Ulul Azmi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari

Ulul Azmi (bahasa Arab: أولوالعزم Ulu al-Azmi) adalah sebuah gelar khusus bagi golongan nabi pilihan yang mempunyai ketabahan luar biasa dalam menyebarkan ajaran tauhid. Terdapat lima nabi yang mendapatkan gelar Ulul Azmi, yakni Nuh, Ibrahim, Musa, Isa dan Muhammad. Gelar Ulul Azmi dijelaskan dalam Surah Al-Ahqaf ayat ke-35 dan Asy-Syura ayat ke-13.

Sifat Ulul Azmi[sunting | sunting sumber]

Kelima nabi yang mendapat gelar Ulul Azmi adalah para nabi yang memiliki keteguhan luar biasa selama menyebarkan berbagai risalah Allah. Tatkala para nabi ini harus menghadapi berbagai penentangan dari kaum-kaum yang didakwahi; para nabi ini berdoa agar Allah memberi hidayah untuk kaum-kaum tersebut. Tatkala Allah mendapati bahwa berbagai risalahNya yang disampaikan melalui para nabi ini telah secara mutlak dibantah serta diingkari oleh kaum-kaum tersebut, maka Allah yang menyelamatkan para nabi ini beserta para pengikut mereka, juga Allah pula yang menimpakan hukuman setimpal kepada kaum-kaum pengingkar itu.

Ciri-ciri Ulul Azmi adalah sebagai berikut:

  • Memiliki seruan dakwah universal untuk umat manusia maupun umat jin.[1]
  • Menyampaikan syariat dan agama Allah.[2]
  • Menyampaikan kitab samawi.[3]
  • Menerima perjanjian serta "wasiat" dari Allah[4][5]

Kisah[sunting | sunting sumber]

Nuh[sunting | sunting sumber]

Kegigihan Nuh sewaktu mendakwahkan berbagai risalah Allah, meskipun dirinya harus menghadapi berbagai penentangan dari kaumnya, merupakan bukti bahwa Nuh termasuk golongan nabi yang sangat tabah serta bertekun dalam tugas kenabian.[6] Selama bertahun-tahun, Nuh mendakwahi keluarga, kerabat hingga kaumnya yang merupakan sebagian besar umat manusia pada masa itu, supaya mereka meninggalkan kemusyrikan juga agar mereka hanya menyembah Allah.[7] Walau demikian, seorang anak dan istri nabi Nuh menentang dakwah sang nabi.[8][9] Sementara kaum Nuh, yakni salah satu generasi manusia paling keji yang pernah hidup di muka bumi, menimbulkan sikap yang zalim melawan sang nabi,[10] bahkan kaum itu mewariskan tradisi keji secara turun-temurun. Ketika mendapati dakwahnya telah mutlak diingkari, Nuh mengadu kepada Allah supaya seluruh kaum itu dihukum setimpal akibat kaum itu lebih menghendaki ajaran mereka sendiri dibanding risalah Allah.[11] Nuh memohonkan pengampunan kepada Allah untuk dirinya beserta orang tuanya maupun orang-orang yang beriman, juga Nuh memohon agar tiada satu orang kafir pun yang diluputkan hidup di muka bumi.[12] Kemudian Allah mengabulkan pengaduan Nuh, sewaktu Azab banjir bah melenyapkan segala makhluk di muka bumi, selain para penghuni bahtera Nuh.

Setelah Allah menyelamatkan seisi bahtera terhadap banjir bah, Nuh beserta para penghuni bahtera mengikat perjanjian kepada Allah. Segala makhluk yang telah menghuni bahtera Nuh merupakan para leluhur segala makhluk yang masih ada di muka bumi; demikian halnya orang-orang yang telah berada di bahtera Nuh menjadi para leluhur umat manusia pada saat ini.[13]

Ibrahim[sunting | sunting sumber]

