Kota Sawahlunto

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Kota Sawahlunto

Logo
Moto: Sawahlunto Kota Wisata Tambang Yang Berbudaya
Letak Sawahlunto di Sumatera Barat
Kota Sawahlunto terletak di Indonesia
Kota Sawahlunto
Letak Sawahlunto di Indonesia
Koordinat: 0°40′40.16″S 100°47′13.21″E / 0.6778222°LS 100.7870028°BT / -0.6778222; 100.7870028
Negara Indonesia
Provinsi Sumatra Barat
Hari jadi 1 Desember 1888
Pemerintahan
 - Walikota Ir. Amran Nur
 - DAU Rp. 225.291.340.000,- [1]
Luas
 - Total 273,45 km2
Populasi (2008[2])
 - Total 54.310
 Kepadatan 198,6/km²
Kecamatan 4[2]
Kelurahan 10
Desa 27
Zona waktu WIB (UTC+7)
Kode area telepon +62 754
Situs web www.sawahlunto.go.id
Suasana di salah satu sudut kota Sawahlunto pada malam hari

Kota Sawahlunto adalah salah satu kota di provinsi Sumatera Barat, Indonesia. Kota yang terletak 95 km sebelah timur laut kota Padang ini, dikelilingi oleh 3 kabupaten di Sumatera Barat, yaitu kabupaten Tanah Datar, kabupaten Solok, dan kabupaten Sijunjung. Kota Sawahlunto memiliki luas 273,45 km² yang terdiri dari 4 kecamatan dengan jumlah penduduk lebih dari 54.000 jiwa. Pada masa pemerintah Hindia Belanda, kota Sawalunto dikenal sebagai kota tambang batu bara. Kota ini sempat mati, setelah penambangan batu bara dihentikan.

Saat ini kota Sawahlunto berkembang menjadi kota wisata tua yang multi etnik, sehingga menjadi salah satu kota tua terbaik di Indonesia.[3] Di kota yang didirikan pada tahun 1888 ini, banyak berdiri bangunan-bangunan tua peninggalan Belanda. Sebagian telah ditetapkan sebagai cagar budaya oleh pemerintah setempat dalam rangka mendorong pariwisata dan mencanangkan Sawahlunto menjadi "Kota Wisata Tambang yang Berbudaya".[4]

Daftar isi

[sunting] Sejarah

Sejarah kota Sawahlunto dimulai pada tahun 1867, setelah Ir. Willem Hendrik de Greve yang ditugaskan oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda untuk melakukan ekspedisi ke pedalaman Minangkabau, menemukan kandungan batu bara di sekitar aliran Batang Ombilin, salah satu sungai yang ada di Sawahlunto.[5] Penemuan de Greve dilaporkan kepada pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1871. Kemudian ditindaklanjuti oleh pemerintah Hindia Belanda pada 1 Desember 1888 dengan membangun fasilitas-fasilitas yang dibutuhkan untuk mengeksploitasi batu bara di Sawahlunto. Sehingga 1 Desember diabadikan sebagai Hari Jadi Kota Sawahlunto.

Kota ini mulai memproduksi batu bara sejak tahun 1892.[6] Seiring dengan itu, kota ini mulai menjadi kawasan pemukiman pekerja tambang, dan pemukiman ini terus berkembang menjadi sebuah kota kecil dengan penduduk yang intinya adalah pegawai dan pekerja tambang. Sampai tahun 1898, usaha tambang di Sawahlunto masih mengandalkan narapaidana yang dipaksa bekerja untuk menambang dan dibayar dengan harga murah.

Untuk memudahkan pengangkutan batu bara keluar dari kota Sawahlunto menuju kota Padang, pemerintah Hindia-Belanda membangun jalur kereta api dengan biaya 17 juta Gulden. Sebelumnya pada tahun 1888, jalur kereta api beroperasi hanya sampai ke Muara Kalaban dan kemudian baru mencapai kota Sawahlunto pada tahun 1894.

