Abdul Rozak Fachruddin

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
K.H. Abdul Rozak Fachruddin
Lahir 14 Februari 1915
Pakualaman, Yogyakarta
Meninggal 17 Maret 1995
Solo, Jawa Tengah
Dikenal karena Mantan Ketua Muhammadiyah
Pendahulu K.H. Faqih Usman
Pengganti K.H. A. Azhar Basyir
Agama Islam

Kyai Haji Abdul Rozak Fachruddin (lahir di Pakualaman, Yogyakarta, 14 Februari 1915 – meninggal di Solo, Jawa Tengah, 17 Maret 1995 pada umur 80 tahun) adalah seorang ketua umum Muhammadiyah. Ia dikenal dengan sebutan A.R. Fachruddin atau nama panggilan lainnya adalah Pak A.R. Abdul Rozak Fachruddin dikenal sebagai ketua umum Muhammadiyah yang paling lama, yaitu 22 tahun (1968-1990).

Kehidupan awal[sunting | sunting sumber]

Fachruddin lahir di Pakualaman, Yogyakarta pada tanggal 14 Februari 1916. Ayahnya adalah K.H. Fachruddin adalah seorang lurah naib atau penghulu di Puro Pakualaman yang diangkat oleh kakek Sri Paduka Paku Alam VIII, berasal dari Kulonprogo. Sementara ibunya adalah Maimunah binti K.H. Idris, Pakualaman.[1]

Ia belajar di sekolah-sekolah Muhammadiyah.[2] Pada tahun 1923, untuk pertama kalinya A.R. Fachruddin bersekolah formal di Standaard School Muhammadiyah Bausasran. Setelah ayahnya tidak lagi menjadi penghulu dan usaha dagang batiknya juga jatuh, maka ia pulang ke Bleberan.

Pada tahun 1925, ia pindah ke Sekolah Dasar Muhammadiyah Kotagede dan setamat dari sana tahun 1928, ia masuk ke Madrasah Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta. Setelah dua tahun belajar di Muallimin, ayahnya memanggil dia untuk pulang dan belajar kepada beberapa kiai seperti K.H. Fachruddin, ayahnya sendiri.[1][2]

Karier awal[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 1934, ia dikirim oleh Muhammadiyah untuk misi dakwah sebagai guru di sepuluh sekolah dan sebagai mubaligh di Talangbalai (sekarang Ogan Komering Ilir) selama sepuluh tahun.[2] Dan ketika Jepang datang, ia pindah ke Muara Meranjat, Palembang sampai tahun 1944. Selama tahun 1944, Fachruddin mengajar di sekolah Muhammadiyah serta memimpin dan melatih Hizbul Wathan, dan barulah ia pulang ke kampung halaman.[1]

Pada tahun 1944, ia masuk BKR Hizbullah selama setahun. Sepulangnya ia dari Palembang, ia berdakwah di Bleberan dan menjadi pamong desa di Galur selama setahun. Selanjutnya, ia menjadi pegawai Departemen Agama.[2] Pada tahun 1950, ia pindah ke Kauman dan belajar kepada tokoh-tokoh awal Muhammadiyah seperti Ki Bagus Hadikusumo, Basyir Mahfudz, Badilah Zuber dan Ahmad Badawi.[1][3]

Bekerja di Muhammadiyah[sunting | sunting sumber]

Pengabdiannya bukan saja di lingkungan Muhammadiyah, tapi juga di pemerintahan dan perguruan tinggi. Pak AR misalnya, pernah menjabat sebagai kepala Kantor Urusan Agama, Wates (1947). Tidak lama di jabatannya itu, dia ikut bergerilya melawan Belanda. Pada 1950-1959, ia menjadi pegawai di kantor Jawatan Agama wilayah Yogyakarta, lalu pindah ke Semarang, sambil merangkap dosen luar biasa bidang studi Islamologi di Unissula, FKIP Undip, dan STO.

Sedangkan di Muhammadiyah, dimulai sebagai pimpinan Pemuda Muhammadiyah (1938-1941). Ia menjadi pimpinan mulai di tingkat ranting, cabang, wilayah, hingga sebagai Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Jabatan sebagai ketua PP Muhammadiyah dipegangnya pada 1968 setelah di fait accompli menggantikan KH Faqih Usman, yang meninggal.

Pada Muktamar Muhammadiyah ke-38 di Ujungpandang, Pak AR terpilih sebagai ketua. Hampir seperempat abad ia menjadi orang paling atas di Muhammadiyah, sebelum digantikan oleh almarhum KH Azhar Basyir (setelah tidak lagi bersedia dicalonkan dalam Muktamar Muhammadiyah 1990). Setelah dirawat di RS Islam Jakarta, Pak AR wafat pada 17 Maret 1995, meninggalkan 7 putra dan putri.

