Irwan Prayitno

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Prof. Dr. H.
Irwan Prayitno
SPsi, MSc
Gubernur Sumatera Barat ke-12
Petahana
Mulai menjabat
15 Agustus 2010
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
Didahului oleh Marlis Rahman
Anggota DPR-RI 1999–2004
Masa jabatan
1999 – 2004
Presiden Abdurrahman Wahid
Megawati Soekarnoputri
Anggota DPR-RI 2004–2009
Masa jabatan
2004 – 2009
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
Anggota DPR-RI 2009–2014
Masa jabatan
2009 – 2010
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
Digantikan oleh Hermanto (PAW)
Informasi pribadi
Lahir 20 Desember 1963 (umur 50)
Bendera Indonesia Jogjakarta, Indonesia
Partai politik Contoh Logo Baru PKS.jpg Partai Keadilan Sejahtera
Suami/istri Hj. Nevi Zuairina
Anak Jundy Fadhlillah
Wafiatul Ahdi
Dhiya'u Syahidah
Anwar Jundy
Atika
Ibrahim
Shohwatul Ishlah
Farhana Irwan
Laili Tanzila
Alma mater Universitas Indonesia
Universitas Putra Malaysia
Agama Islam

Prof. Dr. H. Irwan Prayitno, SPsi, MSc (lahir di Yogyakarta, Indonesia, 20 Desember 1963; umur 50 tahun) adalah politisi, mubalig, dan akademisi pendidikan Indonesia yang saat ini menjabat sebagai Gubernur Sumatera Barat. Ia memenangi pemilihan umum Gubernur Sumatera Barat kedua pada 30 Juni 2010. Irwan adalah Gubernur Sumatera Barat termuda saat dilantik dalam usia 46 tahun.

Lahir di Yogyakarta, Irwan menjalani pendidikan menengahnya di Padang mengikuti orangtuanya. Saat menempuh pendidikan psikologi di Universitas Indonesia, Irwan membagi waktu untuk menyelesaikan tugas perkuliahan, aktivitas dakwah, dan pekerjaan di luar kampus. Tamat dari UI pada 1988, Irwan memotori pendirian Yayasan Pendidikan Adzkia di Padang. Selama menetap di Padang sampai tahun 1995, ia bekerja sebagai konsultan paruh waktu di sejumlah perusahan pemerintah dan dosen psikologi industri Universitas Andalas. Tahun berikutnya sampai tahun 2000, ia menempuh pendidikan sampai S-3 di Universitas Putra Malaysia.

Saat menjalani kuliah di Malaysia, Irwan membentuk jaringan Partai Keadilan (kini Partai Keadilan Sejahtera) dan ditunjuk sebagai Ketua Perwakilan PK di Malaysia. Dalam pemilihan umum legislatif Indonesia 1999, Irwan terpilih sebagai anggota DPR-RI dari derah pemilihan Sumatera Barat dan kembali terpilih untuk dua periode berikutnya. Namun, ia mengundurkan diri ketika mencalonkan diri sebagai gubernur dalam pemilihan umum Gubernur Sumatera Barat 2010.

Kehidupan awal[sunting | sunting sumber]

Irwan Prayitno lahir di Yogyakarta, 20 Desember 1963. Ayahnya, Djamrul Djamal adalah kelahiran Simabur, Tanah Datar dan ibunya, Sudarni Sayuti lahir di Kuranji, Padang. Mereka sama-sama lulusan PTAIN Yogyakarta dan dosen di IAIN Imam Bonjol, Padang. Sebelum tinggal di Padang, keluarga ini sempat menetap di Semarang saat Irwan berusia tiga tahun, dan pindah ke Cirebon saat Irwan memasuki usia sekolah dasar.

Ia telah berkecimpung di organisasi sejak SMA. Ia bergabung dengan OSIS dan menjalani dua kali kepengurusan pada tahun kedua dan ketiga di SMA Negeri 3 Padang. Setelah enam tahun menjalani pendidikan menengah di Padang, ia mendaftar ke Fakultas Psikologi Universitas Indonesia pada tahun 1982. Saat mulai masuk perguruan tinggi, ia aktif dalam diskusi-diskusi dakwah dan perhimpunan mahasiswa. Ia bergabung dengan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Jakarta. Dari keterlibatannya dengan HMI, ia merasakan gaya represif pemerintahan Soeharto terhadap pergerakan Islam yang memaksa penerapan Pancasila sebagai azas tunggal. Kendati amat mencintai HMI, ia memutuskan meninggalkan HMI yang telah mengganti asasnyapada 1986. Pergerakan Islam berjalan dalam skala yang lebih kecil, beralih ke masjid di kampus-kampus lewat kelompok-kelompok tarbiah yang lebih berorientasi pada pembinaan aqidah dan akhlaq. Di Kampus UI, aktivitas tarbiah berpusat di Masjid Arif Rahman Hakim.

Selama kuliah, selain menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan kemahasiswaan, ia banyak menghabiskan waktu di luar kampus untuk berdakwah, mengajar di beberapa SMA swasta, dan menjadi konselor di bimbingan belajar Nurul Fikri. Pada tahun 1985, dalam usia 22 tahun, Irwan menikah dengan Nevi Zuairina. Ia harus membagi waktu untuk kegiatannya sekaligus mencari nafkah. Ia mengakhiri kuliahnya setelah enam tahun dengan IPK rendah, 2,02.