Pada tahun 1918, kota Sawahlunto telah dikategorikan sebagai Gemeentelijk Ressort atau Gemeente atas keberhasilan kegiatan pertambangannya. Adanya angkutan kereta api juga mendorong produksi pertambangan batu bara, dimana pada tahun 1920 produksi batu bara dari hanya puluhan ribu ton menjadi ratusan ribu ton per tahun. Sehingga sampai pada tahun 1930, kota ini telah berpenduduk sebanyak 43.576 jiwa, di antaranya 564 jiwa adalah orang Belanda (Eropa).

[sunting] Geografi

Bentang alam kota Sawahlunto memiliki ketinggian yang sangat bervariasi, yaitu antara 250 meter sampai 650 meter di atas permukaan laut. Bagian utara kota ini memiliki topografi yang relatif datar meski berada pada sebuah lembah, terutama daerah yang dilalui oleh Batang Lunto, dimana di sekitar sungai inilah dibentuknya pemukiman dan fasilitas-fasilitas umum yang didirikan sejak masa pemerintahan Hindia Belanda. Sedangkan bagian timur dan selatan kota ini relatif curam dengan kemiringan lebih dari 40%.

Kota Sawahlunto terletak di daerah dataran tinggi yang merupakan bagian dari Bukit Barisan dan memiliki luas 273,45 km². Dari luas tersebut, lebih dari 26,5% atau sekitar 72,47 km² merupakan kawasan perbukitan yang ditutupi hutan lindung. Penggunaan tanah yang dominan di kota ini adalah perkebunan sekitar 34%, dan danau yang terbentuk dari bekas galian tambang batu bara sekitar 0,2%.

Seperti daerah lainnya di Sumatera Barat, kota Sawahlunto mempunyai iklim tropis dengan kisaran suhu minimun 22,5 °C dan maksimum 27,5 °C. Sepanjang tahun terdapat dua musim, yaitu musim hujan dari bulan November sampai Juni dan musim kemarau dari bulan Juli sampai Oktober. Tingkat curah hujan kota Sawahlunto mencapai rata-rata 1.071,6 mm per tahun dengan curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Desember.[7]

[sunting] Kependudukan

Masjid Agung Nurul Islam yang merupakan salah satu bangunan peninggalan Belanda di Sawahlunto

Jumlah penduduk kota Sawahlunto mengalami penurunan yang sangat tajam sejak merosotnya produksi batu bara di kota ini pada tahun 1940, dari 43.576 orang pada tahun 1930 menjadi 13.561 orang pada tahun 1980. Kemudian secara perlahan, jumlah penduduk kota ini meningkat pada tahun 1990, sejalan dengan kembali pulihnya produksi batu bara sejak tahun 1980.

Pada tahun 1990, wilayah administrasi kota Sawahlunto diperluas dari hanya 0,778 km² menjadi 27,345 km² dan membawa konsekuensi jumlah penduduknya meningkat. Sehingga pada tahun 1995, jumlah penduduk kota Sawahlunto mencapai 55.090 orang. Namun pada tahun 2000, jumlah penduduk kota Sawahlunto menurun menjadi 50.668 orang, artinya selama lima tahun telah terjadi penurunan sekitar 8%. Hal ini disebabkan oleh sebagian perumahan pegawai PT. Bukit Asam Unit Pertambangan Ombilin dipindahkan ke luar daerah kota Sawahlunto. Sehingga dari segi ini tampak kaitannya antara usaha pertambangan batu bara dengan jumlah penduduk kota Sawahlunto.

