Nаbi Yusuf

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Yusuf adalah seorang nabi yang memiliki kemampuan menafsirkan mimpi serta dikenal sebagai pemangku kuasa di Mesir yang telah menyelamatkan dunia menghadapi wabah kelaparan melalui kebijaksanaannya. Yusuf merupakan anak kedua belas nabi Ya'qub bin Ishaq bin Ibrahim. Ia juga merupakan anak sulung Rahil, serta memiliki seorang adik kandung yakni Bunyamin.

Nama Yusuf diabadikan dalam surah kedua belas di kitab Al-Quran, serta disebut sebanyak 27 kali di kitab ini. Riwayat hidup Yusuf juga dikisahkan secara khusus dalam surah tersebut yang Allah sebut sebagai "kisah terbaik dalam Al-Quran."[1]

Sebelum mencapai masa kejayaannya di Mesir, perjalanan hidup Yusuf dipenuhi berbagai rintangan. Semisal adanya kebencian dan iri dari putra-putra Ya'qub akibat hasutan setan yang membuat mereka hendak membunuh Yusuf hingga hukuman penjara di Mesir akibat fitnah keji dari istri pejabat kerajaan Mesir.

Etimologi[sunting | sunting sumber]

Dalam bahasa Ibrani, istilah Yusuf (Y-S-F) memiliki arti 'bertambah'.[2][3] Nama ini diberikan oleh Rahil, Ibunda Yusuf, yang berdoa supaya Allah mengaruniakan seorang anak tambahan untuk dirinya. Hal ini menyerupai sebuah nubuat bahwa kelak keturunan Yusuf memperoleh satu bagian "tambahan" dalam pembagian tanah Kana'an untuk Bani Israel, dimana Yusuf memperoleh bagian ganda melalui dua putranya, Manussah dan Ifrayim, sedangkan putra-putra Ya'qub yang lain hanya memperoleh satu bagian wilayah di negeri Kana'an.

Keluarga Ya'qub[sunting | sunting sumber]

Ketika Ya'qub berangkat dari negeri kelahirannya untuk pergi ke Haran, Ishaq berpesan agar sang anak memilih seorang wanita yang masih keturunan Ibrahim sebagai istrinya. Sebagaimana Ya'qub adalah seorang nabi yang dikaruniai nubuat, ia memperoleh sebuah pertanda dalam perjalanan bahwa ia akan menjadi leluhur dua belas putra yang kelak menjadi dua belas suku besar sebagai generasi pewaris Ibrahim.[4] Ketika ia sampai di Haran, Ya'qub mendapati Rahil yang menggembalakan ternak ayahnya. Ya'qub pun seketika jatuh cinta dan terpikat dengan sosok Rahil hingga ia bersegera membukakan sebuah sumur untuk memberi minum ternak tersebut. Kemudian Ya'qub mendekat dan mencium Rahil seraya menangis akibat melihat nubuat yang ia terima. Tatkala menghadap ke Laban, ayahanda Rahil, Ya'qub berniat meminang Rahil sebagai istrinya, maka Laban memberi syarat bahwa ia harus bekerja selama tujuh tahun untuk memiliki Rahil. Atas rasa cinta yang mendalam, Ya'qub dengan senang hati menyanggupi hal tersebut demi Rahil.[5]

Ketika masa tujuh tahun telah selesai, Ya'qub hendak dinikahkan dengan Rahil. Akan tetapi kelicikan Laban membuat Ya'qub terperdaya hingga ia harus menikahi Liyyah, kakak Rahil, terlebih dahulu sebab adat di negeri itu yang melarang anak perempuan yang lebih muda mendahului sang kakak dalam hal perkawinan. Walau demikian, Ya'qub tetap menuruti persyaratan tambahan untuk menikahi Rahil yakni bekerja selama tujuh tahun lagi demi mendapat Rahil. Walau ia telah menikahi Liyyah, namun cinta terbesar dalam hati Ya'qub tetap untuk Rahil sebab ia meyakini bahwa Rahil adalah satu-satunya wanita yang ditakdirkan sebagai pasangan hidupnya dan hal apapun yang dia lakukan di negeri Haran adalah demi Rahil seorang. Mendapati dirinya tak dicintai Ya'qub, Liyyah berdoa agar suaminya berbalik menyayangi dirinya, Allah pun mengabulkan doanya dengan mengaruniakan empat putra yang dilahirkan Liyyah. Keempat putra itu bernama Rubin, Simeon, Lawwy, dan Yahudah.[6]

Sebelum Yusuf lahir, Rahil telah mengalami masa-masa sulit untuk memperoleh anak. Sewaktu Liyyah telah memberikan empat putra untuk sang nabi, Rahil merasa iri serta mendesak Ya'qub untuk segera mengaruniakan anak atau dirinya akan mati. Mendengar ancaman Rahil, Ya'qub menyatakan bahwa bukanlah dirinya yang menentukan kandungan seseorang. Rahil pun tetap mendesak Ya'qub supaya berdoa untuk dirinya agar segera mengandung sebagaimana yang dilakukan Ibrahim hingga Sarah mengandung Ishaq. Maka Ya'qub menjawab bahwa Sarah menghadirkan seorang "saingan" dalam rumah tangganya dengan memberikan seorang budak Mesir bernama Hajar sebagai istri Ibrahim supaya Sarah dapat memiliki anak di pangkuannnya. Rahil pun menerima saran suaminya dengan memberikan seorang budak bernama Bilhah sebagai istri Ya'qub.

