Akulah Tuhan Allahmu

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

"Akulah TUHAN, Allahmu", juga "Akulah Yahweh Allahmu" (NJB, WEB), adalah frasa pembuka dari Sepuluh Perintah Allah, yang dipahami secara luas sebagai imperatif atau keharusan moral oleh para sejarawan hukum kuno serta akademisi Alkitab Yahudi dan Kristen.[1][2]

Teks dari Sepuluh Perintah Allah menurut Kitab Keluaran dimulai dengan:

Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan. Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku. Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku, tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah-perintah-Ku.

Kata konvensional "TUHAN" dalam terjemahan Indonesia merujuk pada kata יהוה dalam teks Ibrani (yang ditransliterasikan menjadi "YHWH"), nama diri dari Allah Israel, yang sering direkonstruksi menjadi Yahweh.[3] Terjemahan "Allah" merujuk pada kata אֱלֹהִים (yang ditransliterasikan menjadi "Elohim"), kata Ibrani biblis yang lazim untuk "allah, dewata, deitas".[butuh rujukan]

Pengantar Sepuluh Perintah Allah ini menetapkan identitas Allah melalui kedua nama pribadi-Nya dan tindakan historis-Nya membebaskan Israel dari Mesir. Bahasa dan polanya merefleksikan perjanjian-perjanjian kerajaan kuno yang di dalamnya seorang raja agung mengidentifikasi diri dan tindakan-tindakan kemurahan hati yang pernah dilakukannya ditujukan kepada seorang raja atau bangsa.[4]

Dengan membangun identitas melalui penggunaan nama diri, tindakan-tindakan-Nya yang dahsyat membedakan TUHAN dari allah-allah Mesir yang dihakimi dalam peristiwa pembunuhan semua anak sulung Mesir (Keluaran 12), dari allah-allah Kanaan, semua allah bangsa-bangsa bukan Yahudi, dan allah-allah yang disembah sebagai berhala, benda-benda di langit ataupun di alam, serta allah-allah yang dikenal dengan nama diri lainnya.[5] Melalui pembedaan tersebut, TUHAN menuntut kesetiaan ekslusif dari bangsa Israel kuno.[6] Frasa "Akulah TUHAN, Allahmu", juga ditemukan pada sejumlah bagian lain dalam Alkitab.

Perjanjian Baru[sunting | sunting sumber]

Yesus mengutip Kitab Ulangan ketika digoda untuk menyembah Setan dengan imbalan kerajaan-kerajaan dunia ini.[7]

Maka berkatalah Yesus kepadanya: "Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!"

— Matius 4:10

Yesus mengulangi Shema Yisrael sebagai perintah yang paling penting:

Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama."

— Matius 22:37-38

Sama seperti yang termuat dalam Alkitab Ibrani dan Perjanjian Lama, bahwa mempersembahkan kurban kepada allah-allah lain digambarkan sebagai mempersembahkan kurban kepada roh-roh jahat,[8] penyembahan berhala di dalam Perjanjian Baru dikaitkan dengan pemujaan roh-roh jahat, dan Allah dideskripsikan sebagai pencemburu dalam hal pemberhalaan.

... persembahan mereka adalah persembahan kepada roh-roh jahat, bukan kepada Allah. Dan aku tidak mau, bahwa kamu bersekutu dengan roh-roh jahat. Kamu tidak dapat minum dari cawan Tuhan dan juga dari cawan roh-roh jahat. Kamu tidak dapat mendapat bagian dalam perjamuan Tuhan dan juga dalam perjamuan roh-roh jahat. Atau maukah kita membangkitkan cemburu Tuhan? Apakah kita lebih kuat dari pada Dia?

