Kabupaten Lumajang

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Kabupaten Lumajang
Lumajang.jpg
Lambang Kabupaten Lumajang
Moto: Amreta Brata Wira Bhakti


Locator kabupaten lumajang.png
Peta lokasi Kabupaten Lumajang
Koordinat: 112°53' - 113°23' Bujur Timur dan 7°54' - 8°23' Lintang Selatan
Provinsi Jawa Timur
Dasar hukum Keputusan Bupati Kepala Derah Tingkat II Lumajang Nomor 414 Tahun 1990 tanggal 20 Oktober 1990
Tanggal 20 Oktober 1990
Ibu kota Lumajang
Pemerintahan
 - Bupati Dr. H. Sjahrazad Masdar, MA
 - DAU Rp. 828.524.528.000.-(2013)[1]
Luas 1.790,90 km2
Populasi
 - Total 1,006,458 jiwa (2010)[2]
 - Kepadatan 0 jiwa/km2
Demografi
 - Kode area telepon 0334
Pembagian administratif
 - Kecamatan 21
 - Kelurahan 204
 - Situs web www.lumajang.go.id
Alun-alun Lumajang (1880-1920)

Kabupaten Lumajang, adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Ibukotanya adalah Lumajang. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Probolinggo di utara, Kabupaten Jember di timur, Samudra Hindia di selatan, serta Kabupaten Malang di barat.

Sejarah pemerintahan[sunting | sunting sumber]

Nama Lumajang berasal dari nama tempat "Lamajang" yang diketahui dari penelusuran sejarah, data prasasti, naskah-naskah kuno, bukti-bukti petilasan dan hasil kajian pada beberapa seminar dalam rangka menetapkan hari jadinya. Beberapa sumber itu antara lain:

  1. Prasasti Mula Malurung
  2. Naskah Negarakertagama
  3. Kitab Pararaton
  4. Kidung Harsawijaya
  5. Kitab Bujangga Manik
  6. Serat Babad Tanah Jawi
  7. Serat Kandha

Prasasti Mula Malurung adalah prasasti tertua yang menyebut keberadaan "Nagara Lamajang", karenanya dianggap sebagai titik tolak hari jadi Lumajang. Prasasti yang ditemukan pada tahun 1975 di Kediri dan berangka tahun 1177 Saka ini diterbitkan oleh Raja Kertanegara dari Singasari untuk memperingati anugerah Raja Seminingrat kepada Pranaraja berupa dua desa perdikan, Mula dan Malurung. Prasasti ini terdiri dari 12 lempengan tembaga, dan lempengan VII halaman A memuat nama-nama putera-puteri dan kerabat Raja Seminingrat yang diangkat menjadi raja-raja bawahan. Salah satunya, disebutkan bahwa Nararya Kirana yang telah dianggap seolah-olah putera sang Prabu, dijadikan raja di Lumajang.[3] Menurut prasasti tersebut penetapan itu terjadi pada tahun 1177 Saka, yang sesuai dengan tanggal 14 Dulkaidah 1165 tahun Jawa atau tanggal 15 Desember 1255 Masehi.

Mengingat cukup meyakinkan bahwa pada 1255 M itu "Negara Lamajang" sudah merupakan sebuah negara yang berpenduduk, mempunyai wilayah, mempunyai raja (pemimpin) dan pemerintahan yang teratur, maka ditetapkanlah tanggal 15 Desember 1255 M sebagai hari jadi Lumajang yang dituangkan dalam Keputusan Bupati Kepala Daerah Tingkat II Lumajang Nomor 414 Tahun 1990 tanggal 20 Oktober 1990.

