Rafidhah

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Rafidhah (Arab: رافضة, translit. Rāfiḍah, har. '(mereka yang) menolak') adalah sebutan yang ditujukan kepada penganut Islam Syi'ah yang menolak kekhalifahan Rasyidin pertama, yaitu Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Sejumlah ulama Suni telah mengatakan bahwa kata rafidhah tidak ditujukan kepada penganut Syi'ah secara umum tetapi hanya kepada mereka yang mengkultuskan Ali bin Abi Thalib serta menafikan Abu Bakar dan Umar sebagai khalifah.

Etimologi[sunting | sunting sumber]

Kata tersebut berasal dari kata bahasa Arab yang berarti "(mereka yang) menolak". Akar katanya adalah ر ف ض (r-f-ḍ). Bentuk tunggalnya adalah رافضي rāfiḍī "orang yang menolak".

Asal-usul[sunting | sunting sumber]

Terdapat sejumlah perdebatan mengenai asal usul kata rāfiḍah. Contoh paling awal adalah pada Kitāb al-Maḥāsin milik Abū Jaʿfar Aḥmad bin Muḥammad al-Barq (meninggal 887 M). Bab IV dari Kitāb al-Maḥāsin memuat penggunaan kata rāfiḍah yang diklaim berasal dari imam Ja'far ash-Shadiq dan Muhammad al-Baqir, seperti:

Seorang pedagang tebu datang ke Ja'far ash-Shadiq telah mengatakan bahwa ada orang yang terus mengingatkannya untuk tidak menjadi seorang rafidhah dan Ja'far ash-Shadiq menjawab: 'Demi Allah, nama yang diberikan Allah ini kepadamu sangat baik, selama kamu mengikuti ajaran kami. dan jangan kaitkan kedustaan dengan kami.' Muḥammad al-Bāqir, dalam saat yang sama, menyatakan kepada dirinya sendiri: 'Aku salah satu dari rāfiḍah' [1]

Mughirah bin Syu'bah dianggap mencetuskan kata rafidhah untuk melawan orang-orang yang telah menolak dirinya.[2]

Sejumlah naskah historis lain juga banyak dirujuk. Ja'far ash-Shadiq meyakini rafidhah adalah tanda kehormatan yang diberikan pertama kali oleh Allah dan muncul dalam Alkitab Ibrani dan Perjanjian Baru: ia menyebut bahwa ada 70 orang di antara pengikut Firaun yang menolak agama Raja Mesir lalu memilih bergabung dengan Nabi Musa, dan Allah menyebut 70 orang itu rafidhah. Mereka disebut rafidhah karena menolak Fir'aun, taat beribadah, dan memiliki kecintaan yang sangat erat kepada Musa, Harun, dan keturunan-keturunannya.

ash-Shadiq lebih lanjut menyatakan bahwa Allah mewahyukan Nabi Musa, "Tetapkan nama ini untuk mereka dalam Taurat, karena Aku telah menamai mereka dengan itu dan memberikannya kepada mereka." Ia memperluas penggunaan kata tersebut untuk menyebut syiah (pengikut) dari keluarga Muhammad.[3]

Kata rafidhah tidak ada dalam al-Qur'an. Oleh karena itu, ada spekulasi bahwa ia merujuk ke Alkitab untuk menetapkan keabsahannya. Namun, kisah para penolak Firaun dari golongan tukang sihir yang bergabung dengan Musa tidak muncul di kitab mana pun dalam Alkitab. Ada pula yang berpendapat bahwa kisah para penyihir Firaun yang memilih beriman ada dalam Naskah Asli, tetapi musuh-musuh mereka menghapusnya.[1]

Kata ini berubah menjadi ejekan kepada Syiah, yang muncul sejak awal sejarah Islam, yang menurut satu sumber berasal dari perlawanan Zaid bin Ali terhadap Kekhalifahan Umayyah. Kata tersebut merujuk pada penduduk Kufah yang menolak kebijakan Zaid berkaitan dengan larangan mencela atau mengutuk dua khalifah Rasyidin pertama,[4][5] karena ia mengakui tidak pernah mendengar celaan kepada mereka.[6][7] Zaid bin Ali menganggap Ali adalah pemimpin terbaik setelah Muhammad, tetapi ia masih menghormati Abu Bakar dan Umar. Akibatnya, banyak penduduk Kufah menafikan kebijakan Zaid bin Ali, sehingga muncullah istilah rafidhah.[8]

Pemakanaan ini terus bergeser dari waktu ke waktu. Dalam sumber Zaidiyah, istilah yang digunakan oleh Zaid bin Ali terhadap sejumlah penduduk Kufah bukanlah karena menolak kekhalifahan Abu Bakar dan Umar, melainkan karena mereka menolak klaim Zaid sebagai Imamah karena mereka menganggap Ja'far ash-Shadiq menjadi Imam sebagai gantinya:

Allah Maha Besar! Demi Allah, kalian adalah kaum Rafidhah yang pernah disabdakan oleh Rasulullah: 'Kelak akan ada kaum yang meninggalkan jihad dengan kebaikan Ahlulbait dan mereka akan mengatakan bahwa tidak ada yang memerintahkan kebaikan atau melarang keburukan! Mereka akan berpura-pura dalam beragama dan mengikuti hawa nafsu…'[9]

Setelah itu, termasuk pada masa kekhalifahan Abbasiyah yang Suni, rafidhah menjadi kata untuk menghina penganut Syiah Dua Belas Imam, yang digunakan oleh penganut Zaidiyah atas penolakan terhadap Zaid bin Ali serta oleh penganut Islam Suni atas penolakan mereka terhadap khalifah Abu Bakar dan Umar.[1]

Dua Belas Imam meyakini bahwa setelah wafatnya Nabi Muhammad, merekalah yang tertolak dari dosa, menjadikan mereka penerus rafidhah asli.[1][10]

Ulama abad pertengahan, Ibnu Taimiyyah, mengutuk rafidhah sebagai kelompok manusia terburuk -- "karena mengikuti hawa nafsu dan ketidaktahuan".[11] Muhammad bin Abdul-Wahhab, ulama Sunnah sekaligus pengikut setia Ibnu Taimiyyah, menyebutkan istilah ini dalam kitabnya yang berjudul ar-Radd 'ala ar-Rafidhah, meski artikel Natana J. Delong-Bas menyebutkan Muhammad bin Abdul-Wahhab hanya merujuk pada sekte ekstremis Syiah saat membahas rafidhah, bukan Syiah secara umum.[12]

Penggunaan[sunting | sunting sumber]

Penjelajah Suni Ibnu Batutah menggunakan kata ini untuk menyebut Alawi, yang dianggap sebagai penganut sekte ghulat, saat berkunjung ke Suriah pada tahun 1326.[13] Istilah ini juga terus digunakan hingga sekarang.[14] Rafidhah juga terkadang digunakan untuk merujuk pada kaum ekstremis dan asy-Syi'i untuk kaum moderat.[15][16]

Sejumlah kaum Syi'ah mencoba untuk mengadaptasikan kembali cercaan atau hinaan yang ditujukan pada mereka serta menghasilkan konotasi positif dengan menyebut diri mereka sebagai Rawafid karena itu dapat menumbuhkan rasa bangga ketika mereka berontak terhadap tirani Umayyah. Meski kaum Syiah terkadang menamakan diri mereka sendiri sebagai rawafid, kata itu juga masih dianggap sebuah hinaan dari kaum Suni terhadap Syiah yang menolak mengakui kekhalifahan awal.[17]

Sebagaimana yang dikisahkan Ahmed Cevdet Pasha, Syiah pertama kali mengembangkan Kaisaniyah, yang kemudian berkembang menjadi tiga kelompok: Zaidiyah, Ismailiyah, dan Itsna Asyariyah. Selain yang menganut Zaidiyah ini disebut "Rafidhah" oleh Zaidiyah, dan mereka berpisah dari Zaidiyah.[18]

Penggunaan saat ini[sunting | sunting sumber]

Syiah di Arab Saudi lebih sering disebut rafidhah.[19] Di Irak, materi antisyiah terus berkumandang.[20] Sebuah wacana dirilis setelah diperbaiki dengan nama "Rafidhah di Tanah Tauhid", termasuk perintah anggota Majelis Tinggi, untuk membunuh Syiah.[20]

Hingga 1993, buku pelajaran sekolah di Arab Saudi secara terang-terangan mencela Syiah dan menyebutnya sebagai rafidhah.[21] Begitu ada protes, kurikulum pun diubah dan tidak lagi digunakan istilah tersebut, tetapi keyakinan Syiah masih dikecam.[21] Pada era modern, kata rafidhah banyak dipakai dalam organisasi jihadisme seperti Negara Islam Irak dan Syam (NIIS) untuk membenarkan eksekusi orang Syiah.[22]

Dalam kampanye-kampanye yang sedang berlangsung untuk menggulingkan pemerintahan Irak dan Suriah, pemberontak dari NIIS serta oposisi Suriah sering menggunakan kata rafidhah untuk merujuk pada Muslim Syiah. Sementara itu kelompok penganut Alawi disebut sebagai 'Nushairi'. Dalam edisi ke-13 majalah NIIS Dabiq, artikel utama mereka berjudul, "Rafidhah: Dari Ibnu Saba' hingga Dajjal" dan memuat halaman yang berisi "retorika kekerasan yang ditujukan terhadap Syiah" yang diklaimnya "lebih berbahaya dan lebih mematikan... daripada warga Amerika". Artikel tersebut juga membenarkan pembunuhan Muslim Syiah, yang disebut NIIS sebagai kaum murtadin.