Semasa bayi, Ibrahim harus diasingkan ke sebuah gua sewaktu menghindari perintah keji Namrudz tentang pembunuhan bayi laki-laki yang baru lahir. Setelah beranjak dewasa, Ibrahim bertekun mendakwahkan risalah Allah berupa pengenalan tentang Tuhan yang sesungguhnya, juga Ibrahim giat menentang sikap kemusyrikan maupun penyembahan berhala yang dilakukan kaumnya. Ibrahim berani menghancurkan tipu daya Namrudz beserta kaum penyembah berhala di Babilonia. Ibrahim bahkan harus dihadapkan dengan ujian berat, yakni dilempar ke perapian secara hidup-hidup, walau demikian Allah menganugerahkan keselamatan untuk Ibrahim yang memiliki Iman yang tak tergoyahkan kepada Allah.[14] Kemudian Ibrahim beserta para pengikutnya berhijrah untuk Allah. Setelah bertahun-tahun usia pernikahannya dengan Sarah, Ibrahim belum dikaruniai anak hingga Sarah meminta sang nabi menikahi seorang budak Mesir bernama Hajar; lalu Hajar melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Ismail. Allah mengadakan tanda perjanjian dengan Ibrahim berupa hukum sunat, serta terdapat janji bahwa Sarah akan melahirkan Ishaq yakni pewaris Ibrahim. Setelah itu, Ibrahim harus menerima ujian ketika mengasingkan Hajar beserta putranya itu. Oleh sebab kesabaran dan kepatuhannya, ujian ini berhasil dilalui secara baik. Meski demikian, masih terdapat sebuah ujian berat yang dihadapi Ibrahim, yakni mempersembahkan putranya untuk perintah Allah; Ibrahim melaksanakan perintah ini walau akhirnya Allah menyediakan kurban sembelihan pengganti.[15] Sewaktu Ibrahim telah membuktikan keimanannya serta kesetiaannya kepada Allah, dengan melaksanakan apapun yang Allah perintahkan, maka Allah yang memilih Ibrahim sebagai sosok kepercayaan di muka bumi, sehingga Allah memberkahi Ibrahim berupa anugerah berlimpah di dunia maupun karunia di Akhirat.[16]

Ibrahim bersama Ismail dikenal sebagai dua orang yang mendirikan Baitullah di sebuah wilayah yang telah Allah sediakan sebagai tempat berkumpul umat manusia di muka bumi.[17][18] Selama pembangunan Baitullah, Ibrahim berdoa kepada Allah supaya kaum keturunannya memperoleh Al-Kitab dan Hikmah sehingga kaum keturunannya dihindarkan dari sikap kemusyrikan maupun penyembahan berhala.[19] Hal ini menyebabkan Allah terpikat terhadap sosok Ibrahim yang mempedulikan nasib anak cucunya, kemudian Allah mengadakan perjanjian untuk memberkahi kaum keturunan Ibrahim apabila mereka mewarisi sosok Ibrahim dalam hal keimanan dan kesetiaan terhadap segala perintah Allah. Setelah itu, Ibrahim menerima perjanjian dari Allah, yang berlaku untuk kaum keturunan Ibrahim supaya dijadikan sebagai umat pilihan milik Allah serta diberkahi; yakni dengan syarat setia melaksanakan segala perintah Allah beserta segala Hukum Allah. Akan tetapi, perjanjian ini tidak berlaku untuk orang-orang yang zalim.[20]

Musa[sunting | sunting sumber]

Musa merupakan seorang nabi yang memiliki garis keturunan kepada Ibrahim. Musa dibesarkan di lingkungan istana Mesir walau ia harus melarikan diri dari istana lantaran perkara kematian seorang Mesir.[21] Setelah berlindung di negeri Madyan, Allah mengutus Musa supaya kembali ke Mesir untuk menyelamatkan Bani Israel menghadapi penindasan kaum Fir'aun. Harun turut mengiringi Musa selama menyiarkan risalah Allah kepada kaum Firaun. Dengan pertolongan Allah, Musa dan Harun menghadirkan banyak mu'jizat serta Azab pedih untuk melawan kekafiran kaum Firaun, sampai ketika Allah memerintahkan Musa supaya menuntun kaum pengikutnya menyeberangi Laut Merah, yang kemudian menenggelamkan Firaun beserta bala tentara bangsa Mesir. Selain itu, Musa dikenal memiliki kesabaran besar selama memimpin kaumnya meninggalkan Mesir. Ketika Musa sedang bermunajat di Gunung Sinai; Samiri menyeleweng dengan mengajak Bani Israel kepada penyembahan berhala patung anak sapi emas.[22] Harun, yang telah diberi amanat mengganti peran Musa, tidak sanggup menghalangi niat mereka, bahkan Harun diancam hendak dibunuh.[23] Tatkala menyadari dosa besar telah diperbuat di tengah-tengah kaumnya, Musa bersama tujuh puluh orang terpilih memohonkan pengampunan kepada Allah supaya Azab Kemurkaan tidak ditimpakan kepada seluruh Bani Israel, kemudian Allah mengabulkan permohonan ini sehingga kaum Musa tidak dipunahkan.[24]

