Tonny Koeswoyo

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Tonny Koeswoyo
Latar belakang
Nama lahir Koestono Koeswoyo
Lahir 19 Januari 1936
Bendera Indonesia Tuban, Jawa Timur, Indonesia
Meninggal 27 Maret 1987 (umur 51)
Bendera Indonesia Jakarta, Indonesia
Jenis musik Rock and Roll, Pop
Pekerjaan Penyanyi, Komposer, Penulis lagu
Instrumen Gitar, Drum, Piano, Organ, Vokal, Keyboard, Mellotron
Tahun aktif 1962 - 1987
Perusahaan rekaman PT Irama, Dimita Moulding Company, Remaco
Hubungan Astrid Tobing (cerai), Karen Julie
Dipengaruhi The Beatles, The Everly Brothers, Kalin Twins
Anak Kenny Koeswoyo, Ekky Koeswoyo, Damon Koeswoyo
Orang tua Raden Koeswoyo, Rr. Atmini
Agama Islam
Anggota
Koes Bersaudara, Koes Plus

Koestono Koeswoyo (lahir di Tuban, Jawa Timur, 19 Januari 1936 – meninggal di Jakarta, 27 Maret 1987 pada umur 51 tahun) atau Tonny Koeswoyo adalah pimpinan dari group Koes Bersaudara dan group Koes Plus. Tony dapat memainkan tiga alat musik yaitu piano, gitar dan keyboard.

Masa Kecil[sunting | sunting sumber]

Tonny Koeswoyo adalah anak keempat dari sembilan bersaudara anak dari pasangan R. Koeswojo (Raden Koeswoyo) dan Rr. Atmini asal Tuban Jawa Timur. Urutannya adalah :

  1. No.1. Tituk (perempuan), meninggal waktu bayi.
  2. No.2. Koesdjono (Jon alias John Koeswoyo)
  3. No.3. Koesdini (Dien ~ perempuan),
  4. No.4. Koestono (Ton alias Tonny Koeswoyo),
  5. No.5. Koesnomo (Nom alias Nomo Koeswoyo),
  6. No.6. Koesyono, (Yon alias Yon Koeswoyo),
  7. No.7. Koesroyo (Yok alias Yok Koeswoyo),
  8. No.8. Koestami (Miyi ~ perempuan),
  9. No.9. Koesmiani (Ninuk ~ perempuan).

Dari silsilah keluarga, mereka termasuk generasi ke 7 keturunan (trah) Sunan Muria di Tuban. Ibu mereka adalah keponakan dari Bupati Tuban pada jaman penjajahan Belanda saat itu.

Masa kecil Tonny dilalui di kota Tuban, Jawa Timur bersama saudara-saudaranya. Pada mulanya ia biasa dipanggil dengan sebutan Ton. Namun akhirnya diubahnya menjadi Tonny agar telihat lebih gagah, sebagaimana wajahnya yang paling tampan diantara saudara-saudaranya. Tahun 1952 keluarga Koeswoyo pindah ke Jakarta mengikuti mutasi Sang ayah berkarir pegawai negeri di Kementrian Dalam Negeri. Di Jakarta mereka sekeluarga menempati rumah di Jalan Mendawai III, No. 14, Blok C, Kebayoran baru, Jakarta Selatan.

Titisan darah musik menurun dari R. Koeswojo (Koeswoyo) sang ayah yang terampil memetik gitar dan main musik Hawaiian. Ketika berusia empat tahun di Tuban, Tony bisa berjam-jam menabuh ember dan baskom dengan pemukul lidi-lidi dan bejana-bejana lain yang diisi air dengan lidi yang ujungnya dipasangi bunga jambu yang masih kuncup. Di tangannya ember, baskom, dan lain-lain itu keluar suara yang unik. Saat memasuki usia akil balik, Tonny Koeswoyo tak mau lagi menabuh ember. Intuisi musiknya kian menderu-deru tanpa ada yang mampu menghalangi. Tonny lalu memohon minta dibelikan gitar, biola, dan buku-buku musik. Pak Koeswoyo tak memenuhi permintaan itu dengan alasan orang tak bisa hidup dari bermusik.

Sang ayah mengundurkan diri dari pekerjaannya dan bergabung dengan Bank Timur. Beliau dipercaya mengelola onderneming (perkebunan) di Solo, Jawa Tengah dan memboyong keluarganya. Rumah mereka di Jakarta hanya ditempati oleh 4 anak laki-lakinya yang dipimpin oleh abang tertuanya Jon dan 3 adiknya, Tonny, Yon dan Yok. Adiknya yang nomor 5 Nomo telah berpetualang sendiri ke Surabaya, bekerja di pabrik genteng. Jon khawatir ketiga adiknya yang bersamanya ini, Tonny, Yon, Yok, akan jadi crossboys dan ikut-ikutan tren berkelahi. Saat itu demam gang motor tengah berlangsung di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, maupun Surabaya. Karena ingin adik-adiknya memiliki “kegiatan positif”, Jon berinisiatif membelikan alat-alat musik bagi adik-adiknya. Waktu itu Jon sudah bekerja di Biro Yayasan Tehnik, sebelum kemudian pindah ke pembangunan Hotel Indonesia (HI). Ia membelikan alat musik itu untuk pemersatu adik-adiknya. Bersama Tony, Jon berangkat ke Solo. Waktu itu untuk urusan alat musik yang paling komplit adalah di Solo, tepatnya di Jalan Tembaga, Nonongan, Solo. Ia membelikan 1 bh bass betot, dua bh gitar pengiring , dan 1 set drum. Jon sempat dimarahi ayahnya di Solo, karena dianggap akan merusak adik-adiknya. Namun mereka tetap berkeras hati membelinya sehingga Sang Ayah menjadi luluh. Alat-alat itu lalu dibawa dengan kereta api ke Jakarta. Dari stasiun diangkut dengan truk ke HI, karena sang abang masih bekerja di HI.

