Gunung Binaia

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Gunung Binaia
Ketinggian 3.027 mdpl
Daftar Gunung
Lokasi
Lokasi Kabupaten Maluku Tengah, Pulau Seram, Provinsi Maluku
Koordinat 3°10′24″LU 129°27′18″BT / 3,17333°LS 129,455°BT / -3.17333; 129.45500Koordinat: 3°10′24″LU 129°27′18″BT / 3,17333°LS 129,455°BT / -3.17333; 129.45500

Gunung Binaia atau Binaiya atau Binaija adalah sebuah gunung yang terletak di Pulau Seram, Maluku di negara Indonesia. Gunung Binaiya merupakan gunung  tertinggi di Provinsi Maluku dengan ketinggian 3.027 meter di atas permukaan laut (mdpl) masuk ke dalam wilayah Kabupaten Maluku Tengah. Provinsi Maluku. Gunung ini membentang di Pulau Seram dan masuk ke  dalam lingkup Taman Nasional Manusela yang mempunyai luas 189.000 hektar, atau sekitar 20% wilayah Pulau Seram. Gunung Binaiya juga dikenal dengan nama 'Mutiara Nusa Ina'. Gunung Binaiya mempunyai Hutan Montane dan Hutan Ericaceous.

Pendakian[sunting | sunting sumber]

Untuk mengakses lokasi ini bisa dilakukan dari ibukota provinsi Maluku, Ambon, menggunakan jasa angkutan bus menuju Pelabuhan Tulehu. Setiba di Tulehu, dilanjutkan menyeberang selat dengan menggunakan jasa speedboat menuju Pulau Seram, tepatnya di Pelabuhan Wahai. Dari Wahai perjalanan dilanjutkan menuju lokasi pendakian selama sekitar 6 jam. Pendakian Gunung Binaiya dapat dilakukan melalui dua jalur pendakian, yakni jalur utara dan jalur selatan. Kedua jalur ini bertemu di Desa Kanikeh yang merupakan desa terakhir sebelum menuju puncak Gunung Binaiya. Pendakian melalui jalur utara memakan waktu selama 2 hari perjalanan dengan melewati 2 desa yaitu Desa Huaulu, dan Desa Roho. Jalur selatan juga melewati 2 desa yaitu Desa Moso dan Desa Manusela. Kedua jalur tersebut akan bertemu di Desa Kanikeh. Di sini pendaki wajib mengadakan upacara adat sebagai syarat untuk mendaki gunung Binaiya.

Dari Kanikeh, perjalanan dilanjutkan menuju Waiansela. Perjalanan menuju Waiansela kurang lebih memakan waktu 4-6 jam, melewati jalur yang berlumpur dan akan menemukan beberapa anak sungai. Dari Waiansela pendaki akan menuju Waihuhu yang memakan waktu 4-6 jam juga. Di jalur ini pendaki akan menemukan banyak bekas jebakan hewan dan pepohonan berukuran raksasa yang diselimuti lumut dan berbagai jenis anggrek. Dari Waihuhu, pendaki akan menuju pos terakhir sebelum mencapai Puncak Binaiya, yaitu Waipuku. Jalur menuju Waipuku sangat terjal dan dipenuhi bebatuan yang mudah longsor. Tumbuhan di sekitar Waipuku didominasi oleh tumbuhan kerdil. Pos terakhir ini berada pada daerah yang cukup terbuka sehingga angin bertiup cukup kencang. Perjalanan ke puncak dihiasi padang pakis Binaiya yang merupakan tumbuhan endemik Binaiya. Dari sini Puncak Binaiya sudah terlihat dan tidak terlalu jauh. Kurang lebih 1 jam perjalanan untuk mencapai puncak dengan medan yang sangat terjal. Dari puncak, pendaki dapat melihat keindahan Taman Nasional Manusela yang membentang luas di bawah.

Musim hujan di daerah ini biasanya terjadi sepanjang bulan November-April, sehingga pendakian sebaiknya dilakukan pada bulan Mei-Oktober yang merupakan musim kemarau. Persiapan yang sangat matang juga wajib dilakukan karena jalur pendakian Gunung Binaiya terkenal dengan jalurnya yang terjal dan panjang. Total waktu tempuh yang dibutuhkan pendaki saat mendaki Gunung Binaiya sekitar 10-15 hari. Namun, justru itu yang menjadi daya tarik bagi para pendaki.

Peliputan Media dan Biaya yang Besar[sunting | sunting sumber]

Sejak Tahun 2010, pendakian Gunung Binaiya memakan biaya yang besar. Selain biaya transportasi dari Kota Ambon ke lokasi pendakian, pendaki juga akan mengeluarkan biaya yang besar dari desa terakhir sampai di puncak. Biaya-biaya itu antara lain adalah biaya adat, buku tamu, penginapan, pemandu, serta pengangkutan barang yang jika ditotal lebih dari satu juta rupiah. Peraturan ini mulai berlaku pada akhir tahun 2010, dan berlaku bagi siapa saja yang hendak melakukan kegiatan di lokasi tersebut. Menurut sumber dari organisasi-organisasi pecinta alam di Ambon, lahirnya peraturan tersebut dikarenakan kegiatan peliputan budaya yang dilakukan oleh sebuah media di daerah tersebut. Untuk melancarkan kegiatannya maka media tersebut mengeluarkan banyak uang tanpa diminta untuk mendukung kegiatan mereka. Sebelum media masuk, para pendaki yang biasanya melakukan kegiatan di gunung ini tidak menegeluarkan biaya sedikit pun, cukup dengan barter barang, sudah bisa menggunakan jasa orang setempat untuk menemani naik ke puncak gunung.

Pranala Luar[sunting | sunting sumber]