Cilongok, Banyumas

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Cilongok
Kecamatan
Negara  Indonesia
Provinsi Jawa Tengah
Kabupaten Banyumas
Pemerintahan
 • Camat Sujarwoto, S.H, M.H.
Luas 105,34 km²
Jumlah penduduk 115.819 Jiwa
Kepadatan 1.099 jiwa/km²
Desa/kelurahan 20

Cilongok adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Indonesia. Kecamatan Cilongok hanya berjarak 14 Km dari pusat Kabupaten Banyumas. Luas wilayah Kecamatan Cilongok yakni 105,34 km² atau mengisi 7,93% dari total wilayah Kabupaten Banyumas. Jumlah penduduknya pada 2015 tercatat mencapai 115.819 Jiwa terdiri dari 58.354 Laki-laki dan 57.465 Jiwa dengan rasio jenis kelamin 101,55. Hal tersebut membuat Kecamatan Cilongok menempati urutan teratas dengan jumlah penduduk terbanyak di Kabupaten Banyumas. Pusat pemerintahhnya berada di Cilongok.

Batas-batas Wilayah[sunting | sunting sumber]

Secara geografis Kecamatan Cilongok mempunyai batas-batas sebagai berikut :

Desa/kelurahan[sunting | sunting sumber]

  1. Batuanten
  2. Cikidang
  3. Cilongok
  4. Cipete
  5. Gununglurah
  6. Jatisaba
  7. Kalisari
  8. Karanglo
  9. Karangtengah
  10. Kasegeran
  11. Langgongsari
  12. Pageraji
  13. Panembangan
  14. Panusupan
  15. Pejogol
  16. Pernasidi
  17. Rancamaya
  18. Sambirata
  19. Sokawera
  20. Sudimara

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Nama Kecamatan Cilongok di ambil dari salah satu desa dalam kecamatan ini yaitu Desa Cilongok. Pada masa sebelum kemerdekaan sampai dengan tahun 1950an, Desa Cilongok merupakan pusat pemerintahan Kecamatan Cilongok, Kemudian pemerintahan berpindah ke tempat yang di tempati sekarang yaitu sekitar 500 m dari kantor lama di Desa Cilongok tepatnya di Desa Pernasidi RT 03 RT 03 yang berbatasan dengan Desa Cilongok.

Asal-usul[sunting | sunting sumber]

Dari sejumlah sumber ada beberapa pendapat tentang asal-usul nama Cilongok. Pertama, menurut Bapak Siyam selaku Kepala Dusun Desa Cilongok yang menceritakan bahwa dahulu kala ada seorang kakek yang bernama kaki Cilongok. Kedua, menurut sesepuh Desa Cilongok yang menceritakan bahwa menurut legenda yang ada dimasyarakat Cilongok berasal dari kata Ci yang artinya air dan Longok yang artinya muncul. Jadi Cilongok itu bermakna mata air yang muncul dari tanah. Dari beberapa sumber juga diperoleh keterangan bahwa Cilongok merupakan perbatasan sebelah timur kerajaan Pajajaran. Dikarenakan tidak adanya penjaga perbatasan sebelah timur kerajaan, maka sang raja membuat sayembara “Barang siapa yang paling kuat maka dia yang akan menjadi penjaga perbatasan”.

Terdengarlah sayembara tersebut oleh tiga bersaudara yaitu Ki Suramerta, Ki Candrageni, dan Ki Jambe Wangi. Ki Suramerta dan Ki Candrageni sangat berambisi untuk memenangkan sayembara tersebut, sedangkan Ki Jambe Wangi tidak terlalu berambisi. Pertarungan antar ketiganya pun tidak bisa terelakan lagi. Mereka bertarung bertarung dibawah makam Ki Suramerta (sekarang). Disana terjadi ledakan hebat membentuk kedung yang mengeluarkan air. Masyarakat yang terkejut dengan ledakan tersebut menengok  ke sumber ledakan. Kemudian tempat tersebut dinamakan Cilongok. Kata Cilongok terdiri dari dua kata, yaitu kata Ci dan Longok. Ci berasal dari bahasa Sunda yang berarti air, sedangkan Longok berasal dari bahasa Jawa yang berarti menengok. Akhirnya sayembara tersebut dimenangkan oleh Ki Jambe Wangi yang kemudian dijuluki Ki Cilongok, sesuai dengan tempat pertarungan tersebut.

