Irwan Prayitno

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Prof. Dr. H.
Irwan Prayitno
SPsi, MSc
Gubernur Sumatera Barat ke-12
Petahana
Mulai menjabat
15 Agustus 2010
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
Didahului oleh Marlis Rahman
Anggota DPR-RI 1999–2004
Masa jabatan
1999 – 2004
Presiden Abdurrahman Wahid
Megawati Soekarnoputri
Anggota DPR-RI 2004–2009
Masa jabatan
2004 – 2009
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
Anggota DPR-RI 2009–2014
Masa jabatan
2009 – 2010
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
Digantikan oleh Hermanto (PAW)
Informasi pribadi
Lahir 20 Desember 1963 (umur 50)
Bendera Indonesia Yogyakarta, Indonesia
Partai politik Contoh Logo Baru PKS.jpg Partai Keadilan Sejahtera
Suami/istri Hj. Nevi Zuairina
Anak Jundy Fadhlillah
Wafiatul Ahdi
Dhiya'u Syahidah
Anwar Jundy
Atika
Ibrahim
Shohwatul Ishlah
Farhana Irwan
Laili Tanzila
Taqiya Mafaza
Alma mater Universitas Indonesia
Universitas Putra Malaysia
Agama Islam
Situs web irwan-prayitno.com

Prof. Dr. H. Irwan Prayitno, SPsi, MSc (lahir di Yogyakarta, Indonesia, 20 Desember 1963; umur 50 tahun) adalah politisi, mubalig, dan akademisi pendidikan Indonesia yang saat ini menjabat sebagai Gubernur Sumatera Barat. Ia memenangi pemilihan umum Gubernur Sumatera Barat kedua pada 30 Juni 2010.

Lahir di Yogyakarta, Irwan menjalani pendidikan menengahnya di Padang mengikuti orangtuanya yang menjadi dosen. Saat menempuh pendidikan psikologi di Universitas Indonesia, Irwan membagi waktu untuk menyelesaikan tugas perkuliahan, aktivitas dakwah, dan pekerjaan di luar kampus. Tamat dari UI pada 1988, Irwan memotori pendirian Yayasan Pendidikan Adzkia di Padang. Selama menetap di Padang sampai tahun 1995, ia bekerja sebagai konsultan paruh waktu di sejumlah perusahan pemerintah dan dosen psikologi industri Universitas Andalas.[1] Tahun berikutnya sampai tahun 2000, ia menempuh pendidikan sampai S-3 di Universitas Putra Malaysia.

Saat menjalani kuliah di Malaysia, Irwan membentuk jaringan Partai Keadilan (kini Partai Keadilan Sejahtera) dan ditunjuk sebagai Ketua Perwakilan PK di Malaysia. Dalam pemilihan umum legislatif Indonesia 1999, Irwan terpilih sebagai anggota DPR-RI dari derah pemilihan Sumatera Barat dan kembali terpilih untuk dua periode berikutnya. Namun, ia mengundurkan diri ketika mencalonkan diri sebagai gubernur dalam pemilihan umum Gubernur Sumatera Barat 2010.

Kehidupan awal[sunting | sunting sumber]

Irwan Prayitno lahir pada 20 Desember 1963 di Yogyakarta. Ia adalah kakak bagi tiga adiknya.[2] Ayahnya, Djamrul Djamal adalah kelahiran Simabur, Tanah Datar dan ibunya, Sudarni Sayuti lahir di Kuranji, Padang. Mereka sama-sama lulusan PTAIN Yogyakarta dan dosen di IAIN Imam Bonjol, Padang. Sebelum tinggal di Padang, keluarga ini sempat menetap di Semarang sampai Irwan berusia tiga tahun, dan pindah ke Cirebon saat Irwan memasuki usia sekolah dasar.[3] Hal yang sulit dilakukan ketika menetap di Padang adalah mengubah aksen Jawa menjadi logat Padang saat berbicara.

Irwan menjalani pendidikan menengah di Padang dan mulai berkecimpung di organisasi sejak SMA. Ia bergabung dengan OSIS dan menjalani dua kali kepengurusan pada tahun kedua dan ketiga di SMA Negeri 3 Padang. Selama di SMA, ia selalu dipercayakan sebagai ketua kelas dan meraih juara pertama di kelasnya.[4] Irwan sempat berkeinginan melanjutkan kuliah ke ITB bersama dengan teman-temannya. Namun, karena memunyai masalah mata, ia mengalihkan pilihan ke Universitas Indonesia.

