungannya.[8]

Konsep harga diri berasal dari abad ke-18, pertama kali diungkapkan dalam tulisan-tulisan pemikir era pencerahan asal Skotlandia, David Hume. Hume berpendapat bahwa penting untuk menghargai dan berpikir baik tentang diri sendiri karena itu dapat memenuhi kebutuhan motivasi yang memungkinkan orang untuk mengeksplorasi potensi penuh mereka.[9][10]

Pada pertengahan 1960-an, psikolog sosial Morris Rosenberg mendefinisikan harga diri sebagai perasaan atas kelayakan diri. Dia kemudian mengembangkan skala harga diri Rosenberg (RSES), yang nantinya akan menjadi skala yang paling banyak digunakan untuk mengukur harga diri dalam ilmu-ilmu sosial.[11]

Pada tahun 1992, ilmuwan politik Francis Fukuyama mengaitkan harga diri dengan apa yang disebut Plato sebagai thymos yang mana itu adalah bagian "semangat" dari jiwa Platonis.[12]

Banyak teori awal menyatakan bahwa harga diri adalah kebutuhan atau motivasi dasar manusia. Psikolog Amerika Abraham Maslow memasukkan harga diri dalam hierarki kebutuhan manusianya. Dia menggambarkan dua bentuk "penghargaan" yang berbeda. Penghargaan tersebut antara lain adalah kebutuhan akan rasa hormat yang berasal dari orang lain dalam bentuk pengakuan, kesuksesan, dan kekaguman. Sedangkan di sisi lain, bentuk kebutuhan lain yang juga dibutuhkan adalah kebutuhan akan harga diri dalam bentuk cinta diri, kepercayaan diri, keterampilan, atau bakat.[13][14] Rasa hormat dari orang lain diyakini lebih rapuh daripada harga diri yang sesungguhnya. Menurut Maslow, tanpa terpenuhinya kebutuhan harga diri, individu akan terdorong untuk mencarinya. Karena tanpa harga diri, manusia tidak dapat berkembang dan memperoleh aktualisasi diri. Maslow juga menyatakan bahwa ekspresi harga diri yang paling sehat "adalah ekspresi yang termanifestasi dalam rasa hormat yang pantas kita terima untuk orang lain daripada hanya sekadar kemasyhuran, ketenaran, dan sanjungan". Teori harga diri modern mengeksplorasi alasan manusia termotivasi untuk mempertahankan penghargaan yang tinggi terhadap diri mereka sendiri. Teori sosiometer menyatakan bahwa harga diri berkembang untuk memeriksa tingkat status dan penerimaan seseorang dalam kelompok sosialnya. Menurut Teori Manajemen Teror, harga diri berfungsi sebagai pelindung dan mengurangi kecemasan tentang hidup dan mati.[15]

Pengukuran harga diri

[sunting | sunting sumber]

Harga diri biasanya dinilai menggunakan inventarisasi laporan diri. Salah satu instrumen yang paling banyak digunakan untuk mengukur harga diri adalah skala harga diri Rosenberg (RSES).[16] Skala ini menggunakan 10 item yang mengharuskan peserta untuk menunjukkan tingkat persetujuan mereka dengan serangkaian pernyataan tentang diri mereka sendiri. Metode pengukuran lainnya, yaitu Coopersmith Inventory menggunakan 50 pertanyaan tentang berbagai topik. Metode tersebut biasanya menanyakan subjek apakah mereka menilai seseorang serupa atau tidak serupa dengan diri mereka sendiri.[17] Jika jawaban subjek dalam metode pengukuran tersebut menunjukkan harga diri yang kuat, maka dapat disimpulkan bahwa subjek dengan seseorang tersebut memiliki kesesuaian. Jika jawaban subjek itu menunjukkan rasa malu, maka dapat disimpulkan bahwa subjek dengan seseorang tersebut rentan terhadap penyimpangan sosial.[18]

Pengukuran implisit untuk harga diri pada awalnya digunakan pada 1980-an.[19] Pengukuran ini umumnya bergantung pada penguukuran yang dilakukan secara tidak langsung dari pemrosesan kognitif yang dianggap terkait dengan harga diri implisit, termasuk tugas huruf nama (atau tugas preferensi nama inisial)[20] dan Tugas Asosiasi Implisit.[21]

