Kerajaan Tawaeli

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Kerajaan Tawaeli adalah salah satu Kerajaan yang ada di Lembah Palu (Kota Palu Sekarang). Kerajaan Tawaeli pada masa jayanya merupakan Kerajaan yang memiliki wilayah cukup luas mulai dari Ogoamas (Kecamatan Sojol Utara, Donggala. sekarang) sampai Lasoani (Kecamatan Mantikulore, Palu. sekarang).

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Sebelum abad ke 16 atau lebih tepatnya sebelum lembah palu terbentuk, telah berdiri sebuah kerajaan tua di Boya Peramba (Desa Nupabomba, sekarang). Tidak diketahui secara pasti tahun berdirinya, karena kurangnya literatur atau bukti fisik mengenai kerajaan ini salah satu faktornya karena masyarakat Suku Kaili sejak dahulu tidak mengenal Budaya Tulis.

Berdasarkan cerita rakyat yang di ceritakan secara turun temurun, Kerajaan Boya Peramba memiliki lima orang Langganunu. Langganunu adalah gelar asli bagi pemimpin kerajaan sebelum istilah MAGAU populer di tanah kaili. Adapun susunan Langganunu di kerajaan Boya Peramba adalah sebagai berikut:

  • Langganunu I Boya Peramba: ANAK WUMBULANGI
  • Langganunu II Boya Peramba: DJAELANGGA
  • Langganunu III Boya Peramba: PIALEMBAH (SIOLEMBAH)
  • Langganunu IV Boya Peramba: (P) BASANURINA (BASANUAMA)
  • Langganunu V Boya Peramba: (P) MARUKALULI (Dia yang pertama menciptakan motif bunga dari daun

bomba di kain ivo, kemudian di kain sutera, sehingga populer sampai sekarang disebut Sarung Bomba (Vuya Bomba dalam Bahasa Kaili)

Sekitar tahun 1550 anak Langganunu Marukaluli yang bernama Yuntonulembah setelah pulang dari Bone dan Luwu mulai memperkenalkan istilah baru untuk pemerintahan sebagai berikut:

  • MAGAU = MAHARAJA
  • MADIKA MALOLO = RAJA MUDA
  • MADIKA MATUA = Pelaksana Pemerintahan
  • BALIGAU = KETUA ADAT
  • GALARA = HAKIM
  • PABISARA = PEMBICARA
  • PUNGGAVA = Urusan Tani dan Ekonomi

Ada pula istilah lain yang telah lama digunakan di lingkungan Kerajaan Suku Kaili (istilah ini juga di gunakan di Kerajaan Kulawi, Kerajaan Sigi, dan Kerajaan Parigi) adalah sebagai berikut:

  • TADULAKO = Panglima Perang atau Urusan Keamanan
  • SABANDARA Bendahara atau Bandar Pelabuhan

Setelah peristiwa surutnya air laut dan terbentuknya dataran Lembah Palu, ramailah masyarakat yang sebelumnya bermukim di pegunungan untuk turun dan menetap di daerah baru tersebut. Tidak terkecuali mayarakat Boya Peramba di bawah pimpinan Labulembah yang menggantikan Langganunu Marukaluli, mengajak rakyatnya untuk turun dari pegunungan dan mulai membuka lokasi pemukiman yang dikenal sekarang dengan sebutan TAVA-ILI (Tawaeli) sekitar pertengahan abad ke 16. Maka dengan itu Kerajaan tua yang dikenal dengan nama Boya Peramba secara otomatis berubah penyebutannya menjadi Kerajaan Tavaili (Tawaeli).

Masa kejayaan Kerajaan Tawaeli adalah sekitar tahun 1888 ketika dipimpin oleh Magau ke VI Yangge Bodu di mana pada masanya dia berhasil meluaskan wilayah Kerajaan Tawaeli sampai ke Ogoamas (Kecamatan Sojol Utara, Donggala. sekarang) dan Lasoani (Kecamatan Mantikulore, Palu. sekarang).

