Kabupaten Bantul

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Bantul)
Langsung ke: navigasi, cari
Kabupaten Bantul
ꦑꦧꦸꦥꦠꦺꦤ꧀ꦨꦤ꧀ꦠꦸꦭ꧀
Bantul.png
Lambang Kabupaten Bantul
ꦑꦧꦸꦥꦠꦺꦤ꧀ꦨꦤ꧀ꦠꦸꦭ꧀
Moto: Bantul Projotamansari (Produktif-Professional, Ijo Royo-royo, Tertib, Aman, Sehat, Asri)
Gapura Kasongan Bantul
Gapura Kasongan Bantul
Lokasi DIY Kabupaten Bantul.svg
Peta lokasi Kabupaten Bantul
ꦑꦧꦸꦥꦠꦺꦤ꧀ꦨꦤ꧀ꦠꦸꦭ꧀
Koordinat: 07° 44' 04" - 08° 00' 27" LS dan 110° 12' 34" - 110° 31' 08" BT
Provinsi D.I. Yogyakarta
Dasar hukum UU No.15 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah Kabupaten dalam Lingkungan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Tanggal 8 Agustus 1950
Ibu kota Bantul
Pemerintahan
 - Bupati Hj. Sri Suryawidati (Periode 2010-2015)
 - Wakil bupati Drs. Sumarno. Prs
 - DAU Rp. 854.810.634.000.-(2013)[1]
Luas 506,86 km2
Populasi
 - Total 911.503 (2011)
 - Kepadatan 1.798
Demografi
 - Kode area telepon 0274
Pembagian administratif
 - Kecamatan 17
 - Kelurahan 75
 - Situs web http://www.bantulkab.go.id

Kabupaten Bantul (Hanacaraka: ꦨꦤ꧀ꦠꦸꦭ꧀) adalah kabupaten di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia. Ibukotanya adalah Bantul. Moto kabupaten ini adalah Projotamansari singkatan dari Produktif-Profesional, Ijo royo royo, Tertib, Aman, Sehat, dan Asri. Kabupaten ini berbatasan dengan Kota Yogyakarta dan Kabupaten Sleman di utara, Kabupaten Gunung Kidul di timur, Samudra Hindia di selatan, serta Kabupaten Kulon Progo di barat. Obyek wisata Pantai Parangtritis terdapat di wilayah kabupaten ini.

Bagian selatan kabupaten ini berupa pegunungan kapur, yakni ujung barat dari Pegunungan Sewu. Sungai besar yang mengalir di antaranya Kali Progo (membatasi kabupaten ini dengan Kabupaten Kulon Progo, Kali Opak, Kali Tapus, beserta anak-anak sungainya.

Pada 27 Mei 2006, gempa bumi besar berkekuatan 5,9 skala Richter mengakibatkan kerusakan yang besar terhadap daerah ini dan kematian sedikitnya 3.000 penduduk Bantul. Daerah terparah akibat gempa adalah Pundong dan Imogiri