Hasil Sensus Penduduk 2010 menunjukkan jumlah penduduk kota Sawahlunto mengalami peningkatan, dari sebelumnya 54.310 orang pada tahun 2008 menjadi 56.812 orang. Kecamatan Talawi merupakan kecamatan dengan penduduk terbanyak, yaitu 17.676 orang atau sekitar 31,11% dari jumlah penduduk kota Sawahlunto. Kepadatan penduduk kota Sawahlunto pada tahun 2010 adalah 238 orang per km², dimana kecamatan Lembah Segar adalah kecamatan yang paling tinggi tingkat kepadatan penduduknya yaitu 431 orang per km². Sedangkan rasio jenis kelamin penduduk kota Sawahlunto adalah 98, yang artinya jumlah penduduk laki-laki 2% lebih sedikit dibandingkan jumlah penduduk perempuan.

Tahun 1930 1980 1990 1995 2000 2005 2008 2010
Jumlah penduduk 43.576 Green Arrow Down.svg 13.561 Green Arrow Up.svg 15.279 Green Arrow Up.svg 55.090 Green Arrow Down.svg 50.668 Green Arrow Up.svg 52.457 Green Arrow Up.svg 54.310 Green Arrow Up.svg 56.812
Sejarah kependudukan kota Sawahlunto[2]

[sunting] Suku bangsa

Penduduk kota Sawahlunto saat ini didominasi oleh kelompok etnik Minangkabau dan Jawa. Etnik lain yang juga menjadi penghuni adalah Tionghoa dan Batak. Sejak dijadikannya Sawahlunto sebagai kota tambang batu bara atau sejak didirikannya kota ini pada abad ke-19, pemerintah Hindia-Belanda mulai mengirim narapidana dari berbagai penjara di Indonesia ke kota Sawahlunto sebagai pekerja paksa, sehingga sekitar 20.000 narapidana telah dikapalkan ke Sawahlunto.[8] Pekerja paksa inilah yang dikenal oleh masyarakat setempat sebagai Orang Rantai.

[sunting] Pendidikan

Untuk meningkatkan mutu pendidikan dan kompetensi siswa di kota Sawahlunto, salah satu program pemerintah setempat adalah dengan memberikan pelatihan bahasa Inggris sejak dini[9].

Pendidikan formal SD atau MI negeri dan swasta SMP atau MTs negeri dan swasta SMA negeri dan swasta MA negeri dan swasta SMK negeri dan swasta Perguruan tinggi
Jumlah satuan 66 13 4 1 3 2
Data sekolah di kota Sawahlunto
Sumber:[10]

[sunting] Kesehatan

Untuk meningkatkan taraf kesehatan masyarakat kota ini, pemerintah kota Sawahlunto telah membangun sebuah rumah sakit umum daerah tipe C[11]. Selain itu sarana kesehatan lain yang tersedia di kota ini adalah puskesmas sebanyak 5 buah, puskesmas pembantu 20 buah, pos KB/Posyandu 37 buah, tempat praktik dokter 15 buah[12].

[sunting] Pemerintahan

Walaupun kota Sawahlunto pada tahun 1930 telah memiliki penduduk yang banyak namun belum sempat menjadi Stadsgemeente, yang penyelenggaraan kotanya dilakukan oleh stadsgemeenteraad (DPRD) dan Burgemeester (Walikota).

Kemudian pada tanggal 10 Maret 1949, kota ini sebagai Stadgemeente Sawaloento menjadi bagian daerah Afdeeling Solok beserta kawasan kabupaten Solok, kota Solok, kabupaten Sijunjung dan kabupaten Dharmasraya sekarang, di bawah pemerintahan Bupati Sawahlunto/Sijunjung.

Selanjutnya dengan keluarnya Undang-undang nomor 18 tahun 1965 status kota ini berubah menjadi daerah tingkat II dengan sebutan Kotamadya Sawahlunto di bawah Walikota, dan terhitung mulai tanggal 11 Juni 1965 berdasarkan Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri tanggal 8 Maret 1965 nomor 15/2/13-227 ditunjuk sebagai pejabat walikota Sawahlunto adalah Achmad Noerdin, S.H.

