Jīvaka

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Jīvaka Komārabhacca
Watkhungtaphao Herbal Garden, zoom.jpg
Nama lainKumārabhūta[1]
Data pribadi
Lahir
Rājagṛha, Magadha
Wafat
Rājagṛha, Magadha
AgamaBuddha
KebangsaanMagadha
Orang tua
  • Menurut beberapa teks, Raja Bimbisāra (ayah)
  • Salāwatī (ibu)
AlmamaterTakṣaśilā
Dikenal sebagaiPengobatan tradisional India, Pijat Thai
Nama lainKumārabhūta[1]
ProfesiTabib
Kedudukan senior
AhliAtreya
ProfesiTabib
KedudukanTabib pribadi Sang Buddha, Raja Bimbisāra, dan Ajātaśatru

Jīvaka Komārabhacca (bahasa Sanskerta: Jīvaka Kumārabhṛta)[2] adalah tabib pribadi (bahasa Sanskerta: vaidya) dari Sang Buddha dan Raja India Bimbisāra. Ia tinggal di Rājagṛha, sekarang Rajgir, pada akhir abad ke-5 SM. Terkadang disebut sebagai "Raja Pengobatan" (Pinyin: yi wang),[2] ia dikenal dalam catatan legenda di Asia sebagai pola acu dari para tabib, dan dihormati oleh para tabib tradisional di beberapa negara Asia.

Catatan-catatan mengenai Jīvaka dapat ditemukan dalam teks-teks Buddha awal dalam banyak tradisi tertulis seperti tradisi-tradisi Pāli dan Mūlasarvāstivāda, serta sutta-sutta Buddha pada masa berikutnya dan teks-teks devosional Avadāna. Tradisi-tradisi tertulis sepakat bahwa Jīvaka lahir sebagai seorang abdi dalem, namun orangtuanya tak diketahui secara pasti. Meskipun demikian Jīvaka dirawat dan dibesarkan oleh orang-orang dari istana kerajaan Raja Bimbisāra. Saat beranjak dewasa, Jīvaka memutuskan untuk pergi ke Takṣaśilā, untuk belajar pengobatan tradisional dari seorang guru yang dihormati. Ia kemudian menjadi murid menonjol. Setelah tujuh tahun, ia memulai pekerjaan sebagai tabib di Rājagṛha. Kemampuan pengobatannya membuatnya meraih reputasi dan ia kemudian diangkat menjadi tabib pribadi Raja Bimbisāra dan sang Buddha. Saat Jīvaka makin dekat dengan sang Buddha, ia menjadi pendukung penting dari agama tersebut dan kemudian mendirikan sangha Jīvakarāma. Kemudian, Bimbisāra dibunuh oleh putranya Ajātaśatru, yang merebut takhtanya. Kemudian, Jīvaka menjadi tokoh penting yang membawanya kepada sang Buddha, yang mengampuni perbuatan yang telah dilakukan oleh raja baru tersebut.

Dalam teks-teks tersebut, Jīvaka dikisahkan melakukan prosedur pengobatan yang rumit, termasuk kegiatan yang dapat ditafsirkan sebagai bedah otak. Para cendekiawan memperebatkan nilai sejarah dari kisah tersebut. Meskipun demikian, Jīvaka dihormati sepanjang sejarah Asia oleh umat Buddha. Ia dianggap sebagai pola acu dan orang suci oleh para tabib dari luar agama Buddha. Beberapa teks dan prosedur pengobatan di India dan Tiongkok diatributkan kepadanya. Sampai saat ini, Jīvaka dihormati oleh bangsa India dan Thai sebagai pelindung pengobatan tradisional, dan ia memiliki peran utama dalam seluruh upacara terkait pengobatan tradisional Thai. Selain itu, pesona legenda Jīvaka memiliki peran penting dalam membantu ceramah dan pengesahan agama Buddha. Beberapa penjelasan dari catatan Jīvaka diselaraskan dengan keadaan lokal dimana karya-karya tersebut disebarkan. Sangha Jīvakarāma diidentifikasikan oleh peziarah Tionghoa Xuan Zang pada abad ke-7, dan diekskavasi pada abad ke-19. Saat ini, sangha tersebut menjadi salah satu sangha Buddha tertua dengan reruntuhan arkeologi yang masih ada.

Sumber-sumber[sunting | sunting sumber]

Dalam Kitab naskah-naskah Buddha Tionghoa, sejumlah teks dapat ditemukan seputar Jīvaka.

Kehidupan Jīvaka dikisahkan dalam banyak tradisi tertulis Buddhis awal, dalam teks-teks bahasa Pāli, Tionghoa (dari tradisi-tradisi Dharmaguptaka, Mahīśāsaka dan Sarvāstivāda, semuanya diterjemahkan dari teks-teks India pada abad ke-5 M), Tibetan (Mūlasarvāstivāda) dan Sanskerta.[note 1] Kisah Jīvaka dapat ditemukan dalam teks-teks disiplin monastik (Pāli dan bahasa Sanskerta: Vinaya) dimana stratum tertua berasal dari paruh pertama abad ke-4 SM. Stratum tersebut meliputi peran dan aturan dalam pengobatan, juga terkait kehidupan dan karya Jīvaka, dan dapat ditemukan dalam berbagai tradisi tertulis.[4]

Selain itu, dalam kitab naskah Buddha Tiongkok, dua sutra (bahasa Sanskerta: sūtra) terpisah dapat ditemukan yang bukan merupakan bagian dari Vinaya, berjudul Sūtra Āmrapāli dan Jīvaka (yang dikenal sebagai T. 554) dan karya serupa berjudul Sūtra Avadāna Āmrapāli dan Jīvaka (T. 553). Dua sutta tersebut masing-masing berasal dari sebelum abad ke-5 M dan antara abad ke-7 dan ke-10, keduanya diterjemahkan dari sebuah sumber Sanskerta atau Asia Tengah. Secara tradisional, kedua terjemahan tersebut diatribusikan kepada An Shigao (148 – 180 M), namun atribusi tersebut tampaknya merupakan upaya agar karya tersebut menjadi tampak lebih tua dan sah. Salguero berpendapat bahwa karya-karya tersebut mungkin berdasarkan pada sebuah terjemahan yang dibuat oleh Zhu Fahu (233 – ±308 M), serta Vinaya awal dan bahan apokrifa abad ke-5. Meskipun catatan Vinaya ditujukan untuk kalangan biara, dua Sūtra Jīvaka tampaknya merupakan versi yang lebih populer dari catatan tersebut, yang diketahui oleh kaum awam secara luas. Sūtra T. 554 tampaknya memadukan dan terkadang menggantikan catatan Vinaya awal dalam kitab-kitab Mahīśāsaka dan Sarvāstivāda, beberapa diantaranya dicantumkan sebagai bagian dari Vinaya, dan sehingga hanya dapat ditemukan dalam sūtra tersebut. Sūtra T. 553 lainnya tampaknya berdasarkan pada T. 554, namun diperluas memakai bahan dari Vinaya Dharmaguptaka.[5]