Setelah tamat pada 1982, ia mendaftar ke Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Selama kuliah, selain menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan kemahasiswaan, ia banyak menghabiskan waktu di luar kampus untuk berdakwah, mengajar di beberapa SMA swasta, dan menjadi konselor di bimbingan belajar Nurul Fikri.[1] Ini mengakibatkan kuliahnya tidak lancar. Namun dirinya berprinsip, bahwa yang ia cari dalam pendidikan bukanlah nilai, tetapi adalah pengembangan diri.[5]

Aktivis[sunting | sunting sumber]

Saat mulai masuk perguruan tinggi, ia aktif dalam diskusi-diskusi dakwah dan perhimpunan mahasiswa. Ia pernah bergabung dengan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Jakarta. Selama keterlibatannya dengan HMI, ia merasakan gaya represif pemerintahan Soeharto terhadap pergerakan Islam. Pada 1984, ia naik sebagai Ketua HMI Komisariat Fakultas Psikologi UI. Namun, seiring intervensi pemerintah yang memaksakan penerapan Pancasila sebagai azas tunggal, HMI mengganti asasnya dengan Pancasila pada tahun 1986 dan bersamaan dengan itu Irwan keluar dari keanggotaan HMI.[6] Ia mengikuti pergerakan Islam dalam skala yang lebih kecil, beralih ke masjid di kampus-kampus lewat kelompok-kelompok tarbiah yang lebih berorientasi pada pembinaan aqidah dan akhlaq.[7] Aktivitas tarbiah berpusat di masjid-masjid kampus seperti Masjid Arif Rahman Hakim, UI; Masjid Salman, ITB; dan Masjid Al-Ghifari, IPB.

Bersama teman-temannya, Irwan bolak-balik mengikuti kegiatan halaqah atau lingkaran dakwah di Masjid Salaman. Pola latihan dimulai dengan pembentukan kelompok kecil dengan bimbingan seorang mentor sebagai penyampai tentang ajaran Islam. Pola ini diperkenalkan oleh sejumlah ustad dan pelajar Indonesia lulusan Timur Tengah, merujuk pada gerakan Ikhwanul Muslimin. Setelah dua kali pertemuan Forum Silaturahmi Lembaga Dakwah Kampus, ia terlibat dalam sosialisasi petunjuk perjuangan LDK atau khittah, berkeliling ke kota-kota di Sumatera Barat. Ia berkenalan dan mendapati mubalig muda seperti Mahyeldi Ansharullah, Marfendi, dan Rafdinal yang kelak terlibat dalam kepengurusan Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Pada tahun 1985, dalam usia 22 tahun, Irwan menikah dengan Nevi Zuairina, mahasiswi UI yang ditemuinya saat menjalani kuliah semester tiga.[5] Bersama istrinya, Irwan menunaikan dakwah dan aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan. Ia mengakhiri kuliahnya setelah enam tahun dengan IPK rendah 2,02 karena harus membagi waktunya untuk mencari nafkah.[8] Setamat kuliah, aktivitas dakwah mereka berlanjut dengan mengembangkan kegiatan dakwah di kampus Universitas Andalas dan IKIP Padang (sekarang Universitas Negeri Padang).

Akademisi[sunting | sunting sumber]

Karena IPK rendah, Irwan sulit melamar pekerjaan di Jakarta. Ia memutuskan pulang ke Padang untuk berdakwah dan melanjutkan mengajar kursus. Sebelum mengakhiri kuliahnya, ia telah berpikir bagaimana merintis yayasan yang bergerak di bidang pendidikan. Bermula dari kursus bimbingan belajar, Irwan merintis kursus bimbingan belajar Adzkia di Lolong pada 1987. Selain dirinya, pendiri Adzkia adalah sekaligus guru di antaranya Syukri Arief dan Mahyeldi Ansharullah.

Dengan uang yang terkumpul, mereka mencetak satu rim brosur. Irwan mengaku, tahun-tahun pertama penghasilan yang mereka peroleh hanya cukup untuk menutupi biaya kontrakan tempat kursus dan biaya operasional.[9] Pada 1988, kelas kursus berpindah ke Komplek PGAI, Jati bersamaan dengan pendirian Yayasan Pendidikan Adzkia oleh Irwan.[10] Ilmu psikologi yang ditimbanya di bangku kuliah ia terapkan dalam pembinaan anak didik.[11] Secara bertahap sejak 1994, Adzkia membuka perguruan tinggi, selain taman kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah menengah, dan sekolah kejuruan.