Sejak itu Tony mulai serius belajar musik, sehingga ia bisa bermain gitar, ukulele, piano, dan suling. Ia terus memainkan gitar itu siang-malam. Ia juga kerap mengikuti kegiatan dimana saja yang ada unsur musiknya. Kegiatan sekolah, mahasiswa, atau apapun yang ada musiknya, juga selalu diikutinya. Ketekunannya dalam bermusik membuat Tonny lupa belajar, sampai tidak naik kelas dan lulus ujian hingga tiga kali. Tony kemudian mengajarkan adik-adiknya, Yon dan Yok, bermain musik. Nomo adiknya yang baru pulang berkelana, juga akhirnya ikut-ikutan. Ketika Jon membelikan seperangkat alat musik untuk adik-adiknya, memang telah dibuat semacam perjanjian dengan Tony, bahwa dia hanya bermain dengan saudara-saudaranya (dengan adik-adiknya). Dari situ mulai solidlah Koes Bersaudara. Rumah mereka pun berubah ramai setiap sore, karena orang-orang berkumpul mendengar hentakan musik. Hal ini masih kerap dikeluhkan ayah mereka, Koeswoyo, ketika pulang ke Jakarta dengan alasan musik tidak bisa bikin orang sejahtera. Hal tersebut tidak dipedulikan oleh Tony dan saudara-saudaranya yang lain, mereka terus saja bermain musik.

Tahun 1967 keluarga Koeswoyo pindah dari Jalan Mendawai III ke Jalan Sungai Pawan di lingkungan Blok C, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Saat itu seluruh keluarga telah berkumpul kembali di Jakarta. Kemudian sejak 1970 mereka pindah ke jalan Haji Nawi, Cipete, Jakarta Selatan, yang kemudian dikenal sebagai Kompleks Koes Bersaudara sampai sekarang.

Karier[sunting | sunting sumber]

Koes Bersaudara[sunting | sunting sumber]

Tonny Koeswoyo memulai kisah perjalanannya yang panjang dalam dunia musik secara serius sejak duduk di bangku SMA di Jakarta. Naluri bermusiknya begitu menggelora, sehingga ia membentuk band di sekolahnya, yang diberi nama Gita Remaja. Kemudian Bersama temannya Jan Mintaraga dan Sophan Sophian, ia mendirikan band Teenage’s Voice dan Teruna Ria. Band ini sering tampil diperhelatan remaja di sekolah-sekolah. Band Teenage’s Voice dibentuknya sekitar tahun 1952.[1] Band tersebut kemudian mengganti namanya menjadi Irama Remaja dengan salah satu anggotanya Sophan Sophian sebagai vokalis. Band ini pun akhirnya terpaksa dikuburnya, karena ia membagi kesibukan dengan melanjutkan sekolahnya ke perguruan tinggi.

Pada tahun 1958 ia mencoba menggaet saudara-saudara kandungnya keluarga Koeswoyo yakni (abangnya Jon Koeswoyo pada Bass, Tonny Koeswoyo pada gitar, adiknya Nomo Koeswoyo pada drum, adiknya Yon Koeswoyo pada vokal, dan adiknya Yok Koeswoyo pada vokal). Tonny memberi nama bandnya Koes & Bros. Abangnya Jon Koeswoyo ikut bergabung dengan adik-adiknya dalam band keluarga ini di sela-sela pekerjaannya. Sementara adiknya Nomo baru bergabung belakangan, setelah pulang dari perantauannya. Di masa permulaan grup terbaru anak-anak laki-laki Pak Koeswoyo itu masih terselip pula 2 buah nama dari luar keluarga Koeswoyo, yakni Jan Mintaraga (yang sekarang dikenal sebagai pelukis komik) berposisi sebagai gitaris awalnya. Selain itu juga ada Iskandar, yang bermain drum untuk pertama kalinya pada grup musik ini. Iskandar membantu Nomo yang belum begitu mahir bermain drum, karena ia baru pulang dari berkelana. Jan dan Iskandar adalah tetangga mereka di Jakarta.

Pada tahun 1960 Tonny mengubah nama grup ini menjadi Kus Brothers. Tonny meniru pola Everly Brothers di Amerika, karena menggunakan 2 penyanyi kakak beradik. Namun sebetulnya inspirasi Tonny terhadap duet Yon dan Yok itu adalah Kalin Twins, dua penyanyi Amerika bersaudara yang kembar. nDi periode akhir tahun 1950-an hingga awal tahun 1960-an group musik di Indonesia umumnya lebih bangga menyanyikan lagu asing, tak terkecuali mereka. Tonny dan saudaranya pun latihan dengan menyanyikan lagu-lagu Barat yang sedang hits masa itu seperti dari Everly Brothers, Harry Belafonte, Kalin Twins, dan lainnya. Kala itu menyanyikan lagu Indonesia dianggap memalukan. Tonny dan saudaranya juga mengasah diri dengan mengamen di jalanan atau menjadi penghibur di acara ulang tahun dan sunatan. Bayaran tidak penting, yang jelas bisa belajar tampil di depan umum dan dapat makan-minum gratis.

