Lompat ke isi

Pencipta Lagu Tema Terbaik Festival Film Indonesia

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Piala Citra untuk Lagu Tema Terbaik
NegaraIndonesia
Dipersembahkan oleh
Diberikan perdana2016
Pemegang gelar saat iniGerald Situmorang, Iga Massardi, dan Asteriska
"Terbuang dalam Waktu" - Sore: Istri dari Masa Depan (2025)
Situs webfestivalfilm.id

Piala Citra Festival Film Indonesia dianugerahkan setiap tahun oleh Badan Perfilman Indonesia (BPI) untuk film dan pencapaian terbaiknya pada tahun sebelumnya. Penghargaan FFI untuk Lagu Tema Terbaik diberikan setiap tahun kepada penulis lagu yang telah menyusun lagu 'orisinal' terbaik yang ditulis khusus untuk sebuah film. Para penampil lagu tidak dikreditkan dengan Piala Citra kecuali mereka berkontribusi baik pada musik, lirik atau keduanya dalam hak mereka sendiri.

Penghargaan FFI untuk Lagu Tema Terbaik pertama kali diberikan pada tahun 2016.[1] Nominasi dibuat oleh komite seleksi yang terdiri dari penulis lagu dan komposer, dan pemenang dipilih oleh keanggotaan komite seleksi secara keseluruhan.

FFI sebagai ajang penghargaan tertinggi bagi para pekerja film di tanah air, walau telah berlangsung sejak 1955, acara ini belum pernah diisi kategori lagu tema film atau jalur suara film terbaik. Penghargaan Piala Citra FFI hanya menghadirkan kategori Penata Suara Terbaik dan Penata Musik Terbaik. Sebelumnya, maestro biola Idris Sardi adalah pemenang 10 Piala Citra dalam kategori penata musik terbaik.[2] Rekor tersebut masih bertahan hingga sekarang.

Kealpaan kategori lagu tema film dalam Festival Film Indonesia menyebabkan "Badai Pasti Berlalu" lantunan Berlian Hutauruk (dari film Badai Pasti Berlalu), "Galih dan Ratna" ciptaan Guruh Soekarno Putra dan Eddy S. Iskandar yang ditariksuarakan Chrisye (Gita Cinta dari SMA), atau "Laskar Pelangi" dari Nidji (Laskar Pelangi) tidak pernah membawa pulang Piala Citra. FFI selama ini dianggap menafikan peran lagu tema film yang menyumbang unsur penting. Lagu-lagu tema yang baik tidak hanya menggenang dalam ingatan penonton, tapi juga memberi nyawa pada sebuah film.[3]

Gugatan terhadap kealpaan pihak FFI memberikan tempat untuk kategori lagu tema terbaik telah lama mengapung. Pada penyelenggaraan Festival Film Indonesia 2014, pertanyaan serupa muncul kembali. Christine Hakim yang kala itu menjabat sebagai juru bicara FFI menganggap kategori tersebut patut jadi pertimbangan pihaknya.[4] Kehadiran kategori lagu tema terbaik baru terwujud pada penyelenggaraan tahun 2016.[1]

Pemenang dan nominasi

[sunting | sunting sumber]

Di bawah ini adalah daftar penerima penghargaan pencipta lagu tema terbaik dalam Festival Film Indonesia sejak tahun 2016.

