Dungun kecil

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Heritiera littoralis)
Jump to navigation Jump to search
Dungun Kecil
Starr 070727-7637 Heritiera littoralis.jpg
Dungun kecil, Heritiera littoralis
Oahu, Hawaii
Status konservasi
Klasifikasi ilmiah
Kingdom: Plantae
(tidak termasuk): Angiospermae
(tidak termasuk): Eudikotil
(tidak termasuk): Rosidae
Ordo: Malvales
Famili: Malvaceae
Genus: Heritiera
Spesies: H. littoralis
Nama binomial
Heritiera littoralis
Aiton, 1789 [2]
Sinonim
  • Amygdalus litoralis (Dryand.) Kuntze
  • Balanopteris tothila Gaertn.

Sumber: The Plant List.[3]

Dungun kecil atau dungun laut (Heritiera littoralis) adalah nama sejenis pohon penghuni hutan pantai, rawa-rawa pantai, dan hutan bakau, anggota suku Malvaceae. Pohon ini menghasilkan kayu yang berkualitas baik, yang dalam perdagangan dikenal sebagai kayu dungun. Dipencarkan oleh aliran air dan gelombang laut, dungun kecil tersebar luas dari pesisir timur Afrika, India, kawasan Malesia, hingga pulau-pulau di Pasifik.[4]

Di pelbagai daerah, pohon ini dikenal dengan nama-nama seperti: dungon (Aceh); dungun, atung laut, bayur laut, bèbèkan (Mly.); cĕrlang laut (Sd.); dungun, lawang, balang pasir (Jw.); longon (Md.); dungu, dunguno, lawanan kĕtè, l. rintĕk (Sulut); rumung (Sulsel); rorumu (Galela, Tobelo); leligen (Weda, Halmahera); rurun, lulun (Ambon); kabi ma gosi (Ternate); kabi ma hoso (Tidore); bèlohila, blakangabu (Timor); genura (Alor).[5]. Sementara dalam bahasa Inggris ia dinamakan looking-glass tree atau looking-glass mangrove.

Pengenalan[sunting | sunting sumber]

Pelat botani menurut Blanco

Pohon yang tak menggugurkan daun, berumah dua, berperawakan sedang yang mencapai tinggi 25 m, namun umumnya lebih pendek. Batang utama biasanya terpilin dan kerdil, gemangnya mencapai 40(-60) cm; dengan banir tipis bergelombang, meluas jauh keluar.[4]

Buah muda

Daun-daun tunggal, berkumpul di ujung ranting, bertangkai 0,5-1(-2) cm, kokoh. Helaian daun hijau gelap di atas dan keperakan di sisi bawah, tertutupi oleh sisik-sisik yang bertumpang tindih; liat seperti jangat; bentuk jorong atau bundar telur-lonjong, 10-20(-30) × 5-10(-18) cm. Perbungaan bentuk malai renggang di ujung ranting, panjangnya hingga 18 cm. Bunganya kecil-kecil, 4-5 mm, berkelamin tunggal, tanpa mahkota dan tidak menyolok. Kelopak bentuk cawan atau lonceng bertaju 4-6, sisi luarnya hijau dan berambut, sisi dalamnya kemerahan dan berambut. Buah geluk bentuk jorong, 5-6 × 6-8(-10) cm, dengan punggung seperti lunas perahu, gundul, cokelat hingga keunguan, mengilap, berbiji satu yang dilindungi oleh dinding buah yang mengayu.[4][6]

Agihan dan ekologi[sunting | sunting sumber]

Buah masak terapung di perairan mangrove Kep. Andaman

Buah dungun kecil terapung di air dengan punggung di sisi atas; secara ini ia dipencarkan oleh aliran air maupun oleh gelombang laut (hidrokori). Tidak mengherankan jika jenis ini agihannya termasuk yang paling luas di antara kerabatnya. Dungun laut diketahui menyebar mulai dari pesisir timur Afrika, bagian selatan Asia dari India hingga ke Tiongkok, seluruh kawasan Malesia, Australia tropis, Hawaii, hingga ke Kaledonia Baru.[4] Juga ditemukan di Madagaskar.[6]

