Kemurnian (kebajikan)

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search
Alegori kemurnian karya Hans Memling

Kemurnian (terjemahan umum dari bahasa Inggris: chastity) merupakan perilaku seksual dari seorang laki-laki atau perempuan yang diterima sesuai standar moral dan pedoman agama, peradaban, atau budaya mereka. Istilah ini telah menjadi erat kaitannya (dan seringkali saling dipertukarkan) dengan pantang seksual, khususnya sebelum menikah dan di luar pernikahan.[1][2]

Etimologi[sunting | sunting sumber]

Kata "chaste" dan "chastity" berasal dari kata sifat Latin castus yang berarti "pure" ("murni"). Kedua kata tersebut dimasukkan ke dalam bahasa Inggris pada sekitar pertengahan abad ke-13, dan pada saat itu memiliki arti yang sedikit berbeda. "Chaste" berarti memiliki kebajikan atau kemurnian dari hubungan seksual yang melanggar hukum (merujuk pada seks di luar nikah),[3][4] sedangkan "chastity" berarti "keperawanan".[4][5] Pada akhir abad ke-16 kedua kata ini menjadi memiliki makna dasar yang sama sebagai kata benda dan kata sifat terkait.[3][4]

Dalam agama Abrahamik[sunting | sunting sumber]

Bagi kaum Muslim dan Kristen, tindakan-tindakan seksual terbatas pada pernikahan. Bagi orang yang belum atau tidak menikah, kemurnian diidentifikasi sebagai pantang seksual. Tindakan-tindakan seksual di luar pernikahan, seperti perzinaan, percabulan, dan prostitusi, dipandang berdosa.

Kekristenan[sunting | sunting sumber]

Dalam banyak tradisi Kristen, kemurnian identik dengan kemurnian seksual. Kemurnian berarti tidak memiliki hubungan seksual apapun sebelum pernikahan. Selain itu juga berarti kesetiaan kepada suami atau istri dalam pernikahan. Dalam moralitas Katolik, kemurnian ditempatkan sebagai lawan dari dosa pokok hawa nafsu, dan diklasifikasikan sebagai salah satu dari tujuh kebajikan. Pengendalian hasrat seksual diwajibkan demi kebajikan. Akal, kehendak dan hasrat dapat bekerja sama secara harmonis untuk melakukan apa yang baik.

Dalam pernikahan, pasangan suami-istri berkomitmen untuk hubungan seumur hidup yang mana mengecualikan keintiman seksual dengan orang lain. Di dalam pernikahan, berbagai agama Abrahamik memandang beberapa praktik sebagai tidak murni, seperti keintiman seksual selama atau sesaat setelah menstruasi atau kelahiran anak.[6] Setelah pernikahan, bentuk ketiga dari kemurnian yang sering disebut "vidual chastity", diharapkan dari seorang wanita sementara ia sedang berduka atas almarhum suaminya. Sebagai contoh, Uskup Anglikan Jeremy Taylor mendefinisikan 5 aturan dalam Holy Living (1650), termasuk berpantang menikah "selama ia bersama anak dari suaminya terdahulu" dan "dalam tahun perkabungan".[7]

Sistem etika tertentu mungkin tidak menentukan beberapa hal tertentu. Sebagai contoh, Katolik Roma memandang seks dalam pernikahan adalah suci atau murni tetapi melarang penggunaan kontrasepsi buatan karena melanggar kemurnian; kontrasepsi buatan dipandang tidak wajar, bertentangan dengan kehendak dan rancangan Allah terkait seksualitas manusia. Banyak komunitas Anglikan yang mengizinkan kontrasepsi buatan, karena menganggap pembatasan besarnya keluarga dengan kontrasepsi buatan mungkin tidak bertentangan dengan kehendak Allah. Pandangan yang lebih keras dipegang oleh kaum Shaker, yang mana melarang pernikahan (dan hubungan seksual dalam keadaan apapun) karena dianggap melanggar kemurnian. Gereja Katolik memiliki berbagai aturan terkait selibat klerikal, sedangkan kebanyakan komunitas Protestan mengizinkan pendeta untuk menikah.

Selibat diwajibkan dalam kalangan monastik (para rahib, biarawan dan biarawati), di mana seorang suami dapat saja masuk biara (khusus biarawan) jika istrinya juga masuk biara (khusus biarawati). Selibat di kalangan klerus merupakan suatu praktik yang relatif baru: hal ini ditetapkan sebagai kebijakan Gereja di Konsili Lateran II pada tahun 1139 dan diberlakukan secara tidak seragam di kalangan klerus hingga 200 tahun berikutnya.[8] Para imam Katolik Timur diizinkan untuk menikah, asalkan pernikahan dilakukan sebelum tahbisan dan di luar kehidupan membiara.

Kaul kemurnian juga dapat diikrarkan oleh kaum awam, baik sebagai bagian dari suatu kehidupan religius yang terorganisir (seperti kalangan Beguin dan Beghard Katolik Roma di masa lampau) atau secara individual: sebagai suatu tindakan devosi secara sukarela, atau sebagai bagian dari suatu gaya hidup asketik (seringkali dikhususkan pada kontemplasi), atau juga keduanya.

Kebajikan kemurnian termasuk dalam salah satu nasihat kesempurnaan yang utama.

Kemurnian merupakan salah satu konsep sentral dan penting dalam praksis Katolik Roma. Makna penting kemurnian dalam tradisi ajaran Katolik Roma berasal dari kenyataan bahwa kemurnian dipandang esensial dalam memelihara serta menumbuhkan kesatuan tubuh dengan jiwa dan karenanya integritas manusia.[9]:2332 Kemurnian juga dipandang sebagai kebajikan mendasar bagi praktik kehidupan Katolik karena melibatkan suatu "masa belajar dalam pengendalian diri".[10]:2339 Seseorang yang berhasil mengendalikan atau menguasai nafsunya, maka akal, kehendak, dan hasratnya dapat bekerja sama secara harmonis untuk melakukan apa yang baik.

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ (Inggris) "Chastity | Define Chastity at Dictionary.com". Dictionary.reference.com. Diakses tanggal 2012-10-01. 
  2. ^ (Inggris) "Chastity | Define Chastity at Oxford Dictionaries". Oxford University Press. 
  3. ^ a b (Inggris) Chaste at etymonline.com
  4. ^ a b c (Inggris) podictionary.com
  5. ^ (Inggris) Chastity at etymonline.com
  6. ^ Imamat 12:2, 15:24, 20:18.
  7. ^ (Inggris) Jeremy Taylor (1650). "Chapter II, Section III, Of Chastity". Holy Living. 
  8. ^ (Inggris) Diarmaid MacCulloch, 'Reformation', Penguin Books, 2003, pg 28
  9. ^ (Inggris) "I. "Male and Female He Created Them . . ."", Catechism of the Catholic Church, Libreria Editrice Vaticana 
  10. ^ (Inggris) "II. The Vocation to Chastity", Catechism of the Catholic Church, Libreria Editrice Vaticana 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]