Leo Suryadinata

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Leo Suryadinata
LahirJakarta, Indonesia
Tempat tinggalSingapore
AlmamaterNanyang University
Universitas Indonesia
Monash University
University of Ohio
American University
Dikenal atasStudi tentang kaum Tionghoa Indonesia
Karier ilmiah
BidangSosiologi; Sinologi

Leo Suryadinata (lahir Liauw Kian-Djoe [atau Liao Jianyu; 廖建裕] di Jakarta, 1940 atau 1941[1]) adalah sinolog Tionghoa Indonesia.

Kehidupan Awal[sunting | sunting sumber]

Suryadinata terlahir dengan nama Liauw Kian-Djoe (juga ditulis Liao Jianyu) di Jakarta. Ayahnya adalah pemilik pabrik bahan bangunan. Ia memiliki tujuh saudara.[2]

Pendidikan[sunting | sunting sumber]

Ketika SMA, Suryadinata membaca dan menulis beberapa makalah tentang sejarah Indonesia dan Tiongkok dalam sastranya. Ia kemudian berkuliah di Universitas Teknologi Nanyang di Singapura di jurusan sastra Tiongkok dan sastra Asia Tenggara. Ia lulus tahun 1962 dengan gelar Bachelor of Arts.[2]

Pada tahun 1962 sampai tahun 1965, Suryadinata belajar sastra di Universitas Indonesia dan mendapatkan gelar sarjana. Ia berfokus pada sastra Tiongkok, lalu tertarik dengan etnis Tionghoa di Indonesia. Tesisnya membahas pers Peranakan Tionghoa akhir abad ke-19 dan gerakan pemberontakan awal abad ke-20 terhadap pemerintah kolonial Belanda.[2]

Tahun 1970, Suryadinata mendapatkan gelar master sejarah dari Universitas Monash di Australia. Dua tahun kemudian, ia lulus dari Universitas Negeri Ohio, Amerika Serikat, dengan gelar master politik. Ia kemudian mendapatkan gelar S3-nya dari American University di Washington, D.C.[2]

Karir[sunting | sunting sumber]

Setelah menamatkan pendidikan, Suryadinata menjabat sebagai peneliti di Institute of South East Asian Studies (ISEAS) di Singapura sejak 1976 sampai 1982. Pada tahun 1982, ia menjabat sebagai dosen senior Departemen Ilmu Politik National University of Singapore, asisten profesor tahun 1994, dan profesor penuh tahun 2000.[2]

Sejak 1990, Suryadinata menjabat sebagai editor jurnal akademik Asian Culture. Ia juga menjadi editor (kemudian ko-editor) Asian Journal of Political Science pada tahun 1993 sampai tahun 2002.[3]

Pada tahun 2002, Suryadinata menjadi peneliti sejawat senior ISEAS. Tahun 2005, ia meninggalkan ISEAS dan menjadi direktur Chinese Heritage Center di Nanyang Technological University.[2]

Publikasi[sunting | sunting sumber]

Hingga 2008, Suryadinata telah menerbitkan 50 buku dan monograf, 30 bab di buku tertinjau sejawat, 15 artikel di jurnal internasional, 11 artikel di jurnal Indonesia, enam makalah kerja, dan lebih dari 100 makalah konerensi. Semuanya diterbitkan dalam bahasa Inggris, Indonesia, dan Tionghoa. Aimee Dawis dari The Jakarta Post menulis bahwa "siapapun yang mempelajari etnis Tionghoa di Indonesia harus membaca karya-karya Leo Suryadinata."[2]

Penghargaan[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 2008, Suryadinata (bersama peneliti Jerman Mary F. Somers) memenangkan Nabil Award atas kontribusinya terhadap integrasi etnis di Indonesia.[1][2]

Kehidupan pribadi[sunting | sunting sumber]

Suryadinata memiliki seorang putri.[2]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b "Somers dan Leo Dapat Nabil Award". Kompas (dalam bahasa Indonesian). 16 November 2008. Diakses tanggal 15 August 2011. 
  2. ^ a b c d e f g h i Aimee Dawis (14 November 2008). "Leo Suryadinata: Pushing the boundaries". The Jakarta Post. Diakses tanggal 15 August 2011. 
  3. ^ "Adjunct Faculty". S. Rajaratnam School of International Studies. Diakses tanggal 14 August 2011.