Daftar raja di Jawa

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Daftar raja Jawa)
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Berikut ini adalah daftar raja kerajaan-kerajaan di Jawa, Indonesia:

Kalingga[sunting | sunting sumber]

Medang (Mataram Kuno)[sunting | sunting sumber]

Pada umumnya para sejarawan menyebut ada tiga dinasti yang pernah berkuasa di Kerajaan Medang, yaitu Wangsa Sanjaya (yang beragama Hindu Siwa) dan Wangsa Sailendra (yang beragama Buddha) pada periode Jawa Tengah, serta Wangsa Isyana pada periode Jawa Timur.

Wangsa Sanjaya[sunting | sunting sumber]

Medang i Bhumi Mataram (sekarang Yogyakarta) istilah dari Wangsa Sanjaya yang berkuasa di Kerajaan Medang periode Jawa Tengah

  • Sanjaya (Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya) (717—746), Mendirikan Medang sebagai pewaris takhta Prabu Bratasenawa (Raja ketiga di Kerajaan Galuh) yang dikudeta oleh Purbasora
  • Rakai Panangkaran (Sri Maharaja Rakai Panangkaran Dyah Pancapana) (770-an)
  • Rakai Panunggalan (780-an)
  • Rakai Warak (800-an)
  • Rakai Garung (828–847)
  • Rakai Pikatan (840an—856), suami Pramodawardhani, awal kebangkitan Wangsa Sanjaya
  • Rakai Kayuwangi (Sri Maharaja Rakai Kayuwangi Dyah Lokapala) (856—880an).
  • Rakai Watuhumalang (890-an)
  • Rakai Watukura (Dyah Balitung) (899—911)
  • Mpu Daksa (Daksottama) (913—919), memperkenalkan pemakaian Sanjayawarsa atau Kalender Sanjaya. Menurut analisis para sejarawan, tahun 1 Sanjaya bertepatan dengan tahun 717 Masehi dan besar kemungkinan itu adalah tahun di mana Sanjaya (Rakai Mataram) berhasil mendapatkan kembali takhta warisan Prabu Bratasenawa.
  • Rakai Layang (Dyah Tulodhong) (919—924)
  • Rakai Sumba (Dyah Wawa) (924—929)

Wangsa Sailendra[sunting | sunting sumber]

Masa peralihan kepemerintahan Sriwijaya (periode Jawa Tengah) setelah berhasil dikuasai Wangsa Sailendra. Daftar ini merupakan daftar penguasa Medang oleh Wangsa Sailendra sebagai Mataram Buddha. Raja-raja Medang (era Sailendra) merupakan raja yang pernah berkuasa di Bhumi Mataram bukan keseluruhan anggota wangsa Sailendra, karena wangsa Sailendra sendiri merupakan leluhur dari wangsa Sanjaya.

Wangsa Isyana[sunting | sunting sumber]

Medang i Tamwlang / Medang i Watugaluh (sekarang Jombang) istilah dari Wangsa Isyana yang berkuasa di Kerajaan Medang periode Jawa Timur

  • Mpu Sindok (Rakai Hino) (929—947), memindahkan ibu kota Medang yang hancur akibat letusan Gunung Merapi dari Bhumi Mataram menuju Tamwlang. Beberapa tahun kemudian ibu kota dipindahkan lagi ke Watugaluh.
(Kedua istana baru itu terletak di daerah Jombang sekarang)

Kahuripan[sunting | sunting sumber]

  • Airlangga (1019-1045), mendirikan kerajaan di reruntuhan Medang
(Airlangga kemudian memecah Kerajaan Kahuripan menjadi dua: Janggala dan Kadiri)

Janggala[sunting | sunting sumber]

(tidak diketahui silsilah raja-raja Janggala hingga tahun 1116)

Kadiri[sunting | sunting sumber]

Singasari[sunting | sunting sumber]

Wangsa Rajasa[sunting | sunting sumber]

Majapahit[sunting | sunting sumber]

Lambang Suya Majapahit

Wangsa Rajasa[sunting | sunting sumber]

Kasultanan Demak[sunting | sunting sumber]

Kasultanan Kalinyamat[sunting | sunting sumber]

Kasultanan Pajang[sunting | sunting sumber]

Kasultanan Mataram[sunting | sunting sumber]

Daftar ini merupakan daftar penguasa Mataram Baru atau juga disebut sebagai Mataram Islam. Raja-raja Mataram Islam merupakan keturunan dari Ki Ageng Pamanahan, pendiri Wangsa Mataram. Catatan: sebagian nama penguasa di bawah ini dieja menurut ejaan bahasa Jawa.

Kasunanan Kartasura[sunting | sunting sumber]

Amangkurat atau Hamangkurat atau Hamengkurat atau lengkapnya Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Prabu Sri Sunan Amangkurat Senapati ing Alaga Abdurrahman Sayiddin Panatagama Kaping- (sesuai urutan) adalah gelar bagi raja Kasunanan Kartasura sebagai penerus Kesultanan Mataram.

  1. Amangkurat II (16801702), pendiri Kartasura.
  2. Amangkurat III (17021705), dibuang VOC ke Srilangka.
  3. Pakubuwana I (17051719), pernah memerangi dua raja sebelumya; juga dikenal dengan nama Pangeran Puger.
  4. Amangkurat IV (17191726), leluhur raja-raja Surakarta dan Yogyakarta.
  5. Pakubuwana II (17261742), menyingkir ke Ponorogo karena Kartasura diserbu pemberontak; sebelum akhirnya mendirikan Surakarta.
  6. Amangkurat V (Sunan Kuning), penguasa terakhir di Kasunanan Kartasura sebelum akhirnya direbut kembali oleh Pakubuwana II, namun tak lama kemudian Amangkurat V pun tersingkir. Pakubuwana II kemudian pindah ke keraton yang baru, yakni Surakarta.

