Kasus Mortara

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search
Penculikan Edgardo Mortara karya Moritz Daniel Oppenheim, 1862. Gambaran peristiwa pengambilan paksa dalam lukisan ini agak menyimpang dari catatan sejarah. Menurut catatan sejarah, tidak ada rohaniwan yang hadir saat kejadian berlangsung.[1]

Kasus Mortara (bahasa Italia: caso Mortara) adalah cause célèbre di Italia yang menyita perhatian banyak orang di Eropa dan kawasan utara Benua Amerika pada era 1850-an dan 1860-an. Kasus ini berkaitan dengan tindakan pengambilan paksa, yang dilakukan oleh pemerintah Negara Gereja, terhadap salah seorang anak keluarga Yahudi di Bologna, yakni Edgardo Mortara, yang baru berumur enam tahun, atas dasar kesaksian seorang mantan pelayan keluarga Mortara bahwa Edgardo sudah dibaptis secara darurat ketika sakit saat masih bayi. Edgardo tumbuh menjadi seorang pemeluk agama Kristen Katolik di bawah asuhan Paus Pius IX, yang selalu menolak memulangkan Edgardo setiap kali diminta kembali oleh ayah dan ibu kandungnya. Edgardo akhirnya menjadi seorang imam Katolik. Kecaman terhadap tindakan pengambilan paksa ini, baik dari dalam maupun dari luar negeri, menjadi salah satu dari sekian banyak faktor penyebab runtuhnya Negara Gereja pada masa penyatuan Italia.

Pada akhir tahun 1857, Inkuisitor Bologna, Padri Pier Feletti, mendengar kabar bahwa Anna Morisi, yang pernah bekerja sebagai pelayan keluarga Mortara selama enam tahun, pernah membaptis Edgardo secara diam-diam karena khawatir anak itu akan mati lantaran sakit ketika masih bayi. Kongregasi Suci Tertinggi Inkuisisi Roma dan Sedunia bersikeras bahwa pembaptisan diam-diam ini telah membuat Edgardo menjadi warga Gereja Katolik. Karena Negara Gereja mengharamkan pengasuhan kanak-kanak Kristen oleh umat beragama lain, maka Kongregasi Suci Tertinggi Inkuisisi Roma dan Sedunia memerintahkan agar Edgardo dipisahkan dari keluarganya, dan diasuh oleh Gereja. Polisi baru mendatangi rumah keluarga Mortara selepas senja pada tanggal 23 Juni 1858, dan mengambil Edgardo secara paksa malam hari berikutnya.

Setelah ayah kandung Edgardo diizinkan mengunjunginya pada bulan Agustus dan bulan September, muncul dua versi wacana yang saling bertentangan. Menurut versi yang satu, Edgardo ingin pulang ke rumah keluarganya dan kembali memeluk agama leluhurnya, sementara menurut versi yang lain, Edgardo sudah menamatkan pelajaran katekismus dengan sempurna dan menghendaki agar kedua orang tuanya juga ikut menjadi pemeluk agama Kristen Katolik. Kecaman dunia Internasional datang bertubi-tubi, tetapi Sri Paus bergeming. Setelah pemerintah Negara Gereja di Bologna bubar pada tahun 1859, Padri Pier Feletti diperkarakan dengan dakwaan terlibat dalam kasus pengambilan paksa terhadap Edgardo Mortara. Pengadilan memutuskan bahwa Padri Pier Feletti hanya menjalankan tugasnya, dan oleh karena itu dibebaskan dari segala dakwaan. Di bawah asuhan Sri Paus selaku ayah angkat, Edgardo Mortara menjalani pendidikan imamat di Roma sampai Kerajaan Italia merebut kota itu pada tahun 1870, dan mengakhiri riwayat keberadaan Negara Gereja. Edgardo Mortara hijrah dari Italia, dan ditahbiskan menjadi imam di Perancis tiga tahun kemudian, saat berumur 21 tahun. Padri Edgardo Mortara menghabiskan sebagian besar masa hidupnya di luar Italia sampai akhir hayatnya di Belgia pada tahun 1940, setelah berumur 88 tahun.

Bagi banyak pihak, tindakan-tindakan Vatikan dalam Kasus Mortara sudah merangkum seluruh kekeliruan Negara Gereja, dan mengungkap pemerintahannya sebagai suatu bentuk anakronisme. Beberapa sejarawan beranggapan bahwa kasus ini adalah salah satu peristiwa terpenting selama masa jabatan Paus Pius IX, dan mengait-ngaitkan penanganan Kasus Mortara oleh Sri Paus pada tahun 1858 dengan hilangnya sebagian besar wilayah Negara Gereja pada tahun 1859. Kasus Mortara bahkan membuat Kaisar Perancis, Napoleon III, berubah sikap dari menentang menjadi mendukung gerakan penyatuan Italia. Historiografi tradisional Italia yang berkenaan dengan gerakan penyatuan Italia tidak banyak mengungkit Kasus Mortara, dan sebagian besar cendekiawan pada akhir abad ke-20 yang masih ingat akan kasus ini adalah cendekiawan-cendekiawan Yahudi, namun sebuah kajian atas Kasus Mortara yang dilakukan pada tahun 1997 oleh sejarawan Amerika Serikat, David Kertzer, menjadi awal dari usaha penelaahan kembali kasus ini secara lebih mendalam.

Latar belakang[sunting | sunting sumber]

Konteks politik[sunting | sunting sumber]

Gambar Paus Pius IX (menjabat 1846–1878) dalam majalah mingguan Harper's Weekly pada tahun 1867
Peta Italia pada tahun 1843. Roma adalah ibu kota Negara Gereja.

Negara Gereja, yang berdiri selama lebih dari satu milenium sejak sekitar tahun 754, adalah sekumpulan daerah di Italia yang diperintah secara langsung oleh Sri Paus selaku seorang penguasa berdaulat.[2] Kendali Gereja Katolik atas kota Roma dan daerah-daerah sekitarnya di kawasan tengah Italia umumnya dipandang sebagai perwujudan dari kuasa duniawi Sri Paus yang bersifat temporal selaku kepala monarki, bukan kuasa rohani Sri Paus selaku pemimpin tertinggi Gereja Katolik.[2][3] Seusai Perang Napoleon pada tahun 1815, negara-negara lain yang cukup besar di Italia adalah Kerajaan Sardinia di kawasan Eropa daratan, Kadipaten Agung Toskana di kawasan barat Jazirah Apenina, dan Kerajaan Dua Sisilia di Pulau Sisilia dan kawasan selatan Jazirah Apenina.[4] Aksi pendudukan Perancis atas Italia pada era 1790-an memang sangat mendongkrak ketenaran dan kewenangan rohani Sri Paus,[2] namun juga sangat merusak kredibilitas geopolitik Negara Gereja. Sejarawan David Kertzer berpendapat bahwa sepanjang kurun waktu 1850-an, Negara Gereja "yang dulu tampak begitu kukuh—hasil dari penerapan kaidah-kaidah agama—kini terlihat sangat rapuh".[5]

Paus Pius IX, yang terpilih pada tahun 1846, mula-mula dipandang oleh banyak orang sebagai seorang tokoh pembaru dan pemutakhir, yang diharapkan mampu memberi sumbangsih besar bagi gerakan penyatuan Italia, yakni gerakan yang disebut risorgimento (kebangunan kembali) di Italia. Kendati demikian, ketika revolusi meletus di Italia pada tahun 1848, ia menolak mendukung konfederasi pan-Italia dalam memerangi Kekaisaran Austria, yang menguasai Kerajaan Lombardia–Venesia di kawasan timur laut Italia.[6] Sikap Sri Paus ini memicu pemberontakan rakyat di wilayah Negara Gereja. Sri Paus terpaksa mengungsi ke Kerajaan Dua Sisilia, dan Republik Roma, yang diproklamasikan pada tahun 1849, dihancurkan melalui campur tangan Austria dan Perancis demi kepentingan Sri Paus. Kota Roma selanjutnya dijaga oleh pasukan Perancis, sementara pasukan-pasukan Austria ditempatkan di daerah-daerah lain dalam wilayah Negara Gereja. Penempatan pasukan-pasukan asing ini sangat menjengkelkan sebagian besar warga negara.[7] Paus Pius IX masih berpegang teguh pada pandangan tradisional bahwa keberadaan Negara Gereja sangat diperlukan demi menjamin kemerdekaan Sri Paus selaku kepala Gereja Katolik.[2] Ketenarannya agak pulih pada era 1850-an,[8] namun gerakan penyatuan Italia yang dipelopori oleh Kerajaan Sardinia terus-menerus meresahkannya.[2]

Umat Yahudi di Negara Gereja, yang berjumlah sekitar 15.000 jiwa pada tahun 1858,[5] merasa berutang budi pada Paus Pius IX karena menghapuskan aturan hukum lama yang mewajibkan mereka untuk mendengarkan khotbah di gereja sebanyak empat kali dalam setahun. Khotbah ini didasarkan atas bacaan Taurat mingguan untuk pekan yang bersangkutan, dan bertujuan untuk mendorong mereka memeluk agama Kristen.[9] Ia juga merubuhkan pintu-pintu gerbang kampung Yahudi di kota Roma, sekalipun ditentang oleh banyak orang Kristen.[10] Meskipun demikian, keleluasaan umat Yahudi masih tetap dibatasi banyak peraturan, dan sebagian besar dari mereka masih tetap bermukim di kampung Yahudi.[10]

Mortara dan Morisi[sunting | sunting sumber]

Edgardo Levi Mortara[n 1] adalah anak keenam dari delapan bersaudara yang lahir dari pasangan Salomone "Momolo" Mortara, seorang saudagar Yahudi, dan istrinya, Marianna, yang berasal dari keluarga Padovani. Edgardo lahir pada tanggal 27 Agustus 1851 di Bologna, salah satu dari empat legazioni pontificie (daerah tingkat I) di ujung utara wilayah Negara Gereja.[7] Keluarga Mortara pindah ke Bologna pada tahun 1850 dari Kadipaten Modena, yang terletak tepat di sebelah barat Bologna.[7] Umat Yahudi Bologna, yang berjumlah sekitar 900 jiwa, telah diusir dari kota itu pada tahun 1593 oleh Paus Klemens VIII.[14] Beberapa orang Yahudi, yang sebagian besar berprofesi sebagai saudagar seperti Momolo, kembali bermukim di Bologna pada era 1790-an, sehingga komunitas umat Yahudi dengan jumlah sekitar 200 jiwa kembali terbentuk di kota itu. Umat Yahudi Bologna mengamalkan ajaran agamanya secara diam-diam, tanpa rabi maupun sinagoga.[5] Negara Gereja secara resmi melarang umat Yahudi mempekerjakan pelayan yang beragama Kristen, tetapi keluarga-keluarga Yahudi yang taat beragama menganggap keberadaan pelayan-pelayan bukan Yahudi di rumah mereka sangat penting, karena pelayan-pelayan itu tidak terikat oleh hukum agama Yahudi sehingga boleh tetap mengerjakan tugas-tugas rumah tangga selagi umat Yahudi menunaikan kewajiban beristirahat pada hari Sabat.[15] Pada praktiknya, pejabat Gereja menutup mata terhadap pelanggaran aturan ini, dan hampir semua keluarga Yahudi mempekerjakan sekurang-kurangnya satu orang pelayan perempuan yang beragama Kristen Katolik.[15]

