Sejarah kitab suci Islam Alquran

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian


Allah SWT telah menurunkan Al-Quran sebagai satu mukjizat yang membuktikan kerasulan Nabi Muhammad, dan keberadaan Allah SWT dengan segala sifat-sifat kesempurnaanNya.S.A.W. Membaca Al-Quran dan menghayati dan mengamalkannya adalah satu ibadah. Ia merupakan satu kitab panduan hidup manusia dan referensi utama umat Islam di samping sunnah Rasulullah. Al-Quran dinukilkan secara mutawatir (berperingkat atas sebab penurunannya), dan mashaf yang lazim ditemui hari ini dikenali sebagai mashaf Uthmani. Artikel ini mengajukan satu penelitian tentang asal-usul dan sejarah Al-Quran, dari segi cara wahyu diturunkan, peringkatnya, tempat turunnya, masanya, awalnya dan akhirnya. Disertakan juga informasi tentang pengumpulan dan pembukuan Al-Quran.

Pengertian Nuzul Al-Quran[sunting | sunting sumber]

Dari segi bahasa, kata ‘Nuzul' berarti menetap di satu tempat atau turun dari tempat yang tinggi. Kata perbuatannya ‘nazala' (نزل) membawa maksud ‘dia telah turun' atau ‘dia menjadi tamu'. Sebenarnya penggunaan istilah Nuzul al-Quran ini secara majaz atau (simbolis) saja yang berarti pemberitahuan al-Quran. Tujuannya untuk menunjukkan ketinggian al-Quran.

Secara teknikalnya Nuzul al-Quran bererti penurunan al-Quran dari langit kepada Nabi Allah yang terakhir. Kata Nuzul dalam berbagai wajah sama Ada kata nama, kata perbuatan atau lainnya digunakan dalam al-Quran sebanyak lebih kurang 290 kali. Sebagai contoh, “Dia yang telah…..menurunkan hujan.” (al-Baqarah:22), “Dialah….yang menurunkan Taurat Dan Injil.” (Ali Imran:3) Dan banyak lagi ayat-ayat lain.

Cara Al-Quran (wahyu) diturunkan[sunting | sunting sumber]

‘Aishah istri Rasulullah SAW, meriwayatkan sebelum Nabi Muhammad diangkat menjadi Rasul, beliau bermimpi hal yang benar ketika beliau menyendiri di Gua Hira' beribadah kepada Allah SWT kira-kira tiga tahun. Di gua itulah beliau menerima wahyu yang pertama.[1]

Harith bin Hisham, seorang sahabat Rasulullah s.a.w. pernah bertanya kepada Beliau bagaimana wahyu diturunkan kepadanya. Rasulullah menjawab

”Kadang-kadang wahyu datang kepada-ku dengan gema (desingan) lonceng dan ini sangat berat untuk-ku, dan sementara suara itu hilang apa yang disampaikan kepada-ku. Kadang ia datang dalam bentuk jelmaan malaikat kepada-ku merupai pria, berbicara dengan-ku dan aku menerima apa saja yang disampaikannya kepada-ku.”

Nota[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Safi-ur-Rahman al-Mubarkpuri (1995). "In the Shade of the Message and Prophethood". Ar-Raheeq Al-Makhtum (kulit keras) (dalam bahasa Inggeris). Riyadh: Maktaba Dar-us-Salam. hlm. 68–72.