Selain sumber-sumber tersebut, beberapa teks Avadāna juga berisi catatan tentang Jīvaka. Terdapat juga sejumlah rujukan kepadanya dalam sastra India yang tak bernuansa Buddha, seperti Māṭharavṛtti, sebuah komentar terhadap Sāṃkhyasūtra, dan sayir satir Kṣemendra, puisi Kashmiri abad ke-11.[6]

Sejarawan Kenneth Zysk dan C. Pierce Salguero membandingkan hasil penyuntingan kritis terhadap cerita tersebut dan menyatakan bahwa tidak ada yang merupakan teks asli, naratif asli tak dapat diketahui. Sehingga, mereka berpendapat bahwa penjelasan berbeda dipengaruhi oleh penyelarasan tradisi-tradisi lokal.[7][4] Contohnya, Salguero berpendapat bahwa Sūtra-Sūtra Jīvaka dari abad pertengahan yang bukan bagian dari Vinaya ditulis berdasarkan pada sebagian besar pengetahuan asli dari pengobatan Tionghoa: beberapa metode yang dipakai oleh Jīvaka, baik dalam Sūtra-Sūtra Jīvaka dan teks-teks Vinaya, lebih bernuansa Tionghoa alih-alih India,[8][3] dan kebanyakan motif dalam biografinya dipetik dari legenda-legenda dokter Tionghoa terkenal lainnya.[9] Zysk menyatakan bahwa rekensi Pāli lebih bersifat terapan, sementara tradisi-tradisi yang dipengaruhi oleh ajaran-ajaran Mahāyāna memberikan nuansa yang lebih magis dan ajaib. Ia juga menyatakan bahwa catatan-catatan Tibetan dan Sanskerta lebih menggambarkan pengobatan ketimbang nuansan India tradisional (Āyurveda). Setiap rekensi memiliki karakter regionalnya sendiri dalam pemahaman penyakit-penyakit dan bagaimana Jīvaka mengobatinya, meskipun terdapat juga banyak kemiripan.[10]

Penuturan[sunting | sunting sumber]

King Bimbisāra menyambut sang Buddha. Ukiran gading di Museum Nasional, New Delhi, India.

Jīvaka dideskripsikan dalam teks-teks Buddha sebagai tokoh sezaman dengan sang Buddha, yang ditanggalkan abad ke-5 SM oleh sebagian besar cendekiawan.[11] Terdapat perbedaan signifikan dalam bagaimana kehidupan awal Jīvaka ditutuprkan dalam tradisi tertulis yang berbeda. Dalam apa yang muncul pada versi terawal dari penjelasan tersebut, Jīvaka dideskripsikan sebagai bayi terlantar yang dibuang oleh seorang perempuan penghibur tanpa darah ningrat, dan kemudian ditemukan dan dibesarkan di istana oleh Pangeran Abhaya. Dalam versi-versi berikutnya, cerita tersebut meraih ketenaran di kalangan khalayak ramai, karena ibu Jīvaka diidentifikasikan sebagai perempuan penghibur yang berasal dari khayangan dan murid Buddha Āmrapāli, dan ayah yang sebelumnya tak disebutkan namanya dan kemudian disebut sebagai Raja Bimbisāra.[12] Selain itu, beberapa versi dari cerita tersebut berniat untuk menunjukkan bahwa Jīvaka adalah "Raja Pengobatan" yang sebenarnya, sebuah gelar yang dipakai untuk tabib legenda lainnya seperti tabib-tabib Tiongkok Bian Que dan Hua Tuo. Sebagian besar motif dalam penuturan tersebut menekankan dalam pengarahan tersebut: contohnya, Sūtra-Sūtra Jīvaka menyatakan bahwa Jīvaka dilahirkan dengan jarum-jarum akupuntur dan tumbuhan obat di tangannya, yang dipakai sebagai pendukung bahwa Jīvaka lebih unggul ktimbang tabib Tiongkok lainnya.[13] Dalam versi Sanskerta dan Tibetan, Jīvaka diakui dan disebut "Raja Pengobatan" oleh istana sebanyak tiga kali, setiap kali usai mukjizat pengobatan.[14][15] Sehingga, ia juga disebut sebagai "Tabib Bermahkota Tiga".[16]

Bayi terlantar[sunting | sunting sumber]

Teks-teks dari tradisi Pāli terawal,[1][4] serta karya Tionghoa Dharmaguptaka Vinaya dan T. 553 sūtra,[17] menyatakan bahwa Jīvaka lahir di Rājagṛha (sekarang Rajgir) sebagai anak dari seorang perempuan penghibur (bahasa Sanskerta: gaṇikā; dalam kitab-kitab Pāli dan Dharmaguptaka, ia bukanlah Āmrapāli, namun Salāwatī), yang meletakkanya di atas sebuah tumpukan sampah oleh seorang budak.[1][18][note 2] Ia kemudian dilihat oleh seorang pangeran bernama Abhaya, putra Raja Bimbisāra, yang bertanya apakah anak tersebut masih hidup. Saat masyarakat menanggapinya, ia memutuskan untuk membesarkannya dan menamainya "ia masih hidup" (bahasa Pali: jīvati), agar ia dapat bertahan hidup.[1][18] Tradisi-tradisi Pāli, Tibetan dan Sanskerta menjelaskan bahwa nama keduanya menjadi Komārabhacca, karena ia dibesarkan oleh seorang pangeran (bahasa Pali: kumāra), namun para cendekiawan menyatakan bahwa nama tersebut lebih tampak berkaitan dengan Kaumārabhṛtya: obstetrik dan pediatrik India kuno,[3][21] salah satu dari delapan cabang Āyurweda.[22] Saat dibesarkan, Jīvaka memahami asal usul memedihkannya, dan memutuskan untuk mendapatkan pendidikan baik bagi dirinya sendiri untuk mengganti rugi latar belakangnya.[18] Tanpa disadari oleh Pangeran Abhaya, ia ingin belajar pengobatan di sebuah tempat pembelajaran yang disebut Takṣaśilā (disebut oleh orang Yunani sebagai Taxila),[1][23] sekarang diidentifikasikan dengan sebuah kota di Islamabad, Pakistan.[18]

Pangeran[sunting | sunting sumber]

Ukiran gading yang menggambarkan Āmrapālī menyambut sang Buddha.

