Lydia Freyani Hawadi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search
Prof. Dr. Lydia Freyani Hawadi, M.M., Psikolog
Reni.jpg
[[Dirjen Pendidikan Anak Usia Dini Non Formal dan Informal]] 8
Masa jabatan
2012 – 2014
Pendahulu Hamid Muhammad, Ph.D
Pengganti Ir. Harris Iskandar, Ph.D
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
Informasi pribadi
Lahir (1957-03-22)22 Maret 1957
Bandung, Jawa Barat, Indonesia
Kebangsaan Indonesia
Partai politik Independen
Pasangan Drs. H. Zulkifli Akbar, Psi., M.Si
Anak Aidil Rizali Akbar, S.Hum.
Puti Ceniza Sapphira Akbar, S.Si., MSi.
Ardha Renzulli Akbar, S.Sos.,MSi.
Poeti Nazura Gulfira Akbar,S.Si.,MSc.,Ph.D.
Ali Araafi Akbar, S.Psi.
Poeti Gladyzka Emiria Akbar
Orang tua
  • R. Doelli Hawadi
  • Poeti Dalima Iskandar
Tempat tinggal Jakarta
Alma mater Universitas Indonesia
Pekerjaan Dosen
Situs web www.lydiafreyanihawadi.com

Prof. Dr. Lydia Freyani Hawadi, M.M., Psikolog atau yang lebih dikenal dengan nama Reni Akbar-Hawadi (lahir di Bandung, Jawa Barat, 22 Maret 1957; umur 61 tahun), adalah seorang psikolog, dan guru besar[1] Ilmu Psikologi Pendidikan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI) sekaligus menjabat Ketua Dewan Guru Besar Fakultas Psikologi periode 2016-2020. Sebelumnya ia dipercaya menjadi Dirjen Pendidikan Anak Usia Dini, Non-Formal, dan Informal (PAUDNI) Kementerian Pendidikan Nasional RI periode 2012-2014. [2][3]

Keluarga[sunting | sunting sumber]

Ia menikah dengan Drs. H. Zulkifli Akbar, Psi., M.Si. pada 29 Agustus 1982. Idjul Akbar sapaannya adalah anak keenam dari delapan bersaudara Dr. H. Ali Akbar, salah seorang pendiri YARSI atau sekarang dikenal dengan Universitas YARSI. Mereka dikaruniai 6 (enam) anak, masing-masing: Aidil Rizali Akbar, S.Hum. (UI)., Puti Ceniza Sapphira Akbar, S.Si. (ITB)., MSi. (UI)., Ardha Renzulli Akbar, S.Sos. (UI)., MSi. (UI)., Poeti Nazura Gulfira Akbar,S.Si. (ITB)., MSc. (BU, UK)., PhD Candidate (EUR, Netherland)., Ali Araafi Akbar, Psi. (UGM)., dan Poeti Gladyzka Emiria Akbar (Mahasiswa Ilmu Komunikasi, FISIP UI). Ayahnya bernama R. Doelli Hawadi (wafat 1974), seorang Perwira Menengah (Pamen) TNI-AD berpangkat Kolonel berdinas di Komando Strategis Nasional (Kostranas) sebelum akhirnya dikaryakan di PT Tri Usaha Bakti (Truba) dan menjadi Chief Advisor Indonesia Chamber of Commerce di Taipei, Taiwan. Ibu Prof. Reni bernama Poeti Dalima Iskandar (wafat 2013), dan merupakan cucu dari Tuanku Maharajo Basa Marah Oejoeb Regent Padang yang ke VII sebagai Regent terakhir Kota Padang Tahun 1863.

Pendidikan[sunting | sunting sumber]

Reni Akbar-Hawadi menamatkan pendidikan dari SMA Santa Ursula Jakarta pada 1975. Kemudian melanjutkan pendidikan di Universitas Indonesia (UI) dengan meraih sarjana psikologi pada 1981. Selanjutnya ia melanjutkan pendidikan Program Pascasarjana di Universitas Indonesia (UI) dengan konsentrasi psikologi dan lulus pada 1989. Terakhir ia meraih gelar Doktor dari kampus yang sama Universitas Indonesia (UI) pada 1993. Motivasinya yang kuat untuk terus meningkatkan wawasannya, Prof. Reni mengikuti pendidikan S2 pada program Manajemen di Universitas Kristen Krida Wacana (UKRIDA) (2013).