Tahun 1962, Kus Brothers (Kus Bros) mencoba untuk masuk dapur rekaman. Lewat perusahan PT Irama, milik Soejoso Karsono atau kerap dipanggil (Mas Yos) perusahaan rekaman terkenal saat itu. Mas Yos bersama supervisor musik Irama Jack Lesmana, menantang Tony untuk menyiapkan lagu dalam waktu dua minggu. Tony menerima tantangan itu. Demi mempunyai banyak waktu untuk mencipta lagu, Tonny bahkan memutuskan keluar dari tempatnya bekerja di Perkebunan Negara. Tonny kemudian konsentrasi menciptakan lagu. Dalam waktu satu minggu, dia berhasil menciptakan dua lagu: "Weni" dan "Terpesona". Abangnya Jon merekamnya dengan alat perekam Grundig yang pitanya sebesar piring. Hasil rekaman dikirim bersama surat permohonan ke PT Irama. Sesuai janjinya ia kembali dalam dua minggu.

Melihat hasil lagu yang dibawakannya, mas Yos dan Jack kemudian mengontrak Kus Brothers pada tahun 1962. Abangnya Jon pun memutuskan keluar dari pekerjaannya untuk mendukung penuh band keluarga ini. Kala itu Formasi Kus Bros yakni Tony (gitar melodi), Jon (bas), Nomo (drum), Jan Mintaraga (gitar) mengiringi duet vokal Yon dan Yok. Namun baru tiga lagu Jan Mintaraga mengundurkan diri, ia lebih memilih melanjutkan sekolahnya di Akademi Seni Rupa Indonesia di Yogyakarta. Tonny kemudian mengubah formasi group band pimpinannya. Posisi Jan pada gitar digantikan oleh Jon, dan bas kemudian dimainkan oleh Yok.

Mas Yos pun menyarankan Tonny agar Kus Brothers yang sekarang anggotanya lima orang diganti namanya menjadi Kus Bersaudara karena dianggap kebarat-baratan. Tonny pun setuju, dengan nama baru inilah album pertama Tonny Koeswoyo beserta saudaranya diterbitkan pada tahun 1963. Album rekaman pertama Koes Bersaudara yang keluar yang tahun 1963 ini berisi 12 lagu, di antaranya: "Weni", "Terpesona", "Bis Sekolah", "Senja", dan "Telaga Sunyi". Ke-12 lagu Kus Bersaudara itu semuanya merupakan karya cipta Tonny Koeswoyo. Lagu-lagu mereka beredar luas ke telinga pendengar melalui Radio Republik Indonesia (RRI) dan radio Angkatan Udara.

Meski sudah memiliki rekaman, kesejahteraan Koes bersaudara tak berubah. Honor mereka kala itu sangat kecil. Lagu-lagu mereka yang menjadi hits seolah tak memberikan pengaruh apa-apa. Mereka pun tetap mengamen sana-sini dan menghibur di acara perkawinan dan sunatan. Hingga beberapa waktu kemudian kakak tertua mereka Jon Koeswoyo pun memutuskan mengundurkan diri di tahun 1964. Jon yang telah menikah memilih keluar dan memborong keluarganya ke Tuban, di sana dia bekerja menjadi nelayan. Setelah Jon mengundurkan diri, grup ini Band ini pun menyisakan 4 personil kakak beradik yang dipimpin oleh Tonny Koeswoyo. Tonny lalu mengganti nama kelompok musiknya menjadi Koes Bersaudara pada tahun 1964. Dalam formasi yang baru ini Tonny menjadi gitaris utama, Yon tetap sebagai penyanyi utama disamping memegang alat musik rhythm gitar, Yok juga masih menjadi penyanyi dengan memegang bass gitar, dan Nomo pada drum. Demikian juga musik dan vokal Yon dan Yok, dari gaya Kalin Twin dan Everly Brothers diubah ke The Beatles. Bahkan, mereka sampai merasa perlu berjas tanpa leher seperti yang dikenakan oleh John Lennon, Paul McCartney, George Harrison dan Ringo Starr.

Grup ini meraih kesuksesan dalam beberapa album rekaman berikutnya selama beberapa tahun. Meski sudah memiliki lagu-lagu sendiri dalam bentuk rekaman, mereka masih dibayar dengan honor yang seadanya kalau menyanyi di panggung. Lagu-lagu Tonny Koeswoyo boleh saja populer, tetapi kehidupan ekonomi keluarga Koeswoyo tidak banyak berubah.

Masuk Bui[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 1965 Koes Bersaudara menjadi kelompok musik sohor tanah air dan nyaris tanpa saingan sama sekali. Tapi Koes Bersaudara masih merasa perlu manggung secara berkala di gedung bioskop sebagai selingan pemutaran film atau di Restaurant International Airport Kemayoran dua kali seminggu. Penonton nyang berjubel dan tumpang tindih selalu merequest lagu-lagu dari kelompok The Beatles. Atas permintaan penonton ketika Koes Bersaudara manggung, mereka "terpaksa" membawakan lagu lagu The Beatles, Kalin Twin dan Everly Brothers. Meski Tonny tahu pemerintah memberlakukan Panpres Nomor 11 Tahun 1965 yang melarang musik “ngak- ngik-ngok” yang berasal dari Inggris dan Amerika Serikat, tetapi, Tony sulit mengelak permintaan penggemarnya.