Sesuatu yang nampak menonjol dari pribadi Pak AR adalah kesederhanaan, kejujuran, dan keikhlasan. Tiga sifat itulah, menurut Dr Amien Rais, warisan utama Pak AR yang perlu terus dihidupkan tidak hanya oleh kalangan Muhammadiyah. Selaku pemimpin umat, Pak AR sangat sepi dari limpahan harta benda. Beliau sangat mungkin untuk memiliki mobil mengkilap, atau rumah mewah. Tetapi Pak AR memilih untuk tidak punya apa-apa, kata Amien.

Kesejukannya sebagai pemimpin umat Islam juga bisa dirasakan oleh umat agama lain. Ketika menyambut kunjungan pemimpin umat Kristiani sedunia, Paus Yohannes Paulus II, di Yogyakarta dalam sebuah kunjungan resmi ke Indonesia, Pak AR menyampaikan 'uneg-uneg' dan kritik kepada Paus.

Pak AR mengeluhkan, bahwa tak sedikit umat Islam yang lemah dan tak berkecukupan seringkali dirayu umat Kristen untuk masuk agama mereka. Kesempatan itu juga digunakan Pak AR menjelaskan pada Paus, bahwa agama harus disebarluaskan dengan cara-cara yang perwira dan sportif. Kritik ini diterima dengan lapang dada oleh umat lain karena disampaikan dengan lembut dan sejuk, serta dijiwai dengan semangat toleransi tinggi.

Tak hanya kesejukan, Pak AR juga dikenal sangat merakyat. Meski ia menduduki jabatan puncak di organisasi Muhammadiyah, namun dia tidak pernah jauh dari umat yang dipimpinnya. Ia memberikan seluruh diri dan hidupnya kepada Muhammadiyah. Suatu ketika pada tahun 1975, becak yang dinaikinya dicegat seorang pedagang kaki lima. Pedagang itu ternyata hanya ingin bertanya tentang hukum pinjam-meminjam. Lebih setengah jam, Pak AR memberi penjelasan kepada pedagang tersebut. Setelah si penanya puas, Pak AR kembali melanjutkan perjalanan.

Pak AR yang memang selalu ingin dekat dengan rakyat kecil itu, paling senang jika diundang berceramah di kalangan rakyat bawah di lembah Kali Code dan kampung-kampung pinggiran di Yogyakarta. Suatu kali, dalam sebuah kultum (kuliah tujuh menit), Pak AR menjelaskan mengapa dirinya senang ceramah di kalangan rakyat kecil dan miskin. "Karena itulah sunnah Nabi SAW," jawabnya.

Para pengikut Islam, pertama-tama, jelas Pak AR, adalah rakyat miskin dan budak belian. "Karena itu, sebagai dai jangan berharap pada orang-orang besar dan kaya. Bukankah Nabi pernah mendapat teguran dari Allah karena menyepelekan orang kecil demi berdakwah untuk orang besar?" jelasnya.

Sikapnya yang merakyat inilah yang membuat periode kepemimpinannya dinilai sangat berhasil. Totalitas Pak AR dalam ber-Muhammadiyah, itu juga ditunjukkan dalam bentuk penolakannya ketika pemerintah Orde Baru berkali-kali menawarinya menjadi anggota DPR dan jabatan lainnya. Di sisi lain, Pak AR juga tetap menjaga hubungan baik dengan pemerintah, dan bekerja sama secara wajar. Sikap dan kebijakannya ini membuat warga Muhammadiyah merasa teduh, aman dan memberikan kepercayaan yang besar kepadanya.

Bagaimana Pak AR di mata keluarganya? "Bapak tidak pernah marah. Kepada kami, juga kepada orang lain. Kalaupun menasihati kami, dilakukannya secara halus kadang diselingi dengan humor," ujar Siti Zahanah, anak ketiga Pak AR, sebagaimana dituturkannya dalam buku Pak AR, Profil Kiai Merakyat.

Meski sebagai teladan dan sangat dihormati di keluarga, bukan berarti urusan keluarga menjadi prioritas. Baginya, keluarga adalah nomor dua, sementara Muhammadiyah dan umat adalah urusan pertama dalam hidupnya. Namun, dukungan keluarga sangat penting bagi Pak AR untuk menjalankan aktivitas dan amanat organisasi.