Pada tahun 1995, Irwan melanjutkan kuliah di Malaysia.[12] Ia mengambil kuliah S-2 bidang pengembangan SDM di Universitas Putra Malaysia (UPM), Selangor. Dengan IPK pas-pasan, lamarannya sempat beberapa kali ditolak. Ia menyatakan kesanggupannya menyelesaikan studi dalam tiga semester kepada Pembantu Rektor UPM Prof. Hasyim Hamzah, setelah dipertemukan seorang teman di Selangor.[13] Tamat satu setengah tahun lebih awal dari waktu normal tiga tahun pada 1996, ia melanjutkan kuliah S-3 di kampus yang sama.[14]

Sehari-hari di Selangor, ia harus bekerja keras mengurus keluarga. Saat itu, ia telah memiliki lima anak. [12] Dengan istri, ia berbagi tugas karena tak ada pembantu. Irwan mengaku, di antara kegiatannya, dirinya hanya mengalokasikan sekitar 10 sampal 20 persen untuk kuliah. Kegiatan dakwahnya tetap berlanjut. Bahkan, ia menunaikan dakwah sampai ke London, Inggris dan harus mengerjakan tugas-tugas perkuliahan dalam perjalanan di dalam mobil, pesawat, atau kereta api.[15]

Saat dicalonkan oleh Partai Keadilan sebagai anggota legislatif DPR, Irwan tengah mempersiapkan ujian akhir S-3. Meski turun kampanye untuk daerah pemilihan Kabupaten Tanah Datar pada pemilihan umum legislatif Indonesia 1999, ia dapat merampungkan kuliahnya untuk gelar PhD dengan IPK cumlaude 3,97 pada tahun 2000.[16] Kembali ke Indonesia, ia berbagi tugas di legislatif dan kegiatannya di bidang akademisi. Sejak tahun 2003, ia mengajar program pasca-sarjana di Universitas Muhammadiyah Jakarta dan dikukuhkan sebagai guru besar pada 1 September 2008.[17] Sampai ia menjadi Gubernur Sumatera Barat sejak 2010, ia masih menyempatkan mengajar 12 kali dalam satu semester.[18]

Politik[sunting | sunting sumber]

Hatta Rajasa, berada satu fraksi dan satu komisi dengan Irwan saat pertama duduk di DPR

DPR[sunting | sunting sumber]

Melalui persinggungannya dengan kelompok tarbiah, Irwan Prayitno terlibat aktif dalam pergerakan mahasiswa mengkritisi kebijakan Orde Baru. Ketika pengukuhan pendirian Partai Keadilan pada 20 Juli 1998, Irwan ditunjuk sebagai Ketua Perwakilan PK di Malaysia. Hasil pemilihan umum legislatif Indonesia 1999 mengantar tujuh anggota Partai Keadilan ke DPR. Bersama PAN, PK bergabung membentuk Fraksi Reformasi dengan ketua Hatta Rajasa dan Irwan sebagai wakil. Hatta mengaku fraksi mereka adalah fraksi yang militan. Fraksi mengangkat nama Irwan sebagai Ketua Komisi VIII. Ia memimpin Komisi VIII yang di antaranya membidangi masalah energi dan sumber daya mineral. AM Fatwa menyebut Irwan satu-satunya ketua komisi di DPR yang tak tergantikan selama lima tahun.

Saat pemerintah terus mengurangi subsidi BBM sejak Oktober 2000, Irwan mengusulkan penggunaan energi panas bumi sebagai energi alternatif dengan memulai pembahasan rancangan undang-undang melaui Komisi VIII. Menurutnya, pemakaian energi panas bumi akan turut membantu pemerintah mendorong kemandirian penyediaan energi, khususnya untuk pembangkit listrik. Penggunaan energi panas bumi memungkinkan pemerintah tidak terbebani oleh mata uang asing seperti halnya penyediaan BBM dan menghindari ketergantungan minyak dalam jangka panjang. Namun, RUU semula tidak dilirik oleh pemerintah, karena energi panas bumi dianggap mahal.[19] Ia terus melobi eksekutif untuk meloloskan RUU, sampai akhirnya pemerintah mengesahkannya menjadi UU Panas Bumi Nomor 27 tahun 2003. Saat itu, undang-undang ini belum ditindaklanjuti dengan Peraturan Pemerintah.[20]

Memasuki tahun 2003, pemerintah menerapkan kenaikkan TDL, tarif telepon, dan BBM secara serentak. Fraksi Reformasi menyatakan desakan pembatalan tiga agenda ini. Irwan bahkan mengancam akan keluar dari DPR bersama enam orang anggota Partai Keadilan lainnya jika kenaikan tarif tetap diberlakukan. "Ini sikap tegas kami. Kami akan keluar dari DPR kalau kenaikan itu tetap terjadi. Saya tegaskan tidak hanya keluar dari ketua komisi, saya juga akan keluar sebagai anggota dewan." Mengenai kenaikan BBM, Irwan mengatakan anggota DPR tak pernah dilibatkan sama sekali dalam pembahasan kenaikan tarif. "Jangankan menyetujuinya, membahasnya tidak. Kita tak pernah diajak membahas tentang kenaikan harga BBM dan kapan keputusan kenaikan itu bisa diterapkan."[21] Menteri ESDM kala itu segera meneleponnya. Rapat konsultasi antara pemerintah dan pimpinan DPR pada 15 Januari 2003 menyepakati menunda kenaikan TDL, tarif telepon, dan BBM.[21] Meskipun PK tidak menarik anggotanya dari parlemen, pemerintah merespons dengan tidak jadi menaikkan TDL dan tarif telepon.