Pada tanggal 25 Juni 1965 Koes Bersaudara bersama band Dara Puspita dan Quarta Nada, diundang ke sebuah pesta yang diadakan oleh Kolonel Koesno. Ketiga band top itu membawakan lagu-lagu Barat secara bergantian. Ketika Koes Bersaudara yang tampil terakhir baru saja mulai membawakan nomor The Beatles, I Saw Her Standing There, terjadi lemparan batu-batu yang menyasar ke atap rumah Kolonel Koesno. Diikuti teriakan-teriakan berbau kekiri-kirian seperti : “Ganyang Nekolim! Ganyang Manikebu! Ganyang Ngak-ngik-Ngok!” Pertunjukan pun terhenti seketika dan Koes Bersaudara dipaksa minta maaf. Tonny dengan tenang segera memenuhi permintaan itu dan dipaksa berjanji tak akan memainkan lagu ngak-ngik-ngok lagi. Setelah nama-nama personel dari band penghibur itu dicatat oleh pengunjuk rasa, semua yang hadir dalam pesta tersebut membubarkan diri.

Tonny, Nomo, Yon, dan Yok diperbolehkan pulang dengan perasaan lega. Empat hari kemudian, tepatnya pada tanggal 29 Juni 1965, keempat bersaudara Koeswoyo ini ditangkap dan dijebloskan ke Penjara Glodok. Perintah penangkapan disertai sebuah Surat Perintah Penahanan Sementara Nomor 22/023/K/ SPPS/1965 yang dikeluarkan Kejaksaan Negeri Istimewa Jakarta dan ditandatangani L Aroen SH. Mereka dituduh Bung Karno sebagai penyebar Musik Ngak Ngik Ngok tak berbudaya Indonesia. Tonny dimasukkan satu sel bersama saudara-saudaranya, Nomo, Yon, dan Yok di Penjara Glodok pada hari itu juga tanggal 29 Juni 1965. Mereka dihukum oleh rezim Orde Lama Soekarno hanya karena memainkan lagu-lagu ngak-ngik-ngok (kebarat-baratan) yang terlarang masa itu (dianggap musik yang tidak mencerminkan bangsa Indonesia) pada tahun 1965. Keempatnya mendekam di penjara tanpa proses pengadilan selama 3 bulan. Mereka akhirnya dibebaskan pada tanggal 29 September 1965 (tepat sehari sebelum pecahnya Gerakan 30 September PKI).

Sekeluar dari bui, situasi dalam penjara dipotret oleh Tonny melalui lagu lagu Koes Bersaudara berikutnya. Pengalaman selama 100 hari itu dituangkannya ke dalam dua album Koes Bersaudara, Jadikan Aku DombaMu dan To The So Called The Guilties yang diterbitkan Dimita Moulding Company dengan label Mesra milik pengusaha berdarah Minangkabau Dick Tamimi. Selepas itu karir bermusik Tonny dan adik-adiknya kembali berjalan.

Dalam pengakuan adiknya Yok Koeswoyo di depan publik acara Kick Andy yang ditayangkan Metro TV pada Kamis 11 Desember 2008), terungkap sebuah fakta yang selama ini dirahasiakan. Bahwa sebenarnya mereka dimasukkan penjara pada masa itu sebagai bagian untuk menjadikan Koes Bersaudara sebagai intelijen tandingan (counter intelligence) di Malaysia. Saat itu, Indonesia sedang berkonfrontasi dengan Malaysia. “Zaman dulu ada KOTI (Komando Operasi Tertinggi). Kami direkrut oleh beliau-beliau, komandannya Kolonel Koesno dari Angkatan Laut. Dibikin seolah-olah pemerintah yang ada tidak senang sama kami, lalu kami ditangkap. Dalam rangka ditangkap inilah kami nanti secara diam-diam keluar dan eksodus ke Malaysia. Di sana kami dipakai sebagai counter intelligence. Namun, pas keluar dari penjara pada tanggal 29 November, meletus G30S,” cerita Yok.

Koes Plus[sunting | sunting sumber]

Meski meraih kesuksesan dalam bermusik, namun kehidupan anggota grup ini tetap dalam kesulitan ekonomi. Adiknya Nomo Koeswoyo berinisiatif meninggalkan posisinya sebagai penabuh drum pada tahun 1969. Ia memilih berusaha sampingan di luar bidang musik sebagai pedagang untuk menghidupi keluarganya, sehingga kerap meninggalkan latihan. Oleh Tonny Koeswoyo, Nomo disuruh memilih untuk fokus pada musik di Koes Bersaudara atau keluar. Sikap Tonny sangat tegas, karena ia ingin agar seluruh adik-adinya fokus pada musik. Bahkan ia sempat mengusir Nomo yang berbicara masalah bisnis mobil bersama temannya di luar studio ketika sedang latihan. Nomo bersikap lebih pragmatis dan memiliki prinsip yang berbeda dengan Tonny, karena saat itu ia telah menikah dan telah memiliki 1 orang anak.

Posisi drummer yang ditinggalkan Nomo Koeswoyo kemudian digantikannya dengan Kasmuri (dikenal dengan panggilan Murry). Murry adalah drummer asal Surabaya ex. Band Patas milik Kejaksaan. Murry direkomendasikan dari adiknya Yon Koeswoyo kepada Tonny lewat seorang temannya yang bernama Tommy Darmo. Dalam kesempatan itu sebenarnya Tommy Darmo hendak melamar menjadi drummer yang ditinggalkan Nomo. Akan tetapi Tommy yang berasal dari Surabaya ini dinilai tidak mempunyai skill yang memadai. Karena belum menemukan pemain drum yang pas, Tonny kemudian meminta tolong kepada seorang pemain bass sahabatnya yang bernama Totok AR. Totok juga merekomendasikan Murry kepada Tonny. Yon kemudian meminta tolong Tommy Darmo untuk membawa Murry ke tempat mereka, karena Tommy telah mengenal Murry sejak dari Surabaya.