Sekolah Menengah[sunting | sunting sumber]

Beberapa sekolah menengah negeri dan swasta yang ada di Kecamatan Cilongok adalah sebagai berikut :

  1. SMA Muhammadiyah Boarding School Zam-zam Cilongok
  2. SMK Ma'arif Cilongok
  3. MA Ma'arif Cilongok
  4. SMPN 1 Cilongok
  5. SMPN 2 Cilongok
  6. SMP PGRI 1 Cilongok
  7. SMP PGRI 2 Cilongok
  8. SMP Ma'arif Cilongok
  9. SMP Muhammadiyah Cilongok
  10. SMP Alam Al-Aqwiya Cilongok
  11. SMP Mahad Darussaadah Cilongok
  12. MTs Ma'arif 1 Cilongok
  13. MTs Ma'arif 2 Cilongok
  14. MTs Darusalam Cilongok
  15. MTs Biroyatul Huda Cilongok

Potensi[sunting | sunting sumber]

1.Gula Kelapa

Produksi gula kelapa banyak terdapat di Kecamatan Cilongok. Sebagian besar mata pencaharian warga Kecamatan Cilongok adalah penderes kelapa dengan kemampuan produksi sebesar 27.942 ton gula per tahun. Dengan teknik pengolahan dan teknologi sederhana warisan turun-temurun nenek moyang menjadikan gula merah hasil produksi Kecamatan Cilongok ini memiliki ciri khas dan kualitas produk yang tinggi. Dalam skala yang lebih kecil, produksi gula kelapa juga terdapat di 22 kecamatan lain di Kabupaten Banyumas. Kapasitas produksi keseluruhan di Kabupaten Banyumas mencapai 58.754 ton per tahun, dengan jumlah unit usaha 30.207, tersebar di 23 kecamatan. Dengan bentuk cetak alumunium (50 gram) dan gula kristal/semut, gula kelapa produksi Banyumas khususnya dari Kecamatan Kebasen telah diekspor ke berbagai negara: Singapura (lewat Cirebon), Arab Saudi (lewat Surabaya), Amerika Serikat (lewat jakarta), Belanda (lewat Bandung) dan Korea (lewat Bandung). Volume ekspor mencapai 40-45 ton per tahun[1].

2. Curug Cipendok

Kecamatan Cilongok bagian utara yang berada dilereng selatan Gunung Slamet membuat wilayahnya kaya akan potensi wisata alam berupa air terjun atau Curug. Salah satu air terjun] yang sudah terkenal di penjuru nusantara adalah Curug Cipendok di Desa KarangTengah. Curug Cipendok adalah air terjun dengan ketinggian 92 meter yang terletak di lereng Gunung Slamet. Curug Cipendok mempunyai daya tarik tersendiri, karena lingkungan masih betul-betul alami. Kesunyian juga masih sangat terasa, sebab belum banyak pelancong yang datang menikmati keindahan alamnya. Hawa di sekitarnya sejuk dan sepanjang jalan menuju ke sana terdapat area perkebunan. Di sekitar wilayahnya terdapat bumi perkemahan dan sebuah telaga yang bernama Telaga Pucung. Tersedia tempat parkir, tempat istirahat, arena bermain anak-anak seperti ayunan dan kamar mandi. Dilokasi curug ini terdapat menara pandang yang dapat melihat pemandangan kota Purwokerto apabila cuaca sedang cerah. Juga sepanjang jalan menuju lokasi, banyak warung yang menjajakan mendoan, susu murni dan makanan kecil.

3. Gua Lawa

Potensi wisata yang belum digarap adalah Gua Lawa di Desa Panusupan. Untuk mencapai lokasi Gua Lawa bisa diakses menggunakan sepeda motor dan mobil. Medan yang dilalui untuk mencapai goa yang berada di RT 06 RW 06 itu juga tak sulit. Gua itu diperkirakan memiliki kedalaman lorong sekitar 15 meter dari arah pintu batu di sebelah Timur, dan sekitar 15 meter dari pintu sebelah barat. Gua masih tampak alami karena berhias bebatuan cadas yang bergaris. Berdasarkan cerita turun temurun dari warga sekitar menyebutkan kalau gua tersebut berkaitan dengan Babad Kamandaka. Diyakini oleh warga, gua itu memiliki panjang yang luar biasa sampai menembus ke desa lain yang berada di sekitar gua. Kawasan Gua Lawa bersih dan terang. Masyarakat masih menguri-nguri dengan membersihkan dedaunan maupun sampah yang ada di dalam maupun di sekitar gua[2].

4. Tahu dan Kerupuk Tahu Kalisari

Desa Kalisari di Kecamatan Cilongok sudah lama dikenal sebagai penghasil tahu. Banyak warganya yang berwirausaha memproduksi makanan khas Indonesia ini. Sebagai desa sentra industri rumahan tahu, Desa Kalisari mempunyai sekitar tiga ratusan perajin tahu. Dalam waktu sehari sedikitnya 8 ton kedelai diolah oleh para perajin tahu desa setempat. Tahu telah menjadi bagian dari kehidupan dan penghidupan warga desa setempat sejak dulu. Pemasaran tahu Desa Kalisari mencapai seluruh wilayah Kabupaten Banyumas bahkan sampaike Kabupaten Brebes bagian selatan. Belum lama ini warga Desa Kalisari memanfaatkan limbah tahu menjadi olahan cemilan renyah yaitu Kerupuk Ampas Tahu atau yang memiliki nama Okara.


Lihat Pula[sunting | sunting sumber]