KLM

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
KLM
Koninklijke Luchtvaart Maatschappij
KLM logo.svg
IATA ICAO Kode panggil
KL KLM KLM
Didirikan 7 Oktober 1919; 98 tahun lalu (1919-10-07)
Penghubung Bandara Amsterdam Schiphol
Program penumpang setia Flying Blue
Lounge bandara
  • KLM Crown Lounge
  • SkyTeam Lounge
Aliansi SkyTeam
Anak perusahaan
Armada 115
Tujuan 138
Slogan Journeys of Inspiration
Perusahaan induk Air France-KLM
Kantor pusat Amstelveen, Belanda
Tokoh utama
Pendapatan €9,643 milliar (2014)
Penghasilan operasi €175 juta (2014)
Karyawan 32.685 (2014)
Situs web klm.com

KLM (lengkapnya: Koninklijke Luchtvaart Maatschappij, secara harafiah berarti Perusahaan Dirgantara Kerajaan) adalah maskapai penerbangan nasional Belanda.[4] KLM berkantor pusat di Amstelveen, dengan operasinya berpusat di Bandara Amsterdam Schiphol. Pada bulan Mei 2004, KLM bergabung dengan Air France, untuk membentuk Air France-KLM. Namun, kedua maskapai penerbangan ini akan tetap terbang dengan merek mereka masing-masing. KLM juga merupakan anggota dari aliansi maskapai SkyTeam. KLM didirikan pada tahun 1919, sehingga KLM adalah maskapai penerbangan tertua yang masih beroperasi hingga saat ini dengan nama yang sama.

KLM mempunyai beberapa anak perusahaan, yakni KLM Cityhopper, KLM Cargo, KLM Flight Academy, KLM Engineering and Maintenance, Martinair, dan Transavia.com. KLM juga memegang 80% saham di Transavia Airlines, 50% di Martinair, dan 26% di Kenya Airways. KLM UK adalah anak perusahaan KLM lainnya, namun akhirnya digabung dengan KLM Cityhopper. KLM tercatat di bursa saham Amsterdam, New York dan Paris.

KLM mengoperasikan penerbangan penumpang dan kargo terjadwal ke hampir 130 destinasi. KLM telah lama mendapat reputasi sebagai salah satu maskapai penerbangan teraman di dunia[butuh rujukan]. Program penumpang setia KLM diberi nama Flying Blue. KLM telah menjalin kerja sama dengan berbagai maskapai, baik dengan anggota SkyTeam yang lain ataupun bukan.

Kantor pusat KLM
KLM Boeing 737
KLM Cityhopper Fokker 70

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Pendirian dan Tahun-Tahun Awal[sunting | sunting sumber]

Sebuah poster KLM, mungkin berasal dari akhir dekade 1920an, saat KLM baru saja membuka rute ke Jakarta[5]

Pada tahun 1919, seorang letnan penerbang muda bernama Albert Plesman menyeponsori pameran dirgantara ELTA, yang diadakan di Amsterdam. Pameran ini menuai sukses, sehingga setelah menarik uangnya dari investasi lain, ia pun berniat mendirikan maskapai penerbangan.[6] Pada bulan September 1919, Ratu Wilhelmina menganugerahkan maskapai yang bahkan belum didirikan ini dengan gelar "Koninklijke" (Kerajaan).[7] Pada tanggal 7 Oktober 1919, delapan pebisnis asal Belanda, termasuk Frits Fentener van Vlissingen, pun resmi mendirikan Koninklijke Luchtvaart Maatschappij (disingkat KLM) sebagai salah satu maskapai penerbangan pertama di dunia. Plesman pun ditunjuk menjadi administratur dan direktur pertama KLM.[6]

KLM pun terbang pertama kali pada tanggal 17 Mei 1920, dari Bandara Croydon, London, ke Amsterdam, dengan Jerry Shaw bertindak sebagai penerbangnya.[7] Penerbangan ini menggunakan sebuah De Haviland DH-16 bekas milik Aircraft Transport and Travel,[7] dengan kode registrasi G-EALU, membawa serta dua orang jurnalis asal Inggris dan beberapa surat kabar. Selama tahun 1920, KLM berhasil mengangkut total 440 orang penumpang dan 22 ton kargo. Pada bulan April 1921, setelah libur musim dingin, KLM melanjutkan operasinya dengan penerbangnya sendiri, dan dengan pesawat Fokker F.II dan Fokker F.III miliknya sendiri.[7] Pada tahun 1921, KLM memulai penerbangan terjadwal.