Musa merupakan satu-satunya manusia yang diberi keistimewaan untuk berbincang-bincang secara langsung dengan Allah,[25] juga Musa menerima perjanjian beserta ajaran Allah berupa Taurat, yakni sebuah kitab berisi berbagai perintah Allah maupun berbagai Hukum Allah.[26] Kitab Taurat diperuntukkan kepada orang-orang beriman.[27] Sementara itu, terdapat pula Kitab Musa yang disebut sebagai salah satu kitab terbaik untuk umat manusia.[28]

Isa[sunting | sunting sumber]

Isa merupakan satu-satunya manusia selain Adam yang dilahirkan tanpa perantaraan ayah,[29] ia dilahirkan oleh Maryam sehingga ia dikenal sebagai Isa Ibnu Maryam (Isa putra Maryam). Isa memiliki ketabahan dan keteguhan besar selama mendakwahkan risalah Allah; terutama ketika Isa bersabar menghadapi tuduhan sebagai penista kaum Yahudi, pengkhianatan muridnya, persekongkolan yang memfitnah, bahkan hendak dibunuh oleh kalangan pemuka agama Yahudi.[30] Kehidupan Isa menggambarkan kezuhudan dan ketaatan dalam beribadah kepada Allah.[31] Tatkala dakwah Isa telah sepenuhnya diingkari, maka Allah menyelamatkan Isa terhadap tipu daya orang-orang kafir,[32] kemudian Allah menimpakan hukuman kepada orang-orang kafir yang telah menentang dakwah Isa.[33]

Kehadiran Isa merupakan penggenapan Taurat, juga sebagai seorang Rasul Allah,[34] yang menghadirkan mu'jizat serta berdakwah mengenai berbagai risalah Allah. Selain itu, Isa telah diutus untuk menyampaikan tentang kehalalan sebagian perkara yang sebelumnya telah Allah haramkan untuk Bani Israel;[35] supaya sang rasul menuntun Bani Israel kembali percaya dan berserah diri kepada Tuhan mereka.[36] Isa juga hendak meluruskan ajaran agama pada zaman itu, sebab terdapat banyak ajaran agama yang membaurkan Taurat (Kitab Allah) dengan berbagai ajaran manusia.[37][38] Meski demikian, dakwah Isa belumlah selesai sebab ia menyatakan bahwa setelahnya akan ada seorang Rasul bernama Ahmad sebagai penerus dakwahnya.[39]

Muhammad[sunting | sunting sumber]