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d Kohlberg, Etan (1979). "The Term "Rāfida" in Imāmī Shīʿī Usage". Journal of the American Oriental Society. 99 (4): 677–679. doi:10.2307/601453. ISSN 0003-0279. Diakses tanggal 12 July 2021. 
  2. ^ Wasserstrom, Steve. History of Religions, Vol. 25, No. 1 (Aug., 1985), pp. 1–29
  3. ^ al-Kulayni, Muhammad ibn Ya‘qūb (2015). Al-Kafi (edisi ke-Volume 8). New York City: Islamic Seminary Incorporated. ISBN 9780991430864. 
  4. ^ Ahmad Kazemi Moussavi; Karim Douglas Crow (2005). Facing One Qiblah: Legal and Doctrinal Aspects of Sunni and Shi'ah Muslims. Pustaka Nasional Pte Ltd. hlm. 186. ISBN 9789971775520. 
  5. ^ Najam Haider (26 Sep 2011). The Origins of the Shī'a: Identity, Ritual, and Sacred Space in Eighth-Century Kūfa. Cambridge University Press. hlm. 196–7. ISBN 9781139503310. 
  6. ^ Najībābādī, Akbar (2000). History of Islam Volume 2. Darussalam Publishers. hlm. 229. ISBN 978-9960892863. 
  7. ^ Suleiman, Yasir, ed. (21 Apr 2010). Living Islamic History: Studies in Honour of Professor Carole Hillenbrand (edisi ke-illustrated). Oxford University Press. hlm. 11. ISBN 9780748642199. 
  8. ^ حلمي, مصطفى. "Dr". alukah.net. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2 August 2017. Diakses tanggal 2 August 2017. 
  9. ^ al-Hussein al-Houthi, Allāma Yahya. Al-Jawāb ar-Rāqi 'ala al-Masā'il al-Irāqi. hlm. 4. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2019-12-22. Diakses tanggal 2017-08-02. 
  10. ^ Kohlberg, E. "al-Rafida or al-Rawafid." Encyclopaedia of Islam, Second Edition. Edited by: P. Bearman, Th. Bianquis, C.E. Bosworth, E. van Donzel and W.P. Heinrichs. Brill, 2010. Brill Online.
  11. ^ Abbas Abu Yahya (16 January 2019). "THE BELIEFS OF THE RAFIDAH & THE SHIA". Following the Sunnah. Diakses tanggal 13 April 2021. 
  12. ^ Delong-Bas, Natana J. (2004). Wahhabi Islam: From Revival and Reform to Global Jihad. New York: Oxford University Press. hlm. 22. ISBN 0-19-516991-3. 
  13. ^ Gibb, H.A.R., 'The Travels of Ibn Battuta, Hakluyt, (1999) v.1, p.93
  14. ^ Nasr, Vali, Shia Revival, Norton, (2006) p.53
  15. ^ Abrahamov, Binyamin.Arabica, T. 34, Fasc. 1 (Mar., 1987), pp. 80-105
  16. ^ Madelung, Wilferd. Islamic Legal Orthodoxy: Twelver Shiite Responses to the Sunni Legal System by Devin J. Stewart. Journal of the American Oriental Society, Vol. 120, NO. 1 (Jan.- Mar., 2000), pp. 111-114
  17. ^ "Rawafid." In The Oxford Dictionary of Islam. Ed. John L. Esposito. Oxford Islamic Studies Online. "Salinan arsip". Archived from the original on 2014-12-15. Diakses tanggal 2022-09-29. .
  18. ^ Ahmed Cevdet Pasha, Kısas-ı Enbiyâ, vol. II, page 12.
  19. ^ "Rosen, Nir, "America's unlikely savior; Recently, the U.S. was calling for Muqtada al-Sadr's head. Now, the fiery cleric may be the only man who can defuse Iraq's Sunni-Shiite conflict," Salon, February 3, 2005. Retrieved February 8, 2010". Diarsipkan dari versi asli tanggal May 12, 2008. Diakses tanggal February 8, 2010. 
  20. ^ a b Jones, Toby. Middle East Report, No. 237 (Winter, 2005), pp. 20-25
  21. ^ a b Prokop, Michaela. International Affairs, Vol. 79, No. 1 (Jan., 2003), pp. 77-89
  22. ^ Wagemakers, Joas (2012-06-11). A Quietist Jihadi. Cambridge University Press. hlm. xix. ISBN 978-1107606562. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]