Sewaktu Bilhah melahirkan seorang putra, Rahil memberi nama "Dan" kepada anak ini yang bermakna bahwa "Allah akan menjadi hakim " Dalam kelahiran putra kedua Bilhah, Rahil menamai anak ini "Naftali" yang berarti "madu" Ketika Liyyah melihat bahwa Rahil memberikan budaknya sebagai istri Ya'qub untuk memperoleh anak, ia pun mengikuti cara Rahil dengan menghadiahkan budaknya yakni Zilpah sebagai istri Ya'qub. Zilpah pun melahirkan dua putra yang dinamai Gad dan Asyer. Sewaktu Rubin memanen buah dudaim di ladang, Rahil meminta buah dudaim itu sebagai persembahan untuk Allah, dengan memberikan kesempatan bagi Liyyah untuk berada di kemahnya untuk menemani Ya'qub. Liyyah pun memperoleh dua putra tambahan yakni Yisakhar dan Zebulon.[7]

Beberapa waktu kemudian, Liyyah mengandung anak ketujuhnya dan ia berdoa supaya anak yang akan lahir adalah seorang perempuan agar Rahil tidak merasa bertambah tertekan akibat belum bisa memberikan seorang putra untuk Ya'qub. Liyyah pun melahirkan seorang anak perempuan yang dinamai Dinah.[8]

Kelahiran Yusuf[sunting | sunting sumber]

Ketika Ya'qub telah dikaruniai sepuluh putra, ia tetap bertahan selama bertahun-tahun menantikan seorang anak dilahirkan oleh istri kesayangannya, Rahil. Sebab semua putra yang dilahirkan untuknya terasa tidak sebanding apabila wanita yang paling dicintainya memberi seorang putra yang selama ini diidamkan. Untuk mewujudkan hal ini, Ya'qub beserta seisi rumahnya mengadakan ibadah doa secara bertekun agar Allah mengaruniakan putra melalui Rahil. Allah pun mengabulkan doa mereka dengan kehamilan Rahil.[9]

Sewaktu melahirkan Yusuf, Rahil bersyukur bahwa Allah telah menghapus aib dari dirinya serta memohon supaya Allah memberikan seorang anak lagi melalui dirinya. Ya'qub merasa sangat bahagia sebab penantiannya berakhir dengan adanya Yusuf sebab mengetahui bahwa Yusuf adalah putra yang ditakdirkan untuk menyelamatkan keturunan Ya'qub menghadapi berbagai kesulitan. Terlebih lagi, kisah hidup Yusuf adalah gambaran dari perjalanan hidup sang ayah. Sebagaimana Rahil menantikan Yusuf untuk waktu yang lama, demikian pula Ribkah menantikan Ya'qub. Sebagaimana Ibunda Yusuf mengalami rasa perih dalam persalinannya, demikian juga Ibunda Ya'qub. Sebagaimana Yusuf mempunyai seorang saudara kandung, yakni Bunyamin, demikian pula Ya'qub mempunyai seorang saudara kandung, yakni Ishau. Sebagaimana Yusuf bekerja keras dibawah tekanan seorang wanita, demikian pula Ya'qub bekerja keras hanya demi memperoleh seorang wanita. Walaupun Yusuf bukan anak pertama, namun ia berhak menerima warisan anak sulung, demikian juga Ya'qub. Sebagaimana Yusuf dibenci oleh sejumlah saudaranya, demikian pula Ya'qub dibenci oleh saudaranya. Sebagaimana Yusuf merupakan anak kesayangan orang tuanya, demikian juga Ya'qub. Baik Yusuf maupun Ya'qub pernah tinggal bertahun-tahun di negeri asing. Baik Yusuf maupun Ya'qub pernah bekerja kepada majikan yang diberkati Allah secara berlimpah akibat kesalehan keduanya. Baik Yusuf maupun Ya'qub disertai oleh sosok malaikat pelindung yang menjaga keselamatan keduanya. Baik Yusuf maupun Ya'qub mendapat pertanda yang besar melalui mimpi. Baik Yusuf maupun Ya'qub dikaruniai kekayaan berlimpah dalam hidup mereka. Baik Yusuf maupun Ya'qub meninggal di negeri Mesir. Baik jasad Yusuf dan Ya'qub dikebumikan di negeri Palestina. Selama 17 tahun Ya'qub mengurus kebutuhan hidup Yusuf, selama itu pula Yusuf mengurus kebutuhan hidup Ya'qub di Mesir.[4]

