Islam di Sumatera Barat

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari

Islam di Sumatera Barat dipeluk oleh sekitar 98% penduduk Sumatera Barat.[1] Jumlah ini akan meningkat menjadi 99,6% bila Kabupaten Kepulauan Mentawai tidak dimasukkan. Namun, meskipun Islam menjadi mayoritas, hingga saat ini Sumatera Barat belum diberikan keistimewaan oleh Pemerintah Indonesia untuk menerapkan syariat Islam seperti Aceh.

Islam di Minangkabau[sunting | sunting sumber]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Masuknya Islam[sunting | sunting sumber]

Agama Islam pertama kali memasuki Sumatera Barat pada abad ke-7, dimana pada tahun 674 telah didapati masyarakat Arab di pesisir timur Pulau Sumatera. Selain berdagang, secara perlahan mereka membawa masuk agama Islam ke dataran tinggi Minangkabau atau Sumatera Barat sekarang melalui aliran sungai yang bermuara di timur pulau Sumatera, seperti Batang Hari.

Perkembangan agama Islam di Sumatera Barat menjadi sangat pesat setelah Kesultanan Aceh diperintah oleh Sultan Alauddin Riayat Syah al-Kahar, yang berhasil meluaskan wilayahnya hampir ke seluruh pantai barat Sumatera. Sehingga pada abad ke-13, Islam mulai memasuki Tiku, Pariaman, Air Bangis, dan daerah pesisir Sumatera Barat lainnya. Islam kemudian juga masuk ke daerah pedalaman atau dataran tinggi Minangkabau yang disebut "darek". Di kawasan daerak pada saat itu berdiri Kerajaan Pagaruyung, dimana kerajaan tersebut mulai mendapat pengaruh Islam sekitar abad ke-14. Sebelum Islam diterima secara luas, masyarakat yang ada di sekitar pusat kerajaan dari beberapa bukti arkeologis menunjukan pernah memeluk agama Buddha dan Hindu terutama sebelum memasuki abad ke-7.

Perang Padri[sunting | sunting sumber]

Sejak abad ke-16, agama Islam telah dianut oleh seluruh masyarakat Minangkabau baik yang menetap di Sumatera Barat maupun di luar Sumatera Barat. Jika ada masyarakatnya keluar dari agama Islam atau murtad, secara langsung yang bersangkutan juga dianggap keluar dari masyarakat Minangkabau. Namun hingga akhir abad ke-17, sebagian dari mereka terutama yang ada di lingkungan kerajaan, belum sepenuhnya menjalankan syariat Islam dengan sempurna dan bahkan masih melakukan perbuatan yang dilarang dalam Islam. Mengetahui hal tersebut, ulama-ulama Minangkabau yang saat itu disebut Kaum Padri dalam suatu perundingan mengajak masyarakat di sekitar kerajaan Pagaruyung terutama Raja Pagaruyung untuk kembali ke ajaran Islam. Namun perundingan tersebut pada tahun 1803 berujung kepada konflik yang dikenal sebagai Perang Padri.

Perang Padri melibatkan sesama masyarakat Minang, yaitu antara Kaum Padri dan Kaum Adat. Setelah 20 tahun konflik belangsung, pada tahun 1833 terjadi penyesalan di Kaum Adat[2] karena telah mengundang Belanda 12 tahun sebelumnya,[3] yang selain mengakibatkan kerugian harta dan mengorbankan jiwa raga, juga meruntuhkan kekuasaan Pagaruyung. Saat itu, Kaum Padri yang dipimpin oleh Tuanku Imam Bonjol mulai merangkul Kaum Adat, dan terjadilah suatu kesepakatan di antara kedua pihak untuk bersatu melawan Belanda. Tidak hanya itu, Kaum Adat dan Kaum Padri juga mewujudkan konsesus bersama, yaitu "Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah" (Adat berlandaskan ajaran Islam, ajaran Islam berlandaskan Al-Qur'an).[4]

Demografi[sunting | sunting sumber]

Pendidikan[sunting | sunting sumber]

Tokoh Islam[sunting | sunting sumber]

Pengaruh[sunting | sunting sumber]

Arsitektur[sunting | sunting sumber]