Hingga pada tahun 1936 ketika Magau ke XI Lamakampali Djaelangkara (Raja terakhir Tawaeli) membagi wilayah Kerajaan Tawaeli menjadi 2 wilayah distrik.

  • Tawaeli Utara = Ibu kota Sirenja di bawah pimpinan H. Djamaludin Labulembah
  • Tawaeli Selatan = Ibu kota Tawaeli di bawah pimpinan Abd. Muluk Yoto Labulembah

Pada tahun 1954 Kerajaan Tawaeli di bubarkan dgn Magau Lamakampali Djaelangkara sebagai Raja terakhir. Wilayahnya yang terdiri dari 2 Distrik di gabungkan dengan Kabupaten Donggala (dibentuk berdasarkan bekas wilayah Kerajaan Tua Pudjananti, dan Kerajaan Banawa) yang telah diresmikan pada tahun 1952.

Daftar Raja Kerajaan Tawaeli[sunting | sunting sumber]

Magau Ke I Labulembah alias Madika Tonavu Jara[sunting | sunting sumber]

Dia adalah cucu dari Langganunu Ke 3 Boya Peramba yang bernama Pialembah. Dia juga yang pertama membuka lokasi pemukiman yang dikenal sekarang dengan sebutan TAVA-ILI (Tawaeli) sekitar pertengahan abad ke 16

MADIKA MALOLO: YUNTONULEMBAH alias Langgo

Magau Ke II Yuntonulembah alias Langgo[sunting | sunting sumber]

Dia adalah anak dari Langganunu Ke 5 Boya Peramba yang bernama Marukaluli. Dia yang pertama membentuk susunan pemerintahan sepulangnya dari Bone dan Luwu dan sekaligus juga memperkenalkan sistem pemerintahan legislatif dengan istilah Libu Ntodea dan membentuk satu dewan adat bernama Kotta Pattanggota (empat penjuru wilayah).

Kotta Pattanggota terdiri dari empat Kepala Kampung yang mewakili masyarakat di masing-masing kampung tersebut, dan empat Kepala Kampung tadi di pimpin lagi oleh seorang BALIGAU (Ketua Dewan Adat)

Pada masa kepemimpinan Dia masyarakat Kaili mulai mengenal tingkatan strata sosial, dan membaginya menjadi empat tingkatan:

  • Madika = Golongan Keturunan Raja atau Bangsawan
  • To Tua = Golongan Tokoh-Tokoh Masyarakat dan Keturunannya
  • To Dea = Golongan Masyarakat Biasa
  • Batua = Golongan Hamba atau Budak

Magau Ke III Daesalembah alias Madika Baka Tolu[sunting | sunting sumber]

Daesalembah adalah anak dari Rendanuama (Saudara Magau Yuntonulembah). Pada masa kepemimpinannya pusat kerajaan dipindahkan ke Sampaga Biru Liku (Lambara). Dia pula yang pertama kali menerima agama Islam di Tawaeli yang di bawa oleh Dg. Konda Alias Bulangisi asal dari Mandar, Murid Syech Yusuf di Gowa sekitar abad ke 17.

Magau Ke IV Mariama alias Magau Dusu[sunting | sunting sumber]

Mariama adalah anak ke empat dari Magau Daesalembah. Dia juga merupakan Magau Perempuan pertama setelah Pusat Kerajaan dipindahkan ke Tawaeli. Di masa kepemimpinan dia pertama kali kedatangan ulama besar Syech Husein Djalaludin Al-Ydrus alias Topo Sakaya Ompa (dari Iraq), berlabuh di pelabuhan IPI Kadongo.

