Keuangan pribadi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Keuangan pribadi (bahasa Inggris: personal finance) merupakan cabang ilmu finansial yang berhubungan dengan manajemen keuangan pribadi, keluarga dan perusahaan kecil. Keuangan pribadi berbeda dengan keuangan korporat yang mempelajari manajamen keuangan korporasi. Topik-topik utama yang dipelajari dalam keuangan pribadi antara lain matematika keuangan, pengelolaan dan perencanaan keuangan, perencanaan asuransi, investasi, pajak, hari tua dan warisan. Meskipun keuangan pribadi penting dipelajari, ilmu ini belum banyak dimasukkan dalam kurikulum pendidikan dan lebih sering diperoleh lewat kursus-kursus perencanaan keuangan. [1][2]

Definisi[sunting | sunting sumber]

Keuangan pribadi adalah istilah yang mencakup pengelolaan uang serta tabungan dan investasi. Hal ini termasuk juga penganggaran, perbankan, asuransi, hipotek, investasi, perencanaan pensiun, pajak dan rencana memiliki rumah atau properti. Istilah ini juga sering merujuk pada seluruh industri yang menyediakan layanan konsultasi keuangan kepada individu dan rumah tangga, seperti memberi saran tentang peluang dan risiko keuangan dan investasi.[3]

Keuangan pribadi adalah tentang mencapai tujuan keuangan pribadi, seperti memenuhi kebutuhan jangka pendek, perencanaan pensiun atau menabung untuk persiapan dana pendidikan anak. Untuk dapat mencapai tujuan keuangan, seseorang harus memiliki rencana keuangan yang matang dengan mempertimbangkan beberapa hal, seperti pendapatan, pengeluaran, kebutuhan hidup dan tujuan serta keinginan individu—dan membuat rencana untuk memenuhi kebutuhan tersebut dalam batasan-batasan keuangan.[3]

Seseorang juga harus memiliki tingkat literasi keuangan yang baik agar dapat memaksimalkan pendapatan dan tabungan serta mampu membedakan antara saran yang buruk dan baik agar dapat membuat keputusan keuangan yang tepat.[3]

Prinsip Keuangan Pribadi[sunting | sunting sumber]

Kunci agar pengelolaan keuangan pribadi tetap berada di jalur yang benar adalah dengan memahami prinsip-prinsip pengelolaan keuangan itu sendiri, yaitu prioritas, penghematan dan pengendalian.

  • Prioritas (Prioritization): berkaitan dengan kemampuan memahami kondisi keuangan, mengetahui apa saja yang menjadi sumber penghasilan, mampu membedakan mana kebutuhan dan keinginan dan tetap fokus pada tujuan serta rencana keuangan. Adapun yang menjadi prioritas pengeluaran antara lain sedekah atau dana sosial, tabungan, cicilan utang dan belanja kebutuhan rumah tangga.[3]
  • Penaksiran (Assessment): orang-orang ambisius selalu memiliki daftar ide tentang cara lain mencapai kesuksesan besar, seperti memiliki bisnis sampingan atau ide investasi. Mengelola keuangan pribadi, sama halnya dengan menjalankan bisnis, juga harus menilai potensi biaya dan manfaat dari setiap usaha baru.[3] Misalnya, pertimbangan untuk mempersiapkan dana pensiun sejak dini dengan mempertimbangkan target pencapaian dana, jangka waktu yang dibutuhkan hingga target dana tercapai, tingkat pengembalian per tahun, risiko investasi bahkan perbandingan matematis jika kita menunda persiapan dana pensiun.[4]
  • Pengendalian diri (Restraint): merupakan instrumen paling penting dalam keuangan pribadi. Menerapkan prinsip pengendalian diri dalam keuangan pribadi artinya menggunakan uang secara bijaksana agar pengeluaran tidak lebih besar daripada pendapatan. Kuncinya adalah dengan meminimalkan belanja konsumtif.[4]