Kasunanan Surakarta[sunting | sunting sumber]

Lambang Pakubuwana

Pakubuwana atau lengkapnya Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Prabu Sri Pakubuwana Senapati Ing Ngalaga Ngabdurahman Sayiddin Panatama adalah gelar bagi raja Kasunanan Surakarta sebagai penerus Kerajaan Mataram Islam di Surakarta.

Yang bertahta saat ini adalah Susuhunan Pakubuwana XIII.

Daftar sunan Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

  1. Pakubuwana II (17451749); pendiri kota Surakarta, memindahkan keraton Kartasura ke Surakarta pada tahun 1745
  2. Pakubuwana III (17491788); mengakui kedaulatan Hamengkubuwana I sebagai penguasa setengah wilayah kerajaannya
  3. Pakubuwana IV (17881820)
  4. Pakubuwana V (18201823)
  5. Pakubuwana VI (18231830); diangkat sebagai pahlawan nasional Indonesia
  6. Pakubuwana VII (18301858)
  7. Pakubuwana VIII (18581861)
  8. Pakubuwana IX (18611893)
  9. Pakubuwana X (18931939); diangkat sebagai pahlawan nasional Indonesia
  10. Pakubuwana XI (19391945)
  11. Pakubuwana XII (19452004)
  12. Pakubuwana XIII (2004–sekarang)
Mahapatih
  1. Tejowulan (2012–sekarang)

Kasultanan Yogyakarta[sunting | sunting sumber]

Lambang Hamengkubuwana

Hamengkubuwana atau Hamengkubuwono atau Hamengku Buwono atau lengkapnya Ngarso Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kangjeng Sultan Hamengku Buwono Senopati Ing-Ngalogo Ngabdurahman Sayiddin Panotogomo Khalifatullah adalah gelar bagi raja Kesultanan Yogyakarta sebagai penerus Kerajaan Mataram Islam di Yogyakarta. Wangsa Hamengkubuwana tercatat sebagai wangsa yang gigih memperjuangkan kemerdekaan pada masa masing-masing, antara lain Hamengkubuwana I atau nama mudanya Pangeran Mangkubumi, kemudian penerusnya yang salah satunya adalah ayah dari Pahlawan Nasional Pangeran Diponegoro, yaitu Hamengkubuwana III. Sri Sultan Hamengkubuwana IX pernah menjabat sebagai wakil presiden Indonesia yang kedua.

Yang bertahta saat ini adalah Sri Sultan Hamengkubuwana X.

Daftar sultan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.

1. Sri Sultan Hamengkubuwana I 13 Februari 1755 24 Maret 1792  
2. Sri Sultan Hamengkubuwana II 2 April 1792 akhir 1810 periode pertama
3. Sri Sultan Hamengkubuwana III akhir 1810 akhir 1811 periode pertama  
Sri Sultan Hamengkubuwana II akhir 1811 20 Juni 1812 periode kedua
Sri Sultan Hamengkubuwana III 29 Juni 1812 3 November 1814 periode kedua  
4. Sri Sultan Hamengkubuwana IV 9 November 1814 6 Desember 1823  
5. Sri Sultan Hamengkubuwana V 19 Desember 1823 17 Agustus 1826 periode pertama
Sri Sultan Hamengkubuwana II 17 Agustus 1826 2 Januari 1828 periode ketiga
Sri Sultan Hamengkubuwana V 17 Januari 1828 5 Juni 1855 periode kedua
6. Sri Sultan Hamengkubuwana VI 5 Juli 1855 20 Juli 1877  
7. Sri Sultan Hamengkubuwana VII 22 Desember 1877 29 Januari 1921  
8. Sri Sultan Hamengkubuwana VIII 8 Februari 1921 22 Oktober 1939  
9. Sri Sultan Hamengkubuwana IX 18 Maret 1940 1 Oktober 1988
10. Sri Sultan Hamengkubuwono X 7 Maret 1989 Sekarang

Kadipaten Mangkunagaran di Surakarta[sunting | sunting sumber]

Lambang Mangkunegara
  1. Mangkunagara I (Raden Mas Said) (1757–1795)
  2. Mangkunagara II (1796–1835)
  3. Mangkunagara III (1835–1853)
  4. Mangkunagara IV (1853–1881)
  5. Mangkunagara V (1881–1896)
  6. Mangkunagara VI (1896–1916)
  7. Mangkunagara VII (1916–1944)
  8. Mangkunagara VIII (1944–1987)
  9. Mangkunagara IX (1987–sekarang)

Kadipaten Paku Alaman di Yogyakarta[sunting | sunting sumber]

Lambang Pakualaman
  1. Paku Alam I (1813–1829)
  2. Paku Alam II (1829–1858)
  3. Paku Alam III (1858–1864)
  4. Paku Alam IV (1864–1878)
  5. Paku Alam V (1878–1900)
  6. Paku Alam VI (1901–1902)
  7. Paku Alam VII (1903–1938)
  8. Paku Alam VIII (1938–1998)
  9. Paku Alam IX (1998–2015)
  10. Paku Alam X (2016–sekarang)

Lihat pula[sunting | sunting sumber]