Sejarah Jerman dalam Perang Dunia I

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Bundesarchiv Bild 101III-Moebius-029-19, Norwegen, Besuch Heinrich Himmler
Bundesarchiv Bild 101III-Moebius-029-19, Norwegen, Besuch Heinrich Himmler

Selama Perang Dunia I, Kekaisaran Jerman merupakan salah satu Kekuatan utama yang mengalami kekalahan dalam perang. Perang ini dipicu setelah Jerman mendeklarasi perang melawan Serbia oleh sekutunya, yaitu Austria dan Hungaria. Pasukan Jerman melawan Sekutu di front timur dan barat, meskipun wilayah Jerman sendiri relatif aman dari serbuan invasi sebagian besar perang, kecuali untuk periode yang singkat pada tahun 1914 ketika Prusia Timur diserbu. Sebuah blokade ketat yang diberlakukan oleh Angkatan Laut Kerajaan menyebabkan kekurangan pangan yang parah di kota-kota, terutama di musim dingin 1916-1917, yang dikenal sebagai Musim Dingin Turnip. Pada akhir perang, kekalahan Jerman dan ketidakpuasan rakyat yang meluas memicu Revolusi Jerman 1918-19 yang menggulingkan monarki dan mendirikan Republik Weimar.[1][2]

Gambaran Umum[sunting | sunting sumber]

Penduduk Jerman menanggapi pecahnya perang pada tahun 1914 dengan campuran emosi yang kompleks, serupa dengan populasi di negara lain di Eropa. Pemerintah Jerman, yang didominasi oleh Junkers, memikirkan perang tersebut sebagai cara untuk mengakhiri perselisihan Jerman dengan pesaingannya yaitu Prancis, Rusia dan Inggris. Pada awal perang di Jerman sebagai kesempatan bagi Jeman untuk mengamankan "our place under the sun" seperti yang dikatakan Menteri Luar Negeri Bernhard von Bülow, didukung kaum nasionalisme di kalangan masyarakat umum. Terlihat nyata bahwa Jerman tidak siap menghadapi perang yang berlangsung lebih dari beberapa bulan. Awalnya, sedikit yang dilakukan untuk mengatur ekonomi untuk sebuah pijakan masa perang, dan ekonomi perang Jerman akan tetap terorganisir dengan baik selama perang. Jerman bergantung pada impor makanan dan bahan baku, yang dihentikan oleh blokade Inggris di Jerman. Pada tahun 1915, lima juta babi dibantai di Schweinemord yang disebut untuk membuat makanan dan memelihara gandum. Selama perang dari bulan Agustus 1914 sampai pertengahan 1919, kelebihan kematian pada masa damai disebabkan oleh kekurangan gizi dan tingkat keparahan dan penyakit yang tinggi dan keputusasaan mencapai sekitar 474.000 warga sipil.[2]

Perang dari tahun ke tahun[sunting | sunting sumber]

1914 – 1915[sunting | sunting sumber]
German soldiers in a railroad car on the way to the front during early World War I, taken in 1914. Taken from greatwar.nl site

Tentara Jerman memulai perang di Front Barat dengan versi Schlieffen Plan, yang dirancang untuk segera menyerang Prancis melalui Belgia sebelum berbalik ke selatan untuk mengepung tentara Prancis di perbatasan Jerman. Orang-orang Belgia melawan untuk menggagalkan tentara Jerman. Orang-orang Jerman tidak ingin itu terjadi, dan menanggapinya dengan pembalasan terhadap warga sipil, sehingga menewaskan hampir 6.000 perompak non-Belgia, termasuk wanita dan anak-anak, dan membakar 25.000 rumah dan bangunan. Rencana tersebut menyerukan agar sayap kanan Jerman maju untuk bertemu di Paris, orang-orang Jerman sangat cerdik, terutama dalam Pertempuran Frontiers (14-24 Agustus). Pada 12 September, Prancis dengan bantuan dari pasukan Inggris menghentikan Jerman di timur Paris pada Pertempuran Pertama di Marne (5-12 September). Hari-hari terakhir dari peperangan ini menandai berakhirnya perang di wilayah barat. Serangan Prancis ke Jerman diluncurkan pada tanggal 7 Agustus dengan Battle of Mulhouse.[3]