Keputusan Tonny mengeluarkan Nomo, mendapat reaksi keras dari adik laki-laki bungsunya Yok Koeswoyo. Sebagai bentuk simpatinya kepada Nomo, ia pun memilih mengundurkan diri. Yok berhenti karena tak mau bermain band dengan personil di luar Koeswoyo. Keduanya sempat mengamuk dan melarang Tonny dan Yon untuk menggunakan alat musik drum dan bass milik mereka untuk band di luar mereka. Mereka juga sempat mengusulkan agar band dibubarkan saja. Lebih jauh mereka juga sempat mengancam Tommy Darmo karena dikira mengenalkan Murry. Namun Tonny tetap bersikukuh dengan keputusannya. Bahkan ketika ibu mereka wafat di tahun 1969, tidak mengubah pendiriannya.

Di tengah situasi ekonomi sulit, pasca keluarnya Nomo dan Yok, keadaan ekonomi Tony Koeswoyo pun menurun. Ia bahkan sempat menjual radio satu-satunya miliknya untuk membeli becak guna menyambung hidup. Namun Tonny berusaha keras untuk tetap eksis di bidang musik. Ia pun mengambil keputusan cepat. Untuk posisi pemain bass ia kemudian merekrut Adji Kartono atau biasa disingkat Totok AR (Totok Adji Rahman) yang merupakan adik dari gitaris band wanita Dara Puspita yakni Titiek AR, dan Lies AR. Totok bukanlah orang baru di kalangan personil Koes Bersaudara karena sejak akhir tahun 60-an ia turut tinggal bersama band itu di markas mereka di Jalan Sungai Pawan No. 1 Jakarta. Sebelumnya, ia bermusik bersama band Phillon yang berbasis di Bandung, memainkan musik-musik rock asing.

Bersama adiknya Yon, ditambah Totok AR dan Murry (Kasmuri), ia membentuk group musik baru yang diberi nama sementara FREE AND PEACE. Nama itu tak bertahan lama. Kemudian ia pun terinspirasi dengan sebuah merek obat batuk kala itu APC PLUS . Hingga akhirnya Tonny pun memilih nama Koes Plus untuk nama Group band barunya ini dengan formasi awalnya terdiri dari Tonny, Yon, Totok AR, dan Murry. Maestro musik yang bernama asli Koestono ini seperti mendapat energi baru dengan masuknya Murry, sehingga kreatifitasnya tidak terbendung dengan menampilkan irama musik yang lebih bervariasi. Formasi ini mencoba merilis album untuk Koes Plus di tahun 1969, meski tertatih-tatih karena belum belum dikenal dan sebagian alat musiknya pun terpaksa disewa dari luar.

Koes Plus mulai resmi muncul pada tahun 1969 lewat debut album Volume I Dheg Dheg Plas yang dirilis Dick Tamimi bersama label Dimita/Mesra. Begitu dibentuk, Koes Plus tidak langsung mendapat simpati dari pecinta musik Indonesia. Piringan hitam album pertamanya sempat ditolak beberapa toko kaset. Mereka bahkan mentertawakan lagu “Kelelawar” yang sebenarnya asyik itu. Hal itu membuat sebagian personil goyah, namun tidak bagi Tonny.

Murry sempat ngambek dan pergi ke Jember, Jawa Timur sambil membagi-bagikan piringan hitam albumnya secara gratis pada teman-temannya. Dia bekerja di pabrik gula sambil bermain band bersama Gombloh dalam grup musik Lemon Trees. Tonny kemudian menyusul Murry ke Jember untuk diajak kembali ke Jakarta. Baru setelah lagu “Kelelawar” diputar di RRI, orang lalu mencari-cari album pertama Koes Plus. Beberapa waktu kemudian lewat lagu-lagunya “Derita”, “Kembali ke Jakarta”, “Malam Ini”, “Bunga di Tepi Jalan” hingga lagu “Cinta Buta”, Koes Plus mulai mendominasi musik Indonesia waktu itu di tangga musik radio.

Pada album Koes Plus volume II di tahun 1970, Tonny berhasil membujuk kembali adik laki-laki terkecilnya Yok untuk bergabung dengan Koes Plus. Sejak itu Yok pun resmi bergabung menggantikan posisi yang ditinggalkan oleh Totok AR. Dalam kesempatan itu Tonny memang tidak mengajak adiknya Nomo untuk bergabung kembali. Ia telah menemukan form yang pas dari alur pukulan drum Murry yang sesuai gaya bermusiknya. Selain itu Murry juga bisa menciptakan lagu, sesuai dengan keinginan Tonny. Bersama Murry, mereka membesarkan grup Koes Plus. Dalam album II ini nama Koes Plus mulai dikenal. Koes Plus perlahan meraih kepopuleran dan mulai menjadi raja di kalangan band nasional.

Nama Koes Plus mulai dielu-elukan khalayak secara live setelah tampil membawakan lagu Derita serta Manis Dan Sayang dalam acara Jambore Band di Istora Senayan November 1970. Saat itu Koes Plus tampil bersama band Panbers dan beberapa band sohor lainnya. Semua peserta menyanyikan lagu Barat berbahasa Inggris. Hanya Koes Plus yang berani tampil beda dengan menyanyikan lagu ciptaan sendiri berbahasa Indonesia. Sejak itu popularitas Koes Plus seolah tak terbendung, menggelegar, dan merajai industri musik Indonesia. Terlebih setelah Koes Plus berpindah ke label Remaco yang dipimpin Eugene Timothy. Koes Plus akhirnya menjadi mesin hits yang terus dipacu tiada henti oleh Remaco. Dalam catatan pada tahun 1974 Koes Plus merilis sekitar 24 album yang berarti setiap sebulan sekali Koes Plus merilis 2 album.