Kehadiran Muhammad merupakan penggenapan para nabi yang telah Allah utus ke tengah-tengah umat manusia.[40] Muhammad terlahir serta dibesarkan sebagai seorang Arab.[41] Allah menyelamatkan Muhammad sewaktu menghadapi masa-masa sulit.[42] Setelah menjadi seorang Rasul Allah, dakwah Muhammad menghadapi berbagai ujian berupa penolakan serta pengabaian orang-orang kafir terhadap berbagai risalah AIlah yang ia sampaikan. Bahkan ada tuduhan dari kaum kafir bahwa nabi menyebarkan ajaran untuk mengganti tradisi leluhur mereka.[43] nabi harus menerima ujian semisal didustakan, difitnah secara keji,[44][45] hingga ia bersama orang-orang beriman diusir oleh kaum kafir sehingga harus berhijrah ke Madinah; akan tetapi Allah mengaruniakan perlindungan serta pertolongan untuk mereka.[46] Beberapa waktu kemudian; Allah memberi perintah kepada nabi Muhammad beserta orang-orang beriman supaya maju berperang melawan golongan kafir yang sebelumnya berupaya memerangi mereka maupun berperang melawan golongan yang telah mengusir mereka,[47][48][49] supaya Allah menimpakan hukuman pedih kepada orang-orang kafir melalui tangan orang-orang beriman,[50] sampai ketika kubu nabi Muhammad memperoleh pertolongan disertai kemenangan dari sisi Allah.[51] Setelah itu, orang-orang beriman mengadakan perjanjian damai terhadap kaum yang tidak beriman bahwasanya kaum itu takkan menganggu orang-orang beriman.[52] Muhammad bersama orang-orang beriman yang menyertai dirinya memiliki watak keras terhadap kaum kafir namun akrab terhadap sesama golongan beriman.[53]