Beberapa bulan setelah Edgardo lahir, keluarga Mortara mempekerjakan pelayan baru yang bernama Anna "Nina" Morisi, seorang pemeluk agama Kristen Katolik berusia 18 tahun dari desa terdekat, San Giovanni in Persiceto. Sebagaimana kaum kerabat dan handai tolannya, Nina tidak berpendidikan.[16] Ia datang ke Bologna, mengikuti ketiga saudarinya, untuk bekerja dan menabung upahnya dalam rangka mengumpulkan harta bawaan mempelai perempuan yang ia perlukan supaya dapat menikah.[16] Pada awal tahun 1855, Nina hamil di luar nikah. Kejadian semacam ini lazim dialami gadis-gadis pelayan di Bologna kala itu.[17] Para majikan biasanya akan memecat pelayan mereka yang hamil di luar nikah, tetapi keluarga Mortara justru mengupahi Nina untuk tinggal di rumah seorang bidan sejak empat bulan menjelang bersalin sampai selesai bersalin, kemudian kembali bekerja di rumah mereka. Demi menjaga nama baik Nina maupun nama baik keluarga Mortara sendiri, para tetangga diberitahu bahwa Nina sedang sakit dan pulang kampung untuk memulihkan diri.[17] Nina menyerahkan bayinya ke sebuah panti asuhan, sesuai dengan ketentuan Negara Gereja bagi perempuan-perempuan yang melahirkan anak di luar nikah, dan selanjutnya kembali bekerja di rumah keluarga Mortara.[17] Ia terus mengabdi pada keluarga itu sampai dipekerjakan oleh keluarga lain di Bologna pada tahun 1857. Tak lama sesudah berganti majikan, Nina menikah dan pulang ke San Giovanni in Persiceto.[18]

Pengambilan paksa[sunting | sunting sumber]

Pemicu[sunting | sunting sumber]

Pada bulan Oktober 1857, Inkuisitor Bologna, seorang padri Dominikan yang bernama Pier Gaetano Feletti, mendengar desas-desus bahwa seorang pelayan Katolik pernah membaptis seorang kanak-kanak Yahudi secara diam-diam di Bologna.[19] Andaikata desas-desus ini memang benar, kanak-kanak Yahudi itu telah menjadi pemeluk agama Kristen Katolik dalam pandangan Gereja. Kenyataan ini memiliki efek samping yang bersifat sekuler maupun rohani, karena Gereja berpendirian bahwa kanak-kanak yang dianggap beragama Kristen tidak boleh diasuh oleh umat beragama lain, sehingga harus dipisahkan dari orang tuanya bilamana timbul keadaan yang demikian.[20] Kasus-kasus semacam ini bukan tidak lumrah terjadi di Italia pada abad ke-19, dan seringkali berkisar seputar tindakan pembaptisan terhadap seorang kanak-kanak Yahudi oleh seorang pelayan Kristen.[21] Menurut sikap resmi Gereja, umat Katolik tidak dibenarkan membaptis kanak-kanak Yahudi tanpa persetujuan orang tuanya, kecuali jika si kanak-kanak sudah dalam sakratulmaut. Khusus bagi kanak-kanak dalam sakratulmaut, Gereja beranggapan bahwa syarat meminta persetujuan orang tua dapat ditangguhkan demi menyelamatkan jiwa kanak-kanak yang bersangkutan agar masuk surga, sehingga mengizinkan tindakan pembaptisan tanpa persetujuan orang tua.[22] Banyak keluarga Yahudi khawatir anak-anak mereka dibaptis secara diam-diam oleh para pelayan Kristen mereka. Untuk mencegahnya, beberapa keluarga mewajibkan orang-orang Kristen, yang hendak berhenti menjadi karyawan mereka, untuk menandatangani akta notaris, yang berisi pernyataan bahwa mereka tidak pernah membaptis anak-anak majikan mereka.[23]

Basilika San Domenico di Bologna, difoto pada tahun 2006

Pelayan yang didesas-desuskan melakukan pembaptisan diam-diam ini adalah Anna Morisi. Setelah mendapatkan surat izin penyidikan dari Kongregasi Suci Tertinggi Inkuisisi Roma dan Sedunia (disebut pula Jawatan Suci), yakni badan pemantau dan pembela doktrin Kristen Katolik yang beranggotakan para kardinal, Padri Pier Feletti menginterogasi Anna Morisi di Basilika San Domenico, Bologna.[24] Anna mengaku bahwa sewaktu masih menjadi pelayan keluarga Mortara, bayi mereka, Edgardo, jatuh sakit berat saat ia rawat, membuatnya khawatir ia akan mati. Ia berkata bahwa ia melakukan pembaptisan darurat—memerciki sedikit air di kepala bocah tersebut dan berkata: "Aku membaptismu dalam Nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus"—namun tak pernah memberitahukannya kepada keluarga anak tersebut. Edgardo sejak itu pulih. Feletti telah bersumpah kepada Morisi bahwa ia akan menjaga kerahasiaan cerita tersebut dan mengirim sebuah pesan kepada sebuah pertemuan di Roma, meminta izin untuk mengambil Edgardo yang berusia enam tahun dari keluarganya.[25]

Tidak diketahui oleh para sejarawan apakah Paus Pius IX ikut dalam diskusi Jawatan Suci awal atas Mortara, atau menyadari penyelidikan awal Feletti. Ia merupakan kepala kantornya namun jarang menghadiri pertemuannya, dan tampaknya tak berkonsultasi tentang apa yang para kardinal pandang sebagai materi-materi rutin.[24] Bagi Jawatan Suci, situasi semacam itu yang dilaporkan oleh Feletti menghadirkan kebingungan yang mendalam—di satu sisi, Gereja resmi menolak perpindahan agama paksa,[26] namun di sisi lain menganggap bahwa sakramen pembaptisan bersifat keramat dan jika dilakukan, penerimanya setelah itu dianggap menjadi anggota komuni Kristen.[26] Menurut hukum Negara Gereja, mengambil anak dari orang tua non-Kristen untuk dibaptiskan merupakan hal ilegal, namun jika anak tersebut telah dibaptiskan lebih dulu, maka Gereja memegang tanggung jawab untuk menyediakan pendidikan Kristen.[27][n 2] Para kardinal menyoroti catatan Morisi dan secara mutlak menerimanya sebagai "seluruh tanda kebenaran tanpa meninggalkan keraguan tentang kenyataan dan validitas pembaptisan yang ia lakukan".[28] Feletti memerintahkan agar Edgardo diambil dan dibawa ke Dewan Katekumen di Roma, dimana pengarahan diberikan kepada orang-orang yang baru berpindah agama atau dalam proses berpindah ke agama Katolik.[29][n 3]

Pelaksanaan[sunting | sunting sumber]

Penjelasan dari carabinieri (polisi militer) kepausan pimpinan Marsekal Pietro Lucidi dan Brigadir Giuseppe Agostini datang ke apartemen Mortara di Bologna tak lama setelah petang pada 23 Juni 1858. Setelah menanyai beberapa pertanyaan tentang keluarga tersebut, Lucidi menyatakan: "Signor Mortara, Aku minta maaf untuk memberitahukanmu bahwa kamu adalah korban pengkhianatan",[30] dan menjelaskan bahwa mereka diperintah Romo Feletti untuk mengambil Edgardo karena ia telah dibaptiskan.[30] Marianna berteriak histeris, berlari ke kasur Edgardo dan mengancam agar mereka membunuhnya dulu sebelum mengambilnya.[30] Lucidi tetap bersikukuh bahwa ia hanya mengikuti perintah Feletti. Setelah itu, ia menyatakan bahwa ia "akan seribu kali lebih suka menyoroti bahaya yang lebih serius dalam menjalani tugas-tugasnya ketimbang menyaksikan suasana menyakitkan semacam ini."[30][n 4]

Lucidi memerintahkan ayah Edgardo menemani mereka ke hadapan inkuisitor untuk membicarakan materi tersebut dengannya—Momolo menolak—kemudian membolehkan Momolo untuk mengirim putra sulungnya Riccardo untuk mengadukannya kepada para kerabat dan tetangga. Paman Marianna, Angelo Padovani, seorang anggota berpengaruh dari komunitas Yahudi Bologna, menyatakan bahwa satu-satunya harapan mereka adalah mengajukan banding kepada Feletti.[30] Inkuisitor tersebut bertemu dengan Padovani dan saudara ipar Marianna, Angelo Moscato di San Domenico tak lama setelah pukul 23.00. Seperti halnya Lucidi, Feletti berkata bahwa ia hanya mengikuti perintah. Ia menjelaskan kenapa ia berpikir bahwa Edgardo telah dibaptiskan, berkata bahwa ini merupakan kerahasiaan. Saat ia memberikan keluarga tersebut setidaknya satu hari bersama dengan Edgardo Lucidi, inkuisitor tersebut menyatakan bahwa tak ada upaya yang membuat jiwa anak tersebut pergi. Ia memberikan sebuah catatan kepada Padovani untuk diberikan kepada marsekalnya. Lucidi pergi sesuai perintah, meninggalkan dua pria bertahan di kamar tidur keluarga Mortara dan mengamati Edgardo.[30]

Keluarga Mortara menjalani pagi 24 Juni dengan berupaya untuk mengadukan tindakan Feletti kepada legatus kardinal di kota tersebut, Giuseppe Milesi Pironi Ferretti, atau Uskup Agung Bologna, Michele Viale-Prelà, namun mereka sedang tidak berada di kota tersebut.[31] Pada siang harinya, keluarga Mortara memutuskan untuk membuat perpisahan seperti apapun menyakitkannya. Para saudara Edgardo mengunjungi para kerabatnya sementara Marianna lebih menjalani sore harinya dengan istri Giuseppe Vitta, seorang teman keluarga Yahudi.[31] Sekitar pukul 17.00, Momolo mendatangi San Domenico untuk meminta kesempatan terakhir kepada Feletti. Inkuisitor tersebut bersikukuh akan semua yang ia katakan kepada Padovani dan Moscato pada malam sebelumnya dan berkata kepada Momolo agar ia tak perlu khawatir karena Edgardo akan dirawat lebih baik, di bawah perlindungan Sri Paus sendiri. Ia memperingatkan bahwa tak ada manfaatnya untuk melakukan tindakan apapun saat carabinieri datang pada sore harinya.[31]

Momolo pulang ke rumah dan mendapati bahwa apartemennya kosong, ditinggali oleh Vitta, saudara Marianna (juga disebut Angelo Padovani), dua polisi dan Edgardo sendiri.[31] Pada sekitar pukul 20.00, carabinieri datang, dalam dua gerbong—yang satu untuk Lucidi dan pasukannya, dan yang lainnya dimana untuk Agostini yang akan membawa Edgardo. Lucidi masuk apartemen dan mengambil Edgardo dari gendongan ayahnya, dua polisi yang mengambilnya pun meneteskan air mata.[31] Momolo mengikuti polisi tersebut di sepanjang perjalanan, kemudian pingsan. Edgardo diambil Agostini dan dibawa pergi.[31]

Upaya banding[sunting | sunting sumber]

Banding awal; Penyatronan Morisi[sunting | sunting sumber]

Giacomo Antonelli
Giacomo Antonelli, kepala pemerintahan Sri Paus sebagai Kardinal Sekretaris Negara

Dengan tanpa mengetahui cara dimana bocah tersebut diambil—Momolo baru menemuinya pada awal Juli—keluarga Mortara, didukung oleh komunitas Yahudi di Bologna, Roma dan tempat lainnya di Italia, awalnya berfokus pada pengajuan banding dan berusaha untuk menggaet dukungan dari Yahudi di luar negeri.[32] Suara publik yang sangat lantang direbakkan oleh Yahudi di negara-negara Eropa barat menyusul pergerakan kebebasan pers, disertai dengan emansipasi politik Yahudi di Kerajaan Sardinia, Inggris, Perancis dan Amerika Serikat, menyebabkan pengambilan Mortara meraih perhatian pers melebihi insiden semacam itu yang terjadi pada masa sebelumnya.[33] Pemerintah kepausan awalnya menghiraukan ajuan banding Momolo, namun direkondisikan setelah surat-surat kabar mulai mengabarkan kasus tersebut;beberapa penentang negara kepausan menganggap peristiwa tersebut sebagai contoh tirani kepausan.[34]