Periode 1970-an seolah menjadi era mereka. Pada tahun 1972-1976 udara Indonesia benar-benar dipenuhi oleh lagu-lagu Koes Plus. Baik radio atau orang pesta selalu mengumandangkan lagu Koes Plus. Barangkali tidak ada orang-orang Indonesia yang waktu itu masih berusia remaja yang tidak mengenal Koes Plus. Kapan Koes Plus mengeluarkan album baru selalu ditunggu-tunggu pecinta Koes Plus dan masyarakat umum.

Bahkan group ini berhasil merilis lebih dari 100 album berbagai jenis aliran musik seperti Pop, Dangdut, Melayu, Keroncong, Jawa, Folksong, Rock, Bosanova, Qasidah, Rohani Natal, Pop Anak-anak, dsb. Lagu-lagu mereka banyak yang menjadi hits yang melegenda sepanjang masa hingga saat ini. Lagu-lagu mereka hits di tangga lagu Indonesia, dinyanyikan semua umur, seperti Bujangan, Muda-Mudi, Kembali ke Jakarta, dan lainnya. Mereka juga menjadi bintang iklan beberapa produk terkenal seperti : minuman ringan F&N, mobil Toyota Kijang, sampul buku tulis, dsb.


Dukungan Keluarga[sunting | sunting sumber]

Keberhasilan Koes Plus merambah dunia musik tanah air menimbulkan simpati dari keluarganya. Dukungan dari keluarga besar Koeswoyo juga datang, termasuk dari ayahnya R. Koeswoyo (wafat di Jakarta, Selasa 8 Agustus 2000) . Ia cukup banyak menyumbangkan lagu (33 buah lagu) untuk album-album Koes Plus yang dinyanyikan secara apik seluruhnya oleh Yon Koeswoyo. Lagu-lagu ciptaan ayah mereka ada yang bergenre populer dan ada pula bernuansa keroncong. Diantaranya Muda-Mudi, Oh Kasihku, Keroncong Pertemuan, Layang-layang, Penyanyi Tua, Mari Mari Oe berterus terang, dsb.

Bersaing dengan No Koes[sunting | sunting sumber]

Adiknya, Nomo Koeswoyo yang sukses dalam bisnisnya, di kemudian hari tertantang kembali masuk ke dunia musik. Ia pun mendirikan grup musik sendiri bersama teman-temannya di luar keluarga Koeswoyo pada permulaan era tahun 1970-an. Group band itu diberinya nama No Koes. Group ini pun terbilang sukses dan menjadi salah satu saingan berat dari kejayaan Koes Plus di era awal tahun 1970an.


Reuni Koes Bersaudara[sunting | sunting sumber]

Di tahun 1976-1977 popularitas Koes Plus mulai menukik ke bawah. Banyak yang menduga bahwa Koes Plus mengalami paceklik gagasan bermusik. Eugene Timothy mengajukan gagasan untuk menghidupkan kembali Koes Bersaudara. Selain itu juga telah lama ada desakan dari keluarga besar Koeswoyo yang prihatin melihat fenomena persaingan dua buah band yang diusung oleh saudara mereka. Juga keinginan penggemar lama mereka yang merindukan era kejayaan Koes Bersaudara di tahun 1960-an.

Awal tahun 1977, Tonny Koeswoyo akhirnya bersedia menghidupkan kembali group musik Koes Bersaudara yang telah dikuburnya sejak tahun 1969. Ia memanggil kembali adiknya Nomo untuk kembali bersatu sebagai sebuah grup musik bersama adiknya Yon dan Yok. Keempat Koeswoyo bersaudara ini pun bertemu dan menyetujuinya. Kebersatuan mereka ditandai lagu Kembali yang direkam di album Koes Bersaudara Seri Perdana tahun 1977. Lagu tersebut menjadi hits di masa itu.

Kesuksesan album ini kemudian diikuti 4 buah album berikutnya hingga tahun 1978. Dalam reuni ini, seluruh personil ikut menyumbangkan lagu dan sebagian menyanyikan sendiri lagu-lagu ciptaannya. Koes Bersaudara mulai era ini mencirikan setiap personilnya membuat lagu dan umumnya menyayikan sendiri lagu ciptaannya. Namun album-album tersebut tenyata tak begitu sukses di pasaran. Popularitas grup Koes Plus yang sudah begitu kuat di pasaran era 1970-an tak bisa ditandingi oleh kembalinya Koes Bersaudara yang pernah populer di era 1960-an. Grup ini akhirnya bubar secara tak resmi, Tonny bersama saudaranya Yon dan Yok kembali mengusung Grup Koes Plus bersama Murry.

Tahun 1979 - 1980 Koes Bersaudara mencoba kembali bersatu dengan dukungan keluarga yang sangat besar. Bahkan kali ini beberapa lagu disumbangkan oleh salah satu adik perempuan mereka Ninoek Koeswoyo. Mereka berhasil melempar 2 buah album ke pasaran. Namun penjualan album tersebut tak begitu sukses di pasaran, karena image Koes Plus masih kuat di mata penggemarnya. Grup ini pun kembali vakum selama beberapa tahun kemudian. Yon bersama saudaranya kembali kepada grup Koes Plus, sedangkan Nomo berkarier sebagai penyanyi solo sembari menekuni bisnisnya yang cukup sukses di kala itu.

Pada tahun 1986 Koes Bersaudara kembali bersatu dan mengeluarkan 6 buah album di tahun 1987. Grup ini sempat meraih kesuksesan dengan lagu "Kau Datang Lagi" pada album yang sama yang direkam tahun 1987. Namun kebersamaan mereka tak berlangsung lama, karena pada tahun 1987 itu pula Tonny Koeswoyo menderita sakit parah, hingga akhirnya meninggal dunia.