Beberapa pengujian yang dilakukan secara tidak langsung tersebut dirancang untuk mengurangi kesadaran di saat proses penilaian. Saat menggunakan beberapa pengujian tersebut untuk menilai harga diri implisit, psikolog akan menggunakan stimulus yang relevan dengan diri sendiri kepada peserta dan kemudian mengukur seberapa cepat seseorang mengidentifikasi stimulus positif atau negatif.[22] Misalnya, jika seorang wanita diberi rangsangan yang relevan dengan dirinya sendiri, psikolog akan mengukur seberapa cepat dia mengidentifikasi stimulus sebagai sesuatu yang bersifat negatif, atau positif.

Neurosains

[sunting | sunting sumber]

Dalam penelitian yang dilakukan pada tahun 2014 oleh Robert S. Chavez dan Todd F. Heatherton, ditemukan bahwa harga diri berhubungan dengan konektivitas sirkuit frontostriatal. Jalur frontostriatal menghubungkan korteks prefrontal medial, yang berhubungan dengan pengetahuan diri, ke ventral striatum, yang berhubungan dengan perasaan motivasi dan penghargaan. Jalur anatomi yang lebih kuat berkorelasi dengan harga diri jangka panjang yang lebih tinggi, sementara konektivitas fungsional yang lebih kuat berkorelasi dengan harga diri jangka pendek yang lebih tinggi.[23]

Aspek dari harga diri

[sunting | sunting sumber]

Terdapat empat aspek dari harga diri.[24] Pertama, aspek akademis. Aspek ini mencakup evaluasi individu terhadap dirinya berdasarkan nilai-nilai pribadi yang diminati. Kedua, aspek general self. Pada aspek ini melingkupi bagaimana individu memandang kemampuan dirinya secara umum. Lalu yang ketiga adalah aspek keluarga. Aspek ini mencakup bagaimana hubungan kedekatan antara anak dengan orang tua, dukungan sosial yang diberikan orang tua kepada anak, serta bagaimana penerimaan orang tua kepada anak. Kemudian aspek terakhir yaitu lingkungan. Pada aspek ini mengukur bagaimana hubungan individu dengan orang lain.

Faktor yang memengaruhi harga diri

[sunting | sunting sumber]

Terdapat beberapa faktor yang memengaruhi harga diri individu. Perubahan bentuk badan yang biasa terjadi pada remaja masa pubertas dapat memengaruhi harga diri yang dimiliki.[25] Perubahan seperti munculnya jerawat, bertambahnya berat badan, serta penampilan yang dapat menimbulkan komentar negatif dari orang lain dapat menurunkan harga diri remaja. Selain itu, faktor dari keluarga khususnya orang tua juga memengaruhi harga diri remaja.[26] Jika orang tua memberikan kasih sayang yang cukup dan memberikan perasaan berharga untuk anak, maka individu memiliki rasa penghargaan diri yang cukup. Sebaliknya, jika orang tua tidak dapat memberikan kehangatan dan selalu mengkritik anak, maka anak akan memiliki keraguan dalam penghargaan diri.

Faktor lingkungan seperti teman sebaya, sekolah, dan lingkungan sekitar juga menjadi faktor yang memengaruhi harga diri.[27] Hal ini berkaitan dengan bagaimana individu merasa aman dan diterima dalam lingkungannya. Penerimaan sosial berupa afirmasi dari orang lain inilah yang memengaruhi harga diri individu.[28]

Dukungan sosial juga menjadi salah satu faktor yang memengaruhi harga diri. Lansia yang mengalami kehilangan pasangan hidup bisa memiliki harga diri yang rendah.[29] Kehilangan pasangan hidup menyebabkan kurangnya dukungan sosial bagi lansia, sehingga lansia cenderung merasakan kesepian. Kesepian dapat berefek negatif karena individu merasa dirinya tidak dipedulikan oleh orang lain.

