Irwan Prayitno

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Prof. Dr. H.
Irwan Prayitno
SPsi, MSc
Gubernur Sumatera Barat ke-12
Petahana
Mulai menjabat
15 Agustus 2010
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
Didahului oleh Marlis Rahman
Anggota DPR-RI 1999–2004
Masa jabatan
1999 – 2004
Presiden Abdurrahman Wahid
Megawati Soekarnoputri
Anggota DPR-RI 2004–2009
Masa jabatan
2004 – 2009
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
Anggota DPR-RI 2009–2014
Masa jabatan
2009 – 2010
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
Digantikan oleh Hermanto (PAW)
Informasi pribadi
Lahir 20 Desember 1963 (umur 50)
Bendera Indonesia Yogyakarta, Indonesia
Partai politik Contoh Logo Baru PKS.jpg Partai Keadilan Sejahtera
Suami/istri Hj. Nevi Zuairina
Anak Jundy Fadhlillah
Wafiatul Ahdi
Dhiya'u Syahidah
Anwar Jundy
Atika
Ibrahim
Shohwatul Ishlah
Farhana Irwan
Laili Tanzila
Taqiya Mafaza
Alma mater Universitas Indonesia
Universitas Putra Malaysia
Agama Islam
Situs web irwan-prayitno.com

Prof. Dr. H. Irwan Prayitno, SPsi, MSc (lahir di Yogyakarta, Indonesia, 20 Desember 1963; umur 50 tahun) adalah politisi, mubalig, dan akademisi pendidikan Indonesia yang saat ini menjabat sebagai Gubernur Sumatera Barat. Ia memenangi pemilihan umum Gubernur Sumatera Barat kedua pada 30 Juni 2010.

Lahir di Yogyakarta, Irwan menjalani pendidikan menengahnya di Padang mengikuti orangtuanya yang menjadi dosen. Saat menempuh pendidikan psikologi di Universitas Indonesia, Irwan membagi waktu untuk menyelesaikan tugas perkuliahan, aktivitas dakwah, dan pekerjaan di luar kampus. Tamat dari UI pada 1988, Irwan memotori pendirian Yayasan Pendidikan Adzkia di Padang. Selama menetap di Padang sampai tahun 1995, ia bekerja sebagai konsultan paruh waktu di sejumlah perusahan pemerintah dan dosen psikologi industri Universitas Andalas.[1] Tahun berikutnya sampai tahun 2000, ia menempuh pendidikan sampai S-3 di Universitas Putra Malaysia.

Saat menjalani kuliah di Malaysia, Irwan membentuk jaringan Partai Keadilan (kini Partai Keadilan Sejahtera) dan ditunjuk sebagai Ketua Perwakilan PK di Malaysia. Dalam pemilihan umum legislatif Indonesia 1999, Irwan terpilih sebagai anggota DPR-RI dari derah pemilihan Sumatera Barat dan kembali terpilih untuk dua periode berikutnya. Namun, ia mengundurkan diri ketika mencalonkan diri sebagai gubernur dalam pemilihan umum Gubernur Sumatera Barat 2010.

Kehidupan awal[sunting | sunting sumber]

Irwan Prayitno lahir pada 20 Desember 1963 di Yogyakarta. Ia adalah kakak bagi tiga adiknya.[2] Ayahnya, Djamrul Djamal adalah kelahiran Simabur, Tanah Datar dan ibunya, Sudarni Sayuti lahir di Kuranji, Padang. Mereka sama-sama lulusan PTAIN Yogyakarta dan dosen di IAIN Imam Bonjol, Padang. Sebelum tinggal di Padang, keluarga ini sempat menetap di Semarang sampai Irwan berusia tiga tahun, dan pindah ke Cirebon saat Irwan memasuki usia sekolah dasar.[3] Hal yang sulit dilakukan ketika menetap di Padang adalah mengubah aksen Jawa menjadi logat Padang saat berbicara.

Irwan menjalani pendidikan menengah di Padang dan mulai berkecimpung di organisasi sejak SMA. Ia bergabung dengan OSIS dan menjalani dua kali kepengurusan pada tahun kedua dan ketiga di SMA Negeri 3 Padang. Selama di SMA, ia selalu dipercayakan sebagai ketua kelas dan meraih juara pertama di kelasnya.[4] Irwan sempat berkeinginan melanjutkan kuliah ke ITB bersama dengan teman-temannya. Namun, karena memunyai masalah mata, ia mengalihkan pilihan ke Universitas Indonesia.