Teks-teks Sanskerta dan terjemahan-terjemahan Tibet awal dalam tradisi Mūlasarvāstivāda menyatakan bahwa Jīvaka lahir sebagai anak kandung dari Raja Bimbisāra dan istri pedagang,[17][19][18] yang dalam Sūtra-Sūtra Jīvaka dalam bahasa Tionghoa diidentifikasikan sebagai gundik Āmrapālī. Namun, dalam hasil penyuntingan kritis Sanskerta dan Tibet, istri pedagang tersebut masih tak disebutkan namanya, dimana Āmrapālī dianggap merupakan ibu dari Pangeran Abhaya alih-laih Jīvaka.[17] Teks-teks Sanskerta dan Tibet, serta sūtra T. 554, menjelaskan bahwa sang raja memiliki hubungan terlarang dengan perempuan bersuami tersebut dan kemudian perempuan tersebut memberitahukannya bahwa ia mengandung. Sang raja berkata kepada perempuan tersebut bahwa jika anak tersebut berjenis kelamin laki-laki, perempuan tersebut harus membawakannya kepada sang raja untuk dibesarkan di istana. Saat lahir, ia menempatkan anak tersebut di depan istana dalam sebuah peti. The Saat para pelayan sang raja mendapatinya, sang raja berkata "ia yang hidup" (Sanskerta dan bahasa Pali: jīvaka).[17][19] Sang raja menyerahkan anak tersebut untuk dibesarkan di istana kkepada seseorang yang disebut Zho-nu Jigmed dalam versi Tibet dari cerita tersebut. Di istana, anak tersebut meminati bidang pengobatan saat ia menyakiskan kunjungan para waidya (tabib). Sehingga, ia memutuskan untuk berlatih menjadi tabib di Takṣaśilā.[24] Dalam Dharmaguptaka Vinaya dan Sūtra-Sūtra Jīvaka berbahasa Tionghoa, Jīvaka menganggap rendah para guru pengobatannya di istana dan menunjukan pengetahuan pengobatannya yang lebih tinggi. Setelah itu, ia memutuskan untuk belajar di Takṣaśilā.[25] Pada masa itu, Takṣaśilā berada di bawah kekuasaan Akhemeniyah, usai penaklukan Lembah Indus oleh Akhemeniyah pada sekitar tahun 515 SM.[26][27]

Murid yang memukau hati[sunting | sunting sumber]

Teks-teks dalam tradisi Tiongkok menyatakan bahwa Jīvaka adalah seorang putra mahkota di sebuah kerajaan di India Tengah. Saat sang raja wafat, adiknya mempersiapkan sebuah pasukan untuk bertarung melawan Jīvaka. Namun Jīvaka berkata kepada saudaranya bahwa ia tak terlalu berminat dengan takhta tersebut, karena pikirannya berfokus kepada sang Buddha. Ia memukaukan perasaannya, menunjukkan gambar sang Vuddha yang diukir di hatinya. Adiknya terpesona dan menarik kembali pasukannya. Karena cerita tersebut, Jīvaka disebut 'Arhat yang memukau hati' (Pinyin: Kaixin Luohan).[21]

Dalam seluruh cerita, Jīvaka menyerahkan klaim takhtanya untuk belajar di Takṣaśilā.[25] Ia mungkin berusia enam belas tahun saat ia datang kesana.[22]

Kehidupan di Takṣaśilā[sunting | sunting sumber]

Reruntuhan Akaemeniyah Taxila, situs arkeologi Bhir Mound, abad ke-6 SM.

Ia berlatih selama tujuh tahun di Takṣaśilā oleh seorang ṛṣi (penglihat) yang disebut Ātreya Punarvasu,[25][28][note 3] yang dikatakan oleh teks-teks Tibetan merupakan tabib ayah Bimbisāra.[24]

Jīvaka mempelajari risalah-risalah pengobatan Āyurwedik klasik pada masa itu, seperti Caraka Saṃhitā (diatributkan kepada Ātreya)[30] dan Suśruta Saṃhitā,[31] meskipun pengobatan Jīvaka pada masa berikutnya juga menekankan tradisi pengetahuan pengobatan lainnya.[32] Ātreya membantu Jīvaka menghimpun keterampilan observasinya.[18] Jīvaka menjadi dikenal karena kemampuan observasinya, seperti yang dikisahkan dalam banyak cerita. Dalam satu catatan, Jīvaka melihat jejak kaki gajah dan dapat menyebutkan penunggang gajah dengan sangat mendetil, berdasarkan pada jejak kaki gajah tersebut.[18] Namun, teks-teks Tibetan menyatakan bahwa Jīvaka membuat iri murid lainnya yang menuduh Ātreya menyanjungnya, karena ia berasal dari istana.[24] Dalam versi Pāli dan Tionghoa dari cerita tersebut, Ātreya kemudian mengirim Jīvaka dan murid lainnya untuk melihat tumbuhan apapun di hutan yang tak memiliki kualitas medis. Namun, Jīvaka berkata kepada Ātreya bahwa ia tak menemukan tumbuhan tunggal yang tidak ia anggap memiliki kualitas medisnya.[22][33] Saat hal tersebut dijelaskan kepada Ātreya, ia memberikan sedikit uang kepada Jīvaka dan mengirimnya pulang,[1][23] namun tak mengetahui bahwa ia merupakan penerusnya pada masa berikutnya.[34]

Reruntuhan situs Piplan di Taxila.