Cara meningkatkan harga diri

[sunting | sunting sumber]

Beberapa cara dapat dilakukan untuk meningkatkan harga diri yang dimiliki. Pertama yaitu dengan menyadari kemampuan yang dimiliki dan mengembangkan hal tersebut.[30] Harga diri seorang individu dapat dibangun dengan cara menunjukkan kemampuan dan pencapaian hidup yang berarti. Maka, kemampuan yang dimiliki dapat dikembangkan dan dicari peluangnya untuk ditonjolkan. Cara yang kedua adalah dengan berhenti mengkhawatirkan apa yang orang lain pikirkan tentang diri sendiri.[31] Ketika merasa khawatir dengan apa yang dipikirkan orang lain, maka individu cenderung tidak bebas untuk melakukan suatu hal. Maka dari itu, berhenti khawatir dan lebih fokus terhadap apa yang ingin dilakukan dapat meningkatkan harga diri. Kemudian yang ketiga adalah tidak terlalu membandingkan diri dengan orang lain.[32] Orang lain tidak selalu bisa menjadi standar kehidupan. Apa yang orang tampilkan di medial sosial hanya hal-hal terbaik di kehidupannya. Maka, membandingkan diri dengan orang lain tidak perlu dilakukan dan fokus saja pada apa yang bisa dikembangkan pada diri sendiri. Mengenali apa kekurangan dan kelebihan yang dimiliki juga dapat meningkatkan harga diri.[33]

Media Sosial dan Harga Diri Remaja

[sunting | sunting sumber]

Menurut Badan Pusat Statistik, jumlah penduduk Indonesia tahun 2025 mencapai 284 juta,[34] sementara pemakai internet di Indonesia mencapai angka 221 juta yang setara dengan 79,5% dari total populasi di Indonesia.[35] Pengguna media sosial didominasi oleh kaum usia 18-34 tahun dengan persentase sebesar 54,1% (RRI, 2024).

Masa remaja adalah fase kehidupan antara masa kanak-kanak dan dewasa, dari usia 10 hingga 19 tahun.[36] Netrawati dkk. (dalam Dewi & Ibrahim, 2019) menjelaskan remaja merupakan individu yang sedang mengalami pubertas di mana perkembangan fisik dan mental berkembang secara pesat. Perubahan ini membuat remaja berusaha untuk menunjukkan eksistensinya di media sosial.[37]

Salah satu cara remaja menunjukkan eksistensinya adalah dengan mengunggah foto atau video di media sosial disertai dengan caption yang menarik untuk memperoleh feedback berupa like dan komentar positif yang dapat menumbuhkan harga diri pada remaja.[37] Hal ini selaras dengan peran pembentukan harga diri melalui penilaian yang dipantulkan (reflected appraisals) di mana remaja akan melihat diri sendiri berdasarkan bagaimana mereka berpikir orang lain melihat mereka. Dengan kata lain, harga diri sebagian besar dibentuk oleh “cermin” yang dipantulkan orang-orang di sekitar. [38]

Selain dengan penilaian yang dipantulkan  (reflected appraisals), remaja dapat membentuk harga diri melalui perbandingan sosial. Perbandingan sosial (social comparison) adalah sebuah teori yang menjelaskan bahwa terdapat dorongan bawaan dari diri individu untuk melakukan perbandingan terhadap dirinya dengan individu lain. Hal ini dilakukan dalam rangka mengevaluasi perkembangan individu tersebut dan menjadi unggul dalam berbagai aspek kehidupan.[39] Dampak perbandingan sosial bagi pembentukan harga diri remaja tergantung pada bagaimana remaja tersebut menginterpretasikan perbandingan itu sendiri, apakah dengan sisi positif atau mungkin sebaliknya.

Postingan-postingan yang dilihat oleh remaja dapat berdampak positif apabila remaja memaknai hal tersebut sebagai sesuatu yang dapat memotivasi mereka. Namun, paparan yang berlebihan dapat menimbulkan perbandingan sosial yang tidak sehat. Apabila perbandingan ini diinterpretasikan secara negatif, maka emosi yang muncul adalah iri hati. Tidak hanya itu, remaja dapat merasa minder, tidak cukup baik, atau mengalami tekanan untuk tampil sempurna seperti orang lain.[40]

Persepsi tersebut sangat berkaitan dengan bagaimana harga diri remaja akan terbentuk. Jika dimaknai secara positif dapat membantu remaja menumbuhkan rasa percaya diri, optimisme, dan keyakinan bahwa mereka juga mampu mencapai hal-hal baik dalam hidupnya. Sebaliknya, apabila dimaknai secara negatif dapat menurunkan harga diri karena remaja merasa dirinya tertinggal, tidak berharga, atau gagal memenuhi standar sosial yang dibentuk oleh media.[41]

