Ashin Wirathu

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Ashin
Wirathu
ဝီရသူ
AgamaBuddhisme
AliranTheravada
KuilVihara Masoyein, Mandalay
Nama dharmaVirasu
Pribadi
KebangsaanMyanmar
Lahir10 Juli 1968 (1968-07-09UTC15) (usia 52)
Kyaukse, Divisi Mandalay, Burma (sekarang Myanmar)

Ashin Wirathu (bahasa Myanmar: ဝီရသူ; lahir di Kyaukse, Divisi Mandalay, 10 Juli 1968; umur 52 tahun), adalah seorang biksu Buddha nasionalis Myanmar, dan juga seorang pemimpin spiritual dari gerakan anti-Muslim di Myanmar.[1] Ia telah dituduh sebagai pemberi inspirasi terhadap penindasan Muslim melalui pidatonya, meskipun ia mengklaim dirinya sebagai seorang biksu yang damai dan tidak pernah menganjurkan kekerasan.[2]

Kehidupan pribadi

Wirathu lahir pada tahun 1968 di dekat Mandalay. Ia berhenti sekolah pada usia 14 tahun untuk menjadi seorang biksu. Pada tahun 2001, ia terlibat dalam Gerakan 969.[3] Dua tahun kemudian, pada tahun 2003, ia dihukum 25 tahun penjara atas khotbah-khotbahnya,[4] tetapi dibebaskan pada tahun 2012 bersama dengan banyak tawanan politik lainnya.[5] Sejak reformasi pemerintahan pada tahun 2011, ia secara khusus aktif di YouTube dan segala jenis media sosial.[6]

Keterlibatan politik

Wirathu memimpin demonstrasi para biksu di Mandalay pada bulan September 2012 dalam rangka mempromosikan rencana kontroversial Presiden Thein Sein untuk mengirimkan penduduk Muslim Rohingya Myanmar ke negara dunia ketiga.[7] Satu bulan kemudian, lebih banyak kekerasan terjadi di negara bagian Rakhine.[7] Wirathu mengklaim bahwa kekerasan di Rakhine adalah hasil dari kekerasan terbaru di kota Meikhtila, yang terletak di tengah Myanmar, dimana sebuah perselisihan di sebuah toko emas dengan cepat berputar ke dalam sebuah penjarahan dan pembakaran. Lebih dari 14 orang terbunuh, setelah vihara, pertokoan dan rumah terbakar di seluruh kota.[8][9] Sedikitnya dua orang, termasuk seorang biksu Buddha Myanmar, Shin Thawbita, dan seorang pria Muslim dilaporkan diserang dan disiksa oleh massa di Meikhtila pada tanggal 5 Maret.[10][11]

Wirathu muncul di sampul depan majalah Time sebagai "Wajah Teror Buddha" pada tanggal 20 Juni 2013.[12] "Anda bisa dipenuhi dengan kebaikan dan cinta, tetapi Anda tidak bisa tidur di samping anjing gila," katanya, merujuk kepada Muslim. "Jika kami lemah," lanjutnya, "tanah kami akan menjadi tanah Muslim."[2] Merujuk kepada kekerasan dan dominasi Muslim di negara-negara tetangga dan mengambil contoh penyebaran Islam di Indonesia,[13] Wirathu khawatir hal serupa akan terjadi kepada Myanmar.[14] Wirathu menyebut bahwa oposisi Muslim melabeli dirinya sebagai "Bin Laden dari Myanmar" setelah sebuah artikel Time secara keliru menggambarkan dirinya dengan cara ini.[15] Ia mengatakan bahwa dirinya "membenci kekerasan" dan "menentang terorisme".[15] Wirathu juga mengungkapkan kekaguman dan keinginannya untuk mencontoh Liga Pertahanan Inggris dengan cara "melindungi publik."[16]