Selain pendidikan formal, ia juga aktif mengikuti berbagai pendidikan, pelatihan, penataran, dan kursus tambahan untuk memperluas dan memperkaya pengetahuan, relasi, dan pemikirannya. Ia pernah mengikuti Conference Institute Confratute Enrichment Programme, University of Connecticut, Storr, Connecticut, USA (1994) dan Gifted and Talented Education Course (1992) di Department of Educational Studies, Purdue University. Terakhir ia mengikuti Program Pendidikan Singkat Angkatan (PPSA) Lemhannas R.I. XXI (2017).

Pekerjaan dan karier[sunting | sunting sumber]

Organisasi[sunting | sunting sumber]

Aktivitas sebagai narasumber[sunting | sunting sumber]

  • Anggota Tim Juri Keluarga Sakinah Teladan Tingkat Nasional, Board of Advisors Majalah Parents Indonesia: The #1 Parenthood Magazine, 2007-2014;
  • Konsultan dan kontributor Majalah Inspired Kids, 2006-2012;
  • Konsultan Psikologi Program Siswa Cepat SLTP Islam PB Sudirman, 2000-2004;
  • Konsultan Perkawinan Badan Penasehat Perkawinan Perselisihan dan Perceraian (BP-4) Pusat, 1980-sekarang);
  • Dewan Redaksi Majalah Perkawinan dan Keluarga, 1998-2016;
  • Narasumber Tim Pengendali Program Percepatan Belajar (PPB) Departemen Pendidikan Nasional, 1998-sekarang;
  • Konsultan Program Percepatan Belajar (PPB) beberapa sekolah penyelenggara PPB wilayah DKI dan Jawa Barat, 1998-sekarang;
  • Konsultan Psikologi Bidang Pendidikan Anak Berbakat dan Berkemampuan Luar Biasa, 1998;
  • Konsultan Pendidikan SMU Dwiwarna, 1998;
  • Anggota Tim Gugus Perancang Penelitian Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 1998;
  • Anggota Dewan Juri Penghargaan Adi Karya IKAPI, 1996;
  • Anggota Tim Peneliti dan Pengembangan Program Pendidikan bagi Peserta Didik yang memiliki Kemampuan dan Kecerdasan Luar Biasa, 1992;
  • Anggota Tim Penyusun Naskah Buku Pedoman Bina Keluarga dan Balita Dalam Ajaran Islam, 1990;
  • Anggota Gugus Protokol Universitas Indonesia, 1984;
  • Anggota Kelompok Kerja Pengembangan Pendidikan Anak Berbakat (KKPPAB) Balitbang Depdikbud, 1982-1986.

Penelitian[sunting | sunting sumber]

  • Evaluasi Kebijakan Layanan CIBI : Gambaran Layanan Pendidikan Cerdas Istimewa dan Bakat Istimewa SMA di Indonesia, Peran Keterampilan Sosial Emosi Siswa Berbakat, Stigma Keberbakatan, dan Intervensi terhadap Siswa Berbakat Atlit Underachiever, 2017;
  • Gender, Levelsof Intelligence, Academic Performance and Perfectionism in Indonesia Gifted and Non-Gifted Students, 2017;
  • The Relationships among Perfectionism, Goal Adjustment, and AcademicPerformance in Gifted Undergraduate Students, 2017;
  • Evaluasi Program Akselerasi : Studi Komparatif Alumni Program Akselerasi dan Program Reguler Dalam Nilai Kebangsaan dan Perilaku Inovatif, 2016;
  • Sikap Santri terhadap Faktor-Faktor yang mempengaruhi Radikalisme dan Upaya Pemerintah dalam Penanggulangan Radikalisme di Lingkungan Pesantren, 2015;
  • EnhancingSelf-Regulated Learning Skill and AcademicAchievement in Gifted Student Athlete with Underachievement;
  • Stigma of Giftedness on IntellectuallyGifted Adolescents in Islamic Village Junior High School: A Mixed-Methods Study;
  • Self-MonitoringIntervention Program to Enhance On-task Behavior and MathematicAcademic Performance for Elementary School Student with Learning Difficulty.