Penanggulangan

[sunting | sunting sumber]

Mengurangi Perbandingan Sosial

Individu yang sering membandingkan diri mereka dengan orang lain di media sosial cenderung mengalami penurunan harga diri. Mengurangi aktivitas perbandingan sosial dapat membantu meningkatkan harga diri.[42][43]

Penggunaan Media Sosial yang Sehat Secara Sadar

Menyadari potensi perbandingan sosial dan dampaknya terhadap harga diri itu sangat penting. Penggunaan media sosial yang sehat dapat dilakukan dengan aktif berinteraksi dalam sosial media secara positif seperti ikut serta dalam komunitas online yang baik (grup belajar, komunitas hobi, dll), dan memberikan komentar atau dukungan positif ke seseorang.[42][44]

Mengurangi Kecanduan Media Sosial

Mengurangi waktu yang dihabiskan di media sosial dan mengembangkan aktivitas offline yang lebih sehat dapat membantu meningkatkan harga diri.[45]

Detoks Digital

Break dari media sosial seperti membatasi atau mengurangi waktu penggunaan media sosial dapat memperbaiki persepsi diri.[46]

Memiliki atau Meningkatkan Kecerdasan Emosional

Meningkatkan kecerdasan emosional dapat membantu seseorang mengelola emosi dan interaksi mereka di media sosial dengan cara yang lebih efektif. Belajar mengelola emosi, empati, dan kesadaran diri dapat meningkatkan kecerdasan emosional dan terbukti dapat meningkatkan harga diri karena individu menjadi lebih mampu untuk mengendalikan reaksi emosional dan lebih memahami diri sendiri serta orang lain.[47][48]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. 1 2 3 Santrock, J. W. Psikologi Pendidikan, Jakarta: Kencana, 2010, hal. 112-113.
  2. Handayani, Muryantinah Mulyo; Ratnawati, Sofia; Helmi, Avin Fadilla (2015-09-30). "EFEKTIFITAS PELATIHAN PENGENALAN DIRI TERHADAP PENINGKATAN PENERIMAAN DIRI DAN HARGA DIRI". Jurnal Psikologi. 25 (2): 47–55. ISSN 2460-867X. Diarsipkan dari asli tanggal 2022-12-05. Diakses tanggal 2022-03-14.
  3. 1 2 3 Harter, S. (Inggris)The Construction of the Self. New York: Guilford, 1999, hal.
  4. Andayani, Budi; Afiatin, Tina (2016-03-15). "KONSEP DIRI, HARGA DIRI, DAN KEPERCAYAAN DIRI REMAJA". Jurnal Psikologi. 23 (2): 23–30. ISSN 2460-867X. Diarsipkan dari asli tanggal 2022-09-13. Diakses tanggal 2022-03-14.
  5. Aditomo, Anindito; Retnowati, Sofia (2004). "PERFEKSIONISME, HARGA DIRI, DAN KECENDERUNGAN DEPRESI PADA REMAJA AKHIR". Jurnal Psikologi (dalam bahasa Inggris). 31 (1): 1–14. doi:10.22146/jpsi.7033. ISSN 2460-867X. Diarsipkan dari asli tanggal 2022-12-07. Diakses tanggal 2022-03-14.
  6. Sativa, Alissa Rosi; Helmi, Avin Fadilla (2013). "SYUKUR DAN HARGA DIRI DENGAN KEBAHAGIAAN REMAJA". Wacana (dalam bahasa Inggris). 5 (2). doi:10.13057/wacana.v5i2.9. ISSN 2716-1625. Diarsipkan dari asli tanggal 2022-09-13. Diakses tanggal 2022-03-15.
  7. Marwati, Eka (2015-10-16). "Pelatihan Berpikir Optimis Untuk Meningkatkan Harga Diri Pada Remaja di Panti Asuhan". MENDIDIK: Jurnal Kajian Pendidikan dan Pengajaran (dalam bahasa Inggris). 1 (2): 147–154. doi:10.30653/003.201512.22. ISSN 2528-4290. Diarsipkan dari asli tanggal 2022-09-13. Diakses tanggal 2022-03-14.
  8. Lete, Gregorius Reda; Kusuma, Farida Halis Dyah; Rosdiana, Yanti (2019-01-23). "HUBUNGAN ANTARA HARGA DIRI DENGAN RESILIENSI REMAJA DI PANTI ASUHAN BAKTI LUHUR MALANG". Nursing News : Jurnal Ilmiah Keperawatan. 4 (1). ISSN 2527-9823. Diarsipkan dari asli tanggal 2022-09-13. Diakses tanggal 2022-03-15.