Setelah tamat pada 1982, ia mendaftar ke Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Selama kuliah, selain menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan kemahasiswaan, ia banyak menghabiskan waktu di luar kampus untuk berdakwah, mengajar di beberapa SMA swasta, dan menjadi konselor di bimbingan belajar Nurul Fikri.[1] Ini mengakibatkan kuliahnya tidak lancar. Namun dirinya berprinsip, bahwa yang ia cari dalam pendidikan bukanlah nilai, tetapi adalah pengembangan diri.[5]

Aktivis[sunting | sunting sumber]

Saat mulai masuk perguruan tinggi, ia aktif dalam diskusi-diskusi dakwah dan perhimpunan mahasiswa. Ia pernah bergabung dengan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Jakarta. Selama keterlibatannya dengan HMI, ia merasakan gaya represif pemerintahan Soeharto terhadap pergerakan Islam. Pada 1984, ia naik sebagai Ketua HMI Komisariat Fakultas Psikologi UI. Namun, seiring intervensi pemerintah yang memaksakan penerapan Pancasila sebagai azas tunggal, HMI mengganti asasnya dengan Pancasila pada tahun 1986 dan bersamaan dengan itu Irwan keluar dari keanggotaan HMI.[6] Ia mengikuti pergerakan Islam dalam skala yang lebih kecil, beralih ke masjid di kampus-kampus lewat kelompok-kelompok tarbiah yang lebih berorientasi pada pembinaan aqidah dan akhlaq. Aktivitas tarbiah berpusat di masjid-masjid kampus seperti Masjid Arif Rahman Hakim, UI; Masjid Salman, ITB; dan Masjid Al-Ghifari, IPB.

Bersama teman-temannya, Irwan bolak-balik mengikuti kegiatan halaqah atau lingkaran dakwah di Masjid Salaman. Pola latihan dimulai dengan pembentukan kelompok kecil dengan bimbingan seorang mentor sebagai penyampai tentang ajaran Islam. Pola ini diperkenalkan oleh sejumlah ustad dan pelajar Indonesia lulusan Timur Tengah, merujuk pada gerakan Ikhwanul Muslimin. Setelah dua kali pertemuan Forum Silaturahmi Lembaga Dakwah Kampus, ia terlibat dalam sosialisasi petunjuk perjuangan LDK atau khittah, berkeliling ke kota-kota di Sumatera Barat. Ia berkenalan dan mendapati mubalig muda seperti Mahyeldi Ansharullah, Marfendi, dan Rafdinal yang kelak terlibat dalam kepengurusan Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Pada tahun 1985, dalam usia 22 tahun, Irwan menikah dengan Nevi Zuairina, mahasiswi UI yang ditemuinya saat menjalani kuliah semester tiga.[5] Bersama istrinya, Irwan menunaikan dakwah dan aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan. Ia mengakhiri kuliahnya setelah enam tahun dengan IPK rendah 2,02 karena harus membagi waktunya untuk mencari nafkah.[7] Setamat kuliah, aktivitas dakwah mereka berlanjut dengan mengembangkan kegiatan dakwah di kampus Universitas Andalas dan IKIP Padang (sekarang Universitas Negeri Padang).

Adzkia[sunting | sunting sumber]

Karena IPK rendah, Irwan sulit melamar pekerjaan di Jakarta. Ia memutuskan pulang ke Padang untuk berdakwah dan melanjutkan mengajar kursus. Sebelum mengakhiri kuliahnya, ia telah berpikir bagaimana merintis yayasan yang bergerak di bidang pendidikan. Bermula dari kursus bimbingan belajar, Irwan merintis kursus bimbingan belajar Adzkia di Lolong pada 1987. Selain dirinya, pendiri Adzkia adalah sekaligus guru di antaranya Syukri Arief dan Mahyeldi Ansharullah.