Pentingnya Perencanaan Keuangan Pribadi[sunting | sunting sumber]

Tingginya kebutuhan untuk memenuhi konsumsi rumah tangga menuntut setiap orang memiliki perencanaan keuangan pribadi yang cermat dan matang agar pendapatan dan pengeluaran lebih stabil. Perencanaan keuangan yang sesuai kebutuhan diperlukan agar tercipta proses berkelanjutan yang akan mengurangi tekanan finansial, mendukung kebutuhan saat ini dan mempersiapkan kebutuhan di masa depan.[5]

Berikut adalah beberapa alasan pentingnya perencanaan keuangan pribadi.

  1. Meningkatkan arus kas: Perencanaan keuangan sangat dibutuhkan dalam meningkatkan arus kas dengan memantau pola dan sifat pengeluaran. Untuk menjaga agar lebih banyak uang yang disimpan, perlu dilakukan penganggaran yang cermat dan pengeluaran yang bijaksana serta memonitornya secara berkala.[5]
  2. Membantu mengidentifikasi kesalahan: Dengan memonitor pengeluaran dan perencanaan keuangan secara keseluruhan, kesalahan penggunaan dana dapat diidentifikasi sehingga memudahkan dalam melakukan evaluasi atas kesalahan tersebut.[5]
  3. Mewujudkan tujuan hidup: Setiap orang pasti memiliki tujuan hidup, seperti membeli kendaraan, membeli rumah, menikah dan sebagainya. Memiliki perencanaan keuangan yang tepat, seperti rencana penghematan dan menabung, dapat membantu seseorang dalam mencapai tujuan hidupnya.[5]
  4. Memiliki dana darurat: Dana darurat diperlukan untuk mengadapi kebutuhan mendesak, seperti biaya pengobatan ketika jatuh sakit, kehilangan pekerjaan dan masih harus memenuhi kebutuhan sehari-hari sambil mencari pekerjaan baru dan lain-lain.[5]
  5. Masa pensiun yang nyaman: Menyiapkan dana pensiun sedini mungkin dapat dilakukan dengan berinvestasi atau memiliki tabungan pensiun jika ingin menjalani masa pensiun dengan nyaman.[5]

Tantangan dalam Perencanaan Keuangan Pribadi[sunting | sunting sumber]

Salah satu kunci keberhasilan perencanaan keuangan pribadi yang sering diungkapkan para perencana keuangan adalah disiplin dan konsisten dalam menjalankan rencana keuangan yang telah dibuat sebelumnya. Namun dalam pelaksanaannya, perencanaan keuangan pribadi juga dihadapkan pada beberapa kesulitan atau tantangan berikut.

  1. Kehidupan tidak dapat diprediksi: Tabungan yang dikumpulkan untuk mewujudkan suatu rencana keuangan kadang harus dialihkan untuk keperluan tidak terduga yang membutuhkan biaya besar atau kebutuhan yang lebih penting dan mendesak.[6]
  2. Keluarga membentuk cara pandang seseorang terhadap uang, bisa baik atau buruk: Anak-anak yang sejak kecil dididik dengan kebiasaan hidup hemat dan menabung cenderung lebih cermat dan bijak dalam menggunakan uangnya ketika dewasa. Mereka yang memiliki hubungan kurang baik dengan orangtuanya, orangtua yang memiliki kebiasaan buruk (misalnya, pecandu alkohol atau obat-obatan) dan mengalami kesulitan finansial, seringkali harus menjalani beberapa pekerjaan untuk menyokong kebutuhan dirinya maupun keluarganya. Hal ini akan membuatnya lebih mampu menghargai uang karena tahu bahwa mencari uang itu tidak mudah.[6]
  3. Setiap orang memiliki keinginan yang berbeda: Berbeda keinginan, berbeda pula cara yang ditempuh untuk memperolehnya. Ada yang melakukannya dengan memiliki pekerjaan sampingan, menabung atau investasi dan berutang menggunakan kartu kredit. Hal ini juga berlaku pada preferensi seseorang dalam membeli barang, di mana ada orang yang lebih mengutamakan harga yang terjangkau dan ada yang lebih mengutamakan kemewahan.[6]
  4. Perbedaan pendapatan dan jumlah uang yang dimiliki: Kesenjangan upah menyebabkan orang-orang yang bekerja di suatu industri dan mengerjakan pekerjaan yang sama mendapat upah yang berbeda. Hal ini bisa disebabkan oleh beberapa hal, seperti ketidaksetaraan gender, diskriminasi rasial dan disabilitas yang masih sering terjadi di tempat kerja, Pendapatan yang terlalu rendah dan memiliki uang yang terlalu sedikit membuat kegiatan menabung atau investasi lebih sulit dilakukan.[6]