Dalam sejarahnya, wilayah ini sangat berhubungan dengan tokoh sejarah bernama Aria Wiraraja. Kitab Pararaton dan Harsawijaya mengisahkan bahwa tokoh yang ketika muda bernama Banyak Wide ini pada mulanya mengabdi di Singasari, namun oleh Raja Kertanegara kemudian dibuang secara halus dari ibukota Singasari dan dijadikan bupati di Sumenep, Madura timur. Aria Wiraraja kemudian berkesempatan memberikan bantuan dan perlindungan kepada Raden Wijaya ketika ia dan rombongannya melarikan diri ke Sumenep akibat kalah perang dengan Jayakatwang. Selanjutnya Pararaton dan Kidung Harsawijaya menceritakan bahwa Wiraraja diberi hadiah wilayah bagian timur Jawa Timur yang diberi nama "Lamajang Tigang Juru", ketika Raden Wijaya berhasil memenangkan perang dan menjadi raja pertama di kerajaan Majapahit. Akan tetapi wilayah itu baru dikuasai dan diperintahnya setelah kematian puteranya, Ranggalawe, yang memberontak kepada Majapahit (1295).[4]

Wilayah Lumajang kembali disebut-sebut dalam Kitab Negarakertagama ketika Raja Hayam Wuruk melakukan perjalanan keliling wilayah timur Majapahit pada tahun 1359 M; ketika itu wilayah ini sudah dikuasai kembali oleh Majapahit.[5]

Pada masa penjajahan Belanda, di tahun 1882 wilayah Lumajang berstatus Distrik (setingkat kecamatan) yang dipimpin oleh seorang Wedana. Kemudian pada tahun 1886 statusnya dinaikkan menjadi Afdeeling (setingkat kabupaten), kepala pemerintahannya adalah seorang Patih Afdeeling. Tahun 1929 sistem pemerintahan di Lumajang dinaikkan lagi statusnya menjadi Kabupaten, dengan kepala pemerintahannya seorang Bupati.

Kepala-kepala wilayah yang pernah dan sedang memimpin Lumajang antara lain:

I. Jaman Pemerintahan Wedana

1. Raden Mas Singowigoeno, Wedana Distrik Loemadjang (1882 - 1886)

II. Jaman Pemerintahan Patih Afdeeling

2. Raden Panji Atmo Kusumo, Patih Afdeeling Loemadjang (1886 - 1890)
3. Raden Mas Singowigoeno, Patih Zelfstandig Afdeeling Loemadjang (1890 -1920)
4. R.T. Kertodirejo, Patih Afdeeling Loemadjang (1921- 1928)

III. Jaman Pemerintahan Bupati

5. R.T. Kertodirejo (1928- 1941)
6. R. Abu Bakar (1941 - 1948)
7. R. Sastrodikoro (1948 - 1959)
8. R. Sukardjono (1959 - 1966)
9. R.Ng. Subowo (1966 - 1973)
10. Suwandi (1973 - 1983)
11. Karsid (1983 - 1988)
12. H.M. Samsi Ridwan (1988 - 1993)
13. Tarmin Hariyadi (1993 - 1998)
14. Drs. Achmad Fauzi (1998 - 2008)
15. Dr. H. Sjahrazad Masdar, MA (2008 - 2013)

Pembagian administrasi[sunting | sunting sumber]

Desa di daerah Dampar (1934)
Kali Mayong dekat Dampar (1934)

Kabupaten Lumajang terdiri atas 21 kecamatan, yang dibagi lagi atas 197 desa dan 7 kelurahan. Pusat pemerintahan berada di Kecamatan Lumajang. Kecamatan-kecamatan itu ialah:

  1. Candipuro
  2. Gucialit
  3. Jatiroto
  4. Kedungjajang
  5. Klakah
  6. Kunir
  7. Lumajang
  8. Padang
  9. Pasirian
  10. Pasrujambe
  11. Pronojiwo
  12. Randuagung
  13. Ranuyoso
  14. Rowokangkung
  15. Sukodono
  16. Sumbersuko
  17. Senduro
  18. Tekung
  19. Tempeh
  20. Tempursari
  21. Yosowilangun

Keadaan fisik[sunting | sunting sumber]

Geografi[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Lumajang terletak pada 112°53' - 113°23' Bujur Timur dan 7°54' - 8°23' Lintang Selatan. Luas wilayah keseluruhan Kabupaten Lumajang adalah 1790,90 km2. Kabupaten Lumajang terdiri dari dataran yang subur karena diapit oleh tiga gunung berapi yaitu:

Adapun batas-batas wilayah Kabupaten Lumajang adalah sebagai berikut:

Relief[sunting | sunting sumber]

Lumajang merupakan salah satu kabupaten yang terletak di kawasan tapal kuda Provinsi Jawa Timur. Di bagian barat, yakni di perbatasan dengan Kabupaten Malang dan Kabupaten Probolinggo, terdapat rangkaian Pegunungan Bromo-Tengger-Semeru, dengan puncaknya Gunung Semeru (3.676 m) dan Gunung Bromo (2.392 m). Gunung Semeru adalah gunung tertinggi di Pulau Jawa.

Bagian timur laut merupakan ujung barat Pegunungan Iyang. Sedangkan bagian selatan merupakan daerah datar, dengan sedikit wilayah berbukit hingga bergunung di sebelah barat.

Ketinggian daerah Kabupaten Lumajang bervariasi dari 0-3.676 m dpl., dengan daerah yang terluas adalah pada ketinggian 100-500 m dari permukaan laut, yakni seluas 63.405,50 Ha (35,40 % wilayah); dan yang tersempit adalah pada ketinggian 0-25 m dpl yaitu seluas 19.722,45 Ha atau 11,01 % dari luas keseluruhan Kabupaten.

Vulkanologi[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Lumajang dikelilingi tiga gunung berapi yaitu Gunung Semeru, Gunung Bromo dan Gunung Lamongan. Dari ketiga gunung berapi yang masih aktif tersebut, Gunung Semeru mendapat prioritas pemantauan lebih dibanding yang lainnya karena seringnya terjadi aktivitas gunung berapi yang membahayakan masyarakat sekitarnya.

Iklim[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Lumajang beriklim tropis. Berdasarkan klasifikasi curah hujan Schmidt dan Ferguson sebagian wilayah termasuk tipe C, yang bersifat agak basah, dan sebagian lainnya bertipe D. Bulan-bulan kering, dengan jumlah curah hujan kurang dari 100 mm perbulan, terjadi pada bulan-bulan Juli, Agustus dan September, sementara bulan-bulan lainnya adalah bulan basah. Jumlah curah hujan tahunan berkisar antara 1.500-2.500 mm.

Temperatur sebagian besar wilayah 24 °C - 32 °C, sedangkan di kawasan pegunungan dapat mencapai 5 °C, terutama di daerah lereng Gunung Semeru.

Hidrologi[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Lumajang mempunyai 31 sungai dan 6 air terjun. Selain itu juga terdapat danau (ranu) yakni Ranu Pakis, Ranu Klakah dan Ranu Bedali di Kecamatan Klakah serta Ranu Pane dan Ranu Kumbolo di Kecamatan Senduro.

Sungai-sungai yang cukup besar dengan daerah aliran di wilayah Lumajang dan sekitarnya antara lain Kali Besuk Sat, Kali Bondoyudo, Kali Asem, Kali Mujur, Kali Pancing dan Kali Rejali yang kesemuanya berakhir di Pantai Laut Selatan.

Transportasi[sunting | sunting sumber]

Di Kabupaten Lumajang terdapat jalan raya antar provinsi dan jalur kereta api lintas Surabaya-Jember-Banyuwangi, namun kedua jalur transportasi utama tersebut tidak melalui ibukota Kabupaten Lumajang. Jalan Nasional Rute 25 berujung di Wonorejo, sekitar 6 km di utara pusat kota Lumajang, menghubungkan Jalan Nasional Rute 1 (lebih dikenal sebagai Jalur Pantura) di Probolinggo dengan Jalan Nasional Rute 3 yang melintasi Kota Lumajang dan berbelok ke timur di Wonorejo menuju Jember, Banyuwangi, dan berakhir di Ketapang, lokasi penyeberangan feri ke Bali. Jalan raya no 25 yang bersambung dengan Jalan raya no 3 itu dilintasi bus-bus AKAP (antar kota dan antar provinsi), terutama rute Surabaya - Jember dan Surabaya - Banyuwangi via Jember. Bus-bus penumpang yang lebih kecil menghubungkan Kota Lumajang dengan Jember via Kencong, dan Lumajang - Malang via Dampit.