1916[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 1916 ditandai dengan terjadinya dua pertempuran besar di front Barat, di Verdun dan Somme. Mereka masing-masing bertahan hampir sepanjang tahun dan menewaskan tentara terbaik kedua belah pihak. Verdun menjadi simbol ikon kekuatan pembunuh senjata modern yang membunuh, dengan 280.000 korban Jerman, dan 315.000 orang Prancis. Di Somme, ada lebih dari 400.000 korban Jerman, terhadap lebih dari 600.000 korban Sekutu. Di Verdun, orang-orang Jerman menyerang apa yang mereka anggap sebagai barang Prancis yang lemah yang bagaimanapun Prancis akan membela dengan alasan kebanggaan nasional. Somme adalah bagian dari rencana multinasional Sekutu untuk menyerang berbagai front secara bersamaan.[4]

1917[sunting | sunting sumber]

Pasokan tenaga kerja yang semakin berkurang, kesulitan yang meningkat di pertahanan depan, dan laporan korban yang terus meningkat. Sikap murung yang mulai berlaku di kalangan masyarakat umum. Puncaknya pada saat penggunaan pertama gas mustard dalam peperangan, dalam Pertempuran Ypres. Semangat kembali bergejolak oleh kemenangan melawan Serbia, Yunani, Italia, dan Rusia yang mendapat banyak keuntungan bagi Central Powers. Semangat yang terbesar sejak 1914 pada akhir tahun 1917 dan awal tahun 1918 adalah dengan kekalahan Rusia setelah dia bangkit menjadi revolusi, dan orang-orang Jerman bersiap untuk apa yang dikatakan Ludendorff sebagai "Serangan Perdamaian" di barat.[5]

1918[sunting | sunting sumber]

Pada musim semi 1918, Jerman menyadari bahwa waktu mereka akan hampir habis. sehingga Jerman mempersiapkan persiapkan untuk penyerangan dengan tentara baru dan taktik baru, dengan harapan dapat memenangkan perang di front Barat sebelum jutaan tentara Amerika muncul dalam pertempuran. Jenderal Erich Ludendorff dan Marsekal Lapangan Paul von Hindenburg memiliki kendali penuh atas tentara, mereka memiliki sejumlah besar bala bantuan yang dipindahkan dari front Timur, dan mereka melatih pasukan mereks dengan taktik baru untuk melewati parit dan menyerang pusat komando dan komunikasi musuh. Taktik baru memang akan mengembalikan mobilitas ke front Barat.[6]

Selama musim dingin tahun 1917-1918 bertema "quiet" para korban di Perbatasan Barat-Inggris rata-rata berkisar 3.000 per-minggu. Tentara Jerman membawa tentara terbaik mereka dari bagian timur, memilih pasukan elit, dan melatih mereka sepanjang musim dingin dalam taktik baru tersebut. Dengan artileri Jerman akan memberikan serangan mendadak yang menakutkan sesaat menjelang infanteri yang maju. Bergerak sedikit demi sedikit, lalu menembaki senapan mesin, dan akan melewati titik pertahanan musuh, dan langsung menuju jembatan kritis. Dengan memotong komunikasi musuh mereka akan melumpuhkan musuh dengan segera. Membungkam artileri mereka akan mematahkan petahanan musuh. Taktik stormtrooper memberikan mobilitas, tapi tidak meningkatkan daya tembak. Akhirnya - pada tahun 1939 dan 1940 taktik tersebut akan disempurnakan dengan bantuan pengebom dan kendaraan pengagkut yang kuat, namun pada tahun 1918 orang Jerman kekurangan keduanya.[6]

Resensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "World War I | Facts & History". Encyclopedia Britannica (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2017-12-15. 
  2. ^ a b "Flashcard World War 1 | Quizlet". Quizlet. Diakses tanggal 2017-12-15. 
  3. ^ Strachan, Hew (1998). The Oxford Illustrated History of the First World War (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. ISBN 9780198206149. 
  4. ^ Library, Hawaii eBook. "History of Germany during World War I | Hawaii eBook Library - eBooks | Read eBooks online". www.hawaiilibrary.net. Diakses tanggal 2017-12-15. 
  5. ^ "World War 1 German Soldiers". dulovo.info. Diakses tanggal 2017-12-15. 
  6. ^ a b Tucker, Spencer (2005). World War I: Encyclopedia (dalam bahasa Inggris). ABC-CLIO. ISBN 9781851094202.