Selim I

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search
Selim I
سليم اول
Yavuz Sultan I. Selim Han.jpg
Khalifah
Berkuasa 1517 – 22 September 1520
Pendahulu Muhammad Al-Mutawakkil
Pengganti Süleyman I
Sultan Utsmaniyah
Berkuasa 24 April 1512 – 22 September 1520
Pendahulu Bayezid II
Pengganti Süleyman I
Lahir 1470/1[1]
Amasya, Kesultanan Utsmaniyah
Wafat 22 September 1520 (usia 48–50)
Çorlu, Kesultanan Utsmaniyah
Pemakaman Masjid Yavuz Selim, Fatih, Konstantinopel
Nama lengkap
Selim bin Bayezid
Wangsa Utsmani
Ayah Bayezid II
Ibu Ayşe Gülbahar Hatun
Pasangan
Tanda tangan Tanda tangan Selim I

Selim I (Bahasa Turki Utsmaniyah: سليم اول, Bahasa Turki: Birinci Selim; 1470/1 – September 1520) adalah penguasa Utsmani kesembilan dan berkuasa pada tahun 1512 sampai 1520.[1] Berbeda dengan pendahulunya yang lebih memerhatikan perluasan wilayah ke barat (Eropa), Selim memusatkan perhatiannya ke timur. Di masa kekuasaannya yang terbilang singkat, Selim berhasil meluaskan wilayah Utsmaniyah secara dramatis dengan menaklukan Kesultanan Mamluk, menjadikan wilayah Mesir, Syam, dan Hijaz berada dalam kepemimpinan Utsmani. Penguasaannya atas Makkah dan Madinah menjadikan Selim sebagai pemimpin Utsmani pertama yang menyandang gelar "Penjaga Dua Kota Suci" (Khādim al-Ḥaramayn aš-Šarīfayn). Dengan berakhirnya kekuasaan Mamluk, Khalifah Abbasiyah yang berdiam di Mesir dalam perlindungan Mamluk mengakhiri masa kedudukan mereka sebagai khalifah, menjadikan Selim secara resmi sebagai khalifah pertama dari Wangsa Utsmaniyah.

Sebagai şehzade[sunting | sunting sumber]

Selim dilahirkan di Amasya pada sekitar tahun 1470 pada masa kekuasaan kakeknya, Sultan Mehmed II atau yang juga dikenal dengan Muhammad Al Fatih. Pada 1481, ayah Selim naik takhta sebagai Sultan Bayezid II.

Sebagaimana tradisi Utsmani, para şehzade (pangeran) yang sudah cukup umur akan memerintah di wilayah penugasan yang telah ditentukan sultan. Saat sultan mangkat, pangeran yang tiba lebih dulu di ibukota akan dinobatkan sebagai sultan yang baru. Tiga putra Bayezid juga mendapat penugasan tersebut. Şehzade Ahmed memerintah Amasya, Şehzade Korkud memerintah Antalya, dan Şehzade Selim memerintah Trebizond. Di antara ketiga bersaudara putra Bayezid ini, Ahmed memiliki wilayah penugasan paling dekat dengan Konstantinopel, sehingga dia dipandang sebagai pangeran yang, secara tidak langsung, dianggap sebagai pewaris oleh sultan karena berpeluang paling cepat bila tiba di ibukota.

Meski putra Selim, Suleiman, ditugaskan memerintah wilayah Bolu yang dekat dengan ibukota, dia kemudian dipindah di Kaffa, Krimea, karena penolakan dari Şehzade Ahmed. Hal ini kemudian ditafsirkan oleh Selim sebagai bentuk dukungan Bayezid terhadap Ahmed sebagai calon pewaris. Selim kemudian meminta wilayah penugasan di Rumelia, istilah untuk merujuk pada wilayah Utsmani di Eropa. Meski awalnya menolak dengan alasan bahwa kawasan tersebut tidak diperuntukkan untuk para pangeran, atas dukungan Meñli I Giray, Khan Krimea saat itu, Selim ditugaskan Bayezid memerintah di Semendire (termasuk kawasan Serbia). Meski memang masuk kawasan Rumelia, jarak Semendire ke Konstantinopel terbilang jauh sehingga Selim menolak dan justru tetap berdiam di ibukota. Bayezid memandang penolakan Selim ini sebagai bentuk pemberontakan dan dia mengalahkan pasukan Selim di pertempuran pada Agustus 1511. Selim kemudian mengungsi ke Krimea.[2]

Saat Sultan Bayezid berperang melawan Selim, Şehzade Ahmed ditugaskan untuk menekan pemberontakan Şahkulu yang didukung Ismail I, Kaisar Safawiyah. Dinasti Safawiyah sendiri adalah pesaing berat Utsmani di kawasan tersebut. Bersama Wazir Agung (Perdana Menteri) Hadım Ali Pasya, Şehzade Ahmed dapat memojokkan Şahkulu di dekat Altıntaş (Kütahya). Namun Şehzade Ahmed justru meninggalkan medan perang demi mengamankan kedudukannya sebagai pewaris, merebakkan kebingungan di kalangan para prajurit. Hadım Ali Pasya yang sebenarnya merupakan pendukung utama Ahmed meninggal saat melawan pemberontakan Şahkulu. Şahkulu sendiri juga meninggal dalam peristiwa ini.[3][4]