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Bantul memang tak bisa dilepaskan dari sejarah Yogyakarta sebagai kota perjuangan dan sejarah perjuangan Indonesia pada umumnya. Bantul menyimpan banyak kisah kepahlawanan. Antara lain, perlawanan Pangeran Mangkubumi di Ambar Ketawang dan upaya pertahanan Sultan Agung di Pleret. Perjuangan Pangeran Diponegoro di Selarong. Kisah perjuangan pioner penerbangan Indonesia yaitu Adisucipto, pesawat yang ditumpanginya jatuh ditembak Belanda di Desa Ngoto. Sebuah peristiwa yang penting dicatat adalah Perang Gerilya melawan pasukan Belanda yang dipimpin oleh Jenderal Sudirman (1948) yang banyak bergerak di sekitar wilayah Bantul. Wilayah ini pula yang menjadi basis, "Serangan Oemoem 1 Maret" (1949) yang dicetuskan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Tolok awal pembentukan wilayah Kabupaten Bantul adalah perjuangan gigih Pangeran Diponegoro melawan penjajah bermarkas di Selarong sejak tahun 1825 hingga 1830. Seusai meredam perjuangan Diponegoro, Pemeritah Hindia Belanda kemudian membentuk komisi khusus untuk menangani daerah Vortenlanden yang antara lain bertugas menangani pemerintahan daerah Mataram, Pajang, Sokawati, dan Gunung Kidul. Kontrak kasunanan Surakarta dengan Yogyakarta dilakukan baik hal pembagian wilayah maupun pembayaran ongkos perang, penyerahan pemimpin pemberontak, dan pembentukan wilayah administratif. Pemerintah Hindia Belanda dan sultan Yogyakarta pada tanggal 26 dan 31 Maret 1831 mengadakan kontrak kerja sama tentang pembagian wilayah administratif baru dalam kasultanan disertai penetapan jabatan kepala wilayahnya. Saat itu Kasultanan Yogyakarta dibagi menjadi tiga kabupaten yaitu Bantulkarang untuk kawasan selatan, Denggung untuk kawasan utara, dan Kalasan untuk kawasan timur. Menindaklanjuti pembagian wilayah baru Kasultanan Yogyakarta, tanggal 20 Juli 1831 atau Rabu Kliwon 10 Sapar tahun Dal 1759 (Jawa) secara resmi ditetapkan pembentukan Kabupaten Bantul yang sebelumnya dikenal bernama Bantulkarang tersebut di atas. Seorang nayaka Kasultanan Yogyakarta bernama Raden Tumenggung Mangun Negoro kemudian dipercaya Sri Sultan Hamengkubuwono V untuk memangku jabatan sebagai bupati Bantul.

Pada masa pendudukan Jepang, pemerintahan berdasar pada Usamu Seirei nomor 13 sedangkan 'stadsgemente ordonantie' dihapus. Kabupaten memiliki hak mengelola rumah tangga sendiri (otonom). Kemudian setelah kemerdekaan, pemerintahan ditangani oleh Komite Nasional Daerah untuk melaksanakan UU No 1 tahun 1945. Akan tetapi di Yogyakarta dan Surakarta undang-undang tersebut tidak diberlakukan hingga dikeluarkannya UU Pokok Pemerintah Daerah No 22 tahun 1948 dan selanjutnya mengacu UU Nomor 15 tahun 1950 yang berisi tentang pembentukan Pemerintahan Daerah Otonom di seluruh Indonesia.

Tanggal 20 Juli ini lah yang setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Jadi Kabupaten Bantul. Selain itu tanggal 20 Juli tersebut juga memiliki nilai simbol kepahlawanan dan kekeramatan bagi masyarakat Bantul mengingat Perang Diponegoro dikobarkan tanggal 20 Juli 1825.Pada masa pendudukan Jepang, pemerintahan berdasarkan pada Usamu Seirei nomor 13 sedangakan stadsgemente ordonantie dihapus. Kabupaten Memiliki hak mengelola rumah tangga sendiri (otonom). Kemudian setelah kemerdekaan, pemerintahan ditangani oleh Komite Nasional Daerah untuk melaksanakan UU No 1 tahun 1945. Tetapi di Yogyakarta dan Surakarta undang-undang tersebut tidak diberlakukan hingga dikeluarkannya UU Pokok Pemerintah Daerah No 22 tahun 1948. dan selanjutnya mengacu UU Nomor 15 tahun 1950 yang isinya pembentukan Pemerintahan Daerah Otonom di seluruh Indonesia.