Adzkia dan pendidikan lanjutan[sunting | sunting sumber]

Sebelum mengakhiri kuliahnya, Irwan bersama teman-temannya merintis kursus bimbingan belajar di Lolong, Padang. Mereka mulai membuka kelas pada 1987. Selain dirinya, beberapa pendiri adalah sekaligus guru di antaranya Syukri Arief dan Mahyeldi Ansharullah. Kursus yang mereka dirikan mereka beri nama Adzkia. Dengan uang yang terkumpul, mereka mencetak satu rim brosur. Irwan mengaku, tahun-tahun pertama penghasilan yang mereka peroleh hanya cukup untuk menutupi biaya kontrakan tempat kursus dan biaya operasional. Selang setahun, kelas kursus berpindah ke Komplek PGAI, Jati. Bersamaan dengan itu, Irwan mendirikan Yayasan Pendidikan Adzkia untuk menaungi bimbingan belajar, taman kanak-kanak, sekolah menengah, dan perguruan tinggi Adzkia yang dibuka secara bertahap sejak 1994. Ilmu psikologi yang ditimbanya di bangku kuliah ia terapkan dalam pembinaan anak didik. Yayasan Pendidikan Adzkia kini telah mengelola TK, SD, SMP, SMA/SMK, dan perguruan tinggi.

Pada tahun 1995, Irwan melanjutkan kuliah di Malaysia, membawa serta istri dan lima anaknya saat itu. Ia mengambil kuliah S-2 bidang pengembangan SDM di Universitas Putra Malaysia, Selangor. Meski punya catatan IPK rendah, UPM bersedia menerimanya dengan status percobaan satu semester. Ia malah menantang dan menemui Pembantu Rektor UPM Prof. Hasyim Hamzah menyatakan kesanggupannya menyelesaikan studi dalam tiga semester. Ia menyelesaikan kuliah pada tahun 1996, satu setengah tahun lebih awal dari waktu normal tiga tahun, dan melanjutkan kuliah S-3 di kampus yang sama. Gelar PhD diraihnya pada tahun 2000 dengan IPK cumlaude 3,97.

Sehari-hari di Selangor, ia harus bekerja keras mengurus keluarga. Dengan istri, ia berbagi tugas karena tak ada pembantu. Irwan mengaku, di antara kegiatannya, dirinya hanya mengalokasikan sekitar 10 sampal 20 persen untuk kuliah. Kegiatan dakwahnya tetap berlanjut. Bahkan, ia menuaikan dakwah sampai ke London, Inggris dan harus mengerjakan tugas-tugas perkuliahan dalam perjalanan di dalam mobil, pesawat, atau kereta api.

Sejak tahun 2003, ia mengajar program pasca-sarjana di Universitas Muhammadiyah Jakarta dan dikukuhkan sebagai guru besar pada 1 September 2008. Meskipun sejak 2010 ia menjadi Gubernur Sumatera Barat, ia masih menyempatkan mengajar 12 kali dalam satu semester.

PKS dan karier politik[sunting | sunting sumber]

Melalui persinggungannya dengan kelompok tarbiah, Irwan Prayitno terlibat aktif dalam pergerakan mahasiswa mengkritisi kebijakan Orde Baru. Seiring dengan deklarasi Partai Keadilan (PK) pada 20 Juli 1998, Irwan ditunjuk sebagai Ketua Perwakilan PK di Malaysia. Sejak awal berdirinya hingga beganti nama Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Irwan diamanahkan sebagai salah satu pengurus di tingkat pusat menangani kebijakan bublik.

Dalam pemilihan umum legislatif 1999, Irwan terpilih sebagai anggota legislatif Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dari daerah pemilihan Sumatera Barat. Ia diangkat sebagai Ketua Komisi VIII DPR yang di antaranya membidangi masalah energi dan sumber daya mineral sekaligus Wakil Ketua Fraksi Reformasi. AM Fatwa menyebut Irwan satu-satunya Ketua Komisi di DPR yang belum pernah diganti selama lima tahun.

Pada pemilihan umum legislatif April 2004, PK yang telah berganti nama mengusungnya lagi sebagai calon anggota legislatif DPR. Daerah pemilihan yang sama Sumatera Barat mengirimkan dua wakil ke DPR dari PKS, dirinya dan Refrizal. Mereka terpilih kembali dalam pemilihan umum berikutnya. Ia menjabat sebagai Ketua Komisi X yang mengurusi masalah pendidikan pada periode ketiganya di DPR. Jusuf Kalla menuturkan, setelah pemilihan umum Presiden Indonesia 2009, Susilo Bambang Yudhoyono sempat mengharapkan Irwan turut memperkuat kabinet, tetapi ia lebih memilih berkonsentrasi di DPR.

Irwan mengundurkan diri setelah maju sebagai Gubernur Sumatera Barat dan Sidi Hermanto naik sebagai PAW-nya.

Gubernur Sumatera Barat[sunting | sunting sumber]

Pada awal Maret 2005, PKS mengukuhkannya sebagai calon Gubernur Sumatera Barat berpasangan dengan Brigjen (Purn) H. Ikasuma Hamid dari Partai Bintang Reformasi (PBR). Namun, pasangan ini memporoleh suara di bawah gubernur terpilih Gamawan Fauzi.

Dalam pemilihan umum Gubernur Sumatera Barat berikutnya pada 2010, ia maju kembali menggandeng Muslim Kasim. Sebelumnya, PKS berencana mengusung kadernya Trinda Farhan Satri sebagai pendamping Fauzi Bahar. Namun, menjelang hari terakhir pendaftaran, Fauzi Bahar menggandeng calon wakil lain Yohanes Dahlan. Ia mendadak dimintai DPW PKS Sumatera Barat untuk maju sebagai calon melalui DPP PKS.

Referensi[sunting | sunting sumber]

Pranala Luar[sunting | sunting sumber]

Jabatan politik
Didahului oleh:
Marlis Rahman
Gubernur Provinsi Sumatera Barat
15 Agustus 2010–sekarang
Petahana