Dalam rangka mempertahankan pendirian diplomatik Negara Gereja, Sekretaris Kardinal Negara Giacomo Antonelli berkomplot dengan komunitas Yahudi di Roma untuk mengadakan sebuah pertemuan dengan Momolo Mortara, dan bertemu dengannya pada awal Agustus 1858.[35] Antonelli menjanjikan bahwa masalah tersebut akan diajukan kepada Sri Paus dan menerima permintaan Momolo agar ia diperbolehkan untuk giat mengunjungi Edgardo di Dewan Katekumen.[35] Kertzer menyatakan bahwa perizinan kunjungan Antonelli bertentangan dengan pertemuan tunggal yang biasanya, karena kasus Mortara meraih signifikansi istimewa.[35]

Upaya keluarga Mortara dan para sekutu mereka untuk mengidentifikasi siapa yang membaptis Edgardo dengan cepat membuahkan hasil. Setelah pelayan mereka dihadirkan, Anna Facchini menyangkal keterlibatan apapun, mereka mengumpulkan para bekas pelayan mereka dan kemudian menyatakan Morisi sebagai kandidat yang memungkinkan. Pada akhir Juli 1858, rumah Mortara dikunjungi oleh Ginerva Scagliarini, seorang rekan dari Morisi yang sempat bekerja untuk saudara ipar Marianna, Cesare De Angelis. Saudara Marianna, Angelo Padovani mengetes Scagliarini dengan secara ngawur berkata bahwa ia telah mendengar bahwa Morisi yang telah membaptis Edgardo. Scagliarini berkata bahwa ia diceritakan hal yang sama oleh saudari Morisi, Monica.[36]

Angelo Padovani datang dengan De Angelis untuk menyatroni Morisi di San Giovanni in Persiceto. Padovani menemukan dirinya sedang menangis.[37] Setelah para pengunjung menyatakan bahwa mereka tak akan mengapa-apakannya, Morisi mengaku bahwa ia telah mengatakannya kepada Feletti. Ia berkata bahwa seorang pedagang bernama Cesare Lepori menyarankan pembaptisan saat ia berkata bahwa Edgardo sakit, dan ia menurutinya. Ia tidak menceritakannya kepada siapapun, sampai setelah saudara Edgardo, Aristide wafat pada usia satu tahun pada 1857—saat seorang pelayan tetangga bernama Regina membujuk agar Morisi harus membaptiskan Aristide, ia berkata bahwa ia melakukannya kepada Edgardo "terselip dari mulutku".[37] Menurut Padovani, Morisi dikatakan menangis saat ia diinterogasi oleh inkuisitor, dan mengekspresikan penyesalannya terhadap pengambilan Edgardo: "menandakan bahwa itu semua salahku, aku sangat tak bahagia, dan masih akan terus seperti itu."[37] Morisi menyepakati bila pernyataannya dicatat, namun melarikan diri saat Padovani dan De Angelis pulang setelah tiga jam dengan seorang notaris dan dua saksi mata.[n 5] Setelah pencarian tersebut, mereka kembali ke Bologna dengan satu-satunya catatan yang mereka dengar dari ceritanya, yang Padovani tanggapi dengan berkata: "Kata-katanya, dan sikapnya, dan tangisnya sebelum ia mencurahkan kisahnya, membuatku menganggap bahwa apa yang ia ceritakan kepadaku adalah benar semua."[37]

Dua penjelasan[sunting | sunting sumber]

Edgardo dikunjungi oleh ayahnya beberapa kali di bawah naungan rektor Katekumen, Enrico Sarra, dari pertengahan Agustus sampai pertengahan September 1858. Catatan yang sangat berbeda dari apa yang terjadi pada saat pertemuan tersebut berkembang menjadi dua penjelasan yang berseberangan dari keseluruhan kasus tersebut. Versi Momolo dari peristiwa tersebut, yang dipegang oleh komunitas Yahudi dan bekingan lainnya, adalah bahwa sebuah keluarga telah dihancurkan oleh fanatisisme keagamaan dari pemerintahan, Edgardo yang tak tertolong menjalani perjalanan ke Roma sambil menangisi orang tuanya, dan bahwa bocah tersebut tak menginginkan apapun selain kembali ke rumah.[38][n 6] Penjelasan yang dipegang oleh Gereja dan para pendukungnya, dan dicantumkan dalam pers Katolik di seluruh Eropa, adalah salah satu penebusan jiwa yang diperintahkan ilahi, dan seorang anak dipulihkan dengan kekuatan spiritual pada tahun-tahun belakangan—Edgardo telah menghadapi kehidupan yang salah yang diikuti oleh kutukan besar namun sekarang berdiri untuk berbagi dalam keselamatan Kristen, dan menyayangkan orang tuanya yang tidak ikut berpindah agama dengannya.[38]

Tema utama dalam hampir setiap pengisahan keluarga Mortara adalah tentang kesehatan Marianna Mortara. Dari Juli 1858 dan seterusnya, seluruh Eropa mengabarkan tentang akibat dari kesedihannya, ibu Edgardo benar-benar menjadi gila, dan bahkan hampir mau mati.[40] Citra kuat dari seorang ibu yang sakit hatinya sangat ditekankan dalam banding keluarga tersebut baik kepada publik maupun kepada Edgardo sendiri. Momolo dan sekretaris komunitas Yahudi Roma, Sabatino Scazzocchio, berkata kepada Edgardo bahwa kehidupan ibunya menjadi beresiko jika ia tidak kembali.[40] Saat Marianna menulis pesan kepada putranya pada bulan Agustus, Scazzocchio menolak untuk mengirim surat tersebut atas dasar bahwa, dengan nada berulang dan relatif tenang, hal tersebut dapat melawan penekanan mereka yang berupaya untuk memberitahukannya bahwa ibunya tak kuat ditinggal dan hanya ingin kepulangannya dengan selamat.[40] Salah satu koresponden melaporkan pada Januari 1859: "Sang ayah menunjukkan kesepakatan besar, namun sang ibu menjalani waktu sulit dalam menghadapinya. ... Jika Bapa Suci memandang wanita ini seperti aku memandangnya, ia tak akan menahan putranya pada momen lainnya."[41][n 7]

Terdapat beberapa versi berbeda dari cerita Katolik, namun semuanya mengikuti struktur dasar yang sama. Semuanya sama-sama menyatakan bahwa Edgardo dengan cepat dan tekun memahami agama Kristen dan berupaya untuk memahaminya sebisa mungkin.[42] Kebanyakan mengisahkan adegan dramatis dari Edgardo yang menjadi takjub dengan lukisan Bunda Maria dalam kesedihan, baik di Roma atau saat perjalanan dari Bologna.[42] Agostini, polisi yang membawanya ke Roma, mengabarkan bahwa bocah tersebut mula-mula enggan masuk gereja dengannya untuk misa, namun mengalami perubahan drastis saat ia mengikutinya.[n 8] Sebuah pernyataan umum menyatakan bahwa Edgardo menjadi berbakat—menurut catatan seorang saksi mata yang diterbitkan dalam L'armonia della religione colla civiltà Katolik, ia telah mempelajari katekisme dengan sempurna dalam beberapa hari, "memberkati pelayan yang membaptisnya," dan mendeklarasikan bahwa ia ingin memasukkan semua Yahudi ke dalam agama Kristen.[42] Artikel pro-Gereja yang sangat berpengaruh tentang Mortara adalah sebuah catatan yang diterbitkan dalam majalah periodikal Yesuit La Civiltà Cattolica pada November 1858, dan kemudian dicetak ulang atau dikutip dalam surat-surat kabar Katolik di seluruh Eropa.[44] Kisahnya menyatakan bahwa anak tersebut meminta rektor Katekumen agar tidak mengirimnya pulang namun dibesarkan di sebuah rumah Kristen, dan menimbulkan apa yang menjadi titik utama dari penjelasan pro-Katolik—bahwa Edgardo memiliki sebuah keluarga baru, yakni Gereja Katolik itu sendiri.[44] Artikel tersebut menyatakan bahwa Edgardo berkata: "Aku dibaptis; Aku dibaptis dan bapakku adalah Sri Paus."[44]

Menurut Kertzer, susunan dari penjelasan pro-Gereja tersebut tidak terlihat nyata sehingga beberapa catatannya terdengar "terlalu bagus untuk menjadi nyata" dan "rancu."[44] Kertzer beranggapan: "Jika Edgardo pada kenyataannya berkata kepada ayahnya bahwa ia tidak ingin pulang dengannya, bahwa ia sekarang menerima Sri Paus sebagai ayahnya yang sebenarnya dan ingin mencurahkan hidupnya untuk memindahkan agama orang-orang Yahudi, pernyataan tersebut tak selaras dengan Momolo."[44] Liberal, Protestan dan Yahudi di seluruh benua tersebut mencemooh laporan pers Katolik.[44] Sebuah buklet yang diterbitkan di Brussels pada 1859 menjelaskan dua penjelasan yang berseberangan, yang menyatakan bahwa: "Antara mukjizat seorang rasul berusia enam tahun yang ingin memindahkan agama orang-orang Yahudi dan tangisan seorang anak yang ingin tetap bersama dengan ibu dan adik-adik kecilnya, kami tak ragu-ragu untuk sebuah momen."[44] Orang tua Mortara secara resah menuduh bahwa catatan-catatan Katolik tersebut bohong, namun beberapa pendukung mereka kurang tau tentang dimana Edgardo berada. Salah satunya adalah Scazzocchio, yang menghadiri beberapa pertemuan yang dipersengketakan di Katekumen.[44]

Penyangkalan Lepori; Morisi disudutkan[sunting | sunting sumber]

Momolo kembali ke Bologna pada akhir September 1858 setelah dua saudara iparnya menyatakan kepadanya bahwa jika ia tetap di Roma, keluarganya akan berantakan.[45] Ia meninggalkan Scazzocchio untuk mewakili keluarganya di Roma.[46][n 9] Momolo mengalihkan prioritasnya untuk berupaya memastikan kredibilitas Morisi, dengan memastikan aspek-aspek ceritanya atau menunjukkan bahwa ia tidak benar. Ia juga menyoroti Cesare Lepori, seorang pedagang yang Morisi katakan menyarankannya pembaptisan dan menunjukannya bagaimana cara melakukannya.[47] Berdasarkan pada cerita Morisi, Lepori telah diidentifikasi oleh beberapa pengamat bahwa ia bertanggung jawab terhadap masalah tersebut.[47] Saat Momolo memergoki tokonya pada awal Oktober, Lepori menyangkal habis-habisan bahwa ia pernah berkata kepada Morisi tentang Edgardo atau pembaptisan apapun, dan berkata bahwa ia siap menerima dampak apapun dari otoritas hukum manapun.[47] Ia mengklaim bahwa ia sendiri tak tahu cara membaptis, sehingga akan sangat rancu terjadi seperti yang dikisahkan Morisi.[47]

Carlo Maggi, seorang Katolik pendukung Momolo yang juga merupakan pensiunan hakim, mengirim sebuah laporan penyangkalan Lepori kepada Scazzocchio, yang meminta Antonelli untuk meneruskannya kepada Sri Paus. Sebuah surat yang ditujukan kepada pernyataan Maggi menyatakan bahwa cerita Morisi palsu.[48] Scazzocchio juga mendatangkan dokter keluarga Mortara, Pasquale Saragoni, yang mengakui bahwa Edgardo jatuh sakit saat ia berusia satu tahun, namun menyatakan bahwa ia tak pernah dalam keadaan sekarat, dan bahwa dalam kasus apapun, niat Morisi sendiri yang pada waktu itu membuatnya membaptis bocah tersebut.[49] Laporan lebih lanjut dikirim dari Bologna pada Oktober 1858, membandingkan pernyataan delapan wanita dan satu pria, semuanya Katolik, yang mendukung klaim dokter tersebut tentang sakit Edgardo dan Morisi, dan menuduh bahwa bekas pelayan tersebut melakukan pencurian dan penyimpangan seksual.[49] Empat wanita, termasuk pelayan Anna Facchini dan wanita yang mempekerjakan Morisi setelah ia meninggalkan keluarga Mortara, Elena Pignatti, mengklaim bahwa Morisi sering merayu para perwira Austria dan mengundang mereka ke rumah karyawannya untuk berhubungan badan.[49]