Fokker F-XVIII milik KLM di Hindia Belanda, 1932.

Penerbangan antar benua pertama KLM resmi dibuka pada tanggal 1 Oktober 1924,[7] dengan tujuan ke Batavia, di Hindia Belanda. Penerbangan pertama ini menggunakan sebuah Fokker F.VII[7] dengan kode registrasi H-NACC, dan diterbangkan oleh Van der Hoop.[8] Pada bulan September 1929, penerbangan terjadwal antara Amsterdam dan Batavia pun resmi diumumkan. Hingga meletusnya Perang Dunia II pada tahun 1939, penerbangan ini adalah penerbangan terjadwal terjauh di dunia.[7] Hingga tahun 1926, KLM telah melayani penerbangan ke Amsterdam, Rotterdam, Brussels, Paris, London, Bremen, Copenhagen, dan Malmö, menggunakan pesawat Fokker F.II dan Fokker F.III.[9]

Douglas DC-2 milik KLM bernama Uiver, sedang transit di Lapangan Udara Rambang, di pesisir timur Pulau Lombok, saat sedang mengikuti MacRobertson Air Race, dari Mildenhall, Inggris ke Melbourne pada tahun 1934.

Selama tahun 1930, KLM berhasil mengangkut total 15.143 penumpang. Douglas DC-2 pun mulai dipakai untuk penerbangan ke Batavia pada tahun 1934. KLM juga mulai melayani rute transatlantik antara Amsterdam dan Curaçao pada bulan Desember 1934, dengan menggunakan Fokker F.XVIII bernama "Snip".[7] Pada tahun 1936, KLM resmi menerima Douglas DC-3 pertamanya, DC-3 inipun digunakan untuk menggantikan DC-2 yang sebelumnya melayani rute ke Sydney via Batavia. KLM adalah maskapai pertama yang melayani rute ke bandara baru Manchester, mulai bulan Juni 1938. KLM adalah satu-satunya maskapai penerbangan sipil yang menerima Douglas DC-5, di mana KLM menjual dua diantaranya ke pemerintah lokal Hindia Belanda.

Perang Dunia II[sunting | sunting sumber]

Douglas DC-3 milik KLM di Bandara Manchester, pada tahun 1947

Ketika Perang Dunia II meletus pada tahun 1939, dan Belanda diduduki Jerman pada tahun 1940, sejumlah pesawat KLM (kebanyakan berjenis DC-3 dan beberapa DC-2) tetap terbang ke Timur Jauh dan Eropa. Lima unit DC-3 dan satu unit DC-2 pun diungsikan ke Inggris. Selama perang, pesawat-pesawat ini tetap melayani penerbangan berjadwal antara Bristol dan Lisbon di bawah nama BOAC.[butuh rujukan]

Satu unit Douglas DC-3 berkode registrasi PH-ALI "Ibis", yang lalu diubah kodenya menjadi G-AGBB, diserang beberapa kali oleh Luftwaffe pada tanggal 15 November 1942, 19 April 1943, dan akhirnya pada tanggal 1 Juni 1943 saat pesawat ini terbang sebagai BOAC Penerbangan 777, yang menyebabkan seluruh penumpang dan awaknya terbunuh.

Beberapa pesawat KLM lain juga beroperasi di wilayah Australia dan Hindia Belanda, di bawah bendera KNILM (dengan kode registrasi Hindia Belanda, PK-***), yang juga ikut mengangkut warga negara Belanda yang melarikan diri dari serangan Jepang tahun 1942.[butuh rujukan]

Pasca Perang Dunia II[sunting | sunting sumber]

Setelah Perang Dunia II berakhir pada bulan Agustus 1945, KLM pun segera membangun ulang jaringannya. Prioritas Plesman adalah untuk membuka kembali rute ke Batavia, karena Hindia Belanda waktu itu tengah memberontak terhadap penjajahan Belanda. Rute ini akhirnya dibuka kembali pada akhir tahun 1945.[6] Penerbangan domestik dan Eropa juga dibuka kembali pada bulan September 1945, dengan menggunakan pesawat Douglas DC-3 dan Douglas DC-4.[7] Pada tanggal 21 Mei 946, KLM menjadi maskapai asal Eropa pertama yang membuka rute transatlantik dari Amsterdam ke New York City, dengan menggunakan Douglas DC-4.[7] Hingga tahun 1948, KLM juga telah berhasil membangun ulang jaringan dan pelayanannya ke Benua Afrika dan Amerika.[6]

Lockheed L-749A Constellation milik KLM pada tahun 1953.