Namun, dalam hasil penyuntingan kritis Sanskerta dan Tibet, tes hutan dilakukan sebelum Jīvaka diterima di Takṣaśila, bertentangan dan ujian pada akhir pembelajarannya. Usai Jīvaka menyelesaikan tes tersebut, menerima dan memahami intinya selama beberapa tahun, ia mulai mendemonstrasikan superioritas pengobatannya dan diterima oleh Ātreya.[35][36] Ia menyelesaikan pembelajarannya dengan Ātreya dan meneruskan pembelajarannya di kota Bhadraṅkara, Vidarbha, dimana ia belajar buku pelajaran yang disebut Sarvabhūtaruta, yang merujuk kepada buku tentang jampi-jampi peongobatan dan dharani.[37] Setelah itu, ia berjelajah dan mendapatkan benda ajaib yang membantunya melihat raga manusia dan menemukan penyakit-penyakitnya. Dalam catatan tersebut, yang juga ditemukan dalam Sūtra Jīvaka, Jīvaka menemui pria yang membawa ranting-ranting kayu. Dalam beberapa catatan, pria tersebut tampak mengalami kesakitan karena dampak dari ranting-ranting kayu tersebut, kurus dan berkeringat; dalam catatan lain, ranting-ranting kayu yang dibawa oleh pria tersebut membolehkan para pelintas untuk melihat punggungnya.[38][39] Meskipun demikian, Jīvaka membawa ranting-ranting tersebut dan menemukan bahwa, menurut kebanyakan teks Tionghoa, salah satu rantingnya berasal dari "Pogon Raja Pengobatan" (Pinyin: yao wang shu) yang ajaib:[34] pohon dari Bhaiṣajrayājan, yang teks-teks Mahāyāna berikutnya sebut sebagai seorangbodhisatwa, seseorang yang menjadi Buddha yang berfokus pada penyembuhan.[33] Namun, versi Tibetan dan Sanskerta menyatakan bahwa terdapat akik tersembunyi antara ranting-ranting tersebut yang merupakan sumber mukjizat-mukjizat.[38] Sehingga, benda ajaib terseut membolehkannya untuk melihat raga pasien dan mendiagnosa penyakitnya, karena benda tersebut "memperlihatkan bagian dalamnya seperti lentera yang menerangi rumah".[35] Catatan tersebut menimbulkan mitos soal "penyelidikan ultrasonik" kuno, seperti yang dibayangkan di kerajaan-kerajaan Buddha Asia pada abad pertengahan.[39]

Kehidupan sebagai tabib[sunting | sunting sumber]

Menurut teks-teks Pāli, dalam perjalanannya kembali ke Rājagṛha, Jīvaka membutuhkan uang untuk biaya perjalanannya, sehingga ia terpaksa untuk mulai bekerja di Sāketa. Seorang pedagang kaya (bahasa Pali: seṭṭhī) membujuk untuk membantu istrinya, karena banyak tabib gagal menyembuhkannya, Jīvaka menerima ajakannya dan menyatakan bahwa ia tak akan dibayar jika pengobatannya gagal. Ia berhasul mengobatinya, dan menerima bayaran. Setelah pulang ke Rājagṛha, ia menerima bayaran pertamanya dari Pangeran Abhaya, yang menggan melakukannya namun menerima Jīvaka untuk bekerja di istana.[22][40] Ia dengan cepat menjadi kaya karena jasanya terhadap pasien-pasien berpengaruh, termasuk Raja Bimbisāra.[41] Meskipun ia menerima bayaran baik dari para pelanggan kayanya, teks-teks juga menyatakan bahwa ia mengobati para pasien miskin secara gratis.[21] Saat raja Bimibisāra mengidap gangguan saluran buang air besar, ia meminta bantuan Jīvaka.[42] Setelah mengobati saluran buang air besar dari sang raja, Jīvaka diangkat oleh raja menjadi dokter pribadinya dan dokter pribadi sang Buddha.[22][43]

Jīvaka dikisahkan mengobati gangguan saluran pencernaan, melakukan operasi pembedahan tengkorak kepada seorang pasien,[1][44] mengangkat benjolan pada otak[44] dan melakukan pembedahan hidung.[45] Dalam T. 553, serta dalam Dharmaguptaka Vinaya, ia menyembuhkan "penyakit kepala" dengan mengopati pasien memakai minyak samin melalui hidungnya,[note 4] dan ia disebutkan dalam teks-teks Pāli melakukan laparotomi, menghilangkan volvulus pasca-traumatik dan operasi sesar terhadap para pasien di bawah beberapa bentuk anaesthesia.[43][47] Ini dan beberapa deskripsi prosedur pengobatan Jīvaka lainnya sangat mengikuti protokol Suśruta dan Charaka Saṃhitā.[32][11] Sūtra Jīvaka menyatakan bahwa ia juga melakukan akupuntur, namun tindakan tersebut merupakan interpolasi Tionghoa dalam naratif tersebut, karena itu adalah praktek Tionghoa.[48]

Lukisan Jīvaka (kiri gambar) karya Jin Dashou, Dinasti Song (abad ke-10 – 13), Tiongkok

Dalam kasus psikologi, Jīvaka mengobati seṭṭhī lainnya, kali ini dengan kondisi otak. Setelah melakukan bedah otak, ia berkata kepada pasien untuk merentangkannya sisi kanannya selama tujuh tahun, sisi kirinya pada tujuh tahun lainnya dan punggungnya selama tujuh tahun lainnya.[22] Pasien tersebut merentangkan setiap sisi selama tujuh tahun namun tak dapat merentangkannya lebih lama lagi, berdiri dari tempat tidurnya. Ia mempercayai kepada Jīvaka, yang berkata kepadanya agar ia melakukannya tujuh tahun pada setiap sisi untuk mendorongnya menyelesaikan tujuh hari penuh pada setiap sisinya.[22][49]

