Kena mata

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search

Kena Mata, Mata Jahat, atau 'Ain adalah sebuah keyakinan bahwa seseorang dapat membahayakan atau menyihir orang lain dengan cara hanya sekedar melihat korbannya.

Penyakit 'Ain dalam pandangan Islam[sunting | sunting sumber]

Dalam terminologi Islam hal ini dikenal sebagai penyakit 'Ain. Hal ini umumnya berkaitan dengan pengaruh dari pandangan mata yang disertai sifat dengki atau iri kadang terjadi pula pada rasa takjub atau cinta terhadap yang dipandang. Hal ini dapat muncul dari orang yang jahat ataupun orang yang baik, baik pelaku melakukannya dengan sengaja ataupun tidak menyadari, dengan izin Allah. Pandangan mata tersebut menjadi jalan bagi dan dimanfaatkan oleh Setan sehingga memiliki potensi bahaya bagi orang yang terkena.[1]

Berkata Imam Ibnu Atsir dalam An-Nihayah: “Dikatakan bahwa seseorang terkena ‘ Ain, yaitu apa bila musuh atau orang-orang dengki memandangnya lalu pandangan itu mempengaruhinya hingga menyebabkannya jatuh sakit."[2]

Berkata Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari: “’Ain adalah pandangan suka disertai hasad yang berasal dari tabiat yang jelek, yang dapat menyebabkan orang yang dipandang itu tertimpa suatu bahaya.[3]. Ia menambahkan, “Bahwa ‘ain dapat terjadi bersama rasa takjub walau tanpa adanya sifat iri, walau dari orang yang mencintai dan dari seorang yang shalih (tanpa disengaja)." [4]

Dalam kasus yang khusus, penyakit ini bahkan dapat terjadi meski tanpa melihat langsung korbannya semisal melalui foto atau video. Bahkan orang buta sekalipun yang hanya mendengar cerita yang membangkitkan jiwanya untuk mendengki.[5]

Berkata Imam Ibnul Qayyim dalam Zadul Ma’ad: "Jiwa orang yang menjadi penyebab ‘ain bisa saja menimbulkan penyakit ‘ain tanpa harus dengan melihat. Bahkan terkadang ada orang buta, kemudian kepadanya diceritakan tentang sesuatu, jiwanya bisa menimbulkan penyakit ‘ain, meskipun dia tidak melihatnya. Ada banyak penyebab yang bisa menjadi sebab-sebab terjadinya ‘ain, meskipun dengan cerita saja tanpa melihat langsung[6]

Penyakit 'Ain ini ditanggulangi dengan cara dituntunkan bagi orang yang terpukau atas sesuatu untuk mengucapkan doa keberkahan atas sesuatu tersebut. Selain itu dapat pula diobati dengan ruqyah yang syar'i. Melazimkan doa harian untuk perlindungan diri masing-masing. Sedangkan penggunaan jimat dan gantungan penolak bala tidak diperkenankan dalam Islam.

Perkataan Nabi S.A.W: “Apabila seorang dari kalian melihat sesuatu dari saudaranya, atau melihat diri saudaranya, atau melihat hartanya yang menakjubkan, maka hendaklah ia mendoakan keberkahan untuk saudaranya tersebut, karena sesungguhnya penyakit ‘ain benar-benar ada.[7]

Rujukan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Penyakit ‘Ain, Sebab, Pencegahan dan Terapinya
  2. ^ An-Nihayah 3/332
  3. ^ Fathul Bari 10/200
  4. ^ Fathul Baari, 10/205
  5. ^ Penyakit 'Ain Melalui Foto dan Video - Muslim.Or.Id
  6. ^ Zadul Ma’ad 4/149
  7. ^ HR. Ahmad dari Abdullah bin ‘Amir, Ash-Shahihah, no. 2572

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

(Inggris) Mashallah: what it means, when to say it and why you should