Ini adalah versi suara dari artikel ini

Kasus Mortara

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Penculikan Edgardo Mortara karya Moritz Daniel Oppenheim, 1862. Gambaran peristiwa pengambilan paksa dalam lukisan ini agak menyimpang dari catatan sejarah. Menurut catatan sejarah, tidak ada rohaniwan yang hadir saat kejadian berlangsung.[1]

Kasus Mortara (bahasa Italia: caso Mortara) adalah cause célèbre di Italia yang menyita perhatian banyak orang di Eropa dan kawasan utara Benua Amerika pada era 1850-an dan 1860-an. Kasus ini berkaitan dengan tindakan pengambilan paksa yang dilakukan pemerintah Negara Gereja di Bologna terhadap Edgardo Mortara, seorang kanak-kanak Yahudi yang baru berumur enam tahun, atas dasar kesaksian seorang mantan pelayan keluarga Mortara bahwa Edgardo sudah dibaptis secara darurat saat sakit semasa bayi. Edgardo tumbuh menjadi seorang pemeluk agama Kristen Katolik di bawah asuhan Paus Pius IX, yang selalu menolak memulangkan Edgardo setiap kali diminta kembali oleh ayah dan ibu kandungnya. Edgardo akhirnya menjadi seorang imam Katolik. Kecaman terhadap tindakan pengambilan paksa ini, baik dari dalam maupun dari luar negeri, menjadi salah satu dari sekian banyak faktor penyebab runtuhnya Negara Gereja pada masa penyatuan Italia.

Pada akhir tahun 1857, Inkuisitor Bologna, Pastor Pier Feletti, mendengar kabar bahwa Anna Morisi, yang pernah bekerja sebagai pelayan keluarga Mortara selama enam tahun, pernah membaptis Edgardo secara diam-diam karena khawatir anak itu akan mati lantaran sakit ketika masih bayi. Kongregasi Suci Tertinggi Inkuisisi Roma dan Sedunia bersikeras bahwa pembaptisan diam-diam ini telah membuat Edgardo menjadi warga Gereja Katolik. Karena Negara Gereja mengharamkan pengasuhan kanak-kanak Kristen oleh umat beragama lain, maka Kongregasi Suci Tertinggi Inkuisisi Roma dan Sedunia memerintahkan agar Edgardo dipisahkan dari keluarganya, dan diasuh oleh Gereja. Polisi baru mendatangi rumah keluarga Mortara selepas senja tanggal 23 Juni 1858, dan baru melaksanakan pengambilan paksa pada malam hari tanggal 24 Juni 1858.

Setelah ayah kandung Edgardo diizinkan mengunjunginya pada bulan Agustus dan bulan September, beredar dua versi berita yang saling bertentangan. Menurut versi yang satu, Edgardo rindu pulang ke rumah keluarganya dan kembali mengamalkan agama leluhurnya, sementara menurut versi yang lain, Edgardo sudah menamatkan pelajaran katekismus dengan cemerlang dan menghendaki kedua orang tuanya ikut memeluk agama Kristen Katolik. Kecaman dunia Internasional datang bertubi-tubi, tetapi Sri Paus bergeming. Setelah pemerintah Negara Gereja di Bologna bubar pada tahun 1859, Pastor Pier Feletti diperkarakan dengan dakwaan terlibat dalam kasus pengambilan paksa terhadap Edgardo Mortara. Pengadilan memutuskan bahwa Pastor Pier Feletti hanya menjalankan tugasnya, dan oleh karena itu dibebaskan dari segala dakwaan. Di bawah asuhan Sri Paus selaku ayah angkat, Edgardo Mortara menjalani pendidikan imamat di Roma sampai Kerajaan Italia merebut kota itu sekaligus menamatkan riwayat Negara Gereja pada tahun 1870. Edgardo Mortara hijrah meninggalkan Italia, dan ditahbiskan menjadi imam di Prancis tiga tahun kemudian, saat berumur 21 tahun. Pastor Edgardo Mortara lebih banyak tinggal di luar Italia sampai akhir hayatnya di Belgia pada tahun 1940, sesudah berumur 88 tahun.

Bagi banyak pihak, langkah-langkah Vatikan dalam Kasus Mortara sudah cukup merangkum seluruh kekeliruan Negara Gereja, sekaligus membuktikan bahwa kedaulatan Negara Gereja adalah suatu bentuk anakronisme. Beberapa sejarawan memandang kasus ini sebagai salah satu peristiwa terpenting pada masa jabatan Paus Pius IX, dan menghubung-hubungkan kebijakan Sri Paus dalam penanganan Kasus Mortara pada tahun 1858 dengan hilangnya sebagian besar wilayah Negara Gereja pada tahun 1859. Kasus Mortara bahkan membuat Kaisar Prancis, Napoleon III, merubah kebijakannya dari menentang menjadi mendukung gerakan penyatuan Italia. Historiografi tradisional Italia perihal gerakan penyatuan Italia tidak banyak mengungkit Kasus Mortara, dan sebagian besar cendekiawan yang masih ingat akan kasus ini pada akhir abad ke-20 adalah cendekiawan-cendekiawan Yahudi, tetapi sebuah kajian atas Kasus Mortara yang dilakukan pada tahun 1997 oleh sejarawan Amerika Serikat, David Kertzer, menjadi awal dari usaha telaah ulang kasus ini secara lebih mendalam.

Latar belakang[sunting | sunting sumber]

Konteks politik[sunting | sunting sumber]

Gambar Paus Pius IX (menjabat 1846–1878) dalam majalah mingguan Harper's Weekly pada tahun 1867
Peta Italia pada tahun 1843. Roma adalah ibu kota Negara Gereja.

Negara Gereja, yang berdiri selama lebih dari satu milenium sejak sekitar tahun 754, adalah sekumpulan daerah di Italia yang diperintah secara langsung oleh Sri Paus selaku seorang penguasa berdaulat.[2] Penguasaan Gereja Katolik atas kota Roma dan daerah-daerah sekitarnya dipandang sebagai perwujudan wewenang duniawi Sri Paus yang bersifat sementara selaku kepala monarki, bukan wewenang rohani Sri Paus selaku rohaniwan tertinggi Gereja Katolik.[2][3] Negara-negara lain di Italia yang lumayan besar seusai Perang Napoleon pada tahun 1815, adalah Kerajaan Sardinia di kawasan Eropa daratan, Kadipaten Agung Toskana di kawasan barat Jazirah Apenina, dan Kerajaan Dua Sisilia di Pulau Sisilia dan kawasan selatan Jazirah Apenina.[4] Aksi pendudukan Prancis atas Italia pada era 1790-an memang sangat mendongkrak ketenaran dan kewenangan rohani Sri Paus,[2] namun juga sangat merusak kredibilitas geopolitik Negara Gereja. Sejarawan David Kertzer berpendapat bahwa sepanjang kurun waktu 1850-an, Negara Gereja "yang dulu tampak begitu kukuh—hasil dari penerapan kaidah-kaidah agama—kini terlihat sangat rapuh".[5]

Paus Pius IX, yang terpilih pada tahun 1846, mula-mula dipandang oleh banyak orang sebagai seorang tokoh pembaru dan pemutakhir, yang diharapkan mampu memberi sumbangsih besar bagi gerakan penyatuan Italia, yakni gerakan yang disebut risorgimento (kebangunan kembali) di Italia. Kendati demikian, ketika revolusi meletus di Italia pada tahun 1848, ia menolak mendukung konfederasi pan-Italia dalam memerangi Kekaisaran Austria, yang menguasai Kerajaan Lombardia–Venesia di kawasan timur laut Italia.[6] Sikap Sri Paus ini memicu pemberontakan rakyat di wilayah Negara Gereja. Sri Paus terpaksa mengungsi ke Kerajaan Dua Sisilia, dan Republik Roma, yang diproklamasikan pada tahun 1849, dihancurkan melalui campur tangan Austria dan Prancis demi kepentingan Sri Paus. Kota Roma selanjutnya dijaga oleh pasukan Prancis, sementara pasukan-pasukan Austria ditempatkan di daerah-daerah lain dalam wilayah Negara Gereja. Penempatan pasukan-pasukan asing ini sangat menjengkelkan sebagian besar warga negara.[7] Paus Pius IX masih berpegang teguh pada pandangan tradisional bahwa keberadaan Negara Gereja sangat diperlukan demi menjamin kemerdekaan Sri Paus selaku kepala Gereja Katolik.[2] Ketenarannya agak pulih pada era 1850-an,[8] namun gerakan penyatuan Italia yang dipelopori oleh Kerajaan Sardinia terus-menerus meresahkannya.[2]

Umat Yahudi di Negara Gereja, yang berjumlah sekitar 15.000 jiwa pada tahun 1858,[5] merasa berutang budi pada Paus Pius IX karena menghapuskan aturan hukum lama yang mewajibkan mereka untuk mendengarkan khotbah di gereja sebanyak empat kali dalam setahun. Khotbah ini didasarkan atas bacaan Taurat mingguan untuk pekan yang bersangkutan, dan bertujuan untuk mendorong mereka memeluk agama Kristen.[9] Ia juga merubuhkan pintu-pintu gerbang kampung Yahudi di kota Roma, sekalipun ditentang oleh banyak orang Kristen.[10] Meskipun demikian, keleluasaan umat Yahudi masih tetap dibatasi banyak peraturan, dan sebagian besar dari mereka masih tetap bermukim di kampung Yahudi.[10]

Mortara dan Morisi[sunting | sunting sumber]

Edgardo Levi Mortara[n 1] adalah anak keenam dari delapan bersaudara yang lahir dari pasangan Salomone "Momolo" Mortara, seorang saudagar Yahudi, dan istrinya, Marianna, yang berasal dari keluarga Padovani. Edgardo lahir pada tanggal 27 Agustus 1851 di Bologna, salah satu dari empat legazioni pontificie (daerah tingkat I) di ujung utara wilayah Negara Gereja.[7] Keluarga Mortara pindah ke Bologna pada tahun 1850 dari Kadipaten Modena, yang terletak tepat di sebelah barat Bologna.[7] Umat Yahudi Bologna, yang berjumlah sekitar 900 jiwa, telah diusir dari kota itu pada tahun 1593 oleh Paus Klemens VIII.[14] Beberapa orang Yahudi, yang sebagian besar berprofesi sebagai saudagar seperti Momolo, kembali bermukim di Bologna pada era 1790-an, sehingga komunitas umat Yahudi dengan jumlah sekitar 200 jiwa kembali terbentuk di kota itu. Umat Yahudi Bologna mengamalkan ajaran agamanya secara diam-diam, tanpa rabi maupun sinagoge.[5] Negara Gereja secara resmi melarang umat Yahudi mempekerjakan pelayan yang beragama Kristen, tetapi keluarga-keluarga Yahudi yang taat beragama menganggap keberadaan pelayan-pelayan bukan Yahudi di rumah mereka sangat penting, karena pelayan-pelayan itu tidak terikat oleh syariat agama Yahudi sehingga boleh tetap mengerjakan tugas-tugas rumah tangga selagi umat Yahudi menunaikan kewajiban beristirahat pada hari Sabat.[15] Pada praktiknya, pejabat Gereja menutup mata terhadap pelanggaran aturan ini, dan hampir semua keluarga Yahudi mempekerjakan sekurang-kurangnya satu orang pelayan perempuan yang beragama Kristen Katolik.[15]

Beberapa bulan setelah Edgardo lahir, keluarga Mortara mempekerjakan pelayan baru yang bernama Anna "Nina" Morisi, seorang pemeluk agama Kristen Katolik berusia 18 tahun dari desa terdekat, San Giovanni in Persiceto. Sebagaimana kaum kerabat dan handai tolannya, Nina tidak berpendidikan.[16] Ia datang ke Bologna, mengikuti ketiga saudarinya, untuk bekerja dan menabung upahnya dalam rangka mengumpulkan harta sesan yang ia perlukan supaya dapat menikah.[16] Pada awal tahun 1855, Nina hamil di luar nikah. Kejadian semacam ini lazim dialami gadis-gadis pelayan di Bologna kala itu.[17] Para majikan biasanya akan memecat pelayan mereka yang hamil di luar nikah, tetapi keluarga Mortara justru mengupahi Nina untuk tinggal di rumah seorang bidan sejak empat bulan menjelang bersalin sampai selesai bersalin, kemudian kembali bekerja di rumah mereka. Demi menjaga nama baik Nina maupun nama baik keluarga Mortara sendiri, para tetangga diberitahu bahwa Nina sedang sakit dan pulang kampung untuk memulihkan diri.[17] Nina menyerahkan bayinya ke sebuah panti asuhan, sesuai dengan ketentuan Negara Gereja bagi perempuan-perempuan yang melahirkan anak di luar nikah, dan selanjutnya kembali bekerja di rumah keluarga Mortara.[17] Ia terus mengabdi pada keluarga itu sampai dipekerjakan oleh keluarga lain di Bologna pada tahun 1857. Tak lama sesudah berganti majikan, Nina menikah dan pulang ke San Giovanni in Persiceto.[18]

