Haji Abdul Malik Karim Amrullah

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Hamka)
Langsung ke: navigasi, cari
Abdul Malik Karim Amrullah
Buya Hamka.jpeg
Lahir 17 Februari 1908
Bendera Belanda Sungai Batang, Tanjung Raya, Agam, Sumatera Barat
Meninggal 24 Juli 1981 (umur 73)
Bendera Indonesia Jakarta
Nama pena Hamka
Kewarganegaraan Bendera Indonesia Indonesia
Tema Roman, tafsir Al-Quran, sejarah Islam
Angkatan Balai Pustaka
Karya terkenal Tafsir Al-Azhar
Tenggelamnya Kapal Van der Wijck
Di Bawah Lindungan Ka'bah
Pasangan Sitti Raham
Sitti Khadijah
Orangtua Abdul Karim Amrullah (ayah)
Kerabat Ahmad Rasyid Sutan Mansur (kakak ipar)


Prof. DR. H. Abdul Malik Karim Amrullah, pemilik nama pena Hamka (lahir di Nagari Sungai Batang, Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, 17 Februari 1908 – meninggal di Jakarta, 24 Juli 1981 pada umur 73 tahun) adalah seorang ulama dan sastrawan Indonesia. Ia melewatkan waktunya sebagai wartawan, penulis, dan pengajar. Ia terjun dalam politik melalui Masyumi sampai partai tersebut dibubarkan, menjabat Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) pertama, dan aktif dalam Muhammadiyah sampai akhir hayatnya. Universitas al-Azhar dan Universitas Nasional Malaysia menganugerahkannya gelar doktor kehormatan, sementara Universitas Moestopo, Jakarta mengukuhkan Hamka sebagai guru besar. Namanya disematkan untuk Universitas Hamka milik Muhammadiyah dan masuk dalam daftar Pahlawan Nasional Indonesia.

Dibayangi nama besar ayahnya Abdul Karim Amrullah, Hamka sering melakukan perjalanan sendirian. Ia meninggalkan pendidikannya di Thawalib, menempuh perjalanan ke Jawa dalam usia 16 tahun. Setelah setahun melewatkan perantauannya, Hamka kembali ke Padangpanjang membesarkan Muhammadiyah. Pengalamannya ditolak sebagai guru di sekolah milik Muhammadiyah karena tak memiliki diploma dan kritik atas kemampuannya berbahasa Arab melecut keinginan Hamka pergi ke Mekkah. Dengan bahasa Arab yang dipelajarinya, Hamka mendalami sejarah Islam dan sastra secara otodidak. Kembali ke Tanah Air, Hamka merintis karier sebagai wartawan sambil bekerja sebagai guru agama sementara waktu di Medan. Dalam pertemuan memenuhi kerinduan ayahnya, Hamka mengukuhkan tekadnya untuk meneruskan cita-cita ayahnya dan dirinya sebagai ulama dan sastrawan. Kembali ke Medan pada 1936 setelah pernikahannya, ia menerbitkan majalah Pedoman Masyarakat. Lewat karyanya Di Bawah Lindungan Ka'bah dan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, nama Hamka melambung sebagai sastrawan.

Selama revolusi fisik, Hamka bergerilya dalam Barisan Pengawal Nagari dan Kota (BPNK) menyusuri hutan pengunungan di Sumatera Barat untuk menggalang persatuan menentang kembalinya Belanda. Sejak 1950, Hamka membawa keluarga kecilnya ke Jakarta. Meski mendapat pekerjaan di Departemen Agama, Hamka mengundurkan diri karena terjun di jalur politik. Dalam pemilihan umum 1955, Hamka dicalonkan Masyumi sebagai wakil Muhammadiyah dan terpilih duduk di Konstituante. Ia terlibat dalam perumusan kembali dasar negara. Sikap politik Maysumi menentang komunisme dan gagasan Demokrasi Terpimpin memengaruhi hubungannya dengan Sukarno. Usai Masyumi dibubarkan sesuai Dekret Presiden 5 Juli 1959, Hamka menerbitkan malalah Panji Masyarakat tetapi berumur pendek, dibredel oleh Sukarno setelah menurunkan tulisan Hatta—yang telah mengundurkan diri sebagai wakil presiden—berjudul "Demokrasi Kita". Seiring meluasnya pengaruh komunis, Hamka dan karya-karyanya diserang oleh organisasi kebudayaan Lekra. Tuduhan melakukan gerakan subversif membuat Hamka diciduk dari rumahnya ke tahanan Sukabumi. Dalam keadaan sakit sebagai tahanan, ia merampungkan Tafsir Al-Azhar.

