Sejarah Skotlandia

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari

Skotlandia pertama kali dihuni setelah berakhirnya periode glasial terakhir (pada masa paleolitikum) kurang lebih 10.000 tahun yang lalu. Skotlandia Prasejarah memasuki masa Neolitikum kurang lebih sekitar tahun 4000 SM, Zaman Perunggu sekitar 2000 SM, dan Zaman Besi sekitar 700 SM. Sejarah tertulis Skotlandia dimulai dengan datangnya Kekaisaran Romawi pada abad ke-1. Provinsi Britania Romawi membentang hingga mencapai Tembok Antoninus di utara, yang berdiri dari Clyde hingga Forth. Di sebelah utara tembok terdapat wilayah Kaledonia, dan orang-orangnya disebut "Pict". Akibat serangan Pict, legiun Romawi terpaksa mundur ke Tembok Hadrianus dua puluh tahun setelah tembok Antoninus selesai dibangun. Pada akhirnya mereka meninggalkan wilayah tersebut pada awal abad ke-3.

Menurut literatur dari abad ke-9 dan ke-10, kerajaan Gaelik Dál Riata didirikan di pantai barat Skotlandia pada abad ke-6. Pada abad berikutnya, misionaris Irlandia Columba mendirikan biara di Iona dan memperkenalkan Kekristenan Keltik kepada orang-orang Scoti yaang sebelumnya beragama pagan, namun upayanya terhadap orang Pict tidak terlalu berhasil. Raja Nechtan dari Pictland nantinya memutuskan untuk mengusir gereja Columba dan mendukung gereja di Roma untuk membatasi pengaruh Scoti di kerajaannya dan menghindari perang dengan Northumbria.[1] Pada periode yang sama, orang-orang Angle tlah menaklukan wilayah Briton di sebelah selatan Clyde dan Forth dan mendirikan kerajaan Anglo-Sachsen Bernicia, yang nantinya menjadi bagian dari Kerajaan Northumbria. Menjelang akhir abad ke-8, ketiga kerajaan tersebut diserang oleh bangsa Viking. Karena dikalahkan oleh bangsa Viking, Pict dan Scot menghentikan permusuhannya dan bersatu pada abad ke-9 sehingga membentuk Kerajaan Skotlandia.

Kerajaan Skotlandia disatukan oleh penerus Kenneth MacAlpin, raja Skotlandia bersatu pertama. Penerus-penerusnya dari Wangsa Alpin seringkali berseteru untuk memperebutkan tahta. Raja Alpin terakhir yang bernama Malcolm II meninggal tanpa penerus pada awal abad ke-11 dan kerajaan diserahkan kepada putra dari putrinya, Duncan I, yang memulai garis keturunan baru yang dijuluki Wangsa Dunkeld atau Canmore. Raja Dunkeld terakhir yang bernama Alexander III meninggal pada tahun 1286 dan hanya memiliki satu cucu perempuan kecil sebagai penerus yang bernama Margaret, Putri Norwegia. Sayangnya, ia tewas karena kapalnya karam saat sedang menuju ke Skotlandia. Akibatnya, Raja Edward I memanfaatkan situasi dan melancarkan upaya penaklukan di Skotlandia. Akibatnya, meletuslah Perang Kemerdekaan Skotlandia pada akhir abad ke-13 dan awal abad ke-14 sementara tahta Skotlandia berganti-ganti antara Wangsa Balliol dan Wangsa Bruce. Kemenangan akhir Skotlandia dalam Perang Kemerdekaan di bawah pimpinan David II memastikan kemerdekaan dan kedaulatan Kerajaan Skotlandia. Setelah David II meninggal tanpa penerus, keponakannya Robert II mendirikan Wangsa Stuart, yang akan menguasai Skotlandia selama tiga abad berikutnya. Raja James VI mewarisi tahta Inggris pada tahun 1603, dan raja dan ratu Stuart akan menguasai kedua kerajaan hingga Undang-Undang Penyatuan 1707 menggabungkan kedua negara menjadi Kerajaan Britania Raya.[2][3][4] Dalam penyatuan tersebut, Parlemen Skotlandia dan Inggris dibubarkan dan Parlemen Britania Raya didirikan. Salah satu faktor utama yang mendorong Skotlandia menyetujui penyatuan dengan Inggris adalah karena kegagalan proyek Darien yang berupaya mendirikan koloni di Panama.[5] Kegagalan proyek yang memakan kurang lebih seperempat jumlah uang yang beredar di Skotlandia tersebut membuat negara tersebut bangkrut, sehingga penyatuan dilakukan untuk memulihkan ekonomi dengan memperoleh akses terhadap pelabuhan-pelabuhan Inggris di berbagai wilayah koloninya.[5]

Setelah penyatuan, Skotlandia memasuki masa Pencerahan Skotlandia dan Revolusi Industri; pada periode tersebut, Skotlandia menjadi salah satu kekuatan perdagangan, intelektual, dan industrial di Eropa. Industrinya mengalami kemunduran setelah Perang Dunia II, namun dalam beberapa dasawarsa terakhir negara ini mengalami semacam renaisans ekonomi dan budaya, yang didorong oleh kemunculan kembali sektor layanan finansial serta berkat minyak dan gas di Laut Utara.