Pengambilan paksa[sunting | sunting sumber]

Pemicu[sunting | sunting sumber]

Pada bulan Oktober 1857, Inkuisitor Bologna, seorang padri Dominikan yang bernama Pier Gaetano Feletti, mendengar desas-desus bahwa seorang pelayan Katolik pernah membaptis seorang kanak-kanak Yahudi secara diam-diam di Bologna.[19] Menurut pandangan Gereja, kanak-kanak Yahudi yang bersangkutan telah menjadi pemeluk agama Kristen Katolik, andaikata desas-desus ini memang benar. Keadaan semacam ini dapat menimbulkan efek samping sekuler maupun rohani. Gereja berpendirian bahwa kanak-kanak Kristen tidak boleh diasuh oleh umat beragama lain, dengan demikian kanak-kanak Yahudi yang sudah dibaptis harus dipisahkan dari kedua orang tuanya.[20] Kasus-kasus semacam ini bukannya tidak lumrah terjadi di Italia pada abad ke-19, dan seringkali berkisar seputar tindakan pembaptisan terhadap seorang kanak-kanak Yahudi oleh seorang pelayan Kristen.[21] Secara resmi, Gereja tidak membenarkan umat Katolik membaptis kanak-kanak Yahudi tanpa persetujuan orang tuanya, kecuali jika si kanak-kanak sudah dalam sakratulmaut. Gereja menganggap syarat meminta persetujuan orang tua boleh ditangguhkan demi menyelamatkan jiwa kanak-kanak yang sudah dalam sakratulmaut, agar jiwa kanak-kanak yang bersangkutan dibenarkan masuk surga, sehingga membenarkan tindakan pembaptisan tanpa persetujuan orang tua.[22] Banyak keluarga Yahudi khawatir anak-anak mereka dibaptis secara diam-diam oleh para pelayan Kristen mereka, sehingga beberapa keluarga mewajibkan orang-orang Kristen, yang hendak berhenti menjadi karyawan mereka, untuk menandatangani akta notaris, yang berisi pernyataan bahwa mereka tidak pernah membaptis anak-anak majikan mereka.[23]

Basilika San Domenico di Bologna, difoto pada tahun 2006

Pelayan yang didesas-desuskan melakukan pembaptisan diam-diam ini adalah Anna Morisi. Setelah mendapatkan surat izin penyidikan dari Kongregasi Suci Tertinggi Inkuisisi Roma dan Sedunia (disebut pula Jawatan Suci), yakni badan pemantau dan pembela doktrin Kristen Katolik yang beranggotakan para kardinal, Pastor Pier Feletti menginterogasi Anna Morisi di Basilika San Domenico, Bologna.[24] Anna mengaku bahwa sewaktu masih menjadi pelayan keluarga Mortara, bayi keluarga itu, Edgardo, sakit berat dalam perawatannya. Karena khawatir nyawa si bayi tak terselamatkan lagi, Anna membaptisnya secara darurat, yakni memercikkan air pada kepala si bayi seraya berkata, "aku membaptis engkau dalam Nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus". Anna tidak pernah memberitahu keluarga Mortara perihal tindakannya ini, dan kesehatan Edgardo berangsur-angsur pulih seperti sediakala. Setelah menyuruh Anna bersumpah untuk merahasiakan pernyataannya, Pastor Feletti mengirim berita acara pemeriksaan Anna Morisi ke Roma bersama permohonan izin pengambilan paksa terhadap Edgardo, yang baru berumur enam tahun, dari keluarganya.[25]

Para sejarawan tidak dapat memastikan apakah Paus Pius IX ikut serta dalam pembahasan awal perihal kasus Mortara di Jawatan Suci, atau pun mengetahui perihal pemeriksaan awal yang dilakukan Pastor Pier Feletti. Sri Paus adalah kepala Jawatan Suci hanya sesekali menghadiri pertemuan-pertemuannya, dan agaknya tidak diberi tahu mengenai perkara-perkara yang dianggap sebagai urusan rutin oleh para kardinal.[24] Bagi Jawatan Suci, permasalahan-permasalahan sebagaimana yang dilaporkan oleh Pastor Pier Feletti menimbulkan rasa serba salah. Di satu pihak, Gereja secara resmi menentang tindakan memaksa orang untuk berganti agama,[26] tetapi di lain pihak, Gereja berkeyakinan bahwa sakramen pembaptisan itu sangat luhur, sehingga setiap penerimanya dipandang sebagai bagian dari umat Kristen.[26] Berdasarkan bula Postremo mense (Pada Bulan Terakhir) tahun 1747, undang-undang Negara Gereja mengharamkan tindakan pengambilan kanak-kanak dari keluarga non-Kristen tanpa sepengetahuan orang tuanya untuk dibaptis (kecuali jika kanak-kanak yang bersangkutan dalam sakratul maut), tetapi jika kanak-kanak yang bersangkutan telanjur dibaptis maka Gereja wajib memisahkannya dari orang tua kandungnya serta memberinya pendidikan agama Kristen.[27][n 2] Para kardinal mengkaji berita acara yang dikirim oleh Pastor Pier Feletti dan akhirnya sepakat bahwa pernyataan-pernyataan Anna Morisi dalam berita acara itu "sepenuhnya benar tanpa sedikit pun keraguan mengenai kenyataan dan validitas pembaptisan yang dilakukannya".[28] Pastor Pier Feletti diperintahkan untuk mengatur pengambilan paksa atas diri Edgardo, dan mengantar kanak-kanak itu ke Wisma Katekumen di kota Roma, rumah penampungan sekaligus tempat belajar agama bagi orang-orang yang baru atau hendak memeluk agama Kristen Katolik.[29][n 3]

Pelaksanaan[sunting | sunting sumber]

Satu regu carabinieri (polisi militer) Negara Gereja dipimpin Marsekal Pietro Lucidi dan Brigadir Giuseppe Agostini mendatangi kediaman keluarga Mortara di Bologna pada senja hari tanggal 23 Juni 1858. Setelah melontarkan satu dua pertanyaan seputar hal ihwal keluarga itu, Marsekal Pietro Lucidi akhirnya berkata, "Signor Mortara, dengan sangat menyesal harus saya sampaikan bahwa anda telah dikhianati orang".[30] Marsekal Pietro Lucidi selanjutnya menjelaskan bahwa mereka datang atas perintah Pastor Pier Feletti untuk mengambil paksa Edgardo karena anak itu telah dibaptis.[30] Marianna menjerit histeris, lari menghampiri ranjang Edgardo, dan melarang mereka mengambil anak itu sebelum melangkahi mayatnya.[30] Marsekal Pietro Lucidi berulang-ulang menjelaskan bahwa ia hanya sekadar melaksanakan perintah Pastor Pier Feletti. Selepas peristiwa itu, Marsekal Pietro Lucidi melaporkan bahwa "aku seribu kali lipat lebih memilih menghadapi bahaya besar dalam bertugas, ketimbang harus menyaksikan kejadian yang memilukan semacam itu."[30][n 4]

Marsekal Pietro Lucidi mengajak ayah Edgardo untuk bersama-sama menemui si inkuisitor guna membicakan permasalahan itu, tetapi ditolak Momolo. Marsekal Lucidi selanjutnya mengizinkan Momolo untuk mengutus putra sulungnya, Riccardo, pergi memanggil kaum kerabat dan para tetangga. Paman Marianna, Angelo Padovani, salah seorang pemuka paguyuban Yahudi Bologna, menyimpulkan bahwa satu-satunya peluang yang terbuka bagi mereka adalah mengajukan permohonan resmi kepada Pastor Pier Feletti.[30] Si inkuisitor menerima Angelo Padovani beserta ipar Marianna, Angelo Moscato, di San Domenico tak lama selepas pukul 23.00. Sama seperti Marsekal Lucidi, Pastor Pier Feletti menjelaskan bahwa ia hanya sekadar menjalankan perintah atasan. Ia menolak mengungkap sebab musabab munculnya dugaan bahwa Edgardo sudah dibaptis, dengan dalih rahasia negara. Si inkuisitor menurut saja ketika diminta memberi kesempatan setidaknya satu hari bagi keluarga Mortara untuk menghabiskan waktu bersama Edgardo, dengan syarat tidak boleh ada usaha apa pun untuk membawa lari anak itu. Ia menerbitkan selembar surat izin kepada Angelo Padovani, yang harus diperlihatkannya kepada Marsekal Lucidi. Marsekal Lucidi meninggalkan kediaman keluarga Mortara seturut arahan yang termaktub dalam surat izin dari Pastor Pier Feletti, dan membiarkan Angelo Padovani beserta Angelo Moscato menunggui Edgardo di kamar tidur keluarga Mortara.[30]

Sepanjang pagi hari tanggal 24 Juni, keluarga Mortara berusaha membatalkan perintah pengambilan paksa yang dikeluarkan Pastor Pier Feletti dengan meminta persetujuan dari Kardinal Legatus Bologna, Giuseppe Milesi Pironi Ferretti, atau Uskup Agung Bologna, Michele Viale-Prelà, tetapi kedua-duanya sedang keluar kota.[31] Sekitar tengah hari, keluarga Mortara akhirnya memutuskan untuk melakukan sejumlah tindakan guna sedapat mungkin meringankan dukacita akibat perpisahan. Saudara-saudara Edgardo diantar mengunjungi kaum kerabat mereka, sementara Marianna dengan berat hati akhirnya bersedia melewatkan waktu sepanjang sore hari itu bersama istri Giuseppe Vitta, salah seorang dari handai taulan Yahudi mereka.[31] Sekitar pukul 17.00, Momolo datang ke San Domenico guna memohon pembatalan untuk terakhir kalinya kepada Pastor Pier Feletti. Si inkuisitor mengulai perkataan yang sudah ia sampaikan sehari sebelumnya kepada Angelo Padovani dan Angelo Moscato. Ia juga menenangkan Momolo agar tidak perlu mengkhawatirkan Edgardo, karena anak itu akan diurus dengan baik, di bawah perlindungan Sri Paus sendiri. Ia memperingatkan bahwa tidak seorangpun akan diuntungkan jika ada orang yang menimbulkan kegaduhan pada saat pasukan carabinieri kembali ke rumah keluarga Mortara malam hari nanti.[31]

Momolo akhirnya pulang dan mendapati tempat tinggalnya sudah sepi, hanya ditunggui oleh Vitta, saudara Marianna (juga bernama Angelo Padovani), dua orang petugas polisi, dan Edgardo sendiri.[31] Sekitar pukul 20.00, pasukan carabinieri tiba dengan dua kendaraan, satu kendaraan untuk mengangkut Marsekal Lucidi beserta anak buahnya, dan satu kendaraan lagi untuk Brigadir Agostini yang akan mengantar Edgardo. Marsekal Lucidi masuk ke kediaman keluarga Mortara dan mengambil Edgardo dari bopongan ayahnya. Kedua orang petugas polisi yang menjaga Edgardo pun ikut merasa iba sampai-sampai meneteskan air mata.[31] Momolo mengikuti langkah pasukan menuruni tangga menuju jalanan, lalu jatuh pingsan. Edgardo diserahkan kepada Brigadir Agostini, yang membawanya pergi meninggalkan tempat itu.[31]

Upaya banding[sunting | sunting sumber]

Upaya permulaan; Anna Morisi dimintai keterangan[sunting | sunting sumber]

Giacomo Antonelli
Giacomo Antonelli, kepala pemerintahan Sri Paus sebagai Kardinal Sekretaris Negara