Dengan uang yang terkumpul, mereka mencetak satu rim brosur. Irwan mengaku, tahun-tahun pertama penghasilan yang mereka peroleh hanya cukup untuk menutupi biaya kontrakan tempat kursus dan biaya operasional.[8] Pada 1988, kelas kursus berpindah ke Komplek PGAI, Jati bersamaan dengan pendirian Yayasan Pendidikan Adzkia oleh Irwan.[9] Ilmu psikologi yang ditimbanya di bangku kuliah ia terapkan dalam pembinaan anak didik.[10] Secara bertahap sejak 1994, Adzkia membuka perguruan tinggi, selain taman kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah menengah, dan sekolah kejuruan.

Pada tahun 1995, Irwan melanjutkan kuliah di Malaysia.[11] Ia mengambil kuliah S-2 bidang pengembangan SDM di Universitas Putra Malaysia (UPM), Selangor. Oleh seorang teman di Selangor, ia dipertemukan dengan Pembantu Rektor UPM Prof. Hasyim Hamzah. Ia menyatakan kesanggupannya menyelesaikan studi dalam tiga semester.[12] Tamat satu setengah tahun lebih awal dari waktu normal tiga tahun pada 1996, ia melanjutkan kuliah S-3 di kampus yang sama. Gelar PhD diraihnya pada tahun 2000 dengan IPK cumlaude 3,97.[13]

Sehari-hari di Selangor, ia harus bekerja keras mengurus keluarga. Saat itu, ia telah memiliki lima anak. [11] Dengan istri, ia berbagi tugas karena tak ada pembantu. Irwan mengaku, di antara kegiatannya, dirinya hanya mengalokasikan sekitar 10 sampal 20 persen untuk kuliah. Kegiatan dakwahnya tetap berlanjut. Bahkan, ia menunaikan dakwah sampai ke London, Inggris dan harus mengerjakan tugas-tugas perkuliahan dalam perjalanan di dalam mobil, pesawat, atau kereta api.[14]

Sejak tahun 2003, ia mengajar program pasca-sarjana di Universitas Muhammadiyah Jakarta dan dikukuhkan sebagai guru besar pada 1 September 2008.[15] Meskipun sejak 2010 ia menjadi Gubernur Sumatera Barat, ia masih menyempatkan mengajar 12 kali dalam satu semester.[16]

PKS dan karier politik[sunting | sunting sumber]

Melalui persinggungannya dengan kelompok tarbiah, Irwan Prayitno terlibat aktif dalam pergerakan mahasiswa mengkritisi kebijakan Orde Baru. Seiring dengan deklarasi Partai Keadilan pada 20 Juli 1998, Irwan ditunjuk sebagai Ketua Perwakilan PK di Malaysia.[6] Sejak awal berdirinya hingga beganti nama Partai Keadilan Sejahtera, Irwan diamanahkan sebagai salah satu pengurus di tingkat pusat menangani kebijakan publik.[6]

Dalam pemilihan umum legislatif 1999, Irwan terpilih sebagai anggota legislatif Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dari daerah pemilihan Sumatera Barat.[17] Ia diangkat sebagai Ketua Komisi VIII DPR yang di antaranya membidangi masalah energi dan sumber daya mineral.[18] Salah satu masalah yang menjadi sorotan Irwan adalah solusi menambal kebocoran APBN. AM Fatwa menyebut Irwan satu-satunya Ketua Komisi di DPR yang tak tergantikan selama lima tahun.

Pada pemilihan umum legislatif April 2004, ia diusung partai yang telah berganti nama PKS sebagai calon anggota legislatif DPR. Daerah pemilihan yang sama Sumatera Barat mengirimkan dua wakil ke DPR dari PKS, dirinya dan Refrizal. Mereka terpilih kembali dalam pemilihan umum 2009.[19] Ia menjabat sebagai Ketua Komisi X pada periode keduanya di DPR.[20] Jusuf Kalla menuturkan, Susilo Bambang Yudhoyono sempat mengharapkan Irwan turut memperkuat kabinet setelah pemilihan umum Presiden Indonesia 2004, tetapi ia lebih memilih berkonsentrasi di DPR.[21]

Irwan mengundurkan diri setelah maju sebagai Gubernur Sumatera Barat dan Sidi Hermanto naik sebagai PAW-nya.