Seiring peralihan kekuasaan ke Suharto, Hamka dibebaskan pada Januari 1966. Ia mendapat ruang pemerintah, mengisi jadwal tetap ceramah di RRI dan TVRI. Ia mencurahkan waktunya membangun kegiatan dakwah di Masjid Al-Azhar. Ketika pemerintah menjajaki pembentukan MUI pada 1975, peserta musyawarah memilih dirinya sebagai ketua. Namun, Hamka memilih meletakkan jabatannya pada 19 Mei 1981, menanggapi tekanan Menteri Agama untuk menarik fatwa haram MUI atas perayaan Natal bersama bagi umat Muslim. Ia meninggal pada 24 Juli 1981 dan jenazahnya dimakamkan di TPU Tanah Kusir, Jakarta.

Kehidupan awal[sunting | sunting sumber]

Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka yang dijadikan museum sejak 2001, tempat Hamka lahir, diasuh dan tinggal bersama anduangnya selama di Maninjau

Abdul Malik, nama kecil Hamka lahir pada 17 Februari 1908 [Kalender Hijriyah: 13 Muharram 1362] di sebuah dusun Nagari Sungai Batang yang berada di tepian Danau Maninjau, Sumatera Barat. Hamka adalah anak sulung dari empat bersaudara dalam keluarga ulama Abdul Karim Amrullah dari istri keduanya Siti Shafiah. Keluarga ayahnya adalah penganut agama yang taat dan terus mewarisi figur ulama sejak Perang Padri. Abdul Karim Amrullah yang berjulukan Haji Rasul dikenang sebagai ulama pembaru Islam di Minangkabau, putra dari Muhammad Amrullah. Adapun keluarga ibunya mewariskan darah seni dan praktik-praktik adat. Ayah Hamka terlibat dalam gerakan pemurnian Islam dari bidah, taklid, dan khurafat di Minangkabau pada awal abad ke-20.[a] Pandangan ayah Hamka yang berbenturan dengan tradisi adat dan amalan tarekat mendapat penolakan masyarakat—tetapi tidak melakukan pertentangan terbuka karena menaruh hormat kepada Muhammad Amrullah yang disegani sebagai pemimpin Tarekat Naqsyabandiyah. Setelah Muhammad Amrullah meninggal, ayah Hamka pindah bersama istrinya Siti Shafiah ke Padang.

Malik masih berusia empat tahun ketika orangtuanya pindah ke Padang. Ia melewati masa kecil di rumah anduangnya, neneknya dari ibu. Bersama teman-teman sebaya, Hamka kecil menghabiskan waktu bermain di danau, bermain layang-layang, dan menabuh beduk di masjid. Mengikuti tradisi anak-anak laki-laki di Minangkabau, Malik belajar mengaji di surau yang berada di sekitar tempat ia tinggal.[1] Pada usia enam tahun, Malik diajak pindah ayahnya ke Padang Panjang, belajar mengaji pada ayahnya sendiri. Malik sempat mendapatkan pengetahuan umum seperti berhitung dan membaca saat masuk ke Sekolah Desa pada tahun 1915, tetapi berhenti setelah tamat kelas dua.[2][3][4] Sambil tetap belajar setiap pagi di Sekolah Desa, ia belajar setiap sore di Diniyah School sejak sekolah itu dibuka pertama kali pada 1916 oleh Zainuddin Labay El Yunusy di Pasar Usang.[5] Namun sejak dimasukkan ke Thawalib oleh ayahnya pada tahun 1918, ia tidak dapat lagi mengikuti pelajaran di Sekolah Desa.[6][7] Setelah itu, ia belajar di Diniyah School setiap pagi, sementara sorenya belajar di Thawalib dan malamnya kembali ke surau.[8] Kegiatan Hamka kecil setiap hari yang demikian diakuinya membosankan dan mengekang kebebasan masa kanak-kanaknya.[9]

Saat berusia 12 tahun, Malik menyaksikan perceraian orangtuanya. Ayahnya segera menikah lagi sesuai ketentuan adat dan membawa Malik tinggal di Padangpanjang. Hari-hari pertama tinggal bersama ibu tiri, ia berjalan kaki mengelilingi kampung-kampung sementara teman-temannya pergi ke sekolah. Ketika menemukan seorang buta yang sedang meminta sedekah di tengah pasar, Malik yang iba menuntun dan membimbingnya berjalan ke tempat keramaian untuk mendapatkan sedekah. Namun, ibu tirinya memarahinya saat mendapati Malik di pasar hari berikutnya, "Apa yang awak lakukan itu memalukan ayahmu." Setelah itu, Malik memberanikan diri memenuhi kerinduannya terhadap ibunya, berjalan kaki menuju Maninjau yang jauhnya 40 km dari Padangpanjang. Namun, setelah lima belas hari Malik meninggalkan sekolah, seorang gurunya dari Thawalib yang menyangka Malik sakit datang ke rumah. Mengetahui anaknya membolos, Abdul Karim Amrullah marah dan menampar anaknya; tetapi segera memeluk Malik dan meminta maaf.