Kekhususan pada diri Muhammad adalah pewahyuan Al-Qur'an, yakni sebuah Kitab berbahasa Arab yang berasal dari Firman Allah. Dalam Kitab ini terdapat ikrar-ikrar demi Nama Allah sebagai penggenapan Kitab-Kitab Allah terdahulu, supaya umat manusia berserah diri secara sepenuhnya kepada Allah.[54] Allah yang menjamin kemurnian isi Al-Qur'an,[55] tidak seperti beberapa kitab terdahulu yang sebagiannya pernah mengalami campur tangan dari Ahli Kitab sementara sebagian lain berada dalam banyak versi. Muhammad juga diutus sebagai penggenapan Taurat dan Injil,[56] dengan tujuan supaya umat manusia hanya beriman, mengabdi, serta berserah diri secara tulus kepada Allah saja dalam beragama,[57] juga supaya umat manusia senantiasa berpegang teguh kepada ajaran yang berasal dari Allah; yakni berbagai risalah yang disampaikan melalui para Rasul maupun para nabi yang telah Allah utus,[58] oleh sebab ada larangan tentang mengikuti ajaran yang berasal dari "hawa nafsu manusia" yang dapat mengakibatkan perpecahan dalam Agama Allah.[59][60] Terdapat berbagai penjelasan bahwa sikap berpecah-belah dalam beragama setara dengan sikap kekafiran maupun kemusyrikan.[61][62]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Bihâr al-Anwâr, hal. 32. Cetakan Beirut, Wafa.
  2. ^ Ibid, hal. 34; ‘Ilal al-Syarâ’i, jil. 1, hal. 149, Bab 101. Ibid, hal. 56.
  3. ^ Ibid, hal. 35.
  4. ^ Al-Ahzab: 7-8
  5. ^ Asy-Syura: 13
  6. ^ Surah Nuh : 1-20
  7. ^ Surah Al-Ankabut : 14
  8. ^ Surah Hud : 42-47
  9. ^ Surah At-Tahrim : 10
  10. ^ Surah An-Najm : 52
  11. ^ Surah Al-Qamar : 9 – 17, Nuh : 21-25
  12. ^ Nuh : 26-28
  13. ^ Surah As-Saffat : 75-77, Yunus : 73
  14. ^ Surah Al-Anbiya : 69, Al-Ankabut : 24
  15. ^ Surah As-Saffat : 102-107
  16. ^ Surah An-Nahl: 120-123, Al-Baqarah: 130
  17. ^ Surah Al-Baqarah : 125
  18. ^ Surah Al-Baqarah : 127
  19. ^ Surah Al-Baqarah : 127-129, Ibrahim : 35-36, Hajj : 78
  20. ^ Surah Al-Baqarah : 124
  21. ^ Surah Qashash : 15-17
  22. ^ Surah Ta Ha : 95-97
  23. ^ Surah Ta Ha : 94
  24. ^ Surah Al-A'raf : 155-156
  25. ^ Surah Al-A'raf : 144, Asy-Syura : 51, An-Nisa : 164
  26. ^ Surah Al-Maidah : 43
  27. ^ Surah Al-Maidah : 43-45
  28. ^ Surah Hud : 17, Al-Ahqaf : 12
  29. ^ Surah Al-Imran : 59
  30. ^ Surah Al-Maidah : 70, An-Nisa : 157
  31. ^ Surah Maryam : 29-30
  32. ^ Surah Al-Imran: 55
  33. ^ Surah Al-Imran: 45-62, An-Nisa : 153-162, An-Nahl : 118, Al-Maidah: 64, Al-An'am : 146, Al-Hasyr : 15
  34. ^ Surah Al-Baqarah : 75, Al-Baqarah : 101, Ali-Imran : 23, Al-A'raf : 169
  35. ^ Surah Ali Imran: 49-50
  36. ^ Surah Al-Imran: 50-53, Al-Maidah: 72, Al-Maidah : 117, Maryam : 34-39
  37. ^ Persekongkolan Pendeta Yahudi menghadapi Isa
  38. ^ Surah Al-Fath: 28
  39. ^ Surah As-Saff : 6
  40. ^ Surah Al-Baqarah: 101, Ali-Imran: 81, Al-Ahzab: 40, As-Saffat: 37
  41. ^ Surah Fussilat : 44
  42. ^ Surah Ad-Duha : 6-11
  43. ^ Saba' : 43-45, Al-Furqan : 41-42
  44. ^ Surah Al-Hijr : 6, Al-Mu'minun : 70, Al-Qalam 51, Az-Zariyat: 52
  45. ^ Surah Al-Qalam : 2-7
  46. ^ Surah Al-Anfal : 26
  47. ^ Surah Al-Baqarah : 90-95, At-Taubah : 7-16, Al-Hasyr : 2-4
  48. ^ Surah Al-Baqarah : 217, Al-Hajj : 39
  49. ^ Surah At-Taubah : 48-56, Al-Mumtahanah : 1-3, An-Nisa : 88-91, Al-Anfal : 92, Ibrahim : 13, Muhammad : 4, Al-Isra : 76, At-Taubah : 29
  50. ^ Surah Al-Anfal : 17-18
  51. ^ Surah Al-Maidah : 3
  52. ^ Surah An-Nisa : 90, Al-Anfal : 61, At-Taubah : 4, Muhammad : 13, Al-Mumtahanah : 8-9
  53. ^ Mujadilah : 22, Al-Fath : 78, Al-Baqarah : 191, An-Nisa : 89, Al-Mujadilah : 22, Al-Maidah : 54
  54. ^ Surah An-Nisa : 105, Al-An'am : 114
  55. ^ Surah Yunus : 37, Hud : 1, Az-Zumar : 1, Mu'minun : 2, Al-Haqqah : 38 - 52
  56. ^ Surah Ali-Imran : 3, Yunus : 37, Al-Maidah : 68, Al-Fath : 29
  57. ^ Surah Al-Baqarah : 136, Ali-Imran : 84, Ali-Imran : 152, Al-An’am : 153
  58. ^ Surah Al-Baqarah : 285, An-Nisa : 80, An-Nisa : 136, Al-An’am : 92
  59. ^ Surah An-Nahl : 9, Al-Furqan : 43-44, Al-Maidah : 49, At-Taubah : 30-32, Al-Jatsiyah : 23, Muhammad : 14,
  60. ^ Surah Al-Maidah : 77, An-Nisa : 27, Ar-Rad : 37, At-Taubah : 34, Al-Kahfi : 28, Ta Ha : 16, An-Nisa : 135, Ar-Rum : 29, Ali-Imran : 83, Asy-Syura: 14 - 17, Al-Jatsiyah : 16-19
  61. ^ Surah Al-Mu'minun : 53-54, Muhammad : 1-3, Al-Maidah : 44, At-Taubah : 33
  62. ^ Surah Al-An'am : 106, Al-An'am: 137, Al-Maidah : 81, Al-A'raf : 37, Ali-Imran : 79-80, Al-An'am : 159-161, Al-Insan : 23-27, Ali-Imran : 103-105, An-Nisa : 150-152, Al-Anfal : 8

Pranala luar[sunting | sunting sumber]