Beberapa Lockheed Constellation[10] dan Douglas DC-6[11] pun dibeli oleh KLM pada akhir dekade 1940an, begitu juga Convair 240, yang digunakan oleh KLM untuk rute ke Eropa pada akhir tahun 1948.[butuh rujukan]

Pada periode ini, pemerintah Belanda juga menyatakan ketertarikannya untuk meningkatkan kepemilikan saham di KLM, sehingga KLM dapat dinasionalisasi. Tetapi, Plesman ingin agar KLM tetap menjadi swasta, sehingga ia hanya memberikan sedikit kepemilikan saham ke pemerintah Belanda.[6] Pada tahun 1950, KLM berhasil mengangkut total 356.069 penumpang. Ekspansi jaringan KLM tetap berlanjut pada dekade 1950an dengan menambah beberapa rute ke Amerika Utara.[6] Armada KLM pun bertambah dengan dibelinya versi terbaru dari Lockheed Constellation, dan juga Lockheed Electra, di mana KLM adalah maskapai pertama di Eropa yang menerbangkannya.[6]

Vickers Viscount 803, milik KLM

Pada tanggal 31 Desember 1953, pendiri dan presiden KLM, Albert Plesman, meninggal dunia pada usia 64 tahun.[1][2] Sehingga posisinya digantikan oleh Fons Aler.[12] Di bawah kepemimpinannya, KLM mengalami kesulitan finansial, akibat mahalnya peralihan ke pesawat jet. Pemerintah Belanda pun meningkatkan kepemilikan sahamnya di KLM ke 66.67%, dan lalu menasionalisasinya.[6]

Pada tanggal 25 Juli 1957, KLM memperkenalkan simulator penerbangan Douglas DC-7C miliknya. Hal ini karena KLM akan menggunakan DC-7C untuk melayani rute transpolar dari Amsterdam ke Tokyo via Anchorage pada tanggal 1 November 1958.[7] Tiap awak yang menerbangi rute ini juga dibekali dengan alat pertahanan hidup, termasuk sebuah senapan 7.62 mm AR-10 untuk melawan beruang kutub, jika tiba-tiba pesawat harus mendarat darurat di wilayah kutub.[13]

Era Pesawat Jet[sunting | sunting sumber]

Dimulai pada bulan September tahun 1959, maskapai ini memperkenalkan turboprop empat mesin Lockheed Electra ke beberapa rute Eropa dan Timur Tengah. Pada bulan Maret 1960, KLM memperkenalkan Douglas DC-8 pertama ke armadanya. Pada tahun 1961, KLM melaporkan kerugian tahunan pertamanya. Pada tahun yang sama, presiden KLM, Fons Aler, digantikan oleh Ernst van der Beugel. Tetapi perubahan pimpinan ini tidak menyebabkan kesulitan keuangan KLM berubah. Van der Beugel mengundurkan diri sebagai presiden pada tahun 1963 karena alasan kesehatan. Horatius Albarda ditunjuk untuk menggantikan Ernst van der Beugel sebagai presiden KLM pada tahun 1963. Alberda memulai reorganisasi perusahaan, termasuk pengurangan staf dan penerbangan. Pada tahun 1965, Alberda meninggal dalam sebuah kecelakaan udara. Kemudian Dr. Gerrit van der Wal menggantikan Alberda sebagai presiden KLM. Van der Wal menjalin kesepakatan dengan pemerintah Belanda bahwa KLM akan dijalankan sekali lagi sebagai perusahaan swasta tanpa campur tangan dari pemerintah. Pada 1966, saham dari pemerintah Belanda di KLM pun dikurangi menjadi 49,5% (saham minoritas). Pada tahun 1966, KLM memperkenalkan Douglas DC-9 untuk rute Eropa dan Timur Tengah.