Gubernur Sumatera Barat[sunting | sunting sumber]

Irwan Prayitno, foto saat dirinya menjabat sebagai Gubernur Sumatera Barat. Irwan adalah salah satu gubernur Indonesia termuda saat dilantik dalam usia 46 tahun

Irwan Prayitno pernah maju sebagai calon Gubernur Sumatera Barat pada pemilihan umum Gubernur Sumatera Barat 2005. Berpasangan dengan Ikasuma Hamid, mereka memperoleh 25,11% suara. Gamawan Fauzi unggul atas empat kandidat lainnya, Irwan Prayitno di urutan kedua dan Jeffrie Geovanie di urutan ketiga.[22]

Meski memperoleh suara di bawah gubernur terpilih Gamawan Fauzi, Irwan semula tidak berencana maju kembali dalam pemilihan umum Gubernur Sumatera Barat berikutnya.[23] Ia mendadak dimintai DPP PKS untuk maju, dua hari sebelum hari terakhir pendaftaran.[24] Irwan mengaku sempat marah karena sebelumnya PKS telah menyiapkan kadernya yang Wakil Ketua DPRD Sumatera Barat Trinda Farhan Satria. Setelah beberapa kali penolakan, DPW PKS Sumatera Barat datang meminta langsung pada Irwan ke Jakarta. "Tetap saya tolak, karena partai waktu itu hanya memerintahkan saya menjadi Dubes. Saya pindah ke Komisi I DPR waktu itu untuk persiapan Dubes," aku Irwan sebagaimana rilis berita KlikSumbar.[23]

Sebelumnya, PKS berencana mengusung Trinda Farhan Satria sebagai pendamping Fauzi Bahar. Namun, menjelang hari terakhir pendaftaran, Fauzi Bahar menggandeng Yohanes Dahlan. Ia akhirnya menyatakan maju sebagai calon Gubernur Sumatera Barat setelah DPP PKS meminta kesediaannya dicalonkan kembali. Irwan segera mendapatkan dukungan dari Partai Bintang Reformasi dan Partai Hanura.[25]

Tiba di Padang pada sore hari terakhir pendaftaran, 8 April 2010, Irwan bersama Muslim Kasim mendaftarkan diri ke kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sumatera Barat pada pukul 23.10 WIB.[25]

Gaya kepemimpinan[sunting | sunting sumber]

Gubernuran di Jalan Sudirman, Padang, rumah dinas yang ditempati Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno.

Irwan dikenal sebagai sosok pemimpin yang sederhana dan minim protokoler.[26] Ia meminta siapapun untuk tidak memaksa dirinya berubah sesuai ketentuan protokoler.[27] Ketimbang menggunakan anggaran yang tersedia, Irwan mengoptimalkan penggunaan fasilitas yang telah ada. Ia menolak masukan untuk membeli mobil dinas baru dan masih menempati rumah dinas lama.[28] Ketika disodori alasan menutup malu kepada menteri atau pejabat negara lainnya yang datang berkunjung, Irwan lebih memilih menggunakan mobil pribadinya untuk dijadikan mobil pelat merah.[27] Saat rekonstruksi kantor pemerintahan yang rusak akibat gempa bumi 30 September 2009, sempat dianggarkan pembangunan kantor baru untuk gubernur. Namun, Irwan mengalihkan penggunaannya untuk tiga SKPD yang kantornya rusak, memilih tetap menempati rumah dinas lama di Jalan Sudirman.[28]

Dalam melakukan perjalan ke luar provinsi, Irwan tak pernah memilih maskapai penerbangan.[28] Ia selalu memilih dan merasa nyaman duduk di kelas ekonomi.[27] Penyair Taufiq Ismail, yang pernah mendapati Irwan satu pesawat di kelas ekonomi, menilainya sebagai hal istimewa dan sebuah keteladanan.[29] Terkait penampilannya yang sederhana, tanpa atribut dan minim protokoler, Irwan mengatakan ia tak ingin ada pembatas antara dirinya dan masyarakat.[27]

