Benowo, Surabaya

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Koordinat: 7°14′48″S 112°43′13″E / 7.2466056°S 112.7203012°E / -7.2466056; 112.7203012

Benowo

Hanacaraka: ꦨꦼꦤꦮ
"Semanggi Suroboyo"
Papan Nama Kecamatan Benowo
Papan Nama Kecamatan Benowo
Locator Kecamatan Benowo di Kota Surabaya.png
Peta lokasi Kecamatan Benowo
Negara Indonesia
ProvinsiJawa Timur
KotaSurabaya
Pemerintahan
 • CamatMuslich Hariadi, S.Sos.
Kode Kemendagri35.78.19 Edit the value on Wikidata
Desa/kelurahan4

Benowo (Hanacaraka: ꦨꦼꦤꦮ) adalah sebuah kecamatan di Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur, Indonesia.[1][2]

Logo Non-Resmi Benowo, Surabaya

Dahulu, Kecamatan Benowo merupakan salah satu wilayah "tertinggal" di Kota Surabaya, ini dikarenakan akses jalan yang kurang memadai dan lokasinya lumayan cukup jauh dari pusat kota. Semenjak dibangunnya sarana infrastruktur pelebaran jalan berupa box culvert di sisi jalan utama dan adanya pembangunan perumahan baru serta pergerakan penduduk yang berpindah dari berbagai luar wilayah dan menetap di wilayah barat Surabaya, maka perlahan-lahan Benowo mulai memiliki potensi yang dapat digali dan semakin berkembang.

Etimologi[sunting | sunting sumber]

Asal-usul penamaan Kecamatan Benowo sendiri berasal dari nama Pangeran Benowo yang merupakan putra semata wayang dari Sultan Hadi Wijaya atau yang lebih dikenal sebagai Jaka Tingkir. Jaka Tingkir sendiri adalah raja pertama dari Kerajaan Pajang.[3]

Ini juga ditandai terdapat adanya petilasan Pangeran Benowo yang terletak persis di belakang Rumah Sakit Islam Darus Syifa' di Jalan Raya Benowo yang lokasinya justru berada di wilayah Kecamatan Pakal.

Geografi[sunting | sunting sumber]

Batas wilayah[sunting | sunting sumber]

Kecamatan Benowo berbatasan dengan beberapa wilayah, yaitu:

Utara Selat Madura, Kabupaten Gresik
Timur Kecamatan Asemrowo, Kecamatan Tandes
Selatan Kecamatan Sambikerep
Barat Kecamatan Pakal

Pemerintahan[sunting | sunting sumber]

Pembagian administratif[sunting | sunting sumber]

Kecamatan Benowo terdiri atas 4 kelurahan, yaitu:

  1. Kelurahan Kandangan
  2. Kelurahan Sememi
  3. Kelurahan Tambakoso Wilangon
  4. Kelurahan Romokalisari

Sarana dan Fasilitas[sunting | sunting sumber]

Infrastruktur[sunting | sunting sumber]

Mengingat adanya pertumbuhan penduduk dan meningkatnya jumlah kendaraan dari/ke/melalui Kecamatan Benowo, maka dibangunlah proyek Jalur Lingkar Luar Barat (JLLB) yang di mana proses pembangunannya saat ini sedang berlangsung.

Jalur Lingkar Luar Barat (JLLB) ini rencananya akan terhubung dengan akses menuju Stadion Gelora Bung Tomo, Jalan Tol Surabaya-Gresik, Jalan Raya Daendels atau Jalan Tambak Osowilangon dan Terminal Teluk Lamong.

Dengan pembangunan akses Jalur Lingkar Luar Barat (JLLB), maka diharapkan dapat mengurai kemacetan jalan raya di Kecamatan Benowo dan persebaran masyarakat makin merata, serta dapat memancing investor di wilayah tersebut agar tidak semakin tertinggal.[4]

Transportasi[sunting | sunting sumber]

Sarana perhubungan yang ada di Kecamatan Benowo yaitu Terminal Osowilangun yang melayani angkutan antar kota dalam provinsi (AKDP) dan angkutan antar kota antar provinsi (AKAP). Kecamatan Benowo juga dilintasi Jalan Tol Surabaya-Gresik yang menghubungkan Surabaya dengan Gresik dan wilayah pantai utara Pulau Jawa.

Kesehatan[sunting | sunting sumber]

Di Kecamatan Benowo terdapat Rumah Sakit Umum Daerah Bhakti Dharma Husada tipe C yang berada di Jl. Kendung No.115 yang juga menjadi rumah sakit rujukan utama daerah.