Setiap akan meninggalkan rumah lebih dari sehari semalam, Pak AR mempunyai kebiasaan berpesan kepada sang istri, Siti Qomariyah, dan anak-anaknya. "Aku arep lungo nang kene semene dino. Kowe kabeh tak pasrahke Gusti Allah (Aku akan pergi ke kota ini sekian hari. Kamu sekalian saya titipkan kepada Allah)," tutur Qomariyah, menirukan pesan Pak AR. Pak AR memang berharap istrinya benar-benar berperan sebagai ibu rumah tangga secara penuh. Menjadi istri sekaligus ibu rumah tangga yang istiqomah, yang mampu membimbing dan memberi motifasi kepada anak-anak. Pak AR sadar betul, tugasnya yang berat sebagai ketua Muhammadiyah, membuatnya tak cukup waktu untuk keluarga. Karena itulah, sang istri yang mengambil alih tugas-tugas keseharian di rumah ketika Pak AR tugas keluar.

Toh demikian, sudah menjadi rahasia umum, jika keluarga Pak AR yang tergolong keluarga besar (9 orang) ini tidak mempunyai rumah pribadi. Padahal, sebagai orang penting, bila ia mau, bisa saja hal itu terpenuhi dalam hitungan hari. Tapi tidak demikian dengan Pak AR.

Rumah cukup besar yang ditempatinya sejak 1971 adalah milik persyarikatan Muhammadiyah. Sebelumnya, Pak AR sekeluarga menghuni rumah sewa sederhana di Kauman nomor 260, Yogyakarta. Tapi, bukan berarti Pak AR tidak ingin memiliki rumah pribadi. Hal itu pun sudah ia usahakan saat menjabat sebagai kepala Kantor Agama Jawa Tengah di Semarang tahun 1959-1964, dengan cara membeli rumah secara angsuran yang diusahakan pihak swasta.

Karena memang sifatnya yang tidak pernah berburuk sangka, angsuran rumah yang tanpa disertai surat jaminan itu pun tak berumur panjang. Pak AR tertipu oleh pengembang yang membawa lari uangnya. "Wis ora usah dirembug maneh. Sesuk bakal diijoli omah sing luwih apik neng suwargo (Sudah, tidak usah dibicarakan lagi. Nanti akan mendapat ganti rumah yang lebih baik di surga)," tutur Qomariyah, ketika menanyakan kelanjutan dan status rumah yang diangsur itu. Kalau nyebut pak AR, benak saya langsung mengarah kepada pak AR Fachruddin (alm), ketua PP Muhammadiyah. Saya sangat mengagumi gaya pak AR (alm) kalau ceramah: Santun, lembut, sejuk.

Tahun-tahun terakhir di Muhammadiyah[sunting | sunting sumber]

Pada tanggal 9-14 Oktober 1989, Paus Yohanes Paulus II berkunjung ke Indonesia. Setelah ia melawat ke Jakarta, ia pergi Yogyakarta. Dalam lawatannya ke Yogyakarta, Fachruddin membuat sebuah brosur bersampul kuning setebal 12 halaman yang bertuliskan bahasa Jawa Inggil, Mengayubagia Sugeng Rawuh Lan Sugeng Kundur.[4] Dan surat itu dimuat di Suara Muhammadiyah.[4] Dalam surat itu, ia memperkenalkan diri, memaparkan keadaan Muhammadiyah dari Sabang sampai Merauke, rukun iman dan Islam, dan ulasan ganjaran umat Islam Indonesia terhadap praktik penyebarluasan ajaran Kristen yang mengeksploitasi kemiskinan.[4]

Pada akhir kepemimpinannya, ia bekerja sama dengan BRI dalam rangka penataan administrasi keuangan dan konsolidasi organisasi. Penandatangan kerja sama tersebut terjadi pada tanggal 25 April 1989 di Jakarta.[4]

Pada Muktamar ke-42 Muhammadiyah yang dibuka oleh Presiden Soeharto di Stadion Mandala Krida, pembukaannya dihadiri oleh 30.000 orang.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d "KH Abdur Rozak Fachdrudin (1971 - 1985)". Muhammadiyah. Diarsipkan dari aslinya tanggal 26 August 2012. Diakses 26 August 2012. 
  2. ^ a b c d Mohammad, Herry (2006). Tokoh-Tokoh Islam yang Berpengaruh abad 20. Jakarta: Gema Insani. ISBN 978-979-560-219-4. 
  3. ^ "Abdur Rozak Fachdrudin". Merdeka. Diarsipkan dari aslinya tanggal 26 August 2012. Diakses 26 August 2012. 
  4. ^ a b c d Djurdi, Syarifuddin (2010). 1 Abad Muhammadiyah. Jakarta: Kompas. ISBN 978-979-709-498-0. 
Didahului oleh:
K.H. Faqih Usman
Ketua Umum Muhammadiyah
1971 — 1990
Diteruskan oleh:
K.H. A. Azhar Basyir