Karena tidak tahu ke mana Edgardo dibawa pergi (Momolo baru tahu pada awal bulan Juli), keluarga Mortara, dengan dukungan komunitas Yahudi Bologna, Roma, dan tempat-tempat lain di Italia, mula-mula mengerahkan seluruh daya upaya mereka untuk mengajukan banding serta mencari dukungan dari masyarakat Yahudi di luar negeri.[32] Pendapat khalayak ramai yang digaungkan orang-orang Yahudi di negara-negara Eropa barat selepas kemunculan gerakan kebebasan pers, ditambah lagi dengan emansipasi politik Yahudi di Kerajaan Sardinia, Inggris, Prancis dan Amerika Serikat, menyebabkan perkara pengambilan paksa terhadap Edgardo Mortara menyita perhatian pers lebih dari yang sudah-sudah.[33] Pemerintah Negara Gereja mula-mula mengabaikan pengajuan banding Momolo, tetapi kemudian menindaklanjutinya setelah surat-surat kabar mulai menyiarkan kasus ini; sekian banyak pihak yang menentang Negara Gereja sengaja mengedepankan peristiwa ini sebagai contoh tirani Sri Paus.[34]

Demi mengukuhkan kembali posisi diplomatik Negara Gereja yang goyah, Kardinal Sekretaris Negara Giacomo Antonelli bekerja sama dengan paguyuban umat Yahudi kota Roma untuk mengatur pertemuan dengan Momolo Mortara, dan menyambut kedatangannya dengan santun pada awal bulan Agustus 1858.[35] Kardinal Antonelli berjanji akan meneruskan perkara ini kepada Sri Paus, dan mengabulkan permintaan Momolo untuk diizinkan mengunjungi Edgardo secara teratur di Wisma Katekumen.[35] Menurut Kertzer, tindakan Kardinal Antonelli memberi izin kepada Momolo untuk berulang kali mengunjungi Edgardo, yang bertolak belakang dengan kelaziman pemberian izin 1 kali kunjungan, adalah tanda pertama yang menunjukkan bahwa kasus Mortara akan menjadi sangat penting.[35]

Usaha keluarga Mortara dan rekan-rekannya mencari tahu siapa orang yang telah membaptis Edgardo akhirnya membuahkan hasil dalam waktu singkat. Karena pelayan mereka saat itu, Anna Facchini, bersikukuh tidak tahu apa-apa, kecurigaan pun beralih kepada para mantan pelayan, termasuk Anna Morisi. Pada akhir bulan Juli 1858, kediaman keluarga Mortara didatangi oleh Ginerva Scagliarini, salah seorang sahabat Anna yang pernah mengabdi pada saudara ipar Marianna, Cesare De Angelis. Saudara Marianna, Angelo Padovani, memancing informasi dari Ginerva dengan berkata secara sambil lalu bahwa ia dengar Annalah yang membaptis Edgardo. Ginerva Scagliarini mengaku diberitahu demikian oleh saudari Anna, Monica.[36]

Angelo Padovani Junior berkunjung ke San Giovanni in Persiceto bersama Cesare De Angelis untuk menjumpai serta meminta keterangan dari Anna. Angelo ingat waktu itu Anna Morisi sempat mencucurkan air mata.[37] Setelah dapat diyakinkan bahwa Angelo dan Cesare tidak bermaksud jahat pada dirinya, Anna pun mengulangi penuturannya kepada Pastor Pier Feletti. Ia mengaku telah menuruti anjuran untuk membaptis Edgardo berikut petunjuk pelaksanaannya dari Cesare Lepori, seorang pedagang bahan pangan yang ia ceritai tentang sakit yang diderita Edgardo. Ia tidak menceritakan tindakannya itu kepada siapa pun sampai saudara kandung Edgardo, Aristide, wafat saat berumur setahun pada tahun 1857. Menurut Anna, saat itu seorang pelayan tetangga bernama Regina berkata bahwa Anna seharusnya membaptis Aristide, dan Anna pun "keceplosan" mengaku telah membaptis Edgardo .[37] Menurut Angelo, Anna mengaku menangis ketika dienterogasi oleh Pastor Pier Feletti, dan mengungkapkan penyesalannya terkait pengambilan paksa atas diri Edgardo. "Sesudah tahu bahwa semua itu terjadi gara-gara saya, saya merasa sangat terpukul, bahkan sampai sekarang," kata Anna.[37] Anna bersedia membuat pengakuan resmi, hitam di atas putih, tetapi sudah tidak ada di tempat ketika Angelo dan Cesare kembali tiga jam kemudian bersama seorang notaris dan dua orang saksi.[n 5] Sesudah sia-sia mencari Anna, Angelo dan Cesare akhirnya pulang ke Bologna membawa keterangan berdasarkan pengakuan lisan belaka, yang Angelo yakini sebagai pernyataan yang jujur dari mulut Anna. "Kata-katanya, tindak-tanduknya, dan air mata yang ia cucurkan sebelum mulai mengaku, membuat saya yakin bahwa semua penuturannya pada saya benar adanya."[37]

Dua versi berita[sunting | sunting sumber]

Dari pertengahan bulan Agustus sampai pertengahan bulan September 1858, Momolo beberapa kali menjenguk Edgardo di bawah pengawasan rektor katekumen, Enrico Sarra. Bermacam-macam keterangan mengenai apa yang terjadi selama berlangsungnya pertemuan kedua anak-beranak ini akhirnya berkembang menjadi dua versi berita yang saling bertentangan mengenai keseluruhan kasus. Versi Momolo, yang disukai komunitas Yahudi dan para pendukung lainnya, adalah berita tentang hancurnya sebuah keluarga akibat fanatisme keagamaan pemerintah. Kabarnya Edgardo, yang tidak berdaya untuk melawan, menangis mencari orang tuanya sepanjang perjalanan menuju Roma, dan hanya ingin pulang ke rumah.[38][n 6] Versi yang disukai Gereja dan para pendukungnya, dan disebarluaskan lewat media massa Katolik di seluruh Eropa, adalah berita mengharukan tentang terselamatkannya jiwa seorang insan seturut kehendak ilahi, dan tentang seorang kanak-kanak yang terlahir dengan karunia kekuatan rohani yang melampaui taraf pertumbuhannya. Kabarnya si neofitus (mualaf) Edgardo dulunya menempuh jalan hidup sesat yang kelak berbuntut laknat abadi, tetapi kini sudah mantap menempuh jalan keselamatan Kristen, dan merisaukan kedua orang tuanya yang tidak ikut berpindah keyakinan bersama-sama dengannya.[38]

Tema utama dalam hampir semua ulasan tentang berita yang berpihak pada keluarga Mortara adalah kondisi kesehatan Marianna Mortara. Sejak bulan Juli 1858, tersiar kabar di seluruh Eropa bahwa akibat didera dukacita mendalam, ibu Edgardo mengalami guncangan jiwa, kalau tidak bisa dikatakan sudah gila, bahkan sudah sekarat.[40] Gambaran pilu seorang ibu yang patah hati sengaja dikedepankan oleh keluarga Mortara kepada khalayak ramai, dan juga kepada Edgardo sendiri. Momolo dan sekretaris komunitas Yahudi kota Roma, Sabatino Scazzocchio, mengabari Edgardo bahwa keselamatan nyawa ibunya bakal berada di ujung tanduk jika ia tidak segera pulang.[40] Sabatino Scazzocchio menolak mengirimkan surat yang ditulis Marianna kepada Edgardo pada bulan Agustus, dengan alasan isi surat itu bernada relatif tenang dan menentramkam sehingga akan merusak kesan yang hendak mereka tanamkan di benak Edgardo bahwasanya Marianna sudah hilang akal dan hanya bisa selamat jika Edgardo pulang.[40] Pada bulan Januari 1859, salah seorang koresponden surat kabar melaporkan bahwa "si ayah memang terlihat tangguh, tetapi si ibu sukar sekali mengesampingkan kesedihannya,... Andaikata Bapa Suci melihat sendiri keadaan perempuan ini seperti saya, beliau pasti tidak akan tega menahan anaknya lebih lama lagi."[41][n 7]

Ada banyak versi dari berita yang disiarkan pihak Gereja, tetapi intinya sama saja. Semuanya sama-sama memberitakan bahwa Edgardo menerima dengan segera dan penuh semangat, serta berusaha semampunya memahami ajaran agama Kristen.[42] Kebanyakan memaparkan kisah dramatis mengenai Edgardo yang konon mengamati lukisan Bunda Maria Berdukacita dengan pandangan takjub, mungkin di Roma, atau dalam perjalanan dari Bologna.[42] Agostini, polisi yang mengantarnya ke Roma, melaporkan bahwa mula-mula Edgardo mati-matian tidak mau masuk bersamanya ke dalam gereja untuk mengikuti Misa, tetapi mendadak secara ajaib berubah sikap setelah memandangi lukisan itu.[n 8] Salah satu tema umum adalah Edgardo sudah menjadi semacam anak ajaib. Menurut keterangan seorang saksi mata yang dimuat dalam surat kabar Katolik, L'armonia della religione colla civiltà, Edgardo sudah menguasai katekismus hanya dalam beberapa hari saja, "memberkati hamba Tuhan yang membaptisnya," dan mengaku ingin menarik semua orang Yahudi menjadi pemeluk agama Kristen.[42] Artikel pro-Gereja tentang kasus Mortara yang paling berpengaruh adalah artikel yang dimuat dalam majalah berkala tarekat Yesuit, La Civiltà Cattolica, pada bulan November 1858, yang lantaran kepopulerannya kemudian dicetak ulang atau dikutip dalam surat-surat kabar Katolik di seluruh Eropa.[44] Menurut artikel ini, Edgardo memohon rektor katekumen agar tidak memulangkannya ke rumah orang tuanya tetapi membiarkannya tumbuh besar dalam sebuah keluarga Kristen. Kisah ini dalah cikal bakal dari pernyataan yang menjadi salah satu unsur utama dari versi berita pro-Gereja, bahwasanya Edgardo sudah punya keluarga baru, yakni Gereja Katolik.[44] Dalam artikel ini, Edgardo juga dikisahkan pernah berkata "aku sudah dibaptis, aku sudah dibaptis, dan ayahku adalah Sri Paus."[44]

Menurut Kertzer, para pendukung versi berita yang pro-Gereja agaknya tidak sadar bahwa banyak keterangan di dalamnya yang terkesan "terlalu muluk untuk dipercaya" dan "tidak masuk akal."[44] Kertzer mengemukakan bahwa "jika Edgardo memang pernah memberi tahu ayahnya bahwa ia tidak mau pulang bersamanya, sudah menganggap Sri Paus sebagai ayah kandungnya, dan hendak membaktikan hidupnya untuk menarik orang Yahudi menjadi pemeluk agama Kristen, maka pesan ini agaknya tidak sampai pada Momolo."[44] Kaum liberal, umat Protestan, dan umat Yahudi di seluruh Eropa mencemooh berita yang disiarkan media massa Katolik.[44] Sebuah selebaran yang diterbitkan di Brussel pada tahun 1859 merangkum dua versi berita yang saling bertolak belakang ini, lalu menyimpulkan bahwa "antara mukjizat seorang rasul berusia enam tahun yang hendak mengubah keyakinan orang Yahudi dan tangisan seorang kanak-kanak yang terus-menerus mencari ibu dan kakak-kakaknya, tidak sedetik pun kami ragu untuk menentukan mana yang benar."[44] Orang tua Edgardo dengan berang menuding berita-berita pro Katolik sebagai kebohongan, tetapi sejumlah pendukung mereka tidak begitu yakin mengenai ke kubu mana Edgardo kini berpihak. Salah satunya adalah Sabatino Scazzocchio, yang beberapa kali turut hadir dalam acara pertemuan anak-beranak yang dipersengketakan itu di Wisma Katekumen.[44]

Penyangkalan Cesare Lepori; Anna Morisi didiskreditkan[sunting | sunting sumber]

Momolo pulang ke Bologna pada akhir bulan September 1858 setelah diberi tahu lewat surat oleh kedua iparnya bahwa keluarganya akan hancur berantakan jika ia terus berlama-lama tinggal di Roma.[45] Ia memberi kuasa kepada Sabatino Scazzocchio untuk menangani upaya hukum keluarganya di Roma.[46][n 9] Momolo kini lebih mementingkan usaha untuk menghancurkan kredibilitas Anna Morisi, baik dengan cara menyanggah keterangan-keterangan tertentu dalam pengakuannya maupun dengan jalan menciptakan kesan bahwa ia bukanlah pribadi yang layak dipercaya. Momolo juga berusaha meminta keterangan dari Cesare Lepori, pedagang bahan pangan yang menyarankan dan mengajarkan cara baptis darurat menurut pengakuan Anna.[47] Berdasarkan pengakuan Anna, sejumlah pemerhati kasus ini berpandangan bahwa Cesare Leporilah biang kerok sesungguhnya yang patut disalahkan.[47] Tatlaka dimintai keterangan oleh Momolo di tokonya pada awal bulan Oktober, Cesare Lepori mati-matian menyangkal pernah membincangkan kondisi Edgardo maupun urusan baptis-membaptis dengan Anna, bahkan menyatakan kesediaannya untuk bersaksi di hadapan pengadilan mana pun.[47] Ia mengaku tidak paham tata cara membaptis orang, sehingga mustahil timbul percakapan seperti yang dikisahkan Anna.[47]

