Gereja Kristen Sumatera Bagian Selatan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Gereja Kristen Sumatra Bagian Selatan
Logo gksbs.jpg
Logo GKSBS
KlasifikasiProtestan
PemimpinPdt. Dwi Djanarto, S.Th 2000-2005

Pdt.Dwi Djanarto, S.Th 2005-2010

Pdt. Tri Joko Hadi Nugroho, S.Th 2010-2015

Pdt. Totok TS, S.Th 2015-2020

Pdt. Yohanes Eko Prasetyo, S.Pd, S.Si 2020-2015
WilayahIndonesia
Didirikan6 Agustus 1987
Umat35.955 jiwa (2012)[1]
Situs webhttp://gksbs.org

Gereja Kristen Sumatra Bagian Selatan (disingkat GKSBS) adalah sebuah kelompok gereja Protestan di Indonesia yang berpusat di bagian selatan Pulau Sumatra, yaitu provinsi-provinsi Lampung, Sumatra Selatan, Bengkulu dan Jambi. Kantor sinodenya saat ini berada di Provinsi Lampung. Gereja ini dipelopori berdirinya oleh Gereja Kristen Jawa (GKJ).

Sejarah[sunting | sunting sumber]

GKSBS memiliki latar belakang sejarah yang panjang. Bermula dengan adanya orang-orang Kristen dari pulau Jawa yang mengikuti program transmigrasi (koloniasasi) mulai tahun 1936. Dua tahun kemudian, yaitu tahun 1938 Sinode Gereja Kristen Jawa terpanggil untuk melayani mereka dan mengirimkan para pelayannya ke Sumatra Bagian selatan.

Pada tahun 1971 Sinode GKJ mulai mempersiapkan kemandirian gereja yang dilayaninya di “Tanah Seberang” yang ketika itu bernama Sinode GKJ Wilayah I di Sumatra Bagian Selatan. Arah kemandirian itu diwujudkan dengan melakukan program-program pembinaan yang intensif, perkunjungan-perkunjungan ke wilayah pelayanan dijadwalkan secara teratur sampai dengan tahun 1987. Usaha-usaha itu diberkati Tuhan dengan menghasilkan buah. Pada sidang XVIII Sinode GKJ di Yogyakarta tanggal 6 Agustus 1987 persidangan itu memutuskan bahwa Sinode GKJ Wilayah I di Sumatra Bagian Selatan dinyatakan mandiri dan menjadi Sinode sendiri dengan nama: Gereja-gereja Kristen Sumatra Bagian Selatan (disingkat GKSBS). Pada awal kemandirianya itu, GKSBS masih menggunakan Tata Gereja GKJ. Pada sidang IV GKSBS tanggal 26-29 Agustus 1996 di Bandar Lampung, GKSBS Mengesahkan Tata Gereja/Tata Laksana GKSBS. Serentak dengan disahkannya Tata gereja/Tata Laksana GKSBS, maka nama “Gereja-gereja Kristen Sumatra Bagian Selatan” berubah menjadi “Gereja Kristen Sumatra Bagian Selatan”[2]

Lintasan Sejarah[sunting | sunting sumber]