Pada pemilihan umum legislatif April 2004, ia diusung partai yang telah berganti nama PKS sebagai calon anggota legislatif DPR. Selama periode keduanya di DPR, ia kembali mengetuai komisi yang sama sampai 2005 sebelum berpindah komisi dan diangkat sebagai Ketua Komisi X sejak 2007.[22] Daerah pemilihan Sumatera Barat mengirimkan dua wakil ke DPR dari PKS, dirinya dan Refrizal. Irwan dan Refrizal terpilih kembali dalam pemilihan umum 2009.[23] Namun, Irwan mengundurkan diri setelah maju sebagai Gubernur Sumatera Barat dan Sidi Hermanto naik sebagai PAW-nya.

PKS[sunting | sunting sumber]

Setelah Megawati Soekarnoputri dilantik sebagai presiden, PK meminta kesediaan Hamzah Haz dicalonkan sebagai wakil presiden, mendahului sikap resmi PPP. Dalam upaya memperoleh dukungan dari parlemen untuk mendukung Hamzah, Irwan melobi tokoh-tokoh kunci dari fraksinya seperti Amien Rais, AM Fatwa, dan Hatta Rajasa. Irwan bahkan mengancam akan keluar dari fraksi jika fraksi tidak mendukung Hamzah Haz. Bersamaan dengan naiknya Hamzah Haz, Megawati mengangkat beberapa anggota lintas fraksi sebagai menteri. Ia ditawari jabatan Menristek, tetapi atas pertimbangan partai ia menolak. Jabatan ini dialihkan ke Hatta Rajasa, rekan satu fraksi dan satu komisi Irwan.

Jelang pemilihan umum Presiden Indonesia 2004, Irwan yang sejak awal mengarahkan dukungannya ke Amien Rais ditunjuk oleh partai untuk menjalin mitra koalisi dengan Amien. Irwan sekaligus mengemban misi memenangkan Amien Rais di Sumatera Barat. Amien mendapat dukungan mayoritas di Sumatera Barat, tetapi secara nasional kalah perolehan suara dan gagal masuk ke pemilihan presiden putaran kedua. Menjelang pemilihan presiden putaran kedua, Irwan meyakinkan PKS untuk mendukung Susilo Bambang Yudhoyono. Dalam pemerintahan, Irwan dan SBY telah menjalin hubungan dalam kapasitas Irwan sebagai Ketua Komisi VIII dan SBY sebagai Mentamben. Hasil rekapitulasi suara, SBY mendapat dukungan bulat 84,4% dari Sumatera Barat. Wakil presiden terpilih Jusuf Kalla menuturkan, SBY sempat mengharapkan Irwan turut memperkuat kabinet setelah pemilihan umum Presiden Indonesia 2004, tetapi ia lebih memilih berkonsentrasi di DPR.[24]

Dalam pemilihan pimpinan MPR, Irwan Prayitno berperan menaikkan Hidayat Nur Wahid menjadi Ketua MPR. Nama Irwan lebih dulu mengapung sebagai calon Ketua MPR, tetapi Irwan menolak pencalonannya. Ia teribat dalam penyusunan peraturan tatib MPR. Irwan mengusulkan calon yang tampil tidak secara individu tetapi secara paket dengan komposisi 2-2, dua dari DPR dan dua dari DPD. Koalisi tempat PK bergabung resmi mengusulkan paket Hidayat didampingi tiga orang calon wakil ketua, yaitu AM Fatwa, Aksa Mahmud, dan Mooryati Soedibyo. Saat itu, ia ditunjuk untuk memimpin lobi ke semua partai untuk mendukung Hidayat. Hidayat terpilih setelah mendapat 326 suara, berbeda dua angka dengan paket dari koalisi yang mengusulkan Sutjipto.