[sunting] Daftar Walikota

Daftar Walikota yang memimpin kota Sawahlunto sejak pertama berdiri sampai sekarang:

No. Nama Masa jabatan
1. Achmad Nurdin, S.H. 1965 s/d 1971
2. Drs. Shaimoery, S.H. 1971 s/d 1983
3. Drs. Nuraflis Salam 1983 s/d 1988
4. Drs. H. Rahmatsjah 1988 s/d 1993
5. Drs. H. Subari Sukardi 1993 s/d 1998 dan 1998 s/d 2003
6. Ir. H. Amran Nur 2003 s/d 2008 dan 2008 s/d 2013

[sunting] Perekonomian

Salah satu pintu masuk menuju lubang tambang batu bara di kota Sawahlunto pada tahun 1971

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik, Sawahlunto merupakan kota dengan angka kemiskinan kedua terendah di Indonesia, setelah kota Denpasar, Bali. Sawahlunto termasuk kota dengan pendapatan per kapita kedua tertinggi di Sumatera Barat,[13] dimana mata pencarian penduduk sebagian besar ditopang oleh sektor pertambangan dan jasa. Selain itu, sektor lain seperti pertanian dan peternakan juga masih diminati masyarakat. Bahkan beberapa kawasan sedang dikembangkan untuk menjadi daerah sentral industri kerajinan dan makanan kecil.

Selama seratus tahun lebih, batu bara telah dieksploitasi mencapai sekitar 30 juta ton, dan masih tersisa cadangan lebih dari 100 juta ton. Namun masa depan penambangan batu bara di kota Sawahlunto masih belum jelas, sebab cadangan yang tersisa hanya bisa dieksploitasi sebagai tambang dalam. Sedangkan dapat tidaknya eksploitasi tersebut sangat bergantung kepada penguasaan teknologi dan permintaan pasar. Selain itu, penyelenggaraan pertambangan batu bara juga sedang mengalami reorientsi oleh berkembangnya semangat desentralisasi atau tuntuntan otonomi daerah yang membangkitkan keinginan masyarakat setempat untuk melakukan penambangan sendiri.

[sunting] Perhubungan

Kereta api wisata Padang Panjang–Sawahlunto yang tengah melintasi Danau Singkarak

Penemuan cadangan batu bara di kota Sawahlunto telah mendorong pemerintah Hindia Belanda membangun jalur kereta api menuju kota Padang dalam mendistribusikan batu bara. Pembangunan ini dimulai pada tahun 1889 dan selesai pada tahun 1896.[14] Jalur kereta api ini selain menghubungkan kota Padang dengan kota Sawahlunto, juga mencapai kota-kota lain seperti kota Solok, kota Pariaman, kota Bukittinggi, kota Padang Panjang, dan kota Payakumbuh. Namun akibat menurunnya produksi batu bara sejak tahun 2000, aktivitas pengangkutan batu bara dengan kereta api berhenti total.

Jarak kota Padang ke Sawahlunto adalah sekitar 95 km dan dapat ditempuh baik dengan bus maupun kendaraan pribadi. Dapat pula diakses dengan kereta api yang beroperasi pada hari tertentu dari kota Padang Panjang.

[sunting] Pariwisata

Kota Sawahlunto memiliki banyak bangunan-bangunan tua peninggalan Belanda.[15][16] Sebagian bangunan telah ditetapkan oleh pemerintah setempat sebagai cagar budaya dan objek wisata, salah satunya adalah Gedung Pusat Kebudayaan Sawahlunto. Bangunan tua lainnya adalah Kantor PT. Bukit Asam Unit Pertambangan Ombilin yang dibangun pada tahun 1916.[17] Bangunan ini memiliki menara pada bagian tengah dan di sekitarnya terdapat taman yang dikenal sebagai Taman Segitiga.