Mendengar bahwa Bayezid telah mengalahkan pasukan Selim, Ahmed menyatakan dirinya sebagai Sultan Anatolia dan mulai melancarkan serangan kepada keponakannya (yang ayahnya telah meninggal) dan menduduki Konya. Meski sudah diperintahkan Bayezid untuk kembali ke wilayah penugasannya, Ahmed menolak dan bahkan berusaha menduduki ibukota, tetapi gagal lantaran dihadang para prajurit yang menginginkan sultan yang lebih cakap. Selim kembali dari Krimea dan, dengan dukungan dari pasukan Yanisari, mendesak Bayezid untuk menyerahkan takhta kepada Selim pada 25 April 1512.[5][6] Bayezid dikirim ke Demotika untuk menghabiskan masa pensiunnya di sana, tetapi keadaannya sudah tua dan sakit-sakitan saat itu. Sebelum tiba di tempat tujuan, Bayezid meninggal di Büyükçekmece pada 26 Mei 1512.

Awal kekuasaan[sunting | sunting sumber]

Pada awal masa kekuasaan Selim, Ahmed masih memegang kendali atas Anatolia selama beberapa bulan. Kedua belah pihak bertempur di dekat Yenişehir, Bursa, pada 24 April 1513. Pihak Ahmed dikalahkan. Ahmed sendiri ditahan dan kemudian dihukum mati setelahnya. Putra Ahmed, Şehzade Murad, mengungsi ke Kekaisaran Safawiyah. Kaisar Safawiyah, Ismail I, berusaha menggunakan Murad untuk mengumpulkan masa melawan pemerintahan Selim.[7] Namun rencana itu akhirnya gagal dan Murad mendapat suaka di Safawiyah.[8] Şehzade Korkud sendiri juga dihukum mati pada 1513 karena diduga telah menyiapkan pemberontakan melawan Selim.

Penaklukan Timur Tengah[sunting | sunting sumber]

Salah satu perhatian besar pada masa kekuasaan Selim adalah Ismail I yang menjadikan Dinasti Safawiyah sebagai kekuatan baru di kawasan tersebut, juga mengubah agama negara dari Sunni ke Syi'ah Dua Belas Imam, menjadikannya ancaman besar bagi Utsmani yang Sunni. Pada 1510, Safawiyah telah menguasai kawasan Iran dan Azerbaijan,[9] Dagestan selatan, Mesopotamia, Armenia, Khorasan Raya, Anatolia Timur, dan menjadikan Kerajaan Kakheti dan Kartli di kawasan Kaukasus sebagai negara bawahannya.[10][11]

Sultan Selim I

Setelah menuntaskan perang saudara, Selim kemudian memusatkan perhatiannya pada kekacauan dalam negeri yang dipercaya didalangi oleh Qizilbasy (kelompok militan Syi'ah). Selim mengkhawatirkan bahwa mereka akan menghasut masyarakat untuk mendukung Ismail, pemimpin Dinasti Safawiyah, yang dipercaya sebagian pengikutnya sebagai keturunan Nabi Muhammad. Setelah mendapat persetujuan dari ahli fiqih yang menyatakan Ismail dan Qizilbasy sebagai kelompok kafir dan pembid'ah, Selim dapat mengarahkan pasukan ke arah timur untuk menekan pergerakan mereka. Di sisi lain, Ismail mendakwa Selim telah melakukan penyerangan kepada sesama Muslim dan menumpahkan darah pihak yang tak bersalah. Sebelum melakukan penyerangan, Selim menghukum mati 40.000 orang Qizilbasy Anatolia "sebagai hukuman atas tindakan pemberontakan mereka." Selim juga menghentikan impor sutra dari Iran.

Pada 1514, Selim menyerang wilayah Ismail untuk menghentikan laju penyebaran Syi'ah di Utsmani. Sebelumnya, Selim dan Ismail saling berkirim surat kecaman satu sama lain sebelum penyerangan dilakukan. Di saat yang sama, Safawiyah juga harus berhadapan dengan bangsa Uzbek di timur. Demi menghindari pertempuran di dua tempat secara bersamaan, Ismail melakukan taktik bumi hangus dalam melawan Utsmani di barat. Saat mengetahui Ismail menghimpun pasukan di Chaldiran, Selim mengerahkan pasukan di sana dan terjadilah pertempuran antara pihak Selim dan Ismail. Meski pasukan Ismail memiliki persiapan lebih matang, pihak Selim unggul dengan pasukan mutakhir dan persenjataan yang lebih efisien. Safawiyah mengalami kekalahan telak dan Ismail sendiri hampir tertangkap. Selim memasuki ibukota Iran, Tabriz, pada 5 September. Pihak Utsmani juga menduduki Mesopotamia, dan sebagian wilayah Armenia.

