Nomo Koeswoyo

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Nomo Koeswoyo
Latar belakang
Nama lahir Koesnomo Koeswoyo
Lahir 21 Januari 1939
Bendera Indonesia Tuban, Jawa Timur, Indonesia
Jenis musik Pop, Rock, Ethnik Jawa
Pekerjaan Penyanyi, Pencipta lagu
Instrumen Drum, Vokal
Tahun aktif 1962 - Sekarang
Perusahaan rekaman Dimita Moulding Company, Ltd, Remaco
Dipengaruhi The Beatles
Pasangan Fatimah Francisca (meninggal)
Anak Chica Koeswoyo (Mirza Riandiani Kesuma).

Hellen Koeswoyo (Hellen Atmisuri), Reza Wicaksono Koeswoyo.

Orang tua Raden Koeswoyo, Rr. Atmini
Agama Islam

Koesnomo Koeswoyo (lahir di Tuban, Jawa Timur, 21 Januari 1939; umur 76 tahun) adalah salah satu musikus Indonesia dari grup Koes Bersaudara yang beranggotakan kakak beradik keluarga Koeswoyo. Pada grup tersebut ia berposisi sebagai drummer.

Koes Bersaudara[sunting | sunting sumber]

Grup ini mulai berkarir sejak tahun 1958 dengan nama Kus Brothers yang beranggotakan 5 orang kakak beradik keluarga Koeswoyo (Jon Koeswoyo pada Bass, Tonny Koeswoyo pada gitar, Nomo Koeswoyo pada drum, Yon Koeswoyo pada vokal, dan Yok Koeswoyo pada vokal) dan seorang dari luar keluarga Koeswoyo yang bernama Jan Mintaraga sebagai gitaris awalnya. Mereka merekam album pertama di tahun 1962. Setelah Jan Mintaraga mengundurkan diri, grup ini berganti nama menjadi Kus Bersaudara pada tahun 1963.

Beberapa waktu kemudian kakak tertua mereka Jon Koeswoyo pun mengundurkan diri, sehingga menyisakan 4 personil kakak beradik yang dipimpin oleh Tonny Koeswoyo. Grup ini kemudian kembali mengganti namanya menjadi Koes Bersaudara. Mereka meraih kesuksesan dalam beberapa album rekaman berikutnya selama beberapa tahun sebelum dipenjarakan oleh rezim Orde Lama Soekarno di Penjara Glodok pada tanggal 29 Juni 1965. Mereka dianggap memainkan lagu-lagu ngak-ngik-ngok (kebarat-baratan) yang terlarang masa itu. Mereka dibebaskan pada tanggal 29 September 1965 (tepat sehari sebelum pecahnya Gerakan 30 September PKI). Selepas itu karir bermusik mereka kembali berjalan.

Keluar dari Koes Bersaudara[sunting | sunting sumber]

Meski meraih kesuksesan dalam bermusik, namun kehidupan anggota grup ini tetap dalam kesulitan ekonomi. Hal itu disarakan oleh seluruh personil Koes bersaudara. Tahun2 1968-1969 merupakan saat2 surut bagi Koes Bersaudara. Perbedaan pendapat yang diawali pada 1968 antara sang abang Tonny Koeswoyo dan Nomo yang kian meruncing. Nomo yang memiliki jiwa bisnis menginginkan agar Koes Bersaudara tidak mengandalkan hidupnya pada musik saja, harus ada usaha lain. Pendapat ini tidak disetujui, akhirnya di tahun 1969 mereka menempuh jalanya sendiri-sendiri. Oleh Tonny Koeswoyo ia disuruh memilih untuk fokus pada musik di Koes Bersaudara atau keluar. Nomo Koeswoyo akhirnya berinisiatif meninggalkan posisinya sebagai penabuh drum pada tahun 1969. Ia memilih berusaha di luar bidang musik sebagai pedagang untuk menghidupi keluarganya. Nomo bersikap lebih pragmatis dan memiliki prinsip yang berbeda dengan sang kakak, karena saat itu ia telah menikah dan telah memiliki 1 orang anak (Chicha). Posisi drummer yang ditinggalkan Nomo Koeswoyo kemudian digantikan oleh Kasmuri (dikenal dengan panggilan Murry) yang berasal dari Surabaya. Ex. penabuh drum Band Patas milik Kejaksaan ini menjadi anggota di luar keluarga Koeswoyo. Group ini pun mengubah namanya menjadi Koes Plus yang di kemudian hari berhasil meraih sukses menjadi salah satu grup legendaris di Indonesia.


Mendirikan Grup No Koes[sunting | sunting sumber]

Nomo yang lebih menonjol sebagai pengusaha, juga meraih sejumlah sukses. Ia pun kemudian tertarik kembali masuk dalam dunia musik dengan mendirikan grup musik sendiri bersama pemusik lain yaitu : Usman, Sofiyan, Said, Pompi dan Bambang Sampurno Karsono. Grup musik ini ia beri nama '''No Koes'''. Dalam grup ini ia pun banyak menyanyikan sendiri lagi-lagu ciptaannya disamping memegang alat musik. Grup ini pun banyak meraih kesuksesan dalam percaturan tangga musik nasional pada tahun 1970an. Menghasilkan cukup banyak album dari berbagai jenis aliran musik seperti Pop, Dangdut, Melayu, Jawa, dsb. Popularitas No Koes bisa menyaingi kepopuleran Koes Plus yang diawaki oleh saudara-saudara kandungnya ataupun kelompok-kelompok musik lainnya pada periode tahun 1970an.