Dapur umum yang sebelumnya dapat memproduksi makanan setiap waktu untuk ribuan pekerja paksa dan stasiun kereta api sebagai tempat dilakukannya aktivitas pengangkutan batu bara dijadikan museum pada tahun 2005. Masing-masing dinamakan Museum Gudang Ransum dan Museum Kereta Api Sawahlunto.[18] Sedangkan bangunan pusat pembangkit listrik yang didirikan pada tahun 1894, sejak tahun 1952 dijadikan masjid dengan nama Masjid Agung Nurul Islam atau dikenal sebagai Masjid Agung Sawahlunto.[19] Masjid ini memiliki satu kubah besar di tengah yang dikelilingi oleh empat kubah dengan ukuran yang lebih kecil, dan memiliki menara yang tingginya mencapai 80 meter.[20]

Kejayaan tambang batu bara di kota Sawahlunto masih tersisa dalam sejumlah bangunan lain seperti Silo. Silo berfungsi sebagai penimbun batu bara yang telah dibersihkan dan siap diangkut ke pelabuhan Teluk Bayur. Silo masih berdiri kokoh di tengah kota, kendati tidak berfungsi apa-apa. Selain itu, sirene pada Silo masih berbunyi setiap pukul 07.00, 13.00, dan 16.00 waktu setempat, dimana pada masa pemerintahan Hindia Belanda, sirene di Silo ini menandakan jam kerja Orang Rantai atau narapidana yang dijadikan kuli pengambil batu bara.[21]

Silo

Objek wisata unggulan yang ada di kota ini adalah atraksi wisata tambang, dimana pengunjung dapat melakukan napak tilas pada areal bekas penambangan yang dibangun pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Objek wisata ini dinamai Lubang Suro yang diambil dari nama seorang mandor pekerja paksa, Mbah Suro. Tidak jauh dari objek wisata Lubang Suro, didirikan Gedung Info Box yang menyediakan berbagai informasi dan dokumentasi tentang sejarah pertambangan batu bara di kota Sawahlunto.[22]

Kota ini juga memiliki objek wisata lain seperti kebun binatang yang memiliki luas sekitar 40 hektare[23] dan Resort Wisata Kandi dengan luas 393,4 hektare. Ada 3 danau yang terbentuk dari bekas galian penambangan batu bara di Resort Wisata Kandi, yaitu Danau Kandi, Danau Tanah Hitam, dan Danau Tandikek. Selain itu, juga terdapat wahana rekreasi keluarga yang dikenal dengan nama Waterboom Sawahlunto.[24]

[sunting] Olahraga

Di kota ini terdapat lapangan pacuan kuda milik pemerintah setempat yang bernama Lapangan Pacuan Kuda Bukit Kandih. Setiap tahunnya diselenggarakan lomba pacuan kuda di lapangan ini. Lapangan pacuan kuda seluas 39.69 hektare tersebut memiliki track pacuan kuda sepanjang 1.400 meter dengan lebar 20 meter dan dapat menampung sekitar 30.000 penonton.[25] Selain itu, kota ini juga memiliki arena road race seluas 10 hektare dengan track lintasan beraspal hotmix sepanjang 1,2 km dan telah berstandar nasional.

Kota Sawahlunto termasuk kota yang menjadi bagian dari tahapan perlombaan balap sepeda Tour de Singkarak. Pada Tour de Singkarak 2011, kereta uap wisata bertenaga batu bara yang oleh masyarakat setempat dinamai Mak Itam dipakai untuk membawa pebalap sepeda menuju lokasi start etape 5a di Silungkang.[26] Dalam tiga kali penyelenggaraan ajang balap sepeda Tour de Singkarak, kota Padang selalu menjadi titik start pelombaan. Namun untuk tahun 2012 titik start lomba dipindahkan ke kota Sawahlunto, sedangkan Padang sebagai ibu kota Sumatera Barat dijadikan titik finish lomba.