Carlo Maggi, kenalan Momolo yang beragama Katolik sekaligus seorang pensiunan hakim, mengirimkan laporan mengenai penyangkalan Cesare Lepori kepada Sabatino Scazzocchio, yang meminta bantuan Kardinal Giacomo Antonelli untuk meneruskannya kepada Sri Paus. Sepucuk surat pengantar yang dilampirkan pada laporan Carlo Maggi menerangkan bahwa laporan itu adalah bukti kebohongan Anna Morisi.[48] Sabatino Scazzocchio juga meneruskan sepucuk surat pernyataan yang dibuat di bawah sumpah dari dokter keluarga Mortara, Pasquale Saragoni, yang membenarkan bahwa Edgardo pernah jatuh sakit saat berumur kira-kira satu tahun, tetapi tidak sampai terancam maut, dan sesungguhnya Anna sendiri sedang terbaring sakit di tempat tidur pada waktu yang sama dengan waktu ia membaptis Edgardo dalam pengakuan tertulisnya.[49] Pada Oktober 1858, datang lagi warkat dari Bologna yang memuat pernyataan delapan orang perempuan dan satu orang laki-laki, semuanya beragama Katolik, yang membenarkan pernyataan dokter keluarga Mortara perihal sakit yang dialami Edgardo Mortara maupun Anna Morisi, dan menuduh si mantan pelayan sebagai seorang perempuan yang suka mencuri dan bertindak asusila.[49] Empat orang perempuan, termasuk Anna Facchini, pelayan keluarga Mortara, dan Elena Pignatti, majikan baru Anna Morisi selepas berhenti bekerja pada keluarga Mortara, mengaku mengetahui bahwa Anna kerap bermain mata dengan perwira-perwira Austria dan mengundang mereka ke rumah majikannya untuk bersebadan.[49]

Berangkat ke Alatri, dan kembali ke Roma[sunting | sunting sumber]

Momolo sekali lagi berangkat ke Roma pada tanggal 11 Oktober 1858. Kali ini ia membawa serta Marianna, dengan harapan kehadirannya dapat lebih memikat perhatian Gereja maupun Edgardo.[50] Lantaran khawatir akan kemungkinan terjadinya pertemuan dramatis antara ibu dan anak, Rektor Wisma Katekumen, Enrico Sarra, mengungsikan Edgardo ke Alatri, kota asalnya yang berjarak 100 km (62 mil) dari Roma. Suami-istri Mortara merunuti jejak keberadaan putra mereka sampai ke sebuah gereja di Alatri. Dari gawang pintu gereja, Momolo menyaksikan seorang imam sedang merayakan misa dibantu Edgardo selaku misdinar.[50] Momolo menunggu di luar, dan setelah itu membujuk sang rektor untuk lekas menengok putranya. Sebelum pertemuan tersebut dilakukan, keluarga Mortara ditangkap atas perintah Wali Kota Alatri, mengikuti permintaan dari uskup kota tersebut, dan disuruh kembali ke Roma. Antonelli tak tinggal diam, memandangnya sebagai tindakan tak pantas yang dapat dijadikan alat bagi para penentang Gereja, dan memerintahkan Sarra untuk mengirim Edgardo kembali ke ibu kota untuk menemui orang tuanya.[50]

Edgardo kembali ke Wisma Katekumen pada tanggal 22 Oktober, dan sering dikunjungi oleh orang tuanya sepanjang bulan berikutnya.[51] Seperti haknya kunjungan pertama Momolo, terdapat dua versi berbeda dari apa yang terjadi. Menurut orang tua Edgardo, bocah tersebut diintimidasi oleh rohaniwan di sekitarnya dan melemparkan dirinya sendiri dalam pangkuan ibunya saat ia pertama kali melihatnya. Marianna kemudian berkata: "Ia kehilangan berat badan dan jadi pucat; matanya diisi dengan teror ... Aku berkata kepadanya bahwa ia lahir sebagai orang Yahudi seperti kami dan seperti halnya kami, ia harus selalu menjadi salah satunya, dan ia menjawab: 'Si, mia cara mamma, Aku tak akan pernah lupa untuk mengucapkan Syema (syahadat Yahudi) setiap hari.'"[51][n 10] Sebuah laporan dalam pers Yahudi menyatakan bahwa para imam berkata kepada orang tua Edgardo bahwa Allah telah memilih putranya untuk menjadi "rasul Kristen bagi keluargnya, dicurahkan untuk mempertobatkan orang tuanya dan saudara-saudaranya",[51] dan bahwa mereka akan mendapatkannya lagi jika mereka juga menjadi Kristen. Para rohaniwan dan biarawati kemudian mendoakan rumah tangga Mortara, mengharapkan agar orang tua Edgardo meninggalkan prasangka buruk.[51]

Sebaliknya, catatan pro-Gereja menyatakan bahwa bocah yang sangat senang untuk menetap tersebut dibujuk oleh ibunya agar kembali ke Yudaisme.[53] Dalam penjelasan tersebut, alasan utama kedatangan keluarga Mortara tersebut bukan untuk mengambil putra mereka, melainkan karena ia sekarang makin bertumbuh dalam iman Kristen. Menurut La Civiltà Cattolica, Marianna menjadi meradang saat melihat sebuah medali tergantung dari leher Edgardo yang mencantumkan gambar Bunda Maria dan mengoyakannya; sebuah artikel lebih jauh mengklaim bahwa ibu Yahudi tersebut melakukannya dengan berkata: "Aku lebih suka melihatmu mati ketimbang menjadi Kristen!"[53] Beberapa kritikus Gereja mendakwa bahwa dengan menahan Edgardo, hal tersebut melanggar perintah yang menyatakan bahwa seorang anak harus menghormati ibu bapanyaLa Civiltà Cattolica menangkisnya dengan menyatakan bahwa Edgardo masih mengasihi keluarganya meskipun mereka berbeda keyakinan dan menulis surat pertamanya kepada ibunya, setelah diajarkan para imam untuk membaca dan menulis, bertanda tangan "putra kecilmu yang sangat dikasihi".[53] Louis Veuillot, penyunting ultramontane dari surat kabar L'Univers dan salah satu pembela terkuat dari Sri Paus, dikabarkan setelah bertemu Edgardo di Roma, bocah tersebut berkata kepadanya "bahwa ia mengasihi ibu bapanya, dan bahwa ia akan tinggal dengan mereka saat sudah besar ... sehingga ia dapat berkata kepada mereka tentang Santo Petrus, Allah dan Maria paling Kudus."[54]

Kegemparan[sunting | sunting sumber]

Skandal internasional; muslihat politik[sunting | sunting sumber]

Napoleon III dari Prancis adalah salah satu figur internasional yang mengecam tindakan Negara Gereja terhadap Mortara.

Tak berhasil di Roma, Momolo dan Marianna Mortara pulang ke Bologna pada awal Desember 1858,[55] dan setelah itu pindah ke Torino, Piedmont.[56] Kasus tersebut—sebuah "mimpi publisit" anti-Katolik, kutip Kertzer—sekarang menjadi kontroversi masif di Eropa dan Amerika Serikat, dengan suara-suara dari seluruh spektrum politik mendorong agar Sri Paus mengembalikan Edgardo ke orang tuanya.[27][55] Mortara tak hanya menjadi cause célèbre bagi Yahudi namun juga bagi Kristen Protestan, terutama di Amerika Serikat, dimana sentimen anti-Katolik merebakThe New York Times menerbitkan lebih dari 20 artikel tentang kasus tersebut pada Desember 1858 sendiri.[57] Di Inggris, The Spectator menyebut kasus Mortara sebagai bukti bahwa Negara Gereja merupakan "pemerintahan terburuk di dunia—paling blangsak dan paling arogan, tak diragukan dan sangat dimengerti".[58] Pers Katolik di Italia dan luar negeri membela tindakan Sri Paus.[59] Artikel-artikel pro-Gereja seringkali memegang sikap anti-Semitik, menyatakan bahwa sorotan di Inggris, Prancis atau Jerman sebagai kritikan mengejutkan "semenjak surat-surat kabar di Eropa berada di tangan Yahudi".[60][61] Scazzocchio berpendapat bahwa Gereja sebenarnya bersifat kontra-produktif terhadap sebab keluarga Mortara, karena hal tersebut memurkai Sri Paus dan sehingga ia memutuskan untuk tidak bergeming.[62]

Tidak jelas apakah Paus Pius IX telah secara pribadi terlibat dalam keputusan untuk mengambil Mortara dari orang tuanya—apakah ia telah atau tidak berdebat secara ekstensif dalam pers—apakah ia sangat terkejut dengan sorotan internasional yang meletup atas peristiwa tersebut, dan memegang posisi untuk memulangkan anak yang dibaptiskan tersebut kepada orang tua non-Kristennya yang akan sangat bertentangan dengan doktrin Gereja.[63] Karena pemerintah-pemerintah luar negeri dan berbagai cabang dari keluarga Rothschild satu per satu mengecam tindakannya, Pius IX menyatakan bahwa ia berpendirian pada apa yang ia pandang sebagai materi prinsip.[64] Salah satu tokoh yang mengecam meliputi Kaisar Napoleon III dari Prancis, yang mengetahui bahwa peristiwa tersebut mengancam keberadaan garisun Prancis-nya di Roma.[65] Napoleon III telah mendukung pemerintahan temporal Sri Paus karena mendapatkan banyak dukungan dari umat Katolik Prancis; skandal atas Mortara menyadarkannya, dan menurut sejarawan Roger Aubert, membuat keputusan akhir untuk mengubah kebijakan Prancis.[65] Pada Februari 1859, Napoleon III mengadakan pakta rahasia dengan Kerajaan Sardinia yang menyediakan dukungan militer Prancis untuk sebuah kampanye untuk mendompleng Austria dan menyatukan Italia—kebanyakan domain kepausan direbut bersama dengan Dua Sisilia dan negara-negara kecil lainnya.[66][n 11]

Kemudian, Sri Paus menerima seorang delegasi dari komunitas Yahudi Roma tak lama setelah Tahun Baru. Pertemuan pada 2 Februari 1859 dengan cepat berujung pada sebuah argumen panas, dengan Paus Pius menyatakan kepada para pengunjung Yahudi untuk "menarik kabar di seluruh belahan Eropa tentang kasus Mortara tersebut".[67] Saat delegasi menyangkal bahwa Yahudi dari Roma telah menimbulkan artikel-artikel anti-rohaniwan, Sri Paus menuduh Scazzocchio tidak berpengalaman dan bercanda, kemudian menyatakan: "Surat-surat kabar dapat menulis semua yang mereka inginkan. Aku tak peduli dengan apa yang dunia pikirkan!"[67] Sri Paus kemudian meneruskannya dengan berkata: "Sekuat apa yang aku miliki bagimu, sehingga aku melindungimu, karena itu, aku harus melindungimu."[67] Salah satu delegasi mengusulkan agar Gereja tidak memberikan pernyataan apapun terhadap Morisi, menganggapnya kelewatan moral—Sri Paus membalasnya bahwa sikapnya tak bermutu, sehingga ia memandang pelayan tersebut tak memiliki alasan untuk memberikan cerita semacam itu, dan dalam kasus manapun, Momolo Mortara seharusnya tidak mempekerjakan orang Katolik dari awal.[67]

Keputusan Paus Pius IX untuk mempertahankan Edgardo berkembang menjadi perhatian kuat terhadap orang tuanya. Menurut memoir-memoir Edgardo, Sri Paus giat mengunjunginya dan bermain dengannya; Sri Paus bercanda bersama anak tersebut dengan menyembunyikannya di balik cassocknya dan mengatakan: "Dimana bocah itu?"[68] Pada sebuah pertemuan, Paus Pius berkata kepada Edgardo: "Putraku, kau membuatku bahagia, dan aku sangat bersukacita karenamu."[67] Ia kemudian berkata kepada orang-orang lain yang hadir: "Baik yang berkuasa maupun yang tak berkuasa berusaha untuk menjauhkan bocah ini dariku, dan menuduhku barbar dan memalukan. Mereka menangisi orang tuanya, tetapi gagal memahami bahwa aku juga ayahnya."[67]

Petisi Montefiore; kejatuhan Bologna[sunting | sunting sumber]

Sir Moses Montefiore, presiden Badan Deputi Yahudi Britania, berupaya untuk menjadi perantara keluarga Mortara.