Sebelum meninggal, Tonny Koeswoyo bersama Koes Bersaudara sempat merilis album “Dia Permata Hatiku” dan tampil bersama 2 keponakannya yang juga menjadi penyanyi cilik populer masa itu yakni Chicha Koeswoyo dan Sari Yok Koeswoyo di acara Selekta Pop Artis Safari TVRI.

Sepeninggal Tonny, ketiga adik laki-lakinya masih sempat mengeluarkan 8 buah album di tahun 1988 dan 2 buah album di tahun 2000 Koes Bersaudara. Album tersebut sebagian berisi lagu-lagu yang dibuat sebelum Tonny wafat dan belum sempat dikeluarkan dalam album sebelumnya. Uniknya ada sebuah album Koes Bersaudara yang berjudul Country Pop yang dirilis tahun 1988, dengan formasi Yon, Yok, Nomo, dan Murry.


Koes Plus Pasca Kematian Tonny[sunting | sunting sumber]

Sebelum meninggal Tonny sempat berwasiat kepada adiknya untuk meneruskan keberadaan Band Koes Plus. Para personil Koes Plus yang tersisa tetap merekam album-album seperti AIDS (1987), Pop Melayu Amelinda (1991). Namun penjualan album-album tersebut tak semeledak di era 1970-an. Hingga akhirnya pada tahun 1993, band ini kembali menggebrak publik tanah air dengan berbagai show come backnya. Dari situ terlihat bahwa band ini masih memiliki begitu banyak penggemar setia yang merindukan masa keemasan mereka terbukti dengan membludak dan suksesnya show Koes Plus walaupun tiket yang dijual begitu mahal pada awalnya.

Band Koes Plus masih tetap eksis hingga saat ini meski telah berkali-laki ganti formasi, menyusul pengundurandiri Yok karena alasan kesehatan di tahun 1997 dan kemudian Murry tahun 2004 dengan alasan serupa. Hingga kini Koes Plus hanya menyisakan Yon Koeswoyo sebagai satu-satunya keluarga Koeswoyo yang setia mengibarkan panji kebesaran Koes Plus dengan personil barunya yang seluruhnya berusia sangat muda.


Kepioniran Tonny dalam Bermusik[sunting | sunting sumber]

Sejarah musik Indonesia mencatat banwa tradisi membawakan lagu ciptaan sendiri adalah tradisi yang diciptakan Koes Bersaudara. Koes bersaudara merupakan pelopor mencipta dan merekam lagu berbahasa Indonesia. Kemudian tradisi ini dilanjutkan Koes Plus dengan album serial volume 1, 2 dan seterusnya. Meskipun mulanya Koes Bersaudara dan juga Koes Plus berkiblat musik barat, tetapi suatu waktu Tonny Koeswoyo berseru agar musisi Indonesia jangan segan menggali kekayaan seni Musik Tradisional Indonesia. Dan ia benar benar-berhasil membuktikan dengan keberhasilannya meramu musiknya dengan warna lokal / tradisional Indonesia. Hingga hari ini sulit ditemukan musisi sekonsistensi Tonny dalam beridealisme. Hal ini dibuktikannya dengan sejumlah album Pop Indonesia, Pop Jawa, Pop Melayu, Pop Keroncong, kemudian "diversifikasi" menjadi Album Anak-anak, Natal, Qasidah, Another Song for You (bahasa Inggris), Album In Hard Beat, Folksong.

Tonny sangat piawai dalam melahirkan lagu dan syair berkualitas karena memiliki wawasan yang luas. Dengan berbekal bacaan filsafat yang bersumber dari Al Qur'an, Injil, Gitanjali, Bhagawad Gita, Vivekananda, dan lain sebagainya, menyebabkan lirik lagu yang dia ciptaan memiliki bobot.

Tidak hanya tema cinta yang diusung oleh Tony Koeswoyo, tetapi merambah pada tema Ke-Tuhan-an, tema Nasionalisme, Keindahan Alam, dan lain-lain.

Walaupun pada waktu itu sempat menimbulkan pendapat miring bagi pengamat musik, konsep mencipta lagu yang berlirik sederhana, dan easy listening, menjadikan lagu Koes Bersaudara dan Koes Plus bertahan hingga 6 dasawarsa, dan tidak mustahil menjadi "lagu rakyat" sepanjang masa. Ia juga menciptakan lirik yag indah serta penuh makna dengan gaya bahasa yang sederhana namun penuh arti. Hal itu juga dipengaruhi oleh kesukaannya membaca buku-buku sastra karya Chairil Anwar dan Yasunari Kawabata.

Lagu-lagu ciptaannya banyak didaur ulang oleh penyanyi di era setelah kematiannya. Diantaranya Chrisye yang menyanyikan lagu ciptaan Tony koeswoyo Cintamu tlah Berlalu dalam salah satu albumnya mengatakan lirik yang dibuat Tony Koeswoyo sangat dalam dan puitis. Lagu Andaikan Kau Datang sempat dipopulerkan kembali oleh Ruth Sahanaya. Lagu itu menjadi lagu favorit Presiden RI VI Susilo Bambang Yudhoyono yang selalu dinyanyikannya dalam berbagai kesempatan di Istana Negara. Pada tahun 2004 telah sukses digelar konser besar Salute to Koes Plus/Bersaudara yang digagas oleh komposer Erwin Gutawa, yang melibatkan penyanyi-penyanyi terkenal di era milenium II seperti : Armand Maulana, Audy, Glenn Fredly, Ruth Sahanaya, Andy /rif, Duta Sheila on7, Harvey Malaiholo, dsb.