— 1 Korintus 10:20-22

Perjanjian Baru menegaskan bahwa Allah mendatangkan konsekuensi bagi mereka yang menyembah allah-allah lain.[9] Dikemukakan bahwa, selama zaman Perjanjian Lama, Allah membiarkan pemberhalaan bangsa-bangsa selain Israel, tetapi, dalam zaman Perjanjian Baru, Allah memerintahkan "bahwa di mana-mana semua mereka harus bertobat."[10][11][12] Penyembahan berhala digambarkan sebagai "perbuatan sia-sia" dan orang-orang dinasihati untuk berpaling darinya demi "Allah yang hidup".[13][14][15] Ajaran Musa serta pengalaman Israel ketika mereka meninggalkan pemberhalaan digunakan untuk mendukung desakan agar kaum beriman menjauhkan diri dari penyembahan berhala dan ketidaksusilaan seksual.[16]

Pandangan Katolik[sunting | sunting sumber]

Katekismus Gereja Katolik (KGK) mengajarkan bahwa "Perintah pertama mendesak manusia untuk beriman kepada Allah, untuk berharap kepada-Nya, dan untuk mengasihi-Nya melebihi segala sesuatu."[17] Dikutip pula persyaratan dari Shema, "Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu",[18] beserta jawaban Yesus ketika dicobai oleh Iblis:

"Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu" (Matius 4:10). Menyembah Allah, berdoa kepada-Nya, mempersembahkan ibadah yang adalah milik-Nya, memenuhi janji dan kaul yang dibuat untuk-Nya, adalah tindakan-tindakan kebajikan agama yang termasuk ketaatan pada perintah pertama.
—  KGK 2135[19]

Dalam penjelasan Gereja Katolik mengenai perintah pertama, KGK mengutip Dialog dengan Trifo karya Santo Yustinus Martir untuk mendukung pengajaran bahwa umat Kristen dan Yahudi percaya pada Allah yang sama.

Tidak akan ada Allah lain ... juga tidak pernah ada yang lain dari kekekalan ... selain Dia yang membuat dan mengatur alam semesta ini. Kami pun tidak berpikir bahwa ada satu Allah bagi kami [umat Kristen], yang lain bagi kamu [umat Yahudi], selain Dia sendirilah Allah yang memimpin nenek moyang kamu keluar dari Mesir dengan tangan yang kuat dan lengan yang teracung. Kami pun tidak perlu percaya kepada yang lainnya (karena tidak ada yang lain), selain kepada-Nya yang dalam Dia telah kamu percayai, Allah Abraham, Ishak, dan Yakub.
— St. Yustinus Martir[20]

KGK menjelaskan makna frasa "Akulah TUHAN" pada permulaan Sepuluh Perintah Allah sebagai suatu ekspresi keberadaan Allah dan otoritas-Nya:

Perintah pertama mencakup iman, harapan, dan kasih. Ketika kita mengatakan "Allah", kita mengakukan suatu keberadaan yang tetap, tidak berubah, selalu sama, setia dan adil, tanpa satu pun hal jahat. Oleh karena itu kita harus selalu menerima kata-kata-Nya, memiliki iman sepenuhnya dalam Dia, dan mengakui otoritas-Nya. Dia mahakuasa, penuh belas kasihan, dan murah hati tak berhingga. Siapa yang tidak dapat menaruh semua harapannya dalam Dia? Siapa yang tidak dapat mengasihi-Nya ketika merenungkan khazanah kebaikan dan kasih yang telah Ia curahkan kepada kita? Karena itu kata-kata yang Allah gunakan dalam Kitab Suci pada awal dan akhir perintah-perintah-Nya yaitu "Akulah TUHAN".
—  KGK 2086[21]

Selanjutnya KGK menjelaskan mengapa kebajikan iman Kristiani merupakan hal pokok dalam ketaatan pada perintah pertama:

Kehidupan moral kita bersumber dalam iman kepada Allah yang mengungkapkan kasih-Nya kepada kita. Santo Paulus berbicara tentang "ketaatan iman" (Roma 1:5, Roma 16:26) sebagai kewajiban kita yang pertama. Ia menunjukkan bahwa ketidakpedulian akan Allah adalah dasar dan penjelasan dari segala penyimpangan moral. (Roma 1:18-32) Tugas kita di hadapan Allah adalah percaya kepada-Nya dan memberi kesaksian tentang Dia. Perintah pertama mengharuskan kita untuk memelihara dan melindungi iman kita dengan kehati-hatian dan kewaspadaan, serta menolak segala sesuatu yang bertentangan dengannya. Terdapat berbagai cara untuk berbuat dosa melawan iman: Keraguan iman yang disengaja berarti mengabaikan ataupun menolak untuk menerima sebagai kebenaran apa yang telah diwahyukan Allah dan disampaikan Gereja untuk dipercaya. Keraguan yang tidak disengaja mengacu pada kelambanan untuk percaya, kesukaran untuk mengatasi keberatan-keberatan terkait iman, atau juga kecemasan yang ditimbulkan oleh kegelapan iman. Kalau dipelihara secara sengaja, keraguan dapat mengakibatkan kebutaan rohani.
—  KGK 2087-2088[22] (lihat pula KGK 157[23])

Perintah pertama juga berkaitan dengan keputusasaan dan presumsi yang mengarah pada kesombongan sebagai dosa-dosa terhadap harapan:

Dalam keputusasaan, manusia berhenti mengharapkan dari Allah keselamatan pribadinya, bantuan untuk mencapai keselamatan itu, ataupun pengampunan atas dosa-dosanya. Keputusasaan berarti menentang kebaikan Allah, keadilan-Nya — sebab Tuhan setia pada janji-janji-Nya — dan kerahiman-Nya. Terdapat dua jenis kesombongan: manusia memiliki presumsi yang tinggi akan kemampuannya sendiri (berharap dapat mencapai keselamatannya sendiri tanpa bantuan dari atas), atau juga memiliki presumsi yang tidak benar akan kemahakuasaan dan kerahiman Allah (berharap untuk menerima pengampunan-Nya tanpa pertobatan dan kemuliaan tanpa jasa apapun).
—  KGK 2091-2092[24]

Cinta dan kasih dipandang sebagai elemen-elemen penting dari ketaatan pada perintah pertama:

Iman dalam cinta Allah meliputi panggilan dan kewajiban untuk menanggapi kasih ilahi dengan cinta yang tulus. Perintah pertama mewajibkan kita supaya mengasihi Allah di atas segala sesuatu dan semua makhluk demi Dia dan karena Dia. (Ulangan 6:4-5) Orang dapat berdosa melawan cinta Allah dalam berbagai cara:

- ketidakacuhan mengabaikan ataupun menolak untuk merenungkan kasih ilahi, urung untuk mempertimbangkan kebaikan antesedennya dan mengingkari kuasanya.

- rasa tidak tahu terima kasih mengabaikan ataupun menolak untuk mengakui kasih ilahi dan mengembalikan kepada-Nya cinta untuk cinta.

- kesuaman atau kelesuan adalah penundaan ataupun kelalaian dalam menanggapi kasih ilahi, dapat juga mengimplikasikan penolakan untuk memberikan diri kepada dorongan kasih ini.

- acedia atau kemalasan rohani lebih jauh lagi menolak sukacita yang berasal dari Allah dan membenci kebaikan ilahi.

- kebencian terhadap Allah timbul dari kesombongan, melawan kasih Allah dengan menyangkal kebaikan-Nya serta mengutuki-Nya karena Allah melarang dosa dan menjatuhkan hukuman atasnya.