Dengan lahirnya Yusuf, Ya'qub hendak menyudahi masa pengembaraannya di negeri Haran agar ia bisa kembali ke negeri asalnya dengan membawa serta seluruh keluarganya.[4] Namun, Laban tidak serta merta memberikan izin untuk Ya'qub meninggalkan negeri Haran. Disertai perdebatan keras, Ya'qub bersama seisi rumahnya akhirnya berhasil pulang ke negeri asalnya setelah mengadakan kesepakatan dengan Laban. Walau sempat pula berhadapan dengan Ishau dan pasukannya, Ya'qub berdamai dengan sang kakak. Sebelum mencapai wilayah Kana'an, Rahil melahirkan Benyamin, adik kandung Yusuf.[10]

Masa muda Yusuf[sunting | sunting sumber]

Yusuf dan Bunyamin diasuh secara langsung oleh sang ayah sebagai pengganti sang ibu yang telah meninggal dunia. Oleh karena kedekatan Ya'qub dengan kedua putra Rahil, saudara-saudara Yusuf yang lain menganggap sang ayah memperlakukan keduanya secara istimewa. Terdapat alasan khusus bagi Ya'qub mengistimewakan Yusuf dibanding anak-anaknya yang lain,[11] Ya'qub yang bergelar seorang nabi memiliki ilmu khusus beserta kelebihan yang tidak dimiliki oleh manusia biasa, ia memahami sebuah pertanda bahwa keturunannya tidak akan selamat apabila Yusuf telah mati ketika dirinya masih hidup. Oleh sebab itu, Ya'qub sangat memperhatikan keselamatan Yusuf dan mengawasi secara khusus keadaan putra kesayangannya setiap waktu.

Selain dari penilaian sang ayah, sosok Yusuf sendiri mewarisi kenabian dan kelebihan khusus yang dimiliki oleh kedua leluhurnya, Ibrahim dan Ishaq, yang dipilih secara khusus oleh Allah untuk menerima ajaran langka yang hanya dimiliki dalam keluarga Ibrahim.[12] Hal ini tampak ketika Yusuf mendapati mimpi bahwa sebelas bintang, matahari serta bulan bersujud terhadap Yusuf. Saat mendengar hal ini dari Yusuf, Ya'qub memahami makna mimpi ini sebagai isyarat keistimewaannya dibanding anak-anak Ya'qub yang lain. Ya'qub juga melarang Yusuf menceritakan hal demikian kepada saudara-saudaranya yang dapat mengakibatkan setan menghasut mereka merencanakan tipu daya terhadap dirinya.[13]

Akibat adanya perlakuan khusus terhadap Yusuf, salah satu anak Ya'qub pun mengeluhkan sikap sang ayah yang dianggap tidak adil terhadap anak-anaknya yang lain. Bahkan terdapat salah seorang dari mereka yang berniat membunuh ataupun mengasingkan Yusuf agar kasih sayang sang ayah beralih kepada mereka saja. Akan tetapi rencana ini ditolak sewaktu seorang anak Ya'qub menyarankan supaya melempar Yusuf kedalam ke dasar sumur agar dibawa oleh kaum saudagar yang melintas. Mereka pun berencana mengajak Yusuf pergi lalu melemparkannya ke dalam dasar sumur. Meskipun demikian, Ya'qub tidak serta merta memberi kepercayaan kepada mereka untuk melindungi Yusuf sewaktu mereka berpergian sebab Ya'qub khawatir bahwa anak kesayangannya akan diterkam oleh serigala. Namun mereka tetap berusaha meyakinkan sang ayah serta menyatakan bahwa mereka adalah golongan yang lemah jika Yusuf sampai diterkam serigala.[14]

Tatkala Yusuf bersama saudara-saudaranya telah berangkat meninggalkan rumah, mereka melaksanakan rencana untuk melempar Yusuf ke dasar sumur. Sebelum melempar Yusuf, mereka melepaskan baju Yusuf yang kemudian dibawa sebagai bukti tentang kabar kematiannya. Ketika Yusuf berada di dalam sumur, Allah berfirman kepadanya bahwa kelak ia akan menceritakan kejadian ini kepada mereka sewaktu mereka telah melupakannya. Ketika saudara-saudara Yusuf pulang di waktu senja hari, mereka berpura-pura menangis seraya menunjukkan jubah Yusuf yang telah dilumuri darah sebagai bukti bahwa ia telah diterkam serigala. Walau demikian, Ya'qub tidak seketika mempercayai hal yang diceritakan oleh anak-anaknya, ia memilih bersabar dan beserah diri kepada Allah atas kebenaran cerita yang mereka sampaikan.[15]

Kehidupan di negeri Mesir[sunting | sunting sumber]