  1. Akta Sinode GKJ[1] I Tahun 1949 artikel 16, memutuskan bahwa Lampung merupakan wilayah pelayanan dari GKJ.
  2. Akta Sinode GKJ II Tahun 1950 artikel 27, Sinode GKJ dengan sangat gembira menerima laporan  kemajuan pe­layanan di Lampung.
  3. Akta Sinode GKJ IV Tohun 1953 artikel 31, Sinode memutuskan terbentuknya Klasis Sumatra Selatan yang meliputi wilayah propinsi Sumatra Selatan waktu itu yaitu  wila­yah Palembang, Jambi, Bengkulu dan Lampung. Kemudian setelah propinsi membiak menjadi 4 propinsi yaitu Propinsi Lampung, Sumatera Selatan, Bengkulu dan Jambi, wilayah tersebut disebut dengan wilayah Sumatera Bagian Selatan.
  4. Akta Sinode GKJ IV tahun 1953 Artikel 36, Sinode GKJ menyetujul rencana kerja Klasis Sumatra Selatan untuk di tanggung bersama-sama oleh Sinode GKJ.
  5. Akta Sinode GKJ VI tahun 1953 Artikel 65, karena perkembangan pelayanan yang makin meluas dan sudah terbentuk makin banyak jemaat, maka Sinode memutuskan untuk membiakkan Klasis Sumatra Selatan menjadi 2 Kla­sis, yaitu: Klasis Lampung dan Klasis Palembang.
  6. Akta Sinode GKJ XI tahun  1969 Artikel 131.
  7. Karena perkembangan yang makin pesat terutama Jemaat jemaat di Lampung, maka Sinode memutuskan untuk menyetujui pembiakan Klasis Lampung menjadi 5 Klasis, yaitu :
    • Klasis Metro
    • Klasis Sri Bhawono
    • Klasis Seputih Raman
    • Klasis Tanjungkarang
    • Klasis Bandarjaya.
  8. Akta Sinode GKJ XII Tahun  1971 Artikel 60. Klasis-klasis di Lampung mengusulkan kemandirian Gereja gereja di Sumatra Bagian Selatan untuk  bersinode sendiri. Usulan tersebut dijawab oleh Sinode GKJ dengan membentuk Deputat Sinode Wilayah. Dalam hal ini GKJ dibagi 3 wilayah, yaitu:
    • Deputat Wilayah I: yang meliputi wilayah Klasis-klasis Lampung dan Palembang ( Sumbagsel ).
    • Deputat Wilayah II: yang meliputi Klasis-klasis di Ja­wa Tengah sebelah Selatan sampai Bandung.
    • Deputat Wilayah III: yang meliputi Jawa Tengah sebelah Utara sampai Jakarta dan Tuban. Pembagian wilayah tersebut sudah ada gagasan  pembentukan Sinode Sumatra untuk  Wilayah I.
    • Akta XIII Tuhun 1974, ArHkel 127, Sinode memutuskan: Pembiakan Klasis Palembang menjadi 2 Kiasis yaitu: Klasis Palembang dan Klasis Belitang Buay Madang. Hal ini dikarenakan perkembangan Jemaat-jemaat di wilayah Klasis Palembang yang makin berkembang  kearah Jambi, Bengkulu dan Sumatra Selatan sendiri.
  9. Akta Sinode GKJ XIII tahun 1974, artikel 68, Sinode memutuskan untuk meningkatkan Deputat Wilayah  menjadi Sinode Wilayah. Hal ini ditempuh oleh GKJ dalam rangka melatih dan membina Gereja di Sumbagsel untuk bersinode sendiri. Dengan demikian sejak tahun 1974 Sinode GKJ terdiri dari 3 Sinode Wilayah, yaitu:
    1. Sinode Wilayah I GKJ yang meliputi wilayah Sumatra Bagian Selatan.
    2. Sinode Wilayah II yang meliputi wilayah dari Bandung sampai Yogyakarta.
    3. Sinode Wilayah III GKJ meliputi wilayah dari Ja­karta sampai Tuban.
  10. Akta Sinode GKJ XVI tahun 1981, Artikel 6 Sinode Wilayah I GKJ mengusulkan Kemandirian Sinode Wilayah I GKJ untuk bersinode sendiri dengan pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut:
    1. Latar belakang keanggotaan Gereja-gereja dilingkungan  Sinode Wilayah I yang sangat variable, mereka berasal dari berbagai macam Gereja asal di Jawa (GKJ, GKJW, GKJTU, GITJ, GKP, GKPB, GPIB, HKBP, GKIS, dll).
    2. Masyarakat di Sumbagsel yang majemuk, yaitu ter­diri dari banyak suku dengan berbagai macam adat dan kebiasaanya, oleh karenanya  Gereja-gereja diSumbagsel terpanggil untuk melayani sebagai Gereja  Daerah
    3. Pertimbangan praktis, yaitu karena jarak jauh dari Jawa Tengah, maka penghayatan masalah-masalah di lingkungan Sinode Wilayah I GKJ tidak bisa dilakukan oleh Deputat GKJ Salatiga. Hal yang demikian mengakibatkan bahwa mereka tidak begitu tahu akan masalah-masalah/ kesulitan/ hambatan dan juga perkembangan yang pesat dari Gereja-gereja di Sumbagsel.

Usul ini ditanggapi positip oleh Sinode GKJ dengan membentuk Panitía Kemandirian  Sinode Wilayah I GKJ  yang terdiri dari:

  1. Pdt. Wijoyo Hadipranoto, BD (Konvokator).
  2. Drs. F.W. Singotaruna
  3. Ir. Gunarto Darmowigoto
  4. Pdt. Marwoto, S.Th.
  5. Pdt. Dr. Harun Hadiwiyono.

Pemerintahan gereja[sunting | sunting sumber]

Pemuda-Pemudi GKSBS di Kecamatan Sungai Lilin, Kab. Musi Banyuasin-Sumatra Selatan pada saat Perayaan Natal Oukumene Sungai Lilin pada bulan Desember 2016

Pemerintahan gereja (secara teologis) adalah Kristokrasi, dan sebagai organisasi yang bersifat/berbentuk gereja pemerintahan, GKSBS adalah “Presbiterial Sinodal” yang di dalamnya menekankan pentingnya kebersamaan dalam hal dana sesuai amanat musyawarah Majelis Sesinode 1987 dan Sidang I Sinode GKSBS.