—  KGK 2093-2094[25]

Menurut Santo Agustinus, perintah pertama dapat ditafsirkan sebagai "Kasihilah Allah dan kemudian lakukan apa yang kamu kehendaki".[26] Untuk menjelaskan hal ini, Peter Kreeft mengatakan bahwa semua dosa "melayani allah lainnya, menuruti komandan yang lain: dunia atau kedagingan ataupun setan", sementara apabila seseorang benar-benar mengasihi Allah maka ia akan melakukan apa yang dikehendaki Allah.[26][27]

Doa, kurban, janji, dan kaul juga dipandang sebagai kewajiban-kewajiban penting yang disyaratkan oleh ketaatan pada perintah pertama.[28] Bagaimanapun, KGK menuliskan bahwa masing-masing individu mempertahankan suatu kebebasan hati nurani berdasarkan perintah pertama. Setiap orang seharusnya mengikuti apa yang ia yakini dengan kehendak bebas tanpa ancaman atau paksaan dari luar, kendati tidak berarti bahwa setiap jenis ibadah dapat diterima secara moral.

"Tidak seorang pun dapat dipaksa untuk bertindak melawan keyakinan-keyakinannya, juga tidak seorang pun dapat dihalangi dari bertindak sesuai dengan hati nuraninya dalam hal keagamaan, baik secara privat maupun di muka umum, baik sendirian maupun bersama dengan orang lain, di dalam batas-batas yang tepat." Hak ini didasarkan pada kodrat dari pribadi manusia, yang martabatnya memungkinkan ia dengan bebas menyetujui kebenaran ilahi yang melampaui tatanan duniawi. Karena alasan ini hak tersebut "masih tetap ada bahkan dalam diri mereka yang tidak memenuhi kewajiban mereka mencari kebenaran dan mengikutinya."
—  KGK 2106[29]

Menurut ajaran Katolik, perintah pertama mengecam takhayul, penyembahan berhala, ramalan, magi, pelanggaran terhadap penyembahan Allah, ateisme dan agnostisisme.[30]

Perintah pertama melarang menghormati allah-allah lainnya selain dari Tuhan Yang Esa, yang telah mewahyukan Diri kepada umat-Nya. Perintah ini melarang takhayul dan ketidakacuhan religius. Takhayul dalam arti tertentu merupakan suatu religiositas yang menyimpang; ketidakacuhan religius adalah cacat cela yang berlawanan dengan kebajikan agama. Takhayul adalah penyimpangan dalam perasaan religius dan praktik-praktik yang disebabkan oleh perasaan itu. Takhayul bahkan dapat berdampak pada ibadah yang kita persembahkan kepada Allah yang benar, misalnya ketika seseorang mengaitkan suatu arti magis pada praktik-praktik tertentu yang sebenarnya diperbolehkan atau diperlukan. Mengaitkan daya guna dari doa-doa ataupun tanda-tanda sakramental pada pelaksanaan lahirahnya semata, melepaskannya dari sikap batin yang disyaratkan, adalah kejatuhan ke dalam takhayul. (Matius 23:16-22) Perintah pertama mengecam politeisme. Manusia diminta untuk tidak percaya ataupun menghormati allah-allah lainnya selain satu Allah yang benar. Kitab Suci terus-menerus mengingatkan penolakan akan berhala-berhala "perak dan emas, buatan tangan manusia, mempunyai mulut, tetapi tidak dapat berkata-kata, mempunyai mata, tetapi tidak dapat melihat." Berhala-berhala hampa ini membuat penyembahnya hampa: "Seperti itulah jadinya orang-orang yang membuatnya, dan semua orang yang percaya kepadanya." (Mazmur 115:4-5, 8) Sebaliknya Allah adalah "Allah yang hidup" (Yosua 3:10, Mazmur 42:3) yang memberi hidup dan turut campur tangan dalam sejarah. Penyembahan berhala tidak hanya mengacu pada ibadah palsu pagan, dan tetap merupakan suatu godaan terus menerus terhadap iman. Penyembahan berhala menuhankan apa yang bukan Allah. Manusia melakukan penyembahan berhala setiap kali ia menghormati dan memuja suatu makhluk ciptaan sebagai pengganti Allah, apakah itu dewata atau setan-setan (umpamanya satanisme), kuasa, kenikmatan, ras, leluhur, negara, uang, dll. Yesus mengatakan, "Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon." (Matius 6:24)
—  KGK 2110-2113[31]

Ajaran Katolik juga menegaskan bahwa ramalan (mencari petunjuk mengenai masa depan melalui horoskop, astrologi, pembacaan garis tangan, penafsiran pertanda dan takdir, dll.) dilarang oleh perintah pertama karena praktik-praktik terlarang itu bertentangan dengan penghormatan yang seharusnya diberikan manusia kepada Allah. Demikian halnya dengan magi, sihir, dan sumber-sumber kekuatan supernatural atau adikodrati yang serupa, adalah dilarang sekalipun demi memulihkan kesehatan.