Setelah Yusuf diambil dari dasar sumur oleh saudagar Midyan, ia diserahkan ke para saudagar Ismail yang membelinya ketika dalam perjalanan ke Mesir.[16] Sepanjang perjalanan, Yusuf disiksa dan diperlakukan secara kejam oleh mereka. Akan tetapi azab Allah menimpa para saudagar ini akibat kejahatan mereka. Setelah menyadari bahwa Yusuf bukanlah seorang budak melainkan orang merdeka yang dipaksa menjadi budak, kaum kafilah ini merasa takut untuk berbuat jahat kepada Yusuf.[4] Sewaktu mencapai negeri Mesir, para kafilah ini menjual Yusuf seharga beberapa dirham saja kepada seorang pejabat kerajaan Mesir yang dijuluki Al-Aziz. Sebelum membeli Yusuf, Al-Aziz mendapat saran dari istrinya untuk menjadikan Yusuf sebagai sosok yang berguna untuk mereka.[17]

Walaupun bekerja sebagai abdi rumah yang membantu urusan di dalam rumah sang majikan, Ilmu dan hikmah yang Allah karuniakan untuk Yusuf tampak dari berbagai usaha yang dikerjakannya yang selalu berhasil, sehingga Yusuf disenangi oleh sang majikan lalu ia ditempatkan sebagai pemimpin dalam segala urusan di dalam rumah sang majikan.[4]

Bujuk rayu Zulaikha[sunting | sunting sumber]

Dengan hasil kerjanya yang baik, majikannya mempercayai dan mengagumi sosok Yusuf sebagai orang yang tepat untuk mengurus urusan rumah tersebut, tak terkecuali istri dari majikan Yusuf, Zulaikha. Akan tetapi terdapat niat buruk dari Zulaikha yang jatuh cinta terhadap Yusuf sehingga ia berusaha membujuk sang nabi untuk tunduk pada hawa nafsunya terhadap seorang wanita. Hingga suatu hari Zulaikha membujuk Yusuf untuk menaklukkan dirinya. Zulaikha bahkan menutup pintu-pintu di rumahnya agar tidak ada seorangpun yang mendapati keduanya. ketika Zulaikha memanggil seraya menyerahkan diri terhadap Yusuf, sang nabi memohon perlindungan Allah serta mengingat kebaikan majikannya agar tak terbujuk rayuan ini. Namun Yusuf hampir saja menuruti kemauan Zulaikha sekiranya Allah tidak menghadirkan pertanda khusus yang menghindarkan Yusuf terkena akibat buruk dari dosa perzinahan.[18]

Kemudian Yusuf berusaha berlari meninggalkan rumah, tetapi Zulaikha menarik baju gamis Yusuf hingga robek. sewaktu mencapai halaman rumah, majikan Yusuf terkejut melihat keduanya lalu Zulaikha memfitnah bahwa Yusuf mencoba memperkosanya sedangkan Yusuf menyatakan bahwa wanita ini yang telah berusaha membujuk dan menaklukkan dirinya. Dengan adanya robekan jubah Yusuf, maka ia pun dapat memberikan bukti bahwa Zulaikha telah berusaha menggoda dirinya, sebab Yusuf bersaksi bahwa sisi belakang jubahnya adalah bagian yang dirobek Zulaikha sewaktu menahannya yang hendak melarikan diri. Namun, hal ini dianggap sebagai sebuah tipu daya yang diperbuat oleh Yusuf dan Zulaikha, namun mereka tetap dianggap bersalah atas kejadian ini.[19]

Setelah kabar tentang bujuk rayu Zulaikha terhadap Yusuf telah tersebar, banyak wanita yang memperbincangkan tentang sikap aneh Zulaikha yang memaksa seorang lelaki untuk menuruti nafsu berahinya. Sewaktu mendengar tentang celaan terhadap dirinya, Zulaikha pun mengundang para wanita yang menghinanya dalam sebuah jamuan makan untuk menunjukkan sosok Yusuf di hadapan mereka. Sewaktu para tamu menyaksikan kehadiran Yusuf di hadapan mereka, seketika ketakjuban dan kekaguman terucap terhadap kerupawanan Yusuf yang dianggap setara dengan malaikat bahkan mereka tak menyadari bahwa tangan mereka berdarah sewaktu memotong buah-buah yang disediakan dalam perjamuan ini. Zulaikha pun menjelaskan bahwa Yusuf adalah budak suaminya yang tidak bisa dia taklukkan melalui bujuk rayunya, serta mengancam akan memenjarakan Yusuf apabila tetap menolak menuruti kemauannya. Namun Yusuf lebih memilih penjara daripada menuruti ajakan keji Zulaikha seraya berdoa memohon perlindungan Allah menghadapi godaan ini.[20]

Sang Penafsir mimpi[sunting | sunting sumber]

Setelah berada di penjara Mesir akibat difitnah oleh Zulaikha, Yusuf masih tetap menerima cobaan dari wanita ini. Zulaikha menyatakan bersedia menebus Yusuf dari dalam penjara apabila ia menuruti rayuannya, namun Yusuf tetap bersabar dan tak begeming dari keputusannya semula untuk menahan diri dari melakukan tindakan buruk.[4] Oleh karena kepribadiannya yang baik dan cerdas, Yusuf dipercaya oleh penjaga penjara sebagai pengawas para tahanan.

