Daging kepiting

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Daging kepiting dari cingkong kepiting di atas roti bakar.
Kepiting cokelat

Daging kepiting adalah daging yang diambil dari dalam cangkang kepiting. Daging kepiting digunakan dalam berbagai hidangan dan masakan di seluruh dunia, dan dihargai karena cita rasanya yang halus, gurih dan agak manis. Hidangan berbahan daging kepiting misalnya sup kepiting dan kepiting saus tiram. Kepiting cokelat (Cancer pagurus), kepiting biru (Callinectes sapidus), rajungan biru (Portunus pelagicus), rajungan merah (Portunus haanii) adalah jenis kepiting yang populer dijadikan sumber daging kepiting. Selain diperoleh secara segar, daging kepiting yang sudah dilepaskan dari cangkangnya umumnya dikemas melalui proses pengalengan.

Di beberapa usaha perikanan, daging kepiting dipanen dengan cara pemutusan capit kepiting. Metode ini dilakukan dengan cara mencabut satu atau kedua capit kepiting hidup, lalu melepaskan mereka kembali ke perairan alam (laut). Cara ini dilakukan dengan dasar pertimbangan bahwa kepiting dapat menumbuhkan kembali tungkai atau capit yang putus; setelah melalui berkali-kali proses berganti kulit selama kira-kira satu tahun.[1] Karena itulah cara pemutusan capit kepiting hidup dianggap cara memanen hasil boga laut yang berkelanjutan dan ramah lingkungan, meskipun cara ini memiliki tingkat kematian mencapai 47%,[2] dan dampak negatif pada perilaku mencari makan kepiting.[3]

Lihat juga[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Stone crabs FAQs". Florida Fish and Wildlife Conservation Commission. Diakses tanggal 23 September 2012. 
  2. ^ Gary E. Davis, Douglas S. Baughman, James D. Chapman, Donald MacArthur & Alan C. Pierce (1978). Mortality associated with declawing stone crabs, Menippe mercenaria (PDF). US National Park Service. Report T-522. 
  3. ^ Lynsey Patterson, Jaimie T. A. Dick & Robert W. Elwood (2009). "Claw removal and feeding ability in the edible crab, Cancer pagurus: implications for fishery practice". Applied Animal Behaviour Science 116 (2): 302–305. doi:10.1016/j.applanim.2008.08.007. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]