Tionghoa Bangka-Belitung

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search
Tionghoa Bangka-Belitung
Chinese temple in AirDuren.jpg
Sebuah kelenteng di Pulau Bangka.
Jumlah populasi

99.624 (sensus 2010[1])

Kawasan dengan konsentrasi signifikan
Pulau Bangka, Pulau Belitung, Jakarta
Bahasa
Hakka, Melayu Bangka, Melayu Belitung, Hokkian
Agama
Agama tradisional Tionghoa, Buddhisme, Kristen, Islam

Tionghoa Bangka-Belitung adalah etnis Tionghoa yang tinggal di wilayah Babel (Bangka Belitung), Indonesia.[2][3] Bangka Belitung merupakan salah satu daerah dengan konsentrasi etnis Tionghoa yang besar di Indonesia selain di Jawa, Riau, Sumatera Timur dan Kalimantan Barat.[4]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Awal kedatangan dengan skala besar orang Tionghoa di Bangka Belitung terjadi antara tahun 1700-1800-an. Orang Hakka (客家) awalnya didatangkan dari berbagai wilayah di Provinsi Guangdong seperti Meixian, Prefektur Huizhou, Prefektur Chaozhou menjadi tenaga penambang timah.[5]

Sebagian besar etnis Tionghoa di Bangka Belitung didominasi Orang Hakka dengan minoritas Orang Minnan (Hokkian). Berdasarkan sensus pada tahun 1920, Total populasi orang Tionghoa Bangka mencapai 44% dari keseluruhan 154.141 jiwa.

Demografi[sunting | sunting sumber]

Tionghoa di Bangka dan Belitung merupakan yang terbesar kedua setelah Suku Melayu.

Budaya[sunting | sunting sumber]

Budaya Tionghoa di Bangka agak sedikit berbeda dengan Tionghoa di Belitung.[2] Orang Tionghoa di Bangka didatangkan pada awal abad ke-18 ketika pertambangan resmi dibuka. Mereka umumnya tidak membawa istri sehingga menikahi penduduk bumiputera, sehingga Tionghoa di Bangka sebagian besar merupakan peranakan yang berbicara Bahasa Hakka yang bercampur Bahasa Melayu.[2]

Tionghoa Belitung dianggap "totok" karena datang pada abad ke-19 membawa istri.[2] Mereka beradaptasi dengan kebudayaan Nusantara antara lain dengan mengganti pakaian mereka dengan pakaian suku Nusantara seperti baju kurung dengan kebaya, celana dengan sarung.[2] Mereka masih berbicara dengan Bahasa Hakka yang asli.[2]

Stereotipe[sunting | sunting sumber]

Di masyarakat, warga Tionghoa Bangka dikenal memiliki etika kesopanan yang rendah (kasar). Bagi yang masih tinggal di kampung pedalaman, etika dalam makan kurang diperhatikan, seperti makan dengan menggunakan piring dan sendok secara beramai-ramai. Namun mereka memiliki rasa kekeluargaan dan persaudaraan (solidaritas) yang sangat tinggi apabila jika dibanding dengan suku etnis Tionghoa lainnya.[5]

Tokoh-tokoh Tionghoa Bangka-belitung[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ (Indonesia)Jumlah Penduduk Menurut Provinsi dan Suku Bangsa. Tabel L26 Hal 50, sp2010.bps.go.id 18-10-2016.
  2. ^ a b c d e f (Indonesia)Peranakan Tionghoa di Bangka-Belitung, historia.id. 18-10-2016
  3. ^ (Indonesia)Melayu-Tionghoa Bersaudara Tanpa Sekat, edukasi.kompas.com. 18-10-2016
  4. ^ (Inggris)Reid, Anthony (1996). Sojourners and Settlers: Histories of Southeast China and the Chinese. University of Hawaii Press. 
  5. ^ a b (Indonesia)9 Sebutan dan Tipe Keturunan Tionghoa di Indonesia, tionghoa.info. 18-10-2016