Pusaka dan Identitas Daerah[sunting | sunting sumber]

Tombak Kyai Agnya Murni

Tombak Kyai Agnya Murni berasal dari kata agnya berarti perintah atau pemerintahan dan murni adalah suci/bersih. Sehingga dengan tegaknya pusaka itu membawa pesan ditegakkannya nilai kehidupan berperadaban sebagai pilar utama membangun pemerintahan yang bersih. Tombak pusaka Kyai Agnya-murni mengisyaratkan pamoring kawula Gusti. Dalam khasanah Jawa, dikenal istilah budaya berpamor agama. Sehingga dalam dimensi vertikal memiliki makna pasrah diri dan tunduk patuh insan ke haribaan Sang Khalik. Dalam dimensi horizontal mengisyaratkan luluhnya pemimpin dengan rakyat.

Tombak pusaka ini diberikan oleh Raja Kraton Yogyakarta Sri Sultan Hamengkubuwono X pada Peringatan Hari Jadi ke-169 Kabupaten Bantul, Kamis 20 Juli 2007. Tombak ini memiliki dapur Pleret, yang mengisyaratkan Kabupaten Bantul agar mengingat keberadaan Pleret sebagai historic landmark yang menandai titik awal pembaharuan pemerintahan Mataram Sultan Agungan yang cikal bakalnya berada di Kerta Wonokromo. Tombak yang memiliki pamor wos wutah wengkon (melimpahnya kemakmuran bagi seluruh rakyat), dapat eksis bila ditegakkan pada landeyan (dasar) kayu walikukun. Landeyan itu simbul keluhuran budaya berbasis ilmu berintikan keteguhan iman.

Geografi[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Bantul terletak antara 07° 44′ 04″ – 08° 00′ 27″ Lintang Selatan dan 110° 12′ 34″ – 110° 31′ 08″ Bujur Timur. Luas wilayah Kabupaten Bantul 508,85 Km2 (15,90 5 dari Luas wilayah Provinsi DIY) dengan topografi sebagai dataran rendah 140% dan lebih dari separonya (60%) daerah perbukitan yang kurang subur, secara garis besar terdiri dari : Bagian Barat, adalah daerah landai yang kurang serta perbukitan yang membujur dari Utara ke Selatan seluas 89,86 km2 (17,73 % dari seluruh wilayah). Bagian Tengah, adalah daerah datar dan landai merupakan daerah pertanian yang subur seluas 210.94 km2 (41,62 %). Bagian Timur, adalah daerah yang landai, miring dan terjal yang keadaannya masih lebih baik dari daerah bagian Barat, seluas 206,05 km2 (40,65%). Bagian Selatan, adalah sebenarnya merupakan bagian dari daerah bagian Tengah dengan keadaan alamnya yang berpasir dan sedikit berlaguna, terbentang di Pantai Selatan dari Kecamatan Srandakan, Sanden dan Kretek.

Sungai Oyo Dilihat dari Kebun Buah Mangunan

Kabupaten Bantul dialiri 6 Sungai yang mengalir sepanjang tahun dengan panjang 114 km2. Yaitu :

1. Sungai Oyo : 35,75 km

2. Sungai Opak : 19,00 km

3. Sungai Code : 7,00 km

4. Sungai Winongo : 18,75 km

5. Sungai Bedog : 9,50 km

6. Sungai Progo : 24,00 km

Iklim dan topografi[sunting | sunting sumber]

Menurut klasifikasi iklim Koppen, Bantul memiliki iklim muson tropis. Sama seperti kabupaten lain di Indonesia, musim hujan di Bantul dimulai bulan Oktober hingga Maret, dan musim kemarau bulan April hingga September. Rata-rata curah hujan di Bantul adalah 90,76 mm, dan bulan paling tinggi curah hujannya adalah Desember, Januari, dan Februari. Suhu udara relatif konsisten sepanjang tahun, dengan suhu rata-rata 30 derajat Celsius. .