Pada Sidang Sinode GKSBS VIII tanggal 23-26 September 2005 di Bengkulu pada (Artikel 12: Liturgi Kontekstual) yang di dalamnya termuat tentang pelayanan [(perjamuan kudus)] untuk anak yang mulai diberlakukan sejak disetujui oleh Sidang Sinode VIII.

Mengenai hubungan dan kerjasama oikoumenis di Indonesia, pada sidang Majelis Pekerja Lengkap Gereja-gereja di Indonesia (MPL-PGI) di Kendari tanggal 20-27 April 1988, Sinode GKSBS telah diterima menjadi anggota PGI dan tercatat dengan nomor anggota 58.

Sampai saat ini pertumbuhan GKSBS tercatat menjadi 98 Jemaat dewasa, Jumlah Kepala Keluarga: 10.760 KK, Jiwa: 35.955 jiwa 460 Kelompok kebaktian, yang dihimpun dalam 14 klasis yang tersebar di seluruh wilayah Sumatra Bagian Selatan dengan 86 tenaga aktif sebagai pendeta dan 27 orang pendeta emiritus.

[sunting | sunting sumber]

Salib adalah lambang identitas Gereja Yesus Kristus. Daun cengkih tujuh lembar warna hijau tua dan muda adalah lambang dari berdirinya Sinode GKSBS yang dimulai dengan tujuh klasis pada tahun 1987, yaitu: Klasis Palembang, Belitang, Bandarjaya, Seputih Raman, Metro, Sri Bhawono dan Tanjungkarang.

Sedangkan empat garis warna biru di bawah gambar cengkih adalah melambangkan identitas keberadaan GKSBS di wilayah Sumbagsel yang terdiri dari empat Provinsi yaitu Lampung, Sumatra Selatan, Bengkulu dan Jambi. Itulah sebabnya GKSBS dalam identitas dirinya tidak melandaskan diri sebagai gereja suku, tetapi menjadi gereja daerah di wilayah Sumatra Bagian Selatan yang beragam suku, dan latar belakang budayanya.

Kantor Sinode[sunting | sunting sumber]

Alamat Sinode:[3]
Jalan Yos Sudarso 15 Polos, Metro Pusat
Kota Metro – Lampung 34111
Telepon/fax. 0725-7855133
Email: sinode@gksbs.org
Situs resmi: http://gksbs.org

Pimpinan[sunting | sunting sumber]

Majelis Pimpinan Sinode (MPS) GKSBS 2020-2025:[1]

  • Ketua: Pdt. Yohanes Eko Prasetyo, S.Pd, S.Si
  • Sekretaris: Pdt. Timoteus Erik Purba, M.Si
  • Bendahara: Pnt. Skunda Putra Rencanawan, M.IT

Anggota:

  1. Pdt. Yunius Irwanto, S.Si
  2. Pnt. Roeswanto, M.Pd
  3. Pnt. Kodim H.S
  4. Pdt. Edi Prasetyo, S.PAK
  5. Pnt. Dermina Naibaho
  6. Pdt. Dono Wahyono, S.Si, M.A
  7. Pnt. Edi Sukarno, S.Pd
  8. Pdt. Nicorius, S.Si
  9. Pdt. Ardyo Wiyoso, S.Th
  10. Pdt. Joko Nawanto, S.Th

Statistik[sunting | sunting sumber]

Hingga tahun 2021 Gereja Kristen Sumatra Bagian Selatan memiliki

  • Jumlah Klasis: 14 klasis
  • 98 jemaat
  • Jumlah anggota jemaat: 10.954 KK (36.015 jiwa) (2013)
  • Jumlah Pendeta aktif: 86 orang
  • Jumlah Pendeta Emiritus: 27 orang

Wilayah Pelayanan[sunting | sunting sumber]

Saat ini, GKSBS terdiri atas 97 Jemaat dan 14 Klasis yang tersebar di Lampung, Sumatera Selatan, Bengkulu dan Jambi.

Yayasan[sunting | sunting sumber]

GKSBS memiliki 4 yayasan sebagai lembaga diakonia gereja yang bergerak di pendidikan formal, informal dan pemberdayaan masyarakat.

  1. Yayasan Pendidikan Kristen Lampung (YPKL) di Lampung
  2. Yayasan Mardi Wacana (YMW) di Sumatera Selatan
  3. Yayasan Pendidikan Kristen Bengkulu (YPKB) di Bengkulu
  4. Yayasan Bimbingan Mandiri Indonesia (YABIMA Indonesia)

Kemitraan[sunting | sunting sumber]

GKSBS termasuk menjadi anggota Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) sejak April 1988.

GKSBS juga menjadi mitra kerja dari Kerk In Actie (KIA) dan Protestanse Kerk Netherland

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]