Lockheed Electra milik KLM di Bandara Manchester, pada tahun 1963

Bangunan terminal baru di Bandara Schiphol Amsterdam dibuka pada bulan April 1967 dan pada tahun 1968, Douglas DC-8-63 masuk dalam armada KLM. Dengan kapasitas 244 kursi, pesawat tersebut adalah pesawat terbesar pada saat itu. KLM merupakan maskapai pertama untuk menempatkan Boeing 747-200B ke dalam layanan mulai Februari 1971. Pesawat ini bermesin Pratt & Whitney JT9D, sehingga KLM pun mengawali era pesawat jet berbadan lebar. Pada Maret 1971 , KLM membuka kantor pusatnya di Amstelveen. Pada tahun 1972, KLM membeli Douglas DC-10 yang pertama. Pesawat ini adalah respon McDonnell Douglas untuk Boeing 747.

Pada tahun 1973, Sergio Orlandini ditunjuk untuk menggantikan Gerrit van der Wal sebagai presiden KLM. Pada saat KLM serta maskapai lainnya harus berurusan dengan kelebihan kapasitas. Orlandini mengusulkan untuk mengkonversi 747 menjadi 747 Combi yang bisa membawa kombinasi penumpang dan barang. Pada bulan November 1975, 747-200 Combi ditambahkan ke armada KLM

Krisis minyak tahun 1973 menyebabkan kondisi ekonomi menjadi sulit, sehingga KLM harus meminta bantuan pemerintah dalam mengatur utang. KLM pun menerbitkan saham tambahan kepada pemerintah. Pada akhir tahun 1970, saham pemerintah telah meningkat lagi menjadi saham mayoritas sebanyak 78%. Sehingga sekali lagi KLM dinasionalisasi.

1980an dan 1990an[sunting | sunting sumber]

McDonnell Douglas DC-10 milik Northwest Airlines (bernomor ekor N237NW) yang memakai livery Northwest-KLM. Tampak bagian kanan (di foto atas) dan bagian kiri (di foto bawah) pesawat tersebut

Pada tahun 1980, KLM berhasil mengangkut 9.715.069 penumpang. Pada tahun 1983, KLM berhasil mencapai kesepakatan dengan Boeing untuk mengonversi dek atas dari sepuluh unit Boeing 747-200 Combo miliknya menjadi lebih panjang. Konversi ini mulai dikerjakan pada tahun 1984 di pabrik Boeing di Everett, Washington, dan akhirnya selesai pada tahun 1986. Pesawat ini lalu diberi nama Boeing 747-200SUD atau 747-300, yang dioperasikan sebagai tambahan terhadap tiga unit Boeing 747-300 yang telah dimiliki KLM. Pada tahun 1983, KLM menerima sepuluh unit Airbus A310 baru, yang telah dipesan sebelumnya.[6] Sergio Orlandini mengundurkan diri pada tahun 1987 dan ia pun digantikan oleh Jan de Soet.[14] Pada tahun 1986, kepemilikan saham pemerintah Belanda di KLM dikurangi menjadi hanya 54.8%.[6] Diperkirakan, kepemilikan saham ini akan dikurangi lebih lanjut pada dekade tersebut.[6] Pada bulan Juni 1989, KLM memperkenalkan Boeing 747-400 terbarunya.[7]

Dengan adanya liberalisasi di pasar Eropa, KLM juga mulai mengembangkan penghubungnya di Amsterdam Schiphol dengan mengangkut penumpang dari maskapai yang bekerja sama dengannya.[6] Sebagai bagian dari pengembangan jaringannya ke luar negeri, KLM pun mengakuisisi 20% saham di Northwest Airlines pada bulan Juli 1989.[7] Pada tahun 1990, KLM berhasil mengangkut 16.000.000 penumpang. Presiden KLM, Jan de Soet mengundurkan diri pada akhir tahun 1990 dan ia pun digantikan oleh Pieter Bouw, pada tahun 1991.[15] Pada bulan Desember 1991, KLM menjadi maskapai Eropa pertama yang memperkenalkan program penumpang setia, yang diberi nama Flying Dutchman.[7]

Kerja Sama[sunting | sunting sumber]

Pada bulan Januari 1993, Departemen Transportasi Amerika Serikat memberikan persetujuan atas kerja sama KLM dan Northwest Airlines, sehingga keduanya dapat makin mengintensifkan kerja sama.[7] Pada tahun 1994, kepemilikan saham KLM di Northwest Airlines ditingkatkan menjadi 25%.[6]