Publikasi[sunting | sunting sumber]

Pertemuan ilmiah regional dan internasional[sunting | sunting sumber]

  • Peserta The sixty-second session of the Commission on the Status of Women, United Nations Headquaryers in New York, 12 to 23 March 2018;
  • Peserta The International Academic Conference on Social Sciences di Singapura, 19 to 22 Dec 2017.
  • 2nd Regional Consultative Meeting ASEAN Civil Society Conference/ASEAN Peoples’s Forum di Vientienne, Laos, 2016;
  • 18th ACWO Board Meeting, di Bangkok, Thailand, 2016;
  • Asia-Pacific Regional Policy Forum on Early Childhood Care and Education di Bangkok, Thailand, 2013;
  • Peserta Regional ECCE Policy Forum di Seoul, South Korea, 2013;
  • Peserta Regional ECCE Policy Meeting di Manila, Philippines, 2013;
  • European Council for Higher Ability (ECHA), Pamplona, Spain, 2006;
  • Peserta Konferensi International Council of Psychologist (ICP), Singapore, 2002;
  • Anggota Delegasi Indonesia untuk pertemuan European Council for Higher Ability (ECHA), Rodos, Greece, 2002;
  • Anggota Delegasi Indonesia untuk pertemuan 14th World Conference on the Gifted and Talented Children, Barcelona, Spain, 2001;
  • Anggota Delegasi Indonesia untuk pertemuan 6th Asia Pacific Conference on Gifted and Talented, [[Beijing], China,2000;
  • Anggota Delegasi Indonesia untuk pertemuan 13th World Conference on the Gifted and Talented Children, Istanbul, Turki, 1999;
  • Anggota Delegasi Indonesia untuk pertemuan 5th Asia Pacific Conference on Gifted and Talented, New Delhi, India,1998;
  • Anggota Delegasi Indonesia untuk pertemuan 4th Asia Pacific Conference on Gifted and Talented, Jakarta, Indonesia, 1996;
  • Anggota Delegasi Indonesia untuk pertemuan 11th World Conference on the Gifted and Talented Children, Hongkong,1995;
  • Anggota Delegasi Indonesia untuk pertemuan 3th Asia Pacific Conference on Gifted and Talented, Seoul, Korea, 1994;
  • Anggota Delegasi Indonesia untuk pertemuan 10th World Conference on the Gifted and Talented Children, Toronto, Canada, 1993;
  • Anggota Delegasi Indonesia untuk pertemuan 2nd Asia Pacific Conference on Gifted and Talented, Taipei, Taiwan, 1992;
  • Anggota Delegasi Indonesia untuk pertemuan Ninth World Conference on the Gifted and Talented Children, The Hague, Netherland, 1991;
  • Pembicara Saikologi Rumah tangga, pada Jabatan Hal Ehwal Syara’iah Kementerian Hal Ehwal Ugama. Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam, 1989;
  • Partisipan Regional Workshop on the Role of Youth in the Promotion of Participatory Development. Penyelenggara UNDP, Kuala Lumpur, 1989;
  • Program Persahabatan Abad Ke-21 Indonesia-Jepang yang disebut Nakasone Program, kategori Youth Leader, 1988;
  • Peserta Konferensi International Council of Psychologist, Jakarta, 1988;
  • Peserta 2nd Asian Workshop on Child and Adolescent, Bangkok, 1982.

Penghargaan[sunting | sunting sumber]

Percik Pemikiran[sunting | sunting sumber]

Pamong belajar[sunting | sunting sumber]

Ketika menjabat Dijen Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal (PAUDNI), ia prihatin atas tunjangan fungsional pamong belajar yang saat itu belum sesuai dengan yang diharapkan. Jumlah pamong belajar juga dinilainya belum maksimal. “Jumlah pamong belajar yang ada sejumlah 3.476 orang. Sementara idealnya berdasarkan koridor MP3EI berjumlah 10.127 orang,” tuturnya. Ia berharap tunjangan fungsional pamong belajar sama dengan tunjangan guru pada pendidikan formal. [9] Menurutnya kalau berpikir konsisten maka Undang-Undang Republik Indonesia No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen harus lihat dalam kerangka yang luas. “Pamong belajar notabene adalah guru juga sehingga harus masuk dalam kategori yang disebutkan dalam Undang-undang tersebut diatas,” tegasnya. Pandangannya disampaikan dalam satu kesempatan rapat dengan agenda Revisi UU RI No 14 Tahun 2005, yang dipimpin oleh Prof. Dr. Syawal Gultom sebagai Kepala Badan Pembinaan SDM Kemdikbud saat itu. Intinya ia mengharapkan agar Pamong Belajar nasibnya diperhatikan dan meminta agar persoalan itu dimasukkan jika UU tersebut akan direvisi.