Upaya banding Yahudi Italia mendapatkan perhatian Sir Moses Montefiore, presiden Badan Deputi Yahudi Britania, yang berkeinginan untuk menolong saudara-saudara seimannya, seperti seperti ya telah ia lakukan dalam fitnah darah Damaskus tahun 1840.[69] Dari Agustus sampai Desember 1858, ia mengepalai sebuah komite Inggris khusus terhadap Mortara yang melayangkan laporan dari Piedmont kepada surat-surat kabar Inggris dan rohaniwan Katolik, dan senang terhadap dukungan yang digelontorkan oleh umat Protestan Inggris, terutama Evangelical Alliance pimpinan Sir Culling Eardley.[69] Setelah gagal berupaya untuk melobikan protes resmi kepada pemerintah Inggris terhadap Vatikan, Montefiore secara pribadi datang ke Roma untuk menghadirkan sebuah petisi kepada Sri Paus yang menyerukan agar Edgardo dikembalikan ke orang tuanya. Ia datang ke Roma pada 5 April 1859.[69][n 12]

Montefiore gagal meraih tanggapan dari Sri Paus, dan baru diterima oleh Kardinal Antonelli pada 28 April. Montefiore memberikannya petisi Badan Deputi untuk diteruskan kepada Sri Paus, dan berkata bahwa ia akan menunggu selama seminggu di kota tersebut untuk tanggapan Sri Paus.[70] Dua hari kemudian, Roma mendapatkan kabar bahwa pertikaian pecah antara pasukan Austria dan Piedmont di utara—Perang tahun 1859 pun terjadi. Meskipun kebanyakan tamu asing melarikan diri dari Roma secepatnya, Montefiore tetap menunggu jawaban Sri Paus; ia akhirnya pergi pada 10 Mei.[70] Saat ia kembali ke Inggris, lebih dari 2,000 warga—termasuk 79 wali kota dan provost, 27 anggota Parlemen, 22 uskup dan uskup agung Anglikan dan 36 anggota parlemen—menandatangani sebuah protes yang menyerukan bahwa tindakan Sri Paus "tidak menghormati Kekristenan", "mencederai kemanusiaan".[71] Sementara itu, Gereja dengan cepat membuat Edgardo menjadi orang Katolik di sebuah kapel pribadi pada 13 Mei 1859.[70] Pada waktu itu, Edgardo tidak lama berada di Wisma Katekumen namun di San Pietro in Vincoli, sebuah basilika di bagian lainnya dari Roma dimana Paus Pius secara pribadi mendidik bocah tersebut.[72]

Pada perang pecah melawan pasukan Austria, garisun di Bologna hengkang pada pagi 12 Juni 1859. Pada hari yang sama, bendera-bendera kepausan yang dikibarkan di lapangan-lapangan diganti dengan bendera hijau, putih dan merah Italia, legasi kardinal meninggalkan kota tersebut, dan sebuah kelompok yang menyebut dirinya sendiri sebagai pemerintahan provinsional Bologna memproklamasikan keputusannya untuk bergabung dengan Kerajaan Sardinia.[73] Bologna dimasukkan menjadi bagian dari provinsi Romagna. Uskup Agung Michele Viale-Prelà berupaya agar masyarakat tidak bersepakat dengan otoritas sipil yang baru, tetapi hanya meraih sedikit kesuksesan.[74] Salah satu aturan resmi pertama dari pemerintahan baru adalah memperkenalkan kebebasan beragama dan membuat semua warga negara setara di hadapan hukum. Pada November 1859, gubernur Luigi Carlo Farini mengeluarkan sebuah proklamasi yang meniadakan inkuisisi.[74]

Pembalasan[sunting | sunting sumber]

Penangkapan Pastor Pier Feletti[sunting | sunting sumber]

Luigi Carlo Farini, gubernur Romagna setelah otoritas kepausan di Bologna jatuh pada 1859, memerintahkan penyidikan terhadap "para pengarang penculikan".

Momolo Mortara menjalani akhir 1859 dan Januari 1860 di Paris dan London dalam rangka menghimpun dukungan. Saat ia mendatangi ayahnya Simon, yang tempat tinggalnya berjarak sekitar 30 kilometer (19 mi) dari barat Bologna di Reggio Emilia, berhasil membujuk otoritas baru di Romagna untuk meluncurkan penyidikan terhadap kasus Mortara. Pada 31 Desember 1859, Farini memerintahkan menteri kedadilannya untuk memeriksa "para pengarang penculikan".[75] Filippo Curletti, direktur-jenderal yang baru dari kepolisian untuk Romagna, memutuskan untuk melakukan penyelidikan. Setelah dua pihak berwajib mengidentifikasikan inkuisitor Feletti sebagai yang memberikan perintah untuk mengambil Edgardo, Curletti dan detasemen polisi datang ke San Domenico dan menangkapnya sekitar pukul 02:30 pada 2 Januari 1860.[75]

Para inspektur polisi menanyai Feletti, tetapi setiap kali mereka bertanya tentang hal apapun tentang Mortara atau pengambilannya, biarawan tersebut berkata bahwa sebuah sumpah keramat menghindarkannya untuk mendiskusikan urusan-urusan Jawatan Suci. Saat Curletti memerintahkannya untuk menyerahkan seluruh berkas yang berkaitan dengan kasus Mortara, Feletti berkata bahwa berkas-berkas tersebut telah dibakar—saat ditanyai kapan atau bagaimana, ia tetap menyatakan bahwa materi-materi Jawatan Suci yang ia katakan tidak ada.[76] Setelah ditanyai lebih lanjut, Feletti berkata: "Sejauh kegiatan yang aku lakukan sebagai Inkuisitor Jawatan Suci Bologna, aku memutuskan untuk menjelaskan diriku sendiri hanya kepada satu forum, kepada Kongregasi Suci Tertinggi, yang Prefek-nya adalah Yang Mulia Paus Pius IX, dan tidak lebih."[76] Setelah polisi mencari dokumen-dokumen yang berkaitan dengan kasus Mortara—mereka tak menemukan apapun—inkuisitor tersebut dimasukkan ke penjara.[76] Kabar bahwa Feletti telah ditangkap menyebabkan gelombang pers terkait Mortara, yang telah dianggap mati, kembali menggegerkan seluruh belahan Eropa.[76]

Penyelidikan[sunting | sunting sumber]

Pengadilan Pastor Pier Feletti menjadi kasus kriminal besar pertama di Bologna di bawah otoritas baru.[77] Pada tanggal 18 Januari 1860, Magistrat Francesco Carboni mengumumkan bahwa Feletti dan Letnan-Kolonel Luigi De Dominicis akan diperkarakan, tetapi tidak dengan Lucidi atau Agostini.[n 13] Saat Carboni mewawancarai Feletti di penjara pada 23 Januari, frater tersebut berkata bahwa dalam merebut Edgardo dari keluarganya, ia hanya menjalankan perintah dari Jawatan Suci, "yang tak pernah mengeluarkan dekrit apapun tanpa perhatian dari Kepausan Roma".[77] Feletti kemudian menceritakan sebuah versi dari penjelasan Gereja terhadap kasus tersebut, dengan menyatakan bahwa Edgardo "selalu menyatakan keputusannya untuk tetap menjadi orang Kristen" dan sekarang sukses belajar di Roma.[77] Ia memprediksi bahwa Edgardo suatu saat "mendukung dan membanggakan" keluarga Mortara.[77][n 14]

Pada 6 Februari, Momolo Mortara memberikan sebuah catatan dari kasus tersebut yang berseberangan dengan hampir semua pernyataan si inkuisitor; di Roma, ia berkata, Edgardo telah "ditekan, dan diintimidasi oleh keberadaan rektor tersebut, [namun] ia secara terbuka mendeklarasikan keputusannya untuk kembali ke rumah dengan kami".[79] Carboni kemudian datang ke San Giovanni in Persiceto untuk menginterogasi Morisi, yang memberikannya usia 23 tahun ketimbang usia sebenarnya, 26 tahun.[n 15] Morisi berkata bahwa Edgardo jatuh sakit pada musim dingin tahun 1851–52, saat ia berusia empat bulan. Ia melihat keluarga Mortara sedang terduduk sedih dengan keadaan Edgardo dan "membaca sebuah buku Ibrani yang Yahudi baca saat salah satu dari mereka akan mati".[80] Ia mempertahankan catatannya tentang memberikan pembaptisan darurat kepada Edgardo atas nasihat pedagang Lepori dan kemudin menceritakan kisah tersebut kepada seorang pelayan tetangga bernama Regina, dengan menambahkan bahwa ia juga mengatakan kepada saudari-saudarinya tentang pembaptisan tersebut.[80][n 16] Meskipun sebelumnya, Lepori menyangkal peran apapun dalam peristiwa tersebut, bahkan ia berkata tidak mengingat Morisi.[81] "Regina" dalam cerita Morisi diidentifikasikan sebagai Regina Bussolari; meskipun Morisi menyebutnya pada seluruh cerita tersebut, Bussolari tidak tahu menahu terhadap kasus tersebut. Ia berkata bahwa ia hanya berbicara dengan Morisi "sekali atau dua kali, saat ia datang ke kamar penyimpanan untuk mengambil beberapa barang", dan tak pernah tahu menahu tentang anak-anak Mortara.[81][n 17]

Elena Pignatti, yang mempekerjakan Morisi setelah ia meninggalkan keluarga Mortara pada 1857—kata-katanya tentang kesalahkaprahan Morisi telah membentuk bagian dari banding keluarga Mortara kepada Sri Paus—menyatakan bahwa "tujuh atau delapan tahun yang lalu ... seorang putra dari keluarga Mortara, yang tak kuketahui namanya, menjadi sakit, dan dikatakan bahwa ia akan mati. Pada masa itulah, suatu pagi ... Aku datang ke Morisi. Selain beberapa hal lainnya yang kita bicarakan, ia—tanpa menyebutkan sakit anak tersebut—bertanya kepadaku, 'Ku dengar jika kamu membaptiskan seorang anak Yahudi yang bakal mati, ia masuk Surga dan menerima indulgensi, apa itu benar?' Aku tidak ingat apa yang ku katakan kepadanya, tetapi saat bocah Mortara diculik atas perintah si padri Dominikan, Aku menyadari bahwa ia pasti orang yang sakit".[82] Pignatti berkata bahwa ia sendiri menyaksikan Edgardo saat sakit, dan Marianna berada di sampingnya—"Sejak ibunya menangis, dan meratapi hidupnya, aku berpikir bahwa ia sekarat, selain karena penampilannya: matanya tertutup, dan ia sulit bergerak."[82] Ia menambahkan bahwa pada tiga bulan saat Morisi bekerja untuknya pada akhir 1857, pelayan tersebut mendatangi San Domenico sebanyak empat atau lima kali, dan berkata bahwa inkuisitor tersebut menjanjikannya mas kawin.[82]

Penyangkalan Bussolari bahwa ia mendiskusikan pembaptisan apapun dengan Morisi menimbulkan pertanyaan siapa yang melaporkan rumor tersebut kepada inkuisitor pertama kali.[83] Pada 6 Maret, Carboni mewawancarai Morisi lagi dan mendapati ketidakkonsistenan antara ceritanya dan pernyataan dokter keluarga Mortara, keluarga Mortara sendiri, dan Lepori maupun Bussolari. Ia menjawab: "Itu kebenaran Injil".[82] Carboni memberitahukan kepada Morisi bahwa seluruh cerita yang ia berikan berlawanan dengan keluarga Mortara dengan harapan bahwa Gereja akan mengimbalinya.[n 18] Saat Carboni menanyakan Morisi jika ia berada di San Domenico selain saat interogasinya, ia menyatakan bahwa iatelah berada disana sebanyak tiga aatu dua kali untuk berupaya memastikan mas kawin dari Pastor Pier Feletti. Carboni berkesimpulan bahwa Morisi sendiri mengisi interogasi tersebut dengan mengadukan pembaptisan Edgardo pada salah satu kunjungan tersebut—Morisi mengaku bahwa interogasi tersebut terjadi pada pertemuan pertama dan dua kunjungan lainnya pada masa berikutnya.[83][n 19]