Gubernur Sumatera Barat[sunting | sunting sumber]

Irwan Prayitno, foto saat dirinya menjabat sebagai Gubernur Sumatera Barat. Irwan adalah salah satu gubernur Indonesia termuda saat dilantik dalam usia 46 tahun

Irwan Prayitno pernah maju sebagai calon Gubernur Sumatera Barat pada pemilihan umum Gubernur Sumatera Barat 2005. Seiring dengan pencalonannya, ia meninggalkan jabatan kepartaian. Irwan maju didampingi Ikasuma Hamid dengan dukungan parlemen dari Partai Bintang Reformasi dan PKS. Diikuti lima kandidat, pasangan ini memperoleh 25,11% suara. Hasil rekapitulasi suara menunjukkan kemenangan Gamawan Fauzi, Irwan Prayitno di urutan kedua, dan Jeffrie Geovanie di urutan ketiga.[25]

Meski memperoleh suara di bawah gubernur terpilih Gamawan Fauzi, Irwan semula tidak berencana maju kembali dalam pemilihan umum Gubernur Sumatera Barat 2010.[26] Ia mendadak dimintai DPP PKS untuk maju, dua hari sebelum hari terakhir pendaftaran.[27] Irwan mengaku sempat marah karena sebelumnya PKS telah menyiapkan kadernya yang Wakil Ketua DPRD Sumatera Barat Trinda Farhan Satria. Setelah beberapa kali penolakan, DPW PKS Sumatera Barat datang meminta langsung pada Irwan ke Jakarta. "Tetap saya tolak, karena partai waktu itu hanya memerintahkan saya menjadi dubes. Saya pindah ke Komisi I waktu itu untuk persiapan dubes," aku Irwan sebagaimana rilis berita KlikSumbar.[26]

Sebelumnya, PKS berencana mengusung Trinda Farhan Satria tetapi tak kunjung mendapat dukungan parlemen. Ia akhirnya menyatakan maju dalam pemilihan sebagai calon Gubernur Sumatera Barat setelah DPP PKS meminta kesediaannya dicalonkan kembali. Dengan dukungan PKS, PBR, dan Hanura, Irwan maju bersama pasangannya Muslim Kasim yang mantan Bupati Padang Pariaman dua periode.[28] Irwan yang tiba di Padang pada sore hari terakhir pendaftaran, 8 April 2010, bersama Muslim mendaftar ke kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sumatera Barat, 50 menit jelang berakhirnya masa pendaftaran.[28]

Penghargaan[sunting | sunting sumber]

Sumatera Barat meraih opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari BPK untuk kedua kali dalam penyerahan laporan hasil pemeriksaan terhadap Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) Sumatera Barat 2013

Pada 12 Oktober 2012, Irwan menerima penghargaan Prabawa dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral atas perhatian dan komitmennya dalam pengembangan potensi EBT.[29][30] Pernah menangani masalah energi dan sumber daya mineral saat di DPR, Irwan menaruh perhatian terhadap pengembangan energi baru terbarukan sebagai sumber energi alternatif bagi pembangunan listrik di Sumatera Barat. Dalam upaya percepatan pemberdayaan energi panas bumi, ia selaku kepala daerah menjalin kerja sama dengan beberapa negara untuk mendatangkan investor, memfasilitasi inventarisasi potensi EBT, penelitian, dan promosi.[29] Selain mengantar kebijakan pemanfaatan EBT kepada legislatif Sumatera Barat, ia mendorong kepala daerah mengembangkan EBT secara otonom. Saat ini, Sumatera Barat memiliki unit pelayanan terpadu satu pintu untuk mempermudah perizinan investasi.[31] Berkaitan dengan pengelolaan panas bumi, Sumatera Barat memiliki Perda Nomor 7 Tahun 2012, sementara penyediaan tenaga listrik diatur dalam Perda Nomor 2 tahun 2013.[32]

Berada di jalur gunung berapi aktif dengan topografi berbukit tempat hulu sejumlah sungai, Sumatera Barat memiliki potensi energi panas bumi, sumber tenaga air, dan energi surya sekaligus karena letaknya menghadap samudera di bawah lintasan garis khatulistiwa. Data dari Direktorat Inventarisasi Sumber Daya Mineral pada 2013 mengungkap, terdapat potensi panas bumi dengan perkiraan 1.656 Megawatt di Sumatera Barat yang tersebar di 16 titik. Lima di antaranya sedang disurvei sementara satu titik tengah memasuki pengerjaan eksplorasi di Kabupaten Solok Selatan. Secara khusus, energi tenaga ombak dan angin diberdayakan di daerah Kepulauan Mentawai melalui kerja sama dengan Jerman.[33]

Gaya kepemimpinan[sunting | sunting sumber]

Gubernuran di Jalan Sudirman, Padang, rumah dinas yang ditempati Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno.