  9. Morris, William Edward; Brown, Charlotte R. (2001-02-26). "David Hume". Diarsipkan dari asli tanggal 2019-12-17. Diakses tanggal 2022-03-18. ;
  10. "Hume Texts Online". davidhume.org. Diarsipkan dari asli tanggal 2019-12-15. Diakses tanggal 2022-03-18.
  11. Baumeister, Roy F.; Smart, L.; Boden, J. (1996). "Relation of threatened egotism to violence and aggression: The dark side of self-esteem". Psychological Review. 103 (1): 5–33. CiteSeerX 10.1.1.1009.3747. doi:10.1037/0033-295X.103.1.5. PMID 8650299. Diarsipkan dari asli tanggal 2022-12-12. Diakses tanggal 2022-03-18.
  12. Fukuyama, Francis (1992). The End of History and the Last Man. New York: Simon and Schuster (dipublikasikan 2006). hlm. xvi–xvii. ISBN 978-0743284554. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2023-08-02. Diakses tanggal 18 Maret 2022. [...] Plato in the Republic [...] noted that there were three parts to the soul, a desiring part, a reasoning part, and a part that he called thymos, or 'spiritedness.' [...] The propensity to feel self-esteem arises out of the part of the soul called thymos.
  13. "Esteem: Maslow's Hierarchy of Needs". The Interaction Design Foundation (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari asli tanggal 2023-01-30. Diakses tanggal 2022-03-18.
  14. Aruma, Melvins Enwuvesi Hanachor (2017). "Abraham Maslow's Hierarchy of Needs and Assesment of Needs In Community Development" (PDF). International Journal of Development and Economic Sustainability. 5 (7): 15–27. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2023-05-21. Diakses tanggal 2022-03-18.
  15. Zhang, Jiaxi; Peng, Jiaxi; Gao, Pan; Huang, He; Cao, Yunfei; Zheng, Lulu; Miao, Danmin (2019-11-12). "Relationship between meaning in life and death anxiety in the elderly: self-esteem as a mediator". BMC Geriatrics. 19 (1): 308. doi:10.1186/s12877-019-1316-7. ISSN 1471-2318. PMC 6852934. PMID 31718561. Diarsipkan dari asli tanggal 2023-08-15. Diakses tanggal 2022-03-18. Pemeliharaan CS1: DOI bebas tanpa ditandai (link) Pemeliharaan CS1: Format PMC (link)
  16. B Gray-Little, dkk. (1965). "Rosenberg Self-Esteem Scale" (PDF). Princeton University Press (1–4). Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2023-06-09. Diakses tanggal 2022-03-17.
  17. "MacArthur SES & Health Network | Research". web.archive.org. 2010-07-11. Diarsipkan dari asli tanggal 2010-07-11. Diakses tanggal 2022-03-17.
  18. Slater, Lauren (2002-02-03). "The Trouble With Self-Esteem". The New York Times (dalam bahasa American English). ISSN 0362-4331. Diarsipkan dari asli tanggal 2012-11-27. Diakses tanggal 2022-03-17.
  19. Anthony G. Greenwald, dkk. (2000). "A UNIFIED THEORY OF IMPLICIT ATTITUDES, STEREOTYPES, SELF-ESTEEM, AND SELF-CONCEPT". University of Washington: 3. Diarsipkan dari asli tanggal 2022-09-13. Diakses tanggal 2022-03-17.
  20. Stieger, Stefan; Burger, Christoph (2013-03-01). "More Complex than Previously Thought: New Insights into The Optimal Administration of the Initial Preference Task". Self and Identity. 12 (2): Abstrak. doi:10.1080/15298868.2012.655897. ISSN 1529-8868. Diarsipkan dari asli tanggal 2023-08-15. Diakses tanggal 2022-03-17.