Strategi Pengelolaan Keuangan Pribadi[sunting | sunting sumber]

Mengelola keuangan pribadi membutuhkan strategi yang matang dan tepat agar tujuan keuangan tercapai sehingga seseorang dapat memiliki keamanan dan kebebasan finansial. Berikut adalah strategi pengelolaan keuangan pribadi yang dapat dilakukan.

  1. Menyusun anggaran: Anggaran adalah hal yang esensial dalam keuangan pribadi. Anggaran disusun sebagai panduan untuk hidup sesuai kemampuan dan memiliki tabungan yang cukup untuk mencapai tujuan keuangan jangka panjang. Ada beberapa metode penganggaran yang dapat digunakan. Salah satu yang populer adalah metode penganggaran 50:30:20.[3] Prinsip 50:30:20 ini dipopulerkan oleh Senator Amerika Serikat Elizabeth Warren dan putrinya, Amelia Warren Tyagi, dalam bukunya yang berjudul All Your Worth: The Ultimate Lifetime Money Plan, dengan pembagian sebagai berikut.[7]
    • 50% dialokasikan untuk kebutuhan sehari-hari: merupakan tagihan mutlak yang harus dibayar dan hal-hal yang diperlukan untuk bertahan hidup, seperti bayar sewa tempat tinggal, bayar tagihan listrik, belanja bahan makanan, asuransi, perawatan kesehatan, pembayaran utang minimum dan biaya transportasi; [3][7]
    • 30% dialokasikan untuk keinginan: merupakan semua tambahan kecil yang dikeluarkan dengan uang untuk hiburan, seperti makan malam, belanja tas dan gawai elektronik terbaru, menonton film, tiket acara olahraga dan liburan; [7]
    • 20% dialokasikan untuk kebutuhan di masa depan, seperti tabungan dana pensiun dan dana darurat.[7]
  2. Memiliki dana darurat: Dana darurat berfungsi sebagai dana cadangan jika ada pengeluaran tidak terduga, seperti biaya pengobatan, perbaikan mobil, ketika kehilangan pekerjaan sedangkan harus memenuhi kebutuhan sehari-hari dan sebagainya. Besarnya dana darurat idealnya adalah tiga sampai enam kali pengeluaran bulanan. Para perencana keuangan menyarankan untuk menyisihkan 20% dari pendapatan bulanan untuk ditabung sebagai dana darurat.[3]
  3. Membatasi utang: Ada dua prinsip mendasar mengenai utang. Pertama, tujuan utang bukan untuk sesuatu yang bersifat konsumtif. Kedua, disesuaikan dengan kemampuan finansial agar tidak mengganggu pemenuhan kebutuhan bulanan. Adapun rasio utang ideal yang umum diketahui adalah total cicilan bulanan tidak boleh lebih dari 1/3 (sepertiga) penghasilan bersih per bulan.[8]
  4. Menggunakan kartu kredit secara bijak: Kartu kredit bisa menjadi jebakan jika tidak digunakan dengan benar. Membayar cicilan tepat waktu, menjaga agar jumlah cicilan utang per bulan tidak lebih dari 30% dan menghindari pemakaian maksimum adalah langkah-langkah bijak dalam menggunakan kartu kredit.[3][8]
  5. Memonitor riwayat dan skor kredit: Sebelum memberikan kredit, bank atau lembaga keuangan akan mengecek riwayat kredit (dulu dikenal dengan nama BI checking) si nasabah. BI checking adalah Informasi Debitur Individual (IDI) Historis yang mencatat lancar atau macetnya pembayaran kredit. Nasabah yang memiliki riwayat kredit buruk akan mengalami hambatan untuk mendapatkan pinjaman dari bank atau lembaga keuangan lainnya.[9] Sekarang BI checking sudah digantikan dengan Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Di dalam SLIK terdapat informasi skor kredit SID yang digunakan oleh bank atau lembaga keuangan untuk menilai calon debiturnya. Penentuan skor kredit akan dilihat dari catatan kolektibilitas calon debitur. Skor kredit SID memiliki rentang 1-5 dengan rincian sebagai berikut.[9]
    • Skor 1: kredit lancar, artinya debitur selalu memenuhi kewajibannya membayar cicilan beserta bunganya setiap bulan hingga lunas secara tepat waktu;[9]
    • skor 2: kredit DPK atau kredit dalam perhatian khusus, artinya debitur tercatat menunggak cicilan selama 1-90 hari;[9]
    • skor 3: kredit tidak lancar, artinya debitur tercatat menunggak cicilan 91-120 hari;[9]
    • skor 4: kredit diragukan, artinya debitur tercatat menunggak cicilan 121-180 hari;[9]
    • skor 5: kredit macet, artinya debitur tercatat menunggak cicilan lebih dari 180 hari. Bank akan menolak debitur yang memiliki skor kredit 3, 4 dan 5.[9]
  6. Memiliki asuransi kesehatan dan jiwa: Asuransi kesehatan dan jiwa dapat memberikan berbagai manfaat, antara lain dapat digunakan untuk membiayai pengobatan atau perawatan, melindungi dari kehilangan aset serta utang, dapat mengganti pembayaran cicilan dan utang serta menambah dana untuk kebutuhan keluarga[10]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Situs Financial Planning Standard Board (FPSB) Indonesia