Yongki Salmeno yang dekat dengan Irwan Prayitno, menuliskan pengalamannya bersama Irwan. Ia mendapati karakter Irwan yang ingin serba cepat dan tepat waktu. Setiap melakukan kunjungan ke daerah, rombongan gubernur nyaris melaju dengan kecepatan tinggi. Yongki menemukan sejumlah SKPD berusaha mengelak ikut iring-iringan kendaraan gubernur karena tak siap nyali. Irwan berprinsip, lebih baik ia datang duluan daripada terlambat. Dalam kota, ia menolak menggunakan mobil pengawalan, kecuali dalam keadaan mendesak. "Seringkali pemilik acara masih menunggu-nunggu kedatangan gubernur dengan menyimak raungan sirene mobil pengawalan. Ternyata sirine itu tak pernah terdengar, gubernur sudah datang tepat waktu tanpa pengawalan dan malah sudah duduk bersama mereka," tulis Yongki. Atribut gubernur yang biasa dipasang di dada kiri oleh gubernur atau pejabat pada umumnya nyaris tak pernah dipakainya.[28]

Masjid Raya Sumatera Barat, diresmikan pemakaiannya pada 7 Februari 2014.

Irwan tetap menunaikan dakwah selama menjabat sebagai gubernur. Dua kali sebulan setiap Jumat pagi, ia mengisi wirid mingguan yang diikuti jajaran pegawai Pemrov Sumatera Barat. Kegiatan wirid dipusatkan di Masjid Raya Sumatera Barat sejak awal tahun 2012, meskipun saat itu penggunaan masijd belum diresmikan. Selama 10 hari terakhir bulan Ramadan, Irwan memusatkan ikhtikaf di kediamannya yang diikuti keluarga besar dan sejumlah pegawai Gubernuran.

Irwan memanfaatkan sisa waktunya untuk keluarga dan olahraga. Irwan adalah penyuka olahraga badminton,[2] karate, dan trabas. Waktu senggangnya kadang ia manfaatkan untuk bermain musik. Ia mengaku bisa bernyanyi sejak tahun 2012. "Karena sebagai gubernur sering ditodong untuk menyanyi, akhirnya saya belajar menyanyi."[16] Pada Ramadhan 2013, ia menciptakan lagu berjudul "Kau Istriku" dan mengunggahnya melalui akun resmi di YouTube.[30] "Saya melihat di Gubernuran banyak alat musik peninggalan gubernur sebelumnya, akhirnya saya manfaatkan untuk coba latihan. Padahal, sebelumnya saya belum pernah belajar not balok, tangga nada dan sebagainya," katanya mengungkapkan awal ketertarikannya bermain musik. Irwan telah mendaftarkan dua lagu ciptaanya, satu lagi berjudul "Kepada-Mu", ke Kanwil Kementrian Hukum dan HAM Sumatera Barat.[30][31]

Semasa SMA, ia suka bergadang dan kebut-kebutan dengan motor vespa dan motor trail. Orangtuanya pernah mendapati Irwan mengikuti rally mobil, walaupun telah melarang.[4] Namun, karena rasa keingintahuan, ia justru sering mencuri-curi kesempatan ikut balapan dengan teman sebayanya.[32] Kini, ia memanfaatkan keahliannya mengendarai motor trail untuk mencapai lokasi-lokasi terpencil saat melakukan kunjungan kerja ke daerah.

Kontroversi[sunting | sunting sumber]

Sumatera Barat meraih opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari BPK untuk kedua kali dalam penyerahan laporan hasil pemeriksaan terhadap Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) Sumatera Barat 2013

Irwan adalah Gubernur Sumatera Barat pertama yang besar melalui partai politik. Kalangan rumah bagonjong sempat mengkhawatirkan perubahan gaya kepemimpinan karena daftar gubernur sebelumnya naik lewat jalur birokrat dan profesional. Isu yang berhembus dan diangkat oleh media lokal, tak lama setelah pelantikannya pada 15 Agustus 2010, adalah mutasi besar-besaran. [33] Namun, mutasi terbesar baru terjadi pada 3 Januari 2012 yang melibatkan pergantian dan pelantikan terhadap 22 pejabat eselon II.[34] Sebelumnya, Irwan hanya melakukan pengukuhan pejabat mengisi posisi yang kosong. [33]