Alatri, kemudian kembali ke Roma[sunting | sunting sumber]

Momolo berencana ke Roma lagi pada 11 Oktober 1858, kali ini membawa Marianna bersama dengannya dengan harapan bahwa kehadirannya membuat dorongan yang lebih kuat terhadap Gereja dan Edgardo.[50] Khawatir terhadap kemungkinan reunifikasi dramatis antara ibu dan putra, rektor Enrico Sarra membawa Edgardo dari Roma ke Alatri, kampung halamannya sendiri yang berjarak sekitar 100 kilometer (62 mi) jauhnya. Keluarga Mortara menyusul mereka ke sebuah gereja di Alatri, dimana dari pintu, Momolo melihat seorang imam sedang memimpin misa—dan Edgardo di sampingnya sedang mendampinginya.[50] Momolo menunggu di luar, dan setelah itu membujuk sang rektor untuk lekas menengok putranya. Sebelum pertemuan tersebut dilakukan, keluarga Mortara ditangkap atas perintah Wali kota Alatri, mengikuti permintaan dari uskup kota tersebut, dan disuruh kembali ke Roma. Antonelli tak tinggal diam, memandangnya sebagai tindakan tak pantas yang dapat dijadikan alat bagi para penentang Gereja, dan memerintahkan Sarra untuk mengirim Edgardo kembali ke ibukota untuk menemui orang tuanya.[50]

Edgardo kembali ke Katekumen pada 22 Oktober, dan sering dikunjungi oleh orang tuanya sepanjang bulan berikutnya.[51] Seperti haknya kunjungan pertama Momolo, terdapat dua versi berbeda dari apa yang terjadi. Menurut orang tua Edgardo, bocah tersebut diintimidasi oleh rohaniwan di sekitarnya dan melemparkan dirinya sendiri dalam pangkuan ibunya saat ia pertama kali melihatnya. Marianna kemudian berkata: "Ia kehilangan berat badan dan jadi pucat; matanya diisi dengan teror ... Aku berkata kepadanya bahwa ia lahir sebagai orang Yahudi seperti kami dan seperti halnya kami, ia harus selalu menjadi salah satunya, dan ia menjawab: 'Si, mia cara mamma, Aku tak akan pernah lupa untuk mengucapkan Shema setiap hari.'"[51][n 10] Sebuah laporan dalam pers Yahudi menyatakan bahwa para imam berkata kepada orang tua Edgardo bahwa Allah telah memilih putranya untuk menjadi "rasul Kristen bagi keluargnya, dicurahkan untuk mempertobatkan orang tuanya dan saudara-saudaranya",[51] dan bahwa mereka akan mendapatkannya lagi jika mereka juga menjadi Kristen. Para rohaniwan dan biarawati kemudian mendoakan rumah tangga Mortara, mengharapkan agar orang tua Edgardo meninggalkan prasangka buruk.[51]

Sebaliknya, catatan pro-Gereja menyatakan bahwa bocah yang sangat senang untuk menetap tersebut dibujuk oleh ibunya agar kembali ke Yudaisme.[53] Dalam penjelasan tersebut, alasan utama kedatangan keluarga Mortara tersebut bukan untuk mengambil putra mereka, melainkan karena ia sekarang makin bertumbuh dalam iman Kristen. Menurut La Civiltà Cattolica, Marianna menjadi meradang saat melihat sebuah medali tergantung dari leher Edgardo yang mencantumkan gambar Bunda Maria dan mengoyakannya; sebuah artikel lebih jauh mengklaim bahwa ibu Yahudi tersebut melakukannya dengan berkata: "Aku lebih suka melihatmu mati ketimbang menjadi Kristen!"[53] Beberapa kritikus Gereja mendakwa bahwa dengan menahan Edgardo, hal tersebut melanggar perintah yang menyatakan bahwa seorang anak harus menghormati ibu bapanyaLa Civiltà Cattolica menangkisnya dengan menyatakan bahwa Edgardo masih mengasihi keluarganya meskipun mereka berbeda keyakinan dan menulis surat pertamanya kepada ibunya, setelah diajarkan para imam untuk membaca dan menulis, bertanda tangan "putra kecilmu yang sangat dikasihi".[53] Louis Veuillot, penyunting ultramontane dari surat kabar L'Univers dan salah satu pembela terkuat dari Sri Paus, dikabarkan setelah bertemu Edgardo di Roma, bocah tersebut berkata kepadanya "bahwa ia mengasihi ibu bapanya, dan bahwa ia akan tinggal dengan mereka saat sudah besar ... sehingga ia dapat berkata kepada mereka tentang Santo Petrus, Allah dan Maria paling Kudus."[54]

Perebakan[sunting | sunting sumber]

Skandal internasional; makinasi politik[sunting | sunting sumber]

Napoleon III dari Perancis adalah salah satu figur internasional yang mengecam tindakan Negara Gereja terhadap Mortara.

Tak berhasil di Roma, Momolo dan Marianna Mortara pulang ke Bologna pada awal Desember 1858,[55] dan setelah itu pindah ke Torino, Piedmont.[56] Kasus tersebut—sebuah "mimpi publisit" anti-Katolik, kutip Kertzer—sekarang menjadi kontroversi masif di Eropa dan Amerika Serikat, dengan suara-suara dari seluruh spektrum politik mendorong agar Sri Paus mengembalikan Edgardo ke orang tuanya.[27][55] Mortara tak hanya menjadi cause célèbre bagi Yahudi namun juga bagi Kristen Protestan, terutama di Amerika Serikat, dimana sentimen anti-Katolik merebakThe New York Times menerbitkan lebih dari 20 artikel tentang kasus tersebut pada Desember 1858 sendiri.[57] Di Inggris, The Spectator menyebut kasus Mortara sebagai bukti bahwa Negara Gereja merupakan "pemerintahan terburuk di dunia—paling blangsak dan paling arogan, tak diragukan dan sangat dimengerti".[58] Pers Katolik di Italia dan luar negeri membela tindakan Sri Paus.[59] Artikel-artikel pro-Gereja seringkali memegang sikap anti-Semitik, menyatakan bahwa sorotan di Inggris, Perancis atau Jerman sebagai kritikan mengejutkan "semenjak surat-surat kabar di Eropa berada di tangan Yahudi".[60][61] Scazzocchio berpendapat bahwa Gereja sebenarnya bersifat kontra-produktif terhadap sebab keluarga Mortara, karena hal tersebut memurkai Sri Paus dan sehingga ia memutuskan untuk tidak bergeming.[62]

Tidak jelas apakah Paus Pius IX telah secara pribadi terlibat dalam keputusan untuk mengambil Mortara dari orang tuanya—apakah ia telah atau tidak berdebat secara ekstensif dalam pers—apakah ia sangat terkejut dengan sorotan internasional yang meletup atas peristiwa tersebut, dan memegang posisi untuk memulangkan anak yang dibaptiskan tersebut kepada orang tua non-Kristennya yang akan sangat bertentangan dengan doktrin Gereja.[63] Karena pemerintah-pemerintah luar negeri dan berbagai cabang dari keluarga Rothschild satu per satu mengecam tindakannya, Pius IX menyatakan bahwa ia berpendirian pada apa yang ia pandang sebagai materi prinsip.[64] Salah satu tokoh yang mengecam meliputi Kaisar Napoleon III dari Perancis, yang mengetahui bahwa peristiwa tersebut mengancam keberadaan garisun Perancis-nya di Roma.[65] Napoleon III telah mendukung pemerintahan temporal Sri Paus karena mendapatkan banyak dukungan dari umat Katolik Perancis; skandal atas Mortara menyadarkannya, dan menurut sejarawan Roger Aubert, membuat keputusan akhir untuk mengubah kebijakan Perancis.[65] Pada Februari 1859, Napoleon III mengadakan pakta rahasia dengan Kerajaan Sardinia yang menyediakan dukungan militer Perancis untuk sebuah kampanye untuk mendompleng Austria dan menyatukan Italia—kebanyakan domain kepausan direbut bersama dengan Dua Sisilia dan negara-negara kecil lainnya.[66][n 11]

Kemudian, Sri Paus menerima seorang delegasi dari komunitas Yahudi Roma tak lama setelah Tahun Baru. Pertemuan pada 2 Februari 1859 dengan cepat berujung pada sebuah argumen panas, dengan Paus Pius menyatakan kepada para pengunjung Yahudi untuk "menarik kabar di seluruh belahan Eropa tentang kasus Mortara tersebut".[67] Saat delegasi menyangkal bahwa Yahudi dari Roma telah menimbulkan artikel-artikel anti-rohaniwan, Sri Paus menuduh Scazzocchio tidak berpengalaman dan bercanda, kemudian menyatakan: "Surat-surat kabar dapat menulis semua yang mereka inginkan. Aku tak peduli dengan apa yang dunia pikirkan!"[67] Sri Paus kemudian meneruskannya dengan berkata: "Sekuat apa yang aku miliki bagimu, sehingga aku melindungimu, karena itu, aku harus melindungimu."[67] Salah satu delegasi mengusulkan agar Gereja tidak memberikan pernyataan apapun terhadap Morisi, menganggapnya kelewatan moral—Sri Paus membalasnya bahwa sikapnya tak bermutu, sehingga ia memandang pelayan tersebut tak memiliki alasan untuk memberikan cerita semacam itu, dan dalam kasus manapun, Momolo Mortara seharusnya tidak mempekerjakan orang Katolik dari awal.[67]

Keputusan Paus Pius IX untuk mempertahankan Edgardo berkembang menjadi perhatian kuat terhadap orang tuanya. Menurut memoir-memoir Edgardo, Sri Paus giat mengunjunginya dan bermain dengannya; Sri Paus bercanda bersama anak tersebut dengan menyembunyikannya di balik cassocknya dan mengatakan: "Dimana bocah itu?"[68] Pada sebuah pertemuan, Paus Pius berkata kepada Edgardo: "Putraku, kau membuatku bahagia, dan aku sangat bersukacita karenamu."[67] Ia kemudian berkata kepada orang-orang lain yang hadir: "Baik yang berkuasa maupun yang tak berkuasa berusaha untuk menjauhkan bocah ini dariku, dan menuduhku barbar dan memalukan. Mereka menangisi orang tuanya, namun gagal memahami bahwa aku juga ayahnya."[67]

Petisi Montefiore; kejatuhan Bologna[sunting | sunting sumber]

Sir Moses Montefiore, presiden Badan Deputi Yahudi Britania, berupaya untuk menjadi perantara keluarga Mortara.