Jalur kereta api melintasi beberapa ibukota kecamatan antara lain Ranuyoso, Klakah, Randuagung dan Jatiroto. Klakah merupakan kecamatan terdekat untuk akses kereta api dari kota Lumajang. Sebenarnya ada pula jalur kereta api yang melewati kota Lumajang sampai ke Pasirian dan dari Lumajang juga bercabang ke arah timur ke Rambipuji melewati Kencong, namun jalur peninggalan masa kolonial Belanda ini sudah tidak aktif lagi semenjak tahun 1988.

Selain transportasi umum di atas, masyarakat Lumajang mengenal transportasi rakyat yakni becak dan dokar (kereta kuda) untuk pengangkutan orang, serta pegon (kereta sapi) untuk pengangkutan barang dan hasil bumi. Keberadaannya perlahan tergeser dan tergantikan dengan mesin-mesin transportasi modern dan sekarang ini digunakan secara terbatas pada lokasi dan momen tertentu.

Penduduk[sunting | sunting sumber]

Penduduk Kabupaten Lumajang umumnya adalah Suku Jawa dan Suku Madura, dan agama mayoritas adalah Islam. Di Pegunungan Tengger Kecamatan Senduro (terutama di daerah Ranupane, Argosari, dan sekitarnya), terdapat masyarakat Tengger yang memiliki bahasa khas dan beragama Hindu.

Di Senduro terdapat sebuah pura yang dikenal dengan nama Pura Mandara Giri Semeru Agung (MGSA), yang digunakan untuk ibadat baik di hari biasa maupun hari besar umat Hindu. Pada hari biasa, pura tersebut juga dijadikan sebagai tempat wisata.

Pendidikan[sunting | sunting sumber]

Terdapat sejumlah sarana pendidikan dari tingkat TK hingga perguruan tinggi di Kabupaten Lumajang, baik yang dikelola pemerintah maupun swasta.

SMP[sunting | sunting sumber]

  1. SMP Negeri 1 Lumajang
  2. SMP Negeri 2 Lumajang
  3. SMP Negeri 3 Lumajang
  4. SMP Negeri 4 Lumajang
  5. SMP Negeri 5 Lumajang
  6. SMP Negeri 1 Jatiroto
  7. SMP Negeri 2 Jatiroto
  8. SMP Negeri 1 Klakah
  9. SMP Negeri 2 Klakah
  10. SMP Negeri 1 Senduro
  11. SMP Negeri 1 Sukodono, Lumajang
  12. SMP Negeri 1 Pasirian
  13. SMP Negeri 2 Pasirian
  14. SMP Negeri 3 Pasirian
  15. SMP Negeri 1 Rowokangkung
  16. SMP Negeri 2 Rowokangkung
  17. SMP Negeri 1 Tempeh
  18. SMP Negeri 1 Yosowilangun
  19. SMP Negeri 2 Yosowilangun
  20. SMP Negeri 3 Yosowilangun
  21. MTs Negeri Lumajang
  22. SMP Al-Ikhlash Lumajang
  23. SMP Islam (SMI) Lumajang
  24. SMP Katolik Bhara Widya
  25. SMP Muhammadiyah 1 Lumajang
  26. SMP Muhammadiyah 2 Jatiroto

SMA[sunting | sunting sumber]

