Lompat ke isi

Tionghoa Madura

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Tionghoa Madura adalah orang-orang dengan etnis Tionghoa yang bertempat tinggal di Pulau Madura. Kedatangan Tionghoa ke pulau Madura dikaitkan dengan armada Tartar yang dikalahkan oleh Raden Wijaya dan juga pelarian dari Geger Pecinan tahun 1740. Terdapat kemungkinan bahwa mereka juga adalah pedagang perantara yang sudah bermukim sejak zaman sebelum dinasti Ming.[1]

Masjid Jami' Sumenep dipengaruhi oleh arsitektur Tionghoa (1890-1917)

Kebudayaan Madura banyak dipengaruhi oleh kebudayaan Tionghoa, mulai dari arsitektur bangunan hingga batik. Kawasan pecinan dan Kelenteng umumnya terdapat di ibukota kabupaten. Di Pasongsongan, Sumenep, terdapat sebuah perkampungan yang didiami orang-orang Tionghoa Muslim yang diklaim sebagai keturunan Tionghoa yang masih termasuk santri Sunan Ampel di Ampel Surabaya.[2]

Orang Madura terkenal toleran, sehingga orang Tionghoa mudah beradaptasi di lingkungan etnis Madura, kedua etnis ini hidup berdampingan tanpa konflik karena dilandasi oleh nilai-nilai agama. Terjalin interaksi sosial antara etnis Tionghoa dan Madura melalui pernikahan campur, simbol-simbol budaya sebagai hasil interaksi tersebut, contohnya seperti Roma Sekot Pacenan, Masjid Jami' Sumenep, Labeng Mesem, dan Keraton Sumenep. Orang Tionghoa di Madura biasanya menggunakan Bahasa Madura dalam berkomunikasi sehari-hari. Orang Tionghoa juga ikut melaksanakan budaya setempat seperti tradisi pelet kadung.

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. "Salinan arsip". Diarsipkan dari asli tanggal 2019-05-20. Diakses tanggal 2019-05-12.
  2. http://www.lontarmadura.com/jejak-jejak-cina-muslim-di-pasongsongan-sumenep/