Sejarah pemikiran evolusi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Bagian dari seri Biologi mengenai
Evolusi
Primate skull series.png
Pengenalan
Mekanisme dan Proses

Adaptasi
Hanyutan genetika
Aliran gen
Mutasi
Seleksi alam
Spesiasi

Riset dan sejarah

Bukti
Sejarah evolusi kehidupan
Sejarah
Sintesis modern
Efek sosial
Teori dan fakta
Keberatan / Kontroversi

Bidang

Kladistika
Genetika ekologi
Perkembangan evolusioner
Evolusi manusia
Evolusi molekuler
Filogenetika
Genetika populasi

Portal Biologi ·
Pohon kehidupan, seperti yang digambarkan oleh Ernst Haeckel pada buku The Evolution of Man (1879). Gambar tersebut mengilustrasikan pandangan abad ke-19 mengenai evolusi, yakni proses progresif yang akan berujung pada manusia.

Pemikiran mengenai evolusi, yakni bahwa spesies berubah dari waktu ke waktu, telah berakar sejak zaman kuno. Pemikiran tersebut dapat terlihat pada ilmu pengetahuan peradaban Yunani, Romawi, Cina, dan Islam. Namun, sampai dengan abad ke-18, pandangan biologis Barat masih didominasi oleh pandangan esensialisme, yaitu pandangan bahwa bentuk-bentuk kehidupan tidak berubah. Hal ini mulai berubah ketika pengaruh kosmologi evolusioner dan filosofi mekanis menyebar dari ilmu fisik ke sejarah alam. Para naturalis mulai berfokus pada keanekaragaman spesies, dan munculnya ilmu paleontologi dengan konsep kepunahannya lebih jauh membantah pandangan bahwa alam bersifat statis. Pada awal abad ke-19, Jean-Baptiste Lamarck mengajukan teorinya mengenai transmutasi spesies. Teori ini merupakan teori evolusi pertama yang ilmiah.

Pada tahun 1858, Charles Darwin dan Alfred Russel Wallace mempublikasikan sebuah teori evolusi yang baru. Dalam bukunya On the Origin of Species (1859), Darwin secara mendetail menjelaskan mekanisme evolusi. Berbeda dengan Lamarck, Darwin mengajukan konsep nenek moyang bersama dan percabangan pohon kehidupan yang didasari oleh seleksi alam.

Karya Darwin mengenai evolusi dengan segara diterima dengan cepat, namun mekanisme yang diajukannya (seleksi alam), belum diterima secara sepenuhnya sampai pada tahun 1940-an. Kebanyakan biologiawan berargumen bahwa faktor-faktor lainlah yang mendorong evolusi, misalnya pewarisan sifat-sifat yang didapatkan (neo-Lamarckisme), dorongan perubahan yang di bawa sejak lahir (ortogenesis), ataupun mutasi besar-besaran secara tiba-tiba (saltasi). Sintesis seleksi alam dengan genetika Mendel semasa 1920-an dan 1930-an memunculkan bidang disiplin ilmu genetika populasi. Semasa 1930-an dan 1940-an, populasi genetika berintegrasi dengan bidang-bidang ilmu biologi lainnya, memungkinkan penerapan teori evolusi dalam biologi secara luas.

Setelah munculnya biologi evolusioner, kajian terhadap mutasi dan variasi pada populasi alami, digabungkan dengan biogeografi dan sistematika, berhasil menghasilkan model evolusi yang canggih. Selain itu paleontologi dan perbandingan anatomi mengijinkan rekonstruksi sejarah kehidupan yang lebih mendetail. Setelah kebangkitan genetika molekuler pada tahun 1950-an, bidang evolusi molekuler yang berdasarkan pada kajian urutan protein, uji imunologis, RNA dan DNA berkembang. Pandangan evolusi yang berpusat pada gen muncul pada tahun 1960-an, diikuti oleh teori evolusi molekuler netral. Pada akhir abad ke-20, pengurutan DNA melahirkan filogenetika molekuler dan merombak pohon kehidupan ke dalam tiga sistem domain. Selain itu, ditemukan pula faktor-faktor tambahan seperti simbiogenesis dan transfer gen horizontal, yang membuat sejarah evolusi menjadi lebih kompleks.

Zaman kuno[sunting | sunting sumber]

Yunani[sunting | sunting sumber]

China[sunting | sunting sumber]

Romawi[sunting | sunting sumber]

Agustinus dari Hippo[sunting | sunting sumber]

Abad Pertengahan[sunting | sunting sumber]

Filosofi Islam dan perjuangan eksistensi[sunting | sunting sumber]

Filosofi Kristen dan rantai keberadaan[sunting | sunting sumber]

Thomas Aquinas pada penciptaan dan proses alam[sunting | sunting sumber]

Renaissance dan Abad Pencerahan[sunting | sunting sumber]

Awal abad ke-19[sunting | sunting sumber]

Paleontologi dan geologi[sunting | sunting sumber]

Transmutasi spesies[sunting | sunting sumber]

Antisipasi seleksi alam[sunting | sunting sumber]

Seleksi alam[sunting | sunting sumber]

1859–1930an: Darwin dan warisannya[sunting | sunting sumber]

Aplikasi kepada manusia[sunting | sunting sumber]

Alternatif dari seleksi alam[sunting | sunting sumber]

Mendelian genetik, biometrik, dan mutasi[sunting | sunting sumber]

1920an–1940an[sunting | sunting sumber]

Populasi genetik[sunting | sunting sumber]

Sistesis evolusi modern[sunting | sunting sumber]

1940s–1960an: Biologi molekular dan evolusi[sunting | sunting sumber]

Akhir abad ke-20[sunting | sunting sumber]

Teori gen egois[sunting | sunting sumber]

Sosiobiologi[sunting | sunting sumber]

Proses dan jalan evolusi[sunting | sunting sumber]

Mikrobiologi, transfer gen horisontal, dan endosimbiosis[sunting | sunting sumber]

Biologi pengembangan evolusi[sunting | sunting sumber]

Abad ke-21[sunting | sunting sumber]

Makroevolusi dan mikroevolusi[sunting | sunting sumber]

Warisan epigenetik[sunting | sunting sumber]

Teori evolusi tak konvensional[sunting | sunting sumber]

Poin Omega[sunting | sunting sumber]

Hipotesis Gaia[sunting | sunting sumber]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]