Irwan dikenal sebagai sosok pemimpin yang sederhana dan minim protokoler.[34] Ia meminta siapapun untuk tidak memaksa dirinya berubah sesuai ketentuan protokoler.[35] Ketimbang menggunakan anggaran yang tersedia, Irwan mengoptimalkan penggunaan fasilitas yang telah ada. Ia menolak masukan untuk membeli mobil dinas baru dan masih menempati rumah dinas lama.[36] Ketika disodori alasan menutup malu kepada menteri atau pejabat negara lainnya yang datang berkunjung, Irwan lebih memilih menggunakan mobil pribadinya untuk dijadikan mobil pelat merah.[35] Saat rekonstruksi kantor pemerintahan yang rusak akibat gempa bumi 30 September 2009, sempat dianggarkan pembangunan kantor baru untuk gubernur. Namun, Irwan mengalihkan penggunaannya untuk tiga SKPD yang kantornya rusak, memilih tetap menempati rumah dinas lama di Jalan Sudirman.[36]

Dalam melakukan perjalan ke luar provinsi, Irwan tak pernah memilih maskapai penerbangan.[36] Ia selalu memilih dan merasa nyaman duduk di kelas ekonomi.[35] Penyair Taufiq Ismail, yang pernah mendapati Irwan satu pesawat di kelas ekonomi, menilainya sebagai hal istimewa dan sebuah keteladanan.[37] Terkait penampilannya yang sederhana, tanpa atribut dan minim protokoler, Irwan mengatakan ia tak ingin ada pembatas antara dirinya dan masyarakat.[35]

Yongki Salmeno yang dekat dengan Irwan Prayitno, menuliskan pengalamannya bersama Irwan. Ia mendapati karakter Irwan yang ingin serba cepat dan tepat waktu. Setiap melakukan kunjungan ke daerah, rombongan gubernur nyaris melaju dengan kecepatan tinggi. Yongki menemukan sejumlah SKPD berusaha mengelak ikut iring-iringan kendaraan gubernur karena tak siap nyali. Irwan berprinsip, lebih baik ia datang duluan daripada terlambat. Dalam kota, ia menolak menggunakan mobil pengawalan, kecuali dalam keadaan mendesak. "Seringkali pemilik acara masih menunggu-nunggu kedatangan gubernur dengan menyimak raungan sirene mobil pengawalan. Ternyata sirine itu tak pernah terdengar, gubernur sudah datang tepat waktu tanpa pengawalan dan malah sudah duduk bersama mereka," tulis Yongki. Atribut gubernur yang biasa dipasang di dada kiri oleh gubernur atau pejabat pada umumnya nyaris tak pernah dipakainya.[36]

Masjid Raya Sumatera Barat, diresmikan pemakaiannya pada 7 Februari 2014.

Irwan tetap menunaikan dakwah selama menjabat sebagai gubernur. Dua kali sebulan setiap Jumat pagi, ia mengisi wirid mingguan yang diikuti jajaran pegawai Pemrov Sumatera Barat. Kegiatan wirid dipusatkan di Masjid Raya Sumatera Barat sejak awal tahun 2012, meskipun saat itu penggunaan masijd belum diresmikan. Selama 10 hari terakhir bulan Ramadan, Irwan memusatkan ikhtikaf di kediamannya yang diikuti keluarga besar dan sejumlah pegawai Gubernuran.

Irwan memanfaatkan sisa waktunya untuk keluarga dan olahraga. Irwan adalah penyuka olahraga badminton,[2] karate, dan trabas. Waktu senggangnya kadang ia manfaatkan untuk bermain musik. Ia mengaku bisa bernyanyi sejak tahun 2012. "Karena sebagai gubernur sering ditodong untuk menyanyi, akhirnya saya belajar menyanyi."[18] Pada Ramadhan 2013, ia menciptakan lagu berjudul "Kau Istriku" dan mengunggahnya melalui akun resmi di YouTube.[38] "Saya melihat di Gubernuran banyak alat musik peninggalan gubernur sebelumnya, akhirnya saya manfaatkan untuk coba latihan. Padahal, sebelumnya saya belum pernah belajar not balok, tangga nada dan sebagainya," katanya mengungkapkan awal ketertarikannya bermain musik. Irwan telah mendaftarkan dua lagu ciptaanya, satu lagi berjudul "Kepada-Mu", ke Kanwil Kementrian Hukum dan HAM Sumatera Barat.[38][39]

Semasa SMA, ia suka bergadang dan kebut-kebutan dengan motor vespa dan motor trail. Orangtuanya pernah mendapati Irwan mengikuti rally mobil, walaupun telah melarang.[4] Namun, karena rasa keingintahuan, ia justru sering mencuri-curi kesempatan ikut balapan dengan teman sebayanya.[40] Kini, ia memanfaatkan keahliannya mengendarai motor trail untuk mencapai lokasi-lokasi terpencil saat melakukan kunjungan kerja ke daerah.