KLM memperkenalkan armada Boeing 767-300ER terbarunya pada bulan Juli 1995.[7] Pada bulan Januari 1996, KLM mengakuisisi 26% saham di Kenya Airways, maskapai penerbangan nasional Kenya.[7] Pada tahun 1997, Pieter Bouw mengundurkan diri, dan ia pun digantikan oleh Leo van Wijk.[16] Pada bulan Agustus 1998, KLM membeli kembali seluruh sahamnya yang dimiliki oleh pemerintah Belanda, sehingga KLM pun resmi kembali menjadi swasta.[7] Pada tanggal 1 November 1999, KLM mendirikan AirCares, sebuah yayasan pengumpulan dana untuk anak telantar.[7]

KLM memperbarui armada antar benuanya dengan mengganti Boeing 767, Boeing 747-300, dan McDonnell Douglas MD-11 miliknya, dengan Boeing 777-200ER dan Airbus A330-200. MD-11 tetap dioperasikan oleh KLM hingga bulan Oktober 2014.[17][18] Boeing 777 pertama KLM dikirim pada tanggal 25 Oktober 2003, sementara Airbus A330-200 pertama KLM diperkenalkan pada tanggal 25 Agustus 2005.[7]

Bergabung dengan Air France[sunting | sunting sumber]

Pada tanggal 30 September 2003, Air France dan KLM setuju untuk bergabung, dan juga membentuk sebuah perusahaan induk bernama Air France–KLM, di mana Air France dan KLM akan menjadi anak usahanya. Kedua maskapai akan tetap memakai nama mereka masing-masing, serta Bandara Charles de Gaulle di Paris dan Bandara Schiphol di Amsterdam akan tetap menjadi penghubung utama kedua maskapai ini.[19] Pada bulan Februari 2004, Komisi Eropa dan Departemen Kehakiman Amerika Serikat pun menyetujui rencana penggabungan ini.[20][21] Pada bulan April 2004, pemegang saham KLM menukar sahamnya di KLM dengan saham di Air France.[22] Penggabungan inipun disetujui oleh pemegang saham masing-masing maskapai pada bulan yang sama.[23] Pada tanggal 4 Mei 2004, diumumkan bahwa penukaran saham telah selesai dilaksanakan.[24] Pada tanggal 5 Mei 2004, penggabungan Air France dan KLM pun dinyatakan selesai.[25] Sejak tanggal yang sama, Air France–KLM juga mencatatkam sahamnya di Euronext di Paris, Amsterdam, dan New York.[23] Pada bulan September 2004, dibentuklah perusahaan induk bernama Air France–KLM, sehingga penggabungan telah resmi selesai.[23] Penggabungan ini menghasilkan grup maskapai terbesar di dunia dan seharusnya mampu menghemat biaya operasi sebesar €400 juta hingga €500 juta.[25]

Walaupun begitu, tidak tampak bahwa kerja sama antara KLM dan Northwest Airlines (yang juga bergabung dengan Delta Air Lines pada tahun 2008) merenggang. KLM dan Northwest pun bersama-sama bergabung ke aliansi SkyTeam pada bulan September 2004. Pada tahun 2004 juga, beberapa manajer senior KLM diberitakan menerima bonus dari penggabungan dengan Air France, saat 4.500 orang pegawai lainnya harus dirumahkan akibat penggabungan ini. Setelah beberapa desakan dari pihak eksternal, manajer-manajer tersebut pun mengembalikan bonus yang telah mereka terima.[26]

Pada bulan Maret 2007, KLM mulai menggunakan sistem reservasi Amadeus, bersama dengan Kenya Airways. Setelah menjabat 10 tahun sebagai presiden, Leo van Wijk mengundurkan diri dan ia pun digantikan oleh Peter Hartman.[27]

2010an[sunting | sunting sumber]

KLM adalah maskapai terakhir yang mengoperasikan McDonnell Douglas MD-11 untuk mengangkut penumpang, KLM mempensiunkan MD-11 terakhir miliknya pada tahun 2014

