Patikraja, Banyumas

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Patikraja
Kecamatan
Negara  Indonesia
Provinsi Jawa Tengah
Kabupaten Banyumas
Pemerintahan
 • Camat Drs. Suhadi, MM
Luas 43,23 km²
Jumlah penduduk 51.122 jiwa
Kepadatan - jiwa/km²

Patikraja adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Kecamatan ini masuk dalam wilayah perkotaan Purwokerto. Kecamatan Patikraja termasuk kecamatan yang strategis karena lokasinya yang berada dekat dengan pusat kabupaten selain itu juga dilintasi oleh jalan nasional yang menghubungkan jalan nasional pantai utara jawa (Pantura) dan jalur selatan maupun jalan provinsi lintas tengah yang menghubungkan Kabupaten Banyumas dengan Kabupaten Purbalingga, Kabupaten Banjarnegara, Kabupaten Wonosobo dan Kabupaten Temanggung. Pusat pemerintahan Kecamatan Patikraja berada di Desa Notog. Kecamatan Patikraja juga dilintasi jalur kereta api dengan sebuah terowongan yaitu Terowongan Notog dan stasiun terbesarnya yaitu Stasiun Notog.

Batas-batas Wilayah[sunting | sunting sumber]

Peta Kecamatan Patikraja
  1. Utara: Kecamatan Karanglewas, Kecamatan Purwokerto Selatan, Kecamatan Sokaraja dan Kecamatan Kalibagor
  2. Barat: Kecamatan Purwojati
  3. Selatan: Kecamatan Rawalo, Kecamatan Kebasen dan Kecamatan Banyumas
  4. Timur: Kecamatan Kalibagor

Desa/kelurahan[sunting | sunting sumber]

  1. Karanganyar
  2. Karangendep
  3. Kedungrandu
  4. Kedungwringin
  5. Kedungwuluh Kidul
  6. Kedungwuluh Lor
  7. Notog
  8. Patikraja
  9. Pegalongan
  10. Sawangan Wetan
  11. Sidabowa
  12. Sokawera Kidul
  13. Wlahar Kulon

Legenda[sunting | sunting sumber]

Kecamatan Patikraja zaman dahulu adalah lokasi penyeberangan perjalanan menuju Pantai Selatan. Hingga di daerah ini diutus seorang tukang seberang bernama Joko Rekso. Lokasi penyeberangan waktu itu jika di lihat masa sekarang berada di grumbul "Tambangan". Di lokasi ini juga terdapat Air Pethuk Telu atau bisa disebut juga air pertemuan tiga aliran sungai, yaitu Kali Serayu, Kali Logawa dan Kali Rajut. Konon air pethuk telu diyakini sebagai air keramat guna laku mandi penyucian jiwa. Hingga banyak kalangan dari berbagai kerajaan banyak berdatangan untuk melakukan mandi penyucian jiwa. Dilain pihak lokasi air pethuk telu juga sering digunakan sebagai tempat pelarungan (penghanyutan) abu jenazah. Lokasi ini terkenal di segala penjuru wilayah.

Jembatan dekat Patikraja (sekitar tahun 1905)

Hingga pada suatu ketika datanglah bencana banjir yang sangat dasyat memporak porakan hampir seluruh wilayah pinggir sungai termasuk daerah yang sekarang di sebut Patikraja. Nasib Joko Rekso sang petugas penyeberangan tak diketahui, sampai saat Tunggul Ametung memerintahkan penggantinya bernama Tunggul Rejo. Sehingga di bantaran Kali Serayu dibangun petilasan untuk mengenang Joko Rekso. Pada masa tugas Tunggul Rejo di wilayah ini juga dibangun sanggar pembakaran mayat, yang pernah ditemukan petilasan/bekas lantai bangunanya tepatnya 100m arah selatan balai Desa sekarang.

Tahun berganti tahun, masa tugas Tunggul Rejo di wilayah ini, hingga pada suatu saat terjadilah hal yang sangat menakjubkan. Saat itu seorang Raja (entah raja darimana) telah dikramasi, setelah dikumpulkan abu jenazahnya ternyata ada satu gigi sang raja yang masih utuh tak terakar. Takut terjadi kesalahan, maka diulang kembali untuk dibakar. Tapi setelah berulang ulang ternyata tetap saja gigi sang raja utuh tak berubah jadi abu. Berita keganjilan ini menyebar ke seantero jagad dan sampai ke telinga sang adipati Tunggul Ametung di Tumapel. Atas kesepakatan warga dan jadi keputusan sang Adipati maka wilayah ini dinamakan Patikraja[1].

Geografi[sunting | sunting sumber]

Kecamatan Patikraja berada dibagian tengah Kabupaten Banyumas. Kecamatan Patikraja sebagian besar memiliki topografi wilayah berupa dataran rendah bergelombang dan perbukitan tak teratur dibagian utara sebagai depresi Serayu. Dibagian selatan terdapat rangkaian perbukitan antiklin Ajibarang memanjang dari barat ke timur. Ketinggian wilayah Kecamatan Patikraja antara 40-300 meter di atas permukaan air laut (Mdpl) dengan titik tertingginya berada di Bukit Payung (312 Mdpl di perbatasan Desa Karangendep dengan Kecamatan Rawalo. Sejumlah [[bukit] lainnya yaitu Bukit Cimelang, Bukit Gelap, Bukit Kubang dan Bukit Jaro. Kecamatan Patikraja merupakan wilayah pertemuan sejumlah sungai yang cukup besar diantaranya Kali Serayu, Kali Logawa, Kali Rajut, dan Kali Banjaran sebelum memotong Pegunungan Serayu Selatan dan berakhir ke Samudera Hindia. Kecamatan Patikraja yang beriklim tropis dengan dua musim dalam satu tahunnya yaitu musim kemarau dan penghujan, dengan suhu udara pada siang hari berkisar antara 25 - 32 derajat Celcius.

Penduduk[sunting | sunting sumber]

Sebagian besar penduduk Kecamatan Patikraja berprofesi sebagai pedagang, petani, buruh tani, wiraswasta dan PNS. Umumnya penduduk usia produktif pergi merantaau atau bersekolah ke kota besar seperti Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi (Jabotabek), Kota Bandung, Kota Semarang, Kota Surabaya dan sejumlah kota besar di luar pulau seperti Sumatera, Bali, dan Kalimantan. Mayoritas penduduk Kecamatan Patikraja adalah beragama islam. Jenjang pendidikan yang dicapai penduduk di wilayah ini adalah hingga Universitas meski sebagiaan besar tamatan Sekolah menengah pertama dan Sekolah menengah atas.

Potensi[sunting | sunting sumber]

Kecamatan Patikraja memiliki sejumlah potensi baik potensi wisata alam maupun kesenian dan budaya. Kecamatan Patikraja memiliki empat kelompok kesenian karawitan yang tersebar di sejumlah desa. Selain itu juga terdapat tempat produksi pahat wayang kulit di Desa Pegalongan serta produksi calung/ kentongan di Desa Kedungrandu. Kecamatan Patikraja juga mengembangkan potensi sentra perikanan di Desa Kedungwuluh Kidul, Desa Karanganyar dan Desa Sidabowa[2].


  1. ^ Legenda Patikraja
  2. ^ Patikraja Kembangkan Potensi Sentra Ikan Patikraja