Beberapa waktu kemudian, terdapat upaya pembunuhan terhadap Fir'aun yang dilakukan oleh seorang tukang roti dan tukang pemeras anggur kerajaan. Keduanya dituduh bersalah atas percobaan pembunuhan sehingga harus ditahan dalam penjara yang juga dihuni Yusuf. Beberapa waktu kemudian, baik tukang roti maupun tukang anggur ini mendapati mimpi misterius yang menggelisahkan pikiran keduanya. Keduanya pun mencoba bertanya kepada Yusuf yang dianggap cerdas dalam menafsirkan perkara-perkara yang rumit.[21]

Sebelum menjawab pertanyaan ini, Yusuf menjelaskan agamanya kepada kedua tahanan ini dengan berkata bahwa ia telah meninggalkan agama dari orang-orang yang tak percaya kepada Allah serta yang tak meyakini adanya hari akhir. Yusuf juga menyatakan dirinya adalah pengikut agama para leluhurnya, agama Ibrahim, Ishaq, dan Ya'qub bahwa tidaklah patut bagi dirinya mempersekutukan sesuatupun dengan Allah, serta menyadari bahwa sebagian besar manusia tidak bersyukur. Yusuf bertanya tentang perbandingan antara dewa yang bermacam-macam dengan Allah yang Tunggal, bahwa nama-nama sembahan mereka selain Allah merupakan nama-nama yang diada-adakan oleh kaum leluhur mereka walaupun Allah tidak menghadirkan keterangan apapun tentang sembahan tersebut. bahwasanya Hukum adalah kewenangan Allah serta Allah telah memerintahkan supaya tidak mengabdi kepada selain Dia tetapi sebagian besar manusia tidak memahami hal demikian.[22]

Yusuf menafsirkan mimpi kedua tahanan ini bahwa salah seorang dari mereka akan memberi minum anggur kepada raja Mesir, sedangkan seorang lain akan disalib lalu burung memakan sebagian kepalanya. Yusuf juga berpesan kepada tahanan yang akan selamat supaya menceritakan tentang keadaan dirinya kepada sang raja. Akibat tukang anggur itu lupa atas bantuan Yusuf, sang nabi masih harus berada di dalam penjara.[23] Ketika Fir'aun mengalami mimpi-mimpi yang aneh, ia merasa cemas sebab hal demikian selalu menghantui pikirannya. Bahkan para ahli tafsir mimpi di kerajaan Mesir tiada yang sanggup menyingkap makna dibalik mimpi ini.[24]

Mendapati mimpi Fir'aun ini, tukang anggur teringat tentang Yusuf yang pernah menafsirkan secara tepat mimpinya dahulu maka ia meminta Fir'aun mengutusnya untuk bertanya kepada Yusuf tentang penafsiran mimpi tersebut. Setelah menemui Yusuf, tukang anggur mendapat tafsiran dari Yusuf bahwa mimpi Fir'aun bermakna supaya mereka bercocok tanam selama tujuh tahun kemudian setelah masa panen sebagian besar biji yang dituai agar disimpan baik dengan sedikit yang disiapkan untuk kebutuhan makanan, kemudian akan datang tujuh tahun paceklik, yang menghabiskan persediaan yang tersimpan untuk menghadapinya, kecuali sebagian kecil dari simpanan makanan, setelah itu akan datang masa yang padanya manusia diberi hujan dan pada masa itu mereka memeras anggur.[25]

Setelah mendengar kesaksian dari tukang anggur kerajaan, Fir'aun memerintahkan supaya Yusuf hadir menghadap dirinya. Sewaktu mendengar permintaan Fir'aun, Yusuf ingin mengetahui tanggapan raja tentang kesaksian para wanita yang pernah melukai tangan sewaktu memandang dirinya. Ketika mengetahui bahwa Yusuf tidak berbuat buruk terhadap mereka sehingga istri majikannya pun mengakui kesalahannya, sang raja Mesir menyadari bahwa Yusuf adalah orang yang tepercaya dan gentar terhadap Tuhan. Yusuf juga menyatakan bahwa ia tidak membiarkan nafsu menguasai dirinya sebab nafsu selalu cenderung terhadap hal keji terkecuali nafsu yang berasal dari rahmat Allah. Fir'aun pun menunjuk Yusuf sebagai penasehat kepercayaan yang berkedudukan istimewa dalam istana Mesir, sehingga ia memiliki kewenangan khusus di seluruh negeri.[26]