MADIKA MALOLO: WUMBULABU (Kakak Sulung Mariama)

MADIKA MATUA: NURUDIN (Kakak ketiga Mariama)

Magau Ke V Dg. Pangipi alias Madika Beli[sunting | sunting sumber]

Dg. Pangipi adalah anak dari Daeasia (Daeasia merupakan cucu dari Yuntonulembah). Dia juga adalah Magau Perempuan ke dua setelah Mariama. Pada masa kepemimpinannya Dia kembali memindahkan pusat kerajaan dari Sampaga Biru Liku ke pemukiman Tavaili

MADIKA MALOLO: LAMAREWA

MADIKA MATUA: DATUMPEDAGI

BALIGAU: GASIMBULAVA

-Pemangku Jabatan Magau, Datumpedagi alias Pue Oge Nganga[sunting | sunting sumber]

Datumpedagi adalah saudara tiri Dg. Pangipi. Diangkat menjadi pelaksana harian sebagai Magau, atau pengganti Magau sementara karena Magau ke 6 dianggap belum cukup umur.

Magau ke VI Yangge Bodu alias Magau Pungu[sunting | sunting sumber]

Yangge Bodu adalah anak pertama Dg. Pangipi dengan Andi Tondrang. Di angkat oleh adat pada umur 12 tahun sehingga ditunjuk Wali Magau Datumpedagi untuk menggantikannya sementara. Yangge Bodu memerintah dari tahun 1888-1900, dia pula yang berjasa meluaskan kerajaan Tawaeli dari Ogoamas Damsol sampai Lasoani Mantikulore. Susunan pemerintahan pada masa dia adalah sebagai berikut:

MADIKA MALOLO: LINGGULEMBAH kemudian di ganti SEPELEMBAH (Adik Yangge Bodu)

MADIKA MATUA: DATUMPEDAGI alias Pue Oge Nganga

BALIGAU: Dg. MANTAKILA alias Papa Soso

GALARA: SABARISI

PABISARA: LASALOGO

MADIKA Baiya: PENGALEMBAH alias Madika Bobo

MADIKA Kayumalue: TANDALEMBAH

MADIKA Mamboro: KARAENG GALESONG

Penasehat Magau: YODO RADJALANGI alias Mangge Sule (Tokoh pembaharu yang pertama kali memperkenalkan huruf latin di Tawaeli)

Magau Ke VII Djaelangkara alias Mangge Dompo[sunting | sunting sumber]

Djaelangkara merupakan keturunan ke 5 dari Magau Daesalembah melalui anak terakhirnya yang bernama Daetika. Magau Djaelangkara dilantik hari selasa, 22 mei 1900, dan wafat 1906. Dia satu-satunya Raja Tawaeli yang mati diracun oleh Belanda di atas kapal ketika memeriksa wilayah perbatasannya dengan wilayah Kerajaan Toli-toli di perairan pantai Baerumu (Tompe). Djaelangkara adalah salah satu Magau yang keras terhadap penjajah Belanda, Dia selalu menentang kebijakan Belanda yang di anggap merugikan Kerajaan (sebelumnya hubungan Kerajaan Tawaeli dan Pihak Belanda terbilang harmonis) itulah salah satu alasan Belanda ingin menyingkirkan Magau Djaelangkara. Djaelangkara juga adalah ayah dari Magau Lamakampali (Raja Terakhir Tawaeli)

MADIKA MATUA: I VODJO

BALIGAU: Dg. MANTAKILA alias Papa Soso

GALARA: TANDALEMBAH

PABISARA: IEDO

Magau Ke VIII Tumpalembah alias Madika Bugi[sunting | sunting sumber]

Tumpalembah adalah anak dari Magau Yangge Bodu, kepemimpinan Magau Tumpalembah terbilang singkat hanya berlangsung selama 2 tahun 1906-1908. Faktornya karena situasi di Kerajaan Tawaeli masih belum kondusif pasca terbunuhnya Magau Djaelangkara oleh pihak Belanda. Tumpalembah akhirnya menyerahkan tahta kerajaan kepada adik dari Magau Djaelangkara yang bernama Labulembah.