Mulai bulan September 2010, KLM mengintegrasikan divisi angkutan penumpang milik Martinair ke dalam KLM, dengan memindahkan semua personel dan rutenya. Sehingga mulai bulan November 2011, Martinair hanya memiliki divisi kargo dan perawatan.[28] Pada bulan Maret 2011, KLM dan InselAir berhasil mencapai kesepakatan untuk melakukan kerja sama, sehingga mulai tanggal 27 Maret 2011, penumpang KLM dapat melanjutkan perjalanannya dengan InselAir, melalui penghubung InselAir di Curacao dan Sint Maarten.[29][30] Kerja sama ini diperkuat dengan diresmikannya perjanjian codeshare antara keduanya pada tahun 2012.[31]

Pada tanggal 20 Februari 2013, KLM mengumumkan bahwa Peter Hartman akan mengundurkan diri dari jabatannya sebagai presiden dan CEO KLM pada tanggal 1 Juli 2013. Ia pun digantikan oleh Camiel Eurlings. Hartman tetap menjadi pegawai KLM, hingga ia pensiun pada tanggal 1 Januari 2014.[32] Pada tanggal 15 Oktober 2014, KLM mengumumkan bahwa Eurlings telah mengundurkan diri dari jabatannya, sehingga ia pun digantikan oleh Pieter Elbers.[3]

KLM menerima penghargaan Best Airline Staff Service untuk wilayah Eropa, pada ajang World Airline Awards tahun 2013.[33] Ini adalah kali kedua berturut-turut KLM memenangkan kategori ini, setelah sebelumnya pada tahun 2012.[34]

Pada tanggal 19 Juni 2012, KLM menjadi maskapai pertama yang melayani rute transatlantik dengan menggunakan bahan bakar hayati, yakni ke Rio de Janeiro. Ini adalah penerbangan terjauh dengan bahan bakar hayati hingga saat ini.[35]

Armada[sunting | sunting sumber]

KLM Fleet
Aircraft In Service Orders Passengers Notes
C Y+ Y Total
Airbus A330-200 8 0 30 35 178 243 To be Phased Out, replaced by Airbus A330-900neo
Airbus A330-300 2 2 30 40 222 292 To be Phased Out, replaced by Airbus A330-900neo
Airbus A330-900neo 0 TBA TBA Replacing Airbus A330-200, and Airbus A330-300
Airbus A350-900 0 7 TBA
Boeing 737-700 18 0 20 6 106 132 To be Phased Out, Replaced by Boeing 737 MAX 7
Boeing 737-800 25 0 20 6 150 176 To be Phased Out, Replaced by Boeing 737 MAX 8
Boeing 737-900 5 0 28 18 132 178 To be Phased Out, Replaced by Boeing 737-900ER, and Boeing 737 MAX 9
Boeing 737-900ER 0 TBA TBA Replacing Boeing 737-900
Boeing 737 MAX 0 TBA TBA Order consists of both MAX 7, 8, and 9, and Replacing Boeing 737-700, -800, and -900
Boeing 747-400 5 0 35 36 337 408
Boeing 747-400M 15 0 35 36 197 268
Boeing 777-200ER 15 0 34 40 242 316
Boeing 777-300ER 12 0 34 40 334 408
Boeing 787-9 8 6 30 48 216 294
Boeing 787-10 0 7 TBA
KLM Cargo Fleet
Boeing 747-400ERF 4 0 112,760 kg All leased to Martinair Cargo
Total 119 20

[sunting | sunting sumber]