Dalam perang ini, Selim berhasil menawan dua istri Ismail. Hal ini membuat harga diri Ismail jatuh, membuatnya melampiaskan kekalahan dengan mabuk-mabukan. Ismail sendiri juga menarik diri dari urusan militer dan pemerintahan lantaran kepercayaan dirinya yang hancur dan itu berlangsung sampai mangkatnya pada 1524 di usianya yang baru menginjak 36 tahun.

Setelah kemenangannya atas Safawiyah, Selim menyerang dan mengalahkan Kesultanan Mamluk, pertama dalam Pertempuran Marj Dabiq (1516), kedua pada Pertempuran ar-Raydaniyya di Mesir pada 1517, menjadikan menyatunya Suriah, Palestina dan Mesir ke dalam wilayah Kesultanan Usmaniyah. Otomatis kota suci Mekkah dan Madinah masuk ke dalam kekuasaannya. Selim lalu mengangkat dirinya sebagai Khādim al-Ḥaramayn aš-Šarīfayn (Pelayan dari Kedua Kota Suci).

Setelah Selim I menjadi penguasa kota-kota suci Islam dan merebut Mesir, maka Khalifah Al-Mutawakkil III dari Kairo dibawa ke Konstantinopel. Di sini Khalifah secara resmi menyerahkan kepada Selim gelar Khalifah serta lambang-lambangnya, yaitu pedang dan jubah nabi.

Selama pemerintahannya, Salim memperluas wilayah Usmaniyah dari 2,5 juta km2 menjadi 6,5 juta km2. Ia membuat penuh perbendaharaan kerajaan, menguncinya dengan meterainya sendiri dan mengumumkan bahwa, "Barangsiapa membuat penuh perbendaharaan ini melebihi isinya sekarang, ia dapat menggunakan meterainya untuk mengunci perbendaharaan.” Perbendaharaan ini dikunci dengan meterainya hingga runtuhnya Kesultanan Utsmani 400 tahun kemudian.

Setelah kembali dari perangnya di Mesir, dia mendapat surat dari penduduk Afrika Utara untuk meminta perlindungannya dalam menghadapi pelaut-pelaut Spanyol dan Portugis yang mengacau di Laut Tengah. Oleh karena itu ia menyiapkan ekspedisi untuk memerangi Rhodes dan di sana ia meninggal pada 9 Syawal 926 H / 22 Septembar 1520 karena sirpence, infeksi kulit. Sebagian sejarahwan percaya bahwa ia diracuni oleh dokter yang merawat infeksinya.

Selim juga seorang penyair dan ia menulis dengan menggunakan nama julukannya, Mahlas Selimi Dalam salah satu puisinya, ia menulis: "Sebuah permadani cukup besar untuk diduduki oleh dua orang sufi, tetapi dunia tidak cukup besar untuk dua orang raja.”

Rujukan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b Ágoston, Gábor (2009). "Selim I". Dalam Ágoston, Gábor; Bruce Masters. Encyclopedia of the Ottoman Empire. hlm. 511–3. 
  2. ^ Prof. Yaşar Yüce-Prof. Ali Sevim: Türkiye tarihi Cilt II, AKDTYKTTK Yayınları, İstanbul, 1991 pp 226-231
  3. ^ Nicolae Jorga: Geschiste des Osmanichen vol II, (trans: Nilüfer Epçeli) Yeditepe Yayınları, 2009, ISBN 975-6480-19-X ,p.217
  4. ^ Prof. Yaşar Yüce-Prof. Ali Sevim: Türkiye tarihi Cilt II, AKDTYKTTK Yayınları, İstanbul, 1991 p 225-226
  5. ^ Joseph von Hammer: Geschichte der osmanischen Dichtkunst (condensation Mehmet Ata) Millitet yayınları, İstanbul pp 229-236
  6. ^ NicolaeJorga:Geschichte des Osmanischen, (trans. by Nilüfer Epçeli), Yeditepe yayınevi, İstanbul, ISBN 975-6480-19-X, p.263-264
  7. ^ Savory 2007, hlm. 40.
  8. ^ Savory & Karamustafa 1999, hlm. 628-636.
  9. ^ BBC, (LINK)
  10. ^ "History of Iran:Safavid Empire 1502 - 1736". Diakses tanggal 16 December 2014. 
  11. ^ "Edge of Empires: A History of Georgia". Diakses tanggal 15 December 2014. 

Daftar pustaka[sunting | sunting sumber]

Selim I
Lahir: 1470/1 Wafat: 22 September 1520
Gelar pemerintahan
Didahului oleh:
Muhammad Al-Mutawakkil
Khalifah
1517 – 22 September 1520
Diteruskan oleh:
Süleyman I
Didahului oleh:
Bayezid II
Sultan Utsmaniyah
25 April 1512 – 22 September 1520