[sunting] Referensi

  1. ^ "Perpres No. 6 Tahun 2011". 17 Februari 2011. http://www.djpk.depkeu.go.id/regulation/27/tahun/2011/bulan/02/tanggal/17/id/590/. Diakses pada 23 Mei 2011. 
  2. ^ a b c sumbar.bps.go.id Profil Kota Sawahlunto
  3. ^ www.tempo.co Tour de Singkarak 2012 Dimulai dari Sawahlunto. Tempo. Diakses pada 3 Februari 2012.
  4. ^ Andi Asoka (2005). Sawahlunto, Dulu, Kini dan Esok: Menyongsong Kota Wisata Tambang yang Berbudaya. Pusat Studi Humaniora (PSH), Unand Kerja Sama dengan Kantor Pariwisata, Seni dan Budaya, Kota Sawahlunto, Sumatera Barat. ISBN 978-979-3723-50-1.
  5. ^ Hendrik de Greve, Willem (1871). Het Ombilien Kolenveld in de Padangsche Bovenlanden en Het Transportstelsel op Sumatra’s Westkust.
  6. ^ Penerbit Buku Kompas (2001). Profil Daerah Kabupaten dan Kota. Vol. 1. Penerbit Buku Kompas. ISBN 978-979-709-009-8.
  7. ^ www.sawahlunto-tourism.com Sekilas Tentang Sawahlunto. Portal Resmi Pariwisata Kota Sawahlunto. Diakses pada 29 Januari 2012.
  8. ^ www.kompasiana.com Urang Rantai, Elegi Miris Kota Sawahlunto. Diakses pada 29 Januari 2012.
  9. ^ www.sawahlunto.go.id Meningkatkan Kompetensi Siswa Dengan Pelatihan Bahasa Inggris. Diakses pada 11 Juli 2010.
  10. ^ nisn.jardiknas.org Rekap data
  11. ^ www.depkes.go.id Daftar Rumah Sakit. Diakses pada 11 Juli 2010.
  12. ^ www.sawahlunto.go.id Kesehatan. Diakses pada 11 Juli 2010.
  13. ^ Sjafrizal. Ekonomi Regional. Niaga Swadaya. ISBN 978-979-17475-2-3. 
  14. ^ Colombijn, Freek. Paco-Paco (Kota) Padang. hlm. 65. 
  15. ^ www.investor.co.id Sawahlunto Kembangkan Wisata Tambang dan Sejarah Kota Lama. Diakses pada 29 Januari 2012.
  16. ^ www.okezone.com Pelajari Sejarah Warisan Kolonial di Sawahlunto. Diakses pada 29 Januari 2012.
  17. ^ www.thearoengbinangproject.com Gedung PT. Bukit Asam Unit Pertambangan Ombilin. Diakses pada 29 Januari 2012.
  18. ^ www.indonesia.travel/id Sawahlunto: Kota Tua Bernuansa Pertambangan. Diakses pada 29 Januari 2012.
  19. ^ www.hariansumutpos.com Pembangkit Listrik Jadi Masjid. Diakses pada 29 Januari 2012.
  20. ^ www.thearoengbinangproject.com Masjid Agung Nurul Islam. Diakses pada 29 Januari 2012.
  21. ^ www.kompas.com Sawahlunto, Kota Arang yang Terjaga. Diakses pada 29 Januari 2012.
  22. ^ www.sawahlunto.go.id Orang Rantai dari Tambang Batubara Sawahlunto. Diakses pada 29 Juni 2010.
  23. ^ www.sawahlunto.go.id Kebun Binatang. Diakses pada 11 Juli 2010.
  24. ^ www.kompas.com Sawahlunto Akan Bangun "Skylift". Diakses pada 29 Januari 2012.
  25. ^ www.kompasiana.com Sawahlunto Bukan Sekedar Batubaro. Diakses pada 29 Januari 2012.
  26. ^ www.okezone.com Mak Itam Semarakkan Tour De Singkarak, 5 Juni 2011. Okezone.com. Diakses pada 13 Desember 2011.

[sunting] Pranala luar

Wikitravel Lihat panduan wisata Kota Sawahlunto di Wikitravel

Akun
Ruang nama

Varian
Tindakan
Navigasi
Komunitas
Wikipedia
Cetak/ekspor
Peralatan
Bahasa lain