Tiga Salam Maria

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search

Tiga Salam Maria adalah praktik devosional berdasarkan tradisi Katolik Roma yang berupa pendarasan tiga kali Salam Maria sebagai permohonan untuk memperoleh kemurnian dan keutamaan/kebajikan lainnya. Dianjurkan bahwa devosi ini didoakan setelah bangun tidur pada pagi hari, dan sebelum tidur setelah pemeriksaan batin pada malam hari. Devosi ini direkomendasikan oleh St. Antonius dari Padua, St. Alfonsus Liguori, St. Yohanes Don Bosco, dan St. Leonardus dari Porto Mauritio. Dikatakan bahwa dua orang santa, yaitu St. Mechtildis dan St. Gertrudis, menerima wahyu pribadi melalui Perawan Suci Maria sehubungan dengan praktik devosi ini.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

St. Antonius dari Padua (1195-1231), salah seorang pertama yang merekomendasikan praktik ini.

Praktik mendaraskan tiga kali Salam Maria dapat ditelusuri asal mulanya paling tidak sejak abad ke-12. Salah satu orang pertama yang mempraktikkan dan menganjurkannya adalah Santo Antonius dari Padua (1195–1231). Tujuannya menganjurkan praktik ini adalah "untuk menghormati Keperawanan Maria yang tanpa noda dan untuk menjaga kemurnian sempurna pikiran (budi), hati, dan tubuh di tengah-tengah bahaya dunia ini". Praktik mendaraskan tiga kali Salam Maria pada sore hari, kira-kira saat matahari terbenam, merupakan hal yang umum dilakukan di seluruh Eropa pada paruh pertama abad ke-14, serta direkomendasikan dan dianugerahkan indulgensi oleh Paus Yohanes XXII pada tahun 1318 dan 1327.[1]

Banyak orang kudus yang mempraktikkan dan merekomendasikan devosi "Tiga Salam Maria", misalnya St. Leonardus dari Porto Mauritio, St. Bonaventura, St. Yohanes Berchmans, St. Yohanes Maria Vianney (Pastor dari Ars), St. Stanislaus Kostka, St. Louis Marie Grignion de Montfort, St. Yohanes dari Salib, St. Giovanni Battista de' Rossi, St. Gerardus Mayella, St. Gabriel dari Bunda Dukacita, St. Marselinus Champagnat, St. Alfonsus Liguori, St. Gemma Galgani, dan St. Josemaría Escrivá.[2]

Praktik ini dilakukan oleh para anggota tarekat Fransiskan dan akhirnya berkembang menjadi Doa Malaikat Tuhan (Angelus).[1]

Wahyu melalui Santa Perawan Maria[sunting | sunting sumber]

Santa Mechtildis dari Hackeborn (1241-1299), seorang biarawati Benediktin dari biara di Helfta, mengalami tiga visiun dari Perawan Maria. Ia mengalami kesusahan hati sehubungan dengan keselamatan abadinya dan berdoa agar Maria hadir mendampingi dia menjelang ajalnya. Dalam penampakan-penampakan tersebut, Maria meyakinkannya, dan mengajari dia untuk memahami secara khusus bahwa pendarasan Tiga Salam Maria merupakan penghormatan kepada Tritunggal Mahakudus. Doa Salam Maria yang pertama mengingatkan kembali kuasa yang ia terima dari Bapa untuk bersyafaat atau menjadi perantara bagi orang-orang berdosa, yang kedua mengenang hikmat kebijaksanaan yang ia terima dari Putra, dan yang ketiga mengenang belas kasih yang ia miliki dari pemenuhan oleh Roh Kudus.[3]

Menurut Santa Gertrudis (1256–1301), Maria menjanjikan hal berikut ini: "Kepada setiap jiwa yang dengan setia mendoakan Tiga Salam Maria, aku akan menampakkan diri pada saat ajalnya dalam suatu semarak keindahan yang sedemikian luar biasa sehingga akan memenuhi jiwanya dengan penghiburan surgawi."[3]

Madonna dan Sang Putra bersama para Malaikat, karya Duccio, 1282.


Doa tersebut adalah sebagai berikut (terjemahan bebas dari teks bahasa Inggris):

Salam Maria, penuh rahmat, Tuhan sertamu. Terpujilah engkau di antara wanita, dan terpujilah buah tubuhmu, Yesus. Santa Maria, bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini, sekarang dan waktu kami mati. Amin.