  21. Greenwald, A. G.; McGhee, D. E.; Schwartz, J. L. K. (1998). "Measuring individual differences in implicit cognition: The Implicit Association Test" (PDF). Journal of Personality and Social Psychology. 74 (6): 1464–1480. doi:10.1037//0022-3514.74.6.1464. PMID 9654756. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2023-05-24. Diakses tanggal 2022-03-18.
  22. Huajian Cai, Lili Wu (2021). "The self‐esteem implicit association test is valid: Evidence from brain activity". PsyCh Journal. 10 (5): 1–13. doi:10.1002/pchj.422. Diarsipkan dari asli tanggal 2022-05-17. Diakses tanggal 2022-03-18.
  23. Chavez, Robert S.; Heatherton, Todd F. (1 Mei 2014). "Multimodal frontostriatal connectivity underlies individual differences in self-esteem". Social Cognitive and Affective Neuroscience. 10 (3). Oxford University Press: 364–370. doi:10.1093/scan/nsu063. PMC 4350482. PMID 24795440.
  24. Marwati, Eka; Prihartanti, Nanik; Hertinjung, Wisnu Sri (2016-05-27). "Pelatihan Berpikir Optimis untuk Meningkatkan Harga Diri pada Remaja di Panti Asuhan". Indigenous: Jurnal Ilmiah Psikologi. 1 (1): 23–31. doi:10.23917/indigenous.v1i1.1790. ISSN 2541-450X. Diarsipkan dari asli tanggal 2022-09-13. Diakses tanggal 2022-03-14.
  25. Widianti, Efri (2021-01-31). "STUDI LITERATUR : FAKTOR â€" FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN HARGA DIRI RENDAH PADA REMAJA". Jurnal Keperawatan Komprehensif (Comprehensive Nursing Journal). 7 (1): 39–47. doi:10.33755/jkk.v7i1.194. ISSN 2598-8727. Diarsipkan dari asli tanggal 2022-09-13. Diakses tanggal 2022-03-14.
  26. Malik, Faradilla Umaira (2019-10-11). "Analisis Faktor Faktor yang Mempengaruhi Harga Diri Remaja di Fakultas Psikologi Universitas Medan Area". Universitas Medan Area. Diarsipkan dari asli tanggal 2022-09-13. Diakses tanggal 2022-03-15. ;
  27. Budiman, B., Juhaeriah, J., & Rahmawati, F. (2011, November). FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI HARGA DIRI REMAJA AKHIR (16-18 TAHUN) AKIBAT PERCERAIAN ORANG TUA DI SMA NEGERI 3 SUBANG. Diarsipkan 2023-08-15 di Wayback Machine. In Prosiding Industrial Research Workshop and National Seminar (Vol. 2, pp. 226-230).
  28. Atwater, M. (2004). Hubungan antara kualitas relasi ayah dengan harga diri remaja putra Diarsipkan 2022-09-13 di Wayback Machine.. Jurnal Psikologi Vol, 2(1), 22.
  29. Narullita, Dewi (2017-10-13). "FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI HARGA DIRI RENDAH PADA LANSIA DI KABUPATEN BUNGO PROPINSI JAMBI TAHUN 2016". Jurnal Endurance : Kajian Ilmiah Problema Kesehatan (dalam bahasa Inggris). 2 (3): 354–361. doi:10.22216/jen.v2i3.2037. ISSN 2477-6521. Diarsipkan dari asli tanggal 2022-09-13. Diakses tanggal 2022-03-15.
  30. Winch, Guy (2016-08-23). "5 ways to build lasting self-esteem". ideas.ted.com (dalam bahasa American English). Diarsipkan dari asli tanggal 2023-07-05. Diakses tanggal 2022-03-15.
  31. Daskal, Lolly (2017-01-09). "19 Simple Ways to Boost Your Self-Esteem Quickly". Inc.com (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari asli tanggal 2023-05-17. Diakses tanggal 2022-03-15.
  32. Smith, Kathleen (2021-01-22). "How to Build Self-Esteem: 5 Tactics to Change How You See Yourself". psycom. Diarsipkan dari asli tanggal 2023-05-25. Diakses tanggal 2022-03-15.
  33. Abrams, Alllson (2017-03-27). "8 Steps to Improving Your Self-Esteem | Psychology Today". www.psychologytoday.com (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari asli tanggal 2023-08-15. Diakses tanggal 2022-03-15.