Mempopulerkan Penyanyi Lain[sunting | sunting sumber]

Nomo juga sempat mendirikan studio rekaman yang bernama Yukawi Record. Studio ini banyak merekam rekaman (grup musik) No Koes serta artis-artis lainnya. Selain itu ia pun ikut melahirkan beberapa penyanyi populer masa itu seperti grup musik Usman Bersaudara dan penyanyi kembar (Jacob dan Alex) dalam Kembar Grup. Nomo juga adalah orang di balik suksesnya beberapa penyanyi terkenal seperti Franky Sahilatua, Enny Haryono dan Oma Irama. Saat itu Nomo berani berkata bahwa tidak ada produser rekaman yang berani menolak tawarannya. Artis-artis yang diorbitkannya pun pada akhirnya meraih kesuksesan dan populer pada masa itu.

Musik dan bisnis juga membawanya berhasil mengorbitkan putrinya sendiri, Chicha Koeswoyo, pada tahun 1975 dengan lagu Heli yang disusul lagu-lagu lainnya seperti "Bersinar Matahari", "Pulang Sekolah" dalam beberapa album yang meraih sukses di pasaran blantika lagu anak-anak. Ia pun kemudian mengorbitkan anak keduanya Hellen Koeswoyo yang juga sempat mengeluarkan beberapa album pada periode yang hampir bersamaan, meski tidak sepopuler kakaknya. Terakhir anak laki-lakinya, Reza Koeswoyo pada awal tahun 1990an yang sempat mengeluarkan single hits dengan judul "Batman".


Reuni Koes Bersaudara[sunting | sunting sumber]

Tahun 1977, atas desakan keluarga dan penggemar, Koes Bersaudara kembali bersatu sebagai sebuah grup musik dengan ditandai lagu "Kembali" yang direkam di album Koes Bersaudara Seri Perdana tahun 1977. Kesuksesan album ini kemudian diikuti 4 buah album berikutnya hingga tahun 1978. Dalam reuni ini, Nomo ikut menyumbangkan lagu dan sebagian menyanyikan sendiri lagu-lagu ciptaannya. Koes Bersaudara mulai era ini mencirikan setiap personilnya membuat lagu dan umumnya menyayikan sendiri lagu ciptaannya. Namun album-album tersebut tak begitu sukses di pasaran. Popularitas grup Koes Plus yang sudah begitu kuat di pasaran era 1970an tak bisa ditandingi oleh kembalinya Koes Bersaudara yang pernah populler di era 1960an. Grup ini akhirnya bubar dan ketiga saudaranya kembali mengusung Grup Koes Plus.

Tahun 1979 - 1980 Koes Bersaudara mencoba kembali bersatu dengan melempar 2 buah album yang juga tak begitu sukses di pasaran. Grup ini pun kembali vakum selama beberapa tahun kemudian. Ketiga saudaranya kembali kepada grup Koes Plus, sedangkan Nomo lebih banyak berkarier sebagai penyanyi solo dan menekuni bisnisnya yang cukup sukses di kala itu.

Pada tahun 1986 Koes Bersaudara kembali bersatu dan mengeluarkan 6 buah album di tahun 1987. Grup ini sempat meraih kesuksesan dengan lagu "Kau Datang Lagi" pada album yang sama yang direkam tahun 1987. Namun kebersamaan itu tak berlangsung lama, karena pada tahun 1987 itu pula kemudian sang kakak Tonny Koeswoyo meninggal dunia karena penyakit kanker yang dideritanya. Sepeninggal Tonny, Koes Bersaudara masih sempat mengeluarkan 1 buah album di tahun 1988 dan 2 buah album di tahun 2000.

Nomo kemudian melanjutkan karir bermusik solonya dengan mengeluarkan sebuat hits yang cukup meledak di penghujung tahun 1980an berjudul" Layar Tancap". Disela itu mereka masih kerap bermain bersama dalam grup Koes Bersaudara dalam moment off air tanpa mengeluarkan album baru lagi.


Kehidupan pribadi dan sosial[sunting | sunting sumber]

Nomo Koeswoyo adalah anak kelima dari sembilan bersaudara anak dari pasangan Raden Koswoyo dan Rr. Atmini asal Tuban Jawa Timur. Sang ayah adalah pensiunan pegawai di Kementrian Dalam Negeri. Nomo menikah beda agama dengan seorang wanita yang bernama Frincis Loen (lahir di Depok), teman sekelas Nomo di SMA. Dari pernikahannya ini mereka memiliki 3 orang anak, Chica Koeswoyo (Mirza Riandiani Kesuma), Hellen Koeswoyo (Hellen Atmisuri), dan Reza Wicaksono Koeswoyo. Sang istri wafat di tahun 2012, setelah sempat menjadi mualaf mengikuti jejak anak tertuanya Chica Koeswoyo. Namanya pun sempat diganti menjadi Fatimah Francisca sebagaimana tercantum dalam nisannya. Nomo menghabiskan masa tuanya dengan lebih banyak di rumah peristirahatannya yang luas di kota Magelang, Jawa Tengah bersama bersama beberapa cucunya. Diantara keluarga Koes Bersaudara kehidupan Nomolah yang paling sukses, karena selain bermusik ia juga seorang pengusaha. Bahkan saat kakaknya Tonny Koeswoyo menderita sakit menjelang wafatnya, Nomolah yang menanggung biaya pengobatannya.


Pranala luar[sunting | sunting sumber]