Ya Ibuku, lindungilah aku sepanjang hari ini [malam ini] dari dosa berat.

Salam Maria, penuh rahmat, Tuhan sertamu. Terpujilah engkau di antara wanita, dan terpujilah buah tubuhmu, Yesus. Santa Maria, bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini, sekarang dan waktu kami mati. Amin.

Ya Ibuku, lindungilah aku sepanjang hari ini [malam ini] dari dosa berat.

Salam Maria, penuh rahmat, Tuhan sertamu. Terpujilah engkau di antara wanita, dan terpujilah buah tubuhmu, Yesus. Santa Maria, bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini, sekarang dan waktu kami mati. Amin.

Ya Ibuku, lindungilah aku sepanjang hari ini [malam ini] dari dosa berat.

Rekomendasi lainnya[sunting | sunting sumber]

Di kemudian hari, Santo Leonardus dari Porto Mauritio "mendaraskan Tiga Salam Maria pada pagi dan sore hari sebagai penghormatan kepada Maria Imakulata, demi memperoleh rahmat yang dibutuhkan untuk menghindari segala dosa berat sepanjang hari dan malam; selain itu, ia menjanjikan keselamatan kekal dengan suatu cara yang khusus bagi semua orang yang terbukti setia mempraktikkan ini."[3]

Pujangga Gereja Santo Alfonsus Liguori (1696–1787) mengadopsi praktik kesalehan ini dan sangat merekomendasikannya. Ia meminta para orang tua agar melatih anak-anak mereka untuk membiasakan diri mendaraskan tiga kali Salam Maria pada pagi dan sore hari. Setelah masing-masing Salam Maria, ia menganjurkan agar didaraskan doa berikut ini: "Ya Maria, dengan Perkandunganmu yang Tak Bernoda dan murni, jadikanlah tubuhku murni dan jadikanlah jiwaku suci."[4]

Dikatakan bahwa banyak orang kudus (santo/santa) yang mempraktikkan penambahan doa Tiga Salam Maria setelah Doa Malam untuk menghormati kemurnian Maria demi memperoleh rahmat atas kehidupan yang murni dan kudus. Karenanya devosi ini dianjurkan sebagai praktik sehari-hari bagi mereka yang telah menerima Sakramen Penguatan agar mereka mendaraskan Tiga Salam Maria untuk memperoleh "kemurnian pikiran/budi, hati, dan tubuh" setelah pemeriksaan batin sebelum tidur.

Pengadaptasian[sunting | sunting sumber]

St. Virgilius Council 185, Knights of Columbus, di Newtown, Connecticut, memprakarsai Gerakan Doa Tiga Salam Maria untuk memberikan dukungan kepada mereka yang terkena dampak dari peristiwa penembakan di Sekolah Dasar Sandy Hook. Dewan cabang tersebut meminta organisasi-organisasi keagamaan dan dewan cabang Knights of Columbus lainnya untuk mendorong gerakan doa satu Salam Maria bagi para korban yang meninggal dunia dan keluarga mereka, satu Salam Maria bagi para guru dan penanggap pertama, serta satu Salam Maria bagi komunitas tersebut.[5][6]

Pendarasan tiga kali Salam Maria untuk permohonan atau masalah apapun merupakan praktik umum di antara kalangan Katolik.

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b (Inggris) Thurston, Herbert. "Angelus." The Catholic Encyclopedia. Vol. 1. New York: Robert Appleton Company, 1907. 9 May 2013
  2. ^ (Inggris) A prayer for purity of heart
  3. ^ a b c (Inggris) "The Three Hail Marys Devotion". Our Lady of the Rosary Library. Diakses tanggal 18 February 2017. 
  4. ^ (Inggris) St. Alphonsus Maria de Liguori, The Glories of Mary, Translated from the original Italian (edisi ke-1868), Burns and Oates, Ld., hlm. 505 
  5. ^ (Inggris) "Three Hail Mary Prayer Drive", St. Virgilius Council, Knights of Columbus, Newtown, Connecticut
  6. ^ (Inggris) "Newtown Pastor and Knights of Columbus Council Receive Inaugural Caritas Awards". Supreme Council Knights of Columbus. 2013-08-06. Diakses tanggal 2015-01-11. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]