Evolusi logo KLM

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b "The Flying Dutchman is Forty". FLIGHT International 76 (2638): 321. 2 October 1959. Diakses tanggal 17 February 2013. 
  2. ^ a b "The Netherlands' Aviation Industry – KLM Royal Dutch Airlines". FLIGHT International 99 (3244): 686. 13 May 1971. Diakses tanggal 17 February 2013. 
  3. ^ a b KLM (15 October 2014). Pieter Elbers appointed President and CEO of KLM, replacing Camiel Eurlings. Siaran pers. Diakses pada 15 October 2014.
  4. ^ "Air France: Strikers against reality". The Economist (Paris). 20 September 2014. Diakses tanggal 14 April 2015. 
  5. ^ Vrije Universiteit Amsterdam. "Urban Nebula". 
  6. ^ a b c d e f g h i j k l m "Koninklijke Luchtvaart Maatschappij, N.V. History". International Directory of Company Histories 28. 1999. Diakses tanggal 30 July 2013. 
  7. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t "History". KLM Corporate. KLM. Diakses tanggal 30 July 2013. 
  8. ^ "H-NACC". Aviacrash.nl (dalam Dutch). Diakses tanggal 11 October 2015. 
  9. ^ (Dutch) Albert Heijn, ed (1969) KL-50 – logboek van vijftig jaar vliegen. Meijer, Amsterdam.
  10. ^ "A Gracious Lady – The Lockheed Constellation". KLM Blog. 21 September 2014. Diakses tanggal 6 November 2015. 
  11. ^ "The Six". Air & Space. Smithsonian Institution. Diakses tanggal 6 November 2015. 
  12. ^ "Civil Aviation – To Succeed Dr. Plesman". FLIGHT International 65 (2356): 347. 19 March 1954. Diakses tanggal 17 February 2013. 
  13. ^ Pikula, Sam (Major), The ArmaLite AR-10, Regnum Publications (1998), p. 73
  14. ^ "News Scan – KLM Royal Dutch Airlines". FLIGHT International 130 (4036): 8. 8 November 1986. Diakses tanggal 17 February 2013. 
  15. ^ "KLM Names New MD". FLIGHT International 137 (4205): 36. 28 February 1990. Diakses tanggal 17 February 2013. 
  16. ^ "People – KLM". FLIGHT International 151 (4577): 52. 4 June 1997. Diakses tanggal 17 February 2013. 
  17. ^ Reed, Ted (15 November 2014). "Good Bye MD-11 -- Too Bad Nobody Ever Loved You". Forbes. Diakses tanggal 10 October 2015. 
  18. ^ KLM (26 October 2014). KLM Operates Last MD-11 Passenger Flight. Siaran pers. Diakses pada 10 October 2015.
  19. ^ "Air France and KLM get close". The Economist. 6 October 2003. Diakses tanggal 17 February 2013. 
  20. ^ European Commission (11 February 2004). Commission clears merger between Air France and KLM subject to conditions. Siaran pers. Diakses pada 18 February 2013.
  21. ^ "History – 2004". SkyTeam. Diakses tanggal 18 February 2013. 
  22. ^ Air France (2 April 2004). Air France exchange offer for all common shares of KLM. Siaran pers. Diakses pada 18 February 2013.
  23. ^ a b c "2004–05 Reference Document" (PDF). Air France–KLM Finance. Air France–KLM. 12 July 2005. p. 6. Diakses tanggal 18 February 2013. 
  24. ^ Air France / KLM (4 May 2004). Successful Exchange Offer for KLM common shares by Air France. Siaran pers. Diakses pada 18 February 2013.
  25. ^ a b Air France / KLM (5 May 2004). Air France – KLM, A Global Airline Market Leader. Siaran pers. Diakses pada 18 February 2013.
  26. ^ "KLM senior managers forgo controversial bonuses". 
  27. ^ "People: 5 December 2006". Flight International. 5 December 2006. Diakses tanggal 17 February 2013. 
  28. ^ "Laatste passagiersvlucht Martinair". Blik op Nieuws.nl. 31 October 2011. Diarsipkan dari versi asli tanggal 1 November 2011. Diakses tanggal 1 November 2011. 
  29. ^ InselAir (18 March 2011). InselAir and KLM sign agreement. Siaran pers. Diakses pada 13 October 2015.
  30. ^ "InselAir to Offer Regional Flights for KLM". Routes Online. 21 March 2011. Diakses tanggal 13 October 2015. 
  31. ^ KLM. KLM and InselAir To Initiate Code-Sharing. Siaran pers. Diakses pada 13 October 2015.
  32. ^ KLM (20 February 2013). Camiel Eurlings Appointed KLM President & CEO. Siaran pers. Diakses pada 20 February 2013.
  33. ^ "The Best Airline Staff Service in Europe". World Airline Awards. Skytrax. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2 August 2013. Diakses tanggal 22 June 2013. 
  34. ^ "KLM Royal Dutch Airlines wins award for the 2012 Best Airline Staff Service in Europe". World Airline Awards. Skytrax. Diarsipkan dari versi asli tanggal 15 July 2012. Diakses tanggal 22 June 2013. 
  35. ^ "Biofuel flight to Rio". Klmtakescare.com. Diakses tanggal 29 November 2012. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]