Prof. Reni berpandangan Pendidikan Non Formal-Informal keberadaannya sama pentingnya dengan Pendidikan Formal. Konsekuensinya jumlah Pamong Belajar yang semakin sedikit dan kurang peminatnya harus ditambah dan ditingkatkan kualitasnya agar keberadaaan mereka dapat dirasakan oleh masyarakat luas. Selain itu masalah tunjangan untuk Pamong Belajar yang hanya Rp 1.000,000,- /bulan tidak layak dan memadai, sehingga perlu disesuaikan dengan tunjangan seperti guru pada umumnya yang mengajar di jalur pendidikan formal.

Tempat penitipan anak[sunting | sunting sumber]

Selain itu, saat menjabat ia memperlihatkan kepeduliannya terkait dengan Tempat Penitipan Anak (TPA). “Dengan semakin banyaknya ibu yang bekerja untuk membantu perekonomian keluarga, Sementara anak mereka yang berusia dini butuh mendapatkan pengasuhan dan pendidikan sepanjang waktu. Oleh karena itulah tempat penitipan anak semakin banyak dibutuhkan,” katanya. Untuk itulah Prof Reni mendukung pendirian TPA di tempat-tempat kerja pemerintah, khususnya kementerian, lembaga, dan kedinasan. Ditjen PAUDNI juga mendorong DWP untuk mengakses bantuan sehingga dapat mendirikan TPA baru dan memperkuat TPA yang sudah ada. Diharapkan, setidaknya semua DWP di kementerian/lembaga pusat sudah memiliki TPA dalam waktu dekat. [10]

Keluarga dan perceraian[sunting | sunting sumber]

Prof. Reni juga kerap diminta pendapatnya sebagai psikolog dan konsultan masalah keluarga seperti perceraian. Menurut Reni, perceraian dipandang berbeda-beda oleh tiap orang. “Setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam memandang perceraiannya, terutama menyangkut kondisi kejiwaan atau psikologis pria dan wanita,” katanya. Ia mencontohkan, wanita yang bercerai mati tentulah psikologisnya tidak sama dengan yang cerai hidup. ”Kalau cerai mati mungkin tidak ada beban ketika akan memulai satu kehidupan baru. Tapi ternyata nggak mudah ketika dijalani karena dia juga berpikir apakah pria yang akan menjadi pasangannya kelak bisa sebaik suami sebelumnya,” terangnya. [11]

Kursus pra perkawinan[sunting | sunting sumber]

Di tengah kesibukannya sebagai dosen, ia sejak tahun 1988 bersama suami mewakafkan waktunya untuk menjadi konselor perkawinan di Badan Penasihatan Pembinaan dan Pelestarian Perkawinan (BP4) Pusat yang terletak di Mesjid Negara Istiqlal, Kamar 66. Banyaknya kasus-kasus perceraian yang ditangani, membuat ia memiliki visi dan sekaligus melanjutkan cita-cita mertuanya Dr. H. Ali Akbar agar canten (calon penganten) diberikan Kursus Pra-Nikah sebagaimana yang diberikan pada pasangan calon penganten dari kalangan Nasrani.[12] Kedudukannya sebagai Dirjen PAUDNI kala itu, membuat ia mampu mewujudkan sinergi BP4 Pusat dan PP PNFI Regional 1 Bandung. Ada 6 (enam) modul untuk dapat dijadikan pedoman oleh masyarakat beragama Islam untuk melakukan Kursus Pra-Nikah yang disebut “Pendidikan Keluarga Responsif Anak Usia Dini Bagi Remaja Usia Pra Perkawinan“ yaitu :

Unit layanan terpadu[sunting | sunting sumber]