Pada awal November 2010, Irwan selaku Gubernur Sumatera Barat memenuhi undangan KBRI di Berlin untuk tampil sebagai pembicara memaparkan potensi investasi Indonesia dalam forum peringatan hubungan bilateral kedua negara.[35] Pada saat yang sama, masa tanggap darurat tsunami Mentawai masih berlangsung. Tsunami menerjang Kepulauan Mentawai menyusul gempa bumi yang berpusat di lepas pantai Sumatera Barat pada 25 Oktober 2010. Media nasional segera mengangkat opini terkait keberangkatan Irwan. Situs berita Kompas menurunkan judul "Warganya Kelaparan, Gubernur ke Jerman".[36] Tempo mengutip pendapat pengamat politik Burhanuddin Muhtadi yang mengatakan Gubernur Sumatera Barat sudah mati rasa.[37] Anggota DPR Budiman Sudjatmiko ikut berkomentar, tidak pas seorang kepala daerah meninggalkan daerahnya yang sedang dilanda bencana.[38]

Sebelum keberangkatannya, Irwan bolak-balik ke Mentawai memimpin penanggulangan bencana dan sempat bermalam tiga hari di pengungsian. Dalam lawatan satu setengah hari 4–5 November, Irwan menandatangani kesepakatan kerja sama dalam bidang investasi, khususnya di sektor pariwisata dan energi terbarukan dengan Pemerintah Bavaria.[39] Irwan kembali ke Mentawai hari yang sama setelah mendarat di Padang. Koran Tempo menurunkan berita "Setelah Dikecam, Irwan Prayitno ke Mentawai".[40] Anggota DPR lainnya Nudirman Munir menlai pemberitaan atas Irwan berlebihan.[41] "Pak Gubernur tiga malam di Mentawai tak disebut-sebut." Menanggapi kritik atas dirinya, Irwan meminta maaf, mengatakan bahwa rencana lawatannya ke Jerman sudah dipersiapkan jauh sebelum tsunami Mentawai.[42]

Karya[sunting | sunting sumber]

Sampai tahun 2013, Irwan telah merampungkan 34 judul buku dan sedikitnya 25 riset. Pada pengujung tahun, ia menerbitkan buku berjudul Inspirasi Untuk Negeri. 116 lebih artikelnya dipublikasikan di berbagai media massa. Memiiki rekam jejak sebagai aktivis dakwah dan latar pendidikan psikologi, karya-karyanya meliputi tema permasalahan anak dan keluarga, manajemen SDM, politik, dan dakwah.

  • Inspirasi Untuk Negeri (2013)
  • Pemikiran Menuju Masyarakat Madani (2005)
  • Pemuda Islam Generasi Penerus (2003)
  • Wanita Islam Perubah Bangsa (2003)
  • Kepribadian Muslim (2003)
  • Mengkritisi Kebijakan Pemerintah (2003)
  • Dai di Tengah Kegalauan Politik (2003)
  • Dilema Kebijakan Energi (2003)
  • Ajaklah Anak Bicara (2003)
  • Ketika Anak Marah (2002)
  • 24 Jam Bersama Anak (2002)
  • Kepribadian Dai (2002)
  • Hizbus Syaithan (2002)
  • Ma'rifatullaah (2002)

Rujukan[sunting | sunting sumber]