Tanda Arti
double-dagger Pemenang

2010–an

[sunting | sunting sumber]
Tahun Film Lagu Pencipta
2016
(ke-36)
[5]
Ada Apa dengan Cinta? 2[6] "Ratusan Purnama" Anto Hoed & Melly Goeslaw (musik); Melly Goeslaw (lirik)[7][8] double-dagger
Athirah "Ruang Bahagia" Endah N Rhesa (musik & lirik)
Bangkit! "Bangkit!" Nidji (musik & lirik)
Rudy Habibie "Mencari Cinta Sejati" Anto Hoed (musik); Melly Goeslaw (lirik)
Salawaku "Imaji Sunyi" Nico Veryandi (musik); Siska Salman (lirik)
2017
(ke-37)
[9]
Pengabdi Setan[10] "Kelam Malam" The Spouse double-dagger
Cek Toko Sebelah "Senyuman & Harapan" Mada The Overtunes
Critical Eleven "Sekali Lagi" Isyana Sarasvati
Surga Yang Tak Dirindukan 2 "Dalam Kenangan" Melly Goeslaw
2018
(ke-38)
[11]
Kulari ke Pantai "Kulari ke Pantai"[12] Rayi Putra, Astono Handoko, & Anindyo Baskoro[13] double-dagger
#TemanTapiMenikah "#TemanTapiMenikah" Ade Avery, Jessilardus Mates, & Ayudia Bing Slamet
Dilan 1990 "Rindu Sendiri" Tarapti Ikhtiar Rinrin & Muhammad Abbidzar Nur Fauzan
Naura & Genk Juara "Juara" Mhala Numata & Tantra Numata
2019
(ke-39)
Keluarga Cemara "Harta Berharga" Harry Tjahjono & Arswendo Atmowiloto double-dagger
Ambu "Semesta Pertamaku" Andi Rianto & Titien Wattimena
Bebas "Aku Tanpamu" Dimas Wibisana, Bianca Nelwan, & Mira Lesmana
"Bebas" Iwa K, R. Yudis Dwikorana, & Toriawan Sudarsono
Milly & Mamet: Ini Bukan Cinta & Rangga "Luruh" Isyana Sarasvati & Rara Sekar Larasati

2020–an

[sunting | sunting sumber]
Tahun Film Lagu Pencipta
2020
(ke-40)
Nanti Kita Cerita tentang Hari Ini "Fine Today" Ardhito Pramono double-dagger
Imperfect: Karier, Cinta & Timbangan "Tak Harus Sempurna" Ifa Fachir & Reza Rahadian
Perempuan Tanah Jahanam "Pujaan Hati" The Spouse & Tia Hasibuan
Toko Barang Mantan "Dari Kata Turun ke Hati" Andi Rianto & Titien Wattimena
2021
(ke-41)
Penyalin Cahaya "Di Bawah Langit Raksasa" Mian Tiara double-dagger
Ali & Ratu Ratu Queens "Never Look Back" Bam Mastro
"On My Own" Iqbaal Ramadhan & Tarapti Ikhtiar Rinrin
Cinta Bete "Doa" Oscar Lolang & Titien Wattimena
Yuni Musikalisasi puisi karya Sapardi Djoko Damono "Hujan Bulan Juni" Umar Muslim
2022
(ke-42)
Backstage "Melangkah" Andi Rianto & Monty Tiwa double-dagger
Autobiography "Ambilkan Bintang" Sal Priadi
Losmen Bu Broto "Pulang" Mikha Angelo
"Semakin Jauh" Maudy Ayunda
Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas "Bangun, Bajingan" Ananda Badudu, Dave Lumenta, & Rubina
2023
(ke-43)
Jalan yang Jauh, Jangan Lupa Pulang "Jalan Pulang" Yura Yunita, Donne Maula, dan Marchella FP double-dagger
Budi Pekerti "Dan Hujan" Gardika Gigih
Jalan yang Jauh, Jangan Lupa Pulang "Rerata" Armand Maulana
Ketika Berhenti di Sini "Sorai" Nadin Amizah & Doly Harahap
The Big 4 "Welcome to My Paradise" Steven N. Kaligis
2024
(ke-44)
Jatuh Cinta Seperti di Film-Film "Bercinta Lewat Kata" Donne Maula double-dagger
Agak Laen "Agak Laen" Bene Dion Rajagukguk, Oki Rengga, Boris Bokir, dan Indra Jegel
Petualangan Sherina 2 "Mengenang Bintang" Sherina Munaf, Virania Munaf, dan Mira Lesmana
Siksa Kubur "Kisah Anak Manusia" Bemby Gusti & Tia Hasibuan
"Jalan Pulang" Tony Merle & Tia Hasibuan
2025
(ke-45)
Sore: Istri dari Masa Depan "Terbuang dalam Waktu" Gerald Situmorang, Iga Massardi, dan Asteriska
Home Sweet Loan "Berakhir di Aku" Brigita Meliala
Jumbo "Selalu Ada di Nadimu" Anindyo Baskoro, Arya Aditya Ramadhya, dan Ilman Ibrahim
"Dengar Hatimu" Ifa Fachir & Simhala Avadana
Panggil Aku Ayah "Tegar" Melly Goeslaw