Thein Sein menuduh Time memfitnah agama Buddha dan melukai proses rekonsiliasi nasional, setelah mereka menulis bahwa Wirathu adalah pemicu kekerasan anti-Muslim di Myanmar. Menggambarkan dia sebagai "putra Sang Buddha", presiden membela Wirathu sebagai "orang mulia" yang berkomitmen pada perdamaian. "Artikel di Majalah Time dapat menyebabkan kesalahpahaman tentang agama Buddha, yang telah ada selama ribuan tahun dan diikuti oleh mayoritas warga Myanmar," kata Thein Sein.[17] Dalam sebuah wawancara dengan DVB, Wirathu menuduh Time melakukan "pelanggaran hak asasi manusia yang serius" dengan menolak mempresentasikan pandangannya dalam format tanya jawab secara verbal. "Sebelumnya saya telah mendengar [rumor] bahwa dunia Arab mendominasi media global," katanya, "tapi kali ini, saya telah melihatnya sendiri".[17] Wirathu secara terbuka menyalahkan Muslim karena telah terlibat dalam kekerasan akhir-akhir ini. Wirathu mengatakan bahwa Muslim Myanmar didanai oleh pasukan Timur Tengah, dengan mengatakan, "Muslim lokal di sini kasar dan buas karena para ekstremis menarik senar, memberi mereka kekuatan finansial, militer dan teknis".[18]

Pada tanggal 21 Juli 2013, dia adalah sasaran ledakan bom, namun dia tetap bertahan tanpa cedera. Lima orang terluka dalam ledakan tersebut, termasuk seorang biksu pemula. Wirathu mengklaim bahwa pemboman tersebut merupakan upaya para ekstremis Muslim untuk membungkam suaranya.[19][20][21]

Dia telah menyerukan pembatasan perkawinan antara umat Buddha dan Muslim,[22] dan untuk memboikot bisnis milik Muslim.[6]

Namun, tidak semua orang dari agamanya sendiri setuju dengan ajarannya. Abbot Arriya Wuttha Bewuntha dari vihara Mandalay Myawaddy Sayadaw mencela dia, mengatakan, "Dia sedikit berpihak kepada kebencian [dan ini bukan] cara yang diajarkan Buddha. Apa yang diajarkan Buddha adalah bahwa kebencian itu tidak baik, karena Buddha melihat semua orang sebagai orang yang sama. Sang Buddha tidak melihat orang-orang melalui agama".[7] Para kritikus juga menjelaskan apa yang mereka lihat sebagai ekstremismenya sedikit lebih banyak daripada karena ketidaktahuan, meskipun pandangannya memiliki pengaruh di Myanmar di mana banyak bisnis yang "dikelola dengan baik oleh umat Islam".[7]

Aktivis pro-demokrasi Myanmar Maung Zarni juga mengecam gerakan '969' Wirathu karena menyebarkan propaganda dan ujaran kebencian[7] dan berpendapat bahwa negara-negara Uni Eropa harus menganggapnya serius karena Myanmar adalah "negara penerima bantuan Uni Eropa".[7]

Pada bulan September 2014, Wirathu menghadiri "Konferensi Sangha Agung" di Kolombo yang diselenggarakan oleh Bodu Bala Sena. Wirathu mengatakan bahwa Gerakan 969-nya akan bekerja dengan Bodu Bala Sena.[23]

Pada bulan Januari 2015, Wirathu secara terbuka menyebut utusan Perserikatan Bangsa-Bangsa, Yanghee Lee sebagai "jalang" dan "pelacur"[24][25] dan mengundangnya untuk "menawarkan pantatnya kepada para kalar" (istilah yang merendahkan untuk Muslim di Myanmar).[26][27]

Wirathu memimpin sebuah doa dan demonstrasi di Kuil Buddha Mahamuni di Mandalay pada tanggal 23 Februari 2017, dalam rangka mengutuk serangan pemerintah Thailand terhadap Wat Phra Dhammakaya di Bangkok.[28]

Pemerintah daerah Ayeyarwady telah melarang Wirathu, sebagai pemimpin tertinggi organisasi keagamaan yang dikenal sebagai Ma Ba Tha (Asosiasi Patriotik Myanmar), untuk berkhotbah di wilayah tersebut.[29]

Sebuah pernyataan pemerintah daerah mengatakan Wirathu memberikan ceramah religius pada tanggal 9 Februari di kantor desa Kyoneku di Kotapraja Ngapudaw, Region Ayeyarwady, yang melanggar peraturan Komite Negara Sangha Maha Nayaka, sebuah badan yang ditunjuk pemerintah yang terdiri dari biksu tingkat tinggi yang mengawasi dan mengatur Sangha atau pendeta Buddha di Myanmar.