Allah dapat mewahyukan masa depan kepada para nabi-Nya ataupun orang-orang kudus yang lain. Namun, sikap Kristiani yang baik meliputi penyerahan diri dengan penuh keyakinan ke dalam Penyelenggaraan Ilahi atas segala hal menyangkut masa depan, dan menjauhkan semua rasa ingin tahu yang tidak sehat tentang hal itu. Ketidakbijaksanaan dalam memandang masa depan dapat membentuk suatu sikap tak bertanggung jawab. Segala macam ramalan harus ditolak: meminta bantuan kepada Setan atau roh-roh jahat, pemanggilan arwah ataupun praktik-praktik lain yang secara keliru dianggap dapat "membuka tabir" masa depan. (Ulangan 18:10, Yerremia 29:8) Mencari petunjuk dengan horoskop, astrologi, pembacaan garis tangan, penafsiran pertanda dan takdir, fenomena kewaskitaan, serta meminta bantuan medium-medium, semuanya menyelubungi suatu kehendak untuk berkuasa atas waktu, sejarah, dan pada akhirnya atas manusia lain, juga suatu keinginan untuk melakukan konsiliasi dengan kekuatan tersembunyi. Semuanya itu bertentangan dengan rasa segan yang penuh kasih, penghargaan, dan penghormatan yang harus kita berikan kepada Allah saja. Semua praktik magi dan sihir, yang dengannya seseorang berupaya untuk menaklukkan kekuatan gaib, supaya kekuatan itu melayaninya dan ia mendapatkan suatu kekuatan adikodrati atas orang-orang lain — sekalipun demi memulihkan kesehatan mereka — adalah sangat bertentangan dengan kebajikan agama.
—  KGK 2115-2117[32]

Ajaran Katolik juga memandang perintah pertama sebagai larangan terhadap ateisme dan agnostisisme:

Karena menolak atau menyangkal keberadaan Allah, ateisme adalah dosa melawan perintah pertama.
—  KGK 2140[33]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ (Inggris) How Judges Think, Richard A. Posner, Harvard University Press, 2008, p. 322; "Ten Commandments", New Bible Dictionary, Second Edition, Tyndale House, 1982 pp. 1174-1175; The International Standard Bible Encyclopedia, Geoffrey W. Bromiley, 1988, p. 117; Renewal theology: systematic theology from a charismatic perspective, J. Rodman Williams, 1996 p.240; Making moral decisions: a Christian approach to personal and social ethics, Paul T. Jersild, 1991, p. 24
  2. ^ Keluaran 20:1-21, Ulangan 5:1-23; (Inggris) "Ten Commandments", New Bible Dictionary, Second Edition, Tyndale House, 1982 pp. 1174-1175
  3. ^ (Inggris) The Jewish Study Bible, Oxford University Press, 2004, pp. 111-112
  4. ^ (Inggris) The NIV Study Bible, Zondervan, 1995, p. 146
  5. ^ (Inggris) In Search of God: The Meaning and the Message of the Everlasting Names, TD Mettinger, Fortress Press, 2005; lihat pula: Yesaya 42:8, Ulangan 12, Mazmur 96:5
  6. ^ (Inggris) The Anchor Bible, "Deuteronomy 1-11", Moshe Weinfeld, commentary on Ch. 5-6, pp. 236-356
  7. ^ (Inggris) Catechism of the Catholic Church, "The Ten Commandments", Article 1, http://www.vatican.va/archive/catechism/p3s2c1a1.htm
  8. ^ Ulangan 32:17, Mazmur 106:37
  9. ^ Roma 1:18-32
  10. ^ Kisah 17:29-30
  11. ^ (Inggris) Geneva Study Bible comments on Acts 17 http://www.biblestudytools.com/Commentaries/GenevaStudyBible/gen.cgi?book=ac&chapter=017
  12. ^ (Inggris) John Gill’s Exposition of the Bible comments on Acts 17 http://www.biblestudytools.com/Commentaries/GillsExpositionoftheBible/gil.cgi?book=ac&chapter=017&verse=30
  13. ^ Kisah 14:15
  14. ^ (Inggris) Geneva Study Bible comments on Acts 14 http://www.biblestudytools.com/Commentaries/GenevaStudyBible/gen.cgi?book=ac&chapter=014
  15. ^ (Inggris) John Wesley’s Explanatory Notes on the Whole Bible http://www.biblestudytools.com/Commentaries/WesleysExplanatoryNotes/wes.cgi?book=ac&chapter=014
  16. ^ Kisah 15:20-21, 1 Korintus 10:1-10
  17. ^ (Inggris) "Paragraph 2134", Catechism of the Catholic Church, Second Edition, Libreria Editrice Vaticana, 2012 
  18. ^ Ulangan 6:5; (Inggris) "Paragraph 2122", Catechism of the Catholic Church, Second Edition, Libreria Editrice Vaticana, 2012 
  19. ^ Matius 4:10; (Inggris) "Paragraph 2135", Catechism of the Catholic Church, Second Edition, Libreria Editrice Vaticana, 2012 
  20. ^ (Inggris) St. Justin, Dial. cum Tryphone Judaeo 11, 1: PG 6, 497. http://www.earlychristianwritings.com/text/justinmartyr-dialoguetrypho.html
  21. ^ (Inggris) "Paragraph 2086", Catechism of the Catholic Church, Second Edition, Libreria Editrice Vaticana, 2012 
  22. ^ (Inggris) "Paragraphs 2087–2088", Catechism of the Catholic Church, Second Edition, Libreria Editrice Vaticana, 2012 
  23. ^ (Inggris) "Paragraph 157", Catechism of the Catholic Church, Second Edition, Libreria Editrice Vaticana, 2012 
  24. ^ (Inggris) "Paragraphs 2091–2092", Catechism of the Catholic Church, Second Edition, Libreria Editrice Vaticana, 2012 
  25. ^ (Inggris) "Paragraphs 2093–2094", Catechism of the Catholic Church, Second Edition, Libreria Editrice Vaticana, 2012 
  26. ^ a b (Inggris) Kreeft, Peter (2001). Catholic Christianity. Ignatius Press. hlm. 205. ISBN 0-89870-798-6. 
  27. ^ (Inggris) Kreeft, Peter, Discernment, www.peterkreeft.com, diakses tanggal 8 March 2016 
  28. ^ (Inggris) "Paragraphs 2098–2103", Catechism of the Catholic Church, Second Edition, Libreria Editrice Vaticana, 2012 
  29. ^ (Inggris) "Paragraph 2106", Catechism of the Catholic Church, Second Edition, Libreria Editrice Vaticana, 2012 
  30. ^ (Inggris) "Paragraphs 2110–2128", Catechism of the Catholic Church, Second Edition, Libreria Editrice Vaticana, 2012 
  31. ^ (Inggris) "Paragraphs 2110–2113", Catechism of the Catholic Church, Second Edition, Libreria Editrice Vaticana, 2012 
  32. ^ (Inggris) "Paragraphs 2115–2117", Catechism of the Catholic Church, Second Edition, Libreria Editrice Vaticana, 2012 
  33. ^ (Inggris) "Paragraph 2140", Catechism of the Catholic Church, Second Edition, Libreria Editrice Vaticana, 2012