Kontroversi[sunting | sunting sumber]

Pada awal November 2010, Irwan selaku Gubernur Sumatera Barat memenuhi undangan KBRI di Berlin untuk tampil sebagai pembicara memaparkan potensi investasi Indonesia dalam forum peringatan hubungan bilateral kedua negara.[41] Pada saat yang sama, masa tanggap darurat tsunami Mentawai masih berlangsung. Tsunami menerjang Kepulauan Mentawai menyusul gempa bumi yang berpusat di lepas pantai Sumatera Barat pada 25 Oktober 2010. Media nasional segera mengangkat opini terkait keberangkatan Irwan. Situs berita Kompas menurunkan judul "Warganya Kelaparan, Gubernur ke Jerman".[42] Tempo mengutip pendapat pengamat politik Burhanuddin Muhtadi yang mengatakan Gubernur Sumatera Barat sudah mati rasa.[43] Anggota DPR Budiman Sudjatmiko ikut berkomentar, tidak pas seorang kepala daerah meninggalkan daerahnya yang sedang dilanda bencana.[44]

Sebelum keberangkatannya, Irwan bolak-balik ke Mentawai memimpin penanggulangan bencana dan sempat bermalam tiga hari di pengungsian. Dalam lawatan satu setengah hari 4–5 November, Irwan menandatangani kesepakatan kerja sama dalam bidang investasi, khususnya di sektor pariwisata dan energi terbarukan dengan Pemerintah Bavaria.[45] Irwan kembali ke Mentawai hari yang sama setelah mendarat di Padang. Koran Tempo menurunkan berita "Setelah Dikecam, Irwan Prayitno ke Mentawai".[46] Anggota DPR lainnya Nudirman Munir menlai pemberitaan atas Irwan berlebihan.[47] "Pak Gubernur tiga malam di Mentawai tak disebut-sebut." Menanggapi kritik atas dirinya, Irwan meminta maaf, mengatakan bahwa rencana lawatannya ke Jerman sudah dipersiapkan jauh sebelum tsunami Mentawai.[48]

Karya[sunting | sunting sumber]

Sampai tahun 2013, Irwan telah merampungkan 34 judul buku dan sedikitnya 25 riset. Pada pengujung tahun, ia menerbitkan buku berjudul Inspirasi Untuk Negeri. 116 lebih artikelnya dipublikasikan di berbagai media massa. Memiiki rekam jejak sebagai aktivis dakwah dan latar pendidikan psikologi, karya-karyanya meliputi tema permasalahan anak dan keluarga, manajemen SDM, politik, dan dakwah.

  • Inspirasi Untuk Negeri (2013)
  • Pemikiran Menuju Masyarakat Madani (2005)
  • Pemuda Islam Generasi Penerus (2003)
  • Wanita Islam Perubah Bangsa (2003)
  • Kepribadian Muslim (2003)
  • Mengkritisi Kebijakan Pemerintah (2003)
  • Dai di Tengah Kegalauan Politik (2003)
  • Dilema Kebijakan Energi (2003)
  • Ajaklah Anak Bicara (2003)
  • Ketika Anak Marah (2002)
  • 24 Jam Bersama Anak (2002)
  • Kepribadian Dai (2002)
  • Hizbus Syaithan (2002)
  • Ma'rifatullaah (2002)

Rujukan[sunting | sunting sumber]