Keseharian Malik berlangsung seperti semula sejak kedatangan gurunya. Pagi belajar di Sekolah Diniyah, pulang sebentar, berangkat ke Thawalib dan kembali ke rumah menjelang Magrib untuk bersiap pergi mengaji. Pada satu hari, ia menemukan bahwa gurunya Zainuddin Labay El Yunusy membuka bibilotek, tempat penyewaan buku. Malik menyewa buku setiap hari. Karena kehabisan uang, Malik menawarkan diri kepada percetakan tempat koleksi buku diberi lapisan karton sebagai pelindung untuk mempekerjakannya. Ia membantu memotong karton, membuat adonan lem sebagai perakat buku, sampai membuatkan kopi, tetapi sebagai upahnya, ia meminta agar diperbolehkan membaca koleksi buku yang akan disewakan tersebut. Dalam waktu tiga jam sepulang dari Diniyah sebelum berangkat ke Thawalib, Malik mengatur waktunya agar punya waktu membaca. Karena hasil kerjanya yang rapi, ia diperbolehkan membawa buku baru yang belum diberi karton untuk dikerjakan di rumah. Saat mendapati Malik membaca buku cerita, ayahnya mempertanyakan, "Apakah engkau akan menjadi orang alim nanti atau menjadi orang tukang cerita?"[10][11]

Permasalahan keluarga membuat Malik sering berkelana seorang diri. Ia meninggalkan kelasnya di Diniyah dan Thawalib, menempuh perjalanan ke Maninjau mengunjungi ibunya. Namun, ia merasa tidak mendapat perhatian sejak ibunya telah menikah lagi dengan seorang saudagar Aceh. Mengobati hatinya, Malik bergaul dengan anak-anak muda di Maninjau. Ia turut berlajar silat dan randai, tetapi yang disenanginya adalah mendengar kaba, kisah-kisah yang dinyanyikan bersama alat-alat musik tradisional Minangkabau. Ia berjalan lebih jauh sampai ke Bukittinggi dan Payakumbuh, bergaul dengan penyabung ayam dan joki pacuan kuda. Seorang pamannya, Engku Muaro yang risau melihat sang kemenakan mengantar Malik mengaji dengan seorang ulama Syekh Ibrahim Musa di Parabek, sekitar 5 km dari Bukittinggi saat Hamka berusia 14 tahun; tetapi tidak berlangsung lama.[5] Ia memberanikan diri melakukan perjalanan ke pulau Jawa.