Dalam kasus lainnya yang disebutkan dalam teks-teks Mūlasarvāstivāda, Raja Bimbisāra memajukan Jīvaka kepada Raja Pradyota (bahasa Pali: Candappajjoti), Raja Ujjeni, untuk menyembuhkan penyakit kuningnya.[50] Jīvaka mengetahyunya melalui ranting ajaibnnya bahwa Pradyota diracun oleh seekor ular dan hanya dapat disembuhkan dengan memakai minyak samin, yang dibenci Pradyota.[51][52] Praydyota menjadi murka dan Jīvaka ragu apakah ia harus berniat untuk menyembuhkannya. Berkonsultasi kepada sang Buddha, sang Buddha berkata bahwa Jīvaka telah mengambil sumpah pada kehidupan sebelumnya bahwa ia akan mengobati raga-raga orang, sementara sang Buddha mengambil sumpah bahwa ia akan mengobati pikiran-pikiran orang—Jīvaka kemudian memutuskan untuk menyembuhkan raja tersebut.[52] Sehingga, Jīvaka memberikan rebusan kepada sang raja yang mengandung minyak samin, tanpa ia sadari. Mengantisipasi tanggapan sang raja, Jīvaka lari dari istana memakai salah satu gajah raja tersebut. Saat Raja Pradyota menjadi khawatir dengan keberadaan Jīvaka, ia mengirim salah satu pelayannya untuk menangkap dan mengirim balik Jīvaka. Pelayan tersebut berhasil menangkap Jīvaka, namun saat mereka bersantap, Jīvaka diam-diam memberikannya obat pencahar yang kuat. Pada waktu mereka memutuskan untuk kembali ke istana, Raja Pradyota sembuh dan tak lagi murka, sangat menghargai Jīvaka dalam penyembuhannya.[1][22][note 5] Dalam versi Pāli, ia dihargai dengan memberikannya busana mahal, yang kemudian ditawarkan Jīvaka kepada sang Buddha;[1][53] dalam versi Mūlasarvāstivāda, raja menganugerahi Jīvaka dengan memberikan ajaran sang Buddha, satu-satunya payaran yang diterima oleh Jīvaka.[54]

Catatan dalam sastra Jepang dan Tionghoa abad pertengahan mengisahkan Jīvaka menawarkan permandian kepada sang Buddha dan mendedikasikan jasa relijiusnya kepada seluruh makhluk. Cerita yang dipakai dalam masyarakat Asia Timur untuk mempromosikan nilai pengobatan dan ritual dari pemandian, mendorong manfaat penawaran permandian semacam itu kepada komunitas monastik sebagai bentuk "karma medis".[55][56]

Beberapa cendekiawan menegaskan catatan tentang Jīvaka sebagai bukti praktek pengobatan kuno,[53][57] dengan sejarawan kedokteran Thomas dan Peter Chen menyatakan bahwa "[ini] menampakkan bahwa peristiwa-peristiwa menonjol dari kehidupan Jivaka dan tindak pengobatannya bersifat otentik" dan menganalisis beberapa prosedur Jīvaka dari sudut pandang praktek pengobatan saintifik.[58] Namun, Salguero lebih bersikap skeptis dan berpendapat bahwa "legenda-legenda pengobatan singkatnya tak dapat dijadikan bukti praktek pengobatan".[59]

Peran dalam Buddhisme[sunting | sunting sumber]

Teks-teks Pāli sering mendeskripsikan Jīvaka memberikan pengobatan kepada sang Buddha untuk beberapa gejala, sepeti saat sang Buddha mengalami kedinginan,[60][61] dan saat ia terluka usai upaya mengancam nyawa dari biksu pemberontak Devadatta.[1][21] Peristiwa tersebut terjadi sebuah taman bernama Maddakucchi, dimana Devadatta menggulingkan batu kepada sang Buddha dari tebing. Walau batu berhenti diberhentikan oleh bantu lain di tengah jalan, serpihannya mengenai kaki sang Buddha dan menyebabkannya berdarah, namun Jīvaka menyembuhkan sang Buddha. Namun, Jīvaka terkadang lupa untuk menyelesaikan pengobatan tertentu. Dalam kasus semacam itu, sang Buddha mengetahui pikiran penyembuh dan menyelesaikan pengobatan tersebut sendiri.[62] Jīvaka berniat untuk menyembuhkan sang Buddha hanya memakai barang-barang yang dianggap istimwa, seperti sebagian bunga teratai alih-alih obat tumbuhan dari pohon.[63] Teks-teks Tibetan menyatakan bahwa Jīvaka sangat sering mengecek sang Buddha, sampai tiga kali sehari.[16] Jīvaka tak hanya mengobati sang Buddha, namun juga mengekspresikan perhatiannya kepada komunitas monastik, pada satu titik menyatakan bahwa sang Buddha menyatakan bahwa ia meminta para biksu untuk sering berolahraga.[21]

Selain perannya sebagai penyembuh, Jīvaka juga mengembangkan minat dalam ajaran-ajaran sang Buddha. Satu teks Pāli diambil dari nama Jīvaka: Sutta Jīvaka. Dalam sumber tersebut, Jīvaka menanyakan soal bagaimana menjadi pengikut awam yang baik.[64] Ia juga bertanya kenapa sang Buddha menyantap daging. Sang Buddha menanggapinya bahwa seorang biksu hanya boleh menyantap daging jika hewan tersebut tak dibunuh khusus untuknya—selain dari itu, daging diperbolehkan. Ia meneruskannya dengan berkata bahwa seorang biksu tanp dapat memilih makanan yang ia santap, namun harus menerima dan menyantap makanan tanpa memilih, hanya untuk memenuhi kesehatannya. Ajaran tersebut menginspirasi Jīvaka, yang memutuskan untuk mendedikasikan dirinya sendiri sebagai pengikut awam Buddha.[53][65] Tradisi Tibetan memiliki versi lain dari perbincangan Jīvaka: kebanggaan Jīvaka yang menganggap ia merupakan tabib terbaik di dunia mengusang usai menerima sang Buddha. Sang Buddha mengirim Jīvaka ke tempat-tempat legendaris untuk menemukan bahan-bahan, dan akhirnya Jīvaka menemukan bahwa ia masih belum mengetahui soal pengobatan, dan mengikuti sang Buddha untuk mengetahui hal lebih. Saat Jīvaka menerima sang Buddha sebagai "petinggi tabib", ia lebih menerima ajaran-ajaran Buddha dan sang Buddha mulai mengajarinya. Jīvaka mencurahkan dirinya sendiri kepada lima sila moral.[66]

Jīvaka berbincang dengan sang Buddha. Burma, 1875

Teks-teks Pāli menyatakan bahwa Jīvaka kemudian menjalani keadaan śrotāpanna, sebuah keadaan yang mendahului pencerahan. Saat menerimanya, ia mulai mengunjungi sang Buddha dua kali sepekan. Sejak ia lebih sering melakukan perjalanan jauh, ia memeutuskan untuk menyumbangkan tunas mangga kepada Rājagṛha dan membangun biara disana.[1][41] Biara tersebut dipakai oleh para biksu pada masa retret tahunan.[67] Kemudian, Jīvaka menjadi orang awam pertama yang tercatat menawarkan jubah kepada para biksu Buddha.[68] Mungkin, kelayakan kesehatan yang membuat Jīvaka menawarkan jubah, karena sebelum itu, para biksu Buddha biasanya akaan merajut jubah-jubah mereka dari potongan kain yang ditinggalkan, atau dari jasad, yang kurang higenis. Pada masa Jīvaka memberikan jubah, sang Buddha sedang sakit dan sakit tersebut dikarenakan kurangnya kehigenisan. Pada catatan yang sama, Jīvaka dikisahkan menyumbangkan juah yang terbuat dari bahan wol, yang dipakai pada musim dingin.[69]