Kontroversi[sunting | sunting sumber]

Pada masa pemerintahan Wali Kota Tri Rismaharini, beliau menggencarkan untuk menutup kawasan lokalisasi Klakah Rejo dan Sememi demi mengubah tempat tersebut sebagai menjadi kawasan yang memiliki potensi positif pada tahun 2013. Namun, penutupan lokalisasi tersebut tidak bisa berjalan mulus karena sempat terjadi penolakan dari warga sekitar karena mereka takut akan kehilangan pendapatan untuk bertahan hidup.

Alasan penutupan lokalisasi di wilayah tersebut yang dicanangkan oleh Tri Rismaharini adalah ingin mengajak warganya untuk mencari rezeki halal tanpa harus menjual tubuhnya di tempat lokalisasi. Untuk itu, dia berusaha mengangkat harkat dan martabat kaum perempuan dengan memberdayakannya sesuai skill mereka masing-masing.

Sebagai penunjang, Tri Rismaharini mengadakan pelatihan-pelatihan yang kelak bermanfaat dan juga memberi bantuan modal hingga mantan penghuni lokalisasi bisa mandiri secara ekonomi.

Alasan yang ketiga, menyangkut masalah pendidikan moral anak-anak hingga usia remaja yang berada di sekitar lokalisasi. Mau tidak mau, geliat prostitusi akan berdampak pada psikologis anak-anak di sekitar lokalisasi. Dalam setiap kesempatan menyangkut masalah penutupan lokalisasi, Risma selalu mengungkapkan, dia pernah menemui PSK yang sudah berumur, tapi yang menjadi langganannya adalah anak-anak sekolah.

Walaupun penutupan lokalisasi sempat berjalan alot, hasilnya kawasan Kampung Klakah Rejo dan Sememi kini menjadi "Kampung Seni" dan kampung ramah terhadap anak serta terdapat sentra kerajinan pembuatan tempe.

Potensi[sunting | sunting sumber]

Wilayah Tambak Osowilangon yang secara administratif masuk Kecamatan Benowo juga menjadi pusat kawasan kompleks pergudangan dari beberapa banyak perusahaan ternama semisal salah satunya ada Pergudangan Bumi Maspion milik PT. Maspion. Selain itu, juga terdapat beberapa perusahaan peti kemas yang melayani jasa logistik dan terintegrasi dengan Terminal Teluk Lamong.

Di wilayah Kelurahan Romokalisari, juga terdapat Kompleks Sentra Ikan dan menjadi tempat budidaya kepiting soka serta eco-wisata. Maka dengan ini, secara tidak langsung dapat mendongkrak perekonomian masyarakat di wilayah pesisir Romokalisari, Benowo.[5]

Wilayah Kendung, Kelurahan Sememi yang termasuk ke dalam wilayah Kecamatan Benowo juga terdapat kampung berbasis eco-wisata yaitu "Kampung Semanggi", yang dimana kampung tersebut merupakan tempat sentra budidaya daun semanggi yang selanjutnya diolah menjadi makanan khas Surabaya menjadi makanan semanggi, pada khususnya wilayah Kecamatan Benowo.

Kuliner[sunting | sunting sumber]

Sepincuk semanggi [1]

Semanggi merupakan kuliner khas kecamatan Benowo. Karena disinilah masih banyak terdapat tempat budidaya daun semanggi salah satunya "Kampung Semanggi" dan banyak dijumpai pedagang asongan serta pedagang kaki lima yang menjualnya pada pagi hingga siang hari.

Semanggi biasanya disajikan dengan daun pisang atau pincuk yang disirami dengan olahan bumbu dari ubi rebus dengan gula merah dan dilengkapi tambahan kerupuk gendar sebagai pelengkap.

Semanggi juga menjadi salah satu kuliner primadona dan terkenal di Surabaya.

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 137 Tahun 2017 tentang Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan". Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. Diarsipkan dari versi asli tanggal 29 Desember 2018. Diakses tanggal 3 Oktober 2019. 
  2. ^ "Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 72 Tahun 2019 tentang Perubahan atas Permendagri nomor 137 Tahun 2017 tentang Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan". Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 25 Oktober 2019. Diakses tanggal 15 Januari 2020. 
  3. ^ "Sejarah Pangeran Benowo, Putra Jaka Tingkir, di Surabaya". Kumparan. Diarsipkan dari versi asli tanggal 13 Januari 2020. Diakses tanggal 5 September 2021. 
  4. ^ "Pembangunan JLLB Urai Kemacetan di Surabaya Barat". Liputan 6. Diarsipkan dari versi asli tanggal 10 Februari 2020. Diakses tanggal 6 September 2021. 
  5. ^ "Wali Kota Risma Resmikan Kompleks Sentra Ikan Romokalisari". Jawa Pos. Diarsipkan dari versi asli tanggal 10 Desember 2020. Diakses tanggal 6 September 2021. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]