Merespons cepat keluhan masyarakat yang capek mengurus perijinan terkait sekolah internasional di empat ditjen yang berbeda maka ia bernisiatif melakukan rapat koordinasi dengan empat Kepala Bagian Hukum dan Kepegawaian dari Ditjen yang memberikan Rekomendasi Pengajuan Tenaga Kerja Asing (RPTKA), Rekomendai Ijin Memperkerjakan Tenaga Asing (IMPTA) dan Rekomendasi Ijin Peserta Didik Asing. Rapat langsung dipimpin Ditjen Paudni untuk melakukan inventarisasi dari empat Kepala Bagian Hukum dan Kepegawaian yaitu Ditjen Dikdas, Ditjen Dikmen, Ditjen Paudni dan Ditjen Dikti yang tadinya melakukan kegiatan di unit kerja masing-masing terkait tiga hal aktivitas diatas. Hasil rapat koordinasi memantapkan gagasannya agar Kemdikbud memiliki unit layanan terpadu satu atap terkait masalah pengurusan yang berkaitan dengan RPTKA, IMPTA dan Rekomendasi Ijin Peserta Didik Asing.

Inovasi BMN[sunting | sunting sumber]

Saat menjabat Dirjen Paudni Prof. Reni melahirkan beberapa inovasi dalam implementasi TIK dalam dunia kerja diantaranya:

  • Sistem Registrasi untuk Disposisi Pengadaan (Serundeng). Sistem Informasi yang dibangun untuk mewadahi permintaan pengadaan dari satker lalu diteruskan kepada Unit Layanan Pengadaan untuk dilakukan proses pengadaan dan manajemennya.
  • Sistem Informasi Database Barang untuk Penataan Ruang (Sidabutar). Sistem Informasi yang dibangun untuk mewadahi pengelola Barang Milik Negara dalam melakukan proses penataan barang milik negara berbasis geografis secara real time dan manajemennya.
  • Sistem Informasi Elektronik Katalog (Sielek). Sistem Informasi yang dibangun untuk mewadahi pengelola perpustakaan atau pengelola arsip dalam penyimpanan koleksi-koleksi buku atau arsip berbasis pindaian digital dan manajemennya.

Hingga saat ini, Prof. Reni Akbar-Hawadi terus aktif dalam tridharma perguruan tinggi (pendidikan dan pengajaran, penelitian, dan pengabdian masyarakat). Pemikiran dan ide-ide konstruktifnya terutama terkait psikologi pendidikan senantiasa dibutuhkan untuk menciptakan karakter anak bangsa Indonesia yang sehat, kuat, dan dapat berkontribusi untuk bangsa dan negara.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Guru Besar". UI, Diakses 11 September 2017.
  2. ^ "Pelantikan Direktur Jenderal PAUDNI ". Kemdikbud Indonesia, 07 Februari 2012. Diakses 11 September 2017.
  3. ^ "Dirjen PAUDNI Kemendikbud Kerjasama dengan Stiepar Yapari Aktripa". Pikiran Rakyat , 23 Februari 2013. Diakses 13 September 2017.
  4. ^ "Struktur Fakultas". Psikologi UI, Diakses 11 September 2017.
  5. ^ "30.000 Desa Belum Terlayani PAUD". Kompas, 17 September 2012. Diakses 11 September 2017.
  6. ^ "PP FKPPI PERIODE 2008-2013". FKPPI, Diakses 11 September 2017.
  7. ^ " Adhyaksa Mengganti Lima Pimpinan Pramuka, Begini Alasannya ". Tempo, 22 Februari 2016. Diakses 12 September 2017.
  8. ^ " Konsultasi Pernikahan & Keluarga". Istiqlal, Diakses 13 September 2017.
  9. ^ "Ditjen PAUDNI Usulkan Kenaikan Tunjangan Pamong Belajar". Paud Dikmas, 9 Oktober 2012. Diakses 11 September 2017.
  10. ^ " Ditjen PAUDNI Bidik Pendirian TPA Bersama Dharma Wanita Persatuan". Dikmas, 19 Februari 2013. Diakses 12 September 2017.
  11. ^ " Ditjen PAUDNI Bidik Pendirian TPA Bersama Dharma Wanita Persatuan". Dikmas-Kemdikbud, 19 Februari 2013. Diakses 12 September 2017.
  12. ^ "Sekjen Depag: Masa Depan Bangsa Harus Diselamatkan Melalui Penguatan Lembaga Pernikahan". Kemenag, 16 September 2009. Diakses 13 September 2017.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Didahului oleh:
Hamid Muhammad, Ph.D
Dirjen Pendidikan Anak Usia Dini, Non-Formal, dan Informal
2012-2014
Diteruskan oleh:
Ir. Harris Iskandar, Ph.D