Setelah wawancara terakhir dengan Feletti—yang lagi-lagi hampir tak mengatakan apapun, atas dasar sumpah keramat—Carboni memberitahukannya bahwa sejauh yang ia lihat, tak ada bukti yang mendukung versi peristiwanya. Feletti menjawab: "Aku turut berduka dengan orang tua Mortara atas perpisahan menyakitkan mereka dari putra mereka, tetapi aku harap agar para pendoa jiwa kudus mensukseskannya dengan Allah menyatukan kembali mereka semua dalam agama Kristen ... Jika aku dihukum, tak hanya membuat aku menempatkan diriku di tangan Allah, tetapi aku akan menyatakan bahwa pemerintah manapun akan mengakui pengesahan tindakanku."[84] Pada hari berikutnya, Feletti dan De Dominicis, yang lari ke sisa-sisa wilayah Negara Gereja, resmi dikenai dakwaan "pemisahan paksa bocah Edgardo Mortara dari keluarga Yahudi-nya sendiri".[84]

Pengadilan dan putusan[sunting | sunting sumber]

Feletti menghadapi pengadilan di bawah kitab hukum yang berlaku di Bologna pada masa pengambilan Edgardo.[85] Carboni menyatakan bahwa di bawah hukum kepausan, perampasan adalah ilegal—ia melaporkan bahwa ia tak memiliki bukti mendukung klaim frater tersebut yang menyatakan bahwa ia bertindak mengikuti perintah dari Roma, dan terdapat bukti substansial yang menyelaraskan keraguan pada catatan Morisi, tetapi sejauh yang ia lihat, Feletti tak memverifikasikan apa yang ia katakan sebelum memerintahkan pengambilan anak tersebut.[85] Setelah Feletti menolak untuk memilih konsel pembela saat diminta, dengan alasan bahwa ia menyerahkan pembelaannya di tangan Allah dan Bunda Maria, pengacara Bologna berpengalaman Francesco Jussi dipilih oleh negara untuk membelanya.[85]

Pendengaran sebelum panel enam hakim pada 16 April 1860 dihadiri oleh keluarga Mortara maupun Feletti—karena keluarga Mortara berada di Torino dan baru mengetahui tanggal pengadilan tersebut dua hari sebelumnya dan karena Feletti menolak untuk mengakui hak otoritas baru tersebut untuk memasukkannya ke pengadilan. Dengan bukti yang dikumpulkan oleh Curletti dan Carboni siap di tangan, terdakwa tak memiliki saksi mata untuk dipanggil.[85] Terdakwa Radamisto Valentini, seorang pengacara yang mengikuti kasus besar pertamanya, menyatakan bahwa Feletti sendiri yang memerintahkan perampasan tersebut dan atas inisiatifnya sendiri, dan kemudian mengalihkan fokusnya kepada poin kedua Carboni tentang bagaimana otoritas di Roma mungkin menganggap bahwa cerita Morisi itu jenius. Valentini yang menginginkan penjelasan dari catatan Morisi, berpendapat bahwa bahkan jika hal-hal yang terjadi seperti yang ia katakan, pembaptisan tersebut tidak diadministrasikan dan sehingga tidak sah.[86] Ia kemudian menyoroti ketidakkonsistenan antara pernyataannya dan catatan-catatan lainnya, menuduh Morisi sebagai gadis memalukan "yang dirusak oleh hawa nafsu dan sentuhan para prajurit asing ... [yang] bertindak tanpa rasa malu dengan mereka", dan akhirnya mendakwa bahwa Feletti sendiri yang telah memerintahkan perampasan tersebut atas dasar megalomania dan "kebencian Yudaisme pada sang inkuisitor".[87]

Jussi menyadari dirinya sendiri dalam posisi tak lazim dalam upaya membela seorang klien yang menolak membela dirinya sendiri.[85] Dengan tanpa bukti yang mendukung pernyataan Feletti, ia terpaksa menjawab hampir seluruh oratorinya sendiri. Jussi memajukan beberapa aspek sekuensi dari peristiwa tersebut yang menyatakan bahwa ia diperintah dari Roma—contohnya, bahwa Feletti telah mengirim Edgardo ke ibu kota tanpa melihatnya—dan menyatakan bahwa Jawatan Suci dan Sri Paus jauh lebih baik untuk menentukan validitas pembaptisan ketimbang dewan sekuler. Ia mengutip catatan Angelo Padovani dari pertemuannya dengan Anna Morisi pada Juli 1858, kemudian menyatakan keraguan terhadap klaim pedagang Lepori bahwa ia bahkan tak mengetahui pembaptisan seorang anak—Jussi memberikan sebuah laporan polisi yang menyatakan bahwa Lepori adalah teman dekat seorang imam Yesuit.[88] Jussi berpendapat bahwa Lepori dan Bussolari berusaha untuk melindungi diri mereka sendiri, dan bahwa penyimpangan seksual Morisi tidak menandakan bahwa ceritanya palsu.[88] Ia menyatakan bahwa sejak Feletti menjadi inkuisitor pada masa itu, ia hanya melakukan apa yang diminta pusat untuk dikerjakan, dan tak ada niat jahat.[88]

Panel hakim, yang dikepalai oleh Calcedonio Ferrari, memerintahkan agar Feletti harus dibebaskan karena ia hanya bertindak di bawah pengarahan dari pemerintah pada masa itu.[89] Di tengah-tengah antara penangkapan imam tersebut dengan pengadilannya, terjadi proses menuju penyatuan Italia, yang membuat kasus Mortara kehilangan sorotannya, sehingga hanya sedikit protes terhadap keputusan tersebut.[89] Pers Yahudi mengekspresikan ketidaksetujuan—sebuah editorial dalam surat kabar Yahudi Italia L'Educatore israelitico menyatakan bahwa penargetan Feletti tidak bijak ketimbang beberapa orang yang lebih senior.[89] Di Prancis, Archives Israélites memberikan kalimat serupa, yang menyatakan: "apa bagusnya menyerang tangan saat kepala yang dalam kasus tersebut didakwa, diadili dan diberi sanksi atas serangan tersebut?"[89][n 20]

Rencana merebut kembali Edgardo[sunting | sunting sumber]

Keluarga Mortara tak terkejut dengan keputusan pengadilan Feletti. Momolo berharap agar putranya menjadi topik diskusi besar di sebuah konfederasi internasional tentang masa depan Italia, tetapi batal karena tak ada KTT semacam itu yang diadakan.[91] Pada 1860, peristiwa tersebut dan kunjungannya ke Paris sebagian memotivasi pembentukan Alliance Israélite Universelle, sebuah organisasi yang berbasis di Paris yang didedikasikan kepada kemajuan hak sipil Yahudi di seluruh dunia.[91] Saat tentara nasionalis Italia bergerak ke sepanjang semenanjung tersebut, kejatuhan Roma makin terpampang. Pada September 1860, Alliance Israélite Universelle menulis pesan kepada Momolo yang menawarkannya dukungan keuangan dan logistik jika ia berharap untuk mengklaim lagi putranya dengan paksa, dengan alasan "merebut anakmu lagi merupakan sebab seluruh Israel".[91] Sebuah rencana terpisah dirumuskan oleh Carl Blumenthal, seorang Yahudi Inggris yang bertugas dalam pasukan sukarelawan nasionalis Giuseppe Garibaldi: Blumenthal dan tiga orang lainnya akan menyamar menjadi rohaniwan, merebut Edgardo dan membawanya pergi. Garibaldi menyetujui rencana tersebut pada 1860, tetapi tidak jadi karena salah satu konspiratornya wafat.[91]

Kesudahan[sunting | sunting sumber]

Penyatuan Italia; Pelarian Edgardo[sunting | sunting sumber]

Kerajaan Italia (merah) dan Negara Gereja (ungu) pada 1870

Sri Paus masih bersikukuh untuk tidak menyerahkan Edgardo, dengan menyatakan: "Segala sesuatu yang kuperbuat atas anak ini sudah menjadi hak dan kewajibanku. Jika ini terjadi lagi, Aku akan menyatakan hal yang sama."[92] Saat delegasi dari komunitas Yahudi Roma menghadiri pertemuan tahunan di Vatikan pada Januari 1861, mereka terkejut saat menemukan Edgardo yang berusia sembilan tahun berada di samping Sri Paus.[93] Kerajaan Italia yang baru diproklamasikan sebulan kemudian dengan Victor Emmanuel II sebagai raja. Berkurangnya wilayah kekuasaan Negara Gereja, yang hanya meliputi Roma dan kawasan sekitarnya, mendorong pergerakan kerajaan baru tersebut karena Napoleon III mengurangi subyek-subyek Katolik-nya dengan menarik garnisun Prancis-nya.[93] Ia menarik pasukannya setelah pengambilan seorang anak Yahudi dari Ghetto Roma, Giuseppe Coen yang berumur sembilan tahun, ke Wisma Katekumen pada 1864.[94] Penarikan garnisun Prancis membuat Pertanyaan Roma dimajukan ke parlemen Italia. Negarawan Marco Minghetti mengajukan tuntutan agar Roma menjadi bagian dari kerajaan tersebut dengan Sri Paus masih memegang beberapa kekuasaan istimewa, dengan berkata: "kami tak dapat menjaga Mortara untuk Sri Paus".[94] Garnisun Prancis kembali pada 1867, setelah upaya gagal oleh Garibaldi untuk menaklukkan kota tersebut.[95]

Pada awal 1865, di usia 13 tahun, Edgardo menjadi calon biarawan di Kanon Reguler Lateran, menambahkan nama Sri Paus pada namanya sendiri sehingga namanya menjadi Pio Edgardo Mortara.[n 21] Ia masih menuliskan pesan-pesan kepada keluarganya, ia menyatakan, "sepakat dengan agama dan apa yang aku lakukan untuk mempertobatkan mereka dalam kebenaran iman Katolik," namun tidak dibalas sampai Mei 1867—orang tuanya, yang sekarang tinggal di Firenze, menyatakan bahwa mereka masih mengasihinya, tetapi tidak berkata kepada putranya dalam surat-surat tersebut bahwa mereka telah menerimanya.[95] Pada Juli 1870, tepat sebelum Edgardo menginjak usia 19 tahun, garnisun Prancis di Roma menarik diri untuk kebaikan setelah Perang Prancis-Prusia pecah. Pasukan Italia menaklukkan kota tersebut pada 20 September 1870.[95]

Momolo Mortara mengikuti Angkatan Darat Italia ke Roma dengan harapan akhirnya mengklaim lagi putranya. Menurut beberapa catatan, ia ditemani oleh putranya Riccardo, abang Edgardo, yang masuk penugasan kerajaan tersebut sebagai perwira infanteri. Riccardo Mortara berjalan menuju San Pietro in Vincoli dan menemukan ruang konven adiknya. Edgardo membuka matanya, mengarahkan tangannya di depannya dan berteriak: "Pergilah, Setan!"[96] Saat Riccardo berkata bahwa ia kakaknya, Edgardo menjawab: "Sebelum kamu mendekatiku, lepaskan seragam pembunuh itu."[96][n 22] Entah itu benar, apa yang terjadi menunjukkan bahwa Edgardo panik ketika Roma diserang. Ia kemudian menulis: "Setelah pasukan Piedmont memasukki Roma ... mereka menggunakan pasukan pasukan mereka untuk menangkap Coen dari Collegio degli Scolopi, [kemudian] bergerak menuju San Pietro in Vincoli untuk berusaha untuk menculikku juga."[96] Kepala kepolisian Roma membujuk Edgardo agar kembali ke keluarganya menuruti kehendak publik, tetapi ia tolak. Ia kemudian bertemu komandan Italia, Jenderal Alfonso Ferrero La Marmora, yang berkata kepadanya bahwa karena ia telah berusia 19 tahun, ia dapat melakukan apa yang ia inginkan. Edgardo diseludupkan dari Roma bersama dengan seorang imam pada 22 Oktober 1870, pada larut malam dan mengenakan pakaian awam. Ia melakukan perjalanan menuju ke utara dan kabur ke Austria.[98][n 23]

Pastor Pio Edgardo Mortara[sunting | sunting sumber]