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Personal Finance dan Behavioral Finance". SINDOnews.com. Diakses tanggal 2021-11-15. 
  2. ^ "FPSB Indonesia". www.fpsbindonesia.org. Diakses tanggal 2021-11-15. 
  3. ^ a b c d e f g h i "Personal Finance". Investopedia (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2021-11-15. 
  4. ^ a b Zuhri, Nikmatullah; Akbar, Rahmatullah (2015). Ibu, Menteri Keuangan Keluarga. Solo: Tiga Serangkai. hlm. 26. ISBN 9786027321526. 
  5. ^ a b c d e f Mediatama, Grahanusa (2020-03-11). "Simak lima alasan kenapa penting mengatur keuangan Anda". PT. Kontan Grahanusa Mediatama. Diakses tanggal 2021-11-15. 
  6. ^ a b c d DeMatteo, Megan (2021-03-23). "Stop saying personal finance is simple—it isn't". CNBC (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2021-11-15. 
  7. ^ a b c d "Cara Mengatur Keuangan Pakai Metode 50/20/30 | Finansial". Bisnis.com. 2021-05-17. Diakses tanggal 2021-11-15. 
  8. ^ a b "Rasio Utang yang Ideal". harnas.co. Diakses tanggal 2021-11-15. 
  9. ^ a b c d e f g Media, Kompas Cyber (2021-06-26). "Ini Cara Mengecek dan Membersihkan Riwayat Kredit Kamu Halaman all". KOMPAS.com. Diakses tanggal 2021-11-15. 
  10. ^ "Tak Usah Pusing Lagi, Ini Cara Sederhana Atur Keuangan Pribadi". merdeka.com (dalam bahasa Inggris). 2021-06-21. Diakses tanggal 2021-11-15.