Multi-penghargaan dan nominasi

[sunting | sunting sumber]

Multi-nominasi

[sunting | sunting sumber]

Kontroversi

[sunting | sunting sumber]

Kontroversi terjadi pada ajang Festival Film Indonesia 2025 ketika lagu "Terbuang dalam Waktu" karya Gerald Situmorang, Iga Massardi, dan Asteriska yang dipopulerkan Barasuara memenangkan kategori Pencipta Lagu Tema Terbaik.[14] Lagu tersebut diketahui telah dirilis sebagai single sebelum digunakan dalam film Sore: Istri dari Masa Depan, sehingga sejumlah pihak mempertanyakan apakah karya yang tidak dibuat khusus untuk film layak meraih penghargaan dalam kategori lagu tema.[15]

Perdebatan semakin berkembang ketika film animasi Jumbo menempatkan dua lagu—di antaranya "Selalu Ada Di Nadimu" dan "Dengar Hatimu"—dalam nominasi kategori pencipta lagu tema film terbaik. Fenomena nominasi ganda ini memunculkan diskusi mengenai batasan definisi “lagu tema” dan kemungkinan bahwa satu film dapat memiliki lebih dari satu lagu tema.[16] Banyak pengamat menilai bahwa lagu-lagu dari Jumbo lebih merepresentasikan karya original soundtrack yang diciptakan khusus untuk film, sehingga dianggap lebih sesuai dengan semangat kategori tersebut.[17]

Perdebatan publik juga menyoroti perlunya kejelasan kriteria penjurian. Sebagian mempertanyakan apakah kategori lagu tema seharusnya hanya mencakup lagu yang dibuat orisinal untuk film atau apakah lagu yang sudah ada namun digunakan secara signifikan dalam film juga berhak dinominasikan.[18] Diskusi ini memunculkan kembali perbedaan antara theme song dan original soundtrack (OST). Lagu tema umumnya merupakan lagu yang menjadi identitas atau representasi utama film—baik lagu baru maupun lagu yang sudah ada[19]—sedangkan OST merujuk pada musik yang dikomposisi atau dikurasi khusus untuk sebuah film, termasuk skor instrumental dan lagu orisinal.[20] Perbedaan interpretasi inilah yang menjadi dasar polemik penentuan pemenang kategori tersebut di FFI 2025.

Dalam Academy Awards kontroversi semacam ini pernah terjadi di tahun 1941, ketika lagu "The Last Time I Saw Paris" dari film Lady Be Good, dengan musik karya Jerome Kern dan lirik oleh Oscar Hammerstein II, memenangkan penghargaan Academy Award untuk Lagu Orisinal Terbaik. Kern tidak senang lagunya meraih kemenangan karena lagu tersebut sudah dipublikasikan dan direkam sebelum digunakan dalam film. Kern kemudian berhasil mendorong Academy untuk mengubah aturan sehingga hanya lagu yang "orisinal dan ditulis secara khusus untuk film" yang memenuhi syarat untuk menang.[21][22] Lagu-lagu yang memanfaatkan materi sampel atau aransemen ulang, termasuk versi daur ulang, remix, maupun parodi—misalnya "Gangsta's Paradise" (yang mengambil sampel dari "Pastime Paradise" karya Stevie Wonder) dalam film tahun 1995 Dangerous Minds—juga dinyatakan tidak memenuhi syarat.