Banding Yahudi Italia mendapatkan perhatian Sir Moses Montefiore, presiden Badan Deputi Yahudi Britania, yang berkeinginan untuk menolong orang-orang seimannya, seperti halnya yang ia lakukan dalam fitnah darah Damaskus tahun 1840.[69] Dari Agustus sampai Desember 1858, ia mengepalai sebuah komite Inggris khusus terhadap Mortara yang melayangkan laporan dari Piedmont kepada surat-surat kabar Inggris dan rohaniwan Katolik, dan senang terhadap dukungan yang digelontorkan oleh umat Protestan Inggris, terutama Evangelical Alliance pimpinan Sir Culling Eardley.[69] Setelah gagal berupaya untuk melobikan protes resmi kepada pemerintah Inggris terhadap Vatikan, Montefiore secara pribadi datang ke Roma untuk menghadirkan sebuah petisi kepada Sri Paus yang menyerukan agar Edgardo dikembalikan ke orang tuanya. Ia datang ke Roma pada 5 April 1859.[69][n 12]

Montefiore gagal meraih tanggapan dari Sri Paus, dan baru diterima oleh Kardinal Antonelli pada 28 April. Montefiore memberikannya petisi Badan Deputi untuk diteruskan kepada Sri Paus, dan berkata bahwa ia akan menunggu selama seminggu di kota tersebut untuk tanggapan Sri Paus.[70] Dua hari kemudian, Roma mendapatkan kabar bahwa pertikaian pecah antara pasukan Austria dan Piedmont di utara—Perang tahun 1859 pun terjadi. Meskipun kebanyakan tamu asing melarikan diri dari Roma secepatnya, Montefiore tetap menunggu jawaban Sri Paus; ia akhirnya pergi pada 10 Mei.[70] Saat ia kembali ke Inggris, lebih dari 2,000 warga—termasuk 79 wali kota dan provost, 27 anggota Parlemen, 22 uskup dan uskup agung Anglikan dan 36 anggota parlemen—menandatangani sebuah protes yang menyerukan bahwa tindakan Sri Paus "tidak menghormati Kekristenan", "mencederai kemanusiaan".[71] Sementara itu, Gereja dengan cepat membuat Edgardo menjadi orang Katolik di sebuah kapel pribadi pada 13 Mei 1859.[70] Pada waktu itu, Edgardo tidak lama berada di Katekumen namun di San Pietro in Vincoli, sebuah basilika di bagian lainnya dari Roma dimana Paus Pius secara pribadi mendidik bocah tersebut.[72]

Pada perang pecah melawan pasukan Austria, garisun di Bologna hengkang pada pagi 12 Juni 1859. Pada hari yang sama, bendera-bendera kepausan yang dikibarkan di lapangan-lapangan diganti dengan bendera hijau, putih dan merah Italia, legasi kardinal meninggalkan kota tersebut, dan sebuah kelompok yang menyebut dirinya sendiri sebagai pemerintahan provinsional Bologna memproklamasikan keputusannya untuk bergabung dengan Kerajaan Sardinia.[73] Bologna dimasukkan menjadi bagian dari provinsi Romagna. Uskup Agung Michele Viale-Prelà berupaya agar masyarakat tidak bersepakat dengan otoritas sipil yang baru, namun hanya meraih sedikit kesuksesan.[74] Salah satu aturan resmi pertama dari pemerintahan baru adalah memperkenalkan kebebasan beragama dan membuat semua warga negara setara di hadapan hukum. Pada November 1859, gubernur Luigi Carlo Farini mengeluarkan sebuah proklamasi yang meniadakan inkuisisi.[74]

Retribusi[sunting | sunting sumber]

Feletti ditangkap[sunting | sunting sumber]

Luigi Carlo Farini, gubernur Romagna setelah otoritas kepausan di Bologna jatuh pada 1859, memerintahkan penyidikan terhadap "para pengarang penculikan".

Momolo Mortara menjalani akhir 1859 dan Januari 1860 di Paris dan London, berupaya untuk menggaet dukungan. Saat ia mendatangi ayahnya Simon, yang tempat tinggalnya berjarak sekitar 30 kilometer (19 mi) dari barat Bologna di Reggio Emilia, berhasil membujuk otoritas baru di Romagna untuk meluncurkan penyidikan terhadap kasus Mortara. Pada 31 Desember 1859, Farini memerintahkan menteri kedadilannya untuk memeriksa "para pengarang penculikan".[75] Filippo Curletti, direktur-jenderal yang baru dari kepolisian untuk Romagna, memutuskan untuk melakukan penyelidikan. Setelah dua pihak berwajib mengidentifikasikan inkuisitor Feletti sebagai yang memberikan perintah untuk mengambil Edgardo, Curletti dan detasemen polisi datang ke San Domenico dan menangkapnya sekitar pukul 02:30 pada 2 Januari 1860.[75]

Para inspektur polisi menanyai Feletti, namun setiap kali mereka bertanya tentang hal apapun tentang Mortara atau pengambilannya, biarawan tersebut berkata bahwa sebuah sumpah keramat menghindarkannya untuk mendiskusikan urusan-urusan Jawatan Suci. Saat Curletti memerintahkannya untuk menyerahkan seluruh berkas yang berkaitan dengan kasus Mortara, Feletti berkata bahwa berkas-berkas tersebut telah dibakar—saat ditanyai kapan atau bagaimana, ia tetap menyatakan bahwa materi-materi Jawatan Suci yang ia katakan tidak ada.[76] Setelah ditanyai lebih lanjut, Feletti berkata: "Sejauh kegiatan yang aku lakukan sebagai Inkuisitor Jawatan Suci Bologna, aku memutuskan untuk menjelaskan diriku sendiri hanya kepada satu forum, kepada Kongregasi Suci Tertinggi, yang Prefek-nya adalah Yang Mulia Paus Pius IX, dan tidak lebih."[76] Setelah polisi mencari dokumen-dokumen yang berkaitan dengan kasus Mortara—mereka tak menemukan apapun—inkuisitor tersebut dimasukkan ke penjara.[76] Kabar bahwa Feletti telah ditangkap menyebabkan gelombang pers terkait Mortara, yang telah dianggap mati, kembali menggegerkan seluruh belahan Eropa.[76]

Penyelidikan[sunting | sunting sumber]

Pengadilan Romo Feletti menjadi kasus kriminal besar pertama di Bologna di bawah otoritas baru.[77] Magistrat Francesco Carboni mengumumkan pada 18 Januari 1860 bahwa Feletti dan Letnan-Kolonel Luigi De Dominicis akan didakwa, namun tidak dengan Lucidi atau Agostini.[n 13] Saat Carboni mewawancarai Feletti di penjara pada 23 Januari, frater tersebut berkata bahwa dalam merebut Edgardo dari keluarganya, ia hanya menjalankan perintah dari Jawatan Suci, "yang tak pernah mengeluarkan dekrit apapun tanpa perhatian dari Kepausan Roma".[77] Feletti kemudian menceritakan sebuah versi dari penjelasan Gereja terhadap kasus tersebut, dengan menyatakan bahwa Edgardo "selalu menyatakan keputusannya untuk tetap menjadi orang Kristen" dan sekarang sukses belajar di Roma.[77] Ia memprediksi bahwa Edgardo suatu saat "mendukung dan membanggakan" keluarga Mortara.[77][n 14]

Pada 6 Februari, Momolo Mortara memberikan sebuah catatan dari kasus tersebut yang berseberangan dengan hampir setiap pernyataan inkuisitor tersebut; di Roma, ia berkata, Edgardo telah "ditekan, dan diintimidasi oleh keberadaan rektor tersebut, [namun] ia secara terbuka mendeklarasikan keputusannya untuk kembali ke rumah dengan kami".[79] Carboni kemudian datang ke San Giovanni in Persiceto untuk menginterogasi Morisi, yang memberikannya usia 23 tahun ketimbang usia sebenarnya, 26 tahun.[n 15] Morisi berkata bahwa Edgardo jatuh sakit pada musim dingin tahun 1851–52, saat ia berusia empat bulan. Ia melihat keluarga Mortara sedang terduduk sedih dengan keadaan Edgardo dan "membaca sebuah buku Ibrani yang Yahudi baca saat salah satu dari mereka akan mati".[80] Ia mempertahankan catatannya tentang memberikan pembaptisan darurat kepada Edgardo atas nasehat pedagang Lepori dan kemudin menceritakan kisah tersebut kepada seorang pelayan tetangga bernama Regina, dengan menambahkan bahwa ia juga mengatakan kelada para saudarinya tentang pembaptisan tersebut.[80][n 16] Meskipun sebelumnya, Lepori menyangkal peran apapun dalam peristiwa tersebut, bahkan ia berkata tidak mengingat Morisi.[81] "Regina" dalam cerita Morisi diidentifikasikan sebagai Regina Bussolari; meskipun Morisi menyebutnya pada seluruh cerita tersebut, Bussolari tidak tahu menahu terhadap kasus tersebut. Ia berkata bahwa ia hanya berbicara dengan Morisi "sekali atau dua kali, saat ia datang ke kamar penyimpanan untuk mengambil beberapa barang", dan tak pernah tahu menahu tentang anak-anak Mortara.[81][n 17]

Elena Pignatti, yang mempekerjakan Morisi setelah ia meninggalkan keluarga Mortara pada 1857—kata-katanya tentang kesalahkaprahan Morisi telah membentuk bagian dari banding keluarga Mortara kepada Sri Paus—menyatakan bahwa "tujuh atau delapan tahun yang lalu ... seorang putra dari keluarga Mortara, yang tak kuketahui namanya, menjadi sakit, dan dikatakan bahwa ia akan mati. Pada masa itulah, suatu pagi ... Aku datang ke Morisi. Selain beberapa hal lainnya yang kita bicarakan, ia—tanpa menyebutkan sakit anak tersebut—bertanya kepadaku, 'Ku dengar jika kamu membaptiskan seorang anak Yahudi yang bakal mati, ia masuk Surga dan menerima indulgensi, apa itu benar?' Aku tidak ingat apa yang ku katakan kepadanya, namun saat bocah Mortara diculik atas perintah Romo Dominikan, Aku menyadari bahwa ia pasti orang yang sakit".[82] Pignatti berkata bahwa ia sendiri menyaksikan Edgardo saat sakit, dan Marianna berada di sampingnya—"Sejak ibunya menangis, dan meratapi hidupnya, aku berpikir bahwa ia sekarat, selain karena penampilannya: matanya tertutup, dan ia sulit bergerak."[82] Ia menambahkan bahwa pada tiga bulan saat Morisi bekerja untuknya pada akhir 1857, pelayan tersebut mendatangi San Domenico sebanyak empat atau lima kali, dan berkata bahwa inkuisitor tersebut menjanjikannya mas kawin.[82]

Penyangkalan Bussolari bahwa ia mendiskusikan pembaptisan apapun dengan Morisi menimbulkan pertanyaan siapa yang melaporkan rumor tersebut kepada inkuisitor pertama kali.[83] Pada 6 Maret, Carboni mewawancarai Morisi lagi dan mendapati ketidakkonsistenan antara ceritanya dan pernyataan dokter keluarga Mortara, keluarga Mortara sendiri, dan Lepori maupun Bussolari. Ia menjawab: "Itu kebenaran Injil".[82] Carboni memberitahukan kepada Morisi bahwa seluruh cerita yang ia berikan berlawanan dengan keluarga Mortara dengan harapan bahwa Gereja akan mengimbalinya.[n 18] Saat Carboni menanyakan Morisi jika ia berada di San Domenico selain saat interogasinya, ia menyatakan bahwa iatelah berada disana sebanyak tiga aatu dua kali untuk berupaya memastikan mas kawin dari Romo Feletti. Carboni berkesimpulan bahwa Morisi sendiri mengisi interogasi tersebut dengan mengadukan pembaptisan Edgardo pada salah satu kunjungan tersebut—Morisi mengaku bahwa interogasi tersebut terjadi pada pertemuan pertama dan dua kunjungan lainnya pada masa berikutnya.[83][n 19]

Setelah wawancara terakhir dengan Feletti—yang lagi-lagi hampir tak mengatakan apapun, atas dasar sumpah keramat—Carboni memberitahukannya bahwa sejauh yang ia lihat, tak ada bukti yang mendukung versi peristiwanya. Feletti menjawab: "Aku turut berduka dengan orang tua Mortara atas perpisahan menyakitkan mereka dari putra mereka, namun aku harap agar para pendoa jiwa kudus mensukseskannya dengan Allah menyatukan kembali mereka semua dalam agama Kristen ... Jika aku dihukum, tak hanya membuat aku menempatkan diriku di tangan Allah, namun aku akan menyatakan bahwa pemerintah manapun akan mengakui pengesahan tindakanku."[84] Pada hari berikutnya, Feletti dan De Dominicis, yang lari ke sisa-sisa wilayah Negara Gereja, resmi dikenai dakwaan "pemisahan paksa bocah Edgardo Mortara dari keluarga Yahudi-nya sendiri".[84]

Pengadilan; keputusan[sunting | sunting sumber]