Pada akhir masa pelayanan Buddha, Raja Bimbisāra ditahan oleh putranya Ajātaśatru, yang merebut takhtanya.[70] Berniat untuk membuat ayahnya sendiri menjadi mati kelaparan, Ajātaśatru mendengar bahwa ibunya perniat untuk mencegah Bimbisāra dari mati kelaparan. Menurut teks-teks Mūlasarvāstivāda, Ajātaśatru nyaris membunuh ibunya akibat kemarahan, namun dihentikan oleh Jīvaka dan seorang menteri, yang memperingatkannya bahwa ia akan dianggap berbuat sia-sia (bahasa Sanskerta: caṇḍala) jika ia membunuh ibunya sendiri.[71] Kemudian, Bimbisāra mati kelaparan dan meninggal. Ajātaśatru terserang tumor usai ayahnya meninggal, dan meminta Jīvaka untuk menyembuhkannya. Jīvaka berkata bahwa ia membutuhkan daging untuk menyembuhkan tumur tersebut. Saat Ajātaśatru berencana untuk menyantap seorang anak, ia mengingat bahwa ia membunuh ayahnya. Saat ia berpikir soal pembunuhan ayahnya, tumor tersebut menghilang.[72] Ajātaśatru menyesali apa yang ia lakukan.[70] Kemudian, Jīvaka memutuskan untuk mengirim Ajātaśatru untuk menghadap sang Buddha untuk menebus perbuatannya yang salah.[21] Dalam teks-teks Mūlasarvastivāda, ini terjadi usai Jīvaka memperlihatkan contoh-contoh orang jahat lainnya yang masih diselamatkan meskipun berbuat salah, dan setelah Jīvaka mengingatkan kembali Ajātaśatru bahwa sang Buddha berada pada akhir hidupnya.[73] Namun, pada teks-teks Mahāsaṃghika, Ajātaśatru berkonsultasi kepada pada menterinya soal kemana ia harus mengadu. Meskipun pata menterinya merekomendasikan untuk mendatangi beberapa guru non-Buddha lainnya, Jīvaka kemudian menasehati raja baru tersebut untuk mendatangi sang Buddha.[74]

Dalam teks-teks Buddha, sang Buddha mendeklarasikan Jīvaka sebagai tokoh terdepan di kalangan kaum awam yang dikasihi oleh masyarakat,[21][53] dan teks-teks Pāli menyebutnyse abagai contoh orang yang tugas akan keyakinan dalam agama Buddha.[53] Jīvaka banyak dikenal karena keterampilan menyembuhkannya, yang tak dapat ia tanggapi ke seluruh orang yang menginginkan bantuannya. Sejak Jīvaka memberikan prioritas kepada komunitas monastik Buddha, beberapa orang membantu pertolongan medis seperti halnya memberikan penahbisan biksu. Jīvaka menjadi tersadar akan hal tersebut dan merekomendasikan sang Buddha untuk menyoroti penyakit-penyakit orang sebelum penahbisan,[6][21] kemudian Buddha melakukannya untuk lima penyakit.[64]

Meskipun Jīvaka digambarkan menunjukkan penghormatan besar terhadap sang Buddha dan menyoroti dan membantu komunitas monastik, terdapat setidaknya satu kasus dimana ia gagal menunjukkan penghormatan. Ini terjadi pada kasus Paṇṭhaka, seorang biksu yang dianggap bodoh bagi banyak orang. Jīvaka juga menyatakan hal tersebut, dan saat ia mengundang sang Buddha dan komunitas monastik untuk bersantap, Paṇṭhaka menjadi satu-satunya biksu yang tak ikut serta. Sang Buddha, yang datang untuk bersantap, enggan untuk mulai bersantau, meminta orang-orang untuk mencari Paṇṭhaka. Jīvaka mengirim pelayan untuk mengantar Paṇṭhaka, namun pelayan terkejut karena menemukan 1.250 Paṇṭhaka yang berjalan di sekitaran monasteri, karena Paṇṭhaka mengeluarkan kemampuan supranturalnya. Kemudian, Paṇṭhaka yang asli bergabung untuk bersantap, namun Jīvaka masih tak memahami gaya mental dari biksu tersebut. Jīvaka baru mengubah pemikirannya saat Paṇṭhaka menunjukkan kemampuan supranatural lainnya, memperpanjang lengannya untuk mengambil mangkuk dana sang Buddha untuknya. Jīvaka tertunduk pada kaki biksu tersebut untuk meminta pengampunannya.[75]

Peninggalan[sunting | sunting sumber]

Catatan-catatan Tionghoa abad pertengahan tentang Jīvaka bersifat hagiografi, dan lebih dipakai dalam proselitisme Buddhisme ketimbang dianggap sebagai biografi pengobatan.[76] Karena pengetahuan penyembuhan dan proselitisme Buddhisme sangat berkaitan, pujian bagi kemampuan pengobatan Jīvaka juga meraih pujian dan legitimasi Buddhisme.[77] Dalam teks-teks Tionghoa tentang pengobatan dari zaman Enam Dinasti (awal abad pertengahan), Jīvaka memberikan ketonjolan di antara seluruh tabib, dan kisah-kisahnya mempengaruhi kisah-kisah tentang tabib legendaris lainnya serta dipengaruhi oleh kisah-kisahnya.[78] Di Asia Timur, Jīvaka diadodiasikan dengan ginekologi, dan nama Jīvaka dikaitkan dengan patologi perempuan kuno dan paediatrik.[79][80] Beberapa rumus pengobatan abad pertengahan diambil dari namanya, dan ia disebutkan dalam sejumlah teks pengobatan dari setidaknya abad ke-4 M. Dalam teks-teks farmakologi Tionghoa abad ke-6, kalimat "Segala hal di bumi tidak ada kecuali pengobatan" [sic] diatributkan kepadanya.[22][81] Dalam pengobatan Tionghoa abad ke-10, banyak risalah diasosiasikan atau diatributkan kepada Jīvaka.[82] Terdapat juga bukti yang menunjukkan Jīvaka dianggap sebagai figur penting untuk pengobatan Āyurwedik India:[83] contohnya, Ḍalhaṇa, seorang cendekiawan India yang hidup antara abad ke-11 dan ke-13, menulis dalam komentar terhadap Suśruta Saṃhitā bahwa "kompendium Jīvaka" dianggap sebagai teks otoritatif tentang penyakit anak-anak, meskipun teks tersebut sekarang telah hilang.[22] Ini tak menandakan bahwa Jīvaka dimuliakan di seluruh Asia; beberapa teks India abad pertengahan seperti Māṭharavṛtti, dan syair-syair Kṣemedra, menggambarkannya, serta tabib lainnya, sebagai penyaru.[84] Teks-teks Buddha-India lebih memberikan penghormatan terhadap pekerjaan tabib,[84] dan pengetahuan pengobatan sangat dihormati.[85] Ini berkaitan dengan doktrin keselamatan agama Buddha, dimana Buddha sering digambarkan sebagai dokter yang menyembuhkan penyakit-penyakit umat manusia.[84]