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

keterangan
  1. ^ Kesetiaan Kaum Tua mengikuti paham keagamaan yang dikemukakan oleh ulama mazhab yang mereka anut menuai kecaman dari Kaum Muda. Kaum Muda berpandangan tidak ada ulama termasuk ulama mazhab sekalipun yang dapat diikuti secara mutlak karena tidak luput dari kekeliruan, mengatakan hanya Al-Qur'an dan hadist sahih saja yang dapat dijadikan sebagai pedoman. Meskipun ayah Hamka dan kakek Hamka ikut terlibat dalam perdebatan, hubungan antara mereka tetap berlangsung dengan baik; kelak pertentangan ini memengaruhi pandangan Hamka.
Rujukan
  1. ^ Tamara, dkk 1983, hlm. 78.
  2. ^ Kenang-kenangan 70 tahun... 1983, hlm. 260.
  3. ^ Rahzen 2007, hlm. 246.
  4. ^ Yusuf 2003, hlm. 40.
  5. ^ a b Safrudin 2008, hlm. 198.
  6. ^ Reid dan Marr 1983, hlm. 40.
  7. ^ Yusuf 2003, hlm. 41.
  8. ^ Kenang-kenangan 70 tahun... 1966, hlm. 26.
  9. ^ Yani 2010.
  10. ^ Tamara, dkk 1983, hlm. 368.
  11. ^ Roesmar 2002, hlm. 27.
Daftar pustaka
  • Dewan Redaksi Ensiklopedia Islam (2002). "Ensiklopedia Islam, Jilid 4". Departemen Agama (Jakarta: Ichtiar Baru van Hoeve). ISBN 979-8276-65-5. 
  • Shobahussurur (2008). Mengenang 100 tahun Haji Abdul Malik Karim Amrullah Hamka. Jakarta: Yayasan Pesantren Islam Al-Azhar. ISBN 979-177-850-7. 
  • Herry, Mohammad (2006). Tokoh-tokoh Islam yang Berpengaruh Abad 20. Gema Insani. ISBN 979-560-219-5. 
  • Hashim, Rosnani (2010). Reclaiming the Conversation: Islamic Intellectual Tradition in the Malay Archipelago. The Other Press. ISBN 983-954-174-9. 
  • "Cukup Allah sebagai Pelindung: Kisah Hamka di Penjara Sukabumi". Republika. 26 November 2011. Diakses 20 Desember 2011. 
  • Daneel, Inus; Charles Van Engen, Hendrik Vroom (2005). Fullness of Life for All—Challenges for Mission in Early 21st Century. Rodopi. ISBN 904-201-971-9. 
  • Rodgers, Susan (1995). Telling Lives, Telling History: Autobiography and Historical Imagination in Modern Indonesia. University of California Press. ISBN 052-008-547-7. 
  • Zakariya, H. (2006). Islamic Reform in Colonial Malaya: Shaykh Tahir Jalaluddin and Sayyid Shaykh Al-Hadi. ProQuest. ISBN 054-286-357-X. 
  • Abdurrahman, M. (2009). Bersujud di Baitullah. Penerbit Buku Kompas. ISBN 979-709-437-5. 
  • Riddell, P. G. Islam and the Malay-Indonesian World: Transmission and Responses. C. Hurst & Co. Publishers. ISBN 185-065-336-4. 
  • Hamka, Afif (2008). Buya Hamka. Uhamka Press. ISBN 602-804-007-X. 
  • Pandoe, M.D.; Pour, Julius (2010). Jernih Melihat Cermat Mencatat: Antologi Karya Jurnalistik Wartawan Senior Kompas. Penerbit Buku Kompas. ISBN 979-709-487-1. 
  • Panitia Peringatan Buku 70 Tahun Buya Prof. Dr. Hamka (1983). Kenang-kenangan 70 Tahun Buya Hamka. Pustaka Panjimas. 
  • Hamka (1966). Kenang-kenangan Hidup. Kuala Lumpur: Pustaka Antara. 
  • Hamka, Rusydi (1983). Pribadi dan Martabat Buya Prof. Hamka. Jakarta: Pustaka Panjimas. 
  • Tamara, Natsir (1996). Hamka di Mata Hati Umat. Jakarta: Sinar Harapan. 
  • Noer, Deliar (1996). Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942. Jakarta: LP3ES. 
  • Noer, Deliar (2001). Membincangkan Tokoh-tokoh Bangsa. Bandung: Mizan. 
  • Mahayana, Maman S; Oyon Sofyan dan Achmad Dian (1995). Ringkasan dan Ulasan Novel Indonesia Modern. Jakarta: Grasindo. ISBN 978-979-553-123-4. 
  • Siregar, Bakri (1964). Sedjarah Sastera Indonesia 1. Jakarta: Akademi Sastera dan Bahasa "Multatuli". OCLC 63841626. 
  • Teeuw, A (1980). Sastra Baru Indonesia 1. Ende: Nusa Indah. OCLC 222168801. 
  • Rahzen, Taufik (2007). Tanah Air Bahasa: Seratus Jejak Pers Indonesia. Blora Institute. ISBN 979-150-938-7. 
  • Safrudin, Irfan (2008). Ulama-ulama Perintis: Biografi Pemikiran dan Keteladanan. Bandung: Majelis Ulama Indonesia. 
  • Reid; Marr, David G. (1983). Dari Raja Ali Haji hingga Hamka. Grafiti Pres. 
  • Yusuf, M. Yunan (2003). Corak Pemikiran Kalam Tafsir al-Azhar. Penamadani. ISBN 979-976-700-8. 
  • Azra, Azyumardi (2002). Historiografi Islam Kontemporer. Gramedia Pustaka Utama. 
  • Abidin, Masoed. Ensiklopedi Minangkabau. Pusat Pengkajian Islam dan Minangkabau. ISBN 979-379-723-1. 
  • Hakim, Ahmad; Thalhah, M. (2005). Politik Bermoral Agama. UII Press. ISBN 979-333-306-5. 
  • Rosidi, Ajip (2008). Yang Datang Telanjang: Surat-surat Ajip Rosidi dari Jepang, 1980–2002. Kepustakaan Populer Gramedia. ISBN 979-910-095-X. 
  • Al-Kumayi, Sulaiman (2004). Kearifan Spiritual dari Hamka ke Aa Gym. Pustaka Nuun. ISBN 979-983-531-3. 
  • "Palagan Hamka dan Lentera "Pram"". Kompas. Jakarta. 2012-03-20. Diakses 12 Juni 2012. 
  • "Hamka Menggebrak Tradisi". Tempo. Jakarta. 2008-05-19. Diarsipkan dari aslinya tanggal 4 Juni 2012. Diakses 4 Juni 2012. 
  • Hamka, Irfan (2013). Ayah... Kisah Buya Hamka. Penerbit Republika. ISBN 978-602-8997-71-3. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Jabatan Organisasi Islam
Didahului oleh:
Tidak ada
Ketua MUI
27 Juli 1975—19 Mei 1981
Diteruskan oleh:
Syukri Ghozali