Feletti menghadapi pengadilan di bawah kitab hukum yang berlaku di Bologna pada masa pengambilan Edgardo.[85] Carboni menyatakan bahwa di bawah hukum kepausan, perampasan adalah ilegal—ia melaporkan bahwa ia tak memiliki bukti mendukung klaim frater tersebut yang menyatakan bahwa ia bertindak mengikuti perintah dari Roma, dan terdapat bukti substansial yang menyelaraskan keraguan pada catatan Morisi, namun sejauh yang ia lihat, Feletti tak memverifikasikan apa yang ia katakan sebelum memerintahkan pengambilan anak tersebut.[85] Setelah Feletti menolak untuk memilih konsel pembela saat diminta, dengan alasan bahwa ia menyerahkan pembelaannya di tangan Allah dan Bunda Maria, pengacara Bologna berpengalaman Francesco Jussi dipilih oleh negara untuk membelanya.[85]

Pendengaran sebelum panel enam hakim pada 16 April 1860 dihadiri oleh keluarga Mortara maupun Feletti—karena keluarga Mortara berada di Torino dan baru mengetahui tanggal pengadilan tersebut dua hari sebelumnya dan karena Feletti menolak untuk mengakui hak otoritas baru tersebut untuk memasukkannya ke pengadilan. Dengan bukti yang dikumpulkan oleh Curletti dan Carboni siap di tangan, terdakwa tak memiliki saksi mata untuk dipanggil.[85] Terdakwa Radamisto Valentini, seorang pengacara yang mengikuti kasus besar pertamanya, menyatakan bahwa Feletti sendiri yang memerintahkan perampasan tersebut dan atas inisiatifnya sendiri, dan kemudian mengalihkan fokusnya kepada poin kedua Carboni tentang bagaimana otoritas di Roma mungkin menganggap bahwa cerita Morisi itu jenius. Valentini yang menginginkan penjelasan dari catatan Morisi, berpendapat bahwa bahkan jika hal-hal yang terjadi seperti yang ia katakan, pembaptisan tersebut tidak diadministrasikan dan sehingga tidak sah.[86] Ia kemudian menyoroti ketidakkonsistenan antara pernyataannya dan catatan-catatan lainnya, menuduh Morisi sebagai gadis memalukan "yang dirusak oleh hawa nafsu dan sentuhan para prajurit asing ... [yang] bertindak tanpa rasa malu dengan mereka", dan akhirnya mendakwa bahwa Feletti sendiri yang telah memerintahkan perampasan tersebut atas dasar megalomania dan "kebencian Yudaisme pada sang inkuisitor".[87]

Jussi menyadari dirinya sendiri dalam posisi tak lazim dalam upaya membela seorang klien yang menolak membela dirinya sendiri.[85] Dengan tanpa bukti yang mendukung pernyataan Feletti, ia terpaksa menjawab hampir seluruh oratorinya sendiri. Jussi memajukan beberapa aspek sekuensi dari peristiwa tersebut yang menyatakan bahwa ia diperintah dari Roma—contohnya, bahwa Feletti telah mengirim Edgardo ke ibukota tanpa melihatnya—dan menyatakan bahwa Jawatan Suci dan Sri Paus jauh lebih baik untuk menentukan validitas pembaptisan ketimbang dewan sekuler. Ia mengutip catatan Angelo Padovani dari pertemuannya dengan Anna Morisi pada Juli 1858, kemudian menyatakan keraguan terhadap klaim pedagang Lepori bahwa ia bahkan tak mengetahui pembaptisan seorang anak—Jussi memberikan sebuah laporan polisi yang menyatakan bahwa Lepori adalah teman dekat seorang imam Yesuit.[88] Jussi berpendapat bahwa Lepori dan Bussolari berusaha untuk melindungi diri mereka sendiri, dan bahwa penyimpangan seksual Morisi tidak menandakan bahwa ceritanya palsu.[88] Ia menyatakan bahwa sejak Feletti menjadi inkuisitor pada masa itu, ia hanya melakukan apa yang diminta pusat untuk dikerjakan, dan tak ada niat jahat.[88]

Panel hakim, yang dikepalai oleh Calcedonio Ferrari, memerintahkan agar Feletti harus dibebaskan karena ia hanya bertindak di bawah pengarahan dari pemerintah pada masa itu.[89] Di tengah-tengah antara penangkapan imam tersebut dengan pengadilannya, terjadi proses menuju penyatuan Italia, yang membuat kasus Mortara kehilangan sorotannya, sehingga hanya sedikit protes terhadap keputusan tersebut.[89] Pers Yahudi mengekspresikan ketidaksetujuan—sebuah editorial dalam surat kabar Yahudi Italia L'Educatore israelitico menyatakan bahwa penargetan Feletti tidak bijak ketimbang beberapa orang yang lebih senior.[89] Di Perancis, Archives Israélites memberikan kalimat serupa, yang menyatakan: "apa bagusnya menyerang tangan saat kepala yang dalam kasus tersebut didakwa, diadili dan diberi sanksi atas serangan tersebut?"[89][n 20]

Rencana merebut kembali Edgardo[sunting | sunting sumber]

Keluarga Mortara tak terkejut dengan keputusan pengadilan Feletti. Momolo berharap agar putranya menjadi topik diskusi besar di sebuah konfederasi internasional tentang masa depan Italia, namun batal karena tak ada KTT semacam itu yang diadakan.[91] Pada 1860, peristiwa tersebut dan kunjungannya ke Paris sebagian memotivasi pembentukan Alliance Israélite Universelle, sebuah organisasi yang berbasis di Paris yang didedikasikan kepada kemajuan hak sipil Yahudi di seluruh dunia.[91] Saat tentara nasionalis Italia bergerak ke sepanjang semenanjung tersebut, kejatuhan Roma makin terpampang. Pada September 1860, Alliance Israélite Universelle menulis pesan kepada Momolo yang menawarkannya dukungan keuangan dan logistik jika ia berharap untuk mengklaim lagi putranya dengan paksa, dengan alasan "merebut anakmu lagi merupakan sebab seluruh Israel".[91] Sebuah rencana terpisah dirumuskan oleh Carl Blumenthal, seorang Yahudi Inggris yang bertugas dalam pasukan sukarelawan nasionalis Giuseppe Garibaldi: Blumenthal dan tiga orang lainnya akan menyamar menjadi rohaniwan, merebut Edgardo dan membawanya pergi. Garibaldi menyetujui rencana tersebut pada 1860, namun tidak jadi karena salah satu konspiratornya wafat.[91]

Akibat[sunting | sunting sumber]

Penyatuan Italia; Pelarian Edgardo[sunting | sunting sumber]

Kerajaan Italia (merah) dan Negara Gereja (ungu) pada 1870

Sri Paus masih bersikukuh untuk tidak menyerahkan Edgardo, dengan menyatakan: "Apa yang aku lakukan terhadap bocah ini, Aku memiliki hak dan tugas untuk melakukannya. Jika ini terjadi lagi, Aku akan menyatakan hal yang sama."[92] Saat delegasi dari komunitas Yahudi Roma menghadiri pertemuan tahunan di Vatikan pada Januari 1861, mereka terkejut saat menemukan Edgardo yang berusia sembilan tahun berada di samping Sri Paus.[93] Kerajaan Italia yang baru diproklamasikan sebulan kemudian dengan Victor Emmanuel II sebagai raja. Berkurangnya wilayah kekuasaan Negara Gereja, yang hanya meliputi Roma dan kawasan sekitarnya, mendorong pergerakan kerajaan baru tersebut karena Napoleon III mengurangi subyek-subyek Katolik-nya dengan menarik garnisun Perancis-nya.[93] Ia menarik pasukannya setelah pengambilan seorang anak Yahudi dari Ghetto Roma, Giuseppe Coen yang berumur sembilan tahun, ke Katekumen pada 1864.[94] Penarikan garnisun Perancis membuat Pertanyaan Roma dimajukan ke parlemen Italia. Negarawan Marco Minghetti mengajukan tuntutan agar Roma menjadi bagian dari kerajaan tersebut dengan Sri Paus masih memegang beberapa kekuasaan istimewa, dengan berkata: "kami tak dapat menjaga Mortara untuk Sri Paus".[94] Garnisun Perancis kembali pada 1867, setelah upaya gagal oleh Garibaldi untuk menaklukkan kota tersebut.[95]

Pada awal 1865, di usia 13 tahun, Edgardo menjadi calon biarawan di Kanon Reguler Lateran, menambahkan nama Sri Paus pada namanya sendiri sehingga namanya menjadi Pio Edgardo Mortara.[n 21] Ia masih menuliskan pesan-pesan kepada keluarganya, ia menyatakan, "sepakat dengan agama dan apa yang aku lakukan untuk mempertobatkan mereka dalam kebenaran iman Katolik," namun tidak dibalas sampai Mei 1867—orang tuanya, yang sekarang tinggal di Firenze, menyatakan bahwa mereka masih mengasihinya, namun tidak berkata kepada putranya dalam surat-surat tersebut bahwa mereka telah menerimanya.[95] Pada Juli 1870, tepat sebelum Edgardo menginjak usia 19 tahun, garnisun Perancis di Roma menarik diri untuk kebaikan setelah Perang Perancis-Prusia pecah. Pasukan Italia menaklukkan kota tersebut pada 20 September 1870.[95]

Momolo Mortara mengikuti Angkatan Darat Italia ke Roma dengan harapan akhirnya mengklaim lagi putranya. Menurut beberapa catatan, ia ditemani oleh putranya Riccardo, kakak Edgardo, yang masuk penugasan kerajaan tersebut sebagai perwira infanteri. Riccardo Mortara berjalan menuju San Pietro in Vincoli dan menemukan ruang konven adiknya. Edgardo membuka matanya, mengarahkan tangannya di depannya dan berteriak: "Pergilah, Setan!"[96] Saat Riccardo berkata bahwa ia kakaknya, Edgardo menjawab: "Sebelum kamu mendekatiku, lepaskan seragam pembunuh itu."[96][n 22] Entah itu benar, apa yang terjadi menunjukkan bahwa Edgardo menjadi panik saat penaklukan Roma. Ia kemudian menulis: "Setelah pasukan Piedmont memasukki Roma ... mereka menggunakan pasukan pasukan mereka untuk menangkap Coen dari Collegio degli Scolopi, [kemudian] bergerak menuju San Pietro in Vincoli untuk berusaha untuk menculikku juga."[96] Kepala kepolisian Roma membujuk Edgardo agar kembali ke keluarganya demi keinginan opini publik, namun ia tolak. Ia kemudian bertemu komandan Italia, Jenderal Alfonso Ferrero La Marmora, yang berkata kepadanya bahwa karena ia telah berusia 19 tahun, ia dapat melakukan apa yang ia inginkan. Edgardo diseludupkan dari Roma bersama dengan seorang imam pada 22 Oktober 1870, pada larut malam dan mengenakan busana awam. Ia melakukan perjalanan menuju ke utara dan kabur ke Austria.[98][n 23]

Romo Mortara[sunting | sunting sumber]

Romo Pio Edgardo Mortara (kanan) dengan ibunya Marianna, s. 1878–90

Edgardo ditemukan di sebuah konven Kanon Reguler di Austria, dimana ia hidup memakai nama samaran. Pada 1872, ia pindah ke sebuah biara di Poitiers, Perancis, dimana Paus Pius giat berbincang dengan uskup tentang kaum muda. Setelah setahun, Pio Edgardo Mortara ditahbiskan menjadi imam—dengan dispensasi khusus karena ia baru berusia 21 tahun yang secara teknis dianggap terlalu muda. Ia menerima sebuah surat pribadi dari Sri Paus untuk menandai peristiwa tersebut, serta gaji seumur hidup sejumlah 7,000 lira untuk mendukungnya.[99]