Penguasa negeri Mesir[sunting | sunting sumber]

Karena ketakjuban Fir'aun terhadap kepribadian dan kemampuan diri Yusuf, ia pun bersedia menyerahkan segala kuasa di negeri Mesir di tangan Yusuf. Fir'aun memberikan cincin kerajaan sebagai tanda pemegang kuasa paling utama di seluruh wilayah Mesir. Hanya mahkota kerajaan yang membedakan kedudukan Fir'aun dengan Yusuf, meski Yusuf memiliki kuasa penuh untuk mengendalikan kebijakan dan memerintah di setiap tempat di wilayah Mesir, namun gelar pemimpin paling utama di Mesir akan tetap dimiliki Fir'aun.[4]

Sebagai penguasa Mesir, Yusuf memerintahkan para petani di ladang untuk menabur banyak benih sebab ia mengetahui bahwa pada masa tersebut akan terjadi panen raya yang melimpah sehingga semakin banyak kelebihan hasil panen akan dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan dalam jangka waktu yang lebih lama.

Sewaktu masa kelaparan berlangsung, banyak bangsa yang hanya sanggup bertahan dalam waktu singkat dengan simpanan makanan yang terbatas. Akibat hal ini, banyak kaum dari berbagai bangsa yang mengembara untuk mencari tempat yang memiliki cukup persediaan makanan demi mempertahankan keberlangsungan hidup mereka dan bangsa mereka. Sewaktu terdengar kabar bahwa hanya bangsa Mesir yang memiliki persediaan makanan berlimpah dalam masa kelaparan, berbagai kafilah berbondong-bondong untuk tinggal sementara di kerajaan ini atau hanya sekedar membeli persediaan makanan untuk kaum keluarga di negeri asal.

Wabah kelaparan yang terjadi di berbagai bangsa juga dialami oleh para penduduk negeri Kana'an dimana keluarga Ya'qub tinggal. Dengan menyadari jumlah persediaan makanan yang menipis, Ya'qub memerintahkan putra-putranya untuk pergi ke Mesir supaya membeli persediaan makanan darisana. Ketika mencapai wilayah Mesir, kesepuluh putra Ya'qub menghadap Yusuf, sang pemangku kuasa Mesir, yang juga saudara mereka. Walaupun demikian tiada satupun saudara Yusuf yang sanggup mengenali siapa dirinya. Mereka pun menceritakan asal dan kaum keluarga yang tidak turut dalam perjalanan. Ketika mereka menyebut nama Bunyamin, Yusuf segera menyadari bahwa adiknya masih hidup dan ingin menemui adiknya secara langsung.[4] Ia pun memerintahkan mereka mengajak Bunyamin dalam kunjungan berikutnya ke negeri Mesir, dan mereka menyanggupi permintaan ini. Yusuf juga memerintahkan uang pembelian para saudaranya dikembalikan saat hendak meninggalkan Mesir.[27]

Setelah berjanji bahwa mereka akan mengajak Bunyamin pergi ke Mesir, mereka berupaya untuk meyakinkan sang ayah agar bersedia melepas adik bungsu mereka untuk mengiringi keberangkatan mereka. Mereka pun dapat memperoleh izin untuk mengajak Bunyamin setelah bersedia berikrar atas nama Allah bahwa mereka akan kembali pulang bersama Bunyamin dalam keadaan selamat. Ya'qub juga berpesan supaya kesebelas putranya tidak berangkat secara bersama-sama melalui satu gerbang yang sama, melainkan melalui gerbang-gerbang yang berbeda. Hal ini didasarkan dari Ilmu istimewa yang dimiliki oleh Ya'qub dengan tetap menyerahkan takdir mereka kepada Allah.[28]

Sewaktu mendapati Bunyamin, Yusuf menangis dan mengungkap jati diri sebagai saudara kandungnya yang telah hilang bertahun-tahun. Yusuf juga hendak menguji pembelaan saudara-saudaranya yang lain apabila Bunyamin harus dijadikan budak di Mesir sebagai bukti penyesalan atas tindakan mereka yang terdahulu.[29] Maka Yusuf menyelipkan piala dalam karung Bunyamin dan ketika mereka meninggalkan istana Mesir, seorang pegawai istana menuduh mereka sebagai pencuri piala raja, akan tetapi mereka membantah tuduhannya, bahkan mereka bertaruh bahwa jika ada seorang dari mereka yang terbukti mencuri piala raja maka orang tersebut yang menjadi pengganti kerugian.[30] Saat piala raja ditemukan dalam karung Bunyamin, Yusuf menahannya sebagai hukuman telah mencuri piala raja. Karena mereka ingin menyelamatkan si adik bungsu, salah seorang saudara Yusuf hendak menjadi pengganti Bunyamin sebagai tawanan, namun Yusuf menolaknya.[31]

Ketabahan Ya'qub[sunting | sunting sumber]