Catatan kaki
  1. ^ a b Dai 2003, hlm. 251.
  2. ^ a b Dai 2003, hlm. 188.
  3. ^ Dai 2003, hlm. 189.
  4. ^ a b Dai 2003, hlm. 222.
  5. ^ a b Dai 2003, hlm. 232.
  6. ^ "Karier Politik Berawal dari Dakwah Kampus". Tokoh Indonesia. Diakses 14 September 2012. 
  7. ^ Dai 2003, hlm. 191.
  8. ^ Dai 2003, hlm. 187.
  9. ^ Irwan Prayitno. "Adzkia dan Pendidikan Berkarakter". Harian Haluan. 16 Mei 2012. 
  10. ^ "Pendidikan Akhlak Mutlak Dikembangkan". Padang Ekspres. 5 Mei 2011. 
  11. ^ Dai 2003, hlm. 200.
  12. ^ a b Dai 2003, hlm. 255.
  13. ^ Dai 2003, hlm. 193.
  14. ^ Dai 2003, hlm. 239.
  15. ^ Dai 2003, hlm. 240.
  16. ^ "Irwan Prayitno, Gubernur Peraih Ph.D Dengan IPK Cumlaude 3,97". Islamedia.co. 17 Maret 2014.
  17. ^ "UMJ: Kontribusi untuk Bangsa". Republika. 7 Maret 2012.
  18. ^ a b "Ciptakan Enam Lagu, Tahu Detail Aktivitas Anak". Padang Ekspres. 10 Februari 2014. Diarsipkan dari aslinya tanggal 11 Februari 2014. 
  19. ^ Bastoni 2006, hlm. 122.
  20. ^ Bastoni 2006, hlm. 120.
  21. ^ a b Dilema 2003, hlm. 183.
  22. ^ "DR. H. Irwan Prayitno, Psi, MSc". Dewan Perwakilan Rakyat. Diakses 14 September 2012. 
  23. ^ "Tradisi Perolehan Kursi DPR di Sumbar dalam Tiga Pemilu Terakhir". Ranahberita. 7 Mei 2013. Diakses 14 September 2012. 
  24. ^ "Kiprah Seorang Asli Putra Minang". Jakarta. 21 Februari 2005. Diarsipkan dari aslinya tanggal 5 April 2005. 
  25. ^ Yonda Sisko. "Gamawan Fauzi Raih 50,6% Suara'". Detik. 27 Juni 2005.
  26. ^ a b "Irwan Pernah Marah Dicalonkan Jadi Gubernur". KlikSumbar. 25 Juli 2011. 
  27. ^ Harismanto (9 April 2010). "Irwan Prayitno Mengaku Kaget Diusung PKS". Tribunnews. 
  28. ^ a b Febrianti (9 April 2010). "Irwan Prayitno Daftar Jadi Calon Gubernur 50 Menit sebelum Ditutup". Tempo. 
  29. ^ a b "Gubernur Sumbar Raih Penghargaan Energi Prabawa". ANTARA. 21 September 2012.
  30. ^ "Sumbar Raih Penghargaan dari 3 Kementrian". Padang Ekspres. 15 Oktober 2012.
  31. ^ "Kantor Pelayanan Terpadu Satu Pintu Perluas Pelayanan Publik". Padangmedia.com. 5 Maret 2013.
  32. ^ "Sumbar Menjadi Lumbung Energi Hijau". Singgalang. 13 Mei 2013.
  33. ^ "Potensi Panas Bumi (Geothermal)". BKPMP Sumatera Barat.
  34. ^ "Stres". Harian Haluan. 6 Februari 2014. Diarsipkan dari aslinya tanggal 6 Februari 2014. 
  35. ^ a b c d "Gubernur Duduk di Kelas Ekonomi, Biasa Saja...". KlikSumbar. 25 Juli 2011.
  36. ^ a b c d Situs web resmi Pemerintah Provinsi Sumatera Barat. "Tepat Waktu dan Sederhana". 24 Desember 2013.
  37. ^ "Taufik Ismail: Irwan Prayitno Sosok Gubernur Teladan". Islamedia.co. 14 Desember 2010.
  38. ^ a b "Kau Istriku, Lagu karya Gubernur Sumbar Sudah Bisa Dinikmati di Youtube". Harian Singgalang. 22 Agustus 2013. Diarsipkan dari aslinya tanggal 22 Agustus 2013. 
  39. ^ "Hak Cipta dan Nasib Pencipta". Harian Singgalang. 21 Agustus 2013.
  40. ^ Dai 2003, hlm. 223.
  41. ^ "Gubernur Sumbar ke Jerman untuk Promosi". Kompas. 3 November 2010.
  42. ^ Khaerudin. "Warganya Kelaparan, Gubernur ke Jerman". Kompas. 3 November 2010.
  43. ^ Riky Ferdianto. "Gubernur Sumatera Barat Dinilai Mati Rasar". Tempo. 4 November 2010.
  44. ^ "Budiman Usul DPR Panggil Gubernur Sumbar". VIVAnews. 4 November 2010.
  45. ^ "Mari Meyakinkan Investor ke Sumbar". Harian Haluan. 8 Maret 2011.
  46. ^ "Setelah Dikecam, Irwan Prayitno ke Mentawai". Tempo. 8 November 2010.
  47. ^ Andrian. "Memajukan Sumbar pun Terhalang Kepentingan Pusat". Detik. 5 Juli 2010.
  48. ^ Yonda Sisko. "Gubernur Sumbar Minta Kunjungan ke Amerika Tidak 'Diplintir'". Detik. 6 Juli 2011.
Sumber buku
  • Prayitno, Irwan (2003). Dai di Tengah Kegalauan Politik. Jakarta: Pustaka Tarbiatuna. ISBN 979-337-580-9. 
  • Prayitno, Irwan (2003). Dilema Kebijakan Energi. Jakarta: Pustaka Tarbiatuna. ISBN 979-337-580-9. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Jabatan politik
Didahului oleh:
Prof. Dr. H. Marlis Rahman, MSc
Gubernur Sumatera Barat
15 Agustus 2010–sekarang
Petahana