  34. Indonesia, Badan Pusat Statistik. "Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin, 2025 - Tabel Statistik". www.bps.go.id. Diakses tanggal 2025-10-10.
  35. KOMDIGI, PDSI. "Kementerian Komunikasi dan Digital". www.komdigi.go.id. Diakses tanggal 2025-10-10.
  36. "Adolescent health". www.who.int (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-10-10.
  37. 1 2 Dewi, Cici Guspa; Ibrahim, Yulidar (2019-07-15). "Hubungan Self-Esteem (Harga Diri) dengan Perilaku Narsisme Pengguna Media Sosial Instagram pada Siswa SMA". Jurnal Neo Konseling. 1 (2). doi:10.24036/0099kons2019. ISSN 2657-0564.
  38. Chukwuere, Goodness Chinazor Joshua; Chukwuere, Joshua Ebere (2023). "The Difficulties Posed by Digital Technology: Understanding the Psychological Consequences of Social Media Use on Young Adults' Body Image and Self-Esteem". Academic Journal of Interdisciplinary Studies (dalam bahasa Inggris). 12.
  39. Dinata, Rahayu Intan; Pratama, Mario (2022-06-05). "Hubungan antara Social Comparison dengan Body Image Dewasa awal Pengguna Media Sosial Tiktok". Ranah Research : Journal of Multidisciplinary Research and Development (dalam bahasa Inggris). 4 (3): 217–224. doi:10.38035/rrj.v4i3.477. ISSN 2655-0865.
  40. Ni Ketut Elsa Parmata Swari, David Hizkia Tobing (2024-04-30). "Dampak Perbandingan Sosial Pada Pengguna Media Sosial: Sebuah Kajian Literatur". doi:10.5281/zenodo.11194800.
  41. "Social Media and Self-Doubt". Child Mind Institute (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-10-10.
  42. 1 2 Andrade, Fernanda C.; Erwin, Savannah; Burnell, Kaitlyn; Jackson, Jalisa; Storch, Marley; Nicholas, Julia; Zucker, Nancy (2023-04-28). "Intervening on Social Comparisons on Social Media: Electronic Daily Diary Pilot Study". JMIR Mental Health (dalam bahasa Inggris). 10 (1): e42024. doi:10.2196/42024. PMC 10182465. PMID 37115607. Pemeliharaan CS1: DOI bebas tanpa ditandai (link)
  43. NEFF, KRISTIN D. (2003-07-01). "The Development and Validation of a Scale to Measure Self-Compassion". Self and Identity. 2 (3): 223–250. doi:10.1080/15298860309027. ISSN 1529-8868.
  44. Riihimäki, K.; Vuorilehto, M.; Jylhä, P.; Isometsä, E. (2016). "Response style and severity and chronicity of depressive disorders in primary health care". European Psychiatry (dalam bahasa Inggris). 33 (1): 1–8. doi:10.1016/j.eurpsy.2015.12.002. ISSN 0924-9338.
  45. Care : Jurnal Ilmiah Ilmu Kesehatan. 10 (1). 2022-03-28. doi:10.33366/jc.v10i1. ISSN 2527-8487 https://doi.org/10.33366/jc.v10i1.
  46. Khairunnisa, Afifah (2024-11-06). "5 Solusi Atasi Low Self-Esteem Akibat Kecanduan Media Sosial". IDN Times. Diakses tanggal 2025-10-10.
  47. Fatikasari, Hany; Diel, M. Martono; Farida, Ida (2023-11-14). "The Relationship of Emotional Intelligence and Self Esteem with Self-Efficacy in College Students". JURNAL VNUS (Vocational Nursing Sciences) (dalam bahasa Inggris). 5 (2): 53–60. doi:10.52221/jvnus.v5i2.399. ISSN 2656-8799.
  48. Monis, Vinita Rosa; George, Linu Sara; Saikia, Monalisa (2024-12-01). "Social intelligence, empathy, and self-esteem among undergraduate nursing students: a correlational study". Frontiers of Nursing (dalam bahasa Inggris). 11 (4): 405–414. doi:10.2478/fon-2024-0045. ISSN 2544-8994.