Romo Mortara menjalani sebagian besar masa hidupnya di luar Italia, mengunjungi seluruh Eropa dan berkhotbah. Ia dikatakan memberikan khotbah dalam enam bahasa, termasuk bahasa Basque, dan dapat membaca dalam lebih dari tiga bahasa, termasuk bahasa Ibrani.[99] "Sebagai pengkhotbah, aku berada dalam tuntutan besar," Kertzer menyatakan, "bukan karena cara inspirasional yang membuatnya dapat menuangkan cerita masa kecilnya sendiri dalam khotbah-khotbahnya. Karena ia mengakukannya, kecerdasannya adalah iman dan harapan: sebuah cerita tentang bagaimana Allah memilih seorang gadis pelayan sederhana dan buta huruf mengangkat seorang anak kecil dengan kekuatan mukjizat dari rahmat ilahi, dan dalam suatu tindakan yang diselamatkan dari keluarga Yahudi-nya—orang baik namun, sebagai Yahudi, pada sebuah wadah yang meninggalkan Allah."[99]

Momolo Mortara wafat pada 1871, tak lama setelah menjalani tujuh bulan penjara pada masa pengadilannya atas kematian seorang gadis pelayan yang jatuh dari jendela apartemennya. Ia didakwa membunuhnya oleh pengadilan banding Firenze, namun kemudian dinyatakan tak bersalah oleh pengadilan pidana.[100] Paus Pius IX wafat pada 1878. Pada tahun yang sama, Marianna datang ke Perpignan di barat daya Perancis, dimana ia mendengar Edgardo berkhotbah, dan menikmati reuni emosional dengan putranya, yang memandangnya, namun menghiraukannya saat ia menolak tawarannya untuk masuk ke agama Katolik.[99] Edgardo kemudian berupaya untuk menjalin lagi hubungan dengan keluarganya, namun tak semua kerabatnya menerimanya seperti halnya ibunya.[99]

Setelah Marianna wafat pada 1890, surat-surat kabar Perancis mengabarkan bahwa ia akhirnya menjadi Kristen di kasurnya dan dengan Edgardo di sampingnya. Edgardo menyangkalnya: "Aku selalu menganggap bahwa ibuku memeluk iman Katolik," ia menyatakan dalam sebuah surat kepada Le Temps, "dan aku berusaha beberapa kali agar ia melakukannya. Namun, hal itu tak pernah terjadi".[99] Setahun kemudian, Romo Pio Edgardo Mortara kembali ke Italia untuk pertama kalinya dalam dua dekade untuk berkhotbah di Modena. Seorang saudari dan beberapa saudaranya datang untuk mendengar khotbahnya, dan selama sisa hidupnya, Edgardo memanggil para kerabatnya saat ia berada di Italia.[99] Pada 1919, ia mengunjungi Dewan Katekumen di Roma sebelum ia memasuki usia 61 tahun.[99] Pada saat itu, ia singgah di biara Kanon Reguler Bouhay, Liège, Belgia. Bouhay memiliki sebuah tempat pemuliaan terhadap Bunda dari Lourdes, yang Romo Mortara rasa memiliki hubungan istimewa, penampakan Lourdes tahun 1858 terjadi pada tahun yang sama dengan masa perpindahan agamanya sendiri ke agama Kristen. Romo Pio Edgardo Mortara menetap di Bouhay sepanjang sisa hidupnya dan wafat di sana pada 11 Maret 1940, pada usia 88 tahun.[99]

Tanggapan dan warisan[sunting | sunting sumber]

Kasus Mortara meraih perhatian kecil dalam sebagian besar sejarah Risorgimento, jika disebutkan secara keseluruhan.[101] Karya terpelajar berbentuk buku pertama adalah The American Reaction to the Mortara Case: 1858–1859 (1957) karya Rabbi Bertram Korn, yang menuangkan seluruh opini publik di Amerika Serikat dan, menurut Kertzer, sering disalahartikan sebagai detail dari kasus tersebut.[101] Rujukan sejarah utama sampai 1990an adalah serangkaian artikel yang ditulis oleh cendekiawan Italia Gemma Volli dan diterbitkan pada tahun keseratus dari kontroversi tersebut pada tahun 1958–60.[101] Saat David Kertzer mulai mempelajari kasus tersebut, ia terkejut saat menemukan bahwa beberapa kolega Italianya tak familiar dengan peristiwa tersebut, demikian pula dengan para spesialis dalam studi Yahudi di seluruh dunia. Menurut Kertzer, Mortara telah, "[turun] dari sejarah utama Italia menjadi sejarah ghetto Yahudi".[101] Kertzer mengeksplor beberapa sumber yang sebelumnya belum dipelajari dan kemudian menerbitkan The Kidnapping of Edgardo Mortara (1997), yang menjadi karya rujukan standar untuk peristiwa tersebut.[1][102][103][104]

Dalam pandangan Timothy Verhoeven, kasus Mortara adalah kontroversi terbesar dalam Gereja Katolik pada pertengahan abad ke-19, karena peristiwa tersebut "lebih dari masalah tunggal manapun lainnya ... menyoroti perpecahan antara pendukung dan penentang Vatikan".[105] Abigail Green menyatakan bahwa "pertikaian ini antara liberal dan Katolik di seluruh dunia pada masa ketegangan internasional yang kritis ... membuat peristiwa Mortara mendapatkan signifikansi global—dan juga menjadikannya sebuah peristiwa transformatif dalam dunia Yahudi".[61] Pada 1893, Mortara sendiri menganggap bahwa penculikannya pada masa itu "lebih terkenal ketimbang Wanita Sabine".[27]

Berbulan-bulan sebelum beatifikasi Pius IX oleh Gereja Katolik pada 2000, para komentator Yahudi dan pihak lainnya dalam media internasional mengangkat peristiwa Mortara yang banyak terlupakan sesambil menganalisis kehidupan dan warisan Sri Paus tersebut.[13] Menurut Dov Levitan, fakta-fakta dasar dari kasus Mortara jauh dari keunikan, namun berpengaruh karena efeknya pada opini publik di Italia, Inggris dan Perancis, dan sebagai contoh dari "esensi besar solidaritas Yahudi yang terjadi pada paruh akhir abad ke-19 [karena] Yahudi mengembangkan sebab persaudaraan mereka di berbagai belahan dunia".[103] Alliance Israélite Universelle, yang pembentukannya sebagian dimotivasi oleh kasus Kortara, bertumbuh menjadi salah satu organisasi Yahudi paling berpengaruh di dunia dan berkembang pada abad ke-21.[106] Kasus tersebut menjadi subjek dari opera dua akting Francesco Cilluffo Il caso Mortara, yang tampil perdana di New York pada 2010.[107]

Menurut Michael Goldfarb, kontroversi Mortara memberi "sebuah contoh tentang bagaimana Gereja menyentuh masa modern" dan menunjukkan bahwa "Paus Pius IX tak dapat membawa Gereja ke dalam era modern".[108] Kertzer memberikan pernyataan serupa: "Penolakan untuk mengembalikan Edgardo berkontribusi pada pertumbuhan esensi bahwa peran Sri Paus sebagai penguasa temporal, dengan pasukan polisinya sendiri, adalah sebuah anarkronisme yang tak bertahan lama."[109] Kertzer lebih lanjut berpendapat bahwa sebagai motivator utama yang mengubah pendirian Perancis dalam menghadapi penyatuan Italia pada 1859–61, "cerita seorang gadis pelayan buta huruf, seorang pedagang dan seorang anak Yahudi kecil dari Bologna" tersebut telah mengubah susunan sejarah Gereja dan Italia.[110]

Catatan dan referensi[sunting | sunting sumber]

Catatan kaki

  1. ^ Nama lengkap Edgardo yang banyak tercatat adalah Edgardo Levi Mortara, yakni nama yang tercatat ia gunakan sesudah dewasa,[11][12] Edgardo Mortara Levi,[13] atau singkatnya Edgardo Mortara.[7]
  2. ^ Negara-negara Katolik lainnya seperti Kekaisaran Austria memiliki hukum yang sama.[27]
  3. ^ Surat rekomendasi akhir Jawatan Suci untuk Feletti terkait Mortara tidak ditemukan—Kertzer berpendapat bahwa surat tersebut dibakar oleh otoritas Gereja saat Legasi Kepausan jatuh pada 1859.[29]
  4. ^ Salah satu tetangga keluarga Mortara menyatakan bahwa Lucidi berkata di apartemen tersebut bahwa ia "akan lebih baik diperintahkan untuk menangkap seratus penjahat ketimbang mengambil seorang bocah tersebut".[30]
  5. ^ Pada saat para pengunjung pergi, para saudari Morisi dan imam paroki berkata kepadanya untuk tidak berkata lebih lanjut. Ia meninggalkan apartemennya dan bersembunyi di suatu tempat lainnya di kota tersebut.[37]
  6. ^ Momolo juga melaporkan bahwa menurut rektor, Edgardo dikatakan ketakutan saat polisi datang kepadanya karena ia pikir mereka ingin memenggalnya.[39]
  7. ^ Ia menambahkan: "Rumor yang merebak menyatakan bahwa ia menjadi gila adalah tidak benar. Ia masih memiliki seluruh kewarasannya."[41]
  8. ^ Agostini menyatakan bahwa saat Edgardo yang berusia enam tahun masuk gereja, "berterima kasih kepada ketakjuban Surgawi, sebuah perubahan yang instan. Saat bertekuk lutut, ia dengan cepat mengambil bagian dalam Penyucian Ilahi," dan tekun menyimak saat polisi tersebut menjelaskan apa yang terjadi. Agostini mula-mula mengajarkan Edgardo untuk membuat tanda salib, kemudian mengucapkan doa Salam Maria.[43] Setelah itu, bocah tersebut "melupakan orang tuanya", lapor Agostini, dan giat mengunjungi gereja di setiap kota yang mereka masukki sampai mereka mencapai Roma.[43]
  9. ^ Rumor sekarang bertebaran diantara komunitas Yahudi Italia yang menyatakan bahwa Edgardo meraih pembaptisan kedua dan lebih reguler di Katekumen, namun Kertzer berpendapat bahwa hal ini mungkin tidak benar.[46]
  10. ^ Shema—"Dengarlah, O Israel: Allah adalah Tuhan kami, Allah itu Satu"—adalah salah satu doa paling penting dalam Yudaisme, dan diucapkan oleh umat Yahudi setiap pagi dan sore.[52]
  11. ^ Hal ini menyusul sebuah perjanjian sebelumnya dengan tujuan yang sama antara Kaisar dan Perdana Menteri dari Raja Victor Emmanuel, Сount Cavour, pada 21 Juli 1858.[65] Kasus tersebut mula-mula diadukan kepada Napoleon III oleh seorang sepupu yang berasal dari Bologna, Marquis Gioacchino Pepoli (it), sebelum para perwakilan komunitas Yahudi Perancis mengirimkannya banding tertulis pada Agustus 1858.[65]
  12. ^ Eropa kurang menyoroti Mortara pada titik tersebut, namun masih meraih perhatian besar di sepanjang Atlantik; pada bulan Maret, New York Herald melaporkan bahwa sorotan berkembang pada "dimensi-dimensi kolosal".[57]
  13. ^ Dengan alasan bahwa keduanya hanya menjalankan perintah dari atasan langsung, sementara De Dominicis memegang beberapa tanggung jawab terhadap legalitas perintah tersebut.[77]
  14. ^ Dalam kesempatan lainnya, Feletti berkata kepada Carboni bahwa Sri Paus telah mencanangkan kebebasan bagi orang tua Edgardo sehingga mereka bisa datang ke Roma untuk mengunjunginya. Carboni mengeceknya pada kantor tahap pelatihan Bologna, yang mengabarkan tak ada bukti permintaan apapun dari Roma pada paruh kedua tahun 1858.[78]
  15. ^ Morisi yang buta huruf tak pernah jelas usianya. Menurut komentar Kertzer, hal ini biasanya hanya dijadikan persoalan kecil, namun perhatian pers masif membuat usianya menjadi bahan perdebatan.[80] Ia sendiri berkata bahwa ia membaptis Edgardo saat ia baru berusia 14 tahun, sebuah klaim yang para pendukung keluarga Mortara ragukan karena alasan lainnya terkait pembaptisan tersebut. Sertifikat kelahirannya tertanggal 28 November 1833, menandakan bahwa ia sebenarnya berusia sekitar 19 tahun pada masa insiden tersebut.[80]
  16. ^ Saat Carboni menyatakan bahwa jika Lepori berkata kepadanya tentang pembaptisan seorang anak Yahudi, ia akan menanyainya setelahnya jika ia diberitahukan olehnya, Morisi menjawab bahwa mereka tak pernah mendiskusikannya lagi.[80]
  17. ^ Seperti Morisi, Bussolari berasal dari San Giovanni in Persiceto. Carboni menyoroti latar belakangnya dan menemukan bahwa ia menjalani waktu luang di gereja, yang ia anggap menandakan seoranb karakter yang dapat dipercaya, namun laporan polisi kemudian mengungkapkan bahwa Bussolari adalah "seorang mak comblang ... rumahnya didatangi oleh berbagai macam orang, bahkan para imam, untuk hubungan dengan wanita."[81]
  18. ^ Momolo menyatakan bahwa Morisi telah meninggalkan pekerjaannya setelah "berbicara dengan istrinya", namun "tak merasakan firasat buruk apapun yang akan berujung pada ketakutan apapun".[79]
  19. ^ Dalam kasus apapun, ia berkata, ia tidak benar-benar menerima mas kawin, dan telah menikah tanpanya.[83]
  20. ^ Penolakan Feletti untuk kengaku di hadapan pengadilan membuat ia dianggap hanya suruhan petinggi-petinggi Dominikan-nya atau Sri Paus. Setelah pengadilan tersebut, ia menjadi prior dari sebuah konven di Roma, dimana ia masih berada disana sampai kematiannya pada usia 84 tahun pada 1881.[90]
  21. ^ Dalam hal keagamaan, ia terkadang dikenal sebagai Pio Maria Mortara.[12]
  22. ^ Catatan tersebut diberikan dalam karya Gemma Volli tahun 1960 tentang kasus Mortara, Il caso Mortara nel primo centario. Ketzner menyatakannya sebagai "sebuah potongan drama, ini terlihat terlalu bagus untuk suatu kenyataan ... sayangnya, aku tak menemukan bukti untuk mendukungnya, meskipun kami mengetahui bahwa Riccardo Mortara telah berkarier menjadi perwira tentara."[97]
  23. ^ Giuseppe Coen, yang sekarang berusia 16 tahun, dikembalikan ke keluarganya melawan kehendaknya setelah pengadilan memutuskan bahwa ia belum dewasa sehingga ayahnya masih memegang hak hukum atasnya. Coen kembali ke Roma setelah ia dewasa dan menjadi imam.[96]