Jīvaka dianggap oleh orang-orang Thai sebagai pencipta pengobatan dan pijat Thai.

Jīvaka dan beberapa tabib Buddha dan tradisional menjadi ikon dan sumber inspirasi.[46] Figur Jīvaka dipersembahkan dalam teks-teks kuno sebagai bukti untuk superioritas Buddhisme di alam spiritual serta pengobatan. Sūtra Jīvaka dan versi Mūlasarvāstivāda mengisahkan bahwa saat Jīvaka menemui sang Buddha, sang Buddha membuat pernyataan bahwa "Aku mengobati penyakit dalam; kau mengobati penyakit luar", kata mengobati (Pinyin: zhi) dalam konteks tersebut juga memiliki arti 'memerintah'.[52][86] Sepanjang abad pertengahan, catatan tentang Jīvaka dipakai untuk melegitimasi praktek-praktek pengobatan.[87] Dalam teks-teks Buddha awal yang diterjemahkan ke dalam bahasa Tionghoa, Jīvaka dideitifikasi dan dideskripsikan dalam istilah yang sama dengan yang dipakai untuk para Buddha dan bodhisatwa. Ia menjadi disebut "Raja Pengobatan", sebuah istilah yang dipakai untuk beberapa tabib Tiongkok legendaris.[88] Terdapat bukti bahwa pada zaman dinasti Tang (abad ke-7 – 10), Jīvaka disembah disepanjang Jalur Sutra sebagai dewa pelindung kesehatan anak-anak.[87] Saat ini, Jīvaka dipandang oleh orang-orang India sebagai bapak penyembuhan tradisional,[89] dan dianggap oleh orang-orang Thai sebagai pencipta pengobatan dan pijat Thai.[76][90] Orang-orang Thai masih memulaikannya untuk meminta bantuan untuk penyembuhan,[76] dan ia memainkan peran utama dalam nyaris seluruh upacara yang menjadi bagian dari pengobatan Thai tradisional.[91] Banyak kisah bermunculan soal perjalanan Jīvaka ke Thailand.[76]

Dalam tradisi-tradisi tertulis Sanskerta, Jīvaka adalah orang kesembilan dari enam belas Arhat, para murid yang dipercayakan untuk melindungi ajaran sang Buddha sampai kebangkitan Buddha berikutnya. Sehingga, ia dideskripsikan masih hidup di puncak gunung bernama Gandhamādana, antara India dan Sri Lanka, dalam teks-teks Buddha.[21] Monasteri yang dipersembahkan oleh Jīvaka kepada komunitas Buddha menjadi dikenal sebagai Wihāra Jīwakarāma, Jīwakāmrawaṇa atau Jīwakambawana,[92][41][93] dan diidentifikasikan oleh peziarah Tionghoa Xuan Zang (ca. 602 – 64) dengan sebuah monasteri di Rajgir.[94] Reruntuhannya ditemukan dan diekskavasi pada periode dari 1803 sampai 1857.[22] Monasteri tersebut dideskripsikan oleh para arkeolog sebagai "... salah satu monasteri India terawal yang berasal dari zaman Buddha".[95][96]

Catatan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Teks-teks dari tradisi Mahāsaṃghika tentang Jīvaka terpotong-potong.[3]
  2. ^ Buddhologis Jonathan Silk [nl] membuat catatan terhadap sebuah pasal dalam komentar kepada Dhammapada, yang menyatakan bahwa pelacur-pelacur jarang mengambil putranya, karena mereka lebih menjalani hidup mereka dengan para putri mereka.[19] Sejarawan Y.B. Singh berkata bahwa anak tersebut akan merusak reputasi perempuan panghibur tersebut dan juga sumber pemasukannya.[20]
  3. ^ Versi Pāli dari penjelasan tersebut tak mengidentifikasikan siapa guru Jīvaka.[29]
  4. ^ Menganalisis cerita tersebut dari sudut pandang pengobatan saintifik, para sejarawan kedokteran Thomas dan Patrick Chen berspekulasi bahwa Jīvaka memakai minyak samin sebagai alat labur, dan mengurangi rasa sakit yang disebabkan sakit kepala.[46]
  5. ^ Chen dan Chen berspekulasi bahwa saat disamarkan sebagai lemak, minyak samir dapat membantu kantung empedu untuk berkontraksi dan mengangkat koleresis, sehingga kantung empedu terangkat dan menyembuhkan penyakit kuning.[46]