Pastor Pio Edgardo Mortara (kanan) dengan ibunya Marianna, s. 1878–90

Edgardo ditemukan di sebuah wisma paguyuban kanon reguler di Austria, dimana ia hidup memakai nama samaran. Pada 1872, ia pindah ke sebuah biara di Poitiers, Prancis, dimana Paus Pius giat berbincang dengan uskup tentang kaum muda. Setelah setahun, Pio Edgardo Mortara ditahbiskan menjadi imam—dengan dispensasi khusus karena ia baru berusia 21 tahun yang secara teknis dianggap terlalu muda. Ia menerima sebuah surat pribadi dari Sri Paus untuk menandai peristiwa tersebut, serta gaji seumur hidup sejumlah 7,000 lira untuk mendukungnya.[99]

Pastor Edgardo Mortara menjalani sebagian besar masa hidupnya di luar Italia, mengunjungi seluruh Eropa dan berkhotbah. Ia dikatakan memberikan khotbah dalam enam bahasa, termasuk bahasa Basque, dan dapat membaca dalam lebih dari tiga bahasa, termasuk bahasa Ibrani.[99] "Sebagai pengkhotbah, aku berada dalam tuntutan besar," Kertzer menyatakan, "bukan karena cara inspirasional yang membuatnya dapat menuangkan cerita masa kecilnya sendiri dalam khotbah-khotbahnya. Karena ia mengakukannya, kecerdasannya adalah iman dan harapan: sebuah cerita tentang bagaimana Allah memilih seorang gadis pelayan sederhana dan buta huruf mengangkat seorang anak kecil dengan kekuatan mukjizat dari rahmat ilahi, dan dalam suatu tindakan yang diselamatkan dari keluarga Yahudi-nya—orang baik namun, sebagai Yahudi, pada sebuah wadah yang meninggalkan Allah."[99]

Momolo Mortara wafat pada 1871, tak lama setelah menjalani tujuh bulan penjara pada masa pengadilannya atas kematian seorang gadis pelayan yang jatuh dari jendela apartemennya. Ia didakwa membunuhnya oleh pengadilan banding Firenze, tetapi kemudian dinyatakan tak bersalah oleh pengadilan pidana.[100] Paus Pius IX wafat pada tahun 1878. Pada tahun yang sama, Marianna datang ke Perpignan di barat daya Prancis, dimana ia mendengar Edgardo berkhotbah, dan menikmati reuni emosional dengan putranya, yang memandangnya, tetapi menghiraukannya saat ia menolak tawarannya untuk masuk ke agama Katolik.[99] Edgardo kemudian berupaya untuk menjalin lagi hubungan dengan keluarganya, tetapi tak semua kerabatnya menerimanya seperti halnya ibunya.[99]

Setelah Marianna wafat pada 1890, surat-surat kabar Prancis mengabarkan bahwa ia akhirnya menjadi Kristen di kasurnya dan dengan Edgardo di sampingnya. Edgardo menyangkalnya: "Aku selalu menganggap bahwa ibuku memeluk iman Katolik," ia menyatakan dalam sebuah surat kepada Le Temps, "dan aku berusaha beberapa kali agar ia melakukannya. Namun, hal itu tak pernah terjadi".[99] Setahun kemudian, Pastor Pio Edgardo Mortara kembali ke Italia untuk pertama kalinya dalam dua dekade untuk berkhotbah di Modena. Seorang saudari dan beberapa saudaranya datang untuk mendengar khotbahnya, dan selama sisa hidupnya, Edgardo memanggil para kerabatnya saat ia berada di Italia.[99] Pada 1919, ia mengunjungi Wisma Katekumen di Roma sebelum ia memasuki usia 61 tahun.[99] Pada saat itu, ia singgah di biara Kanon Reguler Bouhay, Liège, Belgia. Bouhay memiliki sebuah tempat pemuliaan terhadap Bunda dari Lourdes, yang Pastor Edgardo Mortara rasa memiliki hubungan istimewa, penampakan Lourdes tahun 1858 terjadi pada tahun yang sama dengan masa perpindahan agamanya sendiri ke agama Kristen. Pastor Pio Edgardo Mortara menetap di Bouhay sepanjang sisa hidupnya dan wafat di sana pada 11 Maret 1940, pada usia 88 tahun.[99]

Tinggalan sejarah[sunting | sunting sumber]

Kasus Mortara meraih perhatian kecil dalam sebagian besar sejarah Risorgimento, jika disebutkan secara keseluruhan.[101] Karya terpelajar berbentuk buku pertama adalah The American Reaction to the Mortara Case: 1858–1859 (1957) karya Rabbi Bertram Korn, yang menuangkan seluruh opini publik di Amerika Serikat dan, menurut Kertzer, sering disalahartikan sebagai detail dari kasus tersebut.[101] Rujukan sejarah utama sampai 1990an adalah serangkaian artikel yang ditulis oleh cendekiawan Italia Gemma Volli dan diterbitkan pada tahun keseratus dari kontroversi tersebut pada tahun 1958–1960.[101] Saat David Kertzer mulai mempelajari kasus tersebut, ia terkejut saat menemukan bahwa beberapa kolega Italianya tak familiar dengan peristiwa tersebut, demikian pula dengan para spesialis dalam studi Yahudi di seluruh dunia. Menurut Kertzer, Mortara telah, "[turun] dari sejarah utama Italia menjadi sejarah ghetto Yahudi".[101] Kertzer mengeksplor beberapa sumber yang sebelumnya belum dipelajari dan kemudian menerbitkan The Kidnapping of Edgardo Mortara (1997), yang menjadi karya rujukan standar untuk peristiwa tersebut.[1][102][103][104]

Menurut Timothy Verhoeven, kasus Mortara adalah kontroversi terbesar dalam Gereja Katolik pada pertengahan abad ke-19, karena peristiwa tersebut "lebih dari masalah tunggal manapun lainnya ... menyoroti perpecahan antara pendukung dan penentang Vatikan".[105] Abigail Green menyatakan bahwa "pertikaian ini antara liberal dan Katolik di seluruh dunia pada masa ketegangan internasional yang kritis ... membuat peristiwa Mortara mendapatkan signifikansi global—dan juga menjadikannya sebuah peristiwa transformatif dalam dunia Yahudi".[61] Pada 1893, Mortara sendiri menganggap bahwa penculikannya pada masa itu "lebih terkenal ketimbang Wanita Sabine".[27]

Berbulan-bulan sebelum beatifikasi Pius IX oleh Gereja Katolik pada tahun 2000, para komentator Yahudi dan pihak lainnya dalam media internasional mengangkat peristiwa Mortara yang banyak terlupakan sesambil menganalisis kehidupan dan warisan Sri Paus tersebut.[13] Menurut Dov Levitan, fakta-fakta dasar dari kasus Mortara jauh dari keunikan, tetapi berpengaruh karena efeknya pada opini publik di Italia, Inggris dan Prancis, dan sebagai contoh dari "esensi besar solidaritas Yahudi yang terjadi pada paruh akhir abad ke-19 [karena] Yahudi mengembangkan sebab persaudaraan mereka di berbagai belahan dunia".[103] Alliance Israélite Universelle, yang pembentukannya sebagian dimotivasi oleh kasus Kortara, bertumbuh menjadi salah satu organisasi Yahudi paling berpengaruh di dunia dan berkembang pada abad ke-21.[106] Kasus tersebut menjadi subjek dari opera dua akting Francesco Cilluffo Il caso Mortara, yang tampil perdana di New York pada 2010.[107]

Menurut Michael Goldfarb, kontroversi Mortara memberi "sebuah contoh tentang bagaimana Gereja menyentuh masa modern" dan menunjukkan bahwa "Paus Pius IX tak dapat membawa Gereja ke dalam era modern".[108] Kertzer memberikan pernyataan serupa: "Penolakan untuk mengembalikan Edgardo berkontribusi pada pertumbuhan esensi bahwa peran Sri Paus sebagai penguasa temporal, dengan pasukan polisinya sendiri, adalah sebuah anarkronisme yang tak bertahan lama."[109] Kertzer lebih lanjut berpendapat bahwa sebagai motivator utama yang mengubah pendirian Prancis dalam menghadapi penyatuan Italia pada 1859–61, "cerita seorang gadis pelayan buta huruf, seorang pedagang dan seorang kanak-kanak Yahudi dari Bologna" tersebut telah mengubah susunan sejarah Gereja dan Italia.[110]

Keterangan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Nama lengkap Edgardo yang banyak tercatat adalah Edgardo Levi Mortara, yakni nama yang tercatat ia gunakan sesudah dewasa,[11][12] Edgardo Mortara Levi,[13] atau singkatnya Edgardo Mortara.[7]
  2. ^ Negara-negara Katolik lain, misalnya Kekaisaran Austria, memberlakukan undang-undang yang sama.[27]
  3. ^ Surat rekomendasi terakhir dari Jawatan Suci untuk Pastor Pier Feletti terkait kasus Mortara tidak ditemukan—Kertzer menduga surat ini dibakar oleh pejabat Gereja saat daerah-daerah Negara Gereja direbut oleh Kerajaan Italia pada tahun 1859.[29]
  4. ^ Salah seorang tetangga keluarga Mortara mengatakan bahwa di kediaman kediaman keluarga itu, Marsekal Pietro Lucidi terdengar berujar bahwa ia "lebih baik disuruh menangkap seratus orang penjahat daripada disuruh mengambil paksa kanak-kanak itu".[30]
  5. ^ Saat kedua tamunya pergi mencari notaris dan saksi-saksi, saudari-saudari Anna beserta pastor paroki setempat menasihatinya agar tidak usah lagi memberi keterangan. Anna pun meninggalkan tempat tinggalnya dan bersembunyi di tempat lain di desa itu.[37]
  6. ^ Momolo juga mengabarkan bahwa menurut penuturan rektor katekumen, Edgardo mengaku merasa takut saat dijemput polisi, karena menyangka polisi hendak memancung kepalanya.[39]
  7. ^ Ia menambahkan bahwa "desas-desus yang sudah menyebar luas bahwasanya ia sudah gila sesungguhnya tidak benar. Ia masih sangat waras."[41]
  8. ^ Agostini bersaksi bahwa segera sesudah Edgardo yang berusia enam tahun itu masuk ke gereja, "berkat mukjizat dari surga, terjadi perubahan mendadak. Ia berlutut dan dengan tenang mengambil bagian dalam Kurban Ilahi," serta tekun menyimak penjelasan Agostini mengenai jalannya perayaan Misa. Agostini mula-mula mengajari Edgardo membuat tanda salib, selanjutnya mengajarinya mengucapkan doa Salam Maria.[43] Agostini melaporkan bahwa, sesudah itu Edgardo pun "lupa pada orang tuanya", dan bersikeras berkunjung ke gereja di tiap-tiap kota yang mereka lewati sampai tiba di Roma.[43]
  9. ^ Ketika itu sudah tersiar kabar angin di kalangan umat Yahudi Italia bahwa Edgardo telah dibaptis untuk kedua kalinya di Wisma Katekumen dengan cara yang lebih sesuai dengan tata upacara pembaptisan, tetapi Kertzer menduga kabar angin ini mungkin sekali tidak benar.[46]
  10. ^ Shema—"Dengarlah, O Israel: Allah adalah Tuhan kami, Allah itu Satu"—adalah salah satu doa paling penting dalam Yudaisme, dan diucapkan oleh umat Yahudi setiap pagi dan sore.[52]
  11. ^ Hal ini menyusul sebuah perjanjian sebelumnya dengan tujuan yang sama antara Kaisar dan Perdana Menteri dari Raja Victor Emmanuel, Сount Cavour, pada 21 Juli 1858.[65] Kasus tersebut mula-mula diadukan kepada Napoleon III oleh seorang sepupu yang berasal dari Bologna, Marquis Gioacchino Pepoli [it], sebelum para perwakilan komunitas Yahudi Prancis mengirimkannya banding tertulis pada Agustus 1858.[65]
  12. ^ Eropa kurang menyoroti Mortara pada titik tersebut, tetapi masih meraih perhatian besar di sepanjang Atlantik; pada bulan Maret, New York Herald melaporkan bahwa sorotan berkembang pada "dimensi-dimensi kolosal".[57]
  13. ^ Dengan alasan bahwa keduanya hanya menjalankan perintah dari atasan langsung, sementara De Dominicis memegang beberapa tanggung jawab terhadap legalitas perintah tersebut.[77]
  14. ^ Dalam kesempatan lainnya, Feletti berkata kepada Carboni bahwa Sri Paus telah mencanangkan kebebasan bagi orang tua Edgardo sehingga mereka bisa datang ke Roma untuk mengunjunginya. Carboni mengeceknya pada kantor tahap pelatihan Bologna, yang mengabarkan tak ada bukti permintaan apapun dari Roma pada paruh kedua tahun 1858.[78]
  15. ^ Morisi yang buta huruf tak pernah jelas usianya. Menurut komentar Kertzer, hal ini biasanya hanya dijadikan persoalan kecil, tetapi perhatian pers masif membuat usianya menjadi bahan perdebatan.[80] Ia sendiri berkata bahwa ia membaptis Edgardo saat ia baru berusia 14 tahun, sebuah klaim yang para pendukung keluarga Mortara ragukan karena alasan lainnya terkait pembaptisan tersebut. Sertifikat kelahirannya tertanggal 28 November 1833, menandakan bahwa ia sebenarnya berusia sekitar 19 tahun pada masa insiden tersebut.[80]
  16. ^ Saat Carboni menyatakan bahwa jika Lepori berkata kepadanya tentang pembaptisan seorang anak Yahudi, ia akan menanyainya setelahnya jika ia diberitahukan olehnya, Morisi menjawab bahwa mereka tak pernah mendiskusikannya lagi.[80]
  17. ^ Seperti Morisi, Bussolari berasal dari San Giovanni in Persiceto. Carboni menyoroti latar belakangnya dan menemukan bahwa ia menjalani waktu luang di gereja, yang ia anggap menandakan seoranb karakter yang dapat dipercaya, tetapi laporan polisi kemudian mengungkapkan bahwa Bussolari adalah "seorang mak comblang ... rumahnya didatangi oleh berbagai macam orang, bahkan para imam, untuk hubungan dengan wanita."[81]
  18. ^ Momolo menyatakan bahwa Morisi telah meninggalkan pekerjaannya setelah "berbicara dengan istrinya", tetapi "tak merasakan firasat buruk apapun yang akan berujung pada ketakutan apapun".[79]
  19. ^ Dalam kasus apapun, ia berkata, ia tidak benar-benar menerima mas kawin, dan telah menikah tanpanya.[83]
  20. ^ Penolakan Feletti untuk kengaku di hadapan pengadilan membuat ia dianggap hanya suruhan petinggi-petinggi Dominikan-nya atau Sri Paus. Setelah pengadilan tersebut, ia menjadi prior dari sebuah konven di Roma, dimana ia masih berada disana sampai kematiannya pada usia 84 tahun pada 1881.[90]
  21. ^ Dalam hal keagamaan, ia terkadang dikenal sebagai Pio Maria Mortara.[12]
  22. ^ Catatan tersebut diberikan dalam karya Gemma Volli tahun 1960 tentang kasus Mortara, Il caso Mortara nel primo centario. Ketzner menyatakannya sebagai "sebuah potongan drama, ini terlihat terlalu bagus untuk suatu kenyataan ... sayangnya, aku tidak menemukan bukti untuk mendukungnya, meskipun kami mengetahui bahwa Riccardo Mortara telah berkarier menjadi perwira tentara."[97]
  23. ^ Giuseppe Coen, yang kala itu sudah berumur 16 tahun, dikembalikan ke keluarganya melawan kehendaknya setelah pengadilan memutuskan bahwa ia belum dewasa sehingga ayahnya masih memegang hak hukum atasnya. Coen kembali ke Roma sesudah dewasa dan menjadi imam.[96]