Sebagian dari saudara-saudara Yusuf memutuskan untuk pulang dan mengabarkan kepada ayahnya tentang nasib buruk yang menimpa Bunyamin. Setelah mendengar kabar tentang Bunyamin dihukum oleh penguasa Mesir, Ya'qub menyalahkan putra-putranya akibat kecerobohan mereka tentang saudara bungsu mereka seraya memikirkan keadaan Yusuf hingga penglihatan matanya memudar yang dikhawatirkan anak-anaknya. Walaupun demikian, Ya'qub tetap menaruh kepercayaan kepada Allah yang sanggup menghadirkan semua putranya kembali, serta dengan disertai karunia Ilmu istimewa, ia hanya menyerahkan segala masalah hidupnya kepada Allah dengan iman bahwa hanya Allah yang mengaruniakan penyelesaian terbaik untuk segala rintangan dalam hidupnya. Ya'qub juga tetap memberi semangat kepada putra-putranya untuk tetap mencari keberadaan Yusuf dan Bunyamin seraya melarang mereka untuk berhenti mengharap pertolongan Allah, sebab tiada manusia yang menyerah untuk selalu percaya tentang adanya anugerah Allah kecuali manusia-manusia kafir yang tidak memberikan kepercayaan terhadap kuasa Allah.[32]

Penentangan Yahudah[sunting | sunting sumber]

Sewaktu mendengar titah penguasa Mesir bahwa Bunyamin harus dijadikan sebagai budak di Mesir, Yahudah bertekad takkan meninggalkan Mesir sebab dia telah bersumpah dengan nama Allah bahwa ia akan membawa pulang Bunyamin dalam keadaan selamat.[33] Penyanderaan Bunyamin ini membuat Yahudah murka karena dapat melanggar ikrar janjinya kepada sang ayah serta ia akan menanggung hukuman kekal. Terlebih lagi, Yahudah rela bersumpah mempertaruhkan hidupnya sebagai jaminan dalam ikrarnya.[4]

Yahuda pun mengajukan beberapa penentangan tentang hukuman yang tak adil terhadap Bunyamin. Yahudah mempertanyakan sikap sang penguasa Mesir yang menyatakan bahwa ia takut terhadap Allah tetapi ia bertindak sesuka hati dengan memperbudak seseorang akibat sebuah piala yang hilang. Bahkan penghukuman untuk menyandera seorang pencuri bukanlah aturan berlaku bagi bangsa Mesir ataupun negeri Ibrani, sebab aturan Mesir mengharuskan seorang pencuri dilucuti dari segala kepunyaannya sementara aturan di negeri Ibrani mengharuskan pencuri membayar ganti dengan sejumlah uang berlipat ganda dari barang yang dicurinya.[4]

Yahudah bahkan menuduh penguasa Mesir memiliki niat jahat terhadap Bunyamin, karena ia ingin menyandera Bunyamin daripada saudaranya yang lain. Akan tetapi Yusuf membantah segala tuduhan dari Yahudah dan mempersilahkannya meninggalkan istana Mesir. Karena sangat kesal mendengar ucapan ini, Yahudah mengancam akan memunahkan seisi Mesir apabila berkeras menyandera Bunyamin. Yahudah juga memperingatkan bahwa dua putra Ya'qub, Simeon dan Lewy, sanggup membantai kota sebesar Shekhem tanpa mendapat luka, dan gabungan dari kesebelas putra Ya'qub tentu akan cukup untuk membinasakan seisi negeri Mesir. Yusuf pun menjawab bahwa penghukuman terhadap Bunyamin berdasarkan pada kesepakatan mereka sendiri dan jika mereka berusaha melenyapkan Mesir berarti mereka juga sedang berusaha melenyapkan kehidupan banyak bangsa di muka bumi yang bergantung kepada persediaan makanan di Mesir. Maka Yahudah mulai meratap keras terhadap kesalahannya yang telah mengasingkan Yusuf dan menangisi keadaan Bunyamin yang ditahan di Mesir akibat kecerobohannya.

Yusuf mengungkapkan diri[sunting | sunting sumber]

Ketika saudara-saudara Yusuf kembali, mereka menyerahkan barang-barang penukar untuk mendapat persediaan makanan serta mereka meminta sedekah dari Yusuf. [34]Penguasa Mesir pun bertanya kepada mereka tentang tindakan yang pernah mereka perbuat terhadap Yusuf. Mendengar kata 'Yusuf', mereka mulai meyakini bahwa penguasa Mesir yang ada dihadapan mereka adalah Yusuf. Sang Penguasa Mesir menegaskan ucapannya bahwa dirinya adalah saudara mereka yang telah hilang selama bertahun-tahun, namun Allah menganugerahkan karunia yang besar sebagai hadiah atas ketakwaan dan kesabarannya sehingga mereka memuji kedudukan Yusuf serta mengakui kesalahan mereka terhadapnya. Yusuf memaklumi saudara-saudaranya seraya memohonkan supaya Allah Yang Maha Pengampun berkenan mengampuni mereka.[35]