Kutipan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d e f g h i j k Malalasekera 1960, Jīvaka.
  2. ^ a b Salguero, C. Pierce (2009). "The Buddhist Medicine King in Literary Context: Reconsidering an Early Medieval Example of Indian Influence on Chinese Medicine and Surgery". History of Religions. 48 (3): 183. doi:10.1086/598230. JSTOR 10.1086/598230. 
  3. ^ a b c Zysk 1998, hlm. 53.
  4. ^ a b c Zysk 1998, hlm. 52.
  5. ^ Salguero 2009, hlm. 186 – 8, 190, 192.
  6. ^ a b Granoff 1998, hlm. 288.
  7. ^ Salguero 2009, hlm. 186.
  8. ^ Salguero 2009, hlm. 194, 199.
  9. ^ Salguero 2009, hlm. 201.
  10. ^ Zysk 1998, hlm. 53, 60.
  11. ^ a b Chen & Chen 2002, hlm. 89.
  12. ^ Salguero 2009, hlm. 195 – 6.
  13. ^ Salguero 2014, hlm. 126 – 7.
  14. ^ Zysk 1998, hlm. 58.
  15. ^ Kapoor 1993, hlm. 40 – 1.
  16. ^ a b Clifford 1994, hlm. 39.
  17. ^ a b c d Salguero 2009, hlm. 195.
  18. ^ a b c d e f g Singh et al. 2011.
  19. ^ a b c Silk 2007, hlm. 304 – 5.
  20. ^ Singh 1993, hlm. 184 n.25.
  21. ^ a b c d e f g h i Buswell & Lopez 2013, Jīvaka.
  22. ^ a b c d e f g h i j k Muley, Gunakar. "Great Scientists of Ancient India: Jivaka Kaumara-Bhrtya". Vigyan Prasar. Departemen Sains dan Teknologi, Pemerintahan India. Diarsipkan dari versi asli tanggal 22 April 2001. 
  23. ^ a b Le 2010, hlm. 48 – 9.
  24. ^ a b c Rabgay 2011, hlm. 28.
  25. ^ a b c Salguero 2009, hlm. 196.
  26. ^ Lowe & Yasuhara 2016, hlm. 62.
  27. ^ Le 2010, hlm. 50.
  28. ^ Deepti & Nandakumar 2015, hlm. 283.
  29. ^ Salguero 2009, hlm. 196 n.50.
  30. ^ Zysk 1982, hlm. 78.
  31. ^ Chen & Chen 2002, hlm. 88.
  32. ^ a b Zysk 1998, hlm. 121.
  33. ^ a b Zysk 1998, hlm. 55.
  34. ^ a b Salguero 2009, hlm. 197.
  35. ^ a b Zysk 1998, hlm. 54.
  36. ^ Thakur 1996, hlm. 80.
  37. ^ Zysk 1998, hlm. 54, 56.
  38. ^ a b Olshin 2012, hlm. 132 – 3.
  39. ^ a b Chhem 2013, hlm. 11 – 2.
  40. ^ Mookerji 1989, hlm. 469.
  41. ^ a b c Keown 2004, hlm. 127.
  42. ^ Salguero 2009, hlm. 199.
  43. ^ a b Salguero 2009, hlm. 198.
  44. ^ a b Banerjee, Ezer & Nanda 2011, hlm. 320.
  45. ^ Chakravarti & Ray 2011, hlm. 14.
  46. ^ a b c Chen & Chen 2002, hlm. 91.
  47. ^ Sano 2002, hlm. 861.
  48. ^ Salguero 2009, hlm. 194.
  49. ^ Braden, Charles Samuel. "Chapter 6: The Sacred Literature of Buddhism". Religion Online. Diarsipkan dari versi asli tanggal 24 October 2018. Diakses tanggal 30 September 2018. 
  50. ^ Zysk 1998, hlm. 57, 59.
  51. ^ Salguero 2009, hlm. 200.
  52. ^ a b c Zysk 1998, hlm. 59.
  53. ^ a b c d e Perera 1996, hlm. 55.
  54. ^ Zysk 1998, hlm. 60.
  55. ^ Moerman 2015, hlm. 78.
  56. ^ Salguero 2014, hlm. 77.
  57. ^ Mookerji 1989, hlm. 468.
  58. ^ Chen & Chen 2002, hlm. 88, 91.
  59. ^ Salguero 2009, hlm. 204.
  60. ^ Rabgay 2011, hlm. 30.
  61. ^ Salguero 2009, hlm. 190.
  62. ^ Malalasekera 1960, Jīvaka, Maddakucchi.
  63. ^ Zysk 1998, hlm. 126.
  64. ^ a b Perera 1996, hlm. 56.
  65. ^ Buswell & Lopez 2013, Jīvakasutta.
  66. ^ Rabgay 2011, hlm. 29 – 30.
  67. ^ Salguero 2006, hlm. 61.
  68. ^ Brekke 1997, hlm. 28.
  69. ^ Wijayaratna 1990, hlm. 34 – 5, 51.
  70. ^ a b Malalasekera 1960, Ajātasattu.
  71. ^ Durt 1997, hlm. 20 – 1.
  72. ^ Rabgay 2011, hlm. 29.
  73. ^ Durt 1997, hlm. 23.
  74. ^ Bareau 1993, hlm. 35.
  75. ^ Huber 1906, hlm. 35.
  76. ^ a b c d Salguero, C. Pierce. "Jīvaka Across Cultures" (PDF). Thai Healing Alliance. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 24 October 2018. 
  77. ^ Salguero 2009, hlm. 185, 191, 207 – 8.
  78. ^ Salguero 2009, hlm. 183, 194.
  79. ^ Deshpande 2008, hlm. 43.
  80. ^ Zysk 1982, hlm. 79 n.1.
  81. ^ Ming 2007, hlm. 244.
  82. ^ Salguero 2009, hlm. 209 – 10.
  83. ^ Salguero 2009, hlm. 210 n. 103.
  84. ^ a b c Granoff 1998, hlm. 288 – 9.
  85. ^ Norman 1983, hlm. 162.
  86. ^ Salguero 2009, hlm. 208.
  87. ^ a b Salguero 2009, hlm. 209.
  88. ^ Salguero 2009, hlm. 183 n.2, 191.
  89. ^ "NJ legislature honors Dr Pankaj Naram". India Post. Diarsipkan dari versi asli tanggal 17 September 2018. Diakses tanggal 2017-09-06. 
  90. ^ Thai Massage. Gale Encyclopedia of Alternative Medicine. Thomson Gale. 2005. Diarsipkan dari versi asli tanggal 1 October 2018 – via Encyclopedia.com. 
  91. ^ Salguero 2006, hlm. 62.
  92. ^ Le 2010, hlm. 48–9.
  93. ^ "Buddhism: Buddhism In India". Encyclopedia of Religion. Thomson Gale. 2005. Diarsipkan dari versi asli tanggal 1 October 2018 – via Encyclopedia.com. 
  94. ^ Chakrabarti 1995, hlm. 195.
  95. ^ Mishra & Mishra 1995, hlm. 178.
  96. ^ Tadgell 2015, hlm. 498.

Referensi[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]