Lihat pula

Referensi

  1. ^ https://www.economist.com/blogs/prospero/2017/07/will-fight Two documentaries probe Myanmar’s religious strife
  2. ^ a b Thomas Fuller (20 Juni 2013). "Extremism Rises Among Myanmar Buddhists". New York Times. 
  3. ^ Alan Strathern (1 Mei 2013). "Why are Buddhist monks attacking Muslims?". BBC. 
  4. ^ Kate Hodal (28 April 2013). "Buddhist monk uses racism and rumours to spread hatred in Burma". Guardian. 
  5. ^ "Nationalist Monk U Wirathu Denies Role in Anti-Muslim Unrest". 2 April 2013. Diakses tanggal 3 September 2017. 
  6. ^ a b Gianluca Mezzofiore (26 Maret 2013). "Fanatical Buddhist Monk Saydaw Wirathu Calling for Boycott of Myanmar Muslims". International Business Times. 
  7. ^ a b c d e f Kate Hodal (18 April 2013). "Buddhist monk uses racism and rumours to spread hatred in Burma - The Guardian". The Guardian. 
  8. ^ Phyo Wai Lin, Jethro Mullen and Kocha Olarn (22 March 2013). ", muslims, clash with Rakhines in Myanmar". CNN. 
  9. ^ "Inteview with Myanmar's President". CNN. 24 Mei 2013. 
  10. ^ "The Rohingya Saga". Korean Press News. 21 Juni 2013. 
  11. ^ "Horrifying Moment Burmese Buddhists Set Fire to Muslim Man in Riots Which Left 43 Dead - American Renaissance". 22 April 2013. Diakses tanggal 3 September 2017. 
  12. ^ Hannah Beech (1 Juli 2013). "The Face of Buddhist Terror". Time Magazine. 
  13. ^ "Militant Buddhist monks are stoking sectarian tensions in Myanmar". The Economist. 10 Agustus 2017. Diakses tanggal 11 Agustus 2017. 
  14. ^ Raymond Ibrahim (2 Agustus 2013). "Buddhist Extremism?". Front Page Magazine. 
  15. ^ a b Khin Khin Ei (21 Juni 2013). "Myanmar Monk Rejects Terrorist Label Following Communal Clashes". Radio Free Asia. 
  16. ^ "Radical Buddhist monk accused of inciting riots that have killed hundreds of Muslims". New York Post. 21 Juni 2013. 
  17. ^ a b Hanna Hindstrom (26 Juni 2013). "Burma president backs anti-Muslim 'hate preacher' Wirathu". Democratic Voice of Burma. 
  18. ^ Hodal, Kate (18 April 2013). "Buddhist monk uses racism and rumours to spread hatred in Burma". Diakses tanggal 4 September 2017 – via The Guardian. 
  19. ^ Shibani Mahtani and Myo Myo (22 Juli 2013). "Blast Near Monk Injures 5 in Myanmar". Wall Street Journal. 
  20. ^ "Burma police: Explosion near Wirathu sermon in Mandalay wounds 5". AP News. 22 Juli 2013. 
  21. ^ Khin Maung Soe and Yadanar Oo (22 Juli 2013). "Myanmar's Nationalist Monk Claims Bombers Sought to 'Silence Him'". Radio Free Asia. 
  22. ^ Shibani Mahtani (22 Juli 2013). "Myanmar Plan to Curb Interfaith Marriage Gains Support". Wall Street Journal. 
  23. ^ "Ashin Wirathu Thera of Myanmar to work with BBS". Daily Mirror (Sri Lanka). 28 September 2014. 
  24. ^ Tim Hume (22 Januari 2015). "Top U.N. official slams Myanmar monk over 'whore' comments". CNN. 
  25. ^ "UN condemns Myanmar monk Wirathu's 'sexist' comments". BBC Asia. 22 Januari 2016. 
  26. ^ Mangala Dilip (20 Januari 2015). "Anti-Muslim Myanmar Buddhist Monk Wirathu Calls UN Envoy 'Bitch and Whore'". International Business Times. 
  27. ^ Maddie Smith (22 Januari 2016). "Myanmar's Extremist Monk Doesn't Regret Calling UN Envoy a 'Whore'". Vice News. 
  28. ^ Zarni Mann. "U Wirathu Leads Protest in Solidarity with Dhammakaya Temple". The Irrawaddy. Diakses tanggal 24 Februari 2017. 
  29. ^ "Buddhist monk banned from preaching in Ayeyarwady". Eleven Myanmar. 11 Maret 2017. 

Pranala luar