Rujukan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b Benton 2013.
  2. ^ a b c d e Hearder 2013, hlm. 287–288.
  3. ^ Hearder 2013, hlm. 96.
  4. ^ Hearder 2013, hlm. vi.
  5. ^ a b c Kertzer 1998, hlm. x–xi.
  6. ^ Kertzer 1998, hlm. 21.
  7. ^ a b c d Kertzer 1998, hlm. 22–23.
  8. ^ Kertzer 1998, hlm. 79.
  9. ^ Kertzer 1998, hlm. 49, 59, 89.
  10. ^ a b Kertzer 1998, hlm. 49, 59.
  11. ^ Gilley & Stanley 2006, hlm. 243.
  12. ^ a b Canestri 1966, hlm. 46.
  13. ^ a b De Mattei 2004, hlm. 153.
  14. ^ Kertzer 1998, hlm. 14.
  15. ^ a b Kertzer 1998, hlm. 37–38.
  16. ^ a b Kertzer 1998, hlm. 23, 39.
  17. ^ a b c Kertzer 1998, hlm. 95–96.
  18. ^ Kertzer 1998, hlm. 23, 39–41.
  19. ^ Kertzer 1998, hlm. 83.
  20. ^ Kertzer 1998, hlm. 33, 147.
  21. ^ Kertzer 1998, hlm. 34.
  22. ^ Kertzer 1998, hlm. 97.
  23. ^ Kertzer 1998, hlm. 34–39.
  24. ^ a b Kertzer 1998, hlm. 83–84.
  25. ^ Kertzer 1998, hlm. 40–41, 83, 148.
  26. ^ a b Kertzer 1998, hlm. 145–147.
  27. ^ a b c d De Mattei 2004, hlm. 154.
  28. ^ Kertzer 1998, hlm. 148–149.
  29. ^ a b Kertzer 1998, hlm. 54–55, 83–84.
  30. ^ a b c d e f g Kertzer 1998, hlm. 3–8.
  31. ^ a b c d e f Kertzer 1998, hlm. 8–12.
  32. ^ Kertzer 1998, hlm. 64, 85–86.
  33. ^ Kertzer 1998, hlm. 43.
  34. ^ Kertzer 1998, hlm. 65–66, 85–87.
  35. ^ a b c Kertzer 1998, hlm. 65–66.
  36. ^ Kertzer 1998, hlm. 39–40.
  37. ^ a b c d e Kertzer 1998, hlm. 40–41.
  38. ^ a b Kertzer 1998, hlm. 50–52, 67–69, 70–71.
  39. ^ Kertzer 1998, hlm. 51–52.
  40. ^ a b c Kertzer 1998, hlm. 102–103.
  41. ^ a b Kertzer 1998, hlm. 104.
  42. ^ a b c Kertzer 1998, hlm. 67–70.
  43. ^ a b Kertzer 1998, hlm. 53–54.
  44. ^ a b c d e f g h Kertzer 1998, hlm. 70–71.
  45. ^ Kertzer 1998, hlm. 72.
  46. ^ a b Kertzer 1998, hlm. 92–93.
  47. ^ a b c d Kertzer 1998, hlm. 93–94.
  48. ^ Kertzer 1998, hlm. 94–95.
  49. ^ a b c Kertzer 1998, hlm. 97–101.
  50. ^ a b c Kertzer 1998, hlm. 104–108.
  51. ^ a b c d Kertzer 1998, hlm. 109–112.
  52. ^ Appel 1991, hlm. 11.
  53. ^ a b c Kertzer 1998, hlm. 112–115.
  54. ^ Kertzer 1998, hlm. 172.
  55. ^ a b Kertzer 1998, hlm. 116–118.
  56. ^ Kertzer 1998, hlm. 184.
  57. ^ a b Kertzer 1998, hlm. 126–127.
  58. ^ The Spectator 1858, hlm. 13.
  59. ^ Kertzer 1998, hlm. 128.
  60. ^ Kertzer 1998, hlm. 135.
  61. ^ a b Green 2012, hlm. 264.
  62. ^ Kertzer 1998, hlm. 162.
  63. ^ Kertzer 1998, hlm. 83–85.
  64. ^ Kertzer 1998, hlm. 87–90.
  65. ^ a b c d Kertzer 1998, hlm. 85–87.
  66. ^ Kertzer 1998, hlm. 167.
  67. ^ a b c d e f Kertzer 1998, hlm. 158–161.
  68. ^ Kertzer 1998, hlm. 255.
  69. ^ a b c Kertzer 1998, hlm. 163–167.
  70. ^ a b c Kertzer 1998, hlm. 168–170.
  71. ^ Green 2012, hlm. 279.
  72. ^ Kertzer 1998, hlm. 170–171.
  73. ^ Kertzer 1998, hlm. 175–176.
  74. ^ a b Kertzer 1998, hlm. 179–183.
  75. ^ a b Kertzer 1998, hlm. 185–191.
  76. ^ a b c d Kertzer 1998, hlm. 191–194.
  77. ^ a b c d e Kertzer 1998, hlm. 196–201.
  78. ^ Kertzer 1998, hlm. 228.
  79. ^ a b Kertzer 1998, hlm. 201–205.
  80. ^ a b c d e Kertzer 1998, hlm. 205–208.
  81. ^ a b c Kertzer 1998, hlm. 208–212.
  82. ^ a b c d Kertzer 1998, hlm. 212–217.
  83. ^ a b c Kertzer 1998, hlm. 217–220.
  84. ^ a b Kertzer 1998, hlm. 226–227.
  85. ^ a b c d e Kertzer 1998, hlm. 227–229.
  86. ^ Kertzer 1998, hlm. 229–231.
  87. ^ Kertzer 1998, hlm. 231–232.
  88. ^ a b c Kertzer 1998, hlm. 232–237.
  89. ^ a b c d Kertzer 1998, hlm. 240–242.
  90. ^ Kertzer 1998, hlm. 244.
  91. ^ a b c d Kertzer 1998, hlm. 247–252.
  92. ^ De Mattei 2004, hlm. 156.
  93. ^ a b Kertzer 1998, hlm. 255–257.
  94. ^ a b Kertzer 1998, hlm. 258–260.
  95. ^ a b c Kertzer 1998, hlm. 260–261.
  96. ^ a b c d Kertzer 1998, hlm. 262–263.
  97. ^ Kertzer 1998, hlm. 327.
  98. ^ Kertzer 1998, hlm. 263–265.
  99. ^ a b c d e f g h i Kertzer 1998, hlm. 295–298.
  100. ^ Kertzer 1998, hlm. 293–294.
  101. ^ a b c d Kertzer 1998, hlm. 299–302.
  102. ^ Grew 2000.
  103. ^ a b Levitan 2010, hlm. 3.
  104. ^ Green 2012, hlm. 485: "This account is taken from the standard history of the affair: David Kertzer, The Kidnapping of Edgardo Mortara".
  105. ^ Verhoeven 2010, hlm. 55–57.
  106. ^ Kertzer 1998, hlm. 250.
  107. ^ Tommasini 2010.
  108. ^ Goldfarb 2009, hlm. 250–251.
  109. ^ Kertzer 2005, hlm. 471.
  110. ^ Kertzer 1998, hlm. 173.

Sumber[sunting | sunting sumber]

Artikel surat kabar dan jurnal

Sumber daring

Kepustakaan

  • Appel, Gersion (1991) [1977]. The Concise Code of Jewish Law. Volume 1. New York: Ktav Publishing House. ISBN 978-0-87068-298-8. 
  • Canestri, Alberto (1966). L'anima di Pio IX: quale si rivelò de fu compresa dai Santi. Volume 3 (dalam bahasa Italian). Marino, Lazio: Santa Lucia. OCLC 622875936. 
  • De Mattei, Roberto (2004) [2000]. Pius IX. Trans. John Laughland. Leominster, UK: Gracewing. ISBN 978-0-85244-605-8. 
  • Gilley, Sheridan; Stanley, Brian, ed. (2006). The Cambridge History of Christianity. Volume 8: World Christianities c. 1815 – c. 1914. Cambridge, UK: Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-81456-0. 
  • Goldfarb, Michael (2009). Emancipation: How Liberating Europe's Jews from the Ghetto Led to Revolution and Resistance. New York: Simon & Schuster. ISBN 978-1-4165-4796-9. 
  • Green, Abigail (2012) [2010]. Moses Montefiore: Jewish Liberator, Imperial Hero. Cambridge, Massachusetts: Harvard University Press. ISBN 978-0-674-06419-5. 
  • Hearder, Harry (2013) [1983]. Italy in the Age of the Risorgimento 1790–1870. Longman History of Italy. Abingdon, UK and New York: Routledge. ISBN 978-1-317-87206-1. 
  • Kertzer, David I (1998) [1997]. The Kidnapping of Edgardo Mortara. New York: Vintage Books. ISBN 978-0-679-76817-3. 
  • Kertzer, David I (2005). "Mortara Affair". Dalam Levy, Richard S. Antisemitism: A Historical Encyclopedia of Prejudice and Persecution. Santa Barbara, California: ABC-CLIO. hlm. 470–471. ISBN 978-1-85109-439-4. 
  • Verhoeven, Timothy (2010). Transatlantic Anti-Catholicism: France and the United States in the Nineteenth Century. New York: Palgrave Macmillan. ISBN 978-0-230-10287-3. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]