Hijrah keluarga Ya'qub ke Mesir[sunting | sunting sumber]

Dalam perjalanan pulang, Yusuf menitipkan sebuah jubah miliknya agar diserahkan kepada Ya'qub, ayah mereka, dengan harapan bahwa sang ayah akan percaya bahwa putranya yang telah hilang bertahun-tahun sebenarnya masih hidup dan menjadi penguasa negeri Mesir. Sewaktu mereka sampai di rumah, Ya'qub mendapati aroma badan Yusuf berada di dekatnya walau ia merasa ragu. Hal ini berasal dari jubah yang dititipkan oleh Yusuf yang mereka bawa dari Mesir yang membuat penglihatan Ya'qub sembuh seperti semula. Sewaktu mereka menjelaskan bahwa Yusuf masih hidup dan menjabat kedudukan mulia di Mesir, Ya'qub menegaskan bahwa dirinya mengetahui dari Allah tentang perkara yang tidak mereka ketahui, kemudian mereka memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka kepada sang ayah. Yaqub pun memohonkan ampun bagi mereka kepada Allah Yang Maha Pengampun serta Maha Penyayang.[36]

Kedatangan seisi rumah Ya'qub di Mesir disambut secara baik oleh penduduk negeri Mesir dan Fir'aun. Keluarga Ya'qub diberi wilayah yang subur di negeri Mesir, sebab mereka juga membawa ribuan ternak dalam perjalanan ke Mesir. Ketika Yusuf bertemu kembali dengan sang ayah setelah waktu yang lama, ia mendapati perwujudan dari mimpi bahwa saudara-saudaranya bersujud di hadapannya dan ia bersyukur kepada Allah atas kebaikanNya dan anugerahNya yang telah dia terima selama hidup.[37] Yusuf juga memuji bahwa Allah adalah Pelindung di dunia maupun di akhirat, seraya berdoa agar ia kelak diwafatkan dalam keadaan Islam dan digolongkan dalam kelompok orang saleh.[38]

Wasiat Yusuf[sunting | sunting sumber]

Sebagaimana Ya'qub yang berpesan kepada putra-putranya untuk memakamkan jasadnya di Palestina, demikian pula yang dilakukan Yusuf ketika Maut hendak menjemputnya. Ia juga berpesan kepada seluruh kaum keluarganya agar bersabar untuk tetap mengembara di negeri Mesir hingga saat Allah memerintahkan keturunan mereka pulang ke negeri para leluhur mereka.[4]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Surah Yusuf: 3
  2. ^ Friedman, R.E., The Bible With Sources Revealed, (2003), p.80
  3. ^ Kejadian 30:24
  4. ^ a b c d e f g h i j k Ginzberg, Louis, ed. (1909). The Legends of the Jews (Translated by Henrietta Szold) Philadelphia: Jewish Publication Society.
  5. ^ Kejadian 29:1-20
  6. ^ Kejadian 29:25-35
  7. ^ Kejadian 30:3-20
  8. ^ Kejadian30:21
  9. ^ Kejadian 30:22-24
  10. ^ Kejadian 35:16-20
  11. ^ Surah Yusuf: 5-6
  12. ^ Surah Yusuf: 6
  13. ^ Surah Yusuf: 5
  14. ^ Surah Yusuf: 8-9
  15. ^ Surah Yusuf: 18
  16. ^ Surah Yusuf: 19-20
  17. ^ Surah Yusuf: 21-22
  18. ^ Surah Yusuf: 23-24
  19. ^ Surah Yusuf: 25-28
  20. ^ Surah Yusuf: 30-35
  21. ^ Surah Yusuf: 36
  22. ^ Surah Yusuf: 37-40
  23. ^ Surah Yusuf: 41-42
  24. ^ Surah Yusuf: 43-44
  25. ^ Surah Yusuf: 45-49
  26. ^ Surah Yusuf: 50-57
  27. ^ Surah Yusuf: 58-62
  28. ^ Surah Yusuf: 63-68
  29. ^ Surah Yusuf: 69
  30. ^ Surah Yusuf: 70-75
  31. ^ Surah Yusuf: 76-79
  32. ^ Surah Yusuf: 81-87
  33. ^ Surah Yusuf: 80
  34. ^ Surah Yusuf: 88
  35. ^ Surah Yusuf: 89-92
  36. ^ Surah Yusuf: 93-98
  37. ^ Surah Yusuf: 99-100
  38. ^ Surah Yusuf: 101-103

Pustaka[sunting | sunting sumber]

  • Dr. Louay Fatoohi dan Prof. Sheta Al-Dargazelli. ..Sejarah Bangsa Israel dalam Bibel dan Al-Qur'an. 2007. Bandung: Mizania.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]