Subak

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Subak (irigasi))
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Sawah berundak di Jatiluwih, Bali.

Subak adalah organisasi kemasyarakatan yang khusus mengatur sistem pengairan sawah (irigasi) yang digunakan dalam bercocok tanam padi di Bali, Indonesia. Subak pada umumnya memiliki pura yang dinamakan Pura Uluncarik atau Pura Bedugul, yang khusus dibangun oleh para pemilik lahan dan petani. Pura tersebut diperuntukkan bagi Dewi Sri, yaitu dewi kemakmuran dan kesuburan menurut kepercayaan masyarakat Bali. Sistem irigasi ini diatur oleh seorang pemuka adat (Pekaseh) yang juga adalah seorang petani di Bali.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Sebuah palinggih atau altar pemujaan bagi dewa-dewi pelindung pertanian.

Bali adalah bagian dari kepulauan Indonesia, terletak di antara delapan dan sembilan derajat selatan khatulistiwa. Mencakup area seluas 563.300 hektare termasuk tiga pulau lepas pantai, pulau tersebut telah lama dicirikan di dunia sebagai "surga" terakhir di Bumi, yang penduduknya meluangkan cukup banyak waktu dan materi untuk upacara-upacara adat demi dewa-dewi Hindu yang mereka puja. Oleh karena itu, hubungan antara aspek berwujud dan tidak berwujud merupakan aspek utama dari budaya dan warisan nenek moyang masyarakat Bali.

Kombinasi antara iklim tropis, hujan dan tanah vulkanis yang subur menjadikan pulau Bali sebagai tempat yang ideal untuk budidaya tanaman; termasuk tumbuhan padi, kelapa, cengkih dan kopi. Kegiatan pertanian ini mempunyai pengaruh yang besar pada lanskap Bali, terutama dalam penciptaan sawah berundak-undak. Selama seribu tahun terakhir, masyarakat Bali melakukan modifikasi demi menyesuaikan lahan pertanian dengan kondisi pulau mereka, dengan cara membuat terasering di lereng bukit dan menggali kanal untuk mengairi lahan, sehingga memungkinkan mereka untuk menanam padi.

Sistem irigasi yang rumit telah dibuat untuk memanfaatkan air semaksimal mungkin. Dalam wujud rasa syukur terhadap air—yang memungkinkan kegiatan pertanian—masyarakat Bali membuat ritual pada sistem irigasi. Sistem irigasi ini juga memungkinkan koordinasi antar petani yang dikenal sebagai sistem organisasi "subak". Organisasi tersebut adalah sebuah organisasi demokratis; para petani yang memanfaatkan sumber air yang sama, bertemu secara teratur untuk bermsyawarah dan mengkoordinasikan penanaman, mengontrol distribusi air irigasi, merencanakan pembangunan, pemeliharaan kanal dan bendungan serta mengatur upacara persembahan dan perayaan di Pura Subak.

Dalam Prasasti Raja Purana (Tahun 994 Saka / 1072 Masehi), terdapat kata “kasuwakara” yang diduga berasal dari kata “suwak“, kata ini kemudian berkembang menjadi “subak“.

Kata “suwak” sendiri, terdiri atas atas dua suku kata yaitu “su-” yang berarti baik dan “wak” yang memiliki arti pembicaraan. Sehingga “suwak” atau Subak sendiri bisa diartikan sebagai “melakukan pembicaraan dengan niat baik untuk kepentingan bersama.[1]

Revolusi hijau telah menyebabkan perubahan pada sistem irigasi ini, dengan adanya varietas padi yang baru dan metode yang baru, para petani harus menanam padi sesering mungkin dengan mengabaikan kebutuhan petani lainnya. Hal ini sangatlah berbeda dengan sistem subak, di mana kebutuhan seluruh petani lebih diutamakan. Metode yang baru pada revolusi hijau menghasilkan padi yang melimpah pada awalnya, tetapi kemudian diikuti dengan kendala-kendala seperti kekurangan air, hama dan polusi akibat pestisida baik di tanah maupun di air.[2] Akhirnya ditemukan bahwa sistem pengairan sawah secara tradisional sangatlah efektif untuk menanggulangi kendala ini.

Subak telah dipelajari oleh Clifford Geertz, sedangkan peneliti lain seperti J. Stephen Lansing telah menarik perhatian umum tentang pentingnya sistem irigasi tradisional. Ia mempelajari pura-pura di Bali, terutama yang diperuntukkan bagi pertanian yang biasa dilupakan oleh orang asing. Pada tahun 1987 Lansing bekerja sama dengan petani-petani Bali untuk mengembangkan model komputer sistem irigasi Subak. Dengan itu ia membuktikan keefektifan Subak serta pentingnya sistem ini.

Pada tahun 2012, UNESCO mengakui Lanskap kultur Provinsi Bali yang dipengaruhi oleh subak sebagai Situs Warisan Dunia, pada sidang pertama yang berlangsung di Saint Petersburg, Rusia.[3][4]

Museum[sunting | sunting sumber]

Museum Subak di Kabupaten Tabanan dibuka pada tahun 1981.[5]

Galeri[sunting | sunting sumber]

Terasering Jatiluwih

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Kurniawan, Ari (3 Mei 2021). "SUBAK: PENGERTIAN, SISTEM DAN FUNGSI SUBAK DI BALI". Pradnya.org. Diakses tanggal 10 Mei 2021. 
  2. ^ (Inggris) Balinese Water Temples Diarsipkan 2006-10-04 di Wayback Machine.
  3. ^ "Subak Diakui Sebagai Warisan Budaya Dunia". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2019-04-11. Diakses tanggal 2012-05-20. 
  4. ^ Mulyati (Juni 2019). "Subak, Filosofi Keserasian dalam Masyarakat Agraris di Pulau Bali". Jurnal Jantra. 14 (1). ISSN 1907-9605. 
  5. ^ Post, The Jakarta. "A thousand years on, can subak survive?". The Jakarta Post (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2020-11-25. 

Referensi[sunting | sunting sumber]

  • (Inggris) J. Stephen Lansing, Priests and Programmers: Technology of Power in the Engineered Landscape of Bali Princeton University Press.
  • (Inggris) "Balinese Water Temples Withstand Tests of Time and Technology" - National Science Foundation
  • (Inggris) Simulation Modeling of Balinese Irrigation (extract) Diarsipkan 2012-02-04 di Wayback Machine. by J. Stephen Lansing (1996)
  • (Inggris) "The Impact of the Green Revolution and Capitalized Farming on the Balinese Water Temple System" by Jonathan Sepe (2000). Literature review.