Lihat pula

[sunting | sunting sumber]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. 1 2 Djaya, Andi Baso (22 Juli 2016). "FFI 2016 hadirkan kategori lagu tema film terbaik". Beritagar.id. Diarsipkan dari asli tanggal 2017-11-07. Diakses tanggal 1 November 2017.
  2. Indrarto, Totot (18 Maret 2013). "10 Piala Citra untuk Idris Sardi". Beritagar.id. Diarsipkan dari asli tanggal 2018-12-20. Diakses tanggal 19 Maret 2013.
  3. Rizal, Taufiqur (23 Juli 2016). "Festival Film Indonesia 2016 Hadirkan Kategori Lagu Tema Terbaik". Flick Magazine. Diakses tanggal 24 Juli 2016.
  4. Diananto, Wayan (1 November 2014). "Festival Film Indonesia: Mengapa Kategori Lagu Tema Film Terbaik Belum Ada?". Tabloid Bintang. Diakses tanggal 2 November 2014.
  5. Effendi, Ahmat (7 November 2016). "Ini Dia Deretan Pemenang Festival Film Indonesia (FFI) 2016". Kapanlagi.com. Diakses tanggal 7 November 2016.
  6. Pramudya, Windy Eka (6 November 2016). ""Ada Apa Dengan Cinta? 2" Sabet Piala Citra Lagu Tema Terbaik". Pikiran Rakyat. Diakses tanggal 7 November 2016.
  7. Susilawati, Desy (6 November 2016). Winda Destiana Putri (ed.). "Anto Hoed dan Melly Goeslaw Raih Dua Penghargaan FFI 2016". Republika. Diakses tanggal 7 November 2016.
  8. Manilasari, Sinta (7 November 2016). Cecylia Rura Patulak (ed.). "Raih 2 Penghargaan FFI Sekaligus, Melly Goeslaw dan Anto Hoed Bikin Kagum dengan Caption Panjang Ini". Tribunnews.com. Diakses tanggal 7 November 2016.
  9. Shaidra, Aisha (6 Oktober 2017). "Daftar Nominasi 22 Kategori FFI 2017". Tempo.co. Diakses tanggal 7 Oktober 2017.
  10. Setiawan, Tri Susanto (11 November 2017). Maullana, Irfan (ed.). "Pengabdi Setan Raih Kategori Pencipta Lagu Terbaik FFI 2017". Kompas.com. Diakses tanggal 12 November 2017.
  11. Rismoyo, Mauludi (9 Desember 2018). "Daftar Lengkap Pemenang Piala Citra FFI 2018". detikcom. Diakses tanggal 10 Desember 2018.
  12. Rachman, Yogi (9 Desember 2018). Pasaribu, Alviansyah (ed.). ""Kulari ke Pantai" lagu tema terbaik FFI 2018". ANTARA News. Diakses tanggal 10 Desember 2018.
  13. Kamil, Ati, ed. (11 Desember 2018). "Nino RAN: Kemenangan di FFI 2018, Kado untuk Lombok". Kompas.com. Diakses tanggal 12 Desember 2018.
  14. "Daftar Lengkap Pemenang Piala Citra FFI 2025". CNN Indonesia. Diakses tanggal 22 November 2025.
  15. "Kontroversi Kemenangan Pencipta Lagu Terbuang Dalam Waktu di FFI 2025". Tabloid Bintang. Diakses tanggal 22 November 2025.
  16. "Daftar Lagu Original Soundtrack Film Jumbo dan Liriknya". Tempo. Diakses tanggal 22 November 2025.
  17. "Kemenangan Lagu Barasuara di FFI 2025 Tuai Kontroversi". Suara.com. Diakses tanggal 22 November 2025.
  18. "Pencipta Lagu Tema Terbaik FFI 2025 Jadi Perdebatan". IDN Times. Diakses tanggal 22 November 2025.
  19. "What Is a Theme Song?". StudioBinder. Diakses tanggal 22 November 2025.
  20. "Original Score vs Soundtrack: What's the Difference?". MasterClass. Diakses tanggal 22 November 2025.
  21. Susan Sacket, "1941: 'The Last Time I Saw Paris'", Hollywood Sings!, Billboard Books, New York, 1995, hlm. 42–43.
  22. "Rule Fifteen: Special Rules for the Music Awards | Rules for the 86th Academy Awards". Academy of Motion Picture Arts and Sciences. Diarsipkan dari asli tanggal 25 Oktober 2013.

Pranala luar

[sunting | sunting sumber]