Dari segi politik, dalam beberapa dasawarsa terakhir terjadi beberapa perubahan yang penting. Pada 11 September 1997, yang merupakan perayaan 700 tahun Pertempuran Jembatan Stirling, referendum mengenai isu devolusi Skotlandia diadakan. Sebagian besar pemilih mendukung pendirian Parlemen Skotlandia dengan kekuatan yang terdevolusi, sehingga parlemen tersebut didirikan pada tahun 1999. Kemudian, referendum kemerdekaan juga direncanakan akan diadakan pada tahun 2014.[6]

Prasejarah[sunting | sunting sumber]

Manusia telah menghuni Skotlandia paling tidak 8.500 sebelum sejarah tertulis mengenai Britania muncul. Pada masa interglasial (130.000-70.000 SM), iklim Eropa lebih hangat daripada hari ini, dan manusia mungkin telah mencapai Skotlandia, walaupun arkeolog belum menemukan bukti klaim ini. Glasier kemudian terbentuk di Britania, dan baru setelah glasier hilang Skotlandia dapat dihuni kembali sekitar 9600 SM.[7] Pemburu-pengumpul Mesolitikum mendirikan permukiman pertama yang diketahui, dan arkeolog telah menemukan perkemahan di dekat Biggar yang berasal dari tahun 8500 SM.[8] Beberapa situs lain yang ditemukan di sekitar Skotlandia menunjukkan keberadaan penduduk yang menggunakan kapal serta peralatan tulang, batu, dan tanduk.[9]

Pertanian pada masa Neolitikum menyebabkan munculnya permukiman-permukiman permanen. Bukti berupa rumah batu ditemukan di Knap of Howar di Papa Westray yang kurang lebih berasal dari tahun 3500 SM[10] dan desa dengan rumah-rumah sejenis di Skara Brae, Orkey, yang kurang lebih berhasal dari tahun 3000 SM.[11]

Sejarah tertulis[sunting | sunting sumber]

Catatan tertulis pertama mengenai wilayah yang kini disebut Skotlandia berasal dari Pytheas kurang lebih pada tahun 325 SM.[12][13]

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Scots and Picts". BBC Education Scotland. Diakses tanggal 5 February 2013. 
  2. ^ "Uniting the kingdom?". National Archives. Diakses tanggal 2 July 2011. 
  3. ^ "The Union of the Parliaments 1707". Learning and Teaching Scotland. Diakses tanggal 2 July 2011. 
  4. ^ Union with England Act 1707, Article II.
  5. ^ a b Whatley, C. A. (2001). Bought and sold for English Gold? Explaining the Union of 1707. East Linton: Tuckwell Press. p. 48. ISBN 1-86232-140-X. 
  6. ^ "Scottish Election: Campaign successes and stinkers". BBC News. 6 May 2011. 
  7. ^ F. Pryor, Britain B.C.: Life in Britain and Ireland before the Romans (Harper Collins, 2003), p. 99.
  8. ^ "Signs of Earliest Scots Unearthed". BBC News. 9 April 2009. Diakses tanggal 15 July 2009. 
  9. ^ P. J. Ashmore, Neolithic and Bronze Age Scotland: an Authoritative and Lively Account of an Enigmatic Period of Scottish Prehistory (Batsford, 2003).
  10. ^ I. Maxwell, "A History of Scotland’s Masonry Construction" in P. Wilson, ed., Building with Scottish Stone (Arcamedia, 2005), hal. 19.
  11. ^ Pryor, Britain BC, hal. 98–104 dan 246–50.
  12. ^ Yunani "... ἐν τούτῳ γε μὴν νῆσοι μέγιστοι τυγχάνουσιν οὖσαι δύο, Βρεττανικαὶ λεγόμεναι, Ἀλβίων καὶ Ἰέρνη, ...", transliterasi "... en toutoi ge men nesoi megistoi tynchanousin ousai dyo, Brettanikai legomenai, Albion kai Ierne, ...", translation "... There are two very large islands in it, called the British Isles, Albion and Ierne; ..."; Aristoteles atau Pseudo-Aristoteles; E. S. Forster (translator), D. J. Furley (translator). "On the Cosmos, 393b12". On Sophistical Refutations. On Coming-to-be and Passing Away. On the Cosmos. William Heinemann LTD, Harvard University Press. pp. 360–361.  at the Open Library Project.Templat:DjVulink
  13. ^ Βρεττανική. Liddell, Henry George; Scott, Robert; A Greek–English Lexicon at the Perseus Project

Pranala luar[sunting | sunting sumber]