Magau Ke IX Labulembah alias Madika Kejo[sunting | sunting sumber]

Labulembah adalah adik kandung dari Magau Djaelangkara. Labulembah memerintah dari 1908 sampai 1912, pada masa dia, dihapuslah istilah Baligau, Galara, Pabisara dan Punggava (Tetap mempertahankan istilah Madika Malolo dan Madika Matua) sehingga untuk urusan pertanian dan sebagainya dikelola oleh masing-masing kepala kampung di wilayahnya.

Magau Ke X Yoto Labulembah alias Papa Itjesale[sunting | sunting sumber]

Magau Yoto Labulembah

Yoto Labulembah atau lebih dikenal dengan nama Yotolembah alias Papa intjesale merupakan anak dari Magau Labulembah. Pada masa kepemimpinan Magau Yotolembah ini istilah penyebutan Madika Malolo masih sempat dipertahankan namun kemudian di ganti dengan istilah Kepala Distrik. Susunan pemerintahan Magau Yotolembah adalah:

  • MADIKA MALOLO (sempat dijabat oleh): BORMAN LEMBAH alias Papa Maskia
  • MADIKA MATUA: MADUSILA DATUMPEDAGI alias Pue Nggalevo

kemudian Madika Malolo diganti dengan Kepala Distrik

  • KEPALA DISTRIK Ke-1: MANGALA ULU LABULEMBAH alias Mangge Anditalo

-Pemangku Jabatan Magau, Radja Tiangso[sunting | sunting sumber]

Radja Tiangso dilantik menjadi pejabat Magau karena Pewaris sah Tahta Kerajaan yaitu Lamakampali masih sangat muda untuk diangkat sebagai Magau. Radja Tiangso memerintah dari tahun 1926-1930.

  • KEPALA DISTRIK Ke-2: LAMAKAMPALI DJAELANGKARA

Magau ke XI Lamakampali Djaelangkara[sunting | sunting sumber]

Lamakampali adalah anak dari Magau Djaelangkara. Diangkat menjadi Magau pada tahun 1930 namun baru pada tahun 1936 Lamakampali aktif menjalankan tugasnya sebagai Magau. Dia pula yang membagi wilayah Kerajaan Tawaeli menjadi 2 Distrik yang masing-masing dipimpin oleh Kepala Distrik yaitu:

Distrik Tawaeli Selatan

  • Kepala Distrik Tawaeli Selatan ke 1 = Abd. Muluk Yoto Labulembah
  • Kepala Distrik Tawaeli Selatan ke 2 = Moh. Duddin Borman Lembah
  • Kepala Distrik Tawaeli Selatan ke 3 = Radja Umar Yoto Labulembah

Distrik Tawaeli Utara

  • Kepala Distrik Tawaeli Utara ke 1 = H. Djamaludin Labulembah
  • Kepala Distrik Tawaeli Utara ke 2 = Moh. Duddin Borman Lembah
  • Kepala Distrik Tawaeli Utara ke 3 = Dg. Maladja Lamakampali
  • Kepala Distrik Tawaeli Utara ke 4 = Syaifudin Lamakampali
  • Kepala Distrik Tawaeli Utara ke 5 = Yuslin Borman Lembah

Dia adalah Raja terakhir di kerajaan Tawaeli karena pada tahun 1954 Kerajaan Tawaeli digabungkan dengan bekas wilayah Kerajaan Banawa dan mendirikan Kabupaten Donggala.

Peninggalan Kerajaan Tawaeli[sunting | sunting sumber]

Foto Saudara Magau Yoto Labulembah

Saat ini peninggalan Kerajaan Tawaeli hampir tidak dapat di temukan, selain hanya reruntuhan bekas Istana Raja.

Foto saudara dari Magau Ke X Yoto Labulembah. Berdiri di belakang dari kiri ke kanan adalah:

  1. Dg. Mabela
  2. Latandripapa
  3. Magau Yoto Labulembah

Duduk di depan dari kiri ke kanan adalah:

  1. Raja Dato
  2. Rawe Intan
  3. Daya Intan
  4. Busa Bulava
  5. H. Djamaludin (Kepala Distrik Tawaeli Utara Ke 1 Masa Kepemimpinan Magau Lamakampali)