Catatan kaki
  1. ^ a b Dai 2003, hlm. 251.
  2. ^ a b Dai 2003, hlm. 188.
  3. ^ Dai 2003, hlm. 189.
  4. ^ a b Dai 2003, hlm. 222.
  5. ^ a b Dai 2003, hlm. 232.
  6. ^ a b c "Karier Politik Berawal dari Dakwah Kampus". Tokoh Indonesia. Diakses 14 September 2012. 
  7. ^ Dai 2003, hlm. 187.
  8. ^ Irwan Prayitno. "Adzkia dan Pendidikan Berkarakter". Harian Haluan. 16 Mei 2012. 
  9. ^ "Pendidikan Akhlak Mutlak Dikembangkan". Padang Ekspres. 5 Mei 2011. 
  10. ^ Dai 2003, hlm. 200.
  11. ^ a b Dai 2003, hlm. 255.
  12. ^ Dai 2003, hlm. 239.
  13. ^ "Irwan Prayitno, Gubernur Peraih Ph.D Dengan IPK Cumlaude 3,97". Islamedia.co. 17 Maret 2014.
  14. ^ Dai 2003, hlm. 240.
  15. ^ "UMJ: Kontribusi untuk Bangsa". Republika. 7 Maret 2012.
  16. ^ a b "Ciptakan Enam Lagu, Tahu Detail Aktivitas Anak". Padang Ekspres. 10 Februari 2014. Diarsipkan dari aslinya tanggal 11 Februari 2014. 
  17. ^ Dilema 2003, hlm. 140.
  18. ^ Shinta Shinaga. "Irwan Prayitno Merasa Difitnah'". Detik. 25 Februari 2005.
  19. ^ "Tradisi Perolehan Kursi DPR di Sumbar dalam Tiga Pemilu Terakhir". Ranahberita. 7 Mei 2013. Diakses 14 September 2012. 
  20. ^ "DR. H. Irwan Prayitno, Psi, MSc". Dewan Perwakilan Rakyat. Diakses 14 September 2012. 
  21. ^ "Kiprah Seorang Asli Putra Minang". Jakarta. 21 Februari 2005. Diarsipkan dari aslinya tanggal 5 April 2005. 
  22. ^ Yonda Sisko. "Gamawan Fauzi Raih 50,6% Suara'". Detik. 27 Juni 2005.
  23. ^ a b "Irwan Pernah Marah Dicalonkan Jadi Gubernur". KlikSumbar. 25 Juli 2011. 
  24. ^ Harismanto (9 April 2010). "Irwan Prayitno Mengaku Kaget Diusung PKS". Tribunnews. 
  25. ^ a b Febrianti (9 April 2010). "Irwan Prayitno Daftar Jadi Calon Gubernur 50 Menit sebelum Ditutup". Tempo. 
  26. ^ "Stres". Harian Haluan. 6 Februari 2014. Diarsipkan dari aslinya tanggal 6 Februari 2014. 
  27. ^ a b c d "Gubernur Duduk di Kelas Ekonomi, Biasa Saja...". KlikSumbar. 25 Juli 2011.
  28. ^ a b c d Situs web resmi Pemerintah Provinsi Sumatera Barat. "Tepat Waktu dan Sederhana". 24 Desember 2013.
  29. ^ "Taufik Ismail: Irwan Prayitno Sosok Gubernur Teladan". Islamedia.co. 14 Desember 2010.
  30. ^ a b "Kau Istriku, Lagu karya Gubernur Sumbar Sudah Bisa Dinikmati di Youtube". Harian Singgalang. 22 Agustus 2013. Diarsipkan dari aslinya tanggal 22 Agustus 2013. 
  31. ^ "Hak Cipta dan Nasib Pencipta". Harian Singgalang. 21 Agustus 2013.
  32. ^ Dai 2003, hlm. 223.
  33. ^ a b Fachrul Rasyid. "Mutasi akan Terus Bergulir". Harian Haluan. 21 November 2011.
  34. ^ Fachrul Rasyid. "Mutasi Bukan Harga Mati". Harian Haluan. 12 Januari 2012.
  35. ^ "Gubernur Sumbar ke Jerman untuk Promosi". Kompas. 3 November 2010.
  36. ^ Khaerudin. "Warganya Kelaparan, Gubernur ke Jerman". Kompas. 3 November 2010.
  37. ^ Riky Ferdianto. "Gubernur Sumatera Barat Dinilai Mati Rasar". Tempo. 4 November 2010.
  38. ^ "Budiman Usul DPR Panggil Gubernur Sumbar". VIVAnews. 4 November 2010.
  39. ^ "Mari Meyakinkan Investor ke Sumbar". Harian Haluan. 8 Maret 2011.
  40. ^ "Setelah Dikecam, Irwan Prayitno ke Mentawai". Tempo. 8 November 2010.
  41. ^ Andrian. "Memajukan Sumbar pun Terhalang Kepentingan Pusat". Detik. 5 Juli 2010.
  42. ^ Yonda Sisko. "Gubernur Sumbar Minta Kunjungan ke Amerika Tidak 'Diplintir'". Detik. 6 Juli 2011.
Sumber buku
  • Prayitno, Irwan (2003). Dai di Tengah Kegalauan Politik. Jakarta: Pustaka Tarbiatuna. ISBN 979-337-580-9. 
  • Prayitno, Irwan (2003). Dilema Kebijakan Energi. Jakarta: Pustaka Tarbiatuna. ISBN 979-337-580-9. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Jabatan politik
Didahului oleh:
Prof. Dr. H. Marlis Rahman, MSc
Gubernur Sumatera Barat
15 Agustus 2010–sekarang
Petahana