Islam di Mentawai[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Kepulauan Mentawai merupakan kabupaten kepulauan yang terletak di sepanjang lepas pantai Sumatera Barat. Dikelilingi oleh Samudra Hindia, kabupaten ini terdiri dari sedikitnya 106 pulau. Empat pula terbesarnya adalah: Siberut, Sipora, Pagai Utara, dan Pagai Selatan. Keempat pulau tersebut mayoritas dihuni oleh Suku Mentawai. Suku Aceh dan Bugis, yang diperkirakan datang sejak tahun 1897, terkonsentrasi terutama di Pasapuat, Pagai Utara dan Labuhan Baju, Siberut Utara. Setelah kemerdekaan, suku Mentawai telah membaur dengan suku-suku bangsa lain terutama setelah kabupaten ini menjadi salah satu daerah transmigrasi di Indonesia.

Mayoritas suku Mentawai saat ini menganut agama Kristen. Misi pengkristenan di Mentawai berlangsung secara besar-besaran selama abad ke-18. Misionaris pertama yang mengetahui keberadaan Kepulauan Mentawai adalah Augyst Lerr dan rekannya A. Kramer pada tahun 1901. Mereka merupakan Pastor Protestan yang berasal dari Jerman. Baru pada tahun 1954, Pastor Katolik menjejakkan kaki di kepulauan ini di bawah pimpinan Pastor Aurelio Cannizzaro.[5]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Dari sekitar 71.000 jiwa penduduk Mentawai saat ini, hanya 15% saja yang Muslim. Terbanyak adalah Protestan 60%, Khatolik 20%, dan sisanya animisme. Hal ini disebabkan karena pihak Kristen didukung dana yang besar dalam misi penyebaran agama mereka.[6]

Meskipun Kristen merupakan agama terbesar, Islam lebih dulu masuk ke Mentawai. Agama Islam dibawa oleh suku-suku pendatang, seperti: Bugis, Aceh, Melayu, dan Minangkabau. Pada awalnya, mereka datang hendak berdagang. Lambat laun mereka menetap di sepanjang pantai, bergaul, dan berasimilasi dengan masyarakat setempat. Mereka menyebarkan Islam melalui pendekatan-pendekatan pribadi secara timbal balik tanpa pemaksaan atau memberikan iming-iming seperti yang dilakukan oleh misionaris Kristen.[6]

Pada tahun 1968, sebagai upaya untuk menyebarkan kembali Islam, Mohammad Natsir mencanangkan program bertajuk "Dakwah Khusus Mentawai". Sepulang dari Padang, Natsir berkirim surat kepada Fachruddin Datuk Majo Indo tertanggal 20 Juni 1968, yang mengingatkan agar berhatihati menghadapi gerakan pemurtadan oleh pihak Salibiyah.. Dokumen inilah yang kelak membidani lahirnya gerakan dakwah ke Mentawai. Pada tahun 1970, Dewan Dakwah Indonesia mulai mengirimkan para dai ke Mentawai.[6] Namun, jumlah dai di Mentawai masih sangat kurang. Ketua Gerakan Muslim Minangkabau (GMM) Maat Acin misalnya menyebutkan, banyak penyelanggaraan jenazah Muslim yang akhirnya dikuburkan dengan cara Kristen karena ketiadaan dai. Bahkan, ada satu desa yang dulunya 100% penduduknya Muslim, tapi kini Muslimnya tinggal 5 orang saja.[5]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Penduduk Menurut Kelompok Umur dan Agama yang Dianut: Provinsi Sumatera Barat". Badan Pusat Statistik. Diakses 2012-05-03. 
  2. ^ Abdullah, Taufik (1966). Adat and Islam: An Examination of Conflict in Minangkabau 2 (2). hlm. 1–24. doi:10.2307/3350753. 
  3. ^ Amran, Rusli (1981). Sumatera Barat hingga Plakat Panjang. Penerbit Sinar Harapan. 
  4. ^ Jones, Gavin W.; Chee, Heng Leng; Mohamad, Maznah (2009). "Not Muslim, Not Minangkabau, Interreligious Marriage and its Culture Impact in Minangkabau Society by Mina Elvira". Muslim-Non-Muslim Marriage: Political and Cultural Contestations in Southeast Asia. Institute of Southeast Asian Studies. hlm. 51. ISBN 978-981-230-874-0. 
  5. ^ Ghani 2013.
  6. ^ Abidin 1997.