Kolonisasi daerah Timur oleh bangsa Jerman

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Bagian dari seri mengenai
Sejarah Jerman
IMPERIUM ROMANO-GERMANICUM oder DEUTSCHLAND MIT SEINEN ANGRANTZENDEN KÖNIGREICHEN UND PROVINCIEN. Neulich entworffen und theils gezeichnet durch IULIUM REICHELT, Chur Pfaltz
Topik
Sejarah awal
Abad Pertengahan
Modern Awal
Unifikasi
Reich Jerman
Kekaisaran Jerman1871–1918
Perang Dunia I1914–1918
Republik Weimar1918–1933
Jerman Nazi1933–1945
Perang Dunia II1939–1945
Jerman kontemporer
1945–1952
Pengusiran orang Jerman1944–1950
1949–1990
1990
Sejarah modernsejak 1990
Flag of Germany.svg Portal Jerman
Penduduk yang menuturkan Jerman di Eropa sebelum tahun 1938 sebagai hasil dari fenomena "Kolonisasi daerah Timur". Catatan: penutur bahasa Belanda sebagai sebuah dialek Jerman hilir ikut dihitung.

Kolonisasi daerah Timur oleh bangsa Jerman (bahasa Jerman: Ostsiedlung), adalah fenomena perantauan dan penetapan bangsa Jerman di daerah di Eropa Timur yang sebenarnya dihuni oleh bangsa Slavia, Baltik, Rumania, dan Hongaria yang mulai pada abad ke-12. Dalam diskusi ilmiah Jerman, frasa ini terutama merujuk kepada kembalinya penguasaan Sachsen terhadap daerah-daerah Sorbia dan Wendia, terutama di Brandenburg oleh "Albert sang Beruang" (bahasa Jerman: Albrecht der Bär).

Kolonisasi ulang oleh sukubangsa Jerman daerah-daerah di sebelah timur sungai Elbe dan Saale (yang kala itu dihuni oleh sukubangsa Slavia, suku Polabia) dan Styria serta Carinthia (yang dihuni oleh sukubangsa Slovenia) bermula dengan migrasi Jerman pada Abad Pertengahan. Selain itu migrasi penduduk Kanton Valais di Swiss menuju daerah yang sebelumnya dihuni oleh bangsa Romawi pada beberapa aspek juga mirip dengan Kolonisasi daerah Timur.

Kolonisasi ulang ini bermula pada abad ke-11 dan mencapai puncaknya pada awal abad ke-13. Gerakan-gerakan yang berbeda-beda ini kadang kala bersifat militaristis dan kadang-kadang bersifat damai, tergantung keadaan. Pada pertengahan abad ke-14, proses kolonisasi ini agak terhambat karena adanya wabah pes. Selain itu daerah-daerah yang paling baik telah terhuni. Namun biar bagaimanapun, para pemimpin setempat bangsa Slavia, di Pomerania dan Silesia pada Abad Pertengahan akhir, tetap mengundang bangsa Jerman untuk menetap di daerah-daerah mereka.

Pada abad ke-19, pengakuan fenomena kompleks ini dan diiringi dengan munculnya nasionalisme di Jerman, menuju je konsep Pan-Jermanisme dan Drang nach Osten yang pada gilirannya secara sebagian menambahkan munculnya konsep Lebensraum. Hasil daripada gagasan-gagasan nasionalis ini ialah bahwa orang-orang yang dianggap sebagai anggota bangsa Slavia oleh kaum Nazi menderita diskriminasi dan genosida. Pada dan setelah Perang Dunia II, orang-orang Jerman di sebelah timur garis Oder-Neisse diusir, dan memberikan hasil perbatasan bahasa Jerman menjadi lebih kecil dewasa ini daripada pada abad ke-10. Jadi pembersihan etnik oleh kaum Stalinis Slavia setelah Perang Dunia II, secara sebagian memutar kembali kolonisasi daerah-daerah Slavia dan Baltik yang dilakukan oleh sukubangsa Jerman pada masa Ostsiedlung. Namun sebagian besar daerah yang kala itu dikolonisasi oleh bangsa Jerman masih merupakan bagian dari Jerman.