Kehidupan pribadi dan sosial[sunting | sunting sumber]

Meski telah memutuskan untuk hidup dari musik, namun Tonny tetap berusaha memenuhi harapan kedua orang tuanya untuk meneruskan sekolah hingga sampai ke Perguruan Tinggi. Pendidikan terakhir yang sempat ditempuhnya adalah Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Jakarta IKIP Jakarta (sekarang UNJ) jurusan Sastra Inggris namun tidak selesai meski sudah tingkat persiapan. Di tempat kuliah, ia rajin mengikuti berbagai kegiatan kesenian mahasiswa yang diadakan di kampusnya. Dalam situasi negara yang sedang mengalami krisis politik berat di era Orde Lama, ia pun sempat ikut aktif dalam kegiatan organisasi kemahasiswaan. Ia aktif dalam organisasi (Himpunan Mahasiwa Islam) (HMI) dan Gerakan Mahasiswa Nasionalis Indonesia (GMNI). Di sana terlihat jelas 2 sisi pribadinya yang kuat yaitu unsur religiusitas dan nasionalisme.

Jiwa nasionalisme yang kuat tercermin dari seri lagu Nusantara 1-8 yang terdapat dalam beberapa album Koes Plus. Bersama Koes Plus, Tonny pernah pernah menjalankan misi rahasia dengan Pemerintah Orde Lama dalam rangka Operasi Ganyang Malaysia. Begitu pula dengan Pemerintahan Orde Baru, dengan bermain di Bandara Dili, Timor Timur menjelang masuknya tentara Indonesia ke wilayah bekas jajahan Portugis tersebut pada 1975. Dalam rangka “proyek politik” ini, lahir lagu semacam Diana (lagu itu bercerita mengenai putri petani, bernama Diana ~ Diana adalah nama yang tidak umum untuk petani di Jawa.) Selain itu juga lagu Da Silva yang terlihat jelas unsur Latinnya.

Tonny sempat bekerja pada instansi Perkebunan Negara, namun tidak lama. Ia mengundurkan diri dari pekerjaannya untuk fokus pada musik saat ditantang untuk menciptakan lagu sendiri sebagai syarat untuk masuk dapur rekaman. Di dalam kesuksesannya bermusik, ia pun tak melupakan jasa abangnya Jon Koeswoyo. Tonny dan adik-adiknya kerap membantu kelhidupan keluarga sang abang dengan menyisihkan sebagian penghasilan mereka.

Tonny menikah dua kali. Pertama ia menikah dengan Astrid Tobing, seorang wanita berdarah Tapanuli Selatan asal Sumatera Barat. Namun pernikahan ini berujung perceraian. Dari Pernikahan ini Tonny memperoleh 3 orang anak Ken Angelina, Eki Diparamita, dan Damon Wicaksi Wangsa. Damon (Damon Koeswoyo) mengikuti jejak Tonnya sebagai gitaris dan sempat memperkuat grup Koes Plus formasi baru pada tahun 1994. Selanjutnya Damon membentuk kelompok Dadakoe bersama saudara sepupunya, David Koeswoyo, putera Yon Koeswoyo.

Tonny kemudian menikah lagi dengan seorang wanita asal Amerika yang bernama Karen Julie. Kekagumannya kepada istrinya ini sempat ia tuangkan dalam sebuah lagu yang berjudul sama dengan nama istrinya. Dari pernikahan keduanya ini ia memperoleh 2 orang anak.


Meninggal Dunia[sunting | sunting sumber]

Tonny Koeswoyo tutup usia di Jakarta pada hari Minggu tanggal 27 Maret 1987 pada umur 51 tahun karena penyakit kanker usus yang mengakhiri hidupnya. Penyakit yang lama diabaikannya karena totalitasnya dalam bermusik. Intensitas bermusik yang tinggi menyebabkan raganya terlupakan. Tonny meninggal dengan tenang di hadapan keluarganya. Ia dituntun oleh abang tertuanya Jon Koeswoyo ketika menghadap Sang Khalik.

Tony Koeswoyo meninggal dalam keadaan tidak memiliki kekayaan berlimpah untuk menghidupi keluarganya. Istrinya bahkan sampai bekerja sebagai pengajar Bahasa Inggris pada sebuah TK Internasional di Pondok Indah Jakarta. Biaya perawatannya di Rumah sakit ditanggung oleh adiknya Nomo Koeswoyo. Beberapa sahabat sesama artis juga sempat memberikan batuan dana. Diantaranya Eddy Sud, koordinator artis Safari yang memberikan sumbangan sebanyak Rp 2,5 juta.

Saat menjalani perawatan di RS Setia Mitra, ketika penyakit yang diderita semakin parah, hasrat sebagai seorang musisi tidak sedikit pun berkurang. Ia dibantu oleh pemusik Onny Suryono, yang juga kawan akrabnya untuk membantu memegang gitar saat Tonny menemukan ide sebuah lagu. Terciptalah beberapa lagu yang terasa seakan merupakan warisan terakhir Tonny Koeswoyo sebagai seorang musisi. Cakrawala Hati, Dewi Sri, Nenek Sayang dan Wit Gedhang. Lagu itu seakan menjadi saksi sisa-sisa kedahsyatan seorang musisi yang merupakan revolusioner musik pop Indonesia.


Instrumen [sunting | sunting sumber]

Gitar[sunting | sunting sumber]

Organ[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

  1. ^ http://majalah.blogspot.com/2004/07/meniti-jejak-tony-koeswoyo.html#sthash.PGCaTmVD.dpuf