Referensi

  1. ^ a b Benton 2013.
  2. ^ a b c d e Hearder 2013, hlm. 287–288.
  3. ^ Hearder 2013, hlm. 96.
  4. ^ Hearder 2013, hlm. vi.
  5. ^ a b c Kertzer 1998, hlm. x–xi.
  6. ^ Kertzer 1998, hlm. 21.
  7. ^ a b c d Kertzer 1998, hlm. 22–23.
  8. ^ Kertzer 1998, hlm. 79.
  9. ^ Kertzer 1998, hlm. 49, 59, 89.
  10. ^ a b Kertzer 1998, hlm. 49, 59.
  11. ^ Gilley & Stanley 2006, hlm. 243.
  12. ^ a b Canestri 1966, hlm. 46.
  13. ^ a b De Mattei 2004, hlm. 153.
  14. ^ Kertzer 1998, hlm. 14.
  15. ^ a b Kertzer 1998, hlm. 37–38.
  16. ^ a b Kertzer 1998, hlm. 23, 39.
  17. ^ a b c Kertzer 1998, hlm. 95–96.
  18. ^ Kertzer 1998, hlm. 23, 39–41.
  19. ^ Kertzer 1998, hlm. 83.
  20. ^ Kertzer 1998, hlm. 33, 147.
  21. ^ Kertzer 1998, hlm. 34.
  22. ^ Kertzer 1998, hlm. 97.
  23. ^ Kertzer 1998, hlm. 34–39.
  24. ^ a b Kertzer 1998, hlm. 83–84.
  25. ^ Kertzer 1998, hlm. 40–41, 83, 148.
  26. ^ a b Kertzer 1998, hlm. 145–147.
  27. ^ a b c d De Mattei 2004, hlm. 154.
  28. ^ Kertzer 1998, hlm. 148–149.
  29. ^ a b Kertzer 1998, hlm. 54–55, 83–84.
  30. ^ a b c d e f g Kertzer 1998, hlm. 3–8.
  31. ^ a b c d e f Kertzer 1998, hlm. 8–12.
  32. ^ Kertzer 1998, hlm. 64, 85–86.
  33. ^ Kertzer 1998, hlm. 43.
  34. ^ Kertzer 1998, hlm. 65–66, 85–87.
  35. ^ a b c Kertzer 1998, hlm. 65–66.
  36. ^ Kertzer 1998, hlm. 39–40.
  37. ^ a b c d e Kertzer 1998, hlm. 40–41.
  38. ^ a b Kertzer 1998, hlm. 50–52, 67–69, 70–71.
  39. ^ Kertzer 1998, hlm. 51–52.
  40. ^ a b c Kertzer 1998, hlm. 102–103.
  41. ^ a b Kertzer 1998, hlm. 104.
  42. ^ a b c Kertzer 1998, hlm. 67–70.
  43. ^ a b Kertzer 1998, hlm. 53–54.
  44. ^ a b c d e f g h Kertzer 1998, hlm. 70–71.
  45. ^ Kertzer 1998, hlm. 72.
  46. ^ a b Kertzer 1998, hlm. 92–93.
  47. ^ a b c d Kertzer 1998, hlm. 93–94.
  48. ^ Kertzer 1998, hlm. 94–95.
  49. ^ a b c Kertzer 1998, hlm. 97–101.
  50. ^ a b c Kertzer 1998, hlm. 104–108.
  51. ^ a b c d Kertzer 1998, hlm. 109–112.
  52. ^ Appel 1991, hlm. 11.
  53. ^ a b c Kertzer 1998, hlm. 112–115.
  54. ^ Kertzer 1998, hlm. 172.
  55. ^ a b Kertzer 1998, hlm. 116–118.
  56. ^ Kertzer 1998, hlm. 184.
  57. ^ a b Kertzer 1998, hlm. 126–127.
  58. ^ The Spectator 1858, hlm. 13.
  59. ^ Kertzer 1998, hlm. 128.
  60. ^ Kertzer 1998, hlm. 135.
  61. ^ a b Green 2012, hlm. 264.
  62. ^ Kertzer 1998, hlm. 162.
  63. ^ Kertzer 1998, hlm. 83–85.
  64. ^ Kertzer 1998, hlm. 87–90.
  65. ^ a b c d Kertzer 1998, hlm. 85–87.
  66. ^ Kertzer 1998, hlm. 167.
  67. ^ a b c d e f Kertzer 1998, hlm. 158–161.
  68. ^ Kertzer 1998, hlm. 255.
  69. ^ a b c Kertzer 1998, hlm. 163–167.
  70. ^ a b c Kertzer 1998, hlm. 168–170.
  71. ^ Green 2012, hlm. 279.
  72. ^ Kertzer 1998, hlm. 170–171.
  73. ^ Kertzer 1998, hlm. 175–176.
  74. ^ a b Kertzer 1998, hlm. 179–183.
  75. ^ a b Kertzer 1998, hlm. 185–191.
  76. ^ a b c d Kertzer 1998, hlm. 191–194.
  77. ^ a b c d e Kertzer 1998, hlm. 196–201.
  78. ^ Kertzer 1998, hlm. 228.
  79. ^ a b Kertzer 1998, hlm. 201–205.
  80. ^ a b c d e Kertzer 1998, hlm. 205–208.
  81. ^ a b c Kertzer 1998, hlm. 208–212.
  82. ^ a b c d Kertzer 1998, hlm. 212–217.
  83. ^ a b c Kertzer 1998, hlm. 217–220.
  84. ^ a b Kertzer 1998, hlm. 226–227.
  85. ^ a b c d e Kertzer 1998, hlm. 227–229.
  86. ^ Kertzer 1998, hlm. 229–231.
  87. ^ Kertzer 1998, hlm. 231–232.
  88. ^ a b c Kertzer 1998, hlm. 232–237.
  89. ^ a b c d Kertzer 1998, hlm. 240–242.
  90. ^ Kertzer 1998, hlm. 244.
  91. ^ a b c d Kertzer 1998, hlm. 247–252.
  92. ^ De Mattei 2004, hlm. 156.
  93. ^ a b Kertzer 1998, hlm. 255–257.
  94. ^ a b Kertzer 1998, hlm. 258–260.
  95. ^ a b c Kertzer 1998, hlm. 260–261.
  96. ^ a b c d Kertzer 1998, hlm. 262–263.
  97. ^ Kertzer 1998, hlm. 327.
  98. ^ Kertzer 1998, hlm. 263–265.
  99. ^ a b c d e f g h i Kertzer 1998, hlm. 295–298.
  100. ^ Kertzer 1998, hlm. 293–294.
  101. ^ a b c d Kertzer 1998, hlm. 299–302.
  102. ^ Grew 2000.
  103. ^ a b Levitan 2010, hlm. 3.
  104. ^ Green 2012, hlm. 485: "This account is taken from the standard history of the affair: David Kertzer, The Kidnapping of Edgardo Mortara".
  105. ^ Verhoeven 2010, hlm. 55–57.
  106. ^ Kertzer 1998, hlm. 250.
  107. ^ Tommasini 2010.
  108. ^ Goldfarb 2009, hlm. 250–251.
  109. ^ Kertzer 2005, hlm. 471.
  110. ^ Kertzer 1998, hlm. 173.

Surat kabar dan artikel jurnal

Sumber online

Daftar pustaka

  • Appel, Gersion (1991) [1977]. The Concise Code of Jewish Law. Volume 1. New York: Ktav Publishing House. ISBN 978-0-87068-298-8. 
  • Canestri, Alberto (1966). L'anima di Pio IX: quale si rivelò de fu compresa dai Santi. Volume 3 (dalam bahasa Italian). Marino, Lazio: Santa Lucia. OCLC 622875936. 
  • De Mattei, Roberto (2004) [2000]. Pius IX. Trans. John Laughland. Leominster, UK: Gracewing. ISBN 978-0-85244-605-8. 
  • Gilley, Sheridan; Stanley, Brian, ed. (2006). The Cambridge History of Christianity. Volume 8: World Christianities c. 1815 – c. 1914. Cambridge, UK: Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-81456-0. 
  • Goldfarb, Michael (2009). Emancipation: How Liberating Europe's Jews from the Ghetto Led to Revolution and Resistance. New York: Simon & Schuster. ISBN 978-1-4165-4796-9. 
  • Green, Abigail (2012) [2010]. Moses Montefiore: Jewish Liberator, Imperial Hero. Cambridge, Massachusetts: Harvard University Press. ISBN 978-0-674-06419-5. 
  • Hearder, Harry (2013) [1983]. Italy in the Age of the Risorgimento 1790–1870. Longman History of Italy. Abingdon, UK and New York: Routledge. ISBN 978-1-317-87206-1. 
  • Kertzer, David I (1998) [1997]. The Kidnapping of Edgardo Mortara. New York: Vintage Books. ISBN 978-0-679-76817-3. 
  • Kertzer, David I (2005). "Mortara Affair". Dalam Levy, Richard S. Antisemitism: A Historical Encyclopedia of Prejudice and Persecution. Santa Barbara, California: ABC-CLIO. hlm. 470–471. ISBN 978-1-85109-439-4. 
  • Verhoeven, Timothy (2010). Transatlantic Anti-Catholicism: France and the United States in the Nineteenth Century. New York: Palgrave Macmillan. ISBN 978-0-230-10287-3. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]