  1. SMA Negeri 1 Lumajang
  2. SMA Negeri 2 Lumajang
  3. SMA Negeri 3 Lumajang
  4. SMA Negeri Candipuro
  5. SMA Negeri Jatiroto
  6. SMA Negeri Klakah
  7. SMA Negeri Senduro
  8. SMA Negeri Pasirian
  9. SMA Negeri Yosowilangun
  10. SMA Negeri Tempeh
  11. SMA Katolik Mgr. Soegijapranata
  12. SMK Negeri 1 Lumajang
  13. SMK Negeri 2 Lumajang
  14. SMK Negeri Gucialit
  15. SMK Negeri Klakah
  16. SMK Negeri Pasirian
  17. SMK Negeri Tekung (d/h SPP-SPMA Daerah Lumajang)
  18. SMK Negeri Tempeh
  19. SMK Negeri Tempursari
  20. SMK Pembangunan Candipuro
  21. SMK PGRI Lumajang
  22. SMK Muhammadiyah Jatiroto

Perguruan tinggi[sunting | sunting sumber]

  1. Universitas Lumajang (UNILU)
  2. Sekolah Tinggi Agama Islam Bustanul Ulum (STAIBU)
  3. Sekolah Tinggi Agama Islam Syarifuddin (STAIS)
  4. Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Widya Gama
  5. Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIH)
  6. Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP)
  7. Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Muhammadiyah Lumajang
  8. Akademi Keperawatan Lumajang (AKPER Lumajang)
  9. Akademi Keperawatan Kosgoro Kota Mojokerto (cabang Lumajang)
  10. Universitas Bhakti Indonesia Banyuwangi (UBI cabang Lumajang)

Pondok Pesantren[sunting | sunting sumber]

  1. Pondok Pesantren Kiai Syarifudin Wonorejo
  2. Pondok Pesantren Mangunsari Tekung
  3. Pondok Pesantren Mansyaul Huda Tukum Tekong
  4. Pondok Pesantren Miftahul Ulum Banyuputih Jatiroto



Olahraga[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Lumajang memiliki beberapa sarana olahraga baik indoor maupun outdoor. Selain itu, di Kabupaten Lumajang juga terdapat beberapa serikat olahraga.

Fasilitas Olahraga[sunting | sunting sumber]

Serikat Olahraga[sunting | sunting sumber]

  • PSIL Lumajang (sepak bola)
  • Gita Wira Bhakti (GWB) Korp Drumband Pemda Kab. Lumajang
  • Lumajang Jeep Club
  • Mahameru Jeep Club Cabang Lumajang

Pariwisata[sunting | sunting sumber]

Lumajang memiliki cukup banyak lokasi wisata pantai di Laut Selatan (Samudera Hindia) seperti Pantai Bambang, Watu Pecak, Watu Godeg dan Watu Gedeg. Di samping itu, di lereng-lereng timur Semeru terdapat beberapa lokasi wisata lokal seperti Piket Nol, yang menjadi puncak tertinggi di lintas perbukitan selatan, Goa Tetes, dan Gladak Perak di lintas selatan Lumajang-Malang. Di daerah Sumber Mujur juga terdapat kawasan hutan bambu di sekitar mata air Sumber Deling yang merupakan tempat pelestarian aneka jenis tanaman bambu, yang sekaligus menjadi habibat bagi kawanan kera dan ribuan kelelawar (kalong). Di Pasrujambe terdapat sebuah tempat wisata mata air suci dan Pura Watu Klosot yang menjadi tujuan wisata bagi peziarah Hindu dari Bali.

Media massa[sunting | sunting sumber]

  • Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) di 21 Kecamatan (media online)
  • Lumajang Satu (media online)
  • kabarlumajang.net (media online)
  • lumajangcyber.web.id (media online)
  • pedomannusantara.com
  • Gloria FM
  • Semeru FM
  • Suara Lumajang FM
  • Sentra FM
  • Radio Komunitas Wiraraja FM


Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Perpres No. 10 Tahun 2013". 2013-02-04. Diakses 2013-02-15. 
  2. ^ "Badan Pusat Statistik". Diakses 2011-11-02. 
  3. ^ Muljana, S. 2006. Tafsir Sejarah Nagara Kretagama: 87. Yogyakarta: LKiS.
  4. ^ Muljana, S. 2005. Menuju Puncak Kemegahan: Sejarah Kerajaan Majapahit. Yogyakarta: LKiS.
  5. ^ Muljana, S. 2006. op.cit.: 1-10.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]