Pohon ini sering ditemui di perbatasan hutan mangrove dengan daratan[6], atau pada zona peralihan mangrove ke hutan rawa air tawar[4]. Merupakan pohon khas pada tepian sungai pasang surut, kadang-kadang dungun kecil tumbuh mendominasi tegakan setempat[4]. Juga didapati di pantai-pantai berbatu atau berpasir[4], pohon ini agaknya intoleran terhadap salinitas tinggi; ia pun tak didapati di wilayah-wilayah yang lebih terbuka atau pada tanah-tanah yang berdrainase buruk[6]. Jenis ini acap kali berasosiasi dengan Bruguiera, Excoecaria, Avicennia dan Xylocarpus.[4][6]

Manfaat[sunting | sunting sumber]

Dungun laut menghasilkan kayu yang kuat, berat dan awet; dalam perdagangan internasional dikenal sebagai kayu dungun atau dungon[4]. Sayangnya, karena keadaan batang pohonnya yang biasanya terpilin, bengkok, bercabang rendah atau berbonggol-bonggol, sukar mendapatkan eksemplar yang bagus dan berukuran besar. Kayu terasnya berwarna cokelat kemerah-merahan atau cokelat kehitam-hitaman, jelas terbedakan dari gubalnya yang cokelat muda.[5]

Kayu dungun laut dinilai baik untuk digunakan dalam konstruksi jembatan, rumah, galangan kapal, bantalan rel kereta api[5]. Menurut Rumphius, kayu Atunus litorea ini sangat baik untuk dijadikan gagang perkakas dan kayuh perahu, dan, jika ada yang berukuran besar, baik pula untuk kemudi perahu besar karena sangat awet dalam air laut[7].

Ranting-rantingnya yang segar digunakan sebagai semacam sikat (pembersih) gigi. Pepagannya mengandung lk. 14% zat penyamak (tanin). Sedangkan inti bijinya digunakan untuk mengobati sakit murus-murus dan mejen (disentri).[5]

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Duke, N., Kathiresan, K., Salmo III, S.G., Fernando, E.S., Peras, J.R., Sukardjo, S. & Miyagi, T. 2010. Heritiera littoralis. In: IUCN 2011. IUCN Red List of Threatened Species. Version 2011.2. <www.iucnredlist.org>. Downloaded on 4 March 2012.
  2. ^ Aiton, W. 1789. Hortus Kewensis; or, a Catalogue of the Plants Cultivated in the Royal Botanic Garden at Kew, London 3: 546. London :Printed for George Nicol, Bookseller to his Majesty.
  3. ^ The Plant List: Heritiera littoralis Aiton
  4. ^ a b c d e f g h i Lemmens, R.H.M.J., I. Soerianegara, S.I. Wiselius, & P. Baas. 2002. Heritiera Aiton dalam I. Soerianegara & R.H.M.J. Lemmens (Eds.) Sumber Daya Nabati Asia Tenggara 5(1) Pohon penghasil kayu perdagangan utama: 244-53. Jakarta: Balai Pustaka (Heritiera littoralis Aiton, h. 251).
  5. ^ a b c d Heyne, K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia 3: 1357-8. Jakarta: Badan Litbang Kehutanan, Departemen Kehutanan. (versi berbahasa Belanda -1917- III: 242-3).
  6. ^ a b c d e Giesen, W., S. Wulffraat, M. Zierenand & L. Scholten. 2007. Mangrove Guidebook for Southeast Asia: 754-5. Bangkok: FAO and Wetlands International. ISBN 974-7946-85-8
  7. ^ Rumpf, G.E. 1743. Herbarium Amboinense: plurimas conplectens arbores, frutices, ... Pars III: 95; Tab LXIII. Amstelaedami :apud Franciscum Changuion, Joannem Catuffe, Hermannum Uttwerf. MDCCXLIII.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]