Data iklim Bantul
Bulan Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt Nov Des Tahun
Presipitasi mm (inci) 350 330 210 210 120 80 40 20 30 90 220 340 2180
[butuh rujukan]

Batas wilayah[sunting | sunting sumber]

Kecamatan[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Bantul terdiri atas 17 kecamatan, yang dibagi lagi atas sejumlah desa dan kelurahan. Pusat pemerintahan di Kecamatan Bantul, sekitar 11 km sebelah selatan Kota Yogyakarta.

Penduduk[sunting | sunting sumber]

Jumlah penduduk Bantul pada tahun 2009 adalah 1.015.465 jiwa, dengan kepadatan 2.012,93 jiwa/km2 Kecamatan dengan jumlah penduduk terbanyak dan terpadat di Kabupaten Bantul adalah Kecamatan Banguntapan dengan jumlah penduduk 120.123 jiwa dengan kepadatan 4.218 jiwa/km2. Mayoritas mata pencaharian penduduk di bidang pertanian (25 %) , perdagangan (21 %), Industri (19 %) dan jasa (17 %) .

DPRD Bantul
2009-2014
Partai Kursi
Lambang PDI-P PDI-P 14
Lambang PAN PAN 6
Lambang Partai Demokrat Partai Demokrat 5
Lambang PKS PKS 5
Lambang Partai Golkar Partai Golkar 5
Lambang PPP PPP 4
Lambang PKB PKB 3
Lambang PKPB PKPB 2
Total 45

Bupati[sunting | sunting sumber]

  1. Raden Tumenggung Mangun Negoro 20 Juli 1831
  2. Raden Tumenggung Jayadiningrat -
  3. Raden Tumenggung Nitinegoro -
  4. Raden Tumenggung Danukusumo -
  5. Raden Tumenggung Djojowinoto -
  6. Raden Tumenggung Djojodipuro -
  7. Raden Tumenggung Surjokusumo -
  8. Raden Tumenggung Mangunyuda 1899 - 1913
  9. K.R.T. Purbo Dininggrat 1913 - 1918
  10. K.R.T. Dirdjokusumo 1918 – 1943
  11. K.R.T. Djojodiningrat 1943 – 1947
  12. K.R.T. Tirtodiningrat 1947 - 1951
  13. K.R.T. Purwaningrat 1951 – 1955
  14. K.R.T. Brataningrat 1955 - 1958
  15. K.R.T. Wiraningrat 1958
  16. K.R.T. Setyosudarmo 1958 – 1960
  17. K.R.T. Sosrodiningrat 1960 – 1969
  18. K.R.T. Projo Harjono (Pejabat) 1969 – 1970
  19. R. Sutomo Mangkusasmito, SH. 1970 – 1980
  20. Suherman Partosaputro 1980 – 1985
  21. K.R.T. Suryo Padmo Hadiningrat (Moerwanto Suprapto) 1986 – 1991
  22. K.R.T. Yudadiningrat (Sri Roso Sudarmo) 1991 – 1998
  23. Drs. H. Kismosukirdo (PJ) 1998 – 1999
  24. Drs. HM. Idham Samawi 1999 – 2004
  25. Drs. Mujono NA Desember 2004 - Januari 2005 (Pelaksana Tugas Harian)
  26. Drs. HM. Idham Samawi 2005 - 2010 (Terpilih kembali melalui Pilkada Bantul 2005)
  27. Hj. Sri Suryawidati 27 Juli 2010 - sekarang
No. Foto Nama Dari Sampai Keterangan
1. Idam.jpg Drs HM Idham Samawi 1999 2004 Masa Jabatan ke 1
2. Muj.jpg Drs. Mujono NA 2004 2005 Pejabat Sementara
3. Idam.jpg Drs HM Idham Samawi 2005 2015 Masa Jabatan ke 2
4. Bupati bantul.jpg Hj Sri Suryawidati 27 Juli 2010 Juli 2015 Sekarang

Transportasi[sunting | sunting sumber]

Kabupaten dilintasi oleh jalan nasional sebagai jalan arteri primer, di antaranya Jalan Pansela (Dalam Pembangunan) melewati kecamatan Srandakan, Sanden, dan Kretek. Jalan nasional penghubung dengan Kota Yogyakarta melewati jalan Bantul segmen utara, Jalan Lingkar timur Kota Bantul, Jalan Bakulan, dan Jalan Parangtritis segmen selatan. Dan juga Jalan Nasional penghubung Kota Yogyakarta dan Jakarta di kawasan jalan wates segmen Sedayu serta sebagian segmen jalan nasional ring road yogyakarta. Untuk jalan provinsi diantaranya jalan srandakan, jalan bantul segmen selatan, jalan parangtritis segmen utara, jalan wonosari segmen banguntapan dan piyungan, jalan imogiri timur, jalan imogiri barat, dan jalan jogja outering road sedayu-pandak-bantul-imogiri-jetis-pleret-banguntapan. Sistem perkeretaapian di Bantul sudah dibangun sejak zaman kolonial belanda. Jalur kereta api di Bantul terdiri atas jalur yogyakarta - bandung di kecamatan sedayu dengan Stasiun Rewelu (hanya digunakan untuk depo BBM) serta jalur rel kereta mati yang direncanakan akan dihidupkan kembali antara yogyakarta - bantul - brosot dengan stasiun di madukismo, cepit, bantul kota, palbapang, dan srandakan dan juga jalur mati yogyakarta - kota gede - pleret - pundong.

Kuliner Khas Bantul[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Bantul memiliki makanan khas, yaitu:

Perayaan (Event)[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Bantul memiliki beberapa event, yaitu:

Rekreasi[sunting | sunting sumber]

Objek Wisata[sunting | sunting sumber]

Pantai Parangtritis merupakan obyek wisata yang paling terkenal di kabupaten ini. Selain itu terdapat beberapa obyek wisata pantai seperti: Pantai Parangkusumo, Pantai Depok, Pantai Samas, Pantai Pandansimo, Pantai Goa Cemara, dan Pantai Kuwaru. Objek wisata alam lain antara lain adalah Gua Selarong dan Gua Cerme. Wisatawan juga dapat mengunjungi objek wisata budaya/religi seperti Pemakaman Imogiri.

Sementara itu, terdapat berbagai desa wisata di Kabupaten Bantul yang umumnya merupakan desa penghasil kerajinan. Desa-desa tersebut antara lain adalah Kasongan (penghasil gerabah), Pundong (penghasil gerabah), Pucung (penghasil kerajinan kulit), Gendeng (penghasil kerajinan kulit terutama wayang), dan Krebet (penghasil kerajinan kayu termasuk topeng batik). Batik Bantul sangat terkenal, dan dapat diperoleh baik di sekitar makam Imogiri, Giriloyo (utara Imogiri), dan di Wijirejo. Kerajinan kulit untuk barang sehari-hari (tas, jaket, sandal dan sebagainya) juga dapat diperoleh di desa Manding.

Selain di desa-desa wisata tersebut, kerajinan juga dapat diperoleh di Pasar Seni Gabusan yang terletak di Jalan Parangtritis.

Media[sunting | sunting sumber]

Terdapat beberapa stasiun radio di Bantul seperti Radio Persatuan 93.9 dan lain-lain

Olahraga[sunting | sunting sumber]

Kabupaten ini merupakan markas dari klub sepakbola Persiba Bantul (berdiri tahun 1967) dan klub amatir Protaba Bantul.

Pendidikan[sunting | sunting sumber]

Kampus Institut Seni Indonesia, dan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta terletak di kabupaten ini. Beberapa perguruan tinggi lain juga melakukan pembangunan kampusnya di wilayah Kabupaten Bantul, antara lain Institut Sains & Teknologi Akprind Yogyakarta.

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Perpres No. 10 Tahun 2013". 2013-02-04. Diakses 2013-02-15. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]